Melatih Anak Tidur Sendiri Tanpa Frustrasi

Banyak orangtua kesulitan melatih anak tidur sendiri karena sejak awal sudah keliru dalam membiasakan tidur. Pada saat masa menyusui bayi memang amat sangat disarankan untuk tidur sekamar dengan orangtuanya. Baik itu setempat tidur atau di tempat tidur terpisah. Namun jika setempat tidur pastikan jarak cukup aman, atau bisa menggunakan keranjang kain agar terhindar dari  resiko SID (suddent infant death) syndrom karena tertimpa, terjepit tangan, hidung tertutup bantal dan lain-lain.

Mengapa sangat dianjurkan sekamar? Agar kebutuhan ASI terpenuhi dengan optimal, ibu dan ayah bisa bergantian mengambil dan mengembalikan bayi ke tempat tidurnya dengan mudah tanpa harus jauh-jauh ke kamar lain dan ketika anak terbangun untuk minum ASI segera terdengar oleh orangtuanya. Jarak yang dekat, rasa aman dan kebutuhan yang segera dicukupi juga tidak memicu terproduksinya hormon stress yaitu kortisol (JJ. McKenna, 2005 & M. Sunderland, 2016). Sebetulnya anak yang tenang dan nyaman akan bisa terlelap lagi sendiri saat bangun ringan bukan karena haus atau basah tetapi orang tua punya kecenderungan menepuk-nepuk agar cepat lelap kembali. Tepukan ini akhirnya menjadi syarat untuk tidur (disebut conditional kalau menggunakan bahasa Pak Pavlov atau anchor kalau kata om Bandler), padahal sebetulnya tidak harus demikian. Dr Harvey Karp justru menganjurkan dibedong atau swaddled (silahkan buka video tutorialnya) untuk membantu anak mendapatkan rasa nyaman.

Setelah anak tidak lagi disusui (2 tahun), biasakan untuk tidak menunggui anak sampai jatuh tertidur meskipun lokasi tidur masih sekamar dan usahakan sudah beda tempat tidur. Orang tua boleh saja membacakan cerita sebelum tidur, membiasakan cuci otak-cuci hati yaitu mensyukuri semua yang terjadi hari ini dan memaafkan semua yang dianggap tidak menyenangkan, memijat atau bersenandung lembut bersama dan lain-lain, tetapi anak bisa menjalani proses terlelap sendiri. Biasanya proses ini tidak akan mengalami kesulitan berarti jika proses awal tadi sudah benar.

Melatih anak tidur sendiri itu yang utama adalah kemampuan anak terlelap sendiri dan mampu kembali tidur saat terbangun di malam hari.

Ah tapi kan malaas mbak, mesti bangun lagi setelah tidur-tiduran sama anak, enakan kan langsung aja ikut tidur, toh masih sekamar ini.  Maka jika merujuk kembali ke buku Enlightening Parenting, salah satu kesalahan terbesar dalam pengasuhan bagian h, yang saya sebutkan sampai 5 kali adalah M-A-L-A-S.

Setelah anak terbiasa tidak menyusu dan bisa terlelap sendiri, baru kemudian persiapkan kamar lain bersama-sama dengan penuh kegembiraan dan rayakan kepindahan ke kamarnya sendiri sebagai sebuah prestasi gilang gemilang. Pindah kamar ini bisa dilakukan di usia 3 tahun ke atas tetapi selambat-lambatnya 7 tahun.

Jika anak belum mampu terlelap sendiri, lalu proses melatih tidur sendiri dimulai  dengan langsung ujug-ujug pindah lokasi ke kamar sendiri, dikelonin sampai tidur lalu ditinggal. Maka, saudara-saudaraa… yang  terjadi adalah…. anak tiap malam ngungsi ke kamar orang tuanya saat terbangun . Kalau dilarang ngungsi, karena kondisi bangun setengah sadar, maka anak nangis kejeer. Ortu ngamuk, malam rungsing, pagi bangun seperti zombie. Siapa yang mengalami, angkat tangaan ☝😁

Tapiii.. tapiii kalau udah terlanjur sering ditemani sampai tidur di tempat tidur yang sama pula, bagaimana dooong, kan waktu tidak bisa diputar kembalii… hedeeuh, ada aja ya pertanyaannya 😀

Kalau sudah terlanjur, saat melatih anak tidur sendiri lakukan urutan seperti berikut

  1. SEPAKATI. Buatlah kesepakatan bahwa ayah/ibu akan  melakukan ritual kegiatan bersama anak sebelum tidur dan anak juga melatih diri terlelap sendiri sehingga kemampuan anak  untuk menenangkan dirinya sendiri semakin baik. Lakukan latihan, pura-pura jam tidur lalu anak ditemani sebentar dan latihan terlelap sendiri, latihan pura-pura bangun malam lalu bisa menenangkan diri sendiri dan lelap lagi. Lalukan latihan dg gembira seolah memang latihan spt ini kereen sekalee.
  2. TEMPAT TIDUR SENDIRI. Pisahkan tempat tidur meski di kamar yang sama. Ngga cukup? Ya ganti pakai 2 kasur yang lebih kecil.
  3. KONSISTEN. Tidak ada cheating day sampai menjadi kebiasaan. Meskipun ayah-ibu yang kadang kangen dan cari gara-gara :D. Ini akan merusak kesepakatan. Dan setiap anak pindah tempat tidur, kembalikan lagi sesuai kesepakatan. Anak fitrahnya tidak suka melanggar kesepakatan kecuali ortunya tukang melanggar.
  4. PERSIAPKAN KAMAR SENDIRI BERSAMA. “Sayang sekarang kamu sudah bisa terlelap sendiri dan bisa manage your self untuk tidur lagi saat bangun artinya kamu sudah layak mendapat bintang eh.. maksudnya mendapat kamar sendiri”…  Lalukan framing, tidur di kamar sendiri itu kereennya luar biasaah. Ritual berkegiatan yang menenangkan sebelum tidur masih bisa dilakukan,  tapi ingat jangan ikut ketiduran di kamar anak 😂. Manfaatkan waktu ini utk memberi nasehat dg cara yg asik, memasukkan value, mengambil hikmah dan cuci otak cuci hati

Bagi yang beragama islam mulai berlakukan adab mengetuk pintu kamar ayah-ibu di 3 waktu yang diperintahkan dalam Surat An-Nur ayat 58 dan 59 ya. Waktu-waktu apa sajakah itu? Silahkan dicari sendiri ya, agar saya tidak melakukan kesalahan pengasuhan menyuapi solusi 😀  😀

Selamat melatih kemandirian anak dengan bahagia..

Enlightening Parenting

Mengajarkan Anak Mengelola Keuangan

Kebetulan pagi tadi saya mendapat pertanyaan dari alumni tentang kapan mengajarkan anak mengelola uang. Karena sudah typing cukup panjang di group, saya pikir lumayan juga bisa jadi artikel.
Seringkali orang tua rancu antara mengajarkan mengelola keuangan dan mengajarkan hidup sederhana. Dua hal yang berkaitan memang, tetapi sebetulnya strategi mengajarkannya berbeda.
Kadang-kadang anak diberi uang untuk ditabung atau disuruh sedekah, malahan ada sekolah yang menganjurkan infak harian. Maksudnya mau mengajarkan hidup hemat dan ikhlas dalam sedekah. Padahal mari kita cermati dulu, akadnya dengan anak bagaimana?
“Nak, ini uang buat ditabung ya” , “Nak ini uang untuk sedekah”. Lho ini mengajarkan anak hidup hemat dan ikhlas bersedekah atau sekedar mengajarkan anak menuruti perintah?
Padahal itu uang siapa? Uang anak atau uang ortu? Yang nabung siapa yang sedekah siapa? Bukankah itu berarti anak menabung uang ortunya dan sedekah dari yang bukan miliknya? Lalu dimana letak penghematannya? Darimana muncul rasa ikhlasnya?

MENGAJARKAN HIDUP SESUAI KEBUTUHAN

Jika ingin mengajarkan anak tentang kesederhanaan, ajarkan bukan tentang nominal uang, tetapi bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan. Belajar hidup sederhana artinya anak tahu apa yang dibutuhkan bukan sekedar diinginkan, kriterianya apa, dibeli atau dibuat sendiri, jika perlu membeli sesuaikan antara kriteria dan harga.
Apabila hal yang diminta hanya sekedar keinginan apakah boleh? Tergantung value keluarga anda masing-masing, seberapa jauh sebuah keinginan dituruti dan pada situasi seperti apa. Lagi-lagi, sangat penting bagi sebuah keluarga memiliki values yang jelas dan disepakati. Sebagai contoh di rumah kami, saya tidak bisa sembarangan mengganti laptop. Anak pertama yang mempunyai pengetahuan tentang komputer akan membantu saya menganalisa, apa kriteria yang saya perlukan, apakah perlu beli atau bisa upgrade. Jika membeli apa saja merk yang sesuai. Sesuai kebutuhan tidak selalu murah.

JAJAN, PINTU TERBUKANYA KESALAHAN PENGATURAN KEUANGAN

Anak sebaiknya tidak dibiasakan jajan cemilan. Jajan bukanlah kegiatan harian. Jajan hanya dilakukan di waktu-waktu tertentu yang disepakati misalnya saat nonton di cinema, dalam perjalanan jauh, ada acara khusus dan lain-lain. Disamping sangat bermanfaat untuk membudayakan makan makanan sehat, juga tidak membiasakan anak mengumbar keinginan.

PENGATURAN KEUANGAN

  1. Anak mulai diajarkan tentang uang sebaiknya mendekati usia 10 tahun, yaitu usia dimana anak sudah harus paham tentang kewajiban, konsekuensi, berpikir prediktif dan pengambilan keputusan yang cukup matang (tidak heran mengapa 10 tahun anak boleh diperingatkan dengan keras jika masih menolak sholat meski sudah diajarkan dengan 5000 cara. Silahkan rujuk artikel tentang mengajarkan sholat dengan 5000 cara disini)
  2. Pelajaran tentang uang dimulai dengan pelajaran membuat anggaran atau budget tentang kebutuhannya, bisa harian atau mingguan terlebih dahulu.
  3. Uang diberikan sesuai budget yg diajukan dan dilaporkan setelah periode selesai. Proses pelaporan dan pertanggungjawaban ini sangaaaat penting membangun sikap jujur, amanah, dan memberantas mental korupsi sejak dini.
  4. Jika ternyata kurang, lakukan review dimana letak kekurangannya. Salah anggaran atau keliru dalam pengeluaran. Tidak apa-apa mengajarkan berulang-ulang. Sangat jarang kan manusia di dunia ini yang sekali belajar langsung piawai. Tidak usah mencela apalagi ngomel.
  5. Jika surplus atau sisa karena menghemat (bukan salah budgeting) maka sisanya dikembalikan dulu. Lalu kemudian sisa tersebut boleh diberikan kembali dan diambil sebagai hak milik anak. Nah, mulailah mengajarkan konsep menabung, dan yang ditabung betul-betul milik anak. Sumbernya benar, akadnya benar.
  6. Setelah lancar menyusun budget, spending dengan benar dan melaporkan dengan baik, strategi bisa diubah. Jika awalnya yang diserahkan sebagai hak hanya sisanya, sekarang boleh diserahkan sebagai hak sejak diberikan di depan. Boleh dilebihkan dari budget dan anak boleh menabung sebelum spending (bukan sekedar sisa, tetapi tabungan yang direncanakan) dan mulai bersedekah, boleh dari sisa setelah kebutuhan dasarnya terpenuhi, boleh disisihkan sejak awal. Dengan demikian anak belajar konsep yang benar dengan cara yang benar.
  7. Sedekah tidak harus berbentuk uang. Jika ingin mengajarkan anak bersedekah sejak dini ajarkan memberi senyuman, membagi mainan yang sudah diberikan kepadanya, membacakan cerita anak yang sakit di RS, mengangkat jemuran tetangga. Sedekah dengan sesuatu yang dimilikinya (secara hukum dunia karena dalam hukum akhirat tidak ada satupun yang kita miliki) Sehingga terasa upaya pelepasan hak dan keikhlasan melakukannya
  8. Di usia  menjelang baligh atau 12 tahun, anak sudah belajar untuk earn a living yaitu mempunyai penghasilan. Tidak harus tetap, tetapi dia tahu bagaimana menciptakan penghasilan. Ajak anak membuat anggaran bisnis, berikan modal atau kerjakan bersama-sama, misalnya salah satu alumni kami membuat pempek  dan pisang goreng di akhir minggu, lalu anaknya berjualan keliling kompleks. Bisa memberkan les. Banyak sekali alternatif yang bisa dieksplore. Ketika anak sudah ada penghasilan sendiri, tekankan tentang konsep sedekah dan keutamaannya.
  9. Konsep sedekah juga  diajarkan ketika anak dapat uang seasonal seperti angpao, uang lebaran, dan lain-lain

Dalam beberapa kasus, saya menemukan orang dewasa yang suka mengambil barang-barang yang bukan miliknya lalu diberikan kepada orang lain lagi (mungkin mengadaptasi kisah Robin Hoods :D), dan jika ditegur jawabannya “Ah dia udah ngga pakai kok, kan bagus aku membantunya sedekah”. Padahal saat memberikan tidak memberitahukan yang diberi itu milik siapa. Ada juga orang yang selalu menganggap sisa budget adalah miliknya atau keuntungannya, karena kebiasaan dari kecil. Seolah tidak memahami bahwa itu adalah korupsi. Ada lagi kasus orang yang sangat sulit membuat laporan keuangan meskipun sangat sederhana.

Jangan pernah mengajarkan pada anak bahwa mencari uang itu sulit, ajarkan kepada mereka bahwa rejeki Allah itu luas, dan kelak kita harus mempertanggungjawabkan, bagaimana cara kita mendapatkannya dan bagaimana kita mengeluarkannya sehingga menjadi harta yang barokah.

Bukankah kita telah dituntun, untuk tidak menyerahkan harta kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya? Dan kitalah yang wajib memenuhi kebutuhan mereka dan menjelaskan dengan kata-kata yang baik? (An Nissa :5)

Ajarkan bertahap sesuai tuntunan agar anak tidak melihat uang itu segalanya. Uang hanyalah alat tukar biasa, karena rizki Allah itu tidak hanya berupa uang. Jusru uang itu keciiil dan mudah, sedangkan rizki Allah itu luaaasss dan banyak.

Semoga Bermanfaat

Mempersiapkan Anak Puasa Ramadhan

img_3753-1.jpg

Ramadhan sudah dekat, tentu setiap orang tua menginginkan anak- anak taat pada Perintah Allah. Mungkin juga ada rasa bangga dan bahagia pada orang tua ketika anak-anaknya mudah diajak beribadah.

Namun ortu perlu hati-hati dengan ekspektasi pribadi juga ekspresi kebahagiaan yang ditunjukkan. Jangan sampai membuat anak jutru berpikir untuk berbohong demi hanya ingin melihat ortunya bangga.

Berikut ini langkah-langkah mempersiapkan anak belajar dan menjalani puasa

Sambut dengan antusias

Sambut Ramadhan dengan antusias, lebih antusias daripada membicarakan liburan atau hal-hal lain seperti ulang tahun jika anda biasa merayakannya. Mulai bercerita betapa menyenangkannnya berpuasa, apa pengaruh baiknya bagi diri, apa keuntungannya bagi Pre Frontal Cortex manusia dll

Pencatatan Progress

Ajak anak untuk menyepakati pencatatan progressnya. Misalnya dg membuat 29 kotak harian untuk evaluasi hari-hari puasa yang dijalani. Boleh-boleh saja membuat star board atau reward book. Hias sesuai minat anak, dan biarkan ia menentukan sendiri target pencapaiannya. Tekankan bukan banyaknya sticker atau star yang didapatkannya yang utama, tetapi kejujuran dan upayanya. Tidak perlu hadiah mahal, cukup pujian, pelukan, tepukan. Kalaupun ada hadiah berupa benda, jadikan sebagai bonus yang tidak dijanjikan sebelumnya. Rasa terlalu ingin hadiah itu mendorong anak berbohong untuk mendapatkannya

Praising Only

Karena levelnya masih belajar dan belum wajib maka yanga ada hanya apresisiasi, tidak ada teguran dan kritikan jangan pernah membandingkan seperti kalimat “ih malu, si A umurnya lebih muda dari kamu udah puasa” dll. Berhasil sampai maghrib maupun tidak tetap berikan apresiasi atas upayanya untuk berusaha

Persiapkan Perbedaan

Bagi anak-anak yang teman sekolahnya banyak yang berpuasa memang lebih mudah, tetapi bagi anak-anak yang jarang atau tidak ada temannya berpuasa, misalnya bersekolah di International School, tentu ada 2 upaya sekaligus, yaitu upaya puasa maupun upaya untuk tetap nyaman meskipun berbeda. Maka apresiasi juga upaya keduanya ya. Ajarkan anak untuk tidak mencela anak lain yang tidak berpuasa, sekaligus tidak merasa minder karena berbeda

Tidak Melanjutkan Puasa Yang Putus di Tengah Hari

Jika sudah berbuka atau terputus di tengah hari, jangan diteruskan lagi hingga waktu berbuka karena anda mengajarkan pesan yang keliru tentang berpuasa. Apalagi kalau ditambah greeting. “Alhamdulillah kuat ya nerusin sampai maghrib…” Ini jelas menginstall belief yang salah. Ekpektasi waktu makan yang tidak jelas target waktunya justru mengganggu sekresi enzim dan asam lambung. Jika sudah terputus pada hari itu ajak anak untuk memiliki target baru di hari berikutnya dengan menambah waktu puasa secara bertahap dan meningkat.

Kegiatan Asyik Yang Bermanfaat

Ajak anak berkegiatan yang menyenangkan di waktu-waktu genting seperti menjelang asar. Lakukan dengan gembira.

Tidak Membanding-bandingkan

Tidak usah bertanding dengan anak tetangga untuk pencapaiannya ya.. apalagi dengan wall FB sebelah 🙂

Lebih Dekat dan Bersyukur

Biasakan anak berkomunikasi dengan Allah, misalnya ketika berhasil sampai waktu yang ditargetkan, ajak anak bersyukur sudah diberi kekuatan. Jika belum berterimakasih juga sudah mempunyai kesempatan belajar dan mau belajar lagi, dll

Setiap manusia telah memiliki fitrah Iman dan kemampuan belajar hingga piawai.

Selamat menjaga fitrah anak..

#enlighteningparenting

A Parent’s Diary : Anakku Tamu Istimewa

Alhamdulillah..

Buku karya para alumni kelas Enlightening Parenting, kini telah memasuki cetakan kedua setelah cetakan pertamanya habis dalam waktu 10 hari.

Buku ini berisi kisah-kisah para alumni mengaplikasikan Enlightening Parenting yang kemudian membuat perubahan signifikan dalam pengasuhannya.

Buku ini adalah pasangan wajib dan ideal bagi buku the Secret of Enlightening Parenting . Mengasuh Pribadi Tangguh, Menjelang Generasi Gemilang. Karena buku ini tidak hanya berkisah tetapi juga menjelaskan tahap demi tahap cara mengaplikasikannya hingga berhasil

Artikel-artikel dalam buku ini tidak hanya ditulis oleh para ibu tetapi juga para ayah, sehingga pembaca mendapatkan perspektif yang utuh baik dari sisi ibu maupun ayag

Selamat menikmati buku yang luar biasa ini

Pemesanan dapat dilakukan melalui

Mas Edi : +6283818058374

Memuji dan Menegur Efektif

IMG_0014

Catherine Scott dalam bukunya Learn to Teach: Teach to Learn menyebutkan bahwa jika kita salah dalam memuji anak dan terjebak pada memberi label positif menyebabkan anak menjadi sombong, terlalu fokus pada hak, dan suka menyalahkan orang lain ketika mengalami kesulitan.

Lalu bagaimana caranya memuji yang benar?

  • Latih telinga, mata, dan rasa, untuk menjadi detektif kebaikan. Perhatikan anak Anda. Perhatikan saat ia melakukan kebaikan. Meski kecil, meski sangat sederhana. Meski itu hanya berupa senyuman saat Anda berbicara dengannya, mengucapkan doa setelah makan, bermain dengan saudaranya dengan akur, berangkat sekolah tanpa mengeluh, atau sekadar menutup keran air. Sering kali orangtua abai untuk memuji hal-hal kecil yang sehari-hari dilakukan anak, menganggap hal itu “sudah seharusnya”. Padahal bermula dari hal-hal kecil yang sudah baik inilah muncul dorongan untuk melakukan hal-hal baik lainnya yang sama atau lebih besar, jika dihargai.

 

Buatlah catatan kebaikan. Kebanyakan manusia menghapuskan semua catatan kebaikan seseorang dalam hatinya hanya karena satu saja keburukannya, dan tetap mengingat keburukannya meski telah banyak kebaikan yang dilakukannya. Catatan kebaikan memudahkan kita untuk semakin bersyukur terhadap hal-hal kecil. Bukankah dengan bersyukur akan semakin bertambah nikmat-Nya? Kebanyakan konflik dalam hu­bungan manusia (bukan hanya dengan anak) disebabkan kita sibuk menuntut orang lain begini dan begitu, mengeluhkan ini dan itu, tapi sangat sedikit bersyukur.

 

Berikut ini cara MEMUJI yang EFEKTIF:

  • Puji perilaku, usaha, dan sikapnya, bukan karakteristik orangnya.
  • Nyatakan konsekuensi positif dari perilaku itu.
  • Nyatakan dalam kalimat sederhana yang mudah dipa-hami.
  • Tanamkan keimanan untuk siapa/apa dia memelihara perilaku baik itu.

 

Memuji perilaku, usaha, dan sikap, membuat anak merasa yakin bahwa ia mempunyai kendali atas perilakunya. Perilaku adalah hasil usaha, bukan sesuatu yang melekat, bersifat genetik, dan tidak bisa diubah.

 

Menyatakan konsekuensi positif dari perilaku, usaha, dan sikap anak, berarti mengajarkan kepadanya untuk memahami sebab akibat dari sebuah perbuatan. Pilihlah konsekuensi yang kasat mata dan bukan berupa janji.

Pujian yang dinyatakan dengan kalimat sederhana memberikan pesan yang jelas, perilaku apa yang diharapkan dan tidak berlebihan.

Menanamkan keimanan menumbuhkan keyakinan bahwa perbuatan baiknya bukan sekadar untuk menyenangkan orang lain termasuk orangtuanya sendiri, tetapi sebagai bagian dari tujuan penciptaan manusia.

Contoh memuji yang efektif:

  • “Bagus sekali Kakak sudah meletakkan sepatu di rak sepulang sekolah, rumah kita jadi rapi, Allah suka pada keindahan.”
  • “Wah…kalian berdua bermain dengan akur dan berbagi. Mama bahagia kalian saling menghargai dan menya-yangi, Tuhan menyayangi orang yang menyayangi sesama.”

 

Contoh pujian yang tidak efektif:

  • “Duh…hebatnya anak ayah, paling keren seduniaJ. Sudah besar, pintar merapikan kamar. Jangan seperti kemarin­-kemarin ya, berantakan di mana-mana, sakit mata ayah melihatnya.”

 

Ada tiga kesalahan dalam pujian di atas:

  • Memuji karakteristik orangnya bukan perilakunya.
  • Diikuti dengan kritikan dan mengungkit kesalahan yang telah lalu.

 

Pujian yang diikuti kritikan atas perilaku yang sudah terjadi di masa lalu akan menjadikan pujian itu kehilangan arti. Memuji karakteristik orang, seperti pintar, cantik, hebat, sudah besar dan hal-hal lain yang sifatnya membentuk konsep, akan membingungkan karena sifat-sifat tersebut relatif. Ketika suatu saat nanti Anda dihadapkan pada kondisi yang berbeda, Anda akan terjebak dalam sikap yang tidak kongruen. Misalnya, ketika­ anak minta izin untuk menonton film yang bukan untuk usianya di malam hari bersama teman-temannya, Anda me-ngatakan, “Masih kecil kok nonton film remaja, malam-malam pula seperti anak nakal saja.” Lho, ketika memuji kamar yang rapi, Anda bilang dia sudah besar; mengapa ketika mau nonton film Anda katakan masih kecil? Jadi sebetulnya dia sudah besar atau masih kecil? Ketika memuji, Anda mengatakan ia anak hebat, sekarang Anda mencelanya seperti anak nakal. Kenapa tadi hebat dan keren sekarang jadi nakal? Bingung sendiri, kan?

 

Dweck (2006), seorang profesor bidang psikologi di Stanford University, dalam penelitiannya mengenai efek memuji, menemukan bahwa anak yang dipuji kepintarannya mudah frustrasi saat mengalami kegagalan dan tidak berani mengambil risiko. Anak-anak yang dipuji usaha dan perilakunya, cepat bangkit saat tidak berhasil menyelesaikan sebuah tugas dan mau berusaha lebih keras pada kesempatan berikutnya. Memuji dengan kata-kata yang berlebihan akan mendatang rasa sombong dan menjerumuskan, bahkan Rasulullah saw. mengumpamakan orang yang memuji berlebihan seperti memotong leher orang tersebut.

Kalau begitu, apakah tidak boleh menegur anak? Tentu boleh. Pada poin sebelumnya telah dijelaskan cara memuji­ yang efektif, berikut ini cara menegur yang efektif:

  • Tegur PERILAKU-nya bukan karakteristik orangnya.
  • Katakan secara tepat apa kesalahan perilakunya.
  • Katakan pada anak bahwa dia mampu membuat perubahan atau pernah bersikap lebih baik dari itu.
  • Tidak mengungkit kesalahan yang lalu.
  • Tetap cintai orangnya.

Contoh menegur yang efektif:

  • “Kak, karena kamu tidak menyiapkan buku sebelum tidur, PR-mu tertinggal. Selama ini ibu mengamati bahwa kamu akan ingat membawa PR-mu jika sebelum tidur tas sekolahmu sudah disiapkan. Artinya, kamu BISA lebih baik dari hari ini” (disertai senyuman dan tepukan di bahunya).

Contoh teguran yang lebay:

  • “Kak, tuh kan…PR-mu ketinggalan lagi, masih muda jangan pelupa dong. Makanya siapkan tas sekolah sebelum tidur. Ingat nggak…? Minggu lalu juga gini kan? Siapa coba yang repot? Ibu, kan…harus mengantar PR-mu ke sekolah. Besok-besok jangan malas dan jangan lupa siapkan ya” (rrrgghh…mengeluarkan suara lebah terbang, menggerutu keluar kamar, dan belum sampai di luar kamar sudah kembali lagi…) “Ingat lho ya, ibu nggak mau ngantar PR-mu lagi.”

 

 

Mencela sebagai pelupa, pemalas, akan melukai konsep dirinya dan membentuk konsep diri yang buruk, seolah tiada harapan untuk diperbaiki. Bukankah Tuhan tidak suka kepada orang yang suka mengutuk dan memberikan gelar buruk? Menegur perilakunya dan menunjukkan bukti bahwa ia pernah bisa melakukan yang lebih baik, memberikan keyakinan bahwa berubah itu mudah.

Screenshot

Sudahkah sesuaikah apa yang selama ini dilakukan?

*Disadur dari buku The Secret Of Enlightening Parenting

Edisi Revisi : The Secret of Enlightening Parenting

Print

 

Alhamdulillah, setelah cetakan sebelumnya sold out dan menjadi national best seller, kini hadir edisi revisi dari buku kami.

Apa saja perubahannya?

  • Materi dan teorinya bertambah 30%
  • Kisah-kisah inspiratifnya bertambah 6 kisah
  • Keterlibatan para ayah sebagai penulis semakin meningkat
  • Semakin mudah diaplikasikan dan terbukti efektif membuat perubahan yang lebih baik
  • Harga lebih terjangkau
  • Telah dilengkapi dengan buku Suplemen : A Parent’s Diary, Anakku Tamu Istimewa

Menasehati Pasangan

Tidak pernah habis pertanyaan tentang bagaimana cara menasehati pasangan sehingga bisa diterima dengan baik dan tidak membuat tersinggung. Untuk menjawab ini saya perlu merenung dalam-dalam, apa sih yang kami lakukan dulu sehingga urusan nasehat menasehati selancar ini. Pernah ngga sih kami dulu berkonflik soal menasehati? (Sampai sudah lupa)

Ini saya bahas berdua dengan my lovely Dedhot Ronny Gunarto untuk memformulasikan, lalu saya bahas lagi dengan mbak Dini Swastiana dan neng Melati M. Puteri yang mengamati situasi kami dari luar (observer biasanya punya sudut pandang yang justru tidak bisa kami lihat). Terimakasih sudah menjadi partner diskusi yang keren

Dari olahan itu kesimpulannya begini:

Bismillah..

1. Memilih pasangan yang memang punya tujuan hidup untuk taat dan cinta pada Tuhan itu sangat penting karena pasangan seperti ini sebetulnya tidak perlu dinasehati, tinggal diingatkan saja apakah perilakunya sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak.

2. Kalau sudah terlanjur dulu-dulunya salah pilih gimana dong? Yang disini sudah duluan insyaf yang disana belum misalnya 😀. Memulai lagi membangun visi bersama, jualan dulu dong, supaya visi kita dibeli. Susun strategi dan cara jualan yang cantik. Hitung-hitung menebus dosa masa lalu yang juga membuat kita dulu salah memilih

3. Menasehati itu bermula dari niat untuk bersama-sama menuju ketaatan dan ridho Alllah, bukan semata-mata nafsu ingin dituruti. Jika karena nafsu untuk dituruti, penolakan dari pasangan membuat kita marah, padahal seharusnya kita sedih karena pasangan sedang tidak berada di jalur yang benar. Rasa sedih membuat kita tetap semangat untuk menolong supaya nanti bisa bersama-sama di tempat terindah di hari akhir.

4. Menjadi contoh perilaku yang kita nasehatkan itu. Dan bersedia juga dinasehati. Walk the talk. Finally toh kita akan mempertanggungjawabkan masing-masing perbuatan kita

5. Respect. Lakukan dengan rasa hormat dan kesantunan. Jika Nabi Musa AS saja diperintahkan untuk menasehati Firaun dengan cara yang baik, masa sih pasangan kita tidak lebih baik dari Fir’aun.

6. Jika sampai no 5 belum ada perubahan dan perilakunya termasuk perilaku yang perlu dihukum. Maka ikuti tingkatan cara menegur istri yang diajarkan dalam An Nisa 34. Jika pihak yang perlu mendapat teguran keras adalah suami, sampaikan secara khidmat kepada pihak yang berhak menegur suami dengan tegas seperti ayah ibu atau walinya. Jika bentuknya perilaku kriminal laporkan kepada yang berwajib.

6. Hasil bukan milik kita. Hasil itu milik Tuhan, tugas manusia menggenapkan berikhtiar semaksimal mungkin, maka doa adalah bagian dari ikhtiar yang harus berjalan seiring. Do’a bukan cuma senjata pamungkas tetapi do’a adalah basic dari keseluruhan upaya.
Jadi jika konsep EP mendidik anak kita untuk Taat, minimal kita tidak membuat menantu kita kewalahan untuk memberi nasehat kelak bukan? 😊

Begitulah kira-kira jawaban untuk semua pertanyaan baik yang PM, IG maupun menanggapi status-status saya yang lalu tentang komunikasi dengan pasangan.

Semoga bermanfaat

Dealing With Sibling Rivalry

Bertengkar dengan saudara itu biasaaa…
Ah nanti kalau gede juga akur sendiri…..
Duh pussiiiing deh anakku berantem melulu…

Dikasih adek lagi saja, kalau jumlahnya ganjil kan jadi akur…

Anakku sekarang ngompol lagi sejak punya adek..

Si kakak itu kok aneh ya, adeknya ngga ngapa-ngapain dipukul..

Duh anakku yang tengah suka caper kalau ada tamu, ada saja kelakuanya…

Anakku yang kecil semena-mena pada kakaknya suka banting barang kakaknya

Begitulah kurang lebih keluhan dan komentar sebagian besar orang terhadap permasalahan pengasuhan akibat dari Sibling Rivalry.

Perdebatan dan pertengkaran antar saudara memang bisa menjadi salah satu cara belajar. Pertengkaran antar saudara yang bersifat permukaan, misalnya, beda pendapat atau selera atas sesuatu hal adalah pertengkaran yang normal. Pertengkaran yang bisa dijadikan ajang belajar menyelesaikan konflik dan perbedaan. Pertengkaran seperti ini biasanya ringan, berlangsung cepat, jarang terjadi dan mudah reda, hampir tidak ada saudara yang tidak pernah sekalipun bertengkar seumur hidup. Biasanya muncul sebagai akibat dari kondisi insidental.

Perdebatan dan pertengkaran antar saudara yang  berlangsung terus menerus, dengan berbagai sebab, sebagai akibat dari rasa cemburu atau merasa diperlakukan tidak adil, adalah permasalahan pengasuhan yang perlu diselesaikan. Dari berbagai penelitian yang dilakukan sejak tahun 1994 hingga 2014 di US,  banyak kasus sibling rivalry yang berubah bentuk menjadi sibling abuse baik secara fisik, psikis maupun seksual. Berawal dari sibling rivalry juga muncul berbagai gangguan psikologis seperti trauma, depresi, gangguan kecemasan, rasa rendah diri, rasa superior dalam pergaulan, suka mengambil milik orang, kebiasaan mengumpat dan lain-lain.

Sebagian kasus sibling rivalry tidak mewujud dalam bentuk pertengkaran, terutama pada type pengasuhan otoriter, tetapi mengakar menjadi persaingan internal, love-hate relationship yang tidak terselesaikan atau kasus-kasus kemunduran perkembangan, seperti kembali ngompol, menghisap jempol, cadel dan perilaku-perilaku lain dengan intensi menarik perhatian.

Rasa cemburu yang menghasilkan persaingan baik tampak maupun tidak,  ada yang bermula sejak sebelum kelahiran anak berikutnya, ada yang merupakan efek dari pengasuhan dan sikap orang tua yang dianggap tidak adil selama proses tumbuh kembang anak. Kecemburuan tidak selalu terjadi pada sang kakak tetapi juga pada adik,

“Ah… aneh dong, sama saudara kok cemburu, harusnya kan sayang, gimana sihh…” kurang lebih kalimat itu barangkali yang muncul di pikiran orang dewasa.

Waduh, begini deh… anak-anak belum paham konsep bersaudara, mereka bukan orang dewasa yang dikecilkan, konsep bersaudara meteka fahami dari proses belajar. Bayangkan saja,  jika anda sedang cinta-cintanya dengan seseorang, sedang menikmati proses interaksi yang membahagiakan, menjadi the one and only yang mendapat curahan perhatian, tiba-tiba pasangan anda itu tanpa permisi menikah lagi dan membawa ‘pesaing’ anda itu ke rumah anda dengan pelukan mesra, ..

How do you feel? Sad? So, why you didn’t try to understand their feeling?  (bagi yang pernah menonton video anak saya menjelaskan tentang handling bullies, membacanya dengan nada seperti itu ya.. :D)

So.. yuk, serius dalam menangani kondisi sibling rivalry…

Berikut ini adalah hal-hal  yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mencegah terjadinya Harmful Sibling Rivalry :

  1. Persiapkan anak menerima anggota baru dalam keluarga. Idealnya saat merencanakan kehamilan berikutnya, kalaupun sudah terlanjur ya lakukan saat kehamilan.
    • Ceritakan situasi interaksi yang mungkin terjadi. Jangan PHP dengan mengatakan punya adik pasti menyenangkan, bisa selalu bermain, saling menyayangi pokoknya asyik. Ceritakan secara terbuka dan seimbang keasyikan dan tantangannya bahwa bayi berbeda dengan toddler,  seperti misalnya : bayi perlu menyusu dan jika menyusu tentu perlu dipegangi bunda, apa peran dia nanti saat adik menyusu. Memegang adik bukan berarti tidak sayang pada kakak dan kakak bisa juga minta dipeluk setelah selesai menyusui. Anak usia 1-2 tahun mungkin suka menarik barang karena ingin tahu, pengaturan jadwal tidur dengan kakak jika kakak masih tidur dengan ortu dll. Lakukan role playing, kakak menjadi adik atau ayah-ibu menjadi adik. Anda punya waktu 7-9 bulan untuk bermain peran, bayangkan berapa banyak scene peran yang bisa dimainkan bukan? Mainkan dengan ceria.
    • Libatkan kakak dalam persiapan kelahiran adik seperti memilih barang, bahkan memilih nama.
    • Ceritakan proses tumbuh kembangnya, seperti menunjukkan hasil USG
    • Tidak bersikap berlebihan, tidak perlu excited berlebihan untuk menyambut adik dan tidak perlu menumpahkan kasih sayang berlebihan ke kakak karena takut nanti tidak bisa bersikap adil. Biasakan memiliki sikap tenang, tranquil, sakinah.
  2. Siapkan waktu “Aku hanya untukmu” setelah kelahiran adik
    • Melahirkan memang proses yang melelahkan apalagi memiliki bayi, tetapi meluangkan waktu minimal 30 menit untuk ayah dan ibu menjadi milik kakak sepenuhnya, bergantian minimal 1 x sehari setiap hari sangat penting. Dalam 30 menit itu jadilah milik kakak sepenuhnya, tidak sambil melakukan hal lain misalnya sambil mengemudi, sambil pegang hp, sambil menyusui dan sambil-sambil lainnya. 30 menit yang insyaaAllah akan menjadikan anak-anak anda terjaga fitrah baiknya hingga dewasa.
    • Bagaimana kalau kakaknya 4? Lakukan bergantian minimal 2 hari sekali. 1 jam sehari istimewa untuk tiap 2 anak tidak banyak kan? Jika 1 jam pun tidak mampu, jangan-jangan kita tidak sungguh-sungguh menjalankan assignment Allah dengan amanah. Kerjasama suami istri sangat penting,  terutama peran ayah. Bukankah kelak anak-anak ini akan dipanggil bersama dengan nama ayahnya? Wah.. suami saya tidak mau, hmm… mungkin perlu sering-sering membaca pentingnya peran ayah di kitab suci masing-masing. Di Al Qur’an paling tidak ada 14 ayat yang menunjukkan pentingnya peran ayah. Atau mendengarkan sessi peran Ayah dari Pak Sutedja  dan Pak Krisnawan di kelas Enlightening Parenting 🙂
  3. Ajarkan cara menyentuh dengan benar, terutama jika si kakak masih balita, bisa jadi sensori-motoriknya belum matang sehingga belum tahu kekuatan tangannya saat menyentuh dan memeluk. Kadang-kadang ortu berprasangka kakak menyakiti adik padahal memang belum mampu meregulasi sensori-motoriknya. Apresiasi saat melakukan dengan benar dan latih lagi ketika salah.
  4. Tidak membebani kakak dengan tugas menjaga adik melebihi kemampuannya. Rentang perhatian anak dibawah 2 tahun hanya 5-10 menit dan dibawah 7 tahun hanyalah 20-30 menit, dan semakin meningkat hingga sekitar 45 menit di usia baligh. Meminta anak dibawa 7 tahun menjaga adik sementara anda menyelesaikan tumpukan setrikaan hanya akan menghasilkan rasa frustrasi pada anak.
  5. Menjadi detektif kebaikan. Seringlah memuji interaksi kakak dan adek meskipun hanya sekedar saling tersenyum atau duduk bersama dengan pujian efektif yaitu memuji perilakunya, bukan orangnya.
  6. Tidak membanding-bandingkan. DON’T COMPARE. Sampai saya tulis dengan huruf besar artinya ini pentiiing sekali
    • “Wah adek sudah bisa begini ya, kakak dulu belum bisa lho..  Coba deh kayak adek.. ” atau sebaliknya “Adek kok ngga seperti kakak, dulu kakak itu…”
    • Jika terdapat perbedaan pencapaian antara adik dan kakak, evaluasi diri sendiri, apa yang kita lakukan berbeda sebagai orang tua dan kondisi bawaan yang berbeda pada anak seperti kondisi mata, kekuatan otot, perkembangan syaraf dan lain-lain
    • Tidak ada orang tua yang membesarkan anak dengan cara yang persis sama. Kondisi ekonomi, kematangan emosi, interaksi kejadian-kejadian dalam kehidupan yang berbeda sejak kehamilan dan saat anak bertumbuh memberikan stimulus yang berbeda meskipun orang tuanya sama.
    • Kembangkan budaya kolaborasi dalam keluarga, bukan budaya kompetisi
    • Edukasi juga orang-orang di sekitar anda agar mempunyai pemahaman yang sama
  7. Jadilah mediator bukan wasit. Ketika terjadi pertengkaran, tugas anda bukan menentukan siapa yang benar siapa yang salah. Tetapi apa yang perlu diperbaiki dari masing-masing pihak. Mungkin cara adik meminta perlu dilatih lagi begitu juga cara kakak merespon ketika adik meminta dengan cara yang tidak menyenangkan. Sepakati aturan dan latih dengan briefing dan role playing. Bagaimana melakukan briefing dan role playing yang benar bisa dibaca di buku Enlightening Parenting. Tidak boleh menyuruh salah satu pihak “mengalah” . Siapapun yang melanggar kesepakatan harus disebutkan. Kakak melanggar kesepakatan yang A, adik melanggar yang B. Pertengkaran hampir tidak mungkin hanya karena pelanggaran dari salah 1 pihak saja.
  8. Jangan memaksa anak untuk berbagi maupun minta maaf. Jika sebuah benda ketika anda berikan kepada salah satu anak dan akadnya adalah miliknya, maka dia berhak untuk tidak berbagi. Sampaikan kepada anak yang lain ini milik si A dan minta ijin untuk menggunakannya. si A berhak menentukan kapan dia akan berbagi atau tidak. Jika ada anak yang usianya masih dibawah 3 tahun, buat aturan, jika barang itu penting, maka A harus menyimpannya di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh adiknya yang berusia dibawah 3 th. Jika dia sembarangan meletakkan dan terambil oleh adiknya, maka adalah kesalahannya sendiri. Bagaimana jika semua dibawah 3 tahun? Maka tidak ada kepemilikan, siapa yang duluan pegang yang berikutnya ingin harus minta ijin. Jika terlihat tanda-tanda salah satu anak akan melakukan serangan segera ambil dan alihkan perhatian. Repot? Ya jelas… Oleh karena itulah mengatur jarak kelahiran itu penting. Jangan memaksa anak minta maaf saat masih ada sisa emosi. Tenangkan dulu. Review. Jeda waktu baru minta maaf
  9. Perhatikan cara anda berkomunikasi dengan pasangan. Jika komunikasi anda dengan pasangan sering bernada tinggi, nyolot, berdebat, saling meledek atau mengkritik, anak akan melakukan hal yang kurang lebih sama kepada saudaranya. Anak adalah peniru ulung. Komunikasi yang santun dan saling menghormati dengan pasangan juga akan ditiru anak sehingga menjadi pola dalam keluarga.
  10. Selalu do’akan kebaikan untuk mereka dengan penuh rasa cinta

Lalu bagaimana jika sudah terlanjur? Pertengkaran, kemunduran perkembangan dan tanda-tanda lain sudah terjadi.

Yang pertama dan utama adalah, mengakui kesalahan dan kekurangan diri lalu meminta maaf kepada anak atas kekeliruan anda selama ini. Meminta maaf tanpa tapi. Meminta maaf dengan segenap ketulusan hati. Termasuk meminta ampunan dari Pemilik Diri dan buah hati. Lalu segera lakukan poin 2 sampai 7 di atas secara konsisten dan kongruen. Lalu perhatikan hasilnya dalam 2-3 bulan, InsyaaAllah anda akan terkejut, betapa luar biasanya fitrah anak-anak kita.

Sibling without Rivalry is Sibling with Harmony..

MEMPERSIAPKAN ANAK KE MASJID

Ramadhan segera tiba, mungkin akan muncul lagi diskusi soal masjid ramah anak dan bagaimana membawa anak ke masjid, si anak yang harus tertib atau seluruh jamaah yang harus maklum.
Mengakrabkan anak terutama anak lelaki dengan masjid memang sangat penting, tetapi tentu ada caranya, ada adabnya, bukan sekedar modal..

” Ah.. nanti juga ngerti sendiri, namanya juga anak-anak.”

Bagi anak-anak, pergi ke masjid, pergi ke supermarket, pergi ke arisan keluarga atau ke tempat manapun dimana dia diharapkan berperilaku tertentu, sama menegangkannya seperti anda mau tampil di depan Gubernur.

Jika anda akan tampil paduan suara di depan Gubernur, kira-kira perlu berapa kali latihan? Ada gladi kotor? Gladi bersih?
Anak-anak bukan orang dewasa yang dikecilkan, maka ia perlu berlatih menghadapi situasi baru.

Bagaimana caranya? Mari optimalkan ikhtiar di pihak kita, bukan mengharapkan semua orang berubah sesuai maunya kita.
1. Lakukan briefing : Apa yang harus dilakukan di masjid, berapa lama waktunya (bawa timer digital jika sudah mulai mengenalkan tentang waktu), apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang boleh ia bawa jika ternyata sholat belum selesai dan ia lelah
2. Lakukan role playing di rumah : lakukan beberapa skenario, suasana ketika sedang sholat, suasana jika ada khutbah, anda berperan sebagai ortu, sebagai jamaah lain (jamaah ramah, jamaah galak, dll)
3. Mulailah dari waktu sholat yang pendek. misalnya sholat subuh atau maghrib (jangan tiba-tiba diajak tarawih yang waktunya panjang). Evaluasi hasilnya, mana yang perlu diperbaiki dan dilatih lagi
4. Ingat bahwa rentang perhatian anak masih terbatas, bagi anak balita mampu bertahan dalam kegiatan yang sama 20 menit itu sudah prestasi gemilang. mendekati 7 tahun hingga 10 tahun, maksimal 40 menit itu sudah luar biasaaa.. apalagi jika kegiatan itu dianggap kurang menarik
5. Tempatkan anak di posisi dekat dinding sebelah anda agar jika ia meninggalkan shaf tidak membuat shaf anda terputus
6. Secara sopan minta ijin dan minta maaf terlebih dahulu kepada jamaah di sekeliling anda jika nanti ada kondisi yang mungkin tidak mereka sukai (ini sekaligus menjadi contoh bagi anak tentang sopan santun dengan menghormati hak orang lain).
Semua persiapan ini sangat penting bukan sekedar agar orang lain tidak terganggu, tetapi juga mencegah anak mengalami perlakukan tidak menyenangkan di tempat yang seharusnya kelak ia cintai ini. Karena pengalama traumatis di usia dini, membekas cukup panjang dan dalam. Mungkin anak tidak ingat peristiwanya tetapi bisa jadi masjid menjadi anchor perasaan tidak nyaman bagi anak,
Usia berapa sebaiknya dimulai? Sejak anak sudah bisa memahami briefing dan role playing sederhana. Setiap anak berbeda-beda, ada anak salah satu alumni kelas kami yang usianya baru 1.5 tahun sudah faham, ada yang 4 tahun, ada yang 7 tahun, tergantung pola komunikasi dan kebiasaan di rumah anda. Anak yang memiliki kedekatan yang baik dan biasa diperlakukan respectful insyaaAllah memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik.
Jika dirasa bermanfaat silahkan dibagikan

 

%d bloggers like this: