Memuji dan Menegur Efektif

IMG_0014

Catherine Scott dalam bukunya Learn to Teach: Teach to Learn menyebutkan bahwa jika kita salah dalam memuji anak dan terjebak pada memberi label positif menyebabkan anak menjadi sombong, terlalu fokus pada hak, dan suka menyalahkan orang lain ketika mengalami kesulitan.

Lalu bagaimana caranya memuji yang benar?

  • Latih telinga, mata, dan rasa, untuk menjadi detektif kebaikan. Perhatikan anak Anda. Perhatikan saat ia melakukan kebaikan. Meski kecil, meski sangat sederhana. Meski itu hanya berupa senyuman saat Anda berbicara dengannya, mengucapkan doa setelah makan, bermain dengan saudaranya dengan akur, berangkat sekolah tanpa mengeluh, atau sekadar menutup keran air. Sering kali orangtua abai untuk memuji hal-hal kecil yang sehari-hari dilakukan anak, menganggap hal itu “sudah seharusnya”. Padahal bermula dari hal-hal kecil yang sudah baik inilah muncul dorongan untuk melakukan hal-hal baik lainnya yang sama atau lebih besar, jika dihargai.

 

Buatlah catatan kebaikan. Kebanyakan manusia menghapuskan semua catatan kebaikan seseorang dalam hatinya hanya karena satu saja keburukannya, dan tetap mengingat keburukannya meski telah banyak kebaikan yang dilakukannya. Catatan kebaikan memudahkan kita untuk semakin bersyukur terhadap hal-hal kecil. Bukankah dengan bersyukur akan semakin bertambah nikmat-Nya? Kebanyakan konflik dalam hu­bungan manusia (bukan hanya dengan anak) disebabkan kita sibuk menuntut orang lain begini dan begitu, mengeluhkan ini dan itu, tapi sangat sedikit bersyukur.

 

Berikut ini cara MEMUJI yang EFEKTIF:

  • Puji perilaku, usaha, dan sikapnya, bukan karakteristik orangnya.
  • Nyatakan konsekuensi positif dari perilaku itu.
  • Nyatakan dalam kalimat sederhana yang mudah dipa-hami.
  • Tanamkan keimanan untuk siapa/apa dia memelihara perilaku baik itu.

 

Memuji perilaku, usaha, dan sikap, membuat anak merasa yakin bahwa ia mempunyai kendali atas perilakunya. Perilaku adalah hasil usaha, bukan sesuatu yang melekat, bersifat genetik, dan tidak bisa diubah.

 

Menyatakan konsekuensi positif dari perilaku, usaha, dan sikap anak, berarti mengajarkan kepadanya untuk memahami sebab akibat dari sebuah perbuatan. Pilihlah konsekuensi yang kasat mata dan bukan berupa janji.

Pujian yang dinyatakan dengan kalimat sederhana memberikan pesan yang jelas, perilaku apa yang diharapkan dan tidak berlebihan.

Menanamkan keimanan menumbuhkan keyakinan bahwa perbuatan baiknya bukan sekadar untuk menyenangkan orang lain termasuk orangtuanya sendiri, tetapi sebagai bagian dari tujuan penciptaan manusia.

Contoh memuji yang efektif:

  • “Bagus sekali Kakak sudah meletakkan sepatu di rak sepulang sekolah, rumah kita jadi rapi, Allah suka pada keindahan.”
  • “Wah…kalian berdua bermain dengan akur dan berbagi. Mama bahagia kalian saling menghargai dan menya-yangi, Tuhan menyayangi orang yang menyayangi sesama.”

 

Contoh pujian yang tidak efektif:

  • “Duh…hebatnya anak ayah, paling keren seduniaJ. Sudah besar, pintar merapikan kamar. Jangan seperti kemarin­-kemarin ya, berantakan di mana-mana, sakit mata ayah melihatnya.”

 

Ada tiga kesalahan dalam pujian di atas:

  • Memuji karakteristik orangnya bukan perilakunya.
  • Diikuti dengan kritikan dan mengungkit kesalahan yang telah lalu.

 

Pujian yang diikuti kritikan atas perilaku yang sudah terjadi di masa lalu akan menjadikan pujian itu kehilangan arti. Memuji karakteristik orang, seperti pintar, cantik, hebat, sudah besar dan hal-hal lain yang sifatnya membentuk konsep, akan membingungkan karena sifat-sifat tersebut relatif. Ketika suatu saat nanti Anda dihadapkan pada kondisi yang berbeda, Anda akan terjebak dalam sikap yang tidak kongruen. Misalnya, ketika­ anak minta izin untuk menonton film yang bukan untuk usianya di malam hari bersama teman-temannya, Anda me-ngatakan, “Masih kecil kok nonton film remaja, malam-malam pula seperti anak nakal saja.” Lho, ketika memuji kamar yang rapi, Anda bilang dia sudah besar; mengapa ketika mau nonton film Anda katakan masih kecil? Jadi sebetulnya dia sudah besar atau masih kecil? Ketika memuji, Anda mengatakan ia anak hebat, sekarang Anda mencelanya seperti anak nakal. Kenapa tadi hebat dan keren sekarang jadi nakal? Bingung sendiri, kan?

 

Dweck (2006), seorang profesor bidang psikologi di Stanford University, dalam penelitiannya mengenai efek memuji, menemukan bahwa anak yang dipuji kepintarannya mudah frustrasi saat mengalami kegagalan dan tidak berani mengambil risiko. Anak-anak yang dipuji usaha dan perilakunya, cepat bangkit saat tidak berhasil menyelesaikan sebuah tugas dan mau berusaha lebih keras pada kesempatan berikutnya. Memuji dengan kata-kata yang berlebihan akan mendatang rasa sombong dan menjerumuskan, bahkan Rasulullah saw. mengumpamakan orang yang memuji berlebihan seperti memotong leher orang tersebut.

Kalau begitu, apakah tidak boleh menegur anak? Tentu boleh. Pada poin sebelumnya telah dijelaskan cara memuji­ yang efektif, berikut ini cara menegur yang efektif:

  • Tegur PERILAKU-nya bukan karakteristik orangnya.
  • Katakan secara tepat apa kesalahan perilakunya.
  • Katakan pada anak bahwa dia mampu membuat perubahan atau pernah bersikap lebih baik dari itu.
  • Tidak mengungkit kesalahan yang lalu.
  • Tetap cintai orangnya.

Contoh menegur yang efektif:

  • “Kak, karena kamu tidak menyiapkan buku sebelum tidur, PR-mu tertinggal. Selama ini ibu mengamati bahwa kamu akan ingat membawa PR-mu jika sebelum tidur tas sekolahmu sudah disiapkan. Artinya, kamu BISA lebih baik dari hari ini” (disertai senyuman dan tepukan di bahunya).

Contoh teguran yang lebay:

  • “Kak, tuh kan…PR-mu ketinggalan lagi, masih muda jangan pelupa dong. Makanya siapkan tas sekolah sebelum tidur. Ingat nggak…? Minggu lalu juga gini kan? Siapa coba yang repot? Ibu, kan…harus mengantar PR-mu ke sekolah. Besok-besok jangan malas dan jangan lupa siapkan ya” (rrrgghh…mengeluarkan suara lebah terbang, menggerutu keluar kamar, dan belum sampai di luar kamar sudah kembali lagi…) “Ingat lho ya, ibu nggak mau ngantar PR-mu lagi.”

 

 

Mencela sebagai pelupa, pemalas, akan melukai konsep dirinya dan membentuk konsep diri yang buruk, seolah tiada harapan untuk diperbaiki. Bukankah Tuhan tidak suka kepada orang yang suka mengutuk dan memberikan gelar buruk? Menegur perilakunya dan menunjukkan bukti bahwa ia pernah bisa melakukan yang lebih baik, memberikan keyakinan bahwa berubah itu mudah.

Screenshot

Sudahkah sesuaikah apa yang selama ini dilakukan?

*Disadur dari buku The Secret Of Enlightening Parenting

MEMPERSIAPKAN ANAK KE MASJID

Ramadhan segera tiba, mungkin akan muncul lagi diskusi soal masjid ramah anak dan bagaimana membawa anak ke masjid, si anak yang harus tertib atau seluruh jamaah yang harus maklum.
Mengakrabkan anak terutama anak lelaki dengan masjid memang sangat penting, tetapi tentu ada caranya, ada adabnya, bukan sekedar modal..

” Ah.. nanti juga ngerti sendiri, namanya juga anak-anak.”

Bagi anak-anak, pergi ke masjid, pergi ke supermarket, pergi ke arisan keluarga atau ke tempat manapun dimana dia diharapkan berperilaku tertentu, sama menegangkannya seperti anda mau tampil di depan Gubernur.

Jika anda akan tampil paduan suara di depan Gubernur, kira-kira perlu berapa kali latihan? Ada gladi kotor? Gladi bersih?
Anak-anak bukan orang dewasa yang dikecilkan, maka ia perlu berlatih menghadapi situasi baru.

Bagaimana caranya? Mari optimalkan ikhtiar di pihak kita, bukan mengharapkan semua orang berubah sesuai maunya kita.
1. Lakukan briefing : Apa yang harus dilakukan di masjid, berapa lama waktunya (bawa timer digital jika sudah mulai mengenalkan tentang waktu), apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang boleh ia bawa jika ternyata sholat belum selesai dan ia lelah
2. Lakukan role playing di rumah : lakukan beberapa skenario, suasana ketika sedang sholat, suasana jika ada khutbah, anda berperan sebagai ortu, sebagai jamaah lain (jamaah ramah, jamaah galak, dll)
3. Mulailah dari waktu sholat yang pendek. misalnya sholat subuh atau maghrib (jangan tiba-tiba diajak tarawih yang waktunya panjang). Evaluasi hasilnya, mana yang perlu diperbaiki dan dilatih lagi
4. Ingat bahwa rentang perhatian anak masih terbatas, bagi anak balita mampu bertahan dalam kegiatan yang sama 20 menit itu sudah prestasi gemilang. mendekati 7 tahun hingga 10 tahun, maksimal 40 menit itu sudah luar biasaaa.. apalagi jika kegiatan itu dianggap kurang menarik
5. Tempatkan anak di posisi dekat dinding sebelah anda agar jika ia meninggalkan shaf tidak membuat shaf anda terputus
6. Secara sopan minta ijin dan minta maaf terlebih dahulu kepada jamaah di sekeliling anda jika nanti ada kondisi yang mungkin tidak mereka sukai (ini sekaligus menjadi contoh bagi anak tentang sopan santun dengan menghormati hak orang lain).
Semua persiapan ini sangat penting bukan sekedar agar orang lain tidak terganggu, tetapi juga mencegah anak mengalami perlakukan tidak menyenangkan di tempat yang seharusnya kelak ia cintai ini. Karena pengalama traumatis di usia dini, membekas cukup panjang dan dalam. Mungkin anak tidak ingat peristiwanya tetapi bisa jadi masjid menjadi anchor perasaan tidak nyaman bagi anak,
Usia berapa sebaiknya dimulai? Sejak anak sudah bisa memahami briefing dan role playing sederhana. Setiap anak berbeda-beda, ada anak salah satu alumni kelas kami yang usianya baru 1.5 tahun sudah faham, ada yang 4 tahun, ada yang 7 tahun, tergantung pola komunikasi dan kebiasaan di rumah anda. Anak yang memiliki kedekatan yang baik dan biasa diperlakukan respectful insyaaAllah memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik.
Jika dirasa bermanfaat silahkan dibagikan

 

Manusia, Ibarat Wadah Prasmanan

Ih.. aku ngga suka lho sama si itu…

Ah.. aku sudah kehilangan cinta padanya…

Dasar si fulan ya memang gitu orangnya..

Kamu memang ngga pernaaah ndengerin aku…

Kamu selaluuu begitu padaku..

Memang kamu anak sulit

Aku ini orangnya pemarah…

Aku memang begini, susah berubah, terima aja..

Emang udah dari keturunannya sial ya sial aja..

Familiar dan akrab dengan kalimat-kalimat di atas? Entah dilakukan oleh diri sendiri atau mendengar dalam kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya, Manusia, ibarat wadah prasmanan. Di dalam masing-masing wadah itu kadang tersaji emosi, perilaku, pengetahuan, persepsi, dan lain-lain. Meskipun sebagai wadah, namun manusia adalah wadah yang memiliki ruh dan diberi kemampuan akal oleh Tuhan untuk memilih sendiri isinya. Jika ada yang isinya tidak enak, bisa diganti sajian lain yang lebih enak. Jika ada yang basi, bisa dibuang lalu diisi lagi sajian yang baru.  Jika emosi yang sedang tersaji dalam wadah ternyata tidak memberdayakan, segera ganti. Jika pengetahuan dalam sajian kurang, segera ditambah. Jika persepsi tidak mencerahkan, bisa ditukar. Ada ilmunya, ada caranya, ada sendok takaran yang tepat, ada sumber yang akurat.

Isi sajian bisa berupa hidangan pokok plus sajian penunjang sesuai dengan kebutuhan dan peran yang dijalankan. Ketika berperan sebagai orang tua, pasangan dan sahabat, wadah yang paling depan bisa diisi dengan hidangan kasih sayang dan keinginan melihat hal-hal baik. Namun jika peran yang sedang dijalankan adalah Auditor tentu sajian yang diputar ke bagian depan adalah professional skepticism alias kepekaan melihat kesalahan. Apalagi kalau fungsi yang dijalankan adalah mata-mata perang, wadah yang paling depan tentu peluang untuk menyerang dan mencari kesalahan. Nah.. kepekaan dalam menentukan isi sajian ini begitu penting. Coba kalau terbalik, menyajikan wadah skepticism saat berkomunikasi dengan pasangan, beeuh perang melulu deh.. :D.. 😀

Sungguh sayang jika  wadah yang diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan ini yang hanya pasif saja, saat di luar ada lalat pembawa bakteri tidak segera menutup wadah, akhirnya sajian di dalamnya ikut terkontaminasi. Saat di luar ada taburan vitamin bergizi yang justru akan membuat rasa dan aroma sajian kita semakin sedap dan indah tidak mau membuka diri. Atau malah membiarkan wadah-wadah lain yang sudah basi menumpahkan makanan basinya ke wadah milik sendiri.

Saat manusia berinteraksi dengan manusia lain, pandang, dengar dan pikirkan ia sebagai wadah. Saat suami memandang istri, saat sahabat mendengar sahabat, saat orang tua merasakan anak, saat penonton melihat tokoh, saat penjual menghadapi pembeli, saat dalam meja perundingan, saat dalam manajemen meeting, saat membaca short message dari anak buah  dan berbagai kesempatan interaksi apapun. Yang tersaji saat itu mungkin hanya satu atau beberapa sisi wadah yang sedang menghadap ke kita.

Khusus untuk orang-orang yang kita sayangi, pasangan, orang tua, saudara, anak, sahabat, jika tersalah mereka menyajikan salah satu hidangan yang tidak anda sukai, ingatlah bahwa hanya sebagian hidangan itu saja yang perlu diperbaiki bukan keseluruhan wadah prasmanan itu menjadi buruk. Kemudian membuat generalisasi “Dasar memang anak ini nakal”, “Kamu memang suami yang tidak mengerti aku sama sekali” dan ungkapan-ungkapan lain, apakah yang terkatakan maupun yang hanya tersimpan di dalam self-talk, karena ucapan baik yang terkatakan maupun tidak, akan mempengaruhi pilihan sikap dan tindakan seseorang. Tetap sayangi dan cintai wadahnya.

Jika ingin membuat perbaikan, nyatakan dengan spesifik, hidangan mana yang perlu diperbaiki. Sebaliknya yang menerima juga perlu mengisolasi permasalahan hanya pada hidangan tertentu itu saja sehingga tidak mengeneralisasi sebuah niat baik untuk membuat perbaikan sebagai kebencian menyeluruh.

Apakah itu hanya khusus bagi yang kita sayangi? Tentu saja tidak.

Idealnya… begitulah cara kita mensikapi SEMUA manusia. Kecuali… jika memang anda punya tujuan lain misalnya mencari musuh, membuat strategi penghancuran karakter, meninggalkan cinta terlarang, terlibat dalam pertempuran politik atau hal-hal semacam itu. Generalisasi sajian menjadi keburukan seluruh wadah bisa dilakukan dengan sengaja, bahkan hidangan yang lezat bisa diplintir eh didistrorsi menjadi memuakkan. Jika itu dilakukan dalam koridor profesi maka akan dengan mudah mengembalikan ke persepsi awal, tetapi malangnya yang saat ini terjadi, manusia melakukan generalisasi dan distorsi tanpa sadar entah karena kurangnya ilmu atau terseret arus media

Tentukan dan desainlah peran dan tujuan hidup kita di dunia, laksana mendesain sebuah tema jamuan, maka akan dengan mudah kita tentukan, sajian apa saja yang perlu kita hidangkan dan bersama wadah yang berisi sajian apakah kita akan berkumpul. Agar kelak saat tugas kita sebagai wadah telah berakhir, akal telah tak difungsikan, ruh telah memantaskan diri untuk dikembalikanNya ke tempat yang indah.

 

MidLife Crisis, Lalui Dengan Elegan

Beberapa bulan belakangan ini, trend kasus yang mampir ke ruang konsultasi saya bergeser dari masalah anak-anak dan remaja menjadi masalah pemetaan diri dan pernikahan. Semoga tulisan ini dapat membantu anda, pasangan anda dan orang-orang disekitar anda untuk melalui sebuah tantangan dalam hidup.

Midlife atau Middle adulthood adalah istilah populer untuk sebuah tahapan antara usia kurang lebih 40-60 tahun. Midlife crisis tidak melulu soal jatuh cinta lagi. Berdasarkan penelitian Elliot Jaques, midlife crisis ditandai dengan keinginan untuk membuat perubahan yang signifikan terhadap satu , beberapa, atau seluruh aspek kehidupana misalnya karir, kondisi keluarga, hubungan dengan pasangan, pengalaman hidup, peran sosial dan penampilan fisik. Di Indonesia, kondisi ini sering disebut sebagai “Puber Kedua’ karena katanyaaa.. kelakuannya mirip-mirip anak remaja alias remaja koloot.. :D.. :D.. Para ahli masih memperdebatkan apakah midlife crisis berhubungan dengan perubahan hormonal/fisiologis, semata-mata persoalan psikologis, atau sebuah simfoni dari keduanya.

Apa saja sih krisis yang mungkin terjadi?

  1. Career Crisis : Muncul rasa bosan pada pekerjaannya, merasa sudah mentok (mentok yang berarti buntu ya, bukan temannya bebek), kecewa karena merasa “seharusnya” sudah sampai di level tertentu tetapi masih saja jadi kroco mumet. Biasanya ditandai dengan mulai memperlambat waktu datang, memperpanjang waktu istirahat siang atau mempersingkat waktu pulang alias ngga mau telat dua kali – udah telat datang, jangan pula telat pulang .. :p. Banyak ngedumel jika tipe talkative tapi murung jika tipe pendiam
  2. Family Role Crisis : Merasa lelah dengan suasana di rumah. Pada midlife crisis tahap awal biasanya usia  anak-anak bervariasi  antara remaja dan balita. Anak-anak mulai pandai berargumen namun masih perlu rawatan fisik, sehingga muncul kelelahan kognitif maupun fisik, perasaan gagal mendidik dan tidak dihargai. Krisis ini ditandai dengan suka mencari alasan untuk lebih banyak mempunyai kegiatan di luar rumah, tenggelam dengan hobi atau justru memperpanjang kerja di kantor (atau di cafe dekat kantor … :D). Pada midlife crisis tahap akhir (di atas 50 tahun), ditandai dengan perasaan kesepian karena anak-anak meninggalkannya untuk menikah.
  3. Romantic Relationship Crisis: Menginginkan perubahan pada hubungan dengan pasangan. Di usia 40-60 tahun, biasanya usia pernikahan sudah memasuki tahun ke 10 atau lebih. Mulai ada kejenuhan, kehilangan suasana romantis, hubungan mendingin (AC kaliiii….), kehilangan sopan-santun bertutur dan masalah hubungan seksual
  4. Social Role Crisis : Merasa gamang dengan peran social di luar pekerjaan dan keluarga karena sebagian besar waktu dihabiskan untuk keluarga dan atau pekerjaan
  5. Self Image Crisis : Ditandai dengan pertanyaan pada diri sendiri “Apakah aku ini menarik?” baik secara fisik maupun secara citra diri. Perubahan bentuk tubuh, tekstur kulit, warna rambut, pakaian dan keseluruhan penampilan menjadi perhatian. Tidak hanya yang melekat di tubuh tetapi yang digunakan sehari-hari seperti kendaraan pribadi.

Midlife crisis dapat dialami baik pria maupun wanita namun mempunyai penekanan yang berbeda. Menurut penelitian para ahli yang disarikan oleh Hoffman, Hall dan Paris dalam bukunya Developmental Psychology Today, pria lebih sering mengalami krisis no 1,3 dan 5, sedangkan wanita lebih sering mengalami krisis no 2,4, dan 5. Tentu saja ini cuma studi, yang dialami masing-masing orang pada kenyataannnya bisa berbeda. Self image crisis pada pria dan wanita juga muncul dalam bentuk yang berbeda, jika di eropa pria yang mengalami self image crisis kemudiam membeli sport car warna gonjreng, di Negara berkembang mungkin berhenti di soal pakaian dan penampilan. Ya iyalah.. mau ngebut dimana dengan sport car kalau jalannya aja imut-imut plus harga mobil dan pajaknya yang aduhai bajaaii…. Pada wanita, perilaku yang tampak adalah galau terhadap bentuk tubuhnya yang mungkin tak lagi selangsing dulu, sibuk menghitung jumlah kerutan dan noda-noda di wajah… kalau perlu pake kaca pembesar :D…

Midlife crisis wajar-wajar saja terjadi, akan menjadi tidak wajar jika kondisi itu kemudian mengganggu kebahagiaan anda, luapan emosi yang berlebihan dan perseteruan dengan orang-orang di sekitar anda utamanya pasangan dan rekan kerja. Midlife crisis tidak perlu disembunyikan dari pasangan anda, karena justru bersamanyalah anda akan dapat melaluinya dengan elegan, pun demikian, bukan berarti perlu anda umumkan di status FB :D… Jadi apa yang harus dilakukan? Berikut ini tips menghadapi midlife crisis :

  1. Kerjasama dengan pasangan : apakah anda pria maupun wanita, kerjasama dan dukungan dari suami/istri sangat diperlukan. Kerjasama seperti apa kiranya?
    • Keterbukaan komunikasi : buatlah kesepakatan dengan pasangan anda untuk dapat menceritakan apa saja kegalauan anda, bahkan ketika anda tertarik dengan orang lain. Whhaaaattttt??? Salah tulis kaleee… Tidak, ini tidak salah tulis. Kesepakatan seperti ini akan memudahkan pasangan anda “mengembalikan” perhatian anda kepadanya. Tidak mudah? Memang. Perlu kesabaran ekstra. Namun bukankah lebih mudah bagi anda jika pasangan anda memberitahu anda dengan pasti apa yang membuat dia tertarik pada orang lain? Sehingga mudah bersepakat, hal-hal apa yang perlu diperbaiki dan disesuaikan. Kesepakatan-kesepakatan kecil yang cukup membantu diantaranya adalah menyepakati waktu tertentu dimana salah satu pihak boleh uring-uringan ngga jelas, sedangkan pihak lain sekedar menjadi telinga. Tanpa menanggapi apalagi menyimpannya dalam hati. Bonus waktu boleh uring-uringan ini tentu hanya anda berdua saja yang mendengar, tidak perlu dilihat anak-anak, apalagi membangunkan tetangga :D…  Berapa lama durasinya dan seberapa sering idealnya? Silahkan pada kesepakatan anda dan ketahanan telinga anda… :D. Contoh kesepakatan lain adalah mensepakati cara menegur apabila salah satu pihak melakukan hal yang tidak disukai pihak lain. Hindari teguran yang seperti kicauan burung kukuk dari jam dinding anda, 24x sehari sepanjang hari. Silahkan tambahkan sendiri kesepakatan-kesepakatan lain. Tuliskan kesepakatan yang sudah dibuat , agar anda bisa mengingat dengan mudah, hal-hal yang sudah disepakati. Keterbukaan komunikasi tidak berarti meninggalkan sopan-santun bertutur. Pelajari pola dan teknik berbahasa yang memberdayakan. Banyak orang yang mau repot-repot belajar teknik komunikasi untuk kepentingan bisnis, politik, menghadapi massa,  tetapi lupa mengaplikasikannya di rumah. Seringkali seseorang sedemikian santun di luar rumah tetapi enggan mengusahakannya di rumah. Lalu apakah itu namanya cinta jika anda tak takut melukai hatinya?
    • Kemauan untuk berubah : Banyak orang keliru berpegang pada kata-kata bijak “menerima apa adanya”. Benarkah “apa adanya” anda di usia 20 tahun sama dengan “apa adanya” anda di usia 40 tahun. Jangan-jangan sudah berubah menjadi “apa-apa ada ” atau “tidak ada apa-apanya”.. :D…  Adalah mustahil manusia tidak berubah sama sekali sejak awal kehidupan hingga akhirnya. Manusia terus berubah waktu demi waktu, tidak hanya fisik, tetapi juga kebiasaan bahkan karakter. Daripada berubah tak tentu arah, bukankah lebih baik meniatkan diri berubah ke arah yang lebih baik? Ketimbang anda berpegang pada ungkapan “cinta itu menerima apa adanya” bukankah lebih baik diubah menjadi “cinta itu bertumbuh menjadi lebih baik bersama-sama”. Lebih baik dalam memahami, mengimbangi, melayani, komunikasi, ketaatan kepada Yang Maha Mengatur kehidupan, dan lebih baik-lebih baik lainnya. Sepakati perubahan seperti apa yang anda ingin lakukan bersama-sama seiring dengan perubahan usia, kebutuhan, pengalaman dan peran anda. Melakukan perubahan memang bukan perkara mudah, tetapi juga bukan hal yang susah. Dengan memahami kerja pikiran (mind),  dan bagaimana pikiran mempengaruhi perilaku begitu juga sebaliknya, perubahan menjadi jauuh lebih mudah. Jika perlu minta bantuan professional untuk memudahkan anda. “Tapi, kalau pasangan saya tidak mau berubah bagaimana dong… Apa perlu diganti? hehehehe hush…. 🙂 Bukankah mengubah dengan teladan paling berkesan?
    • Sentuhan :  Penelitian Allan N. Schore (2001) dan Kathleen C. Light (2004) menunjukkan bahwa pelukan dan sentuhan kasih sayang meningkatkan produksi hormon Oxytocin. Hormon ini memberikan perasaan tenang, kelekatan secara personal, menyeimbangkan tekanan darah, mempengaruhi kemampuan orgasme, menurunkan kecemasan dan memunculkan perasaan bahagia. Hormon ini sering disebut juga sebagai love hormone. Tidak seperti hubungan seksual yang memerlukan privasi, sentuhan dapat dilakukan kapan saja dimana saja… Bukankah jika suami-istri bergenggaman tangan, akan berguguran dosanya dari sela-sela jarinya? Kapan lagi bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus, menggugurkan dosa sekaligus bonus meningkatkan hormone Oxytocin?
  2. Kenali diri : Midlife crisis bukanlah hal memalukan yang perlu anda tolak atau tekan dalam-dalam dari kesadaran. Bagaikan alarm, midlife crisis merupakan pesan yang dikirim bawah sadar anda untuk membuat perubahan. Semakin ditolak, justru alarm itu semakin kuat menunjukkan eksistensinya. Berdamailah dengan diri . Sadari perubahan dan kelola perubahan itu. Buatlah rencana dan lakukan secara nyata. Sibuk bergalau ria dan berandai-andai menjadikan anda jalan di tempat. Jika anda menginginkan perubahan dalam karir, segera ubah strategi anda, perbaiki performance anda, atau wujudkan karir baru yang lebih sesuai dengan anda sekarang. Jika anda mengalami kegalauan peran dalam keluarga, segera susun langkah baru, pendelegasian tugas, memperbaiki strategi komunikasi, belajar lagi ilmu parenting, dan lain-lain.
  3. Kenali Tuhan : Pahami kembali makna kebersyukuran dan tafakuri setiap masalah yang dihadapi, bukankah itu salah satu cara Allah untuk menjadikan hambanya lebih baik?

Midlife crisis hanyalah sebuah proses,  yang untuk melaluinya terdapat dua pilihan, penuh friksi yang berakhir pada frustrasi atau elegan menjemput berbagai perbaikan…

Kekuatan Linguistik Laksana Sihir

Nabi Muhammad SAW menggambarkan kekuatan linguistik sebagai berikut
إن من البيان لسحرا
“Sesungguhnya di antara susunan kata itu terdapat kekuatan sihir.”(HR. Bukhori dan Muslim)

Al-Bayan dalam bahasa arab berarti penjelasan, tutur kata, menyatakan atau kefasihan menjelaskan. Barangkali judul diatas menjadi sedikit menyeramkan, apalagi jika berpijak pada pengertian sihir secara awam yang berbau negatif. Sihir sendiri dalam bahasa Arab berakar kata “sahar” yaitu akhir waktu malam dan awal terbitnya fajar, karena itu bercampur antara gelap dan terang. Arti lain dari sihir adalah segala sesuatu yang halus, lembut serta tersembunyi. Oleh karena sifat-sifat itulah maka sihir dapat mempengaruhi, menarik hati atau mempesona para pendengarnya.

Agama-agama tauhid diajarkan secara lisan, karena itu para Rasul diberikan kemampuan berbahasa yang luar biasa. Bahkan meski Rasulullah SAW tidak bisa membaca dan menulis (Al-Ankabuut :48), namun beliau sangat disegani oleh semua kalangan karena kekuatan bahasa beliau, tentu kekuatan tersebut tidak lahir dari jiwa yang hampa, kedalaman berpikir, kekuatan hati, kejernihan dan perasaan yang mendalam itu tertuangkankan melalui lisan beliau sehingga membuat orang terkesima, tertegun, bahkan hanyut oleh kata-kata beliau yang “menyihir”, yang hingga kini masih lestari dan terbingkai dalam hadist-hadist yang terjaga.

Kekuatan bahasa dalam Al-Qur’an juga terdesain dengan sangat sempurna oleh Yang Maha Mendesain hingga orang-orang Arab Quraisy dahulu melarang keluarga dan anak-anaknya mendekati rumah Nabi Muhammad, karena mereka khawatir terpengaruh oleh kesempurnaan ajaran al Qur’an. Uniknya tokoh-tokoh besarnya sering mengendap-endap di malam hari untuk menikmati alunan bacaan al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah SAW. Bukankah Umar bin Khattab yang dulunya seberingas Abu Jahal tersentuh oleh isi dari surat Thahaa yang dibaca oleh Fatimah bint. Khattab?

Kalimat-kalimat dalam Al-Qur’an banyak mengandung pertanyaan-pertanyaan yang menyebabkan pembaca atau pendengarnya melakukan Trans-derivational Search. Mari mengkaji Surah Ar Rahman ayat 17-23 ini :

    • Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya
    • Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
    • Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,
    • antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
    • Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
    • Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
    • Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Silahkan dicermati, pola bahasa ini apa padanannya dalam Milton Model..

Kembali pada pembahasan mengenai nikmat Tuhan, bukankah Yang Maha Memberi Nikmat juga telah meberikan alat yang sedemikian canggih untuk dapat mensyukuri nikmatnya

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar (kamu )bersyukur.” (An Nahl: 78)
Katakanlah (wahai Muhammad): “Allah yang menciptakan kamu (dari tiada kepada ada), dan mengadakan bagi kamu pendengaran dan penglihatan serta hati (untuk kamu bersyukur, tetapi) amatlah sedikit kamu bersyukur”. (Al Mulk :23)
Maka demikianlah Allah menciptakan indera untuk Maksimalkan penggunaannya demi satu tujuan, yaitu bersyukur.

Lebih jauh lagi, silahkan resapi bagaimana The Greatest Motivator of all memotivasi hambanya dengan memaksimalkan unsur Visual, Auditif dan Kinestetik :

Bandingan orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan (ingatlah) Allah akan melipat gandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya. ( Al Baqarah :261)
Secara visual anda mengenal cabang dan buah, dengan mudah anda bisa Bayangkan, bagaimana pohon bertumbuh dan berbuah. Secara kinestetik anda bisa Rasaka efek semakin banyak dari cabang-cabang yang tumbuh dan biji-biji yang bermunculan sebagai hasil dari membelanjakan harta di jalan Allah.

Bagaimana dengan yang ini?
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Surah at-Tahrim,: 6)

Apa yang anda lihat, dengar dan rasakan dari ayat ini?

Jika dulu Richard Bandler memodel Virginia Satir, Milton Erickson and Fritz Perls untuk membangun struktur linguistik yang memberi efek terapiutik. Bukankah kini dengan “tool’ yang sama, ada sedemikian luas kesempatan untuk memodel pola linguistik Qur’ani ini untuk memberi efek pencerahan dan pemberdayaan umat menuju ketaat’an pada perintah sebenar-benarnya Pemilik Manusia? Bahkan Allah sudah menyediakan contoh, sosok nyata yang akhlaknya adalah Al-Qur’an.
Tentu anda bisa mulai Bayangkan, sebuah generasi yang sungguh-sungguh menjadi rahmat bagi semesta alam, jika pola linguistik yang didasari dengan akhlak ini bisa dimodel oleh para orang tua, pendidik, pemimpin bahkan setiap orang yang berkontribusi dalam pembentukan sikap mental dan perilaku bangsa.

note :
Saya bukanlah pakar kajian Al-Qur’an, saya hanyalah seorang pembelajar yang ingin terus mempelajari cara terbaik untuk membangun generasi yang semakin baik.
Terimakasih saya kepada Ustad Muntaha, seorang kandidat doktor yang ilmu fiqih-nya luar biasa. Sebagian kalimat pada alinea 2 dan 3 adalah penggalan email beliau kepada saya
.

Pembela Pembenaran atau Pejuang Perbaikan, itu Pilihan..

imagesHari ini  dalam sebuah kelas, seorang peserta bertanya pada saya tentang bagaimana membingkai musibah dalam sebuah makna, yang memberdayakan tentunya… Dan sayapun teringat pada sebuah peristiwa.

Peristiwa ini terjadi 9 tahun lalu, saat pembarep saya mengalami phobia, setelah kami menerapkan anjuran seorang kenalan psikolog yang saat itu saya anggap lebih ahli dalam bidang psikologi perkembangan, yang mungkin sekaligus juga penganut teori-teori Nanny 911..                         .

Rasanya saya tidak perlu menjelaskan seperti apa tepatnya anjurannya itu, yang jelas phobia sudah terbentuk.  Phobia? … Anak seorang psikolog mengalami phobia? Hmmm…. bisa jadi wajar saja, toh anak dokter juga bisa kena demam berdarah, anak insinyur tak pandai matematika, ahli komunikasi yang bertengkar melulu dengan anaknya karena mis-komunikasi. Tetapi peristiwa ini menjadi menyedihkan saat psikolog ini bahkan tak tahu cara menolong anaknya untuk sembuh dari phobia, bukankah ini terdengar mirip  dengan dokter yang tidak tahu cara menanggulangi deman berdarah atau insinyur yang tidak bisa menjelaskan matematika tingkat SD dan ahli komunikasi yang tak tahu dimana letak simpul masalah komunikasi dalam keluarga? Menyedihkan memang. Meskipun menyedihkan, faktanya memang ada.

Saat itu karir saya sedang bersinar terang dan sejak masih saya lebih tertarik bidang Industri dan Organisasi. Hati saya tergelitik untuk melindungi ego saya dalam Blaming and Justifying Game alias mencari Black Embek dan membuat pembenaran-pembenaran. Tinggal tunjuk hidung si psikolog aliran Nanny 911 dan mengatakan “Kami korban psikolog ngawur” untuk versi Blaming. Sedangkan untuk versi Justifying saya tinggal membuat pengumuman di jejaring sosial ”Heiii…. saya ini ahli Psikologi Industri !. Lihat dong prestasiku yang cemerlang… Wajarlah kalau saya tidak berminat soal psikologi perkembangan anak, semua itu kan ada spesialisasinya… dokter jantung juga belum tentu ngerti soal ginjal.. Lalu saya menceburkan diri dalam komunitas anomali alias spesial case. Gampang kan… Gampang memang, namun apakah akan menyelesaikan persoalan?

MAKNAI DAN TENTUKAN TUJUAN

Tujuan memberi arah dan makna terbaik semestinya menggerakkan. Maka berhentilah sejenak, mungkin melalui sujud, mungkin dengan berlutut, mungkin dengan jari-jari tertangkup. Iqra’ (Bacalah).. apa pesan yang ingin disampaikanNya dalam sebuah peristiwa? Tafakuri makna apa yang terkandung di dalamnya Bukankah Tuhan tak pernah dzalim, bukankah Tuhan hanya menginginkan kebaikan dari hambaNya? Tanyai diri sendiri, kuliti dan hakimi sebelum kelak menghadap Hakim yang sesungguhnya. Bukankah peristawa dariNya selalu memiliki intensi positif untuk menunjukkan jalan menuju surga?

Jika saya memilih sujud karena saya meyakini dalam sujud terlepaslah kesombongan menuhankan nafsu dan berkuncilah keinginan menudingkan jari. Bagaimana hendak  sombong jika kepala tertunduk serapat bumi, bagaimana hendak menuding jika  tangan bekerja menopang diri. Pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan pada diri untuk menemukan pesan.  Bukankah selama ini saya selalu diberi predikat fast learner? Mungkinkah ini cara Tuhan mengingatkan saya untuk belajar lagi? Apakah saya lebih mementingkan image orang lain daripada tugas saya untuk menyempurnakan ikhtiar sebagai ibu yang diberi tugas bersamaan dengan cinta yang dititipkanNya? Bukankah istigfar dan maaf saja tidak cukup tanpa adanya perbaikan? Maka malam itu saya saya tentukan tujuan baru, bukan sekedar menyembuhkanb phobia anak saya tapi sekaligus belajar bidang ilmu yang sesungguhnya sudah saya ketahui dasarnya yang akan menopang tugas baru saya sebagai ibu. Ilmu menjadi orang tua.

Masih jelas dalam ingatan saya, mulai malam itu dan hari-hari seterusnya saya terus membaca dan belajar lebih dalam tentang pengasuhan anak. Saya memburu buku, membeli CD Dr. Harvey Karp, mengejar kelas Dan Siegel, Melahap buku pengasuhan islam Abdullah N. Ulwan, belajar tentang pikiran manusia, komunikasi di level subconscious, buku-buku terapi, neuro linguistic programming, buku-buku Virginia Satir, mengikuti berbagai seminar, mendapatkan berbagai sertifikasi, membantu klien-klien saya, mengajarkan di kelas-kelas, menerapkan, membaiki dan terus belajar hingga hari ini.

Lalu phobianya? Ups hampirr lupa.  Singkatnya saya diberi kemudahan untuk menyelesaikannya dengan membuat remote control imaginative yang mampu mengubah gambar dan suara dalam imaginasinya. Sebuah teknik hasil rekaan berdasarkan buku-buku yang saya baca, sebelum akhirnya saya mempelajarinya secara formal di kelas beberapa tahun kemudian. Bukan terapi phobia-nya yang ingin saya tekankan, namun  perjalanan mencari makna dan menentukan tujuan.

Alih-alih menyalahkan, syukuri setiap peristiwa. Sibuk mengeluh, mengumpat dan mencari-cari bukti-bukti pembenaran atas “kekurangan” ibarat jalan ditempat di atas lumpur penghisap.  Sudahlah tak sanggup menolong menyelesaikan masalah, terhisap hingga tenggelam tanpa perbaikan.  Rugi kuadrat ! Maka salahpun jangan sampai sia-sia.

Proses perbaikan memang bisa kita lakukan sendiri, tetapi….terbayang bukan…. nikmatnya jika anda dan pasangan anda sama-sama mempunyai kemauan yang untuk terus merenovasi diri dengan proses tafakur bersama? Seperti beberapa email dari pasangan yang mengikuti kelas parenting saya menceritakan betapa indahnya proses menemukan area-area yang perlu diperbaiki bersama, menyusun langkahnya dan menikmati hasilnya. Hubungan yang penuh warna dan anak-anak yang bertumbuh menjadi lebih baik bersama-sama. Subhanallah… seringkali saya ikut terhanyut membacanya.

Karena hidup adalah pilihan dan “Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Qs. Ar-Ra‘d [13]: 19).

Catatan Rindu Untuk Bapak

Saat aku rindu Bapak, ingatanku melayang di masa-masa kecilku.

Bapakku adalah seorang pegawai negeri, pengajar di perguruan tinggi negeri di kota kami. Sebagaimana umumnya kehidupan keluarga dosen yang tidak mempunyai profesi lain selain mengajar, kami tidak hidup miskin namun juga tidak hidup mewah. “Pantas” mungkin menjadi istilah yang cocok untuk mewakili kondisi finansial kami. Dan selayaknya kehidupan keluarga akademisi, pendidikan yang baik menjadi obsesi yang beliau  tanamkan kepada anak-anaknya. Mengejar sekolah-sekolah negeri terbaik menjadi fokus kehidupan kami, karena sekolah-sekolah negeri biayanya murah dan membanggakan di jaman itu. Alhamdulillah sejak SD hingga perguruan tinggi, saya lalui di sekolah-sekolah negeri terbaik di kota kami. Pemikiran-pemikiran beliau mengalir melalui ujung-ujung syaraf kognitif saya. Ucapan-ucapan beliau menjadi penggerak langkah-langkah saya.

Meskipun beliau bukanlah seorang ayah yang memanjakan anak-anaknya, tetapi saya ingat betul bagaimana dulu kain sarung beliau menjadi ayunan bagi Okina kecil yang sesekali mengantarkanku ke pintu kamar mandi. Dan ketika Okina kecil mulai besar kadang terdengar bunyi jahitan yang robek saat saya berayun di sarung-sarung kesayangan beliau.  Kegiatan mencabut uban dan membersihkan kulit kepala beliau yang kadang diwarnai dengan adu argumentasi ala “pokrol bambu” alias debat kusir, ledekan beliau dan teriakan beliau “Atho.. atho..(khas dengan logat Pati), karena saya sengaja mencabut dengan keras jika kalah argumentasi (Maafkan kebandelanku waktu itu ya bapakku sayang…) menjadi kenangan indah di waktu-waktu luang kami.  Bapak saya boleh dibilang tipe ayah tradisional, namun, pelukan dan ciuman di saat istimewa bukanlah sesuatu yang tabu, meski juga bukan makanan sehari-hari. Perhatian beliau jarang bersifat fisik apalagi hadiah.  Tergambar jelas dalam file-file ingatan terbaik saya, ucapan  dan kilatan bangga dari mata beliau  setiap saya berhasil melangkah ke jenjang sekolah favorit berikutnya .

“Lha NEM ki yo kudune koyo ngene ini, dadi tinggal milih wae SMA sing tok senengi…” komentar beliau berhiaskan senyuman saat saya memberitahukan nilai ebtanas SMP saya.

“Koyone gaweanmu ki mung dolan, ning jebul kowe ki yo pinter yo Nduk..!” itulah kalimat yang beliau ucapkan saat saya mendapatkan pilihan pertama saya melalui jalur UMPTN… (teringat betapa hari-hari saya memang jarang saya lalui di meja belajar namun beliaupun jarang menegur karenanya kecuali jika saya melanggar jam yang ditetapkan)

“Mbok kowe dadi dosen, njuk dadi profesor, koyone kowe ki bakat mulang lho Yang..” begitulah keinginan beliau bernada merayu yang beliau ucapkan saat saya berlatih di hadapan beliau mempersiapkan ujian pendadaran saya.. (yang akhirnya saya justru bergabung di perusahaan multi nasional di seberang pulau meskipun akhirnya sambil mengajar pula di ujung minggu).

“Timbangane tok jak mlaku-mlaku, aku luwih seneng teko wisuda, opo meneh wisudamu apik, megah, seneng aku..” demikian pujian beliau ketika saya menyelesaikan studi S2 saya di perguruan tinggi (yang juga milik negara)  di negara tetangga, (dan serta-merta menjadi motivasi baru bagi saya untuk menjalani jenjang berikutnya suatu saat kelak)

Sengaja saya tidak menterjemahkan ucapan-ucapan beliau ke dalam bahasa Indonesia, karena memang dalam bahasa jawa ngoko beginilah saya menyimpannya dalam memori saya.  Bagi anda yang tidak mengerti bahasa jawa, mohon maaf  sebesar-besarnya 🙂

Kata-kata beliau tidak selalu berupa pujian, meski beliau amat sangat jarang mencerca, kritik beliau terasa menghujam di hati dengan kalimat bernada “ngenyek” alias meledek.

“Biji ki ojo mung B, nek IP mung pas-pas-an ki yo akeh tunggale..” inilah salah satu ledekan beliau jika IP saya pada suatu semester tidak menembus melebihi angka 3.

“Golek duit ki yo apik, ning nek njuk ora ndang KKN, sing mbayar SPP-mu ki yo isih bapakmu lho…” begitulah sindiran beliau saat saya malas berangkat Kuliah Kerja Nyata, karena artinya saya harus melupakan sejenak keasyikan saya menikmati hasil mengajar di sekolah kepribadian dan beberapa proyek training kecil-kecilan yang saya lakukan saat kuliah. Sindiran beliau inilah yang membuat saya sambil geli-geli meringis segera mendaftar KKN.

Pada dasarnya saya memang bukan tipe yang tekun belajar, hahahihi di kantin, berkegiatan kesana-kemari, berkumpul dengan teman-teman yang asyik adalah warna kehidupan saya, namun menyelesaikan kuliah secepat-cepatnya dengan nilai sebaik-baiknya tetap menjadi fokus saya karena bapak sering mengingatkan kami bahwa bagi seorang dosen tidaklah murah membiayai 5 anak, dan bapak harus bekerja extra menjadi dosen tamu di beberapa kota (meskipun akhirnya kami tahu bahwa bapak menikmati juga pekerjaan extranya itu :D).

Bapak adalah pribadi yang keras terutama pada dirinya sendiri, mungkin karena beliau dibesarkan dalam kondisi serba kekurangan. Dulu saya sering kesal dan malu jika beliau membanggakan apa yang telah beliau raih dan membandingkannya dengan kami meski dengan nada bercanda, namun kini saya mengerti, bagi seorang anak yang dulu menggembala kambing dan berjualan pisang rebus di pasar, menjadi Guru Besar di perguruan tinggi negeri tentu jauh melebihi impian masa kecil beliau.

Sebagai anak terkecil, saya menikmati posisi “anak-anak” di mata beliau hingga saat ini. Sampai waktu-waktu terakhir beliau sehat, saya masih suka saling meledek dengan beliau, kadang menjulurkan lidah saat menang berargumentasi yang dijawab dengan kata-kata khas beliau “Ke-ku, engsil (“Kowe kui, ngensil” / “Kamu itu ngeyelan”).  Saat beliau sakit , saya suka menggoda beliau melalui telepon dengan kata-kata “Atit manja ya….” dan beliau terkekeh-kekeh mendengarnya.

Ahhh…betapa aku rindu padamu Bapak…

Ampuni dan maafkan segala kesalahan dan kekuranganku…

Banyaknya air mata yang mengalir saat aku mengingatmu, belum mampu mewakili betapa aku mencintaimu…

Duhai Yang Maha Menggenggam Jiwa, mudahkanlah hari-hari yang harus dilalui ayahku…

Mengapa Ada Orang Senang Melihat Orang Susah?

“Seminggu terakhir ini milis IndoKL diwarnai berita seputar perlakuan oknum depnaker dan imigrasi yang bertugas di bandara terutama Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Ungkapan kemarahan dari teman-teman yang melihat dan mendengar perlakuan tidak manusiawi oknum-oknum itu kepada bangsa sendiri – para TKI yang baru pulang dari luar negeri – mengingatkan saya pada apa yang dialami oleh suamiku ketika mengantar asisten kami pulang kampung. Seperti biasa petugas depnaker yang mejeng di sekitar counter imigrasi berusaha ‘menciduk’ dan memisahkan asisten kami ke jalur khusus TKI. Untungnya suami dulu bekas preman kampung rambutan (he..he..he.. jangan ngambeg ya boss), so diceramahilah petugas tadi sampai dibacain tu tulisan yang ada di kaos mereka “membantu TKI tanpa memungut biaya”. Udah jelas asisten kami pulang ama pemberi kerjanya (kan ada nama suami di visa kerjanya) kok ya masih dipisah-pisahin. Slogan “pahlawan devisa” cuma isapan jempol.

Kemarin peristiwa kecil juga terjadi di bandara Adi Sucipto ketika saya mengantar asisten kembali ke Malaysia (kebetulan dia berangkat sendiri). Dengan baik-baik saya bertanya dimana beli tiket masuk ke counter check in karena saya mau membantu asisten saya ini mengurus bebas fiskal (dia baru pertama kali pergi sendiri). Dengan ketus si penjaga pintu bertanya “Anda agen atau apa?” masih sabar saya jawab, “Saya pemberikerjanya.” “O… majikan?” Duh.. kalau denger istilah majikan kok kupingku gatal ya. Kesannya perbudakan gitu. “Pengantar cuma sampai disini!” jawabnya tanpa menatap wajahku. Kata2 itu diulangnya beberapa kali. Nah..kesempatan nih.. bahasa tubuh orang yang lagi krisis kepercayaan diri, langsung aku samber “Pak, dia ini baru pertama kali pergi sendiri tanpa saya, kalau nanti di dalam dipermainkan orang bagaimana? Apa bapak senang kalau melihat orang yang sudah susah-susah cari rejeki begini dapat kesusahan?”  Suara sengaja disetel seramah mungkin. Yup.. kayaknya sisi moralnya kena. “Ya sudah kalau gitu bilang sama orang yang di pintu keberangkatan international bahwa saya Pak M*****O” sudah memberi ijin ibu masuk. Karena tanpa ijin saya ibu tidak boleh masuk. Itu ruang steril.” ujarnya dengan dagu dinaikkan beberapa senti. Wah.. wah.. wah… baru punya kuasa di pintu masuk aja sombongnya dah begini, gimana kalau bapak ini jadi bupati atau presiden ya? OK deh.. mari kita gosok nafsu kuasanya. “Iya deh pak, nanti saya sebut nama bapak.” meskipun hatiku menahan tawa tapi suara kubuat semantap mungkin. Di dalam semua urusan lancar sampai akhirnya di depan gerbang imigrasi. Si petugas mulai cari gara-gara lagi. “Kenapa ini paspornya 48 lembar! Ini pelanggaran!” bentaknya galak. Sebelumnya cara memanggilnyapun sangat tidak sopan. “Memangnya kenapa? Ada masalah?” nadaku mulai tinggi. Lalu dia bla.. bla… bla.. tentang paspor TKI yang 24 halaman dan konsekuensi pelanggarannya tetapi nadanya ragu-ragu. Selesai bla.. bla..bla.. gantian saya bla.. bla..bla tentang bedanya TKI yang diurus agen dengan yang tidak. Mukanya yang tadinya ketus mengendor. O.. jadi ibu sekarang tinggal dimana? Suaranya sudah berubah 180 derajat. Masya Allah.. kok ya mesti begini. Apa nggak bisa nanya baik-baik dan sopan?

Herannya kenapa mereka hanya berani sama yang lemah, sama TKI di sektor informal or orang-orang yang meraka yakin pengetahuannya kurang dari mereka. Kenapa kalau kita hadapi dengan tegas mereka langsung mengkeret? Mengapa mereka tidak berselera berbuat reseh pada TKI kantoran? Fenomena apa ini?  Apakah fenomena “rendah diri”? atau pengecut? Hanya berani kepada yang lemah. Pernah liat ada antrian warna negara sendiri lebih lambat dari warga asing di bandara? Datang saja ke Adi Soemarmo, warga sendiri ditanyain sampai ke hal-hal yang tidak bermutu seperti “kenapa pasportmu baru?” sedangkan dengan warga asing mereka merundu-runduk menebar senyuman. Apa karena tidak bisa berbahasa asing jadi tidak berani tanya-tanya? Fenomena mental terjajah! Kalau mau ditulis semua apa yang saya dengar dan saya lihat, bisa-bisa berlembar-lebar kertas dihabiskan. Sebenarnya fakta-fakta seperti ini sudah banyak diungkap melalui media masa.

Lalu bagaimana dengan oknum-oknum yang suka memeras TKI kita di bandara Soekarno Hatta? Fenomena apa lagikah ini? Inikah fenomena rakus harta dan dengki? Tidak suka bila orang lain mendapatkan rejeki yang sudah susah payah mereka perjuangkan? Merasa harus mendapat bagian dari apa yang sama sekali tidak mereka usahakan. Inilah gambaran orang dengki menurut Al Quran, “Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya.” (QS. Ali Imran: 120). Acchh… sedih hatiku melihat orang-orang seperti ini. Orang-orang yang tega menyusahkan bangsanya sendiri. Lebih-lebih bila mereka melakukannya di hadapan warga asing yang baru tiba di Indonesia. Pantas saja banyak bangsaku yang tidak dihargai di Negara lain. Ibarat anak, bila bapak kandungnya saja tidak menyayangi dan menghargai anaknya, bagaimana tetangga akan sayang dan menghargainya?

Lalu harus bagaimana? Sudah banyak media yang membahas fenomena ini tetapi tak juga membuat jera. Saya yakin sudah banyak teman-teman yang telah menegur mereka tetapi tak juga membuat mereka malu. Apakah harus jadi anggota legistlatif atau jadi pejabat dulu untuk memperbaiki keadaan ini? (Kalau saya mencalonkan ada yang mendukung ndak ya he..he…he…)

Renungan :

“Melepaskan dua ekor srigala lapar di kandang kambing tidak lebih besar bahayanya di bandingkan dengan seorang muslim yang rakus terhadap harta dan dengki. Sesungguhnya dengki itu memakan habis kebaikan, seperti api melalap habis kayu”. (HR. At-Tarmidzi)