Mempersiapkan Anak Puasa Ramadhan

img_3753-1.jpg

Ramadhan sudah dekat, tentu setiap orang tua menginginkan anak- anak taat pada Perintah Allah. Mungkin juga ada rasa bangga dan bahagia pada orang tua ketika anak-anaknya mudah diajak beribadah.

Namun ortu perlu hati-hati dengan ekspektasi pribadi juga ekspresi kebahagiaan yang ditunjukkan. Jangan sampai membuat anak jutru berpikir untuk berbohong demi hanya ingin melihat ortunya bangga.

Berikut ini langkah-langkah mempersiapkan anak belajar dan menjalani puasa

Sambut dengan antusias

Sambut Ramadhan dengan antusias, lebih antusias daripada membicarakan liburan atau hal-jal lain seperti ulang tahun jika anda biasa merayakannya. Mulai bercerita betapa menyenangkannnya berpuasa, apa pengaruh baiknya bagi diri, apa keuntungannya bagi Pre Frontal Cortex manusia dll

Pencatatan Progress

Ajak anak untuk menyepakati pencatatan progressnya. Misalnya dg membuat 29 kotak harian untuk evaluasi hari-hari puasa yang dijalani. Boleh-boleh saja membuat star board atau reward book. Hias sesuai minat anak, dan biarkan ia menentukan sendiri target pencapaiannya. Tekankan bukan banyaknya sticker atau star yang didapatkannya yang utama, tetapi kejujuran dan upayanya. Tidak perlu hadiah mahal, cukup pujian, pelukan, tepukan. Kalaupun ada hadiah berupa benda, jadikan sebagai bonus yang tidak dijanjikan sebelumnya. Rasa terlalu ingin hadiah itu mendorong anak berbohong untuk mendapatkannya

Praising Only

Karena levelnya masih belajar dan belum wajib maka yanga da hanya apresisiasi, tidak ada reprimand dan jangan pernah membandingkan seperti kalimat “ih malu, si A umurnya lebih muda dari kamu usah puasa” dll. Berhasil sampai maghrib maupun tidak tetap berikan apresiasi atas upayanya untuk berusaha

Persiapkan Perbedaan

Bagi anak-anak yang teman sekolahnya banyak yang berpuasa memang lebih mudah, tetapi bagi anak-anak yang jarang atau tidak ada temannya berpuasa, misalnya bersekolah di International School, tentu ada 2 upaya sekaligus, yaitu upaya puasa maupun upaya untuk tetap nyaman meskipun berbeda. Maka apresiasi juga upaya keduanya ya. Ajarkan anak untuk tidak mencela anak lain yang tidak berpuasa, sekaligus tidak merasa minder karena berbeda

Tidak Melanjutkan Puasa Yang Putus di Tengah Hari

Jika sudah berbuka atau terputus di tengah hari, jangan diteruskan lagi hingga waktu berbuka karena anda mengajarkan pesan yang keliru tentang berpuasa. Apalagi kalau ditambah greeting. “Alhamdulillah kuat ya nerusin sampai maghrib…” Ini jelas menginstall belief yang salah. Ekpektasi waktu makan yang tidak jelas target waktunya justru mengganggu sekresi enzim dan asam lambung. Jika sudah terputus pada hari itu ajak anak untuk memiliki target baru di hari berikutnya dengan menambah waktu puasa secara bertahap dan meningkat.

Kegiatan Asyik Yang Bermanfaat

Ajak anak berkegiatan yang menyenangkan di waktu-waktu genting seperti menjelang asar. Lakukan dengan gembira.

Tidak Membanding-bandingkan

Tidak usah bertanding dengan anak tetangga untuk pencapaiannya ya.. apalagi dengan wall FB sebelah 🙂

Lebih Dekat dan Bersyukur

Biasakan anak berkomunikasi dengan Allah, misalnya ketika berhasil sampai waktu yang ditargetkan, ajak anak bersyukur sudah diberi kekuatan. Jika belum berterimakasih juga sudah mempunyai kesempatan belajar dan mau belajar lagi, dll

Setiap manusia telah memiliki fitrah Iman dan kemampuan belajar hingga piawai.

Selamat menjaga fitrah anak..

#enlighteningparenting

 

MEMPERSIAPKAN ANAK KE MASJID

Ramadhan segera tiba, mungkin akan muncul lagi diskusi soal masjid ramah anak dan bagaimana membawa anak ke masjid, si anak yang harus tertib atau seluruh jamaah yang harus maklum.
Mengakrabkan anak terutama anak lelaki dengan masjid memang sangat penting, tetapi tentu ada caranya, ada adabnya, bukan sekedar modal..

” Ah.. nanti juga ngerti sendiri, namanya juga anak-anak.”

Bagi anak-anak, pergi ke masjid, pergi ke supermarket, pergi ke arisan keluarga atau ke tempat manapun dimana dia diharapkan berperilaku tertentu, sama menegangkannya seperti anda mau tampil di depan Gubernur.

Jika anda akan tampil paduan suara di depan Gubernur, kira-kira perlu berapa kali latihan? Ada gladi kotor? Gladi bersih?
Anak-anak bukan orang dewasa yang dikecilkan, maka ia perlu berlatih menghadapi situasi baru.

Bagaimana caranya? Mari optimalkan ikhtiar di pihak kita, bukan mengharapkan semua orang berubah sesuai maunya kita.
1. Lakukan briefing : Apa yang harus dilakukan di masjid, berapa lama waktunya (bawa timer digital jika sudah mulai mengenalkan tentang waktu), apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang boleh ia bawa jika ternyata sholat belum selesai dan ia lelah
2. Lakukan role playing di rumah : lakukan beberapa skenario, suasana ketika sedang sholat, suasana jika ada khutbah, anda berperan sebagai ortu, sebagai jamaah lain (jamaah ramah, jamaah galak, dll)
3. Mulailah dari waktu sholat yang pendek. misalnya sholat subuh atau maghrib (jangan tiba-tiba diajak tarawih yang waktunya panjang). Evaluasi hasilnya, mana yang perlu diperbaiki dan dilatih lagi
4. Ingat bahwa rentang perhatian anak masih terbatas, bagi anak balita mampu bertahan dalam kegiatan yang sama 20 menit itu sudah prestasi gemilang. mendekati 7 tahun hingga 10 tahun, maksimal 40 menit itu sudah luar biasaaa.. apalagi jika kegiatan itu dianggap kurang menarik
5. Tempatkan anak di posisi dekat dinding sebelah anda agar jika ia meninggalkan shaf tidak membuat shaf anda terputus
6. Secara sopan minta ijin dan minta maaf terlebih dahulu kepada jamaah di sekeliling anda jika nanti ada kondisi yang mungkin tidak mereka sukai (ini sekaligus menjadi contoh bagi anak tentang sopan santun dengan menghormati hak orang lain).
Semua persiapan ini sangat penting bukan sekedar agar orang lain tidak terganggu, tetapi juga mencegah anak mengalami perlakukan tidak menyenangkan di tempat yang seharusnya kelak ia cintai ini. Karena pengalama traumatis di usia dini, membekas cukup panjang dan dalam. Mungkin anak tidak ingat peristiwanya tetapi bisa jadi masjid menjadi anchor perasaan tidak nyaman bagi anak,
Usia berapa sebaiknya dimulai? Sejak anak sudah bisa memahami briefing dan role playing sederhana. Setiap anak berbeda-beda, ada anak salah satu alumni kelas kami yang usianya baru 1.5 tahun sudah faham, ada yang 4 tahun, ada yang 7 tahun, tergantung pola komunikasi dan kebiasaan di rumah anda. Anak yang memiliki kedekatan yang baik dan biasa diperlakukan respectful insyaaAllah memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik.
Jika dirasa bermanfaat silahkan dibagikan