Selingkuh Dari Sudut Pandang Pria

Tulisan ini dicopy dari Status Facebook Ronny Gunarto (aka suami 😊) tanggal 25 Agustus 2019.

S e l i n g k u h (Wih.. ngeri topiknya)

Beberapa hari ini terakhir ini saya berdiskusi dengan pasangan membahas tentang fenomena perselingkuhan utamanya yang terjadi pada pria. Saya jadi buka-buka lagi nih materi komunikasi suami istri

Penelitian oleh Caryl Rusbult menunjukkan bahwa seseorang cenderung setia dengan pasangannya dan memegang teguh komitmen pernikahan ketika dia merasa kebutuhannya terpenuhi (satisfaction).Tony Robbins menyimpulkan ada 6 kebutuhan dasar manusia (certainty, variety, significance, love connection, growth and contribution) yang jika kita memenuhi 3 saja dari kebutuhan dasar tersebut, niscaya pasangan kita akan terikat dan memuja kita. Terus, apakah kalau pasangan kita belum memenuhi kebutuhan dasar kita, maka kita boleh selingkuh? Tentu saja tidak. Kesetiaan dalam pernikahan tidak hanya tergantung dari respon pasangan, tapi juga ketaatan dan nila-nilai yang kita anut, terutama dalam beragama. Selingkuh jelas maksiat. Lebih selamat menyatakan keberatannya dan menfasilitasi pasangan untuk berubah semakin baik atau terang2an ganti atau nambah pasangan dengan pernikahan yang sah daripada selingkuh. Betul tidak? 😀 Justru Halal

Tapi sebelum menuntut tentu pria wajib Kita menjalankan peran sebagai qowam (ada video Ust. Nouman Ali Khan yang bagus tentang ini) sebaik-baiknya. Kadang orang merasa ketika sudah menjalankan ibadah kepada Tuhannya lalu melupakan bagaimana cara dia berinteraksi dengan orang lain, terutama keluarganya 😊. Konsep taat juga bukan berarti kita tidak boleh protes terhadap pasangan. Sampaikan concern kita terhadap pasangan dengan baik dan santun sebagai bagian dari ketaatan itu sendiri. Tentu kita ingat bagaimana Allah menyuruh nabi Musa untuk berkata dengan perkataan lembut kepada Fir’aun ketika berdakwah, lalu bagaimana sikap kita ketika berbicara dan menasihati pasangan?

Komitmen pernikahan juga dipengaruhi oleh “pilihan di luar” yang mungkin menggoda. Seperti kata bang Napi, kejahatan itu terjadi karena niat dan kesempatan. Demikian pula dengan perselingkuhan. So, jadilah seorang pribadi yang luar biasa buat pasangan kita sehingga apa pun yang ada di luar sana (alias kesempatan) tidak akan mengganggu keutuhan pernikahan kita dikarenakan niat yang tidak ada (ketaatan terhadap Tuhan dan pasangan yang luar biasa). Jaga perilaku terhadap pasangan dan tentu saja penampilan Anda 😊

Lalu, bagaimana kalau pasangan kita terlanjur selingkuh? Tentu perlu dilihat apakah pasangan kita berniat serius memperbaiki diri atau tidak. Apa yang perlu kita perbaiki dari diri sendiri sehingga bisa membantu pasangan kita bisa berubah. Memaafkan dan tidak mengungkit adalah penting untuk hubungan yang lebih baik ke depannya dengan catatan memang pasangan kita berniat serius untuk berubah.

Bagaimana kalau dia selingkuh dan terang-terangan tidak berniat untuk berubah? Investment Theory dari Rusbult menyatakan bahwa banyak orang mempertahankan pernikahan karena sudah sama-sama ‘berinvestasi’ dengan pasangannya, biasanya bertahan karena anak-anak. Data statistic di Indonesia menunjukkan ternyata alasan perceraian karena selingkuh itu ‘hanya’ ada di urutan ke-3. Pilihan itu tentu selalu ada. Memilih bertahan dan menjadikan pasangan anda sebagai ladang pahala sambil menimalisir pengaruh buruk terhadap anak-anak atau memutuskan untuk berpisah dan memulai kehidupan yang baru. Tentu masing-masing ada konsekuensi logisnya. Apa pun pilihannya, perlu disiapkan state diri kita dan perencaan matang beserta mitigasinya. Berada diantara 2 pilihan sangat lah tidak efektif dan menghabiskan waktu dan pikiran tanpa solusi yang jelas.

Lalu bagaimana kalau suami berniat menikah lagi? Wah, itu pembahasan yang berbeda. Yang jelas itu memang tidak dilarang oleh agama. Saya sendiri tidak berminat. Kenapa? Karena saya sudah mendapat pendamping yang nyaris sempurna. Untuk para lelaki, tanya lah kepada diri anda.. Apakah anda sudah menjadi suami dan ayah yang sangat baik sehingga berani dan sanggup untuk membangun keluarga yang kedua? Hanya anda yang bisa menjawab dengan jujur dan fikirlah dengan matang sebelum anda memutuskan 😉. Semuanya kelak harus kita pertanggungjawabkan.

Selamat hari minggu.. 25 Agustus 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s