Manusia, Ibarat Wadah Prasmanan

Ih.. aku ngga suka lho sama si itu…

Ah.. aku sudah kehilangan cinta padanya…

Dasar si fulan ya memang gitu orangnya..

Kamu memang ngga pernaaah ndengerin aku…

Kamu selaluuu begitu padaku..

Memang kamu anak sulit

Aku ini orangnya pemarah…

Aku memang begini, susah berubah, terima aja..

Emang udah dari keturunannya sial ya sial aja..

Familiar dan akrab dengan kalimat-kalimat di atas? Entah dilakukan oleh diri sendiri atau mendengar dalam kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya, Manusia, ibarat wadah prasmanan. Di dalam masing-masing wadah itu kadang tersaji emosi, perilaku, pengetahuan, persepsi, dan lain-lain. Meskipun sebagai wadah, namun manusia adalah wadah yang memiliki ruh dan diberi kemampuan akal oleh Tuhan untuk memilih sendiri isinya. Jika ada yang isinya tidak enak, bisa diganti sajian lain yang lebih enak. Jika ada yang basi, bisa dibuang lalu diisi lagi sajian yang baru.  Jika emosi yang sedang tersaji dalam wadah ternyata tidak memberdayakan, segera ganti. Jika pengetahuan dalam sajian kurang, segera ditambah. Jika persepsi tidak mencerahkan, bisa ditukar. Ada ilmunya, ada caranya, ada sendok takaran yang tepat, ada sumber yang akurat.

Isi sajian bisa berupa hidangan pokok plus sajian penunjang sesuai dengan kebutuhan dan peran yang dijalankan. Ketika berperan sebagai orang tua, pasangan dan sahabat, wadah yang paling depan bisa diisi dengan hidangan kasih sayang dan keinginan melihat hal-hal baik. Namun jika peran yang sedang dijalankan adalah Auditor tentu sajian yang diputar ke bagian depan adalah professional skepticism alias kepekaan melihat kesalahan. Apalagi kalau fungsi yang dijalankan adalah mata-mata perang, wadah yang paling depan tentu peluang untuk menyerang dan mencari kesalahan. Nah.. kepekaan dalam menentukan isi sajian ini begitu penting. Coba kalau terbalik, menyajikan wadah skepticism saat berkomunikasi dengan pasangan, beeuh perang melulu deh.. :D.. 😀

Sungguh sayang jika  wadah yang diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan ini yang hanya pasif saja, saat di luar ada lalat pembawa bakteri tidak segera menutup wadah, akhirnya sajian di dalamnya ikut terkontaminasi. Saat di luar ada taburan vitamin bergizi yang justru akan membuat rasa dan aroma sajian kita semakin sedap dan indah tidak mau membuka diri. Atau malah membiarkan wadah-wadah lain yang sudah basi menumpahkan makanan basinya ke wadah milik sendiri.

Saat manusia berinteraksi dengan manusia lain, pandang, dengar dan pikirkan ia sebagai wadah. Saat suami memandang istri, saat sahabat mendengar sahabat, saat orang tua merasakan anak, saat penonton melihat tokoh, saat penjual menghadapi pembeli, saat dalam meja perundingan, saat dalam manajemen meeting, saat membaca short message dari anak buah  dan berbagai kesempatan interaksi apapun. Yang tersaji saat itu mungkin hanya satu atau beberapa sisi wadah yang sedang menghadap ke kita.

Khusus untuk orang-orang yang kita sayangi, pasangan, orang tua, saudara, anak, sahabat, jika tersalah mereka menyajikan salah satu hidangan yang tidak anda sukai, ingatlah bahwa hanya sebagian hidangan itu saja yang perlu diperbaiki bukan keseluruhan wadah prasmanan itu menjadi buruk. Kemudian membuat generalisasi “Dasar memang anak ini nakal”, “Kamu memang suami yang tidak mengerti aku sama sekali” dan ungkapan-ungkapan lain, apakah yang terkatakan maupun yang hanya tersimpan di dalam self-talk, karena ucapan baik yang terkatakan maupun tidak, akan mempengaruhi pilihan sikap dan tindakan seseorang. Tetap sayangi dan cintai wadahnya.

Jika ingin membuat perbaikan, nyatakan dengan spesifik, hidangan mana yang perlu diperbaiki. Sebaliknya yang menerima juga perlu mengisolasi permasalahan hanya pada hidangan tertentu itu saja sehingga tidak mengeneralisasi sebuah niat baik untuk membuat perbaikan sebagai kebencian menyeluruh.

Apakah itu hanya khusus bagi yang kita sayangi? Tentu saja tidak.

Idealnya… begitulah cara kita mensikapi SEMUA manusia. Kecuali… jika memang anda punya tujuan lain misalnya mencari musuh, membuat strategi penghancuran karakter, meninggalkan cinta terlarang, terlibat dalam pertempuran politik atau hal-hal semacam itu. Generalisasi sajian menjadi keburukan seluruh wadah bisa dilakukan dengan sengaja, bahkan hidangan yang lezat bisa diplintir eh didistrorsi menjadi memuakkan. Jika itu dilakukan dalam koridor profesi maka akan dengan mudah mengembalikan ke persepsi awal, tetapi malangnya yang saat ini terjadi, manusia melakukan generalisasi dan distorsi tanpa sadar entah karena kurangnya ilmu atau terseret arus media

Tentukan dan desainlah peran dan tujuan hidup kita di dunia, laksana mendesain sebuah tema jamuan, maka akan dengan mudah kita tentukan, sajian apa saja yang perlu kita hidangkan dan bersama wadah yang berisi sajian apakah kita akan berkumpul. Agar kelak saat tugas kita sebagai wadah telah berakhir, akal telah tak difungsikan, ruh telah memantaskan diri untuk dikembalikanNya ke tempat yang indah.

 

3 thoughts on “Manusia, Ibarat Wadah Prasmanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s