Handling Bullies

Banyak sekali pertanyaan mengenai cara menangani perilaku bullying yang muncul baik di kelas-kelas kami maupun di forum-forum parenting yang kami kelola. Demikian pula simpang siung anjuran tentang penanganan semakin membuat orangtua bingung. Mana yang harus diikuti.
Mari dimulai dengan memahami dulu tentang bully. Bully dalam bahasa Indonesia disebut perundungan, tetapi dalam artikel ini saya gunakan kata buli saja agar singkat.
Buli dilakusecara umum terbagi menjadi 3 kategori

  • Verbal : yaitu ucapan yang menyerang karakter, meledek, memanggil dengan julukan, menghina, mengancam. Contoh : Anak bodoh, Kamu hitam, Sana pergi, kamu menjijikkan, Kasih aku makanan kamu, kalau tidak aku pukul, kalau mau berteman denganku tiap hari kamu harus traktir aku.
  • Mental : Mengabaikan dengan pandangan menghina, mengucilkan, menyebarkan berita yang membuat seseorang dimusuhi, dll
  • Fisik : Memukul, menendang, mencubit, dll.

Bully dilakukan secara SADAR. Artinya jika tindakan mendorong itu dilakukan oleh anak usia 2 tahun yang masih dalam tahap latihan sensori atau dilakukan oleh ABK yang belum paham kekuatan menyentuh dan mendorong, maka jangan dengan mudah kita mengatakan kepada yang mendorong maupun yang didorong “Ih.. kamu dibuli lhoo” “Ih ini anak kecil-kecil sudah jadi pembuli” . Dalam hal ini justru si pembuli sesungguhnya adalah yang komentar itu.

Di banyak keluarga justru pembuli pertama anak-anak adalah orang tuanya sendiri, kadang verbal dengan labelling atau menghardik, kadang Mental dengan mengabaikan, sering juga fisik, bahkan ada yang paket lengkap 3 kategori sekaligus. Tentu orangtua sebagai sosok dewasa sudah pasti SADAR ketika melakukannya. Anak yang sudah dibuli terlebih dahulu di rumah sangat besar kecenderungannya untuk jadi pelaku maupun korban bullies di sekolah. Penelitian Renae D. Duncan (1999) dari Murray State University menyimpulkan 69% anak yang dibuli di sekolah, adalah anak yang mendapatkan kekerasan di rumah. Tidak mengherankan memang, karena anak-anak yang sering dilabel, dikritisi, dihardik atau disakiti di rumah akan datang ke sekolah dengan penampakan 2 jenis, yaitu tidak percaya diri atau wajah tambeng dan penuh dendam. Inilah yang kemudian berkembang menjadi korban maupun pelaku buli. Pembuli mengenali sasaran yang bisa dibuli. Pembuli pilih-pilih dan melakukan coba-coba dulu. Anak yang berjalan dengan tegak dan pandangan yang penuh percaya tetapi tidak sombong, jarang dijadikan sasaran pembuli.

Anehnya, orangtua yang membuli anak di rumah sangat tidak terima ketika anak diperlakukan sama di sekolah bukan? Seolah lupa bahwa sumbernya berasal dari rumah.

Maka, LANGKAH PERTAMA untuk mencegah dan mengatasi buli adalah, Perlakukan anak-anak kita dengan respectful di rumah. Dengan memperlakukan mereka dengan respectful sesungguhnya juga sekaligus sedang mendapat contoh akhlaq yang baik dan akan tumbuh menjadi anak yang santun dan percaya diri. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW

“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (riwayat Ibnu Majah).

LANGKAH KEDUA, pelajari aturan di lingkungan tempat anak berinteraksi. Untuk memperjelas, kita umpamakan saja sekolah. Pilihlah sekolah yang memiliki aturan yang jelas tentang handling bullies . Jika tidak punya, sampaikan kepada sekolah apakah keberatan jika anda membuat standar penanganan buli, untuk dimasukkan dalam aturan sekolah. Lebih bermanfaat daripada sekedar kesal karena sekolah tidak punya aturan penanganan buli bukan? Jika sekolah tidak bersedia, jangan masuk ke sekolah itu.

Contoh Aturan Handling Bullies di Sekolah

Perilaku mem-bully harus dilaporkan dengan saksi atau rekaman cctv dan terjadi di lingkungan sekolah.

Verbal dan Mental : 1x mendapat teguran lisan, 2x mendapat teguran tertulis untuk disampaikan ke ortu, 3x ortu dipanggil ke sekolah untuk mendapatkan peringatan keras, 4x skorsing, 5x dikeluarkan.

Fisik yang tidak menimbulkan cedera : 1x mendapat teguran tertulis tertulis untuk disampaikan ke ortu, 2x ortu dipanggil ke sekolah untuk mendapatkan peringatan keras,3x skorsing dan pemeriksaan psikologis (untuk mendapatkan informasi jika ternyata ada gangguan psikologi/perkembangan), 4x dikeluarkan.

Fisik yang menimbulkan cedera ringan sampai berat: Diadakan rapat komite sekolah untuk menentukan konsekuensi mulai dari peringatan keras, skorsing, dikeluarkan hingga laporan kepada polisi.

LANGKAH KETIGA, Briefing dan Role Playing. . Latih anak menghadapi berbagai buli secara role playing di rumah, karena sikap dan kebiasaan tidak terbentuk melalui nasehat tetapi melalui latihan. Beri anak penjelasan mengenai hal-hal berikut ini:


1. Definisi perilaku buli seperti yang sudah disebutkan di atas, supaya anak juga tidak epes me’er, ditowel dikit buli, disenggol dikit buli, dipanggil dengan nada tinggi dikit buli. Orangtua juga tidak perlu reaktif supaya anak juga tidak baperan.

2. Jangan menekan anak dengan sering bertanya, apakah kamu sudah punya teman? Berapa banyak temanmu? Apakah temanmu mau bermain denganmu? Mempunyai banyak teman bukan prestasi. Ajarkan anak-anak kita adab yang baik dan seleksi alam akan terjadi. Orang yang adabnya baik akan menarik anak lain yang adabnya juga baik.

3. Jika di sekolah tidak ada CCTV ajarkan anak untuk tidak bermain di tempat yang sepi dan tidak hanya bermain berdua saja di saat jam istirahat sekolah di 6 bulan pertama sekolah barunya. Ini untuk menghindari anak menjadi sasaran buli tanpa saksi


3. Beritahu tahap-tahap menyikapi buli (saya attach video Rangga saat diminta menceritakan kembali materi briefing dan alhamdulillah tidak pernah dibuli oleh siapapun) :

Tahap Abaikan (Ignore) :

Jika masih tahap coba-coba dan tidak menyerang karakter, biasanya berbentuk verbal seperti kata “Ciee.. ciee…” , “memasang-masangkankan dengan si fulan”, ledekan ringan dan sejenisnya, ajarkan anak untuk mengabaikan dengan wajah tetap percaya diri dan tersenyum. Pembuli suka dengan reaksi berlebihan, wajah merengut, mata berkaca-kaca dan tangisan. Wajah tidak peduli dan tetap bahagia akan mengecewakan pembuli.

Tahap Tegur dengan Tegas (Stand Up) :

Verbal  dan Mental: Ajarkan anak bersikap asertif. Menghentikan secara verbal seperti mengatakan “STOP/Berhenti” dengan tatapan mata yang tegas dan percaya diri. Bisa juga dengan klarifikasi saat diancam, misalnya diancam : “Kamu harus traktir kami kalau mau berteman dengan kami”. Ajarkan anak menjawab dengan tegas “Aku tidak perlu berteman dengan orang yang memeras.”

Fisik: Ajarkan anak menepis, menangkap tangannya  dan menekan ke bawah atau menekan ke dinding (bukan membalas pukul) sambil menegur dengan tegas. Mengapa demikian? Karena pesan yang disampaikan ke pem-bully bukanlah saling membalas atau balas dendam, bukan pula main hakim sendiri. Tetapi, “You are powerless”, kamu nggak akan menang dengan berbuat buruk. Balas membalas hanya akan membuat pihak yang salah menjadi terkaburkan dan persoalan bullying di negara ini semakin menjadi-jadi semacam hukum rimba. Kita ini manusia yang diberi Allah PreFrontal-Cortex, latih anak kita untuk menggunakannya.

•Pada tahap dua ini ditutup dengan  Tahap Laporkan kepada Guru dan Ortu agar aturan diterapkan.

Tahap Laporkan kepada Guru. Ajarkan anak untuk mencatat setiap laporan, tanggal berapa dan nama guru yang dilapori. Amati dulu bagaimana pihak sekolah melaksanakan tugasnya sesuai aturan atau tidak (ingat sekali lagi ya, jika sekolah tidak punya aturan tentang buli dan tidak mau dibuatkan aturan, maka jangan dipilih untuk menyekolahkan anak). Sekolah perlu memiliki tingkatan tindakan pada pelaku bullying.

Tahap Orangtua menemui pihak sekolah. Jika setelah dilaporkan masih berulang dan sekolah tidak menerapkan aturan yang sudah dibuat, maka temui pihak sekolah untuk difasilitasi berdiskusi bersama orangtua pembuli. Jika pembuli juga melakukan hal yang sama kepada anak lain, upayakan laporan bersama agar sekolah dan orangtua pembuli melakukan tindakan kuratif nyata.

Tahap Melaporan kepada lembaga pengawas sekolah/polisi. Apabila sekolah tidak mengambil tindakan nyata pada perilaku buli yang berulang kali dan sudah melalui tahap diskusi dengan pihak sekolah. Artinya peraturan tidak dilaksanakan sehingga perlu ada tindakan kepada pihak sekolah. Apabila sudah masuk ke area kriminal seperti pengeroyokan, laporkan ke polisi

LANGKAH KEEMPAT. Sebarkan kasih sayang. Pada umumnya pelaku buli ini kering kasih sayang. Pola pengasuhan di rumahnyapun tidak sehat. Jika terlihat ada tanda-tanda ada anak yang menunjukkan perilaku bullying, dekati. Tunjukkan kasih sayang, sesekali ajak ke rumah anda lalu ajak dia bicara dari hati ke hati. Ajarkan anak-anak kita untuk memberi contoh perilaku menghargai orang lain. Tidak ada orang yang imun pada kasih sayang, karena kasih sayang itu fitrah. Jika dihidupkan dan disirami, maka mekarlah ia.

“Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu”.

Bullies adalah masalah serius yang memerlukan kesadaran semua pihak, keluarga, sekolah, pemerintah dan penegak hukum.


Ketika my youngest son diminta menyimpulkan materi Briefing & Role Playing tentang Handling Bullies

5 Replies to “Handling Bullies”

  1. Mbak oki…menarik ya cara handlingnya. Tolong dong misal ke sekolah terus menayakan standar menangani buli? Misal tidak ada…standarnya seperti apa? Atau yang di role and play ini?

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.