Memilih Sekolah Dasar

Sekolah dasar, seperti namanya, akan menjadi kancah yang memberikan  contoh dasar bagi perilaku di luar rumah bagi anak. Anak akan tinggal di sekolah paling tidak 5 jam setiap hari.  Di kancah ini anak akan melihat interaksi antar anak sebaya, interaksi antara orang dewasa dan anak-anak, juga interaksi antar orang dewasa. Lima jam bukan waktu yang sebentar, sedangkan kita semua tahu bahwa manusia belajar dengan cara meniru dan anak-anak adalah peniru ulung. Sekolah menjadi tempat bagi anak-anak untuk membentuk pola perilaku, mewujudkan potensi menjadi kompetensi, mengintenalisasi nilai-nilai, identitas diri, bahkan mungkin juga spiritual yang paling besar pengaruhnya setelah keluarga.

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih sekolah terutama Sekolah Dasar.

1. Perhatikan perilaku (akhlaq) guru-gurunya.

Cara bicaranya, nada suaranya, pilihan kata-katanya, ekspresi wajahnya. Sediakan waktu untuk melakukan observasi menyeluruh. Jika biasanya sekolah melakukan observasi terhadap anak dan orang tua sebelum diterima, maka orang tua juga perlu melakukan hal yang sama. Para guru inilah yang nanti akan menjadi contoh yang ditiru oleh anak-anak. Seperti pesan ibu Imam Malik ketika beliau berangkat menuntut ilmu. “Pelajari adabnya, sebelum engkau pelajari ilmunya”

2. Perhatikan ekspresi dan para murid

Bagaimana perilaku anak-anak yang usianya sudah atau mendekati puber (baligh) (kelas 5-6). Inilah produk dari sekolah itu (dan keluarganya tentu). Bagaimana interaksinya dengan sesama teman, kata-kata yang keluar dan ekspresinya.

Bagaimana ekpresi rata-rata anak-anak di kelas awal (kelas 1-2). Apakah memancarkan rasa bahagia atau tidak.

3. Perhatikan karya-karya yang ditempel di sana-sini

Apakah karya anak-anak atau hiasan keluaran percetakan. Apakah nama yang muncul itu-itu saja atau bervariasi. Jika hanya mana yang itu-itu saja, kemungkinan aroma kompetisi antar individu di sekolah itu cukup kental.

4. Sekolah inklusi

Pilihlah sekolah inklusi yang memang siap untuk memberi ruang belajar untuk anak berkebutuhan khusus. Yang disebut berkebutuhan khusus tentu harus ditegakkan melalui diagnosis ahli tumbuh kembang, bukan hasil perkiraan dari ortu maupun guru.

5. Pelajari peraturan sekolah dengan seksama.

Aturan tentang kedisplinan, penanganan bullying, forum komunikasi ortu dan sekolah dan lain-lain.  Tanyakan sejarah penanganan kasus-kasus dan konsistensi dari penegakan aturan tersebut.

Banyak sekolah yang tidak memiliki aturan tertulis, alih-alih mengkritisi  ortu bisa ikut membantu membuatkan desain aturan yang sesuai dan tidak bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi. Membuatkan prosedur-prosedur dan tata laksana yang mudah diterapkan dan menarik. Kerjasama ortu dan sekolah sangat penting, bukan saling menuntut tetapi saling mendukung.

Sekolah juga perlu memiliki aturan yang tegas mengenai waktu dan tatacara komunikasi ortu kepada guru. Ortu juga tidak boleh semena-mena menghubungi guru malam-malam hanya untuk menanyakan PR misalnya.

6. Cari sekolah yang satu Visi dengan anda.

Tentu sebelum menemukan sekolah yang satu visi, orang tua perlu memiliki visi keluarga terlebih dahulu.

Jika anda menganut pedoman bahwa hidup bukanlah berkompetisi untuk mengalahkan orang lain, tetapi meningkat dan kolaborasi yaitu capaian seorang anak secara individual perlu meningkat dibandingkan dengan apa yang sudah dicapai sebelumnya, maka pilih sekolah yang tidak ada metode rangking. Perhatikan bagaimana laporan hasil pembelajaran disajikan.

Perhatikan aturan penggunaan teknologi seperti internet di sekolah. Sesuaikan dengan aturan anda di rumah. Jika berinteraksi dengan komputer apakah ada intranet yang sudah disediakan oleh sekolah atau langsung bebas berselancar di internet. Jika menggunakan media yang tersedia di internet, apakah guru atau orang tua yang mencari, atau anak disuruh mencari sendiri. Jika anda concern dengan hal-hal seperti ini. tanyakan langsung sejak awal agar tidak terjadi pertentangan values atau nilai-nilai yang anda tanamkan di rumah dan di sekolah.

Lalu, bagaimana jika tidak ada yang seVisi? Ya diajari sendiri di rumah.. Siap?

Mengajari sendiri jauh lebih baik daripada ortu sibuk “meludah” di sumur sumber ilmu tempat belajar anak-anak kita. 

Apa maksudnya kalimat diatas? Di luar sana banyak ortu sibuk mengkritisi tanpa solusi, mengeluh dan mengatai-ngatai sekolah tempat anaknya.  “Gimana sih ini sekolah nggak bener, payah, parah dsb dsb”. Ibarat meludah di air sumur yang kita harapkan akan memberikan sumber ilmu yang sehat dan barokah bagi anak-anak yang dititipkan untuk belajar darinya. Maka jika ada yang perlu diperbaiki dari sekolah, mari bersama-sama ditingkatkan. Dikerjakan bersama, bersama mencari ahlinya, didanai bersama dan diimplementasikan dengan konsisten dan kongruen.

Bismillah.. Selamat memilih sekolah….

Melatih Anak Tidur Sendiri Tanpa Frustrasi

Banyak orangtua kesulitan melatih anak tidur sendiri karena sejak awal sudah keliru dalam membiasakan tidur. Pada saat masa menyusui bayi memang amat sangat disarankan untuk tidur sekamar dengan orangtuanya. Baik itu setempat tidur atau di tempat tidur terpisah. Namun jika setempat tidur pastikan jarak cukup aman, atau bisa menggunakan keranjang kain agar terhindar dari  resiko SID (suddent infant death) syndrom karena tertimpa, terjepit tangan, hidung tertutup bantal dan lain-lain.

Mengapa sangat dianjurkan sekamar? Agar kebutuhan ASI terpenuhi dengan optimal, ibu dan ayah bisa bergantian mengambil dan mengembalikan bayi ke tempat tidurnya dengan mudah tanpa harus jauh-jauh ke kamar lain dan ketika anak terbangun untuk minum ASI segera terdengar oleh orangtuanya. Jarak yang dekat, rasa aman dan kebutuhan yang segera dicukupi juga tidak memicu terproduksinya hormon stress yaitu kortisol (JJ. McKenna, 2005 & M. Sunderland, 2016). Sebetulnya anak yang tenang dan nyaman akan bisa terlelap lagi sendiri saat bangun ringan bukan karena haus atau basah tetapi orang tua punya kecenderungan menepuk-nepuk agar cepat lelap kembali. Tepukan ini akhirnya menjadi syarat untuk tidur (disebut conditional kalau menggunakan bahasa Pak Pavlov atau anchor kalau kata om Bandler), padahal sebetulnya tidak harus demikian. Dr Harvey Karp justru menganjurkan dibedong atau swaddled (silahkan buka video tutorialnya) untuk membantu anak mendapatkan rasa nyaman.

Setelah anak tidak lagi disusui (2 tahun), biasakan untuk tidak menunggui anak sampai jatuh tertidur meskipun lokasi tidur masih sekamar dan usahakan sudah beda tempat tidur. Orang tua boleh saja membacakan cerita sebelum tidur, membiasakan cuci otak-cuci hati yaitu mensyukuri semua yang terjadi hari ini dan memaafkan semua yang dianggap tidak menyenangkan, memijat atau bersenandung lembut bersama dan lain-lain, tetapi anak bisa menjalani proses terlelap sendiri. Biasanya proses ini tidak akan mengalami kesulitan berarti jika proses awal tadi sudah benar.

Melatih anak tidur sendiri itu yang utama adalah kemampuan anak terlelap sendiri dan mampu kembali tidur saat terbangun di malam hari.

Ah tapi kan malaas mbak, mesti bangun lagi setelah tidur-tiduran sama anak, enakan kan langsung aja ikut tidur, toh masih sekamar ini.  Maka jika merujuk kembali ke buku Enlightening Parenting, salah satu kesalahan terbesar dalam pengasuhan bagian h, yang saya sebutkan sampai 5 kali adalah M-A-L-A-S.

Setelah anak terbiasa tidak menyusu dan bisa terlelap sendiri, baru kemudian persiapkan kamar lain bersama-sama dengan penuh kegembiraan dan rayakan kepindahan ke kamarnya sendiri sebagai sebuah prestasi gilang gemilang. Pindah kamar ini bisa dilakukan di usia 3 tahun ke atas tetapi selambat-lambatnya 7 tahun.

Jika anak belum mampu terlelap sendiri, lalu proses melatih tidur sendiri dimulai  dengan langsung ujug-ujug pindah lokasi ke kamar sendiri, dikelonin sampai tidur lalu ditinggal. Maka, saudara-saudaraa… yang  terjadi adalah…. anak tiap malam ngungsi ke kamar orang tuanya saat terbangun . Kalau dilarang ngungsi, karena kondisi bangun setengah sadar, maka anak nangis kejeer. Ortu ngamuk, malam rungsing, pagi bangun seperti zombie. Siapa yang mengalami, angkat tangaan ☝😁

Tapiii.. tapiii kalau udah terlanjur sering ditemani sampai tidur di tempat tidur yang sama pula, bagaimana dooong, kan waktu tidak bisa diputar kembalii… hedeeuh, ada aja ya pertanyaannya 😀

Kalau sudah terlanjur, saat melatih anak tidur sendiri lakukan urutan seperti berikut

  1. SEPAKATI. Buatlah kesepakatan bahwa ayah/ibu akan  melakukan ritual kegiatan bersama anak sebelum tidur dan anak juga melatih diri terlelap sendiri sehingga kemampuan anak  untuk menenangkan dirinya sendiri semakin baik. Lakukan latihan, pura-pura jam tidur lalu anak ditemani sebentar dan latihan terlelap sendiri, latihan pura-pura bangun malam lalu bisa menenangkan diri sendiri dan lelap lagi. Lalukan latihan dg gembira seolah memang latihan spt ini kereen sekalee.
  2. TEMPAT TIDUR SENDIRI. Pisahkan tempat tidur meski di kamar yang sama. Ngga cukup? Ya ganti pakai 2 kasur yang lebih kecil.
  3. KONSISTEN. Tidak ada cheating day sampai menjadi kebiasaan. Meskipun ayah-ibu yang kadang kangen dan cari gara-gara :D. Ini akan merusak kesepakatan. Dan setiap anak pindah tempat tidur, kembalikan lagi sesuai kesepakatan. Anak fitrahnya tidak suka melanggar kesepakatan kecuali ortunya tukang melanggar.
  4. PERSIAPKAN KAMAR SENDIRI BERSAMA. “Sayang sekarang kamu sudah bisa terlelap sendiri dan bisa manage your self untuk tidur lagi saat bangun artinya kamu sudah layak mendapat bintang eh.. maksudnya mendapat kamar sendiri”…  Lalukan framing, tidur di kamar sendiri itu kereennya luar biasaah. Ritual berkegiatan yang menenangkan sebelum tidur masih bisa dilakukan,  tapi ingat jangan ikut ketiduran di kamar anak 😂. Manfaatkan waktu ini utk memberi nasehat dg cara yg asik, memasukkan value, mengambil hikmah dan cuci otak cuci hati

Bagi yang beragama islam mulai berlakukan adab mengetuk pintu kamar ayah-ibu di 3 waktu yang diperintahkan dalam Surat An-Nur ayat 58 dan 59 ya. Waktu-waktu apa sajakah itu? Silahkan dicari sendiri ya, agar saya tidak melakukan kesalahan pengasuhan menyuapi solusi 😀  😀

Selamat melatih kemandirian anak dengan bahagia..

Enlightening Parenting

Menjelajah United Kingdom – Merangkai Wisdom -Manchester, Duns, Edinburg

Meninggalkan London kami menuju Manchester dengan mobil sewa. Alternatif mobil dipilih karena kami akan pindah-pindah kota. tentu nenteng-nenteng koper bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Jadi mobil berfungsi juga sebagai trolley 😀 .Malam ini kami mencicipi rasanya tidur di boat bernama Castlerose di Manchester Canal. Boat ini menyediakan 2 options menginap, berlayar atau bersandar. Karena option berlayar berarti ada nahkoda, which is pria, sementara saya kurang nyaman sepanjang hari berhijab, kami memilih option bersandar saja. Toh canalnya juga tidak terlalu besar, selebar Selokan Mataram Jogja kurang lebih. Fasilitasnya sangat lengkap, sampai dishwasher juga disediakan. Anak-anak suka sekali dan tidak henti-hentinya meneliti setiap sudut kapal. Bahkan mas Raka sudah mulai menghitung, berapa biaya untuk membuat boat seperti ini. It’s a new experience for us. Meskipun demikian, tentu luas ruang terbatas, penggunaan air harus bijak dan ada cara tertentu dalam menggunakan toilet agar aman dari banjir.
Dari sering mencoba hal baru ini kami belajar untuk melatih flexibility, berbagi tugas dan saling menolong. Malam ini kami tidak kemana-mana, memanfaatkan waktu berdiskusi dengan anak-anak. Banyak sekali hal yang bisa kami diskusikan dan latih bersama. Mulai dari adab, basic life skill sampai nasionalisme. Sebagai anak yang hampir tidak pernah mendapatkan pendidikan nasional, urusan mengenal pemahaman dasar tentang bangsa dan negara tentu jadi tanggungjawab kami. Membahas tentang kemerdekaan, makna pancasila, bhinneka tunggal ika beserta implementasinya. Kami mendiskusikan kondisi aktual saat ini dan room for improvement apa yang bisa mereka isi kelak. (Menjadi warga negara Indonesia yang dasar negaranya pancasila tentu juga tidak harus pasang meme Aku Pancasila, karena sudah otomatis kan ya? 🙂 ). Semakin banyak mereka mengenal negara lain, semakin banyak hal positif tentang Indonesia yang mereka bisa kenali, dan semakin paham di bagian mana yang perlu diperbaiki. Kami tidak ingin mereka kelak hanya sekedar menjadi pengkritik nomer wahid, kok begini, kok begitu, kurang ini, kurang itu tetapi tidak berkontribusi dalam membuat perbaikan. Semacam gegar budaya tanpa makna. Sebuah perilaku yang yang sempat teramati dari beberapa orang yang lama tinggal di luar negri, yang bahkan malu berbahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari antar individu karena dianggap kurang keren atau berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat bak meneer meneer dalam film perjuangan Indonesia jaman dulu 😀 . 
Bukankah Rasulullah saw juga mencintai Mekah dan Madinah, tempat beliau dilahirkan dan memulai kepemimpinan?

  

Keesokan harinya kami pindah ke apartment 2 kamar di area Chadderton, 15 menit di sebelah timur laut pusat kota. Setelah meletakkan barang-barang, kami menuju kota. Tujuan pertama adalah The John Ryland Library . Subhanallah.. Merinding rasanya di perpustakaan ini. Betapa ilmu diletakkan pada derajatnya. Buku-buku ditulis dan dilukis dengan pewarna dari batu mineral alami, dihiasi dengan bubuk emas murni, dimuliakan, dipelihara dan dicatat sejarahnya.
Bandingkan dengan sekarang, manusia comot sana sini, copy paste tanpa referensi, tidak meneliti apatah lagi membuat riset sendiri, mengajarkan hal yang bahkan amat jarang dijalani. Fagfirlana…


Dari perpustakaan ini kami ke National Football Museum. Menarik mungkin bagi yang suka football, saya sih banyak ngga ngertinya hahaha..
Hari ketiga di Manchester kami mengunjungi The Manchester Museum. Yang ini memang Recommended! Lengkap dan menarik. Apa saja isinya silahkan googling saja, 2 jam tidak cukup untuk mempelajari isinya. Kami tidak bisa berlama-lama di museum ini karena waktunya sholat Jum’at. Tidak jauh dari Museum ini ada Central Mosque. Lumayan penuh lho… Lokasinya dekat dengan Manchester University juga. Beberapa ratus meter dari situ, di sepanjang Wilmslow Rd, berjajar belasan restaurant timur tengan dan india halal. Jadi kami makan siang di sana. Selesai makan kami lanjut lagi ke Science and Industry Museum. Manchester adalah salah satu pionir dalam industry tekstil, di museum itu ada penjelasan detail dengan mesin-mesin pintal dan tenun jaman dahulu yang masih berfungsi. Disana juga dijelaskan bagaimana dulu anak-anak dipekerjakan sebagai buruh. Museum ini juga must visit place deh pokoknya. Oiya dari tanggal 23 July sampai dengan 23 September ini ada lebih dari 100 patung lebah di Manchester sebagai bagian dari program Bee in the City. Lebah pekerja adalah bagian dari symbol Manchester sejak tahun 1842.

Wah.. An Nahl ya..

Hari Sabtu pagi kami meluncur ke Dunes, sebuah desa di perbatasan Scotland, 1.5 jam sebelum Edinburg. Kami memilih Green Hope Cottage untuk menikmati area pedesaan. Sebuah cottage di ujung desa, di bawah bukit berbatasan dengan hutan pinus dan di depannya mengalir sungai yang jernih dan sejuk.

MasyaaAllah… Alhamdulillah, terimakasih ya Allah atas nikmat penglihatan sehingga bisa memandang indahnya alam ciptaanMu, nikmat sehat sehingga bisa menikmati liburan, nikmat rizki sehingga bisa mengunjungi tempat yang disukai, nikmat pendengaran sehingga bisa mendengar gemricik air, nikmat akal sehingga bisa memaknai segala sesuatu dengan positif, nikmat ilmu sehingga bisa bermanfaat dan jutaan nikmat yang lain.
Lokasi ini mengingatkan pada kisah-kisah petualangan The Famous Five, jadi deh muncul ide berpetualang imajinatif ala Famous Five hahaha… Kisahnya ada di FB saya ya… Judulnya Misteri Biri-Biri Yang Tertukar hahaha… Emangnya cuma putri aja yang bisa tertukar? 😀 . Daaan lagi-lagi anak-anak senang sekali tinggal disini. Rupanya liburan di tempat yang unik lebih menarik daripada di kota.

  
OK sampai disini dulu ya cerita seri keduanya. InsyaaAllah dilanjutkan lagi di seri ketiga, Edinburg, York and Cambrige

Menjelajah United Kingdom, Merangkai Wisdom – London

Sesuai dengan janji saya di salah satu status media sosial, ini adalah seri pertama dari beberapa tulisan rangkaian kisah Menjelajah United Kingdom, mulai dari London menjelajah ke utara yaitu Manchester dan Edinburg, hingga kembali lagi ke selatan melalui York dan Cambridge.

So, mari kita mulai dari London…

Hari pertama menjelajah UK, kami mendarat di Heathrow Airport jam 3 sore waktu setempat. Sebagai bandara lama di tengah kota, tentu kita tidak bisa membandingkan dengan bandara-bandara baru dunia atau bahkan dengan terminal 3 Soekarno Hatta sekalipun. Sederhana, decent tepatnya, adalah kata yang cocok untuk mewakili situasi Heathrow.  Dengan taxi online kami menuju apartment di kawasan Stockwell. Kami memilih apartment 2 kamar lengkap dengan kitchen amenities untuk memudahkan menyiapkan makanan sendiri sehingga terjaga kehalalannya. Alhamdulillah, penampakan asli apartment ini persis sama dengan iklannya, bahkan kelengkapapnya more that we expected. Cuaca di musim panas ini cukup ektrim yaitu mencecah 33°C. Dan seperti umumnya rumah tinggal di UK ini mereka tidak punya pendingin udara. Sumuuk memang kalau siang. Suhu sepanas ini baru pertama kalinya sejak beberapa tahun yang lalu. Di malam hari suhu berubah menjadi 19-22°C. Tetapi ternyata suhu panas ini tidak berlangsung lama, cukup 2 hari saja. Di hari ketiga dan seterusnya, suhu di siang hari maksimal hanya 26°C, suhu yang nyaman untuk kami keluarga tropis ini 🙂

Setelah istirahat sebentar kami jalan-jalan dulu ke London Eye di pinggir Thames River, sengaja langsung jalan supaya tidak tidur terlalu awal sehingga tidak terpengaruh jet lag. Saya pribadi sih alhamdulillah selama ini kemana-mana tidak pernah jet lag, ngantuk otomatis jika hari gelap dan nyala saat matahari terang benderang. Entag kalau nanti berada di kawasan yang gelapnya sangat sedikit. Di area ini banyak hal menarik yang bisa dilihat, ada the London Dungeon, The Shrek Adventure, Sea Life Adventure, Big Ben, Dinner on Cruise dll. Jalan kaki sore hari di area ini lumayan menyenangkan, hanya saja saya agak terganggu dengan langkanya tempat sampah, sehingga kawasan ini terlihat agak kumuh. Juga banyak digelar three cup trick alias judi pakai 3 gelas yang terasa banget aroma penipuannya. Hare geneee… masih main beginian maaass…. kerja yang lain napa.

Sama seperti di Jerman, disini juga banyak becak sepeda alias Cycling Rickshaw, tapi ngga usah nyoba deh, mihil. Kecuali ingin ngerasain naik becak yang nggenjot bule 😀 , tapi bulenya kebanyakan dari eropa timur. Demikian pula dengan tukang-tukang bangunan disini banyak yang dari eropa timur. Duduk-duduk di pinggir Westminster Bridge sambil memandang Big Ben yang sedang direnovasi lengkap dengan red telephone box, red bus dan black taxi memang jadi terasa banget London-nya, hahaha ya iyalah memang di London. Orang-orang disini terbiasa saling menyapa, suka sekali dengan kata lovely dan siapa-siapa  dipanggil darling alias dadar guling hehehe…

Selesai jalan-jalan kami mampir dulu ke Tesco sebelum pulang, dan tadaaa…. Buah-buahaan maaaak, murah bingiiit. Blackberries sekotak, Cherry mateng-mateng masak pu’un cuma £2.  Aduh kebiasaan lihat di Kuala Lumpur dan Jakarta meheel. Serasa panen di kebun paman, saya borong dong buah-buahan, senangnya serasa lebaran (ngga gitu banget keles.. 😀 ) Alhamdulillah… Saya amati bahan makanan mentah disini cukup murah, seperti salmon, ayam, udang, dll, tapiiii kalau sudah matang alias di restaurant atau warunglah, jauh berlipat harganya. Mungkin profesi chef disini mahal ya…

Sambil menikmati pemandangan kota London dari atas London Eye… insight hari ini adalah :

Pandangan yang luas menyediakan lebih banyak pilihan makna terhadap sebuah peristiwa. Tinggal memilih makna apa yang paling memberdayakan dan menghasilkan state terbaik

Meskipun London eye itu sebetulnya nggak tinggi-tinggi amat. tetapi mungkin karena memberi banyak kenangan indah maka demikian ternama. Manusia juga begitu, mungkin kompetensinya tidak hebat-hebat amat, tetapi dirindukan karena memberi banyak kebaikan.

thumb_IMG_4566_1024thumb_IMG_4563_1024thumb_IMG_4559_1024thumb_IMG_4555_1024

 

Nah… bagian yang paling asyik adalah, makan siang dengan mas Raka Besar, putra dari sahabat kami di Saudi, Pakde Latief dan Bude Aeni. Duh udah perjaka, ganteng pula, kami ketawa-ketawa seru banget cerita kesana kemari. Tidak seperti sudah berpisah lama. Mengapa kami memanggilnya Mas Raka Besar? Karena dulu Raka kami masih kecil, jadi untuk membedakan dipanggil Raka Besar dan Raka Kecil. Sekarang sudah sama-sama besaaar.
Hari Kedua ini ditutup dengan mengarungi sungai Thames dengan kapal.  Oiya, bagi yang doyan jalan-jalan dan kuat berpindah-pindah lokasi, membeli London Pass akan menghemat lumayan banyak, karena dengan biaya  kurang lebih £37 sehari per orang, bisa digunakan untuk kurang lebih 70 lokasi wisata, tetapi kalau model jalan-jalannya seperti kami, santai-santai berhadiah, tidak terlalu menguntungkan, karena kami hanya mengunjungi 2-3 tempat sehari, itupun tergantung cuaca. Kalau hujan kami santai-santai saja di rumah. Meskipun Summer, karena cuaca sering berubah, siap-siap saja jaket yang tidak terlalu tebal dan jas hujan disposable.

Suhu yang hangat dengan sinar matahari yang cerah cukup langka terjadi, oleh karena itu penduduk kota London suka sekali duduk-duduk di taman kota untuk piknik atau berjemur, sehingga taman kota penuuuh.  Suhu yang hangat dan matahari yang cerah begitu disyukuri, lalu bagaimana dengan kita yang Allah limpahi dengan sinar matahari berlimpah?

Maka, wisdom yang diperoleh hari ini salah satunya adalah :

Sesuatu yang dianggap biasa di suatu tempat bisa jadi tidak biasa di tempat lain. Seperti juga setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Ada orang yang perluu sekali disayang-sayang ada yang tidak. Ada yang perluu banget rencana yang pasti, ada yang merasa cukup dengan mengalir saja. Nah, perbedaan itu bisa saja ada dalam interaksi kita dengan orang-orang yang kita cintai. Maka penting untuk memahami kebutuhan pasangan kita dan orang-orang yang kita sayangi. Maka kita punya pilihan, menganggap orang yang kita sayangi itu lebay hanya karena kebutuhannya berbeda atau being grateful terhadap apa yang bagi kita sudah biasa, apalagi jika kita bisa memberi sebaik-baiknya.

 

Hari ketiga, kami memuaskan Rangga, satu-satunya penggemar bola yang ada di rumah kami dulu hehehe. Pagi-pagi keluyuran di Emirate Stadium yang menjadi markas Arsenal. Tour tuk wak gak keliling stadium hahaha.. keren sih memang, meski saya ya baru denger yang namanya Mesut Ozil ya disitu itu 😀 .Pulang dari Stadium mampir dulu ke National Gallery nengokin lukisannya mas Van Gogh.

Hari ke 4 rencananya mau ke Buckingham Palace pagi-pagi, tapi ternyata hujan. Kayaknya lebih asyik masak-masakan di rumah lalu selimutan. Siangnya kami lanjut ke Warner Bros – Harry Potter Studio. Disini kami melihat bagaimana sebuah karakter kinerja yang tinggi selama 10 tahun menghasilkan mahakarya sinematografi.

Selama dua hari ini kami belajar tentang kesungguhan dalam amal perbuatan. Ini baru urusan dunia saja, demikian detail sebuah karya disuguhkan, dari perencanaannya, desain, pelaksanaan, evaluasi, continous improvement masyaaAllah. Lalu bagaimana dengan kita, yang urusan dunianya juga menjadi bagian dari urusan akhiratnya? Fagfirlana…

Hari ke 5 kami mengganti perjalanan ke Buckingham yang kemarin tertunda. Sebelumnya mampir ke Imperial College dan Science Museum yang lokasinya berdekatan. Menghirup-hirup aroma Imperial College yang dulu ditolak suami saat sudah diterima melalui jalur Chevening Scholarship karena tidak ingin meninggalkan anak yang waktu itu masih kecil 🙂 .  Siapa tahu nanti rejekinya Raka atau Rangga ya kan? Aamiin.

State Rooms of Buckingham memang tidak buka setiap hari, hanya kurang lebih 10 minggu dalam 1 tahun dan mostly di musim panas. Mumpung buka, kesempatan kami mampir wonten Keratonipun Ratu Engres, sae pundi kalian Keraton Ngayogyakarto … Tapi yang namanya cinta kota kelahiran, ya.. gimana ya.. milih keraton Jogja ah…hahahaa… Kanjeng Ratu sebetulnya sudah jarang tinggal di Buckingham, hanya di hari-hari tertentu saja. Arsitektur dan interiornya memang MasyaaAllah. Karena selama tour dilarang mengambil gambar, maka silahkan yang ingin tahu isinya, searching saja dengan kata kunci State Rooms Buckingham. Foto-foto blue room, white room, prince patron, dll, ada banyak di internet. Yang menarik bagi saya adalah mendengar celotehan pengunjung anak-anak, remaja wanita dan beberapa wanita dewasa yang terus-terusan berkata “Someday I will be a Princess”. Beberapa diantaranya bahkan mengenakan tiara dan setiap melihat foto Queen Elizabeth akan menyapa “Queen”, sambil menunduk. Senang dan kagum pada keberanian mereka, tetapi ada sedikit rasa miris juga hmm… jangan-jangan mereka ini sungguh-sungguh ingin menjadi princess dan berharap dinikahi oleh salah satu prince? hmm.. barangkali karena terlalu sering kisah-kisah dongeng yang dibacakan diakhiri dengan “and they lived happily ever after” sehingga kebahagian itu ditentukan oleh seorang Pangeran. Cinderella syndrom kah? Wallahua’lam

Hari ke 6 kami ikut tour ke Winsor, Bath dan Stonehenge. Kami memilih Golden Tour untuk perjalanan ke tiga tempat di luar kota London ini. Recommended, profesional, tepat waktu, tour guide-nya juga seru dan lucu, sepanjang jalan kami ngikik-ngikik dengan joke-joke nya yang seru.  Dari ketiga tempat tersebut, saya terinspirasi sekali dengan Bath. Tentang bagaimana sebuah situs yang sudah hampir punah ini dilestarikan kembali dengan menggabungkan bangunan lama dengan bangunan baru dan kegiatan masa lalu di area itu dihidupkan kembali dengan 3D projector. Wuih.. saya sedang berpikir bagaimana jika situs-situs kerajaan kuno di Indonesia dibuat seperti ini, sehingga generasi-genarasi ke depan bisa mengenal ketinggian budaya kita sejak jaman dahulu. Indigenous cultures and technology. Dua lokasi yang lain bisa dilihat di internet saja. Yang pasti saya lebih suka Stonehenge KW yang di Kaliurang, biar KW tapi asri hahaha…

Selama di London kami menggunakan sarana transportasi umum saja, kadang  Uber, kadang underground train, kadang bus, dan lebih banyak jalan kaki. Dalam 1 hari kami bisa jalan kaki 4-7 km. Untuk menggunakan transportasi umum pakai kartu Oyster saja. Sama seperti touch n go di Malaysia atau kartu Flazz, Brizzi dan sejenisnya kalau di Indonesia.

Penjelajahan London ditutup dengan mampir sebentar ke Bicester Village dalam perjalanan ke Manchester. Kali ini kami sewa mobil, supaya mudah dan nyaman. Bagi yang hobi belanja, mungkin seharian ngga cukup untuk mengelilingi Bicester Village.  😀 Menurut saya, koleksi yang di Johor Premium Outlet nggak kalah lengkap, cuma di Bicester ini harganya ngga cuma miring, tapi doyong banget. Kami sebentar saja di sini supaya tidak terlalu malam ketika sampai di Manchester. Wisdom apa ya yang nanti kami temukan di sana? InsyaaAllah nanti disambung lagi..

Note :Pembelajaran yang lebih real time,  saya posting di instagram @okinaf dan FB

 

Mengajarkan Anak Mengelola Keuangan

Kebetulan pagi tadi saya mendapat pertanyaan dari alumni tentang kapan mengajarkan anak mengelola uang. Karena sudah typing cukup panjang di group, saya pikir lumayan juga bisa jadi artikel.
Seringkali orang tua rancu antara mengajarkan mengelola keuangan dan mengajarkan hidup sederhana. Dua hal yang berkaitan memang, tetapi sebetulnya strategi mengajarkannya berbeda.
Kadang-kadang anak diberi uang untuk ditabung atau disuruh sedekah, malahan ada sekolah yang menganjurkan infak harian. Maksudnya mau mengajarkan hidup hemat dan ikhlas dalam sedekah. Padahal mari kita cermati dulu, akadnya dengan anak bagaimana?
“Nak, ini uang buat ditabung ya” , “Nak ini uang untuk sedekah”. Lho ini mengajarkan anak hidup hemat dan ikhlas bersedekah atau sekedar mengajarkan anak menuruti perintah?
Padahal itu uang siapa? Uang anak atau uang ortu? Yang nabung siapa yang sedekah siapa? Bukankah itu berarti anak menabung uang ortunya dan sedekah dari yang bukan miliknya? Lalu dimana letak penghematannya? Darimana muncul rasa ikhlasnya?

MENGAJARKAN HIDUP SESUAI KEBUTUHAN

Jika ingin mengajarkan anak tentang kesederhanaan, ajarkan bukan tentang nominal uang, tetapi bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan. Belajar hidup sederhana artinya anak tahu apa yang dibutuhkan bukan sekedar diinginkan, kriterianya apa, dibeli atau dibuat sendiri, jika perlu membeli sesuaikan antara kriteria dan harga.
Apabila hal yang diminta hanya sekedar keinginan apakah boleh? Tergantung value keluarga anda masing-masing, seberapa jauh sebuah keinginan dituruti dan pada situasi seperti apa. Lagi-lagi, sangat penting bagi sebuah keluarga memiliki values yang jelas dan disepakati. Sebagai contoh di rumah kami, saya tidak bisa sembarangan mengganti laptop. Anak pertama yang mempunyai pengetahuan tentang komputer akan membantu saya menganalisa, apa kriteria yang saya perlukan, apakah perlu beli atau bisa upgrade. Jika membeli apa saja merk yang sesuai. Sesuai kebutuhan tidak selalu murah.

JAJAN, PINTU TERBUKANYA KESALAHAN PENGATURAN KEUANGAN

Anak sebaiknya tidak dibiasakan jajan cemilan. Jajan bukanlah kegiatan harian. Jajan hanya dilakukan di waktu-waktu tertentu yang disepakati misalnya saat nonton di cinema, dalam perjalanan jauh, ada acara khusus dan lain-lain. Disamping sangat bermanfaat untuk membudayakan makan makanan sehat, juga tidak membiasakan anak mengumbar keinginan.

PENGATURAN KEUANGAN

  1. Anak mulai diajarkan tentang uang sebaiknya mendekati usia 10 tahun, yaitu usia dimana anak sudah harus paham tentang kewajiban, konsekuensi, berpikir prediktif dan pengambilan keputusan yang cukup matang (tidak heran mengapa 10 tahun anak boleh diperingatkan dengan keras jika masih menolak sholat meski sudah diajarkan dengan 5000 cara. Silahkan rujuk artikel tentang mengajarkan sholat dengan 5000 cara disini)
  2. Pelajaran tentang uang dimulai dengan pelajaran membuat anggaran atau budget tentang kebutuhannya, bisa harian atau mingguan terlebih dahulu.
  3. Uang diberikan sesuai budget yg diajukan dan dilaporkan setelah periode selesai. Proses pelaporan dan pertanggungjawaban ini sangaaaat penting membangun sikap jujur, amanah, dan memberantas mental korupsi sejak dini.
  4. Jika ternyata kurang, lakukan review dimana letak kekurangannya. Salah anggaran atau keliru dalam pengeluaran. Tidak apa-apa mengajarkan berulang-ulang. Sangat jarang kan manusia di dunia ini yang sekali belajar langsung piawai. Tidak usah mencela apalagi ngomel.
  5. Jika surplus atau sisa karena menghemat (bukan salah budgeting) maka sisanya dikembalikan dulu. Lalu kemudian sisa tersebut boleh diberikan kembali dan diambil sebagai hak milik anak. Nah, mulailah mengajarkan konsep menabung, dan yang ditabung betul-betul milik anak. Sumbernya benar, akadnya benar.
  6. Setelah lancar menyusun budget, spending dengan benar dan melaporkan dengan baik, strategi bisa diubah. Jika awalnya yang diserahkan sebagai hak hanya sisanya, sekarang boleh diserahkan sebagai hak sejak diberikan di depan. Boleh dilebihkan dari budget dan anak boleh menabung sebelum spending (bukan sekedar sisa, tetapi tabungan yang direncanakan) dan mulai bersedekah, boleh dari sisa setelah kebutuhan dasarnya terpenuhi, boleh disisihkan sejak awal. Dengan demikian anak belajar konsep yang benar dengan cara yang benar.
  7. Sedekah tidak harus berbentuk uang. Jika ingin mengajarkan anak bersedekah sejak dini ajarkan memberi senyuman, membagi mainan yang sudah diberikan kepadanya, membacakan cerita anak yang sakit di RS, mengangkat jemuran tetangga. Sedekah dengan sesuatu yang dimilikinya (secara hukum dunia karena dalam hukum akhirat tidak ada satupun yang kita miliki) Sehingga terasa upaya pelepasan hak dan keikhlasan melakukannya
  8. Di usia  menjelang baligh atau 12 tahun, anak sudah belajar untuk earn a living yaitu mempunyai penghasilan. Tidak harus tetap, tetapi dia tahu bagaimana menciptakan penghasilan. Ajak anak membuat anggaran bisnis, berikan modal atau kerjakan bersama-sama, misalnya salah satu alumni kami membuat pempek  dan pisang goreng di akhir minggu, lalu anaknya berjualan keliling kompleks. Bisa memberkan les. Banyak sekali alternatif yang bisa dieksplore. Ketika anak sudah ada penghasilan sendiri, tekankan tentang konsep sedekah dan keutamaannya.
  9. Konsep sedekah juga  diajarkan ketika anak dapat uang seasonal seperti angpao, uang lebaran, dan lain-lain

Dalam beberapa kasus, saya menemukan orang dewasa yang suka mengambil barang-barang yang bukan miliknya lalu diberikan kepada orang lain lagi (mungkin mengadaptasi kisah Robin Hoods :D), dan jika ditegur jawabannya “Ah dia udah ngga pakai kok, kan bagus aku membantunya sedekah”. Padahal saat memberikan tidak memberitahukan yang diberi itu milik siapa. Ada juga orang yang selalu menganggap sisa budget adalah miliknya atau keuntungannya, karena kebiasaan dari kecil. Seolah tidak memahami bahwa itu adalah korupsi. Ada lagi kasus orang yang sangat sulit membuat laporan keuangan meskipun sangat sederhana.

Jangan pernah mengajarkan pada anak bahwa mencari uang itu sulit, ajarkan kepada mereka bahwa rejeki Allah itu luas, dan kelak kita harus mempertanggungjawabkan, bagaimana cara kita mendapatkannya dan bagaimana kita mengeluarkannya sehingga menjadi harta yang barokah.

Bukankah kita telah dituntun, untuk tidak menyerahkan harta kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya? Dan kitalah yang wajib memenuhi kebutuhan mereka dan menjelaskan dengan kata-kata yang baik? (An Nissa :5)

Ajarkan bertahap sesuai tuntunan agar anak tidak melihat uang itu segalanya. Uang hanyalah alat tukar biasa, karena rizki Allah itu tidak hanya berupa uang. Jusru uang itu keciiil dan mudah, sedangkan rizki Allah itu luaaasss dan banyak.

Semoga Bermanfaat

Mempersiapkan Anak Puasa Ramadhan

img_3753-1.jpg

Ramadhan sudah dekat, tentu setiap orang tua menginginkan anak- anak taat pada Perintah Allah. Mungkin juga ada rasa bangga dan bahagia pada orang tua ketika anak-anaknya mudah diajak beribadah.

Namun ortu perlu hati-hati dengan ekspektasi pribadi juga ekspresi kebahagiaan yang ditunjukkan. Jangan sampai membuat anak jutru berpikir untuk berbohong demi hanya ingin melihat ortunya bangga.

Berikut ini langkah-langkah mempersiapkan anak belajar dan menjalani puasa

Sambut dengan antusias

Sambut Ramadhan dengan antusias, lebih antusias daripada membicarakan liburan atau hal-jal lain seperti ulang tahun jika anda biasa merayakannya. Mulai bercerita betapa menyenangkannnya berpuasa, apa pengaruh baiknya bagi diri, apa keuntungannya bagi Pre Frontal Cortex manusia dll

Pencatatan Progress

Ajak anak untuk menyepakati pencatatan progressnya. Misalnya dg membuat 29 kotak harian untuk evaluasi hari-hari puasa yang dijalani. Boleh-boleh saja membuat star board atau reward book. Hias sesuai minat anak, dan biarkan ia menentukan sendiri target pencapaiannya. Tekankan bukan banyaknya sticker atau star yang didapatkannya yang utama, tetapi kejujuran dan upayanya. Tidak perlu hadiah mahal, cukup pujian, pelukan, tepukan. Kalaupun ada hadiah berupa benda, jadikan sebagai bonus yang tidak dijanjikan sebelumnya. Rasa terlalu ingin hadiah itu mendorong anak berbohong untuk mendapatkannya

Praising Only

Karena levelnya masih belajar dan belum wajib maka yanga da hanya apresisiasi, tidak ada reprimand dan jangan pernah membandingkan seperti kalimat “ih malu, si A umurnya lebih muda dari kamu usah puasa” dll. Berhasil sampai maghrib maupun tidak tetap berikan apresiasi atas upayanya untuk berusaha

Persiapkan Perbedaan

Bagi anak-anak yang teman sekolahnya banyak yang berpuasa memang lebih mudah, tetapi bagi anak-anak yang jarang atau tidak ada temannya berpuasa, misalnya bersekolah di International School, tentu ada 2 upaya sekaligus, yaitu upaya puasa maupun upaya untuk tetap nyaman meskipun berbeda. Maka apresiasi juga upaya keduanya ya. Ajarkan anak untuk tidak mencela anak lain yang tidak berpuasa, sekaligus tidak merasa minder karena berbeda

Tidak Melanjutkan Puasa Yang Putus di Tengah Hari

Jika sudah berbuka atau terputus di tengah hari, jangan diteruskan lagi hingga waktu berbuka karena anda mengajarkan pesan yang keliru tentang berpuasa. Apalagi kalau ditambah greeting. “Alhamdulillah kuat ya nerusin sampai maghrib…” Ini jelas menginstall belief yang salah. Ekpektasi waktu makan yang tidak jelas target waktunya justru mengganggu sekresi enzim dan asam lambung. Jika sudah terputus pada hari itu ajak anak untuk memiliki target baru di hari berikutnya dengan menambah waktu puasa secara bertahap dan meningkat.

Kegiatan Asyik Yang Bermanfaat

Ajak anak berkegiatan yang menyenangkan di waktu-waktu genting seperti menjelang asar. Lakukan dengan gembira.

Tidak Membanding-bandingkan

Tidak usah bertanding dengan anak tetangga untuk pencapaiannya ya.. apalagi dengan wall FB sebelah 🙂

Lebih Dekat dan Bersyukur

Biasakan anak berkomunikasi dengan Allah, misalnya ketika berhasil sampai waktu yang ditargetkan, ajak anak bersyukur sudah diberi kekuatan. Jika belum berterimakasih juga sudah mempunyai kesempatan belajar dan mau belajar lagi, dll

Setiap manusia telah memiliki fitrah Iman dan kemampuan belajar hingga piawai.

Selamat menjaga fitrah anak..

#enlighteningparenting