Memilih Sekolah Dasar

Sekolah dasar, seperti namanya, akan menjadi kancah yang memberikan  contoh dasar bagi perilaku di luar rumah bagi anak. Anak akan tinggal di sekolah paling tidak 5 jam setiap hari.  Di kancah ini anak akan melihat interaksi antar anak sebaya, interaksi antara orang dewasa dan anak-anak, juga interaksi antar orang dewasa. Lima jam bukan waktu yang sebentar, sedangkan kita semua tahu bahwa manusia belajar dengan cara meniru dan anak-anak adalah peniru ulung. Sekolah menjadi tempat bagi anak-anak untuk membentuk pola perilaku, mewujudkan potensi menjadi kompetensi, mengintenalisasi nilai-nilai, identitas diri, bahkan mungkin juga spiritual yang paling besar pengaruhnya setelah keluarga.

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih sekolah terutama Sekolah Dasar.

1. Perhatikan perilaku (akhlaq) guru-gurunya.

Cara bicaranya, nada suaranya, pilihan kata-katanya, ekspresi wajahnya. Sediakan waktu untuk melakukan observasi menyeluruh. Jika biasanya sekolah melakukan observasi terhadap anak dan orang tua sebelum diterima, maka orang tua juga perlu melakukan hal yang sama. Para guru inilah yang nanti akan menjadi contoh yang ditiru oleh anak-anak. Seperti pesan ibu Imam Malik ketika beliau berangkat menuntut ilmu. “Pelajari adabnya, sebelum engkau pelajari ilmunya”

2. Perhatikan ekspresi dan para murid

Bagaimana perilaku anak-anak yang usianya sudah atau mendekati puber (baligh) (kelas 5-6). Inilah produk dari sekolah itu (dan keluarganya tentu). Bagaimana interaksinya dengan sesama teman, kata-kata yang keluar dan ekspresinya.

Bagaimana ekpresi rata-rata anak-anak di kelas awal (kelas 1-2). Apakah memancarkan rasa bahagia atau tidak.

3. Perhatikan karya-karya yang ditempel di sana-sini

Apakah karya anak-anak atau hiasan keluaran percetakan. Apakah nama yang muncul itu-itu saja atau bervariasi. Jika hanya mana yang itu-itu saja, kemungkinan aroma kompetisi antar individu di sekolah itu cukup kental.

4. Sekolah inklusi

Pilihlah sekolah inklusi yang memang siap untuk memberi ruang belajar untuk anak berkebutuhan khusus. Yang disebut berkebutuhan khusus tentu harus ditegakkan melalui diagnosis ahli tumbuh kembang, bukan hasil perkiraan dari ortu maupun guru.

5. Pelajari peraturan sekolah dengan seksama.

Aturan tentang kedisplinan, penanganan bullying, forum komunikasi ortu dan sekolah dan lain-lain.  Tanyakan sejarah penanganan kasus-kasus dan konsistensi dari penegakan aturan tersebut.

Banyak sekolah yang tidak memiliki aturan tertulis, alih-alih mengkritisi  ortu bisa ikut membantu membuatkan desain aturan yang sesuai dan tidak bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi. Membuatkan prosedur-prosedur dan tata laksana yang mudah diterapkan dan menarik. Kerjasama ortu dan sekolah sangat penting, bukan saling menuntut tetapi saling mendukung.

Sekolah juga perlu memiliki aturan yang tegas mengenai waktu dan tatacara komunikasi ortu kepada guru. Ortu juga tidak boleh semena-mena menghubungi guru malam-malam hanya untuk menanyakan PR misalnya.

6. Cari sekolah yang satu Visi dengan anda.

Tentu sebelum menemukan sekolah yang satu visi, orang tua perlu memiliki visi keluarga terlebih dahulu.

Jika anda menganut pedoman bahwa hidup bukanlah berkompetisi untuk mengalahkan orang lain, tetapi meningkat dan kolaborasi yaitu capaian seorang anak secara individual perlu meningkat dibandingkan dengan apa yang sudah dicapai sebelumnya, maka pilih sekolah yang tidak ada metode rangking. Perhatikan bagaimana laporan hasil pembelajaran disajikan.

Perhatikan aturan penggunaan teknologi seperti internet di sekolah. Sesuaikan dengan aturan anda di rumah. Jika berinteraksi dengan komputer apakah ada intranet yang sudah disediakan oleh sekolah atau langsung bebas berselancar di internet. Jika menggunakan media yang tersedia di internet, apakah guru atau orang tua yang mencari, atau anak disuruh mencari sendiri. Jika anda concern dengan hal-hal seperti ini. tanyakan langsung sejak awal agar tidak terjadi pertentangan values atau nilai-nilai yang anda tanamkan di rumah dan di sekolah.

Lalu, bagaimana jika tidak ada yang seVisi? Ya diajari sendiri di rumah.. Siap?

Mengajari sendiri jauh lebih baik daripada ortu sibuk “meludah” di sumur sumber ilmu tempat belajar anak-anak kita. 

Apa maksudnya kalimat diatas? Di luar sana banyak ortu sibuk mengkritisi tanpa solusi, mengeluh dan mengatai-ngatai sekolah tempat anaknya.  “Gimana sih ini sekolah nggak bener, payah, parah dsb dsb”. Ibarat meludah di air sumur yang kita harapkan akan memberikan sumber ilmu yang sehat dan barokah bagi anak-anak yang dititipkan untuk belajar darinya. Maka jika ada yang perlu diperbaiki dari sekolah, mari bersama-sama ditingkatkan. Dikerjakan bersama, bersama mencari ahlinya, didanai bersama dan diimplementasikan dengan konsisten dan kongruen.

Bismillah.. Selamat memilih sekolah….

Melatih Anak Tidur Sendiri Tanpa Frustrasi

Banyak orangtua kesulitan melatih anak tidur sendiri karena sejak awal sudah keliru dalam membiasakan tidur. Pada saat masa menyusui bayi memang amat sangat disarankan untuk tidur sekamar dengan orangtuanya. Baik itu setempat tidur atau di tempat tidur terpisah. Namun jika setempat tidur pastikan jarak cukup aman, atau bisa menggunakan keranjang kain agar terhindar dari  resiko SID (suddent infant death) syndrom karena tertimpa, terjepit tangan, hidung tertutup bantal dan lain-lain.

Mengapa sangat dianjurkan sekamar? Agar kebutuhan ASI terpenuhi dengan optimal, ibu dan ayah bisa bergantian mengambil dan mengembalikan bayi ke tempat tidurnya dengan mudah tanpa harus jauh-jauh ke kamar lain dan ketika anak terbangun untuk minum ASI segera terdengar oleh orangtuanya. Jarak yang dekat, rasa aman dan kebutuhan yang segera dicukupi juga tidak memicu terproduksinya hormon stress yaitu kortisol (JJ. McKenna, 2005 & M. Sunderland, 2016). Sebetulnya anak yang tenang dan nyaman akan bisa terlelap lagi sendiri saat bangun ringan bukan karena haus atau basah tetapi orang tua punya kecenderungan menepuk-nepuk agar cepat lelap kembali. Tepukan ini akhirnya menjadi syarat untuk tidur (disebut conditional kalau menggunakan bahasa Pak Pavlov atau anchor kalau kata om Bandler), padahal sebetulnya tidak harus demikian. Dr Harvey Karp justru menganjurkan dibedong atau swaddled (silahkan buka video tutorialnya) untuk membantu anak mendapatkan rasa nyaman.

Setelah anak tidak lagi disusui (2 tahun), biasakan untuk tidak menunggui anak sampai jatuh tertidur meskipun lokasi tidur masih sekamar dan usahakan sudah beda tempat tidur. Orang tua boleh saja membacakan cerita sebelum tidur, membiasakan cuci otak-cuci hati yaitu mensyukuri semua yang terjadi hari ini dan memaafkan semua yang dianggap tidak menyenangkan, memijat atau bersenandung lembut bersama dan lain-lain, tetapi anak bisa menjalani proses terlelap sendiri. Biasanya proses ini tidak akan mengalami kesulitan berarti jika proses awal tadi sudah benar.

Melatih anak tidur sendiri itu yang utama adalah kemampuan anak terlelap sendiri dan mampu kembali tidur saat terbangun di malam hari.

Ah tapi kan malaas mbak, mesti bangun lagi setelah tidur-tiduran sama anak, enakan kan langsung aja ikut tidur, toh masih sekamar ini.  Maka jika merujuk kembali ke buku Enlightening Parenting, salah satu kesalahan terbesar dalam pengasuhan bagian h, yang saya sebutkan sampai 5 kali adalah M-A-L-A-S.

Setelah anak terbiasa tidak menyusu dan bisa terlelap sendiri, baru kemudian persiapkan kamar lain bersama-sama dengan penuh kegembiraan dan rayakan kepindahan ke kamarnya sendiri sebagai sebuah prestasi gilang gemilang. Pindah kamar ini bisa dilakukan di usia 3 tahun ke atas tetapi selambat-lambatnya 7 tahun.

Jika anak belum mampu terlelap sendiri, lalu proses melatih tidur sendiri dimulai  dengan langsung ujug-ujug pindah lokasi ke kamar sendiri, dikelonin sampai tidur lalu ditinggal. Maka, saudara-saudaraa… yang  terjadi adalah…. anak tiap malam ngungsi ke kamar orang tuanya saat terbangun . Kalau dilarang ngungsi, karena kondisi bangun setengah sadar, maka anak nangis kejeer. Ortu ngamuk, malam rungsing, pagi bangun seperti zombie. Siapa yang mengalami, angkat tangaan ☝😁

Tapiii.. tapiii kalau udah terlanjur sering ditemani sampai tidur di tempat tidur yang sama pula, bagaimana dooong, kan waktu tidak bisa diputar kembalii… hedeeuh, ada aja ya pertanyaannya 😀

Kalau sudah terlanjur, saat melatih anak tidur sendiri lakukan urutan seperti berikut

  1. SEPAKATI. Buatlah kesepakatan bahwa ayah/ibu akan  melakukan ritual kegiatan bersama anak sebelum tidur dan anak juga melatih diri terlelap sendiri sehingga kemampuan anak  untuk menenangkan dirinya sendiri semakin baik. Lakukan latihan, pura-pura jam tidur lalu anak ditemani sebentar dan latihan terlelap sendiri, latihan pura-pura bangun malam lalu bisa menenangkan diri sendiri dan lelap lagi. Lalukan latihan dg gembira seolah memang latihan spt ini kereen sekalee.
  2. TEMPAT TIDUR SENDIRI. Pisahkan tempat tidur meski di kamar yang sama. Ngga cukup? Ya ganti pakai 2 kasur yang lebih kecil.
  3. KONSISTEN. Tidak ada cheating day sampai menjadi kebiasaan. Meskipun ayah-ibu yang kadang kangen dan cari gara-gara :D. Ini akan merusak kesepakatan. Dan setiap anak pindah tempat tidur, kembalikan lagi sesuai kesepakatan. Anak fitrahnya tidak suka melanggar kesepakatan kecuali ortunya tukang melanggar.
  4. PERSIAPKAN KAMAR SENDIRI BERSAMA. “Sayang sekarang kamu sudah bisa terlelap sendiri dan bisa manage your self untuk tidur lagi saat bangun artinya kamu sudah layak mendapat bintang eh.. maksudnya mendapat kamar sendiri”…  Lalukan framing, tidur di kamar sendiri itu kereennya luar biasaah. Ritual berkegiatan yang menenangkan sebelum tidur masih bisa dilakukan,  tapi ingat jangan ikut ketiduran di kamar anak 😂. Manfaatkan waktu ini utk memberi nasehat dg cara yg asik, memasukkan value, mengambil hikmah dan cuci otak cuci hati

Bagi yang beragama islam mulai berlakukan adab mengetuk pintu kamar ayah-ibu di 3 waktu yang diperintahkan dalam Surat An-Nur ayat 58 dan 59 ya. Waktu-waktu apa sajakah itu? Silahkan dicari sendiri ya, agar saya tidak melakukan kesalahan pengasuhan menyuapi solusi 😀  😀

Selamat melatih kemandirian anak dengan bahagia..

Enlightening Parenting

Mengajarkan Anak Mengelola Keuangan

Kebetulan pagi tadi saya mendapat pertanyaan dari alumni tentang kapan mengajarkan anak mengelola uang. Karena sudah typing cukup panjang di group, saya pikir lumayan juga bisa jadi artikel.
Seringkali orang tua rancu antara mengajarkan mengelola keuangan dan mengajarkan hidup sederhana. Dua hal yang berkaitan memang, tetapi sebetulnya strategi mengajarkannya berbeda.
Kadang-kadang anak diberi uang untuk ditabung atau disuruh sedekah, malahan ada sekolah yang menganjurkan infak harian. Maksudnya mau mengajarkan hidup hemat dan ikhlas dalam sedekah. Padahal mari kita cermati dulu, akadnya dengan anak bagaimana?
“Nak, ini uang buat ditabung ya” , “Nak ini uang untuk sedekah”. Lho ini mengajarkan anak hidup hemat dan ikhlas bersedekah atau sekedar mengajarkan anak menuruti perintah?
Padahal itu uang siapa? Uang anak atau uang ortu? Yang nabung siapa yang sedekah siapa? Bukankah itu berarti anak menabung uang ortunya dan sedekah dari yang bukan miliknya? Lalu dimana letak penghematannya? Darimana muncul rasa ikhlasnya?

MENGAJARKAN HIDUP SESUAI KEBUTUHAN

Jika ingin mengajarkan anak tentang kesederhanaan, ajarkan bukan tentang nominal uang, tetapi bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan. Belajar hidup sederhana artinya anak tahu apa yang dibutuhkan bukan sekedar diinginkan, kriterianya apa, dibeli atau dibuat sendiri, jika perlu membeli sesuaikan antara kriteria dan harga.
Apabila hal yang diminta hanya sekedar keinginan apakah boleh? Tergantung value keluarga anda masing-masing, seberapa jauh sebuah keinginan dituruti dan pada situasi seperti apa. Lagi-lagi, sangat penting bagi sebuah keluarga memiliki values yang jelas dan disepakati. Sebagai contoh di rumah kami, saya tidak bisa sembarangan mengganti laptop. Anak pertama yang mempunyai pengetahuan tentang komputer akan membantu saya menganalisa, apa kriteria yang saya perlukan, apakah perlu beli atau bisa upgrade. Jika membeli apa saja merk yang sesuai. Sesuai kebutuhan tidak selalu murah.

JAJAN, PINTU TERBUKANYA KESALAHAN PENGATURAN KEUANGAN

Anak sebaiknya tidak dibiasakan jajan cemilan. Jajan bukanlah kegiatan harian. Jajan hanya dilakukan di waktu-waktu tertentu yang disepakati misalnya saat nonton di cinema, dalam perjalanan jauh, ada acara khusus dan lain-lain. Disamping sangat bermanfaat untuk membudayakan makan makanan sehat, juga tidak membiasakan anak mengumbar keinginan.

PENGATURAN KEUANGAN

  1. Anak mulai diajarkan tentang uang sebaiknya mendekati usia 10 tahun, yaitu usia dimana anak sudah harus paham tentang kewajiban, konsekuensi, berpikir prediktif dan pengambilan keputusan yang cukup matang (tidak heran mengapa 10 tahun anak boleh diperingatkan dengan keras jika masih menolak sholat meski sudah diajarkan dengan 5000 cara. Silahkan rujuk artikel tentang mengajarkan sholat dengan 5000 cara disini)
  2. Pelajaran tentang uang dimulai dengan pelajaran membuat anggaran atau budget tentang kebutuhannya, bisa harian atau mingguan terlebih dahulu.
  3. Uang diberikan sesuai budget yg diajukan dan dilaporkan setelah periode selesai. Proses pelaporan dan pertanggungjawaban ini sangaaaat penting membangun sikap jujur, amanah, dan memberantas mental korupsi sejak dini.
  4. Jika ternyata kurang, lakukan review dimana letak kekurangannya. Salah anggaran atau keliru dalam pengeluaran. Tidak apa-apa mengajarkan berulang-ulang. Sangat jarang kan manusia di dunia ini yang sekali belajar langsung piawai. Tidak usah mencela apalagi ngomel.
  5. Jika surplus atau sisa karena menghemat (bukan salah budgeting) maka sisanya dikembalikan dulu. Lalu kemudian sisa tersebut boleh diberikan kembali dan diambil sebagai hak milik anak. Nah, mulailah mengajarkan konsep menabung, dan yang ditabung betul-betul milik anak. Sumbernya benar, akadnya benar.
  6. Setelah lancar menyusun budget, spending dengan benar dan melaporkan dengan baik, strategi bisa diubah. Jika awalnya yang diserahkan sebagai hak hanya sisanya, sekarang boleh diserahkan sebagai hak sejak diberikan di depan. Boleh dilebihkan dari budget dan anak boleh menabung sebelum spending (bukan sekedar sisa, tetapi tabungan yang direncanakan) dan mulai bersedekah, boleh dari sisa setelah kebutuhan dasarnya terpenuhi, boleh disisihkan sejak awal. Dengan demikian anak belajar konsep yang benar dengan cara yang benar.
  7. Sedekah tidak harus berbentuk uang. Jika ingin mengajarkan anak bersedekah sejak dini ajarkan memberi senyuman, membagi mainan yang sudah diberikan kepadanya, membacakan cerita anak yang sakit di RS, mengangkat jemuran tetangga. Sedekah dengan sesuatu yang dimilikinya (secara hukum dunia karena dalam hukum akhirat tidak ada satupun yang kita miliki) Sehingga terasa upaya pelepasan hak dan keikhlasan melakukannya
  8. Di usia  menjelang baligh atau 12 tahun, anak sudah belajar untuk earn a living yaitu mempunyai penghasilan. Tidak harus tetap, tetapi dia tahu bagaimana menciptakan penghasilan. Ajak anak membuat anggaran bisnis, berikan modal atau kerjakan bersama-sama, misalnya salah satu alumni kami membuat pempek  dan pisang goreng di akhir minggu, lalu anaknya berjualan keliling kompleks. Bisa memberkan les. Banyak sekali alternatif yang bisa dieksplore. Ketika anak sudah ada penghasilan sendiri, tekankan tentang konsep sedekah dan keutamaannya.
  9. Konsep sedekah juga  diajarkan ketika anak dapat uang seasonal seperti angpao, uang lebaran, dan lain-lain

Dalam beberapa kasus, saya menemukan orang dewasa yang suka mengambil barang-barang yang bukan miliknya lalu diberikan kepada orang lain lagi (mungkin mengadaptasi kisah Robin Hoods :D), dan jika ditegur jawabannya “Ah dia udah ngga pakai kok, kan bagus aku membantunya sedekah”. Padahal saat memberikan tidak memberitahukan yang diberi itu milik siapa. Ada juga orang yang selalu menganggap sisa budget adalah miliknya atau keuntungannya, karena kebiasaan dari kecil. Seolah tidak memahami bahwa itu adalah korupsi. Ada lagi kasus orang yang sangat sulit membuat laporan keuangan meskipun sangat sederhana.

Jangan pernah mengajarkan pada anak bahwa mencari uang itu sulit, ajarkan kepada mereka bahwa rejeki Allah itu luas, dan kelak kita harus mempertanggungjawabkan, bagaimana cara kita mendapatkannya dan bagaimana kita mengeluarkannya sehingga menjadi harta yang barokah.

Bukankah kita telah dituntun, untuk tidak menyerahkan harta kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya? Dan kitalah yang wajib memenuhi kebutuhan mereka dan menjelaskan dengan kata-kata yang baik? (An Nissa :5)

Ajarkan bertahap sesuai tuntunan agar anak tidak melihat uang itu segalanya. Uang hanyalah alat tukar biasa, karena rizki Allah itu tidak hanya berupa uang. Jusru uang itu keciiil dan mudah, sedangkan rizki Allah itu luaaasss dan banyak.

Semoga Bermanfaat

Mempersiapkan Anak Puasa Ramadhan

img_3753-1.jpg

Ramadhan sudah dekat, tentu setiap orang tua menginginkan anak- anak taat pada Perintah Allah. Mungkin juga ada rasa bangga dan bahagia pada orang tua ketika anak-anaknya mudah diajak beribadah.

Namun ortu perlu hati-hati dengan ekspektasi pribadi juga ekspresi kebahagiaan yang ditunjukkan. Jangan sampai membuat anak jutru berpikir untuk berbohong demi hanya ingin melihat ortunya bangga.

Berikut ini langkah-langkah mempersiapkan anak belajar dan menjalani puasa

Sambut dengan antusias

Sambut Ramadhan dengan antusias, lebih antusias daripada membicarakan liburan atau hal-jal lain seperti ulang tahun jika anda biasa merayakannya. Mulai bercerita betapa menyenangkannnya berpuasa, apa pengaruh baiknya bagi diri, apa keuntungannya bagi Pre Frontal Cortex manusia dll

Pencatatan Progress

Ajak anak untuk menyepakati pencatatan progressnya. Misalnya dg membuat 29 kotak harian untuk evaluasi hari-hari puasa yang dijalani. Boleh-boleh saja membuat star board atau reward book. Hias sesuai minat anak, dan biarkan ia menentukan sendiri target pencapaiannya. Tekankan bukan banyaknya sticker atau star yang didapatkannya yang utama, tetapi kejujuran dan upayanya. Tidak perlu hadiah mahal, cukup pujian, pelukan, tepukan. Kalaupun ada hadiah berupa benda, jadikan sebagai bonus yang tidak dijanjikan sebelumnya. Rasa terlalu ingin hadiah itu mendorong anak berbohong untuk mendapatkannya

Praising Only

Karena levelnya masih belajar dan belum wajib maka yanga da hanya apresisiasi, tidak ada reprimand dan jangan pernah membandingkan seperti kalimat “ih malu, si A umurnya lebih muda dari kamu usah puasa” dll. Berhasil sampai maghrib maupun tidak tetap berikan apresiasi atas upayanya untuk berusaha

Persiapkan Perbedaan

Bagi anak-anak yang teman sekolahnya banyak yang berpuasa memang lebih mudah, tetapi bagi anak-anak yang jarang atau tidak ada temannya berpuasa, misalnya bersekolah di International School, tentu ada 2 upaya sekaligus, yaitu upaya puasa maupun upaya untuk tetap nyaman meskipun berbeda. Maka apresiasi juga upaya keduanya ya. Ajarkan anak untuk tidak mencela anak lain yang tidak berpuasa, sekaligus tidak merasa minder karena berbeda

Tidak Melanjutkan Puasa Yang Putus di Tengah Hari

Jika sudah berbuka atau terputus di tengah hari, jangan diteruskan lagi hingga waktu berbuka karena anda mengajarkan pesan yang keliru tentang berpuasa. Apalagi kalau ditambah greeting. “Alhamdulillah kuat ya nerusin sampai maghrib…” Ini jelas menginstall belief yang salah. Ekpektasi waktu makan yang tidak jelas target waktunya justru mengganggu sekresi enzim dan asam lambung. Jika sudah terputus pada hari itu ajak anak untuk memiliki target baru di hari berikutnya dengan menambah waktu puasa secara bertahap dan meningkat.

Kegiatan Asyik Yang Bermanfaat

Ajak anak berkegiatan yang menyenangkan di waktu-waktu genting seperti menjelang asar. Lakukan dengan gembira.

Tidak Membanding-bandingkan

Tidak usah bertanding dengan anak tetangga untuk pencapaiannya ya.. apalagi dengan wall FB sebelah 🙂

Lebih Dekat dan Bersyukur

Biasakan anak berkomunikasi dengan Allah, misalnya ketika berhasil sampai waktu yang ditargetkan, ajak anak bersyukur sudah diberi kekuatan. Jika belum berterimakasih juga sudah mempunyai kesempatan belajar dan mau belajar lagi, dll

Setiap manusia telah memiliki fitrah Iman dan kemampuan belajar hingga piawai.

Selamat menjaga fitrah anak..

#enlighteningparenting

 

A Parent’s Diary : Anakku Tamu Istimewa

Alhamdulillah..

Buku karya para alumni kelas Enlightening Parenting, kini telah memasuki cetakan kedua setelah cetakan pertamanya habis dalam waktu 10 hari.

Buku ini berisi kisah-kisah para alumni mengaplikasikan Enlightening Parenting yang kemudian membuat perubahan signifikan dalam pengasuhannya.

Buku ini adalah pasangan wajib dan ideal bagi buku the Secret of Enlightening Parenting . Mengasuh Pribadi Tangguh, Menjelang Generasi Gemilang. Karena buku ini tidak hanya berkisah tetapi juga menjelaskan tahap demi tahap cara mengaplikasikannya hingga berhasil

Artikel-artikel dalam buku ini tidak hanya ditulis oleh para ibu tetapi juga para ayah, sehingga pembaca mendapatkan perspektif yang utuh baik dari sisi ibu maupun ayag

Selamat menikmati buku yang luar biasa ini

Pemesanan dapat dilakukan melalui

Mas Edi : +6283818058374