Menasehati Pasangan

Tidak pernah habis pertanyaan tentang bagaimana cara menasehati pasangan sehingga bisa diterima dengan baik dan tidak membuat tersinggung. Untuk menjawab ini saya perlu merenung dalam-dalam, apa sih yang kami lakukan dulu sehingga urusan nasehat menasehati selancar ini. Pernah ngga sih kami dulu berkonflik soal menasehati? (Sampai sudah lupa)

Ini saya bahas berdua dengan my lovely Dedhot Ronny Gunarto untuk memformulasikan, lalu saya bahas lagi dengan mbak Dini Swastiana dan neng Melati M. Puteri yang mengamati situasi kami dari luar (observer biasanya punya sudut pandang yang justru tidak bisa kami lihat). Terimakasih sudah menjadi partner diskusi yang keren

Dari olahan itu kesimpulannya begini:

Bismillah..

1. Memilih pasangan yang memang punya tujuan hidup untuk taat dan cinta pada Tuhan itu sangat penting karena pasangan seperti ini sebetulnya tidak perlu dinasehati, tinggal diingatkan saja apakah perilakunya sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. 

2. Kalau sudah terlanjur dulu-dulunya salah pilih gimana dong? Yang disini sudah duluan insyaf yang disana belum misalnya 😀. Memulai lagi membangun visi bersama, jualan dulu dong, supaya visi kita dibeli. Susun strategi dan cara jualan yang cantik. Hitung-hitung menebus dosa masa lalu yang juga membuat kita dulu salah memilih

3. Menasehati itu bermula dari niat untuk bersama-sama menuju ketaatan dan ridho Alllah, bukan semata-mata nafsu ingin dituruti. Jika karena nafsu untuk dituruti, penolakan dari pasangan membuat kita marah, padahal seharusnya kita sedih karena pasangan sedang tidak berada di jalur yang benar. Rasa sedih membuat kita tetap semangat untuk menolong supaya nanti bisa bersama-sama di tempat terindah di hari akhir.

4. Menjadi contoh perilaku yang kita nasehatkan itu. Dan bersedia juga dinasehati. Walk the talk. Finally toh kita akan mempertanggungjawabkan masing-masing perbuatan kita

5. Respect. Lakukan dengan rasa hormat dan kesantunan. Jika Nabi Musa AS saja diperintahkan untuk menasehati Firaun dengan cara yang baik, masa sih pasangan kita tidak lebih baik dari Fir’aun. 

6. Hasil bukan milik kita. Hasil itu milik Tuhan, tugas manusia cuma berikhtiar semaksimal mungkin, maka doa adalah bagian dari ikhtiar yang harus berjalan seiring. Do’a bukan cuma senjata pamungkas tetapi do’a adalah basic dari keseluruhan upaya.
Jadi jika konsep EP mendidik anak kita untuk Taat, minimal kita tidak membuat menantu kita kewalahan untuk memberi nasehat kelak bukan? 😊

Begitulah kira-kira jawaban untuk semua pertanyaan baik yang PM, IG maupun menanggapi status-status saya yang lalu tentang komunikasi dengan pasangan.

Semoga bermanfaat​

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s