Memilih Sekolah Dasar

Sekolah dasar, seperti namanya, akan menjadi kancah yang memberikan  contoh dasar bagi perilaku di luar rumah bagi anak. Anak akan tinggal di sekolah paling tidak 5 jam setiap hari.  Di kancah ini anak akan melihat interaksi antar anak sebaya, interaksi antara orang dewasa dan anak-anak, juga interaksi antar orang dewasa. Lima jam bukan waktu yang sebentar, sedangkan kita semua tahu bahwa manusia belajar dengan cara meniru dan anak-anak adalah peniru ulung. Sekolah menjadi tempat bagi anak-anak untuk membentuk pola perilaku, mewujudkan potensi menjadi kompetensi, mengintenalisasi nilai-nilai, identitas diri, bahkan mungkin juga spiritual yang paling besar pengaruhnya setelah keluarga.

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih sekolah terutama Sekolah Dasar.

1. Perhatikan perilaku (akhlaq) guru-gurunya.

Cara bicaranya, nada suaranya, pilihan kata-katanya, ekspresi wajahnya. Sediakan waktu untuk melakukan observasi menyeluruh. Jika biasanya sekolah melakukan observasi terhadap anak dan orang tua sebelum diterima, maka orang tua juga perlu melakukan hal yang sama. Para guru inilah yang nanti akan menjadi contoh yang ditiru oleh anak-anak. Seperti pesan ibu Imam Malik ketika beliau berangkat menuntut ilmu. “Pelajari adabnya, sebelum engkau pelajari ilmunya”

2. Perhatikan ekspresi dan para murid

Bagaimana perilaku anak-anak yang usianya sudah atau mendekati puber (baligh) (kelas 5-6). Inilah produk dari sekolah itu (dan keluarganya tentu). Bagaimana interaksinya dengan sesama teman, kata-kata yang keluar dan ekspresinya.

Bagaimana ekpresi rata-rata anak-anak di kelas awal (kelas 1-2). Apakah memancarkan rasa bahagia atau tidak.

3. Perhatikan karya-karya yang ditempel di sana-sini

Apakah karya anak-anak atau hiasan keluaran percetakan. Apakah nama yang muncul itu-itu saja atau bervariasi. Jika hanya mana yang itu-itu saja, kemungkinan aroma kompetisi antar individu di sekolah itu cukup kental.

4. Sekolah inklusi

Pilihlah sekolah inklusi yang memang siap untuk memberi ruang belajar untuk anak berkebutuhan khusus. Yang disebut berkebutuhan khusus tentu harus ditegakkan melalui diagnosis ahli tumbuh kembang, bukan hasil perkiraan dari ortu maupun guru.

5. Pelajari peraturan sekolah dengan seksama.

Aturan tentang kedisplinan, penanganan bullying, forum komunikasi ortu dan sekolah dan lain-lain.  Tanyakan sejarah penanganan kasus-kasus dan konsistensi dari penegakan aturan tersebut.

Banyak sekolah yang tidak memiliki aturan tertulis, alih-alih mengkritisi  ortu bisa ikut membantu membuatkan desain aturan yang sesuai dan tidak bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi. Membuatkan prosedur-prosedur dan tata laksana yang mudah diterapkan dan menarik. Kerjasama ortu dan sekolah sangat penting, bukan saling menuntut tetapi saling mendukung.

Sekolah juga perlu memiliki aturan yang tegas mengenai waktu dan tatacara komunikasi ortu kepada guru. Ortu juga tidak boleh semena-mena menghubungi guru malam-malam hanya untuk menanyakan PR misalnya.

6. Cari sekolah yang satu Visi dengan anda.

Tentu sebelum menemukan sekolah yang satu visi, orang tua perlu memiliki visi keluarga terlebih dahulu.

Jika anda menganut pedoman bahwa hidup bukanlah berkompetisi untuk mengalahkan orang lain, tetapi meningkat dan kolaborasi yaitu capaian seorang anak secara individual perlu meningkat dibandingkan dengan apa yang sudah dicapai sebelumnya, maka pilih sekolah yang tidak ada metode rangking. Perhatikan bagaimana laporan hasil pembelajaran disajikan.

Perhatikan aturan penggunaan teknologi seperti internet di sekolah. Sesuaikan dengan aturan anda di rumah. Jika berinteraksi dengan komputer apakah ada intranet yang sudah disediakan oleh sekolah atau langsung bebas berselancar di internet. Jika menggunakan media yang tersedia di internet, apakah guru atau orang tua yang mencari, atau anak disuruh mencari sendiri. Jika anda concern dengan hal-hal seperti ini. tanyakan langsung sejak awal agar tidak terjadi pertentangan values atau nilai-nilai yang anda tanamkan di rumah dan di sekolah.

Lalu, bagaimana jika tidak ada yang seVisi? Ya diajari sendiri di rumah.. Siap?

Mengajari sendiri jauh lebih baik daripada ortu sibuk “meludah” di sumur sumber ilmu tempat belajar anak-anak kita. 

Apa maksudnya kalimat diatas? Di luar sana banyak ortu sibuk mengkritisi tanpa solusi, mengeluh dan mengatai-ngatai sekolah tempat anaknya.  “Gimana sih ini sekolah nggak bener, payah, parah dsb dsb”. Ibarat meludah di air sumur yang kita harapkan akan memberikan sumber ilmu yang sehat dan barokah bagi anak-anak yang dititipkan untuk belajar darinya. Maka jika ada yang perlu diperbaiki dari sekolah, mari bersama-sama ditingkatkan. Dikerjakan bersama, bersama mencari ahlinya, didanai bersama dan diimplementasikan dengan konsisten dan kongruen.

Bismillah.. Selamat memilih sekolah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s