Mendisain Kurikulum Kemahiran dan Adab Anak

Beberapa hari yang lalu saya membuka folder lama saya untuk membantu teman yang sedang meniti profesi baru sebagai profesional coach dan consultant. Beberapa project lama dimana saya menjadi SME (Subject Matter Expert) saya kirimkan untuk contoh.
Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah folder bertuliskan nama anak pertama saya. Rupanya disana tersimpan file-file lama yang berisi surat cinta, daftar menu makanan, kurikulum adab dan kurikulum kemahiran sesuai tahap perkembangan. Saya pernah mengunggah gambar dan tulisan ini di instagram saya (@okinaf) beserta captionnya :

Jadilah ahli di bidang yang kau putuskan untuk jalani…
Sekecil apapun bidang itu menurut orang lain.
Jadi suami/istri ya ahli dalam berperan sebagai suami/istri
Jadi ayah/ibu ya ahli dalam memimpin/mengasuh anak
Jadi karyawan ya ahli dalam bidang yang ditekuni.
Jadi pengusaha ya ahli di bidang usaha.
Punya 3 peran? Ya ahli 3-3 nya.
Tidak perlu beralasan : Saya terpaksa kerja karena ortu melarang berhenti
Bismillah berhenti saja, lalu tunjukkan kita ahli di bidang yang kita pilih dan tetap penuh cinta pada mereka. Kemungkinan ortu nangisnya paling lama 3 bulan tapi setelah itu bahagia melihat kita ahli di bidang yang kita pilih.
Yang bikin nangis bertahun-tahun adalah, ketika kita meninggalkan pekerjaan katanya untuk anak, tapi anaknya tidak terawat, nongkrongin gadget siang malam atau ngamuk melulu di rumah. 🥺😳
Jangan pernah menyalahkan siapapun dalam peran yang kita ambil. Ini sudah bukan jaman perbudakan, kata “terpaks”a hanya cocok jika pistol ditodongkan di kepala kita.

Kalau disumpahin ortu gimana? Berarti belum baca ada hadist yang melarang dan tidak yakin bahwa Allah Maha Adil . Jika kita tetap berbuat baik lalu Allah kehendaki hal yang menurut kita buruk terjadi, belum tentu yang kita sangka buruk itu tidak ada kebaikan di dalamnya. Bukankah Allah itu Maha pengasih dan penyayang?
Yang parah itu sudahlah tidak patuh, perilakupun buruk. Ambyaar… 😊

Saya wanita bekerja dari dulu hingga sekarang, hanya bedanya di 9 tahun pertama kehidupan pernikahan saya, saya bekerja kantoran reguler 9 jam sehari di sebuah perusahaan minyak, plus juga mengajar di sebuah universitas setempat sebagai bagian dari community service. Di pertengahan tahun ke 9 saya kemudian beralih profesi menjadi konsultan yang mempunyai jam kerja lebih fleksibel. Saya sepenuhnya sadar dan memilih bekerja, sehingga saya tidak mengembangkan rasa bersalah menjadi ibu yang bekerja di luar rumah. Rasa bersalah hanya akan membuat pikiran kita bercabang. Resikonya, salah satu bidang prestasinya buruk atau hancur kedua-duanya sekaligus. Oleh karena itu saya pasang niat

Bismillah… Ya Allah tolonglah aku untuk mengoptimalkan peran yang aku pilih dengan sadar ini, karena aku ingin hidupku bermanfaat di setiap peran yang Engkau percayakan kepadaku.

Berikut ini adalah potongan surat cinta saya pada mas Raka (tentu tidak semuanya ya, mananya surat cinta kan rahasia :), sebagai gambaran awal sebelum masuk ke bagaimana mendesain kurikulum adab dan kemahiran untuk anak-anak kita.

Setiap anak lahir dengan membawa potensi baik (silahkan membaca buku Enlightening Parenting untuk memahami lebih dalam mengenai ini)

Tetapi potensi perlu diberi contoh nyata dan dilatih untuk menjadi kompetensi. Anak-anak tidak belajar dari nasehat tetapi dari meniru perilaku nyata. Maka tugas kitalah sebagai orang tua untuk mengajarkan kompetensi-kompetensi dasar yang perlu mereka miliki to navigate their life. Knowledge and technology can wait but skill and behaviour or character are the most important capital for their life in the world and the hereafter.
Maka saya mendesain sendiri kurikulum kemahiran yang ingin saya ajarkan kepada anak saya dengan bantuan buku-buku tumbuh kembang anak.
Mengapa tidak saya masukkan PAUD saja? Sejauh pengamatan saya, tidak semua guru PAUD siap menjadi guru, banyak yang belum mengetahui tentang perkembangan sensori yang terkadang berujung melabel anak yang kurang memberdayakan. Percampuran banyak sekali karakter orang dewasa dengan berbagai macam adab dan tata bicara beresiko anak meniru yang nanti justru merepotkan urusan bersih-bersihnya, belum lagi kesadaran ortu untuk tidak menyekolahkan anak di saat sedang tidak sehat juga berujung tular-tularan virus di usia dimana imun sistem belum terbentuk. Maka saya memilih mengajarkannya sendiri di rumah. Tetapi karena saya juga bekerja maka saya dibantu oleh mantan mahasiswa saya yang tentu saya pilih paling santun-santun dan cerdas. Sekalian untuk media praktik mereka dan tambahan uang saku. Alhamdulillah banyak tetangga yang bergabung. Berikut ini potongan gambar kurikulum mingguannya


Kompetensi adab tentu perlu disesuaikan dengan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga. Tiap keluarga mungkin punya cara yang berbeda. Nah.. persoalannya kadang suami istri bahkan tidak mempunyai kesepakatan dalam hal adab. So sebelum menikah, jangan hanya sibuk mencari kostum resepsi yang keren tetapi satukan visi, misi dan values dulu. Masa kalah sama rekrutmen pegawai, pegawai bisa mengundurkan diri sewaktu-waktu, apakah menikah bisa dengan mudah melakukan itu? :). Khusus untuk kurikulum adab ini kami lakukan briefing dan role-playing yang langsung saya dan suami tangani sendiri.

Ih kenapa sih cuma dikasih sepotong-sepotong, kasih dong file lengkapnya…
Dari pengalaman saya jika kita terbiasa disuapi solusi, mendapatkan sesuatu dengan mudah, konsistensi melakukannya justru kecil 😜

Jadi bagaimana manajemen waktunya? Manajemen waktu itu tidak ada karena waktu diberikan Allah secara adil pada tiap manusia yaitu 24 jam. Yang ada adalah manajemen diri. Hal pertama yang perlu diatur adalah emosi dan energi. Dengan jarak rumah dan kantor yang dekat, saya bisa mengatur waktu untuk lebih banyak makan siang di rumah, sehingga bisa bertemu dengan anak di siang hari. Lokasi kerja seperti ini sudah saya impikan sejak kuliah. Saya hanya akan bekerja di kota yang memungkinkan jarak kantor dan rumah dekat. Tentu mimpi harus diikuti usaha. IP tinggi harus di tangan untuk menembus firewall HR tak iye… Jadi saya bisa memilih bekerja di perusahaan manapun yang saya inginkan. Prestasi dan hubungan baik dengan rekan kerja diupayakan sejak hari pertama bekerja dan alhamdulillah tercapai. Dengan demikian saya tidak perlu terperangkap dalam emosi-emosi tidak memberdayakan di tempat kerja. Pulang hati senang, pikiran segar, bisa beraktifitas dengan anak dengan semangat. Kerjasama dengan suami disepakati sejak sebelum menikah sehingga kami bergantian mengambil peran. Bagaimana jika tugas ke luar kota atau luar negri? Ya bergantian. Jika saya tugas suami tidak,demikian pula sebaliknya. Kalau diperintahkan tugas bersama? Ya tolak saja, menolak pekerjaan sesekali selama prestasi kita baik tidak apa-apa. Rugi kok mecat karyawan berprestasi 😁. Karir tidak akan macet juga, kami sudah membuktikannya.

Beberapa bulan sekali saya pergi berdua saja dengan suami 1-2 malam sekedar untuk berganti suasana. Kangen juga ninggalin anak lama-lama.
Begitu kami di rumah, asisten langsung istirahat, anak sepenuhnya bersama kami. Ini juga penting agar asisten terjaga energi dan emosinya, apalagi sesuai standar American Paediatric Association tidak ada interaksi dengan display (TV dan segala gadget), saat anak usia dibawah 2 tahun. Sehingga asisten kami tidak momong anak sambil nonton TV.
Wuih… well-planed banget dong hidup mbak? Iya dong, namanya juga hidup, kalau mau santai-santai nanti atuh di surga (Semoga Allah rahmati kita semua untuk mendapatkan surga, aamiin). Tetapi bagi yang kenal saya, tahu betul bahwa saya ini ya lucu dan santai. Karena terbiasa sistematis dan mensyukuri hal-hal yang mungkin bagi orang lain kecil maka segala sesuatu jadi terasa mudah, selain tentu juga dimudahkan Allah. We don’t sweat the small stuff.
Punya anak repot? Iya repot, tapi tidak lama. Paling lama hanya sampai anak usia 7 tahun. Jika kurikulum kemahiran dan adab kita jalankan, di atas 7 tahun tinggal poles-poles saja, briefing ringan, refresh role-play dan diskusi. Usia 10 tahun sudah bisa pakai parental coaching, anak sudah punya banyak option untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Alhamdulillah…
Lalu kalau anak-anak dimudahkan Allah, kita bisa bersantai? Ya jangan santai-santai amatlah, Allah mudahkan anak-anak kita kan supaya kita punya waktu luang untuk memberi manfaat bagi yang lain.
Yang belum santai sekarang, yuk fokus ke anak, yang sudah santai yuk gerak memberi manfaat bagi umat.

“Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” (QS. Al-Insyirah ayat 7)

5 comments

Leave a Reply to Ulpha Mudzakirillah Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.