Ortu dan Guru Terjaga Adab, Anak Tumbuh Bertanggungjawab

Menjalin kerjasama dengan sekolah itu tidak sama dengan meminta guru standby 24 jam melayani WhatsApp/messages dari Ortu.

Sudah sering sekali saya mendengar ortu jaman now malam-malam mengirim pesan kepada guru menanyakan PR anaknya, bahkan ada yang di jam sekolah minta tolong dicarikan pinjaman topi karena topi anaknya ketinggalan.

Dan pagi ini saya terhenyak mendapat kabar ORTU yang mengirim pesan kepada DOSEN anaknya untuk minta tolong diberi fasilitas tertentu. Dosen lho ini, artinya anaknya sudah mahasiswa kan ya.. 😣

Fenomena apa ini? Apakah karena kebiasaan sejak SD atau sekarang Universitas juga memberi peluang komunikasi tanpa panduan yang jelas?

Kalau mahasiswa dan dosen yang makin terbuka, sudah sering saya dengar, dengan kalimat yang kurang sopan. Kalau kasus antara mahasiswa dan dosen insyaaAllah mudah, tinggal disepakati saja tatakrama komunikasi yang dikehendaki masing-masing dosen.

Tetapi, komunikasi antara Orangtua dan Guru perlu aturan dan tata laksana yang perlu dikomunikasikan sejak awal.

Mari para pemilik, pengurus, kepala sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan. Persoalan ini harus dibenahi. Sungguh ini kebiasaan yang sangat TIDAK MENDIDIK

Lembaga pendidikan perlu mempunyai aturan yang TEGAS dan JELAS mengenai ini.

Pernah suatu ketika saya mendengar ada ortu yang mengatakan, “Kami kan bayar mahal, berhak dong kami dapat pelayanan terbaik”

Duh.. sekolah kan bukan travel agent, yang kalau peserta tour sakit perut jam 12 malam minta disediakan oralit. Guru bukan nanny, yang boleh diperintah-perintah sesuka hati.

Sebagai benchmark, saya contohkan aturan yang berlaku di sebuah sekolah International di kota tempat tinggal saya, yang SPP nya puluhan juta, (kurang merasa berhak bagaimana ortu yang sudah membayar hampir 100 jt setahun) tetapi aturan komunikasi dipatuhi oleh wali murid.

Apa sajakah itu?

  • Orang tua hanya boleh berkomunikasi dengan guru melalui email guru dan hanya akan dijawab di hari kerja dan jam kerja (guru itu pekerjaan profesional bukan harus standby 24 jam) atau melalui buku komunikasi yang dimiliki masing-masing anak.
  • Jika anak sakit atau ada kejadian emergency dimana sekolah perlu memberitahu orangtua, maka dilakukan melalui nomer telpon administrasi sekolah
  • Reminder dari sekolah dilakukan melalui one way sms broadcast
  • Group WA ortu gunanya untuk berdiskusi antar ortu. Guru tidak menjadi member didalamnya, salah satu wali murid akan menjadi perwakilan jika ada hal yang perlu disampaikan kepada guru setelah disepakati bersama di dalam group. Nomer telepon pribadi guru tidak diberikan kepada wali murid tanpa ijin dari guru.

Lalu bagaimana kalau anak lupa PR, lupa topi, lupa buku, lupa tanggal penyerahan tugas?

  • Anak memeriksa kembali di buku komunikasi atau informasi di google classroom jika sudah menggunakan fasilitas tersebut
  • Guru memastikan semua anak menulis info di buku komunikasi dengan memeriksanya di akhir waktu belajar biasanya dengan diberi paraf

Kalau buku komunikasinya hilang? Ya tanggung sendiri konsekuensinya sekaligus rentetan-rentetan konsekuensi berikutnya termasuk penilaian. Demikian pula jika lalai mengerjakan.

Sesungguhnya fitrah manusia itu memiliki potensi bertanggungjawab, tetapi kebiasaan yang salah membunuh potensi itu! 😖

Mengapa saya lebih fokus kepada guru sekolah, karena untuk dosen lebih mudah. Dosen dianggap mempunyai jenjang pendidikan yang tinggi sehingga setelah aturan dikomunikasikan di awal, dosen juga bisa langsung menjawab secara asertif kepada orangtua yang melakukan intervensi berlebihan.

Tetapi seringkali guru dengan siswa anak pejabat misalnya, memerlukan dukungan yang kuat dari lembaga dan pimpinan tempatnya mengajar, baik itu  berbentuk aturan standar yang disetujui secara formal dan dukungan dari pimpinan ketika melakukan hal yang benar.

Jika orang tua tidak memberi contoh adab kepada guru bagaimana anak akan punya adab belajar

Jika lembaga pendidikan tidak menegakkan aturan yang menghargai profesionalitas guru, bagaimana lembaga pendidikan bisa menjadi kawah candradimuka dalam penegakan ethic

Semoga menjadi kesadaran bersama baik bagi lembaga pendidikan maupun orangtua.

Panduan Mudik Yang Adil dan Beradab

Lebaran insyaaAllah sebentar lagi, sebagian sudah mudik bertemu handai tolan keluarga besar.

Mari kita perhatian apakah Pre-Frontal Cortex kita yang sudah terus-terusan diajak nge-Gym selama sebulan penuh untuk menguatkan kembali fungsi moralnya yaitu menunda keinginan, menahan nafsu ini terjaga kualitasnya atau segera lemes lagi kekuatannya?
Apakah akhlaq yang sudah kita olah sebulan penuh ini, terjaga stabilitasnya atau tak berbekas jejaknya?
Apa saya panduannya?

RESPECT OUR PARENT’S HOUSE

  • Pulang ke ortu, kakak, adik atau saudara, bukan berarti melarikan diri dari kondisi rumah sendiri yang sudah ditinggal para asisten. Ortu kita sibuk menyiapkan makanan, anak-anak mberantakin sana sini, dan atas nama cinta serta pemikiran aaahh… cuma setahun sekali, lalu kita minta dimaklumi. Bantu yuk membersihkan, bayarin asisten infal kalau punya dana lebih, panggil go cl**n dan sejenisnya. Bantu juga menyediakan makanan, hari ini sangat mudah menjamin ketersediaan hidangan. Memang mungkin beberapa orang merasa berhak atas rumah ortunya tetapi justru karena berhak maka bantu juga agar tetap bersih dan nyaman
  • Ini lucu ya.. aku bawa ya. Kadang-kadang ada barang unik di rumah ortu kita, lalu diminta dan dibawa pulang. Datang bawa panekuk, pulang bawa jam kukuk 😀. Ortu umumnya akan bilang iya meski hati menjerit. Jangan mengganggu apa yang ada di rumah ortu kita. Kecuali memang ortu secara khusus ingin kita menyimpan barang miliknya dan jika kita jujur pada diri sendiri akan terasa bedanya.
  • Jika keluarga kita besar dan jumlah kamar terbatas atau ada salah satu anggota keluarga kita yang mempunyai masalah perilaku sehingga kemungkinan besar mengganggu, tidak ada salahnya pesan kamar di penginapan terdekat. Tentu minta ijin dengan santun. Tidak usah ngambeg kalau tidak dapat kamar terbaik di rumah ortu kita.

PERSIAPKAN PASANGAN DAN ANAK

  • Briefing dan Role play anak-anak termasuk pasangan tentang kebiasaan, tata krama dan tugas kewajiban selama di rumah ortu. Selengkap mungkin dengan berbagai skenario kemungkinan. Anak kritis memang kekinian, tapi anak nyinyir itu kurang didikan 😊
    Anak kritis: ini banyak piring kotor jadi ngga rapi, sini aku bantu bawa ke dapur dan cuci piring
    Anak nyinyir : ih tante, kok tante gini sih kan harusnya gitu.. , ih eyang kok rumahnya ada inunya, ngga kayak di rumahku beginu..
    ih.. eyang kok ngga pakai kerudung.. hedeeuh..
  • Bagaimana mensikapi uang lebaran, sesuaikan dengan values masing-masing keluarga, berapa persen yang akan ditabung, bebas dipakai dan disedekahkan. Jika values di keluarga inti tidak membolehkan uang lebaran, sampaikan kepada keluarga besar dengan baik dan santun tanpa perlu mempengaruhi. Siapkan mental anak-anak anda menghadapi perbedaan
  • Ingatkan kembali pasangan tentang kebiasaan-kebiasaan di rumah ortu. Saling menyesuaikan. Asal kita bersedia tulus fleksibel dan penuh kasih sayang di rumah inlaw insyaaAllah pasangan juga akan bersedia asal jelas. Bukan asal pokoknya

JAGA LISAN

  • Atur-atur nada suara, meski bersaudara bukan berarti semakin dekat semakin hilang kesopanan tetapi justru harus semakin sayang
  • Hindari pertanyaan-pertanyaan atau komentar yang tidak perlu. Kapan nikah? Kapan nambah anak? Kapan punya anak laki/perempuan? (Kecuali si penanya yang membiayai biaya pernikahan dan dana pendidikan anak-anak orang yang ditanya) Kok jadi gemuk? Kok milih sekolah itu sih, emang bagus? Anakmu kemarin rangking berapa? 🤪
  • Nasehati menasehati dalam kebaikan memang dianjurkan tetapi lakukan dengan adab yang benar dan personal. Menasehati dan menyinyiri adalah dua hal yang berbeda
  • Hindari membanding-bandingkan dan mengkritisi
  • Lalu bagaimana kalau kita yang dikritisi? Ada 2 jenis kritikan, yang karena si pengkritik secara nyata terganggu dan yang sebetulnya tidak menganggu dia
    • Yang mengganggu orang lain misalnya anak teriak-teriak, lompat di tempat tidur orang dl : “Ih anakmu kok berisik sih, ngga bisa diem sih.. Yah robek deh buku kakak sepupunya..”
      Jika anak kita memang berkebutuhan khusus : Sampaikan permintaan maaf dan ceritakan bahwa saat ini sedang dalam proses terapi (harus jujur tapi ya) dan mohon dido’akan.
      Jika anak kita bukan berkebutuhan khusus dan memang kurang briefing role playing ya minta maaf dan segera ajak main menjauh sambil dilakukan BRP
    • Yang tidak mengganggu orang lain. Misalnya anak manjat pohon di luar atau anak kita justru paling patuh pada aturan, kapan nih, kapan nambah anak : “Duh tuu liat anakmu manjat pohon, bahaya lhoo… ” “Ih kamu kaku amat sih sama anak, ngga usah banyak aturan”. “Kapan sih nikah?” “Kok anak cuma 1”. Kritik yang begini mah diberi senyuman manis lalu dijelaskan “Mbak sudah tahu belum kalau ketrampilan gripping itu salah satu latihannya dengan memanjat, insyaaAllah nanti tidak mudah mengeluh jika harus banyak menulis” “Yah memang kadang taat itu dianggap kaku mbak, padahal insyaaAllah itulah perintahnya Allah, tinggal kita mau ikut apa tidak” “Mohon do’anya semoga mendapat yang Allah ridho, tante nanya udah nyiapin hadiah mobil? :D.. ” Maniis semanis gulaa..dan ringan saja seperti kapas. Orang tanya itu kadang karena ngga punya bahan pembicaraan, lalu sodorkan artikel ini yang diprint di kertas bergambar bunga 😀
  • Budayakan saling mengapresiasi dan hadiah-menghadiahi

INTERAKSI ANTAR ANAK-ANAK

  • Nah.. eng ing eng… ini juga biasanya jadi sumber kezeel-kezeelan, anaknya keluarga adik bebas main game dan nonton, anak kita punya batasan. Gimana dong? Keluarga sana diceramahin? Ngga usaah… anak-anak sendiri yang dikuatkan. Masukkan dalam materi briefing dan role playing, siaplah dengan berbagai kegiatan menarik. Fitrahnya manusia itu lebih senang berinteraksi dengan manusia. Putar otak, siapkan kegiatan interaktif yang super dupeeer menarik, treasure hunt misalnya, hadiahnya bervariasi untuk remaja dan anak-anak, lalu ajak keponakan-keponakan anda terlibat, briefing dulu aturan mainnya, kata-kata yang pantas diucapkan selama permainan berlangsung dan adabnya. InsyaaAllah anak selamat, keponakan makin dekat, persaudaraan selamat, insyaaAllah menginspirasi jadi manfaat. Bawa buku EP kalau perlu untuk dihadiahkan pakai pita warna-warni ya kaan…
  • Perselisihan antar anak itu hanyalah proses belajar berinteraksi, perhatikan dulu bagaimana mereka menyelesaikannya, jangan langsung terjun kecuali berselisihnya bawa parang. Lalu ajak mereka mereview sama-sama, belajar dari perselisihan sebelumnya apa yang bisa untuk pelajaran pencegahan ke depan.

Semoga suasana kebahagiaan dan keberkahan Hari Raya semakin bertambah

Okina Fitriani

Demi Mengajarkan Orang Kaya Bersyukur, Tak Peduli Yang Miskin Jiwanya Hancur

Tulisan ini adalah bentuk kesedihan mendalam saya atas beberapa “budaya” di masyarakat kita

  • Merayakan ulang tahun di panti asuhan, si anak kaya berdiri di depan kue ulangtahun indah di depan para anak panti yang disuruh bertepuk tangan dan mendoakan lalu sebagai gantinya nanti disumbang dan dibagi kue dan makanan
  • Perusahaan, kelompok arisan yang memboyong anak panti asuhan makan di hotel, lalu beberapa anak maju ke panggung, ditanya-tanya kenapa di panti, lalu si anak kembali membongkar kisah sedihnya tentang ayah ibunya yang meninggal sambil terisak-isak dan seluruh hadirin ikut menangis dengan harapan si orang-orang kaya ini makin bersyukur.

Astagfirullah HENTIIKAN!!

Tahukah kita, demi satu anak kaya manja yang sedang ulang tahun dan sudah mulai minta macam-macam agar bisa bersyukur, si Orangtua yang belum berhasil menanamkan rasa syukur yang mestinya ditanamkan sejak usia usia 0-5 tahun melalui fitrah iman dan kasih sayang ini, tidak peduli bahwa mungkin belasan anak panti yang usianya belum matang itu, mungkin juga sama-sama belum tertanam rasa syukur karena keterbatasan pengetahuan para pengurus yang hanya sedikit mengurus sedemikan banyak anak itu, dalam hati meratapi,

“Ya Tuhan, mengapa aku tak seberuntung anak itu, sungguh Engkau tak adil, lalu mengapa aku harus mencintaiMU… ”

Sebagian lagi berpikir

“Aku harus bisa begitu kelak, apapun caranya”

Puluhan kemungkinan makna berkecamuk dalam diri mereka, tak sedikit masalah psikologis muncul dari rasa iri bercampur frustrasi ini. Dan saya telah banyak bertemu dengan kasus-kasusnya.

Meski mereka tampak gembira berlari kesana kemari, tetapi sebuah makna telah terlanjur meluncur ke dalam dada

Lalu jika kelak si anak kaya tadi berada di situasi yang tiada seorangpun yang lebih rendah darinya, akan berhenti pula bersyukurnya?

Pun demikian dengan yang tadi diminta ke panggung membuka kembali luka-luka lama, tetesan air mata membuat luka itu semakin dalam, apalagi pada anak-anak.

Dan anda semua yang sudah kaya, masihkah memerlukan air mata mereka untuk bersyukur?

Tidak cukupkah makanan ya dimakan setiap hari, ilmu tinggi yang membuat duduk di kursi itu, pakaian berganti setiap hari itu, belum mampu menumbuhkan rasa syukur? Astagfirullah..

Bukankah masih banyak cara yang lebih Mulia dan Memuliakan

Tapi apa tidak boleh berbagi di panti asuhan?

Tentu sangaat boleh..

Bagaimana cara yang benar..

Jadilah pendana yang menjamin mereka bisa sekolah dan tercukupi kebutuhannya.

Datangilah secara rutin, peluk dan bacakan buku-buku cerita seperti saat membacakan cerita kepada anak-anak kita di rumah.

Jalin komunikasi dengan pengurus, datangi saat mereka membuat pencapaian kecil atau kirimkan surat apresiasi berbungkus pita secara rutin.

Jadikan anak asuh, adopsi jika memungkinkan.

Fokus pada kebutuhan mereka bukan menjadikan mereka alat untuk kepentingan kita.

Padahal sesungguhnya dengan membantu setulus jiwa, kita juga yang sedang menabung pada akhirnya. Kita yang memerlukan mereka tapi bukan sekedar urusan dunia.

Jadi … Masihkah kita akan

Demi mengajarkan ORANG KAYA BERSYUKUR, tidak peduli YANG MISKIN jiwanya HANCUR?

note : seseorang pernah membisiki saya, tapi mbak, ada kok yang memang acara naik panggung mengumbar tangis itu dianjurkan oleh pengurusnya. Fagfirlana… meskipun ada, jika kita tak membeli idenya insyaaAllah akan berhenti juga.

Semoga menjadi kesadaran bersama…

Handling Bullies

Banyak sekali pertanyaan mengenai cara menangani perilaku bullying yang muncul baik di kelas-kelas kami maupun di forum-forum parenting yang kami kelola. Demikian pula simpang siung anjuran tentang penanganan semakin membuat orangtua bingung. Mana yang harus diikuti.
Mari dimulai dengan memahami dulu tentang bully. Bully dalam bahasa Indonesia disebut perundungan, tetapi dalam artikel ini saya gunakan kata buli saja agar singkat.
Buli dilakusecara umum terbagi menjadi 3 kategori

  • Verbal : yaitu ucapan yang menyakitkan, meledek, memanggil dengan julukan, menghina, mengancam,
  • Mental : Mengabaikan, mengucilkan, menyebarkan berita yang membuat seseorang dimusuhi, menjendilkan :D, dll
  • Fisik : Memukul, menendang, mencubit, dll.

Bully dilakukan secara SADAR. Artinya jika tindakan mendorong itu dilakukan oleh anak usia 2 tahun yang masih dalam tahap latihan sensori atau dilakukan oleh ABK yang belum paham kekuatan menyentuh dan mendorong, maka jangan dengan mudah kita mengatakan kepada yang mendorong maupun yang didorong “Ih.. kamu dibuli lhoo” “Ih ini anak kecil-kecil sudah jadi pembuli” . Dalam hal ini justru si pembuli sesungguhnya adalah yang komentar itu.

Di banyak keluarga justru pembuli pertama anak-anak adalah orang tuanya sendiri, kadang verbal dengan labelling atau menghardik, kadang Mental dengan mengabaikan, sering juga fisik, bahkan ada yang paket lengkap 3 kategori sekaligus. Tentu orangtua sebagai sosok dewasa sudah pasti SADAR ketika melakukannya. Anak yang sudah dibuli terlebih dahulu di rumah sangat besar kecenderungannya untuk jadi pelaku maupun korban bullies di sekolah. Penelitian Renae D. Duncan (1999) dari Murray State University menyimpulkan 69% anak yang dibuli di sekolah, adalah anak yang mendapatkan kekerasan di rumah. Tidak mengherankan memang, karena anak-anak yang sering dilabel, dikritisi, dihardik atau disakiti di rumah akan datang ke sekolah dengan penampakan 2 jenis, yaitu tidak percaya diri atau wajah tambeng dan penuh dendam. Inilah yang kemudian berkembang menjadi korban maupun pelaku buli. Pembuli mengenali sasaran yang bisa dibuli. Pembuli pilih-pilih dan melakukan coba-coba dulu. Anak yang berjalan dengan tegak dan pandangan yang penuh percaya tetapi tidak sombong, jarang dijadikan sasaran pembuli.

Anehnya, orangtua yang membuli anak di rumah sangat tidak terima ketika anak diperlakukan sama di sekolah bukan? Seolah lupa bahwa sumbernya berasal dari rumah.

Maka, LANGKAH PERTAMA untuk mencegah dan mengatasi buli adalah, Perlakukan anak-anak kita dengan respectful di rumah. Dengan memperlakukan mereka dengan respectful sesungguhnya juga sekaligus sedang mendapat contoh akhlaq yang baik dan akan tumbuh menjadi anak yang santun dan percaya diri. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW

“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (riwayat Ibnu Majah).

LANGKAH KEDUA, pelajari aturan di lingkungan tempat anak berinteraksi. Untuk memperjelas, kita umpamakan saja sekolah. Tanyakan apakah ada aturan yang jelas tentang handling bullies . Jika tidak punya sampaikan kepada sekolah bahwa anda akan membuat standar penanganan buli, sosialisasikan pada pihak sekolah dan lebih baik lagi jika disepakati sebagai aturan sekolah. Lebih bermanfaat daripada sekedar kesal karena sekolah tidak punya aturan penanganan buli bukan?

LANGKAH KETIGA, Briefing dan Role Playing. Beri anak penjelasan mengenai hal-hal berikut ini
1. Definisi perilaku buli seperti yang sudah disebutkan di atas, supaya anak juga tidak epes me’er, ditowel dikit buli, disenggol dikit buli, dipanggil dengan nada tinggi dikit buli. Orangtua juga tidak perlu reaktif supaya anak juga tidak baperan.
2. Beritahu tahap-tahap menyikapi buli (saya attach video Rangga saat diminta menceritakan kembali materi briefing dan alhamdulillah tidak pernah dibuli oleh siapapun):

  • Abaikan (Ignore) : Jika masih tahap coba-coba, biasanya berbentuk verbal seperti kata Ciee.. ciee… , memasangkan dengan si fulan, ledekan ringan dan sejenisnya, ajarkan anak untuk mengabaikan dengan wajah tetap percaya diri dan tersenyum. Pembuli suka dengan reaksi berlebihan, wajah merengut, mata berkaca-kaca dan tangisan. Ajarkan anak teknik disosiasi (diajarkan di kelas Enlightening Parenting)
  • Tegur dengan Tegas (Stand Up) : Katakan dengan tegas, STOP it! Hentikan! Dengan tatapan yang mantap. Ini dilakukan jika setelah diabaikan perilaku yang sama masih berulang. Jika sudah berupa kontak fisik, tangkap tangannya, tekan ke bawah sambil menegur dengan tegas. Jika kategori mental ajarkan anak berani melakukan klarifikasi. Pada tahap 2 ini ditutup dengan laporan kepada Guru dan ortu.
  • Laporkan kepada Guru. Ajarkan anak untuk mencatat setiap laporan. tanggal berapa dan nama guru yang dilapori. Biarkan pihak sekolah melakukan tugasnya untuk menegur.
  • Orangtua menemui pihak sekolah. Jika hingga laporan ke 3 masih berulang maka temui pihak sekolah untuk difasilitasi berdiskusi bersama orangtua pembuli. Jika pembuli juga melakukan hal yang sama kepada anak lain, upayakan laporan bersama agar sekolah dan orangtua pembuli melakukan tindakan kuratif nyata seperti skorsing atau konseling keluarga
  • Jika masuk ke level kriminal, seperti pengeroyokan, laporkan kepada polisi.

3. Latih anak menghadapi berbagai situasi ini secara role playing di rumah, karena sikap dan kebiasaan tidak terbentuk melalui nasehat tetapi melalui latihan.

LANGKAH KEEMPAT. Sebarkan kasih sayang. “Siapa yang menyayangi, dia akan disayangi”. Jangan pernah mengajarkan anak untuk membalas pembuli, tetapi justru menyapa dengan ramah, menanyakan kabar, sesekali berbagi bekal tetapi bukan dengan niat menyuap atau nyogok. Berbagi kepada semuanya, baik yang bersikap baik maupun yang tidak. Latih anak untuk memuji efektif temannya yang bersikap baik. Menjadi detektif kebaikan. Sesekali undang teman-teman anak untuk bermain di rumah termasuk yang suka membuli dan perlakukan mereka dengan kasih sayang. Pada umumnya pelaku buli ini kering kasih sayang. Tidak ada orang yang imun pada kasih sayang, karena kasih sayang itu fitrah. Jika dihidupkan dan disirami, maka mekarlah ia.

So, Handling Bullies? insyaaAllah mudah…
“Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu”.




Memilih Sekolah Dasar

Sekolah dasar, seperti namanya, akan menjadi kancah yang memberikan  contoh dasar bagi perilaku di luar rumah bagi anak. Anak akan tinggal di sekolah paling tidak 5 jam setiap hari.  Di kancah ini anak akan melihat interaksi antar anak sebaya, interaksi antara orang dewasa dan anak-anak, juga interaksi antar orang dewasa. Lima jam bukan waktu yang sebentar, sedangkan kita semua tahu bahwa manusia belajar dengan cara meniru dan anak-anak adalah peniru ulung. Sekolah menjadi tempat bagi anak-anak untuk membentuk pola perilaku, mewujudkan potensi menjadi kompetensi, mengintenalisasi nilai-nilai, identitas diri, bahkan mungkin juga spiritual yang paling besar pengaruhnya setelah keluarga.

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih sekolah terutama Sekolah Dasar.

1. Perhatikan perilaku (akhlaq) guru-gurunya.

Cara bicaranya, nada suaranya, pilihan kata-katanya, ekspresi wajahnya. Sediakan waktu untuk melakukan observasi menyeluruh. Jika biasanya sekolah melakukan observasi terhadap anak dan orang tua sebelum diterima, maka orang tua juga perlu melakukan hal yang sama. Para guru inilah yang nanti akan menjadi contoh yang ditiru oleh anak-anak. Seperti pesan ibu Imam Malik ketika beliau berangkat menuntut ilmu. “Pelajari adabnya, sebelum engkau pelajari ilmunya”

2. Perhatikan ekspresi dan para murid

Bagaimana perilaku anak-anak yang usianya sudah atau mendekati puber (baligh) (kelas 5-6). Inilah produk dari sekolah itu (dan keluarganya tentu). Bagaimana interaksinya dengan sesama teman, kata-kata yang keluar dan ekspresinya.

Bagaimana ekpresi rata-rata anak-anak di kelas awal (kelas 1-2). Apakah memancarkan rasa bahagia atau tidak.

3. Perhatikan karya-karya yang ditempel di sana-sini

Apakah karya anak-anak atau hiasan keluaran percetakan. Apakah nama yang muncul itu-itu saja atau bervariasi. Jika hanya mana yang itu-itu saja, kemungkinan aroma kompetisi antar individu di sekolah itu cukup kental.

4. Sekolah inklusi

Pilihlah sekolah inklusi yang memang siap untuk memberi ruang belajar untuk anak berkebutuhan khusus. Yang disebut berkebutuhan khusus tentu harus ditegakkan melalui diagnosis ahli tumbuh kembang, bukan hasil perkiraan dari ortu maupun guru.

5. Pelajari peraturan sekolah dengan seksama.

Aturan tentang kedisplinan, penanganan bullying, forum komunikasi ortu dan sekolah dan lain-lain.  Tanyakan sejarah penanganan kasus-kasus dan konsistensi dari penegakan aturan tersebut.

Banyak sekolah yang tidak memiliki aturan tertulis, alih-alih mengkritisi  ortu bisa ikut membantu membuatkan desain aturan yang sesuai dan tidak bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi. Membuatkan prosedur-prosedur dan tata laksana yang mudah diterapkan dan menarik. Kerjasama ortu dan sekolah sangat penting, bukan saling menuntut tetapi saling mendukung.

Sekolah juga perlu memiliki aturan yang tegas mengenai waktu dan tatacara komunikasi ortu kepada guru. Ortu juga tidak boleh semena-mena menghubungi guru malam-malam hanya untuk menanyakan PR misalnya.

6. Cari sekolah yang satu Visi dengan anda.

Tentu sebelum menemukan sekolah yang satu visi, orang tua perlu memiliki visi keluarga terlebih dahulu.

Jika anda menganut pedoman bahwa hidup bukanlah berkompetisi untuk mengalahkan orang lain, tetapi meningkat dan kolaborasi yaitu capaian seorang anak secara individual perlu meningkat dibandingkan dengan apa yang sudah dicapai sebelumnya, maka pilih sekolah yang tidak ada metode rangking. Perhatikan bagaimana laporan hasil pembelajaran disajikan.

Perhatikan aturan penggunaan teknologi seperti internet di sekolah. Sesuaikan dengan aturan anda di rumah. Jika berinteraksi dengan komputer apakah ada intranet yang sudah disediakan oleh sekolah atau langsung bebas berselancar di internet. Jika menggunakan media yang tersedia di internet, apakah guru atau orang tua yang mencari, atau anak disuruh mencari sendiri. Jika anda concern dengan hal-hal seperti ini. tanyakan langsung sejak awal agar tidak terjadi pertentangan values atau nilai-nilai yang anda tanamkan di rumah dan di sekolah.

Lalu, bagaimana jika tidak ada yang seVisi? Ya diajari sendiri di rumah.. Siap?

Mengajari sendiri jauh lebih baik daripada ortu sibuk “meludah” di sumur sumber ilmu tempat belajar anak-anak kita. 

Apa maksudnya kalimat diatas? Di luar sana banyak ortu sibuk mengkritisi tanpa solusi, mengeluh dan mengatai-ngatai sekolah tempat anaknya.  “Gimana sih ini sekolah nggak bener, payah, parah dsb dsb”. Ibarat meludah di air sumur yang kita harapkan akan memberikan sumber ilmu yang sehat dan barokah bagi anak-anak yang dititipkan untuk belajar darinya. Maka jika ada yang perlu diperbaiki dari sekolah, mari bersama-sama ditingkatkan. Dikerjakan bersama, bersama mencari ahlinya, didanai bersama dan diimplementasikan dengan konsisten dan kongruen.

Bismillah.. Selamat memilih sekolah….

Menjelajah United Kingdom – Merangkai Wisdom -Manchester, Duns, Edinburg

Meninggalkan London kami menuju Manchester dengan mobil sewa. Alternatif mobil dipilih karena kami akan pindah-pindah kota. tentu nenteng-nenteng koper bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Jadi mobil berfungsi juga sebagai trolley 😀 .Malam ini kami mencicipi rasanya tidur di boat bernama Castlerose di Manchester Canal. Boat ini menyediakan 2 options menginap, berlayar atau bersandar. Karena option berlayar berarti ada nahkoda, which is pria, sementara saya kurang nyaman sepanjang hari berhijab, kami memilih option bersandar saja. Toh canalnya juga tidak terlalu besar, selebar Selokan Mataram Jogja kurang lebih. Fasilitasnya sangat lengkap, sampai dishwasher juga disediakan. Anak-anak suka sekali dan tidak henti-hentinya meneliti setiap sudut kapal. Bahkan mas Raka sudah mulai menghitung, berapa biaya untuk membuat boat seperti ini. It’s a new experience for us. Meskipun demikian, tentu luas ruang terbatas, penggunaan air harus bijak dan ada cara tertentu dalam menggunakan toilet agar aman dari banjir.
Dari sering mencoba hal baru ini kami belajar untuk melatih flexibility, berbagi tugas dan saling menolong. Malam ini kami tidak kemana-mana, memanfaatkan waktu berdiskusi dengan anak-anak. Banyak sekali hal yang bisa kami diskusikan dan latih bersama. Mulai dari adab, basic life skill sampai nasionalisme. Sebagai anak yang hampir tidak pernah mendapatkan pendidikan nasional, urusan mengenal pemahaman dasar tentang bangsa dan negara tentu jadi tanggungjawab kami. Membahas tentang kemerdekaan, makna pancasila, bhinneka tunggal ika beserta implementasinya. Kami mendiskusikan kondisi aktual saat ini dan room for improvement apa yang bisa mereka isi kelak. (Menjadi warga negara Indonesia yang dasar negaranya pancasila tentu juga tidak harus pasang meme Aku Pancasila, karena sudah otomatis kan ya? 🙂 ). Semakin banyak mereka mengenal negara lain, semakin banyak hal positif tentang Indonesia yang mereka bisa kenali, dan semakin paham di bagian mana yang perlu diperbaiki. Kami tidak ingin mereka kelak hanya sekedar menjadi pengkritik nomer wahid, kok begini, kok begitu, kurang ini, kurang itu tetapi tidak berkontribusi dalam membuat perbaikan. Semacam gegar budaya tanpa makna. Sebuah perilaku yang yang sempat teramati dari beberapa orang yang lama tinggal di luar negri, yang bahkan malu berbahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari antar individu karena dianggap kurang keren atau berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat bak meneer meneer dalam film perjuangan Indonesia jaman dulu 😀 . 
Bukankah Rasulullah saw juga mencintai Mekah dan Madinah, tempat beliau dilahirkan dan memulai kepemimpinan?

  

Keesokan harinya kami pindah ke apartment 2 kamar di area Chadderton, 15 menit di sebelah timur laut pusat kota. Setelah meletakkan barang-barang, kami menuju kota. Tujuan pertama adalah The John Ryland Library . Subhanallah.. Merinding rasanya di perpustakaan ini. Betapa ilmu diletakkan pada derajatnya. Buku-buku ditulis dan dilukis dengan pewarna dari batu mineral alami, dihiasi dengan bubuk emas murni, dimuliakan, dipelihara dan dicatat sejarahnya.
Bandingkan dengan sekarang, manusia comot sana sini, copy paste tanpa referensi, tidak meneliti apatah lagi membuat riset sendiri, mengajarkan hal yang bahkan amat jarang dijalani. Fagfirlana…


Dari perpustakaan ini kami ke National Football Museum. Menarik mungkin bagi yang suka football, saya sih banyak ngga ngertinya hahaha..
Hari ketiga di Manchester kami mengunjungi The Manchester Museum. Yang ini memang Recommended! Lengkap dan menarik. Apa saja isinya silahkan googling saja, 2 jam tidak cukup untuk mempelajari isinya. Kami tidak bisa berlama-lama di museum ini karena waktunya sholat Jum’at. Tidak jauh dari Museum ini ada Central Mosque. Lumayan penuh lho… Lokasinya dekat dengan Manchester University juga. Beberapa ratus meter dari situ, di sepanjang Wilmslow Rd, berjajar belasan restaurant timur tengan dan india halal. Jadi kami makan siang di sana. Selesai makan kami lanjut lagi ke Science and Industry Museum. Manchester adalah salah satu pionir dalam industry tekstil, di museum itu ada penjelasan detail dengan mesin-mesin pintal dan tenun jaman dahulu yang masih berfungsi. Disana juga dijelaskan bagaimana dulu anak-anak dipekerjakan sebagai buruh. Museum ini juga must visit place deh pokoknya. Oiya dari tanggal 23 July sampai dengan 23 September ini ada lebih dari 100 patung lebah di Manchester sebagai bagian dari program Bee in the City. Lebah pekerja adalah bagian dari symbol Manchester sejak tahun 1842.

Wah.. An Nahl ya..

Hari Sabtu pagi kami meluncur ke Dunes, sebuah desa di perbatasan Scotland, 1.5 jam sebelum Edinburg. Kami memilih Green Hope Cottage untuk menikmati area pedesaan. Sebuah cottage di ujung desa, di bawah bukit berbatasan dengan hutan pinus dan di depannya mengalir sungai yang jernih dan sejuk.

MasyaaAllah… Alhamdulillah, terimakasih ya Allah atas nikmat penglihatan sehingga bisa memandang indahnya alam ciptaanMu, nikmat sehat sehingga bisa menikmati liburan, nikmat rizki sehingga bisa mengunjungi tempat yang disukai, nikmat pendengaran sehingga bisa mendengar gemricik air, nikmat akal sehingga bisa memaknai segala sesuatu dengan positif, nikmat ilmu sehingga bisa bermanfaat dan jutaan nikmat yang lain.
Lokasi ini mengingatkan pada kisah-kisah petualangan The Famous Five, jadi deh muncul ide berpetualang imajinatif ala Famous Five hahaha… Kisahnya ada di FB saya ya… Judulnya Misteri Biri-Biri Yang Tertukar hahaha… Emangnya cuma putri aja yang bisa tertukar? 😀 . Daaan lagi-lagi anak-anak senang sekali tinggal disini. Rupanya liburan di tempat yang unik lebih menarik daripada di kota.

  
OK sampai disini dulu ya cerita seri keduanya. InsyaaAllah dilanjutkan lagi di seri ketiga, Edinburg, York and Cambrige

Menjelajah United Kingdom, Merangkai Wisdom – London

Sesuai dengan janji saya di salah satu status media sosial, ini adalah seri pertama dari beberapa tulisan rangkaian kisah Menjelajah United Kingdom, mulai dari London menjelajah ke utara yaitu Manchester dan Edinburg, hingga kembali lagi ke selatan melalui York dan Cambridge.

So, mari kita mulai dari London…

Hari pertama menjelajah UK, kami mendarat di Heathrow Airport jam 3 sore waktu setempat. Sebagai bandara lama di tengah kota, tentu kita tidak bisa membandingkan dengan bandara-bandara baru dunia atau bahkan dengan terminal 3 Soekarno Hatta sekalipun. Sederhana, decent tepatnya, adalah kata yang cocok untuk mewakili situasi Heathrow.  Dengan taxi online kami menuju apartment di kawasan Stockwell. Kami memilih apartment 2 kamar lengkap dengan kitchen amenities untuk memudahkan menyiapkan makanan sendiri sehingga terjaga kehalalannya. Alhamdulillah, penampakan asli apartment ini persis sama dengan iklannya, bahkan kelengkapapnya more that we expected. Cuaca di musim panas ini cukup ektrim yaitu mencecah 33°C. Dan seperti umumnya rumah tinggal di UK ini mereka tidak punya pendingin udara. Sumuuk memang kalau siang. Suhu sepanas ini baru pertama kalinya sejak beberapa tahun yang lalu. Di malam hari suhu berubah menjadi 19-22°C. Tetapi ternyata suhu panas ini tidak berlangsung lama, cukup 2 hari saja. Di hari ketiga dan seterusnya, suhu di siang hari maksimal hanya 26°C, suhu yang nyaman untuk kami keluarga tropis ini 🙂

Setelah istirahat sebentar kami jalan-jalan dulu ke London Eye di pinggir Thames River, sengaja langsung jalan supaya tidak tidur terlalu awal sehingga tidak terpengaruh jet lag. Saya pribadi sih alhamdulillah selama ini kemana-mana tidak pernah jet lag, ngantuk otomatis jika hari gelap dan nyala saat matahari terang benderang. Entag kalau nanti berada di kawasan yang gelapnya sangat sedikit. Di area ini banyak hal menarik yang bisa dilihat, ada the London Dungeon, The Shrek Adventure, Sea Life Adventure, Big Ben, Dinner on Cruise dll. Jalan kaki sore hari di area ini lumayan menyenangkan, hanya saja saya agak terganggu dengan langkanya tempat sampah, sehingga kawasan ini terlihat agak kumuh. Juga banyak digelar three cup trick alias judi pakai 3 gelas yang terasa banget aroma penipuannya. Hare geneee… masih main beginian maaass…. kerja yang lain napa.

Sama seperti di Jerman, disini juga banyak becak sepeda alias Cycling Rickshaw, tapi ngga usah nyoba deh, mihil. Kecuali ingin ngerasain naik becak yang nggenjot bule 😀 , tapi bulenya kebanyakan dari eropa timur. Demikian pula dengan tukang-tukang bangunan disini banyak yang dari eropa timur. Duduk-duduk di pinggir Westminster Bridge sambil memandang Big Ben yang sedang direnovasi lengkap dengan red telephone box, red bus dan black taxi memang jadi terasa banget London-nya, hahaha ya iyalah memang di London. Orang-orang disini terbiasa saling menyapa, suka sekali dengan kata lovely dan siapa-siapa  dipanggil darling alias dadar guling hehehe…

Selesai jalan-jalan kami mampir dulu ke Tesco sebelum pulang, dan tadaaa…. Buah-buahaan maaaak, murah bingiiit. Blackberries sekotak, Cherry mateng-mateng masak pu’un cuma £2.  Aduh kebiasaan lihat di Kuala Lumpur dan Jakarta meheel. Serasa panen di kebun paman, saya borong dong buah-buahan, senangnya serasa lebaran (ngga gitu banget keles.. 😀 ) Alhamdulillah… Saya amati bahan makanan mentah disini cukup murah, seperti salmon, ayam, udang, dll, tapiiii kalau sudah matang alias di restaurant atau warunglah, jauh berlipat harganya. Mungkin profesi chef disini mahal ya…

Sambil menikmati pemandangan kota London dari atas London Eye… insight hari ini adalah :

Pandangan yang luas menyediakan lebih banyak pilihan makna terhadap sebuah peristiwa. Tinggal memilih makna apa yang paling memberdayakan dan menghasilkan state terbaik

Meskipun London eye itu sebetulnya nggak tinggi-tinggi amat. tetapi mungkin karena memberi banyak kenangan indah maka demikian ternama. Manusia juga begitu, mungkin kompetensinya tidak hebat-hebat amat, tetapi dirindukan karena memberi banyak kebaikan.

thumb_IMG_4566_1024thumb_IMG_4563_1024thumb_IMG_4559_1024thumb_IMG_4555_1024

 

Nah… bagian yang paling asyik adalah, makan siang dengan mas Raka Besar, putra dari sahabat kami di Saudi, Pakde Latief dan Bude Aeni. Duh udah perjaka, ganteng pula, kami ketawa-ketawa seru banget cerita kesana kemari. Tidak seperti sudah berpisah lama. Mengapa kami memanggilnya Mas Raka Besar? Karena dulu Raka kami masih kecil, jadi untuk membedakan dipanggil Raka Besar dan Raka Kecil. Sekarang sudah sama-sama besaaar.
Hari Kedua ini ditutup dengan mengarungi sungai Thames dengan kapal.  Oiya, bagi yang doyan jalan-jalan dan kuat berpindah-pindah lokasi, membeli London Pass akan menghemat lumayan banyak, karena dengan biaya  kurang lebih £37 sehari per orang, bisa digunakan untuk kurang lebih 70 lokasi wisata, tetapi kalau model jalan-jalannya seperti kami, santai-santai berhadiah, tidak terlalu menguntungkan, karena kami hanya mengunjungi 2-3 tempat sehari, itupun tergantung cuaca. Kalau hujan kami santai-santai saja di rumah. Meskipun Summer, karena cuaca sering berubah, siap-siap saja jaket yang tidak terlalu tebal dan jas hujan disposable.

Suhu yang hangat dengan sinar matahari yang cerah cukup langka terjadi, oleh karena itu penduduk kota London suka sekali duduk-duduk di taman kota untuk piknik atau berjemur, sehingga taman kota penuuuh.  Suhu yang hangat dan matahari yang cerah begitu disyukuri, lalu bagaimana dengan kita yang Allah limpahi dengan sinar matahari berlimpah?

Maka, wisdom yang diperoleh hari ini salah satunya adalah :

Sesuatu yang dianggap biasa di suatu tempat bisa jadi tidak biasa di tempat lain. Seperti juga setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Ada orang yang perluu sekali disayang-sayang ada yang tidak. Ada yang perluu banget rencana yang pasti, ada yang merasa cukup dengan mengalir saja. Nah, perbedaan itu bisa saja ada dalam interaksi kita dengan orang-orang yang kita cintai. Maka penting untuk memahami kebutuhan pasangan kita dan orang-orang yang kita sayangi. Maka kita punya pilihan, menganggap orang yang kita sayangi itu lebay hanya karena kebutuhannya berbeda atau being grateful terhadap apa yang bagi kita sudah biasa, apalagi jika kita bisa memberi sebaik-baiknya.

 

Hari ketiga, kami memuaskan Rangga, satu-satunya penggemar bola yang ada di rumah kami dulu hehehe. Pagi-pagi keluyuran di Emirate Stadium yang menjadi markas Arsenal. Tour tuk wak gak keliling stadium hahaha.. keren sih memang, meski saya ya baru denger yang namanya Mesut Ozil ya disitu itu 😀 .Pulang dari Stadium mampir dulu ke National Gallery nengokin lukisannya mas Van Gogh.

Hari ke 4 rencananya mau ke Buckingham Palace pagi-pagi, tapi ternyata hujan. Kayaknya lebih asyik masak-masakan di rumah lalu selimutan. Siangnya kami lanjut ke Warner Bros – Harry Potter Studio. Disini kami melihat bagaimana sebuah karakter kinerja yang tinggi selama 10 tahun menghasilkan mahakarya sinematografi.

Selama dua hari ini kami belajar tentang kesungguhan dalam amal perbuatan. Ini baru urusan dunia saja, demikian detail sebuah karya disuguhkan, dari perencanaannya, desain, pelaksanaan, evaluasi, continous improvement masyaaAllah. Lalu bagaimana dengan kita, yang urusan dunianya juga menjadi bagian dari urusan akhiratnya? Fagfirlana…

Hari ke 5 kami mengganti perjalanan ke Buckingham yang kemarin tertunda. Sebelumnya mampir ke Imperial College dan Science Museum yang lokasinya berdekatan. Menghirup-hirup aroma Imperial College yang dulu ditolak suami saat sudah diterima melalui jalur Chevening Scholarship karena tidak ingin meninggalkan anak yang waktu itu masih kecil 🙂 .  Siapa tahu nanti rejekinya Raka atau Rangga ya kan? Aamiin.

State Rooms of Buckingham memang tidak buka setiap hari, hanya kurang lebih 10 minggu dalam 1 tahun dan mostly di musim panas. Mumpung buka, kesempatan kami mampir wonten Keratonipun Ratu Engres, sae pundi kalian Keraton Ngayogyakarto … Tapi yang namanya cinta kota kelahiran, ya.. gimana ya.. milih keraton Jogja ah…hahahaa… Kanjeng Ratu sebetulnya sudah jarang tinggal di Buckingham, hanya di hari-hari tertentu saja. Arsitektur dan interiornya memang MasyaaAllah. Karena selama tour dilarang mengambil gambar, maka silahkan yang ingin tahu isinya, searching saja dengan kata kunci State Rooms Buckingham. Foto-foto blue room, white room, prince patron, dll, ada banyak di internet. Yang menarik bagi saya adalah mendengar celotehan pengunjung anak-anak, remaja wanita dan beberapa wanita dewasa yang terus-terusan berkata “Someday I will be a Princess”. Beberapa diantaranya bahkan mengenakan tiara dan setiap melihat foto Queen Elizabeth akan menyapa “Queen”, sambil menunduk. Senang dan kagum pada keberanian mereka, tetapi ada sedikit rasa miris juga hmm… jangan-jangan mereka ini sungguh-sungguh ingin menjadi princess dan berharap dinikahi oleh salah satu prince? hmm.. barangkali karena terlalu sering kisah-kisah dongeng yang dibacakan diakhiri dengan “and they lived happily ever after” sehingga kebahagian itu ditentukan oleh seorang Pangeran. Cinderella syndrom kah? Wallahua’lam

Hari ke 6 kami ikut tour ke Winsor, Bath dan Stonehenge. Kami memilih Golden Tour untuk perjalanan ke tiga tempat di luar kota London ini. Recommended, profesional, tepat waktu, tour guide-nya juga seru dan lucu, sepanjang jalan kami ngikik-ngikik dengan joke-joke nya yang seru.  Dari ketiga tempat tersebut, saya terinspirasi sekali dengan Bath. Tentang bagaimana sebuah situs yang sudah hampir punah ini dilestarikan kembali dengan menggabungkan bangunan lama dengan bangunan baru dan kegiatan masa lalu di area itu dihidupkan kembali dengan 3D projector. Wuih.. saya sedang berpikir bagaimana jika situs-situs kerajaan kuno di Indonesia dibuat seperti ini, sehingga generasi-genarasi ke depan bisa mengenal ketinggian budaya kita sejak jaman dahulu. Indigenous cultures and technology. Dua lokasi yang lain bisa dilihat di internet saja. Yang pasti saya lebih suka Stonehenge KW yang di Kaliurang, biar KW tapi asri hahaha…

Selama di London kami menggunakan sarana transportasi umum saja, kadang  Uber, kadang underground train, kadang bus, dan lebih banyak jalan kaki. Dalam 1 hari kami bisa jalan kaki 4-7 km. Untuk menggunakan transportasi umum pakai kartu Oyster saja. Sama seperti touch n go di Malaysia atau kartu Flazz, Brizzi dan sejenisnya kalau di Indonesia.

Penjelajahan London ditutup dengan mampir sebentar ke Bicester Village dalam perjalanan ke Manchester. Kali ini kami sewa mobil, supaya mudah dan nyaman. Bagi yang hobi belanja, mungkin seharian ngga cukup untuk mengelilingi Bicester Village.  😀 Menurut saya, koleksi yang di Johor Premium Outlet nggak kalah lengkap, cuma di Bicester ini harganya ngga cuma miring, tapi doyong banget. Kami sebentar saja di sini supaya tidak terlalu malam ketika sampai di Manchester. Wisdom apa ya yang nanti kami temukan di sana? InsyaaAllah nanti disambung lagi..

Note :Pembelajaran yang lebih real time,  saya posting di instagram @okinaf dan FB