Mendampingi Anak Merencanakan Masa Depan

Seringkali orang tua pusiing ketika anak sudah kelas 3 SMA, ditanya mau kuliah dimana, jawabnya “Ngga tau”, “Bingung”, “Ntar liat teman-teman kemana”..
Ortu makin panik, anak ditestkan kesana kemari, diberi anjuran ini itu anaknya ngga mau, tambah peniiing 7 keliling.

Jadi sebenarnya kapan sih kita harus mempersiapkan anak merencanakan masa depan? Apa perlu sejak kecil dicari bakatnya, dites, discan, diprint, dsb dsb…
Dean Keith Simonton (Distinguished Professor of Psychology at UC-Davis), telah mengumpulkan puluhan riset dan menyimpulkan di berbagai tulisannya bahwa bakat lebih cenderung merupakan faktor nurture daripada nature, yaitu lebih merupakan hasil pengembangan yang dinamis daripada bawaan sejak lahir, dan bisa berubah maupun berkembang. Sumbangan bawaan lahir kepada bakat adalah hal-hal yang bersifat genetik atau organik misalnya : perfect pitch yaitu kemampuan sistem syaraf pendengaran seseorang untuk membedakan nada dengan detail. Anugerah dari Tuhan ini akan membantu seseorang yang berlatih alat musik sehingga piawai lebih cepat daripada yang tidak. Berikutnya, tinggi badan, faktor genetik yang bermanfaat bagi seseorang di bidang olahraga tertentu. Beberapa scientist terang-terangan mengatakan bahwa bakat bawaan lahir itu mitos, tetapi saya sih memilih pendapat kelompok ilmuwan yang meyakini bahwa bakat adalah faktor nurture dengan didukung beberapa faktor genetik yang bersifat organik seperti sistem syaraf tadi dan bukan kategorisasi karakteristik seperti, introvert, melankolis, pemikir dan lain-lain yang umumnya berasal dari ranah populer tanpa riset dan pada akhirnya berujung pada labelling.
Beberapa orang membawa-bawa Al Isro 84, untuk membenarkan bakat adalah semata-mata bawaan lahir, padahal dalam tafsir Ibnu Katsir, istilah menurut “keadaan masing-masing” diuraikan sebagai amal perbuatan atau keahlian. Begitupun tafsir Al Azhar Buya Hamka yang menyebut kata bakat menguraikan bahwa “keadaan” yang dimaksud tidak spesifik sebagai bakat lahir, tetapi merupakan perpaduan dari macam-macam hal, warna, rupa, perangai, iklim, alam tempat kita dilahirkan misalnya di pegunungan di tepi laut di negara empat musim, dua musim, lingkungan, pendidikan, pergaulan, perantauan dan lain-lain. Sedemikian banyaknya dan faktor nurture yang disebutkan dalam keterangannya. Wallahua’lam


Para ahli inipun banyak yang sependapat bahwa minat (interest) seseorang akan berubah-ubah, hingga kemudian dia mengenali apa yang menjadi passion . Sesuai dengan namanya, passion adalah ketika darahmu berdesir saat berkarya, jiwamu haus mempelajari lebih dalam tentangnya dan tak ingin berhenti hingga menjadi piawai.

Siapa yang paling bisa mengenali? Ya orang itu sendiri dan orang-orang yang membersamai dalam tumbuh kembangnya.


Tidak ada satupun literatur yang memastikan bahwa minat akan menetap di usia sekian, namun beberapa studi memberikan clue yaitu pada rentang 13 – 20 tahun ketika Pre-Frontal Cortex optimal perkembangannya. Oleh karena itu, tidak perlu buru-buru mencari minat apalagi passion anak di usia dini kesana-kemari. Beri saja peluang seluas-luasnya, sabar ketika anak berganti-ganti minat. Ngga usah ngamuk-ngamuk kalau anak tampak seperti mudah bosan (Silahkan simak video penjelasan Raka, yang berpesan pada para ortu untuk tidak ngomel-ngomel ketika anak mencoba berbagai macam hal baru 😁) Itulah proses eksplorasi.
Lalu apa yang perlu dilakukan ortu?

  • Biarkan dia mencoba berbagai hal yang ingin dilakukannya
  • Boleh memberikan saran kegiatan tetapi tidak perlu memaksa
  • Amati dan catat saja pada bidang kegiatan apa dia tampak lebih lama bersemangat.
  • Perhatikan pencapaian akademisnya, di bidang apa saja pencapaiannya stabil
  • Beri berbagai tantangan baik berupa proyek keluarga maupun tantangan individu misalnya memimpin kegiatan, berdagang, membuat karya seni, interaksi dengan masyarakat, pengamatan dan penelitian, meringkas dan menyimpulkan isi buku dll.
  • Banyak berdiskusi dengan anak, mendengarkan pendapat-pendapatnya (bukan sekedar minta didengarkan). Perhatikan pada diskusi-diskusi apa semangatnya menggebu.

Ah… ngga sempat, repot banget sih. Ya sudah, jangan dilanjutkan lagi membaca artikelnya karena judulnya saja mendampingi anak 😊

Lakukan hal-hal diatas dengan lebih intensif di usia 12-15 tahun. Sehingga anda sudah mempunya catatan dinamika yang cukup lengkap di usia 15 tahun (kurang lebih kelas 10/SMA kelas 1). Mulai di usia ini fokuskan diskusi mengenai beberapa bidang yang diminatinya dan ajak anak melakukan eksplorasi lebih dalam secara terstruktur mengenai peluang karirnya, universitas yang diinginkan jika ingin menempuh jalur formal, atau bidang usaha yang akan dirintis.

Saat berdiskusi soal cita-cita dengan anak, sering kali orang tua hanya fokus pada prospek dunianya. Apakah lapangan kerjanya luas atau kemungkinan “penghasilannya” besar. 
Sudahkah kita tambahkan pertanyaan ini :
Apapun cita-citamu, apakah itu kelak akan memudahkan jalanmu ke surga? Dengan cara bagaimana?
Jaman terus berubah itu keniscayaan, bukan soal mau jadi APA untuk mengarunginya, tetapi menjadi manusia yang BAGAIMANA adalah modal dasarnya.

Bagaimana alur diskusinya?

  • Mulai dengan niat dan minta ijin kepada Yang Menguasai Langit dan Bumi
  • Tentukan 1 hingga 3 bidang yang diminati (dari hasil catatan tadi)
  • Tugas ortu sebagai coach, bertanya dan mengeksplorasi, tidak mengarahkan.
  • Goalnya apa, Realitas sekarang bagaimana (based on data tak iye.. jangan tebak-tebak ala dukun). Option apa saja yang bisa membawa anak menuju Goal
  • Analisa kelebihan dan konsekuensi dari setiap option lalu pilih option mana yang akan dipilih dan strategi yang perlu dilakukan untuk mengatasi setiap konsekuensi.
  • Cacah strategi dalam milestone kecil-kecil yang spesifik, terukur, diri sebagai kendali dan selaras dengan tujuan utama
  • Bismillah, install setiap milestone secara visual, auditif dan kinestetik untuk menciptakan jembatan synaps agar ketika kelak dijalani sudah ada jejak dalam pikiran. Ajarkan your young adult untuk directing their own mind, if they don’t, someone else will..
  • Review secara berkala dan dokumentasikan

Meskipun tampaknya panjang, proses diskusi ini hanya memerlukan waktu 1 jam dalam setiap proses review. Mudah, asalkan komunikasi anda efektif.
Cermati proses dalam mendesain setiap bidang. Bidang yang paling lancar dalam proses mendesain adalah bidang yang sesungguhnya paling diminati. Pilih sebagai main road yang akan dijalani. Simpan bidang yang lain sebagai rencana mitigasi jika diperlukan. Keuntungan menjalani proses ini adalah :

  • Anak akan terbiasa untuk fokus pada solusi, bukan mutaar muteeer memikirkan masalah.
  • Belajar melakukan segala sesuatu secara terstruktur
  • Siap menghadapi tantangan ke depan
  • Melatih strategic thinking
  • Self motivated / GRIT
  • Tidak mudah terombang-ambing karena keputusan orang lain

Dengan telah mengetahui 1-3 bidang yang diminati, anak bisa fokus pada bidang-bidang akademis yang akan mendukung jurusan yang dikehendaki.

Jika anak sekolah dengan kurikulum nasional Indonesia dan ingin mengambil jalur akademis, tugasnya adalah menguatkan nilai-nilai akademisnya atau mungkin ikut bimbingan belajar di area yang akan diujikan di SBMPTN atau jalur-jalur lain yang direncanakan
Jika anak sekolah dengan British/American Curriculum atau IB lain lagi ceritanya.

Berikut ini contoh yang kami lakukan kepada Raka, anak pertama kami yang menggunakan British Curriculum. Saya memberi contoh anak sendiri bukan berarti merasa lebih baik , tetapi agar para pembaca bisa melihat gambaran konkrit.

Di kelas 11, Raka sudah harus menentukan 10 pelajaran untuk persiapan IGCSE, dari hasil tahapan-tahapan yang sudah saya ceritakan di paragraf-paragraf awal, Raka menunjukkan minat yang besar pada bidang Math, Physic, Chemistry dan Computer sejak kelas 9, maka 4 bidang ini yang diambil selain bidang-bidang wajib lainnya. Di kelas 11 ini sebetulnya Raka telah menentukan pilihan Jurusan Computer Science, tetapi pada perjalanan penentuannya, kami sempat menawarkan ide untuk mengambil Petroleum Engineering bahkan mengajak Raka untuk untuk mengunjungi almamater ayahnya (ada keinginan juga Raka mengikuti jejak ayahnya meskipun akhirnya dia menolak 😄).

Pada tahun tersebut, Raka harus mulai membuat jejak-jejak karya karena Universitas terkemuka tidak semata-mata hanya melihat nilai ujian, maka ia mulai ikut dalam Programming Olympiads, membuat aplikasi hingga membuat alat absensi menggunakan kartu yang diimplementasikan di sekolahnya (tentu karya-karya ini dicicil dari kelas 11 hingga kelas 13). Alhamdulillah hasil IGCSE untuk bidang-bidang yang diminati mendapat nilai A*. Di kelas 12 pelajaran yang diambil makin mengerucut menjadi 4 pelajaran saja dan kelas 13 hanya 3 . Di luar itu karena Raka ingin juga mendaftar di universitas-universitas US, maka ia mengambil ujian SAT dan mengikuti ujian IUP untuk jurusan yang sama di UGM. Salah satu persyaratan kami adalah, Raka hanya akan dibiayai kuliah di luar negeri apabila diterima di universitas yang masuk dalam 10 besar rangking nasional di negara tersebut. Dengan mengeluarkan biaya cukup besar tentu kami harus teliti dalam memilih universitas. Apalagi Computer Science adalah jurusan rangking pertama atau kedua yang paling diminati di dunia selama lima tahun terakhir ini. Jika salah perhitungan, baik dalam pencapaian maupun pemilihan universitas, bisa-bisa kesulitan mendapatkan universitas yang baik.

Alhamdulillah dari beberapa universitas yang diinginkan, Raka mendapat tawaran dari di Leeds dan Warwick University di UK, UC San Diego di US dan UGM di Indonesia. Dari sini kami kembali membuat analisa berdasarkan 8 faktor diantaranya kurikulum, lama waktu studi, biaya, akses ibadah dan lain-lain. Akhirnya terpilihlah UK sebagai pilihan pertama, UGM pilihan berikutnya dan US paling bontot (punten ya mas Donald… 🤪)
Nah.. karena nilai A level terakhir baru akan diterima pada tanggal 15 Agustus, sedangkan UGM sudah harus memasuki masa orientasi pada tanggal 4 Agustus, maka Raka harus ikut dulu orientasi di UGM dan mencicipi kuliah dulu sambil menunggu hasil akhir A level.

Dan akhirnya… setelah sempat mengikuti PPSMB dan kuliah minggu pertama di UGM, pengumuman dari UK kami terima, dan Raka harus mengundurkan diri untuk berangkat menjalani pilihan pertamanya. Bismillah..


Berikut ini video Raka saat menjelaskan proses perjalanannya menentukan cita-cita yang ia beri judul Journey to Young Adulthood
Mohon doanya agar Raka lancar studinya, ilmunya barokah dan bermanfaat.
Terimakasih kepada semua pihak yang sudah terlibat dalam perjalanan Raka menuju cita-cita, para guru, pakde-bude, teman-teman dan saudara.
Allahumma Inniy As-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon thoyyiban, wa ‘amalan mutaqobbalan

Journey to Young Adulthood

  • Rujukan
    • Simontom,2001. Talent Development as a Multidimensional, Multiplicative, and Dynamic Process. Current Directions in Psychological Science, Vol. 10, No. 2
    • Hamka, 1979. Tafsir Al Azhar Jilid 6. Pustaka Nasional PTE KTD, Singapore
    • Tafsir Ibnu Katsir 10 Jilid – Pustaka Insan Kamil.
    • Meyers, M., van Woerkom, M., Dries, N. (2013). Innate or acquired? Theoretical considerations and their implications for talent management. Human Resource Management Review, 23 (4), 305-321.
    • Dai, Renzulli, 200. Dissociation and Integration of Talent Development and Personal Growth: Comments and Suggestions
    • Fredricks,  Alfeld , Eccles (2010), Developing and Fostering Passion in Academic and Nonacademic Domains, Gifted Child Quarterly 2010 54: 18

     

    Ortu dan Guru Terjaga Adab, Anak Tumbuh Bertanggungjawab

    Menjalin kerjasama dengan sekolah itu tidak sama dengan meminta guru standby 24 jam melayani WhatsApp/messages dari Ortu.

    Sudah sering sekali saya mendengar ortu jaman now malam-malam mengirim pesan kepada guru menanyakan PR anaknya, bahkan ada yang di jam sekolah minta tolong dicarikan pinjaman topi karena topi anaknya ketinggalan.

    Dan pagi ini saya terhenyak mendapat kabar ORTU yang mengirim pesan kepada DOSEN anaknya untuk minta tolong diberi fasilitas tertentu. Dosen lho ini, artinya anaknya sudah mahasiswa kan ya.. 😣

    Fenomena apa ini? Apakah karena kebiasaan sejak SD atau sekarang Universitas juga memberi peluang komunikasi tanpa panduan yang jelas?

    Kalau mahasiswa dan dosen yang makin terbuka, sudah sering saya dengar, dengan kalimat yang kurang sopan. Kalau kasus antara mahasiswa dan dosen insyaaAllah mudah, tinggal disepakati saja tatakrama komunikasi yang dikehendaki masing-masing dosen.

    Tetapi, komunikasi antara Orangtua dan Guru perlu aturan dan tata laksana yang perlu dikomunikasikan sejak awal.

    Mari para pemilik, pengurus, kepala sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan. Persoalan ini harus dibenahi. Sungguh ini kebiasaan yang sangat TIDAK MENDIDIK

    Lembaga pendidikan perlu mempunyai aturan yang TEGAS dan JELAS mengenai ini.

    Pernah suatu ketika saya mendengar ada ortu yang mengatakan, “Kami kan bayar mahal, berhak dong kami dapat pelayanan terbaik”

    Duh.. sekolah kan bukan travel agent, yang kalau peserta tour sakit perut jam 12 malam minta disediakan oralit. Guru bukan nanny, yang boleh diperintah-perintah sesuka hati.

    Sebagai benchmark, saya contohkan aturan yang berlaku di sebuah sekolah International di kota tempat tinggal saya, yang SPP nya puluhan juta, (kurang merasa berhak bagaimana ortu yang sudah membayar hampir 100 jt setahun) tetapi aturan komunikasi dipatuhi oleh wali murid.

    Apa sajakah itu?

    • Orang tua hanya boleh berkomunikasi dengan guru melalui email guru dan hanya akan dijawab di hari kerja dan jam kerja (guru itu pekerjaan profesional bukan harus standby 24 jam) atau melalui buku komunikasi yang dimiliki masing-masing anak.
    • Jika anak sakit atau ada kejadian emergency dimana sekolah perlu memberitahu orangtua, maka dilakukan melalui nomer telpon administrasi sekolah
    • Reminder dari sekolah dilakukan melalui one way sms broadcast
    • Group WA ortu gunanya untuk berdiskusi antar ortu. Guru tidak menjadi member didalamnya, salah satu wali murid akan menjadi perwakilan jika ada hal yang perlu disampaikan kepada guru setelah disepakati bersama di dalam group. Nomer telepon pribadi guru tidak diberikan kepada wali murid tanpa ijin dari guru.

    Lalu bagaimana kalau anak lupa PR, lupa topi, lupa buku, lupa tanggal penyerahan tugas?

    • Anak memeriksa kembali di buku komunikasi atau informasi di google classroom jika sudah menggunakan fasilitas tersebut
    • Guru memastikan semua anak menulis info di buku komunikasi dengan memeriksanya di akhir waktu belajar biasanya dengan diberi paraf

    Kalau buku komunikasinya hilang? Ya tanggung sendiri konsekuensinya sekaligus rentetan-rentetan konsekuensi berikutnya termasuk penilaian. Demikian pula jika lalai mengerjakan.

    Sesungguhnya fitrah manusia itu memiliki potensi bertanggungjawab, tetapi kebiasaan yang salah membunuh potensi itu! 😖

    Mengapa saya lebih fokus kepada guru sekolah, karena untuk dosen lebih mudah. Dosen dianggap mempunyai jenjang pendidikan yang tinggi sehingga setelah aturan dikomunikasikan di awal, dosen juga bisa langsung menjawab secara asertif kepada orangtua yang melakukan intervensi berlebihan.

    Tetapi seringkali guru dengan siswa anak pejabat misalnya, memerlukan dukungan yang kuat dari lembaga dan pimpinan tempatnya mengajar, baik itu  berbentuk aturan standar yang disetujui secara formal dan dukungan dari pimpinan ketika melakukan hal yang benar.

    Jika orang tua tidak memberi contoh adab kepada guru bagaimana anak akan punya adab belajar

    Jika lembaga pendidikan tidak menegakkan aturan yang menghargai profesionalitas guru, bagaimana lembaga pendidikan bisa menjadi kawah candradimuka dalam penegakan ethic

    Semoga menjadi kesadaran bersama baik bagi lembaga pendidikan maupun orangtua.

    Panduan Mudik Yang Adil dan Beradab

    Lebaran insyaaAllah sebentar lagi, sebagian sudah mudik bertemu handai tolan keluarga besar.

    Mari kita perhatian apakah Pre-Frontal Cortex kita yang sudah terus-terusan diajak nge-Gym selama sebulan penuh untuk menguatkan kembali fungsi moralnya yaitu menunda keinginan, menahan nafsu ini terjaga kualitasnya atau segera lemes lagi kekuatannya?
    Apakah akhlaq yang sudah kita olah sebulan penuh ini, terjaga stabilitasnya atau tak berbekas jejaknya?
    Apa saya panduannya?

    RESPECT OUR PARENT’S HOUSE

    • Pulang ke ortu, kakak, adik atau saudara, bukan berarti melarikan diri dari kondisi rumah sendiri yang sudah ditinggal para asisten. Ortu kita sibuk menyiapkan makanan, anak-anak mberantakin sana sini, dan atas nama cinta serta pemikiran aaahh… cuma setahun sekali, lalu kita minta dimaklumi. Bantu yuk membersihkan, bayarin asisten infal kalau punya dana lebih, panggil go cl**n dan sejenisnya. Bantu juga menyediakan makanan, hari ini sangat mudah menjamin ketersediaan hidangan. Memang mungkin beberapa orang merasa berhak atas rumah ortunya tetapi justru karena berhak maka bantu juga agar tetap bersih dan nyaman
    • Ini lucu ya.. aku bawa ya. Kadang-kadang ada barang unik di rumah ortu kita, lalu diminta dan dibawa pulang. Datang bawa panekuk, pulang bawa jam kukuk 😀. Ortu umumnya akan bilang iya meski hati menjerit. Jangan mengganggu apa yang ada di rumah ortu kita. Kecuali memang ortu secara khusus ingin kita menyimpan barang miliknya dan jika kita jujur pada diri sendiri akan terasa bedanya.
    • Jika keluarga kita besar dan jumlah kamar terbatas atau ada salah satu anggota keluarga kita yang mempunyai masalah perilaku sehingga kemungkinan besar mengganggu, tidak ada salahnya pesan kamar di penginapan terdekat. Tentu minta ijin dengan santun. Tidak usah ngambeg kalau tidak dapat kamar terbaik di rumah ortu kita.

    PERSIAPKAN PASANGAN DAN ANAK

    • Briefing dan Role play anak-anak termasuk pasangan tentang kebiasaan, tata krama dan tugas kewajiban selama di rumah ortu. Selengkap mungkin dengan berbagai skenario kemungkinan. Anak kritis memang kekinian, tapi anak nyinyir itu kurang didikan 😊
      Anak kritis: ini banyak piring kotor jadi ngga rapi, sini aku bantu bawa ke dapur dan cuci piring
      Anak nyinyir : ih tante, kok tante gini sih kan harusnya gitu.. , ih eyang kok rumahnya ada inunya, ngga kayak di rumahku beginu..
      ih.. eyang kok ngga pakai kerudung.. hedeeuh..
    • Bagaimana mensikapi uang lebaran, sesuaikan dengan values masing-masing keluarga, berapa persen yang akan ditabung, bebas dipakai dan disedekahkan. Jika values di keluarga inti tidak membolehkan uang lebaran, sampaikan kepada keluarga besar dengan baik dan santun tanpa perlu mempengaruhi. Siapkan mental anak-anak anda menghadapi perbedaan
    • Ingatkan kembali pasangan tentang kebiasaan-kebiasaan di rumah ortu. Saling menyesuaikan. Asal kita bersedia tulus fleksibel dan penuh kasih sayang di rumah inlaw insyaaAllah pasangan juga akan bersedia asal jelas. Bukan asal pokoknya

    JAGA LISAN

    • Atur-atur nada suara, meski bersaudara bukan berarti semakin dekat semakin hilang kesopanan tetapi justru harus semakin sayang
    • Hindari pertanyaan-pertanyaan atau komentar yang tidak perlu. Kapan nikah? Kapan nambah anak? Kapan punya anak laki/perempuan? (Kecuali si penanya yang membiayai biaya pernikahan dan dana pendidikan anak-anak orang yang ditanya) Kok jadi gemuk? Kok milih sekolah itu sih, emang bagus? Anakmu kemarin rangking berapa? 🤪
    • Nasehati menasehati dalam kebaikan memang dianjurkan tetapi lakukan dengan adab yang benar dan personal. Menasehati dan menyinyiri adalah dua hal yang berbeda
    • Hindari membanding-bandingkan dan mengkritisi
    • Lalu bagaimana kalau kita yang dikritisi? Ada 2 jenis kritikan, yang karena si pengkritik secara nyata terganggu dan yang sebetulnya tidak menganggu dia
      • Yang mengganggu orang lain misalnya anak teriak-teriak, lompat di tempat tidur orang dl : “Ih anakmu kok berisik sih, ngga bisa diem sih.. Yah robek deh buku kakak sepupunya..”
        Jika anak kita memang berkebutuhan khusus : Sampaikan permintaan maaf dan ceritakan bahwa saat ini sedang dalam proses terapi (harus jujur tapi ya) dan mohon dido’akan.
        Jika anak kita bukan berkebutuhan khusus dan memang kurang briefing role playing ya minta maaf dan segera ajak main menjauh sambil dilakukan BRP
      • Yang tidak mengganggu orang lain. Misalnya anak manjat pohon di luar atau anak kita justru paling patuh pada aturan, kapan nih, kapan nambah anak : “Duh tuu liat anakmu manjat pohon, bahaya lhoo… ” “Ih kamu kaku amat sih sama anak, ngga usah banyak aturan”. “Kapan sih nikah?” “Kok anak cuma 1”. Kritik yang begini mah diberi senyuman manis lalu dijelaskan “Mbak sudah tahu belum kalau ketrampilan gripping itu salah satu latihannya dengan memanjat, insyaaAllah nanti tidak mudah mengeluh jika harus banyak menulis” “Yah memang kadang taat itu dianggap kaku mbak, padahal insyaaAllah itulah perintahnya Allah, tinggal kita mau ikut apa tidak” “Mohon do’anya semoga mendapat yang Allah ridho, tante nanya udah nyiapin hadiah mobil? :D.. ” Maniis semanis gulaa..dan ringan saja seperti kapas. Orang tanya itu kadang karena ngga punya bahan pembicaraan, lalu sodorkan artikel ini yang diprint di kertas bergambar bunga 😀
    • Budayakan saling mengapresiasi dan hadiah-menghadiahi

    INTERAKSI ANTAR ANAK-ANAK

    • Nah.. eng ing eng… ini juga biasanya jadi sumber kezeel-kezeelan, anaknya keluarga adik bebas main game dan nonton, anak kita punya batasan. Gimana dong? Keluarga sana diceramahin? Ngga usaah… anak-anak sendiri yang dikuatkan. Masukkan dalam materi briefing dan role playing, siaplah dengan berbagai kegiatan menarik. Fitrahnya manusia itu lebih senang berinteraksi dengan manusia. Putar otak, siapkan kegiatan interaktif yang super dupeeer menarik, treasure hunt misalnya, hadiahnya bervariasi untuk remaja dan anak-anak, lalu ajak keponakan-keponakan anda terlibat, briefing dulu aturan mainnya, kata-kata yang pantas diucapkan selama permainan berlangsung dan adabnya. InsyaaAllah anak selamat, keponakan makin dekat, persaudaraan selamat, insyaaAllah menginspirasi jadi manfaat. Bawa buku EP kalau perlu untuk dihadiahkan pakai pita warna-warni ya kaan…
    • Perselisihan antar anak itu hanyalah proses belajar berinteraksi, perhatikan dulu bagaimana mereka menyelesaikannya, jangan langsung terjun kecuali berselisihnya bawa parang. Lalu ajak mereka mereview sama-sama, belajar dari perselisihan sebelumnya apa yang bisa untuk pelajaran pencegahan ke depan.

    Semoga suasana kebahagiaan dan keberkahan Hari Raya semakin bertambah

    Okina Fitriani

    Demi Mengajarkan Orang Kaya Bersyukur, Tak Peduli Yang Miskin Jiwanya Hancur

    Tulisan ini adalah bentuk kesedihan mendalam saya atas beberapa “budaya” di masyarakat kita

    • Merayakan ulang tahun di panti asuhan, si anak kaya berdiri di depan kue ulangtahun indah di depan para anak panti yang disuruh bertepuk tangan dan mendoakan lalu sebagai gantinya nanti disumbang dan dibagi kue dan makanan
    • Perusahaan, kelompok arisan yang memboyong anak panti asuhan makan di hotel, lalu beberapa anak maju ke panggung, ditanya-tanya kenapa di panti, lalu si anak kembali membongkar kisah sedihnya tentang ayah ibunya yang meninggal sambil terisak-isak dan seluruh hadirin ikut menangis dengan harapan si orang-orang kaya ini makin bersyukur.

    Astagfirullah HENTIIKAN!!

    Tahukah kita, demi satu anak kaya manja yang sedang ulang tahun dan sudah mulai minta macam-macam agar bisa bersyukur, si Orangtua yang belum berhasil menanamkan rasa syukur yang mestinya ditanamkan sejak usia usia 0-5 tahun melalui fitrah iman dan kasih sayang ini, tidak peduli bahwa mungkin belasan anak panti yang usianya belum matang itu, mungkin juga sama-sama belum tertanam rasa syukur karena keterbatasan pengetahuan para pengurus yang hanya sedikit mengurus sedemikan banyak anak itu, dalam hati meratapi,

    “Ya Tuhan, mengapa aku tak seberuntung anak itu, sungguh Engkau tak adil, lalu mengapa aku harus mencintaiMU… ”

    Sebagian lagi berpikir

    “Aku harus bisa begitu kelak, apapun caranya”

    Puluhan kemungkinan makna berkecamuk dalam diri mereka, tak sedikit masalah psikologis muncul dari rasa iri bercampur frustrasi ini. Dan saya telah banyak bertemu dengan kasus-kasusnya.

    Meski mereka tampak gembira berlari kesana kemari, tetapi sebuah makna telah terlanjur meluncur ke dalam dada

    Lalu jika kelak si anak kaya tadi berada di situasi yang tiada seorangpun yang lebih rendah darinya, akan berhenti pula bersyukurnya?

    Pun demikian dengan yang tadi diminta ke panggung membuka kembali luka-luka lama, tetesan air mata membuat luka itu semakin dalam, apalagi pada anak-anak.

    Dan anda semua yang sudah kaya, masihkah memerlukan air mata mereka untuk bersyukur?

    Tidak cukupkah makanan ya dimakan setiap hari, ilmu tinggi yang membuat duduk di kursi itu, pakaian berganti setiap hari itu, belum mampu menumbuhkan rasa syukur? Astagfirullah..

    Bukankah masih banyak cara yang lebih Mulia dan Memuliakan

    Tapi apa tidak boleh berbagi di panti asuhan?

    Tentu sangaat boleh..

    Bagaimana cara yang benar..

    Jadilah pendana yang menjamin mereka bisa sekolah dan tercukupi kebutuhannya.

    Datangilah secara rutin, peluk dan bacakan buku-buku cerita seperti saat membacakan cerita kepada anak-anak kita di rumah.

    Jalin komunikasi dengan pengurus, datangi saat mereka membuat pencapaian kecil atau kirimkan surat apresiasi berbungkus pita secara rutin.

    Jadikan anak asuh, adopsi jika memungkinkan.

    Fokus pada kebutuhan mereka bukan menjadikan mereka alat untuk kepentingan kita.

    Padahal sesungguhnya dengan membantu setulus jiwa, kita juga yang sedang menabung pada akhirnya. Kita yang memerlukan mereka tapi bukan sekedar urusan dunia.

    Jadi … Masihkah kita akan

    Demi mengajarkan ORANG KAYA BERSYUKUR, tidak peduli YANG MISKIN jiwanya HANCUR?

    note : seseorang pernah membisiki saya, tapi mbak, ada kok yang memang acara naik panggung mengumbar tangis itu dianjurkan oleh pengurusnya. Fagfirlana… meskipun ada, jika kita tak membeli idenya insyaaAllah akan berhenti juga.

    Semoga menjadi kesadaran bersama…

    Persiapan Menghadapi Pubertas (Aqil Baligh)

    Balance Maturity

    Pada rentang usia 12-15 tahun, pada umumnya, baik anak laki-laki maupun perempuan sudah memasuki masa puber atau Aqil baligh. Seharusnya pada masa ini terjadi keseimbangan antara kematangan fisik dengan kematangan psikologis. Oleh karena itu, pada tahap ini, konsep pohon ketaatan yaitu Taat, Syukur, Meningkat, Bermanfaat (silahkan baca buku Enlightening Parenting mengenai penjabaran konsep TSMB) semakin mengakar, anak juga sudah harus dilatih untuk

    • memimpin baik diri sendiri maupun orang lain;
    • kemampuan bertahan hidup mandiri (basic life skills) dengan mengurus seluruh keperluan dasarnya seperti menyiapkan makanan, pakaian, mampu bepergian dengan aman, dan lain-lain;
    • mencari nafkah dan merawat makhluk hidup. Meskipun baik laki-laki maupun perempuan perlu dilatih untuk mempelajari kedua hal ini, tetapi penitikberatan latihan mencari nafkah pada laki-laki dan merawat makhluk hidup pada perempuan;
    • mampu fokus pada solusi, bukan hanya fokus pada masalah

    Bagaimana cara melatih hal-hal diatas?

    Tentu dengan tugas-tugas yang diberikan bertahap. Misalnya untuk melatih kemampuan memimpin, mulai dari memimpin projek-projek keluarga. Misalnya projek membantu perbaikan rumah duafa, pengadaan air bersih, pengumpulan barang pantas pakai untuk disumbangkan, berjualan makanan di bazar kota dan sebagainya. Projek tidak selalu harus dilakukan sendirian tetapi bisa juga bekerjasama dengan keluarga lain. Tidak perlu menunggu program dari sekolah. Lakukan sendiri dan evaluasi. Demikian pula dengan 3 tugas perkembangan lainnya.

    Ayah dan Ibu tentu juga harus mempersiapkan anak untuk menghadapi perubahan dirinya secara fisik.


    Pada anak perempuan dijelaskan mengenai

    • Menstruasi. Mengapa terjadi, apa yang harus dipersiapkan, bagaimana membersihkan diri dan hukum (fiqh, bagi yang beragama islam) yang berkaitan dengan menstruasi.
    • Tanggungjawab yang mengikuti
    • Perubahan bentuk tubuh, pakaian yang cocok, termasuk fiqh berpakaian.
    • Adab pergaulan dan resiko kehamilan
    • Kriteria memilih pasangan sesuai dengan values yang anda pegang (bagi yang beragama islam ajarkan tentang 4 kriteria memilih pasangan). Pahamkan mengenai ini sebelum anak mulai jatuh cinta, agar tidak menuai keribetan yang tidak perlu di kemudian hari 🙂
    • Mulai mengajarkan tentang tugas istri dan ibu secara bertahap

    Pada anak laki-laki dijelaskan mengenai

    • Tanda-tanda pubertas secara fisik termasuk terproduksinya sperma dan kemungkinan terjadinya ejakulasi di saat tidur dan cara membersihkan diri. Keluarnya sperma tidak selalu menjadi satu-satunya penanda matang seksual. Karena ada yang keluar dalam jumlah yang sangat sedikit atau biasa tidur berkeringat sehingga samar. Tumbuhnya rambut sekunder dan perubahan suara juga sudah bisa menjadi tanda pubertas.
    • Tanggungjawab yang mengikuti
    • Perubahan fisik, cara merawat diri, berpakaian dan kebersihan
    • Adab pergaulan
    • Kriteria memilih pasangan
    • Mulai mengajarkan tugas sebagai suami dan ayah secara bertahap

    Siapa yang mengajarkan? Ayah mengajarkan anak lelaki, ibu mengajarkan kepada anak perempuan. Bagaimana kalau single parent? Minta tolong pada kerabat terdekat. Bagaimana jika tidak ada kerabat yang dipercaya? Minta tolong guru. Bagaimana kalau gurunya ngga ada yang akhlaqnya baik? Minta tolong sahabat. Sahabatku kelakuannya jelek semua? Astagfirullah mungkin perlu evaluasi diri, jangan-jangan jendelanya yang kotor sehingga semua nampak buruk :p. Anda memang begitu kondisinya ya Bismillah lakukan sendiri. (Adakah mbak yang seribet ini kondisinya? Ngakunya sih ada, tapi saya belum visit betul-betul keadaannya)

    Hati-hati ketika menjelaskan tanggungjawab yang mengikuti, jelaskan dengan bahagia. Jangan menakut-nakuti untuk keuntungan pribadi misalnya :

    “Nah, sekarang semua dosa dan pahala sudah kamu tanggungsendiri, awas lhoo beda dengan waktu kamu kecil, sekarang kalau kamu melawan papa, masuk neraka..” hedeeuh.. numpang untung ini namanya.

    Gunakan kalimat yang santun : “Sayang, karena pikiranmu sekarang sudah siap, maka kelak setiap perbuatanmu ada nilainya, ketika baik jadi pahala dan ketika buruk menjadi dosa. Tapi Allah sudah menyediakan alat terhebat untuk memutuskan baik dan buruk melalui akal dan dituntun melalui Al Qur’an. Jika nanti dalam pikiranmu muncul perbedaan pendapat, misalnya mau makan di restoran, yang ini enaak tapi ada resiko tidak halal, yang itu kurang pas dengan selera tapi insyaaAllah halal. Nah akal kita akan mempertimbangkan, lebih baik mengikuti selera tapi mendapat dosa atau menahan selera tetapi dapat pahala. Apakah kita mau kesenangan dunia sesaat atau kesenangan akhirat yang kekal. Itulah tugas khalifah di muka bumi ini, tidap keputusan kita harus berdasarkan kebaikan di dunia dan akhirat. Dan kamu kini sudah dewasa, sudah pantas diberi tanggungjawab sebagai khalifah, masyaaAllah”

    Buatlah suasana komunikasi yang menarik. Saya attach disini presentasi yang dilakukan suami kepada anak saya saat usianya 10 tahun sebagai contoh untuk anak laki-laki. Silahkan disesuaikan untuk anak perempuan dengan berpandu pada buku-buku tentang pubertas dan fiqh. Ini hanya contoh, silahkan dibuat sendiri di rumah, agar tidak terbiasa disuapi solusi. Mohon jangan didownload karena ada foto-foto pribadi anak saya.


    Ini adalah persiapan awal, selanjutnya tugas orang tua menjadi contoh manusia dewasa yang unggul agar bisa menjadi model terbaik bagi anak-anaknya. Inilah projek terbesar anda, berupaya membentuk pribadi-pribadi yang Taat, Syukur, Meningkat dan Bermanfaat.

    Handling Bullies

    Banyak sekali pertanyaan mengenai cara menangani perilaku bullying yang muncul baik di kelas-kelas kami maupun di forum-forum parenting yang kami kelola. Demikian pula simpang siung anjuran tentang penanganan semakin membuat orangtua bingung. Mana yang harus diikuti.
    Mari dimulai dengan memahami dulu tentang bully. Bully dalam bahasa Indonesia disebut perundungan, tetapi dalam artikel ini saya gunakan kata buli saja agar singkat.
    Buli dilakusecara umum terbagi menjadi 3 kategori

    • Verbal : yaitu ucapan yang menyakitkan, meledek, memanggil dengan julukan, menghina, mengancam,
    • Mental : Mengabaikan, mengucilkan, menyebarkan berita yang membuat seseorang dimusuhi, menjendilkan :D, dll
    • Fisik : Memukul, menendang, mencubit, dll.

    Bully dilakukan secara SADAR. Artinya jika tindakan mendorong itu dilakukan oleh anak usia 2 tahun yang masih dalam tahap latihan sensori atau dilakukan oleh ABK yang belum paham kekuatan menyentuh dan mendorong, maka jangan dengan mudah kita mengatakan kepada yang mendorong maupun yang didorong “Ih.. kamu dibuli lhoo” “Ih ini anak kecil-kecil sudah jadi pembuli” . Dalam hal ini justru si pembuli sesungguhnya adalah yang komentar itu.

    Di banyak keluarga justru pembuli pertama anak-anak adalah orang tuanya sendiri, kadang verbal dengan labelling atau menghardik, kadang Mental dengan mengabaikan, sering juga fisik, bahkan ada yang paket lengkap 3 kategori sekaligus. Tentu orangtua sebagai sosok dewasa sudah pasti SADAR ketika melakukannya. Anak yang sudah dibuli terlebih dahulu di rumah sangat besar kecenderungannya untuk jadi pelaku maupun korban bullies di sekolah. Penelitian Renae D. Duncan (1999) dari Murray State University menyimpulkan 69% anak yang dibuli di sekolah, adalah anak yang mendapatkan kekerasan di rumah. Tidak mengherankan memang, karena anak-anak yang sering dilabel, dikritisi, dihardik atau disakiti di rumah akan datang ke sekolah dengan penampakan 2 jenis, yaitu tidak percaya diri atau wajah tambeng dan penuh dendam. Inilah yang kemudian berkembang menjadi korban maupun pelaku buli. Pembuli mengenali sasaran yang bisa dibuli. Pembuli pilih-pilih dan melakukan coba-coba dulu. Anak yang berjalan dengan tegak dan pandangan yang penuh percaya tetapi tidak sombong, jarang dijadikan sasaran pembuli.

    Anehnya, orangtua yang membuli anak di rumah sangat tidak terima ketika anak diperlakukan sama di sekolah bukan? Seolah lupa bahwa sumbernya berasal dari rumah.

    Maka, LANGKAH PERTAMA untuk mencegah dan mengatasi buli adalah, Perlakukan anak-anak kita dengan respectful di rumah. Dengan memperlakukan mereka dengan respectful sesungguhnya juga sekaligus sedang mendapat contoh akhlaq yang baik dan akan tumbuh menjadi anak yang santun dan percaya diri. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW

    “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (riwayat Ibnu Majah).

    LANGKAH KEDUA, pelajari aturan di lingkungan tempat anak berinteraksi. Untuk memperjelas, kita umpamakan saja sekolah. Tanyakan apakah ada aturan yang jelas tentang handling bullies . Jika tidak punya sampaikan kepada sekolah bahwa anda akan membuat standar penanganan buli, sosialisasikan pada pihak sekolah dan lebih baik lagi jika disepakati sebagai aturan sekolah. Lebih bermanfaat daripada sekedar kesal karena sekolah tidak punya aturan penanganan buli bukan?

    LANGKAH KETIGA, Briefing dan Role Playing. Beri anak penjelasan mengenai hal-hal berikut ini
    1. Definisi perilaku buli seperti yang sudah disebutkan di atas, supaya anak juga tidak epes me’er, ditowel dikit buli, disenggol dikit buli, dipanggil dengan nada tinggi dikit buli. Orangtua juga tidak perlu reaktif supaya anak juga tidak baperan.
    2. Beritahu tahap-tahap menyikapi buli (saya attach video Rangga saat diminta menceritakan kembali materi briefing dan alhamdulillah tidak pernah dibuli oleh siapapun):

    • Abaikan (Ignore) : Jika masih tahap coba-coba, biasanya berbentuk verbal seperti kata Ciee.. ciee… , memasangkan dengan si fulan, ledekan ringan dan sejenisnya, ajarkan anak untuk mengabaikan dengan wajah tetap percaya diri dan tersenyum. Pembuli suka dengan reaksi berlebihan, wajah merengut, mata berkaca-kaca dan tangisan. Ajarkan anak teknik disosiasi (diajarkan di kelas Enlightening Parenting)
    • Tegur dengan Tegas (Stand Up) : Katakan dengan tegas, STOP it! Hentikan! Dengan tatapan yang mantap. Ini dilakukan jika setelah diabaikan perilaku yang sama masih berulang. Jika sudah berupa kontak fisik, tangkap tangannya, tekan ke bawah sambil menegur dengan tegas. Jika kategori mental ajarkan anak berani melakukan klarifikasi. Pada tahap 2 ini ditutup dengan laporan kepada Guru dan ortu.
    • Laporkan kepada Guru. Ajarkan anak untuk mencatat setiap laporan. tanggal berapa dan nama guru yang dilapori. Biarkan pihak sekolah melakukan tugasnya untuk menegur.
    • Orangtua menemui pihak sekolah. Jika hingga laporan ke 3 masih berulang maka temui pihak sekolah untuk difasilitasi berdiskusi bersama orangtua pembuli. Jika pembuli juga melakukan hal yang sama kepada anak lain, upayakan laporan bersama agar sekolah dan orangtua pembuli melakukan tindakan kuratif nyata seperti skorsing atau konseling keluarga
    • Jika masuk ke level kriminal, seperti pengeroyokan, laporkan kepada polisi.

    3. Latih anak menghadapi berbagai situasi ini secara role playing di rumah, karena sikap dan kebiasaan tidak terbentuk melalui nasehat tetapi melalui latihan.

    LANGKAH KEEMPAT. Sebarkan kasih sayang. “Siapa yang menyayangi, dia akan disayangi”. Jangan pernah mengajarkan anak untuk membalas pembuli, tetapi justru menyapa dengan ramah, menanyakan kabar, sesekali berbagi bekal tetapi bukan dengan niat menyuap atau nyogok. Berbagi kepada semuanya, baik yang bersikap baik maupun yang tidak. Latih anak untuk memuji efektif temannya yang bersikap baik. Menjadi detektif kebaikan. Sesekali undang teman-teman anak untuk bermain di rumah termasuk yang suka membuli dan perlakukan mereka dengan kasih sayang. Pada umumnya pelaku buli ini kering kasih sayang. Tidak ada orang yang imun pada kasih sayang, karena kasih sayang itu fitrah. Jika dihidupkan dan disirami, maka mekarlah ia.

    So, Handling Bullies? insyaaAllah mudah…
    “Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu”.