Ortu dan Guru Terjaga Adab, Anak Tumbuh Bertanggungjawab

Menjalin kerjasama dengan sekolah itu tidak sama dengan meminta guru standby 24 jam melayani WhatsApp/messages dari Ortu.

Sudah sering sekali saya mendengar ortu jaman now malam-malam mengirim pesan kepada guru menanyakan PR anaknya, bahkan ada yang di jam sekolah minta tolong dicarikan pinjaman topi karena topi anaknya ketinggalan.

Dan pagi ini saya terhenyak mendapat kabar ORTU yang mengirim pesan kepada DOSEN anaknya untuk minta tolong diberi fasilitas tertentu. Dosen lho ini, artinya anaknya sudah mahasiswa kan ya.. 😣

Fenomena apa ini? Apakah karena kebiasaan sejak SD atau sekarang Universitas juga memberi peluang komunikasi tanpa panduan yang jelas?

Kalau mahasiswa dan dosen yang makin terbuka, sudah sering saya dengar, dengan kalimat yang kurang sopan. Kalau kasus antara mahasiswa dan dosen insyaaAllah mudah, tinggal disepakati saja tatakrama komunikasi yang dikehendaki masing-masing dosen.

Tetapi, komunikasi antara Orangtua dan Guru perlu aturan dan tata laksana yang perlu dikomunikasikan sejak awal.

Mari para pemilik, pengurus, kepala sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan. Persoalan ini harus dibenahi. Sungguh ini kebiasaan yang sangat TIDAK MENDIDIK

Lembaga pendidikan perlu mempunyai aturan yang TEGAS dan JELAS mengenai ini.

Pernah suatu ketika saya mendengar ada ortu yang mengatakan, “Kami kan bayar mahal, berhak dong kami dapat pelayanan terbaik”

Duh.. sekolah kan bukan travel agent, yang kalau peserta tour sakit perut jam 12 malam minta disediakan oralit. Guru bukan nanny, yang boleh diperintah-perintah sesuka hati.

Sebagai benchmark, saya contohkan aturan yang berlaku di sebuah sekolah International di kota tempat tinggal saya, yang SPP nya puluhan juta, (kurang merasa berhak bagaimana ortu yang sudah membayar hampir 100 jt setahun) tetapi aturan komunikasi dipatuhi oleh wali murid.

Apa sajakah itu?

  • Orang tua hanya boleh berkomunikasi dengan guru melalui email guru dan hanya akan dijawab di hari kerja dan jam kerja (guru itu pekerjaan profesional bukan harus standby 24 jam) atau melalui buku komunikasi yang dimiliki masing-masing anak.
  • Jika anak sakit atau ada kejadian emergency dimana sekolah perlu memberitahu orangtua, maka dilakukan melalui nomer telpon administrasi sekolah
  • Reminder dari sekolah dilakukan melalui one way sms broadcast
  • Group WA ortu gunanya untuk berdiskusi antar ortu. Guru tidak menjadi member didalamnya, salah satu wali murid akan menjadi perwakilan jika ada hal yang perlu disampaikan kepada guru setelah disepakati bersama di dalam group. Nomer telepon pribadi guru tidak diberikan kepada wali murid tanpa ijin dari guru.

Lalu bagaimana kalau anak lupa PR, lupa topi, lupa buku, lupa tanggal penyerahan tugas?

  • Anak memeriksa kembali di buku komunikasi atau informasi di google classroom jika sudah menggunakan fasilitas tersebut
  • Guru memastikan semua anak menulis info di buku komunikasi dengan memeriksanya di akhir waktu belajar biasanya dengan diberi paraf

Kalau buku komunikasinya hilang? Ya tanggung sendiri konsekuensinya sekaligus rentetan-rentetan konsekuensi berikutnya termasuk penilaian. Demikian pula jika lalai mengerjakan.

Sesungguhnya fitrah manusia itu memiliki potensi bertanggungjawab, tetapi kebiasaan yang salah membunuh potensi itu! 😖

Mengapa saya lebih fokus kepada guru sekolah, karena untuk dosen lebih mudah. Dosen dianggap mempunyai jenjang pendidikan yang tinggi sehingga setelah aturan dikomunikasikan di awal, dosen juga bisa langsung menjawab secara asertif kepada orangtua yang melakukan intervensi berlebihan.

Tetapi seringkali guru dengan siswa anak pejabat misalnya, memerlukan dukungan yang kuat dari lembaga dan pimpinan tempatnya mengajar, baik itu  berbentuk aturan standar yang disetujui secara formal dan dukungan dari pimpinan ketika melakukan hal yang benar.

Jika orang tua tidak memberi contoh adab kepada guru bagaimana anak akan punya adab belajar

Jika lembaga pendidikan tidak menegakkan aturan yang menghargai profesionalitas guru, bagaimana lembaga pendidikan bisa menjadi kawah candradimuka dalam penegakan ethic

Semoga menjadi kesadaran bersama baik bagi lembaga pendidikan maupun orangtua.

Panduan Mudik Yang Adil dan Beradab

Lebaran insyaaAllah sebentar lagi, sebagian sudah mudik bertemu handai tolan keluarga besar.

Mari kita perhatian apakah Pre-Frontal Cortex kita yang sudah terus-terusan diajak nge-Gym selama sebulan penuh untuk menguatkan kembali fungsi moralnya yaitu menunda keinginan, menahan nafsu ini terjaga kualitasnya atau segera lemes lagi kekuatannya?
Apakah akhlaq yang sudah kita olah sebulan penuh ini, terjaga stabilitasnya atau tak berbekas jejaknya?
Apa saya panduannya?

RESPECT OUR PARENT’S HOUSE

  • Pulang ke ortu, kakak, adik atau saudara, bukan berarti melarikan diri dari kondisi rumah sendiri yang sudah ditinggal para asisten. Ortu kita sibuk menyiapkan makanan, anak-anak mberantakin sana sini, dan atas nama cinta serta pemikiran aaahh… cuma setahun sekali, lalu kita minta dimaklumi. Bantu yuk membersihkan, bayarin asisten infal kalau punya dana lebih, panggil go cl**n dan sejenisnya. Bantu juga menyediakan makanan, hari ini sangat mudah menjamin ketersediaan hidangan. Memang mungkin beberapa orang merasa berhak atas rumah ortunya tetapi justru karena berhak maka bantu juga agar tetap bersih dan nyaman
  • Ini lucu ya.. aku bawa ya. Kadang-kadang ada barang unik di rumah ortu kita, lalu diminta dan dibawa pulang. Datang bawa panekuk, pulang bawa jam kukuk 😀. Ortu umumnya akan bilang iya meski hati menjerit. Jangan mengganggu apa yang ada di rumah ortu kita. Kecuali memang ortu secara khusus ingin kita menyimpan barang miliknya dan jika kita jujur pada diri sendiri akan terasa bedanya.
  • Jika keluarga kita besar dan jumlah kamar terbatas atau ada salah satu anggota keluarga kita yang mempunyai masalah perilaku sehingga kemungkinan besar mengganggu, tidak ada salahnya pesan kamar di penginapan terdekat. Tentu minta ijin dengan santun. Tidak usah ngambeg kalau tidak dapat kamar terbaik di rumah ortu kita.

PERSIAPKAN PASANGAN DAN ANAK

  • Briefing dan Role play anak-anak termasuk pasangan tentang kebiasaan, tata krama dan tugas kewajiban selama di rumah ortu. Selengkap mungkin dengan berbagai skenario kemungkinan. Anak kritis memang kekinian, tapi anak nyinyir itu kurang didikan 😊
    Anak kritis: ini banyak piring kotor jadi ngga rapi, sini aku bantu bawa ke dapur dan cuci piring
    Anak nyinyir : ih tante, kok tante gini sih kan harusnya gitu.. , ih eyang kok rumahnya ada inunya, ngga kayak di rumahku beginu..
    ih.. eyang kok ngga pakai kerudung.. hedeeuh..
  • Bagaimana mensikapi uang lebaran, sesuaikan dengan values masing-masing keluarga, berapa persen yang akan ditabung, bebas dipakai dan disedekahkan. Jika values di keluarga inti tidak membolehkan uang lebaran, sampaikan kepada keluarga besar dengan baik dan santun tanpa perlu mempengaruhi. Siapkan mental anak-anak anda menghadapi perbedaan
  • Ingatkan kembali pasangan tentang kebiasaan-kebiasaan di rumah ortu. Saling menyesuaikan. Asal kita bersedia tulus fleksibel dan penuh kasih sayang di rumah inlaw insyaaAllah pasangan juga akan bersedia asal jelas. Bukan asal pokoknya

JAGA LISAN

  • Atur-atur nada suara, meski bersaudara bukan berarti semakin dekat semakin hilang kesopanan tetapi justru harus semakin sayang
  • Hindari pertanyaan-pertanyaan atau komentar yang tidak perlu. Kapan nikah? Kapan nambah anak? Kapan punya anak laki/perempuan? (Kecuali si penanya yang membiayai biaya pernikahan dan dana pendidikan anak-anak orang yang ditanya) Kok jadi gemuk? Kok milih sekolah itu sih, emang bagus? Anakmu kemarin rangking berapa? 🤪
  • Nasehati menasehati dalam kebaikan memang dianjurkan tetapi lakukan dengan adab yang benar dan personal. Menasehati dan menyinyiri adalah dua hal yang berbeda
  • Hindari membanding-bandingkan dan mengkritisi
  • Lalu bagaimana kalau kita yang dikritisi? Ada 2 jenis kritikan, yang karena si pengkritik secara nyata terganggu dan yang sebetulnya tidak menganggu dia
    • Yang mengganggu orang lain misalnya anak teriak-teriak, lompat di tempat tidur orang dl : “Ih anakmu kok berisik sih, ngga bisa diem sih.. Yah robek deh buku kakak sepupunya..”
      Jika anak kita memang berkebutuhan khusus : Sampaikan permintaan maaf dan ceritakan bahwa saat ini sedang dalam proses terapi (harus jujur tapi ya) dan mohon dido’akan.
      Jika anak kita bukan berkebutuhan khusus dan memang kurang briefing role playing ya minta maaf dan segera ajak main menjauh sambil dilakukan BRP
    • Yang tidak mengganggu orang lain. Misalnya anak manjat pohon di luar atau anak kita justru paling patuh pada aturan, kapan nih, kapan nambah anak : “Duh tuu liat anakmu manjat pohon, bahaya lhoo… ” “Ih kamu kaku amat sih sama anak, ngga usah banyak aturan”. “Kapan sih nikah?” “Kok anak cuma 1”. Kritik yang begini mah diberi senyuman manis lalu dijelaskan “Mbak sudah tahu belum kalau ketrampilan gripping itu salah satu latihannya dengan memanjat, insyaaAllah nanti tidak mudah mengeluh jika harus banyak menulis” “Yah memang kadang taat itu dianggap kaku mbak, padahal insyaaAllah itulah perintahnya Allah, tinggal kita mau ikut apa tidak” “Mohon do’anya semoga mendapat yang Allah ridho, tante nanya udah nyiapin hadiah mobil? :D.. ” Maniis semanis gulaa..dan ringan saja seperti kapas. Orang tanya itu kadang karena ngga punya bahan pembicaraan, lalu sodorkan artikel ini yang diprint di kertas bergambar bunga 😀
  • Budayakan saling mengapresiasi dan hadiah-menghadiahi

INTERAKSI ANTAR ANAK-ANAK

  • Nah.. eng ing eng… ini juga biasanya jadi sumber kezeel-kezeelan, anaknya keluarga adik bebas main game dan nonton, anak kita punya batasan. Gimana dong? Keluarga sana diceramahin? Ngga usaah… anak-anak sendiri yang dikuatkan. Masukkan dalam materi briefing dan role playing, siaplah dengan berbagai kegiatan menarik. Fitrahnya manusia itu lebih senang berinteraksi dengan manusia. Putar otak, siapkan kegiatan interaktif yang super dupeeer menarik, treasure hunt misalnya, hadiahnya bervariasi untuk remaja dan anak-anak, lalu ajak keponakan-keponakan anda terlibat, briefing dulu aturan mainnya, kata-kata yang pantas diucapkan selama permainan berlangsung dan adabnya. InsyaaAllah anak selamat, keponakan makin dekat, persaudaraan selamat, insyaaAllah menginspirasi jadi manfaat. Bawa buku EP kalau perlu untuk dihadiahkan pakai pita warna-warni ya kaan…
  • Perselisihan antar anak itu hanyalah proses belajar berinteraksi, perhatikan dulu bagaimana mereka menyelesaikannya, jangan langsung terjun kecuali berselisihnya bawa parang. Lalu ajak mereka mereview sama-sama, belajar dari perselisihan sebelumnya apa yang bisa untuk pelajaran pencegahan ke depan.

Semoga suasana kebahagiaan dan keberkahan Hari Raya semakin bertambah

Okina Fitriani

Demi Mengajarkan Orang Kaya Bersyukur, Tak Peduli Yang Miskin Jiwanya Hancur

Tulisan ini adalah bentuk kesedihan mendalam saya atas beberapa “budaya” di masyarakat kita

  • Merayakan ulang tahun di panti asuhan, si anak kaya berdiri di depan kue ulangtahun indah di depan para anak panti yang disuruh bertepuk tangan dan mendoakan lalu sebagai gantinya nanti disumbang dan dibagi kue dan makanan
  • Perusahaan, kelompok arisan yang memboyong anak panti asuhan makan di hotel, lalu beberapa anak maju ke panggung, ditanya-tanya kenapa di panti, lalu si anak kembali membongkar kisah sedihnya tentang ayah ibunya yang meninggal sambil terisak-isak dan seluruh hadirin ikut menangis dengan harapan si orang-orang kaya ini makin bersyukur.

Astagfirullah HENTIIKAN!!

Tahukah kita, demi satu anak kaya manja yang sedang ulang tahun dan sudah mulai minta macam-macam agar bisa bersyukur, si Orangtua yang belum berhasil menanamkan rasa syukur yang mestinya ditanamkan sejak usia usia 0-5 tahun melalui fitrah iman dan kasih sayang ini, tidak peduli bahwa mungkin belasan anak panti yang usianya belum matang itu, mungkin juga sama-sama belum tertanam rasa syukur karena keterbatasan pengetahuan para pengurus yang hanya sedikit mengurus sedemikan banyak anak itu, dalam hati meratapi,

“Ya Tuhan, mengapa aku tak seberuntung anak itu, sungguh Engkau tak adil, lalu mengapa aku harus mencintaiMU… ”

Sebagian lagi berpikir

“Aku harus bisa begitu kelak, apapun caranya”

Puluhan kemungkinan makna berkecamuk dalam diri mereka, tak sedikit masalah psikologis muncul dari rasa iri bercampur frustrasi ini. Dan saya telah banyak bertemu dengan kasus-kasusnya.

Meski mereka tampak gembira berlari kesana kemari, tetapi sebuah makna telah terlanjur meluncur ke dalam dada

Lalu jika kelak si anak kaya tadi berada di situasi yang tiada seorangpun yang lebih rendah darinya, akan berhenti pula bersyukurnya?

Pun demikian dengan yang tadi diminta ke panggung membuka kembali luka-luka lama, tetesan air mata membuat luka itu semakin dalam, apalagi pada anak-anak.

Dan anda semua yang sudah kaya, masihkah memerlukan air mata mereka untuk bersyukur?

Tidak cukupkah makanan ya dimakan setiap hari, ilmu tinggi yang membuat duduk di kursi itu, pakaian berganti setiap hari itu, belum mampu menumbuhkan rasa syukur? Astagfirullah..

Bukankah masih banyak cara yang lebih Mulia dan Memuliakan

Tapi apa tidak boleh berbagi di panti asuhan?

Tentu sangaat boleh..

Bagaimana cara yang benar..

Jadilah pendana yang menjamin mereka bisa sekolah dan tercukupi kebutuhannya.

Datangilah secara rutin, peluk dan bacakan buku-buku cerita seperti saat membacakan cerita kepada anak-anak kita di rumah.

Jalin komunikasi dengan pengurus, datangi saat mereka membuat pencapaian kecil atau kirimkan surat apresiasi berbungkus pita secara rutin.

Jadikan anak asuh, adopsi jika memungkinkan.

Fokus pada kebutuhan mereka bukan menjadikan mereka alat untuk kepentingan kita.

Padahal sesungguhnya dengan membantu setulus jiwa, kita juga yang sedang menabung pada akhirnya. Kita yang memerlukan mereka tapi bukan sekedar urusan dunia.

Jadi … Masihkah kita akan

Demi mengajarkan ORANG KAYA BERSYUKUR, tidak peduli YANG MISKIN jiwanya HANCUR?

note : seseorang pernah membisiki saya, tapi mbak, ada kok yang memang acara naik panggung mengumbar tangis itu dianjurkan oleh pengurusnya. Fagfirlana… meskipun ada, jika kita tak membeli idenya insyaaAllah akan berhenti juga.

Semoga menjadi kesadaran bersama…

Persiapan Menghadapi Pubertas (Aqil Baligh)

Balance Maturity

Pada rentang usia 12-15 tahun, pada umumnya, baik anak laki-laki maupun perempuan sudah memasuki masa puber atau Aqil baligh. Seharusnya pada masa ini terjadi keseimbangan antara kematangan fisik dengan kematangan psikologis. Oleh karena itu, pada tahap ini, konsep pohon ketaatan yaitu Taat, Syukur, Meningkat, Bermanfaat (silahkan baca buku Enlightening Parenting mengenai penjabaran konsep TSMB) semakin mengakar, anak juga sudah harus dilatih untuk

  • memimpin baik diri sendiri maupun orang lain;
  • kemampuan bertahan hidup mandiri (basic life skills) dengan mengurus seluruh keperluan dasarnya seperti menyiapkan makanan, pakaian, mampu bepergian dengan aman, dan lain-lain;
  • mencari nafkah dan merawat makhluk hidup. Meskipun baik laki-laki maupun perempuan perlu dilatih untuk mempelajari kedua hal ini, tetapi penitikberatan latihan mencari nafkah pada laki-laki dan merawat makhluk hidup pada perempuan;
  • mampu fokus pada solusi, bukan hanya fokus pada masalah

Bagaimana cara melatih hal-hal diatas?

Tentu dengan tugas-tugas yang diberikan bertahap. Misalnya untuk melatih kemampuan memimpin, mulai dari memimpin projek-projek keluarga. Misalnya projek membantu perbaikan rumah duafa, pengadaan air bersih, pengumpulan barang pantas pakai untuk disumbangkan, berjualan makanan di bazar kota dan sebagainya. Projek tidak selalu harus dilakukan sendirian tetapi bisa juga bekerjasama dengan keluarga lain. Tidak perlu menunggu program dari sekolah. Lakukan sendiri dan evaluasi. Demikian pula dengan 3 tugas perkembangan lainnya.

Ayah dan Ibu tentu juga harus mempersiapkan anak untuk menghadapi perubahan dirinya secara fisik.


Pada anak perempuan dijelaskan mengenai

  • Menstruasi. Mengapa terjadi, apa yang harus dipersiapkan, bagaimana membersihkan diri dan hukum (fiqh, bagi yang beragama islam) yang berkaitan dengan menstruasi.
  • Tanggungjawab yang mengikuti
  • Perubahan bentuk tubuh, pakaian yang cocok, termasuk fiqh berpakaian.
  • Adab pergaulan dan resiko kehamilan
  • Kriteria memilih pasangan sesuai dengan values yang anda pegang (bagi yang beragama islam ajarkan tentang 4 kriteria memilih pasangan). Pahamkan mengenai ini sebelum anak mulai jatuh cinta, agar tidak menuai keribetan yang tidak perlu di kemudian hari 🙂
  • Mulai mengajarkan tentang tugas istri dan ibu secara bertahap

Pada anak laki-laki dijelaskan mengenai

  • Tanda-tanda pubertas secara fisik termasuk terproduksinya sperma dan kemungkinan terjadinya ejakulasi di saat tidur dan cara membersihkan diri. Keluarnya sperma tidak selalu menjadi satu-satunya penanda matang seksual. Karena ada yang keluar dalam jumlah yang sangat sedikit atau biasa tidur berkeringat sehingga samar. Tumbuhnya rambut sekunder dan perubahan suara juga sudah bisa menjadi tanda pubertas.
  • Tanggungjawab yang mengikuti
  • Perubahan fisik, cara merawat diri, berpakaian dan kebersihan
  • Adab pergaulan
  • Kriteria memilih pasangan
  • Mulai mengajarkan tugas sebagai suami dan ayah secara bertahap

Siapa yang mengajarkan? Ayah mengajarkan anak lelaki, ibu mengajarkan kepada anak perempuan. Bagaimana kalau single parent? Minta tolong pada kerabat terdekat. Bagaimana jika tidak ada kerabat yang dipercaya? Minta tolong guru. Bagaimana kalau gurunya ngga ada yang akhlaqnya baik? Minta tolong sahabat. Sahabatku kelakuannya jelek semua? Astagfirullah mungkin perlu evaluasi diri, jangan-jangan jendelanya yang kotor sehingga semua nampak buruk :p. Anda memang begitu kondisinya ya Bismillah lakukan sendiri. (Adakah mbak yang seribet ini kondisinya? Ngakunya sih ada, tapi saya belum visit betul-betul keadaannya)

Hati-hati ketika menjelaskan tanggungjawab yang mengikuti, jelaskan dengan bahagia. Jangan menakut-nakuti untuk keuntungan pribadi misalnya :

“Nah, sekarang semua dosa dan pahala sudah kamu tanggungsendiri, awas lhoo beda dengan waktu kamu kecil, sekarang kalau kamu melawan papa, masuk neraka..” hedeeuh.. numpang untung ini namanya.

Gunakan kalimat yang santun : “Sayang, karena pikiranmu sekarang sudah siap, maka kelak setiap perbuatanmu ada nilainya, ketika baik jadi pahala dan ketika buruk menjadi dosa. Tapi Allah sudah menyediakan alat terhebat untuk memutuskan baik dan buruk melalui akal dan dituntun melalui Al Qur’an. Jika nanti dalam pikiranmu muncul perbedaan pendapat, misalnya mau makan di restoran, yang ini enaak tapi ada resiko tidak halal, yang itu kurang pas dengan selera tapi insyaaAllah halal. Nah akal kita akan mempertimbangkan, lebih baik mengikuti selera tapi mendapat dosa atau menahan selera tetapi dapat pahala. Apakah kita mau kesenangan dunia sesaat atau kesenangan akhirat yang kekal. Itulah tugas khalifah di muka bumi ini, tidap keputusan kita harus berdasarkan kebaikan di dunia dan akhirat. Dan kamu kini sudah dewasa, sudah pantas diberi tanggungjawab sebagai khalifah, masyaaAllah”

Buatlah suasana komunikasi yang menarik. Saya attach disini presentasi yang dilakukan suami kepada anak saya saat usianya 10 tahun sebagai contoh untuk anak laki-laki. Silahkan disesuaikan untuk anak perempuan dengan berpandu pada buku-buku tentang pubertas dan fiqh. Ini hanya contoh, silahkan dibuat sendiri di rumah, agar tidak terbiasa disuapi solusi. Mohon jangan didownload karena ada foto-foto pribadi anak saya.


Ini adalah persiapan awal, selanjutnya tugas orang tua menjadi contoh manusia dewasa yang unggul agar bisa menjadi model terbaik bagi anak-anaknya. Inilah projek terbesar anda, berupaya membentuk pribadi-pribadi yang Taat, Syukur, Meningkat dan Bermanfaat.

Anak Peniru Ulung

Mbak Eka Mardila adalah salah satu alumni Enlightening Parenting yang sekarang ini menjadi salah satu tim sharing.
Beliau berkisah tentang perubahan pengasuhannya dari yang dulunya bentak-bentak, kadang melakukan tindakan fisik yang akhirnya ditiru oleh putrinya. Saat ini mbak Eka yang account instagram nya bernama @ekalucu banyak menginspirasi parents lain.

4 SIKAP YANG MENGHANCURKAN PERNIKAHAN

Setiap orang tentu menginginkan pernikahan yang bahagia, less conflict, jika ada masalah mudah terselesaikan, bukankah begitu?

Menurut John Gottman PhD, yang selama 40 tahun melakukan studi tentang relationship, ada 4 sikap yang menghancurkan sebuah hubungan, dan ternyata… ada kemiripan dengan beberapa kesalahan pengasuhan yang ada di buku Enlightening Parenting (EP)
Hmmm.. artinya kebiasaan melakukan kesalahan pengasuhan pada anak juga bisa menyebabkan kesalahan dalam memperlakukan pasangan. Demikian pula sebaliknya, komunikasi yang tidak harmonis antara suami istri akan berimbas pada pengasuhan anak.
Hayoo.. siapa yang kalau kesal pada pasangan tapi takut konflik lalu anak jadi sasaran? … tunjuk jari…. 🙂
Maka, menyembuhkan diri dari kebiasaab melakukan kesalahan pengasuhan, insyaaAllah juga memperbaiki kualitas hubungan dengan pasangan. 
4 Sikap tersebut adalah :
1. Criticism : suka mengkritik (fokus pada kekurangan) 
2. Contempt : menghina, baik secara verbal, fisik atau menunjukkan ekspresi merendahkan (ada unsur labelling, yang meskipun dalam hati akan tampak dalam ekpresi) 
3. Defensiveness : defensif (tidak mengambil tanggung jawab)
4. Stonewalling : mengabaikan 

Bagi yang sudah kenal EP insyaaAllah mudah menemukan ramuan antidot nya. Contohnya seperti di bawah ini

1. Menjadi detektif kebaikan.

Kalau ingin menyatakan keberatan bukan dimulai dengan “kamu itu. …”. Tetapi dengan kalimat “Aku merasa…”
Contoh pasangan terlambat pulang, instead of mengatakan
“kamu ini selalu pulang terlambat.. kamu ngga peduli perasaanku.. kemana aja. sama siapa… bla.. bla.. bla…” 
Menjadi 
“Aku kuatir kl kamu belum pulang jam sekian, lain kali telpon ya..”

2. Again detektif kebaikan, stop labelling, apalagi pakai kata-kata yang merendahkan

“Dasar kamu ini.. turunan ya dari..” “Gitu aja kok ngga ngerti sih..” “Duh ini kan tanggungjawabmu….”

Tapi apresiasi kebaikannya,

“Aku suka lho kalau kamu melakukan… seperti waktu….” (jika no 1 dan 2 digabung, mirip menegur efektif dalam EP kan)

3. Mudah dinasehati , empati dan mudah minta maaf lalu perbaiki

4. Kalau ngga ngerti mau ngomong apa atau takut konflik ya peluk aja dulu, minta maaf, pegang tangannya, “Beri waktu aku berpikir ya, aku bingung mau ngomong apa”. 
Sebaliknya kalau pasangan udah bingung mau ngomong apa, berhenti dulu deh ngomongnya, menegur itu yang efektif cukup 1 menit saja ala EP. Kalau kepanjangan udah kalimat-kalimat yang selebihnya sudah terhapus atau diblokir oleh pikiran pendengarnya 😂

Dengan mengetahui 4 sikap yang merusak sebuah hubungan, masing-masing dari kita bisa melakukan assessment atau penilaian diri, apa yang selama ini sudah kita lakukan dan bagaimana memperbaikinya. Fokuslah memperbaiki diri bukan menyodorkan artikel ini ke pasangan untuk menyuruh pasangan memperbaiki diri. InsyaaAllah, tidak ada orang yang imun pada kebaikan. Bukankah tidak akan disayangi orang yang tidak menyayangi?

Di dalam surah Al Baqarah 187 disebutkan “hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna”, Libas dalam Al Qur’an meliputi beberapa makna yaitu pakaian (yang berfungsi sebagai penutup dan perhiasan), ketenangan, percampuran, kesenangan dan perbuatan baik.
Berfungsi menjadi pakaian yang menutupi aib dan melengkapi kelemahannya, menjadi perhiasan yang memperindah dirinya dan pribadinya, memberikan ketenangan (ngga bikin sumpek), bergaul dengan indah dan menggelorakan, being happy and fun together dan perlakukan dengan santun dan mulia.

Bukankan tuntunannya berimbang antara keduanya? Di dalam islam, para istri diperintahkan mengutamakan suami dan para suamipun dimotivasi oleh Rasulullah SAW dengan sabda beliau bahwa sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik kepada istrinya. Sehingga tumbuh rasa saling empati.

Lalu bagaimana kalau hubungan sudah mendingin, ada cara untuk mempebaikinya? Tentu. Hentikan melakukan 4 sikap di atas, bangun kembali kedekatan seperti yang dilakukan sahabat saya mbak Juliana Dewi di artikelnya yang ini http://www.julianadewi.com/2017/01/cara-membangun-kemesraan-suami-istri-dengan-5-pilar-nlp.html

Indahnya kehidupan pernikahan tidak hanya membahagiakan di dunia dan insyaaAllah tuaian baiknya menunggu di akhirat.