Melatih Anak Tidur Sendiri Tanpa Frustrasi

Banyak orangtua kesulitan melatih anak tidur sendiri karena sejak awal sudah keliru dalam membiasakan tidur. Pada saat masa menyusui bayi memang amat sangat disarankan untuk tidur sekamar dengan orangtuanya. Baik itu setempat tidur atau di tempat tidur terpisah. Namun jika setempat tidur pastikan jarak cukup aman, atau bisa menggunakan keranjang kain agar terhindar dari  resiko SID (suddent infant death) syndrom karena tertimpa, terjepit tangan, hidung tertutup bantal dan lain-lain.

Mengapa sangat dianjurkan sekamar? Agar kebutuhan ASI terpenuhi dengan optimal, ibu dan ayah bisa bergantian mengambil dan mengembalikan bayi ke tempat tidurnya dengan mudah tanpa harus jauh-jauh ke kamar lain dan ketika anak terbangun untuk minum ASI segera terdengar oleh orangtuanya. Jarak yang dekat, rasa aman dan kebutuhan yang segera dicukupi juga tidak memicu terproduksinya hormon stress yaitu kortisol (JJ. McKenna, 2005 & M. Sunderland, 2016). Sebetulnya anak yang tenang dan nyaman akan bisa terlelap lagi sendiri saat bangun ringan bukan karena haus atau basah tetapi orang tua punya kecenderungan menepuk-nepuk agar cepat lelap kembali. Tepukan ini akhirnya menjadi syarat untuk tidur (disebut conditional kalau menggunakan bahasa Pak Pavlov atau anchor kalau kata om Bandler), padahal sebetulnya tidak harus demikian. Dr Harvey Karp justru menganjurkan dibedong atau swaddled (silahkan buka video tutorialnya) untuk membantu anak mendapatkan rasa nyaman.

Setelah anak tidak lagi disusui (2 tahun), biasakan untuk tidak menunggui anak sampai jatuh tertidur meskipun lokasi tidur masih sekamar dan usahakan sudah beda tempat tidur. Orang tua boleh saja membacakan cerita sebelum tidur, membiasakan cuci otak-cuci hati yaitu mensyukuri semua yang terjadi hari ini dan memaafkan semua yang dianggap tidak menyenangkan, memijat atau bersenandung lembut bersama dan lain-lain, tetapi anak bisa menjalani proses terlelap sendiri. Biasanya proses ini tidak akan mengalami kesulitan berarti jika proses awal tadi sudah benar.

Melatih anak tidur sendiri itu yang utama adalah kemampuan anak terlelap sendiri dan mampu kembali tidur saat terbangun di malam hari.

Ah tapi kan malaas mbak, mesti bangun lagi setelah tidur-tiduran sama anak, enakan kan langsung aja ikut tidur, toh masih sekamar ini.  Maka jika merujuk kembali ke buku Enlightening Parenting, salah satu kesalahan terbesar dalam pengasuhan bagian h, yang saya sebutkan sampai 5 kali adalah M-A-L-A-S.

Setelah anak terbiasa tidak menyusu dan bisa terlelap sendiri, baru kemudian persiapkan kamar lain bersama-sama dengan penuh kegembiraan dan rayakan kepindahan ke kamarnya sendiri sebagai sebuah prestasi gilang gemilang. Pindah kamar ini bisa dilakukan di usia 3 tahun ke atas tetapi selambat-lambatnya 7 tahun.

Jika anak belum mampu terlelap sendiri, lalu proses melatih tidur sendiri dimulai  dengan langsung ujug-ujug pindah lokasi ke kamar sendiri, dikelonin sampai tidur lalu ditinggal. Maka, saudara-saudaraa… yang  terjadi adalah…. anak tiap malam ngungsi ke kamar orang tuanya saat terbangun . Kalau dilarang ngungsi, karena kondisi bangun setengah sadar, maka anak nangis kejeer. Ortu ngamuk, malam rungsing, pagi bangun seperti zombie. Siapa yang mengalami, angkat tangaan ☝😁

Tapiii.. tapiii kalau udah terlanjur sering ditemani sampai tidur di tempat tidur yang sama pula, bagaimana dooong, kan waktu tidak bisa diputar kembalii… hedeeuh, ada aja ya pertanyaannya 😀

Kalau sudah terlanjur, saat melatih anak tidur sendiri lakukan urutan seperti berikut

  1. SEPAKATI. Buatlah kesepakatan bahwa ayah/ibu akan  melakukan ritual kegiatan bersama anak sebelum tidur dan anak juga melatih diri terlelap sendiri sehingga kemampuan anak  untuk menenangkan dirinya sendiri semakin baik. Lakukan latihan, pura-pura jam tidur lalu anak ditemani sebentar dan latihan terlelap sendiri, latihan pura-pura bangun malam lalu bisa menenangkan diri sendiri dan lelap lagi. Lalukan latihan dg gembira seolah memang latihan spt ini kereen sekalee.
  2. TEMPAT TIDUR SENDIRI. Pisahkan tempat tidur meski di kamar yang sama. Ngga cukup? Ya ganti pakai 2 kasur yang lebih kecil.
  3. KONSISTEN. Tidak ada cheating day sampai menjadi kebiasaan. Meskipun ayah-ibu yang kadang kangen dan cari gara-gara :D. Ini akan merusak kesepakatan. Dan setiap anak pindah tempat tidur, kembalikan lagi sesuai kesepakatan. Anak fitrahnya tidak suka melanggar kesepakatan kecuali ortunya tukang melanggar.
  4. PERSIAPKAN KAMAR SENDIRI BERSAMA. “Sayang sekarang kamu sudah bisa terlelap sendiri dan bisa manage your self untuk tidur lagi saat bangun artinya kamu sudah layak mendapat bintang eh.. maksudnya mendapat kamar sendiri”…  Lalukan framing, tidur di kamar sendiri itu kereennya luar biasaah. Ritual berkegiatan yang menenangkan sebelum tidur masih bisa dilakukan,  tapi ingat jangan ikut ketiduran di kamar anak 😂. Manfaatkan waktu ini utk memberi nasehat dg cara yg asik, memasukkan value, mengambil hikmah dan cuci otak cuci hati

Bagi yang beragama islam mulai berlakukan adab mengetuk pintu kamar ayah-ibu di 3 waktu yang diperintahkan dalam Surat An-Nur ayat 58 dan 59 ya. Waktu-waktu apa sajakah itu? Silahkan dicari sendiri ya, agar saya tidak melakukan kesalahan pengasuhan menyuapi solusi 😀  😀

Selamat melatih kemandirian anak dengan bahagia..

Enlightening Parenting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s