Mendampingi Anak Merencanakan Masa Depan

Seringkali orang tua pusiing ketika anak sudah kelas 3 SMA, ditanya mau kuliah dimana, jawabnya “Ngga tau”, “Bingung”, “Ntar liat teman-teman kemana”..
Ortu makin panik, anak ditestkan kesana kemari, diberi anjuran ini itu anaknya ngga mau, tambah peniiing 7 keliling.

Jadi sebenarnya kapan sih kita harus mempersiapkan anak merencanakan masa depan? Apa perlu sejak kecil dicari bakatnya, dites, discan, diprint, dsb dsb…
Dean Keith Simonton (Distinguished Professor of Psychology at UC-Davis), telah mengumpulkan puluhan riset dan menyimpulkan di berbagai tulisannya bahwa bakat lebih cenderung merupakan faktor nurture daripada nature, yaitu lebih merupakan hasil pengembangan yang dinamis daripada bawaan sejak lahir, dan bisa berubah maupun berkembang. Sumbangan bawaan lahir kepada bakat adalah hal-hal yang bersifat genetik atau organik misalnya : perfect pitch yaitu kemampuan sistem syaraf pendengaran seseorang untuk membedakan nada dengan detail. Anugerah dari Tuhan ini akan membantu seseorang yang berlatih alat musik sehingga piawai lebih cepat daripada yang tidak. Berikutnya, tinggi badan, faktor genetik yang bermanfaat bagi seseorang di bidang olahraga tertentu. Beberapa scientist terang-terangan mengatakan bahwa bakat bawaan lahir itu mitos, tetapi saya sih memilih pendapat kelompok ilmuwan yang meyakini bahwa bakat adalah faktor nurture dengan didukung beberapa faktor genetik yang bersifat organik seperti sistem syaraf tadi dan bukan kategorisasi karakteristik seperti, introvert, melankolis, pemikir dan lain-lain yang umumnya berasal dari ranah populer tanpa riset dan pada akhirnya berujung pada labelling.
Beberapa orang membawa-bawa Al Isro 84, untuk membenarkan bakat adalah semata-mata bawaan lahir, padahal dalam tafsir Ibnu Katsir, istilah menurut “keadaan masing-masing” diuraikan sebagai amal perbuatan atau keahlian. Begitupun tafsir Al Azhar Buya Hamka yang menyebut kata bakat menguraikan bahwa “keadaan” yang dimaksud tidak spesifik sebagai bakat lahir, tetapi merupakan perpaduan dari macam-macam hal, warna, rupa, perangai, iklim, alam tempat kita dilahirkan misalnya di pegunungan di tepi laut di negara empat musim, dua musim, lingkungan, pendidikan, pergaulan, perantauan dan lain-lain. Sedemikian banyaknya dan faktor nurture yang disebutkan dalam keterangannya. Wallahua’lam


Para ahli inipun banyak yang sependapat bahwa minat (interest) seseorang akan berubah-ubah, hingga kemudian dia mengenali apa yang menjadi passion . Sesuai dengan namanya, passion adalah ketika darahmu berdesir saat berkarya, jiwamu haus mempelajari lebih dalam tentangnya dan tak ingin berhenti hingga menjadi piawai.

Siapa yang paling bisa mengenali? Ya orang itu sendiri dan orang-orang yang membersamai dalam tumbuh kembangnya.


Tidak ada satupun literatur yang memastikan bahwa minat akan menetap di usia sekian, namun beberapa studi memberikan clue yaitu pada rentang 13 – 20 tahun ketika Pre-Frontal Cortex optimal perkembangannya. Oleh karena itu, tidak perlu buru-buru mencari minat apalagi passion anak di usia dini kesana-kemari. Beri saja peluang seluas-luasnya, sabar ketika anak berganti-ganti minat. Ngga usah ngamuk-ngamuk kalau anak tampak seperti mudah bosan (Silahkan simak video penjelasan Raka, yang berpesan pada para ortu untuk tidak ngomel-ngomel ketika anak mencoba berbagai macam hal baru 😁) Itulah proses eksplorasi.
Lalu apa yang perlu dilakukan ortu?

  • Biarkan dia mencoba berbagai hal yang ingin dilakukannya
  • Boleh memberikan saran kegiatan tetapi tidak perlu memaksa
  • Amati dan catat saja pada bidang kegiatan apa dia tampak lebih lama bersemangat.
  • Perhatikan pencapaian akademisnya, di bidang apa saja pencapaiannya stabil
  • Beri berbagai tantangan baik berupa proyek keluarga maupun tantangan individu misalnya memimpin kegiatan, berdagang, membuat karya seni, interaksi dengan masyarakat, pengamatan dan penelitian, meringkas dan menyimpulkan isi buku dll.
  • Banyak berdiskusi dengan anak, mendengarkan pendapat-pendapatnya (bukan sekedar minta didengarkan). Perhatikan pada diskusi-diskusi apa semangatnya menggebu.

Ah… ngga sempat, repot banget sih. Ya sudah, jangan dilanjutkan lagi membaca artikelnya karena judulnya saja mendampingi anak 😊

Lakukan hal-hal diatas dengan lebih intensif di usia 12-15 tahun. Sehingga anda sudah mempunya catatan dinamika yang cukup lengkap di usia 15 tahun (kurang lebih kelas 10/SMA kelas 1). Mulai di usia ini fokuskan diskusi mengenai beberapa bidang yang diminatinya dan ajak anak melakukan eksplorasi lebih dalam secara terstruktur mengenai peluang karirnya, universitas yang diinginkan jika ingin menempuh jalur formal, atau bidang usaha yang akan dirintis.

Saat berdiskusi soal cita-cita dengan anak, sering kali orang tua hanya fokus pada prospek dunianya. Apakah lapangan kerjanya luas atau kemungkinan “penghasilannya” besar. 
Sudahkah kita tambahkan pertanyaan ini :
Apapun cita-citamu, apakah itu kelak akan memudahkan jalanmu ke surga? Dengan cara bagaimana?
Jaman terus berubah itu keniscayaan, bukan soal mau jadi APA untuk mengarunginya, tetapi menjadi manusia yang BAGAIMANA adalah modal dasarnya.

Bagaimana alur diskusinya?

  • Mulai dengan niat dan minta ijin kepada Yang Menguasai Langit dan Bumi
  • Tentukan 1 hingga 3 bidang yang diminati (dari hasil catatan tadi)
  • Tugas ortu sebagai coach, bertanya dan mengeksplorasi, tidak mengarahkan.
  • Goalnya apa, Realitas sekarang bagaimana (based on data tak iye.. jangan tebak-tebak ala dukun). Option apa saja yang bisa membawa anak menuju Goal
  • Analisa kelebihan dan konsekuensi dari setiap option lalu pilih option mana yang akan dipilih dan strategi yang perlu dilakukan untuk mengatasi setiap konsekuensi.
  • Cacah strategi dalam milestone kecil-kecil yang spesifik, terukur, diri sebagai kendali dan selaras dengan tujuan utama
  • Bismillah, install setiap milestone secara visual, auditif dan kinestetik untuk menciptakan jembatan synaps agar ketika kelak dijalani sudah ada jejak dalam pikiran. Ajarkan your young adult untuk directing their own mind, if they don’t, someone else will..
  • Review secara berkala dan dokumentasikan

Meskipun tampaknya panjang, proses diskusi ini hanya memerlukan waktu 1 jam dalam setiap proses review. Mudah, asalkan komunikasi anda efektif.
Cermati proses dalam mendesain setiap bidang. Bidang yang paling lancar dalam proses mendesain adalah bidang yang sesungguhnya paling diminati. Pilih sebagai main road yang akan dijalani. Simpan bidang yang lain sebagai rencana mitigasi jika diperlukan. Keuntungan menjalani proses ini adalah :

  • Anak akan terbiasa untuk fokus pada solusi, bukan mutaar muteeer memikirkan masalah.
  • Belajar melakukan segala sesuatu secara terstruktur
  • Siap menghadapi tantangan ke depan
  • Melatih strategic thinking
  • Self motivated / GRIT
  • Tidak mudah terombang-ambing karena keputusan orang lain

Dengan telah mengetahui 1-3 bidang yang diminati, anak bisa fokus pada bidang-bidang akademis yang akan mendukung jurusan yang dikehendaki.

Jika anak sekolah dengan kurikulum nasional Indonesia dan ingin mengambil jalur akademis, tugasnya adalah menguatkan nilai-nilai akademisnya atau mungkin ikut bimbingan belajar di area yang akan diujikan di SBMPTN atau jalur-jalur lain yang direncanakan
Jika anak sekolah dengan British/American Curriculum atau IB lain lagi ceritanya.

Berikut ini contoh yang kami lakukan kepada Raka, anak pertama kami yang menggunakan British Curriculum. Saya memberi contoh anak sendiri bukan berarti merasa lebih baik , tetapi agar para pembaca bisa melihat gambaran konkrit.

Di kelas 11, Raka sudah harus menentukan 10 pelajaran untuk persiapan IGCSE, dari hasil tahapan-tahapan yang sudah saya ceritakan di paragraf-paragraf awal, Raka menunjukkan minat yang besar pada bidang Math, Physic, Chemistry dan Computer sejak kelas 9, maka 4 bidang ini yang diambil selain bidang-bidang wajib lainnya. Di kelas 11 ini sebetulnya Raka telah menentukan pilihan Jurusan Computer Science, tetapi pada perjalanan penentuannya, kami sempat menawarkan ide untuk mengambil Petroleum Engineering bahkan mengajak Raka untuk untuk mengunjungi almamater ayahnya (ada keinginan juga Raka mengikuti jejak ayahnya meskipun akhirnya dia menolak 😄).

Pada tahun tersebut, Raka harus mulai membuat jejak-jejak karya karena Universitas terkemuka tidak semata-mata hanya melihat nilai ujian, maka ia mulai ikut dalam Programming Olympiads, membuat aplikasi hingga membuat alat absensi menggunakan kartu yang diimplementasikan di sekolahnya (tentu karya-karya ini dicicil dari kelas 11 hingga kelas 13). Alhamdulillah hasil IGCSE untuk bidang-bidang yang diminati mendapat nilai A*. Di kelas 12 pelajaran yang diambil makin mengerucut menjadi 4 pelajaran saja dan kelas 13 hanya 3 . Di luar itu karena Raka ingin juga mendaftar di universitas-universitas US, maka ia mengambil ujian SAT dan mengikuti ujian IUP untuk jurusan yang sama di UGM. Salah satu persyaratan kami adalah, Raka hanya akan dibiayai kuliah di luar negeri apabila diterima di universitas yang masuk dalam 10 besar rangking nasional di negara tersebut. Dengan mengeluarkan biaya cukup besar tentu kami harus teliti dalam memilih universitas. Apalagi Computer Science adalah jurusan rangking pertama atau kedua yang paling diminati di dunia selama lima tahun terakhir ini. Jika salah perhitungan, baik dalam pencapaian maupun pemilihan universitas, bisa-bisa kesulitan mendapatkan universitas yang baik.

Alhamdulillah dari beberapa universitas yang diinginkan, Raka mendapat tawaran dari di Leeds dan Warwick University di UK, UC San Diego di US dan UGM di Indonesia. Dari sini kami kembali membuat analisa berdasarkan 8 faktor diantaranya kurikulum, lama waktu studi, biaya, akses ibadah dan lain-lain. Akhirnya terpilihlah UK sebagai pilihan pertama, UGM pilihan berikutnya dan US paling bontot (punten ya mas Donald… 🤪)
Nah.. karena nilai A level terakhir baru akan diterima pada tanggal 15 Agustus, sedangkan UGM sudah harus memasuki masa orientasi pada tanggal 4 Agustus, maka Raka harus ikut dulu orientasi di UGM dan mencicipi kuliah dulu sambil menunggu hasil akhir A level.

Dan akhirnya… setelah sempat mengikuti PPSMB dan kuliah minggu pertama di UGM, pengumuman dari UK kami terima, dan Raka harus mengundurkan diri untuk berangkat menjalani pilihan pertamanya. Bismillah..


Berikut ini video Raka saat menjelaskan proses perjalanannya menentukan cita-cita yang ia beri judul Journey to Young Adulthood
Mohon doanya agar Raka lancar studinya, ilmunya barokah dan bermanfaat.
Terimakasih kepada semua pihak yang sudah terlibat dalam perjalanan Raka menuju cita-cita, para guru, pakde-bude, teman-teman dan saudara.
Allahumma Inniy As-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon thoyyiban, wa ‘amalan mutaqobbalan

Journey to Young Adulthood

  • Rujukan
    • Simontom,2001. Talent Development as a Multidimensional, Multiplicative, and Dynamic Process. Current Directions in Psychological Science, Vol. 10, No. 2
    • Hamka, 1979. Tafsir Al Azhar Jilid 6. Pustaka Nasional PTE KTD, Singapore
    • Tafsir Ibnu Katsir 10 Jilid – Pustaka Insan Kamil.
    • Meyers, M., van Woerkom, M., Dries, N. (2013). Innate or acquired? Theoretical considerations and their implications for talent management. Human Resource Management Review, 23 (4), 305-321.
    • Dai, Renzulli, 200. Dissociation and Integration of Talent Development and Personal Growth: Comments and Suggestions
    • Fredricks,  Alfeld , Eccles (2010), Developing and Fostering Passion in Academic and Nonacademic Domains, Gifted Child Quarterly 2010 54: 18

     

    2 thoughts on “Mendampingi Anak Merencanakan Masa Depan

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google photo

    You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s