Menjelajah United Kingdom, Merangkai Wisdom – London

Sesuai dengan janji saya di salah satu status media sosial, ini adalah seri pertama dari beberapa tulisan rangkaian kisah Menjelajah United Kingdom, mulai dari London menjelajah ke utara yaitu Manchester dan Edinburg, hingga kembali lagi ke selatan melalui York dan Cambridge.

So, mari kita mulai dari London…

Hari pertama menjelajah UK, kami mendarat di Heathrow Airport jam 3 sore waktu setempat. Sebagai bandara lama di tengah kota, tentu kita tidak bisa membandingkan dengan bandara-bandara baru dunia atau bahkan dengan terminal 3 Soekarno Hatta sekalipun. Sederhana, decent tepatnya, adalah kata yang cocok untuk mewakili situasi Heathrow.  Dengan taxi online kami menuju apartment di kawasan Stockwell. Kami memilih apartment 2 kamar lengkap dengan kitchen amenities untuk memudahkan menyiapkan makanan sendiri sehingga terjaga kehalalannya. Alhamdulillah, penampakan asli apartment ini persis sama dengan iklannya, bahkan kelengkapapnya more that we expected. Cuaca di musim panas ini cukup ektrim yaitu mencecah 33°C. Dan seperti umumnya rumah tinggal di UK ini mereka tidak punya pendingin udara. Sumuuk memang kalau siang. Suhu sepanas ini baru pertama kalinya sejak beberapa tahun yang lalu. Di malam hari suhu berubah menjadi 19-22°C. Tetapi ternyata suhu panas ini tidak berlangsung lama, cukup 2 hari saja. Di hari ketiga dan seterusnya, suhu di siang hari maksimal hanya 26°C, suhu yang nyaman untuk kami keluarga tropis ini 🙂

Setelah istirahat sebentar kami jalan-jalan dulu ke London Eye di pinggir Thames River, sengaja langsung jalan supaya tidak tidur terlalu awal sehingga tidak terpengaruh jet lag. Saya pribadi sih alhamdulillah selama ini kemana-mana tidak pernah jet lag, ngantuk otomatis jika hari gelap dan nyala saat matahari terang benderang. Entag kalau nanti berada di kawasan yang gelapnya sangat sedikit. Di area ini banyak hal menarik yang bisa dilihat, ada the London Dungeon, The Shrek Adventure, Sea Life Adventure, Big Ben, Dinner on Cruise dll. Jalan kaki sore hari di area ini lumayan menyenangkan, hanya saja saya agak terganggu dengan langkanya tempat sampah, sehingga kawasan ini terlihat agak kumuh. Juga banyak digelar three cup trick alias judi pakai 3 gelas yang terasa banget aroma penipuannya. Hare geneee… masih main beginian maaass…. kerja yang lain napa.

Sama seperti di Jerman, disini juga banyak becak sepeda alias Cycling Rickshaw, tapi ngga usah nyoba deh, mihil. Kecuali ingin ngerasain naik becak yang nggenjot bule 😀 , tapi bulenya kebanyakan dari eropa timur. Demikian pula dengan tukang-tukang bangunan disini banyak yang dari eropa timur. Duduk-duduk di pinggir Westminster Bridge sambil memandang Big Ben yang sedang direnovasi lengkap dengan red telephone box, red bus dan black taxi memang jadi terasa banget London-nya, hahaha ya iyalah memang di London. Orang-orang disini terbiasa saling menyapa, suka sekali dengan kata lovely dan siapa-siapa  dipanggil darling alias dadar guling hehehe…

Selesai jalan-jalan kami mampir dulu ke Tesco sebelum pulang, dan tadaaa…. Buah-buahaan maaaak, murah bingiiit. Blackberries sekotak, Cherry mateng-mateng masak pu’un cuma £2.  Aduh kebiasaan lihat di Kuala Lumpur dan Jakarta meheel. Serasa panen di kebun paman, saya borong dong buah-buahan, senangnya serasa lebaran (ngga gitu banget keles.. 😀 ) Alhamdulillah… Saya amati bahan makanan mentah disini cukup murah, seperti salmon, ayam, udang, dll, tapiiii kalau sudah matang alias di restaurant atau warunglah, jauh berlipat harganya. Mungkin profesi chef disini mahal ya…

Sambil menikmati pemandangan kota London dari atas London Eye… insight hari ini adalah :

Pandangan yang luas menyediakan lebih banyak pilihan makna terhadap sebuah peristiwa. Tinggal memilih makna apa yang paling memberdayakan dan menghasilkan state terbaik

Meskipun London eye itu sebetulnya nggak tinggi-tinggi amat. tetapi mungkin karena memberi banyak kenangan indah maka demikian ternama. Manusia juga begitu, mungkin kompetensinya tidak hebat-hebat amat, tetapi dirindukan karena memberi banyak kebaikan.

thumb_IMG_4566_1024thumb_IMG_4563_1024thumb_IMG_4559_1024thumb_IMG_4555_1024

 

Nah… bagian yang paling asyik adalah, makan siang dengan mas Raka Besar, putra dari sahabat kami di Saudi, Pakde Latief dan Bude Aeni. Duh udah perjaka, ganteng pula, kami ketawa-ketawa seru banget cerita kesana kemari. Tidak seperti sudah berpisah lama. Mengapa kami memanggilnya Mas Raka Besar? Karena dulu Raka kami masih kecil, jadi untuk membedakan dipanggil Raka Besar dan Raka Kecil. Sekarang sudah sama-sama besaaar.
Hari Kedua ini ditutup dengan mengarungi sungai Thames dengan kapal.  Oiya, bagi yang doyan jalan-jalan dan kuat berpindah-pindah lokasi, membeli London Pass akan menghemat lumayan banyak, karena dengan biaya  kurang lebih £37 sehari per orang, bisa digunakan untuk kurang lebih 70 lokasi wisata, tetapi kalau model jalan-jalannya seperti kami, santai-santai berhadiah, tidak terlalu menguntungkan, karena kami hanya mengunjungi 2-3 tempat sehari, itupun tergantung cuaca. Kalau hujan kami santai-santai saja di rumah. Meskipun Summer, karena cuaca sering berubah, siap-siap saja jaket yang tidak terlalu tebal dan jas hujan disposable.

Suhu yang hangat dengan sinar matahari yang cerah cukup langka terjadi, oleh karena itu penduduk kota London suka sekali duduk-duduk di taman kota untuk piknik atau berjemur, sehingga taman kota penuuuh.  Suhu yang hangat dan matahari yang cerah begitu disyukuri, lalu bagaimana dengan kita yang Allah limpahi dengan sinar matahari berlimpah?

Maka, wisdom yang diperoleh hari ini salah satunya adalah :

Sesuatu yang dianggap biasa di suatu tempat bisa jadi tidak biasa di tempat lain. Seperti juga setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Ada orang yang perluu sekali disayang-sayang ada yang tidak. Ada yang perluu banget rencana yang pasti, ada yang merasa cukup dengan mengalir saja. Nah, perbedaan itu bisa saja ada dalam interaksi kita dengan orang-orang yang kita cintai. Maka penting untuk memahami kebutuhan pasangan kita dan orang-orang yang kita sayangi. Maka kita punya pilihan, menganggap orang yang kita sayangi itu lebay hanya karena kebutuhannya berbeda atau being grateful terhadap apa yang bagi kita sudah biasa, apalagi jika kita bisa memberi sebaik-baiknya.

 

Hari ketiga, kami memuaskan Rangga, satu-satunya penggemar bola yang ada di rumah kami dulu hehehe. Pagi-pagi keluyuran di Emirate Stadium yang menjadi markas Arsenal. Tour tuk wak gak keliling stadium hahaha.. keren sih memang, meski saya ya baru denger yang namanya Mesut Ozil ya disitu itu 😀 .Pulang dari Stadium mampir dulu ke National Gallery nengokin lukisannya mas Van Gogh.

Hari ke 4 rencananya mau ke Buckingham Palace pagi-pagi, tapi ternyata hujan. Kayaknya lebih asyik masak-masakan di rumah lalu selimutan. Siangnya kami lanjut ke Warner Bros – Harry Potter Studio. Disini kami melihat bagaimana sebuah karakter kinerja yang tinggi selama 10 tahun menghasilkan mahakarya sinematografi.

Selama dua hari ini kami belajar tentang kesungguhan dalam amal perbuatan. Ini baru urusan dunia saja, demikian detail sebuah karya disuguhkan, dari perencanaannya, desain, pelaksanaan, evaluasi, continous improvement masyaaAllah. Lalu bagaimana dengan kita, yang urusan dunianya juga menjadi bagian dari urusan akhiratnya? Fagfirlana…

Hari ke 5 kami mengganti perjalanan ke Buckingham yang kemarin tertunda. Sebelumnya mampir ke Imperial College dan Science Museum yang lokasinya berdekatan. Menghirup-hirup aroma Imperial College yang dulu ditolak suami saat sudah diterima melalui jalur Chevening Scholarship karena tidak ingin meninggalkan anak yang waktu itu masih kecil 🙂 .  Siapa tahu nanti rejekinya Raka atau Rangga ya kan? Aamiin.

State Rooms of Buckingham memang tidak buka setiap hari, hanya kurang lebih 10 minggu dalam 1 tahun dan mostly di musim panas. Mumpung buka, kesempatan kami mampir wonten Keratonipun Ratu Engres, sae pundi kalian Keraton Ngayogyakarto … Tapi yang namanya cinta kota kelahiran, ya.. gimana ya.. milih keraton Jogja ah…hahahaa… Kanjeng Ratu sebetulnya sudah jarang tinggal di Buckingham, hanya di hari-hari tertentu saja. Arsitektur dan interiornya memang MasyaaAllah. Karena selama tour dilarang mengambil gambar, maka silahkan yang ingin tahu isinya, searching saja dengan kata kunci State Rooms Buckingham. Foto-foto blue room, white room, prince patron, dll, ada banyak di internet. Yang menarik bagi saya adalah mendengar celotehan pengunjung anak-anak, remaja wanita dan beberapa wanita dewasa yang terus-terusan berkata “Someday I will be a Princess”. Beberapa diantaranya bahkan mengenakan tiara dan setiap melihat foto Queen Elizabeth akan menyapa “Queen”, sambil menunduk. Senang dan kagum pada keberanian mereka, tetapi ada sedikit rasa miris juga hmm… jangan-jangan mereka ini sungguh-sungguh ingin menjadi princess dan berharap dinikahi oleh salah satu prince? hmm.. barangkali karena terlalu sering kisah-kisah dongeng yang dibacakan diakhiri dengan “and they lived happily ever after” sehingga kebahagian itu ditentukan oleh seorang Pangeran. Cinderella syndrom kah? Wallahua’lam

Hari ke 6 kami ikut tour ke Winsor, Bath dan Stonehenge. Kami memilih Golden Tour untuk perjalanan ke tiga tempat di luar kota London ini. Recommended, profesional, tepat waktu, tour guide-nya juga seru dan lucu, sepanjang jalan kami ngikik-ngikik dengan joke-joke nya yang seru.  Dari ketiga tempat tersebut, saya terinspirasi sekali dengan Bath. Tentang bagaimana sebuah situs yang sudah hampir punah ini dilestarikan kembali dengan menggabungkan bangunan lama dengan bangunan baru dan kegiatan masa lalu di area itu dihidupkan kembali dengan 3D projector. Wuih.. saya sedang berpikir bagaimana jika situs-situs kerajaan kuno di Indonesia dibuat seperti ini, sehingga generasi-genarasi ke depan bisa mengenal ketinggian budaya kita sejak jaman dahulu. Indigenous cultures and technology. Dua lokasi yang lain bisa dilihat di internet saja. Yang pasti saya lebih suka Stonehenge KW yang di Kaliurang, biar KW tapi asri hahaha…

Selama di London kami menggunakan sarana transportasi umum saja, kadang  Uber, kadang underground train, kadang bus, dan lebih banyak jalan kaki. Dalam 1 hari kami bisa jalan kaki 4-7 km. Untuk menggunakan transportasi umum pakai kartu Oyster saja. Sama seperti touch n go di Malaysia atau kartu Flazz, Brizzi dan sejenisnya kalau di Indonesia.

Penjelajahan London ditutup dengan mampir sebentar ke Bicester Village dalam perjalanan ke Manchester. Kali ini kami sewa mobil, supaya mudah dan nyaman. Bagi yang hobi belanja, mungkin seharian ngga cukup untuk mengelilingi Bicester Village.  😀 Menurut saya, koleksi yang di Johor Premium Outlet nggak kalah lengkap, cuma di Bicester ini harganya ngga cuma miring, tapi doyong banget. Kami sebentar saja di sini supaya tidak terlalu malam ketika sampai di Manchester. Wisdom apa ya yang nanti kami temukan di sana? InsyaaAllah nanti disambung lagi..

Note :Pembelajaran yang lebih real time,  saya posting di instagram @okinaf dan FB

 

Mengajarkan Anak Mengelola Keuangan

Kebetulan pagi tadi saya mendapat pertanyaan dari alumni tentang kapan mengajarkan anak mengelola uang. Karena sudah typing cukup panjang di group, saya pikir lumayan juga bisa jadi artikel.
Seringkali orang tua rancu antara mengajarkan mengelola keuangan dan mengajarkan hidup sederhana. Dua hal yang berkaitan memang, tetapi sebetulnya strategi mengajarkannya berbeda.
Kadang-kadang anak diberi uang untuk ditabung atau disuruh sedekah, malahan ada sekolah yang menganjurkan infak harian. Maksudnya mau mengajarkan hidup hemat dan ikhlas dalam sedekah. Padahal mari kita cermati dulu, akadnya dengan anak bagaimana?
“Nak, ini uang buat ditabung ya” , “Nak ini uang untuk sedekah”. Lho ini mengajarkan anak hidup hemat dan ikhlas bersedekah atau sekedar mengajarkan anak menuruti perintah?
Padahal itu uang siapa? Uang anak atau uang ortu? Yang nabung siapa yang sedekah siapa? Bukankah itu berarti anak menabung uang ortunya dan sedekah dari yang bukan miliknya? Lalu dimana letak penghematannya? Darimana muncul rasa ikhlasnya?

MENGAJARKAN HIDUP SESUAI KEBUTUHAN

Jika ingin mengajarkan anak tentang kesederhanaan, ajarkan bukan tentang nominal uang, tetapi bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan. Belajar hidup sederhana artinya anak tahu apa yang dibutuhkan bukan sekedar diinginkan, kriterianya apa, dibeli atau dibuat sendiri, jika perlu membeli sesuaikan antara kriteria dan harga.
Apabila hal yang diminta hanya sekedar keinginan apakah boleh? Tergantung value keluarga anda masing-masing, seberapa jauh sebuah keinginan dituruti dan pada situasi seperti apa. Lagi-lagi, sangat penting bagi sebuah keluarga memiliki values yang jelas dan disepakati. Sebagai contoh di rumah kami, saya tidak bisa sembarangan mengganti laptop. Anak pertama yang mempunyai pengetahuan tentang komputer akan membantu saya menganalisa, apa kriteria yang saya perlukan, apakah perlu beli atau bisa upgrade. Jika membeli apa saja merk yang sesuai. Sesuai kebutuhan tidak selalu murah.

JAJAN, PINTU TERBUKANYA KESALAHAN PENGATURAN KEUANGAN

Anak sebaiknya tidak dibiasakan jajan cemilan. Jajan bukanlah kegiatan harian. Jajan hanya dilakukan di waktu-waktu tertentu yang disepakati misalnya saat nonton di cinema, dalam perjalanan jauh, ada acara khusus dan lain-lain. Disamping sangat bermanfaat untuk membudayakan makan makanan sehat, juga tidak membiasakan anak mengumbar keinginan.

PENGATURAN KEUANGAN

  1. Anak mulai diajarkan tentang uang sebaiknya mendekati usia 10 tahun, yaitu usia dimana anak sudah harus paham tentang kewajiban, konsekuensi, berpikir prediktif dan pengambilan keputusan yang cukup matang (tidak heran mengapa 10 tahun anak boleh diperingatkan dengan keras jika masih menolak sholat meski sudah diajarkan dengan 5000 cara. Silahkan rujuk artikel tentang mengajarkan sholat dengan 5000 cara disini)
  2. Pelajaran tentang uang dimulai dengan pelajaran membuat anggaran atau budget tentang kebutuhannya, bisa harian atau mingguan terlebih dahulu.
  3. Uang diberikan sesuai budget yg diajukan dan dilaporkan setelah periode selesai. Proses pelaporan dan pertanggungjawaban ini sangaaaat penting membangun sikap jujur, amanah, dan memberantas mental korupsi sejak dini.
  4. Jika ternyata kurang, lakukan review dimana letak kekurangannya. Salah anggaran atau keliru dalam pengeluaran. Tidak apa-apa mengajarkan berulang-ulang. Sangat jarang kan manusia di dunia ini yang sekali belajar langsung piawai. Tidak usah mencela apalagi ngomel.
  5. Jika surplus atau sisa karena menghemat (bukan salah budgeting) maka sisanya dikembalikan dulu. Lalu kemudian sisa tersebut boleh diberikan kembali dan diambil sebagai hak milik anak. Nah, mulailah mengajarkan konsep menabung, dan yang ditabung betul-betul milik anak. Sumbernya benar, akadnya benar.
  6. Setelah lancar menyusun budget, spending dengan benar dan melaporkan dengan baik, strategi bisa diubah. Jika awalnya yang diserahkan sebagai hak hanya sisanya, sekarang boleh diserahkan sebagai hak sejak diberikan di depan. Boleh dilebihkan dari budget dan anak boleh menabung sebelum spending (bukan sekedar sisa, tetapi tabungan yang direncanakan) dan mulai bersedekah, boleh dari sisa setelah kebutuhan dasarnya terpenuhi, boleh disisihkan sejak awal. Dengan demikian anak belajar konsep yang benar dengan cara yang benar.
  7. Sedekah tidak harus berbentuk uang. Jika ingin mengajarkan anak bersedekah sejak dini ajarkan memberi senyuman, membagi mainan yang sudah diberikan kepadanya, membacakan cerita anak yang sakit di RS, mengangkat jemuran tetangga. Sedekah dengan sesuatu yang dimilikinya (secara hukum dunia karena dalam hukum akhirat tidak ada satupun yang kita miliki) Sehingga terasa upaya pelepasan hak dan keikhlasan melakukannya
  8. Di usia  menjelang baligh atau 12 tahun, anak sudah belajar untuk earn a living yaitu mempunyai penghasilan. Tidak harus tetap, tetapi dia tahu bagaimana menciptakan penghasilan. Ajak anak membuat anggaran bisnis, berikan modal atau kerjakan bersama-sama, misalnya salah satu alumni kami membuat pempek  dan pisang goreng di akhir minggu, lalu anaknya berjualan keliling kompleks. Bisa memberkan les. Banyak sekali alternatif yang bisa dieksplore. Ketika anak sudah ada penghasilan sendiri, tekankan tentang konsep sedekah dan keutamaannya.
  9. Konsep sedekah juga  diajarkan ketika anak dapat uang seasonal seperti angpao, uang lebaran, dan lain-lain

Dalam beberapa kasus, saya menemukan orang dewasa yang suka mengambil barang-barang yang bukan miliknya lalu diberikan kepada orang lain lagi (mungkin mengadaptasi kisah Robin Hoods :D), dan jika ditegur jawabannya “Ah dia udah ngga pakai kok, kan bagus aku membantunya sedekah”. Padahal saat memberikan tidak memberitahukan yang diberi itu milik siapa. Ada juga orang yang selalu menganggap sisa budget adalah miliknya atau keuntungannya, karena kebiasaan dari kecil. Seolah tidak memahami bahwa itu adalah korupsi. Ada lagi kasus orang yang sangat sulit membuat laporan keuangan meskipun sangat sederhana.

Jangan pernah mengajarkan pada anak bahwa mencari uang itu sulit, ajarkan kepada mereka bahwa rejeki Allah itu luas, dan kelak kita harus mempertanggungjawabkan, bagaimana cara kita mendapatkannya dan bagaimana kita mengeluarkannya sehingga menjadi harta yang barokah.

Bukankah kita telah dituntun, untuk tidak menyerahkan harta kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya? Dan kitalah yang wajib memenuhi kebutuhan mereka dan menjelaskan dengan kata-kata yang baik? (An Nissa :5)

Ajarkan bertahap sesuai tuntunan agar anak tidak melihat uang itu segalanya. Uang hanyalah alat tukar biasa, karena rizki Allah itu tidak hanya berupa uang. Jusru uang itu keciiil dan mudah, sedangkan rizki Allah itu luaaasss dan banyak.

Semoga Bermanfaat

4 Resep Anti Kesal, Kecewa Dan Baper

Apa sih yang menyebabkan seseorang kesal dan kecewa?

Mengharapkan hal di LUAR dirinya berubah seperti yang ia inginkan, tapi tidak kesampaian. Yes?

Ingin anak berubah..

Ingin pasangan berubah..

Ingin anak buah berubah..

Ingin masyarakat berubah..

Ingin pemerintah berubah..

Ingin dunia berubah..
Ingin, tapi ngga action, kalaupun action, actionnya cuma itu-itu saja, lalu frustrasi. Yes?
Terus gimana dong?

Memangnya ngga boleh menginginkan perubahan?

Memangnya saya ngga boleh kesal melihat kemunkaran?

Memangnya.. memangnya…
Tentu boleh.. tapi ada strateginya
1. Tegakkan aturan dan buat kesepakatan lalu konsisten menjalankannya. Ini berlaku di area dimana kita punya wewenang membuat aturan. Inilah untungnya jadi pemimpin, paling tidak untuk diri sendiri dan keluarga kita. Demikian juga saat menjadi  kalau  pemimpin di tempat kerja dan masyarakat. Apalagi kalau bisa jadi pemimpin di area yang lebih luas yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak.
2. Menjadi teladan perilaku yang anda inginkan untuk menginspirasi dan menjadi teladan. Alhamdulillah kalau ada yang ikut, jadi bola salju kebaikan. Kalau ngga ada yang ikutpun sudah dapat pahala amal kebaikan.
3. Mengatur strategi persuasi. Mulai dari menyusun tujuan yang well-formed, suasana yang dibangun, kalimat yang tepat, perilaku yang sesuai, hingga evaluasi dan feedforward yang efektif. Jika satu strategi belum berhasil, perbaiki lagi ke strategi berikutnya. Kalau ngga berhasil juga paling tidak sudah dapat pahala berupaya dengan tangan kita, bukan hanya selemah-lemahnya iman yaitu dalam hati alias nggrundel dan kesel 😀. Orang sering keliru memaknai persuasi dengan menipu atau manipulasi dalam arti yang negatif. Padahal, semua Nabi dan orang-orang yang menggerakkan kebaikan melakukan persuasi. Bahwa mengajak kepada kebaikan itu juga memerlukan kepiawaian persuasi. Relasi antar manusia dipenuhi proses influence & persuasi secara alami

Dr. Robert Cialdini mengatakan ada 6 strategi persuasi yang bisa dilakukan, tentu setelah memiliki tujuan yang well-formed dan hal-hal lain yang telah disebutkan di awal

  • Timbal Balik : Beri dulu baru meminta. Contohnya : Perhatikan dulu baru meminta perhatian. Sayangi dulu baru minta disayang. Dengarkan dulu baru minta didengarkan dst.
  • Kelangkaan : Orang tertarik jika yang anda tawarkan istimewa. Langka dibanding yang lain. Jadi kalau ingin pasangan lengket, jadilah istimewa, halaah kok kesini ya.. 😀
  • Otoritas : Yang mempersuasi bisa dipercaya tidak, ada kepakarannya tidak, terbukti practice what they preach atau tidak?
  • Konsistensi : Persuasi itu bertahap. Mulailah dari komitmen kecil baru ajak ke komitmen besar. Jangan tiba-tiba minta berubah drastis.
  • Kesukaan : Orang cenderung suka mengikuti orang yang disukainya. Ngga heran kalau iklan pakai artis terkenal kan? Karena menggunakan prinsip ini. Jadilah orang yang disukai subject agar mudah mempersuasi.
  • Konsensus : Orang mau dipersuasi jika ada temannya yang juga melakukan hal yang sama. Rame-rame. Ngga aneh. Maka kumpulkan fakta-fakta bahwa apa yang anda persuasikan itu juga banyak yang sudah melakukan kok.

4. Meninggalkan. Meninggalkan ini khusus di area yang memang belum atau bukan menjadi tanggungjawab kita. Kalau masalahnya perubahan anak, mau ditinggal kemana? Masa mau ditaruh di panti asuhan. Meskipun fisiknya ditinggalkan, pertanggungjawabannya tetap mengejar di yaumil hisab
Strategi 1-4 itu bisa dikombinasikan sesuai kebutuhan. Makin piawai mengkombinasikan makin keren hasilnya.
Dan yang paling penting DO’A tetap melingkupi di seluruh strategi, do’a bukanlah alternatif, do’a itu sejak buka mata sampai tutup mata lagi mengiringi semua kegiatan.
Jadi, masih suka kesal dan kecewa? Sudah sibuk melakukan no 1 sd 4 belum?

Memuji dan Menegur Efektif

IMG_0014

Catherine Scott dalam bukunya Learn to Teach: Teach to Learn menyebutkan bahwa jika kita salah dalam memuji anak dan terjebak pada memberi label positif menyebabkan anak menjadi sombong, terlalu fokus pada hak, dan suka menyalahkan orang lain ketika mengalami kesulitan.

Lalu bagaimana caranya memuji yang benar?

  • Latih telinga, mata, dan rasa, untuk menjadi detektif kebaikan. Perhatikan anak Anda. Perhatikan saat ia melakukan kebaikan. Meski kecil, meski sangat sederhana. Meski itu hanya berupa senyuman saat Anda berbicara dengannya, mengucapkan doa setelah makan, bermain dengan saudaranya dengan akur, berangkat sekolah tanpa mengeluh, atau sekadar menutup keran air. Sering kali orangtua abai untuk memuji hal-hal kecil yang sehari-hari dilakukan anak, menganggap hal itu “sudah seharusnya”. Padahal bermula dari hal-hal kecil yang sudah baik inilah muncul dorongan untuk melakukan hal-hal baik lainnya yang sama atau lebih besar, jika dihargai.

 

Buatlah catatan kebaikan. Kebanyakan manusia menghapuskan semua catatan kebaikan seseorang dalam hatinya hanya karena satu saja keburukannya, dan tetap mengingat keburukannya meski telah banyak kebaikan yang dilakukannya. Catatan kebaikan memudahkan kita untuk semakin bersyukur terhadap hal-hal kecil. Bukankah dengan bersyukur akan semakin bertambah nikmat-Nya? Kebanyakan konflik dalam hu­bungan manusia (bukan hanya dengan anak) disebabkan kita sibuk menuntut orang lain begini dan begitu, mengeluhkan ini dan itu, tapi sangat sedikit bersyukur.

 

Berikut ini cara MEMUJI yang EFEKTIF:

  • Puji perilaku, usaha, dan sikapnya, bukan karakteristik orangnya.
  • Nyatakan konsekuensi positif dari perilaku itu.
  • Nyatakan dalam kalimat sederhana yang mudah dipa-hami.
  • Tanamkan keimanan untuk siapa/apa dia memelihara perilaku baik itu.

 

Memuji perilaku, usaha, dan sikap, membuat anak merasa yakin bahwa ia mempunyai kendali atas perilakunya. Perilaku adalah hasil usaha, bukan sesuatu yang melekat, bersifat genetik, dan tidak bisa diubah.

 

Menyatakan konsekuensi positif dari perilaku, usaha, dan sikap anak, berarti mengajarkan kepadanya untuk memahami sebab akibat dari sebuah perbuatan. Pilihlah konsekuensi yang kasat mata dan bukan berupa janji.

Pujian yang dinyatakan dengan kalimat sederhana memberikan pesan yang jelas, perilaku apa yang diharapkan dan tidak berlebihan.

Menanamkan keimanan menumbuhkan keyakinan bahwa perbuatan baiknya bukan sekadar untuk menyenangkan orang lain termasuk orangtuanya sendiri, tetapi sebagai bagian dari tujuan penciptaan manusia.

Contoh memuji yang efektif:

  • “Bagus sekali Kakak sudah meletakkan sepatu di rak sepulang sekolah, rumah kita jadi rapi, Allah suka pada keindahan.”
  • “Wah…kalian berdua bermain dengan akur dan berbagi. Mama bahagia kalian saling menghargai dan menya-yangi, Tuhan menyayangi orang yang menyayangi sesama.”

 

Contoh pujian yang tidak efektif:

  • “Duh…hebatnya anak ayah, paling keren seduniaJ. Sudah besar, pintar merapikan kamar. Jangan seperti kemarin­-kemarin ya, berantakan di mana-mana, sakit mata ayah melihatnya.”

 

Ada tiga kesalahan dalam pujian di atas:

  • Memuji karakteristik orangnya bukan perilakunya.
  • Diikuti dengan kritikan dan mengungkit kesalahan yang telah lalu.

 

Pujian yang diikuti kritikan atas perilaku yang sudah terjadi di masa lalu akan menjadikan pujian itu kehilangan arti. Memuji karakteristik orang, seperti pintar, cantik, hebat, sudah besar dan hal-hal lain yang sifatnya membentuk konsep, akan membingungkan karena sifat-sifat tersebut relatif. Ketika suatu saat nanti Anda dihadapkan pada kondisi yang berbeda, Anda akan terjebak dalam sikap yang tidak kongruen. Misalnya, ketika­ anak minta izin untuk menonton film yang bukan untuk usianya di malam hari bersama teman-temannya, Anda me-ngatakan, “Masih kecil kok nonton film remaja, malam-malam pula seperti anak nakal saja.” Lho, ketika memuji kamar yang rapi, Anda bilang dia sudah besar; mengapa ketika mau nonton film Anda katakan masih kecil? Jadi sebetulnya dia sudah besar atau masih kecil? Ketika memuji, Anda mengatakan ia anak hebat, sekarang Anda mencelanya seperti anak nakal. Kenapa tadi hebat dan keren sekarang jadi nakal? Bingung sendiri, kan?

 

Dweck (2006), seorang profesor bidang psikologi di Stanford University, dalam penelitiannya mengenai efek memuji, menemukan bahwa anak yang dipuji kepintarannya mudah frustrasi saat mengalami kegagalan dan tidak berani mengambil risiko. Anak-anak yang dipuji usaha dan perilakunya, cepat bangkit saat tidak berhasil menyelesaikan sebuah tugas dan mau berusaha lebih keras pada kesempatan berikutnya. Memuji dengan kata-kata yang berlebihan akan mendatang rasa sombong dan menjerumuskan, bahkan Rasulullah saw. mengumpamakan orang yang memuji berlebihan seperti memotong leher orang tersebut.

Kalau begitu, apakah tidak boleh menegur anak? Tentu boleh. Pada poin sebelumnya telah dijelaskan cara memuji­ yang efektif, berikut ini cara menegur yang efektif:

  • Tegur PERILAKU-nya bukan karakteristik orangnya.
  • Katakan secara tepat apa kesalahan perilakunya.
  • Katakan pada anak bahwa dia mampu membuat perubahan atau pernah bersikap lebih baik dari itu.
  • Tidak mengungkit kesalahan yang lalu.
  • Tetap cintai orangnya.

Contoh menegur yang efektif:

  • “Kak, karena kamu tidak menyiapkan buku sebelum tidur, PR-mu tertinggal. Selama ini ibu mengamati bahwa kamu akan ingat membawa PR-mu jika sebelum tidur tas sekolahmu sudah disiapkan. Artinya, kamu BISA lebih baik dari hari ini” (disertai senyuman dan tepukan di bahunya).

Contoh teguran yang lebay:

  • “Kak, tuh kan…PR-mu ketinggalan lagi, masih muda jangan pelupa dong. Makanya siapkan tas sekolah sebelum tidur. Ingat nggak…? Minggu lalu juga gini kan? Siapa coba yang repot? Ibu, kan…harus mengantar PR-mu ke sekolah. Besok-besok jangan malas dan jangan lupa siapkan ya” (rrrgghh…mengeluarkan suara lebah terbang, menggerutu keluar kamar, dan belum sampai di luar kamar sudah kembali lagi…) “Ingat lho ya, ibu nggak mau ngantar PR-mu lagi.”

 

 

Mencela sebagai pelupa, pemalas, akan melukai konsep dirinya dan membentuk konsep diri yang buruk, seolah tiada harapan untuk diperbaiki. Bukankah Tuhan tidak suka kepada orang yang suka mengutuk dan memberikan gelar buruk? Menegur perilakunya dan menunjukkan bukti bahwa ia pernah bisa melakukan yang lebih baik, memberikan keyakinan bahwa berubah itu mudah.

Screenshot

Sudahkah sesuaikah apa yang selama ini dilakukan?

*Disadur dari buku The Secret Of Enlightening Parenting

MEMPERSIAPKAN ANAK KE MASJID

Ramadhan segera tiba, mungkin akan muncul lagi diskusi soal masjid ramah anak dan bagaimana membawa anak ke masjid, si anak yang harus tertib atau seluruh jamaah yang harus maklum.
Mengakrabkan anak terutama anak lelaki dengan masjid memang sangat penting, tetapi tentu ada caranya, ada adabnya, bukan sekedar modal..

” Ah.. nanti juga ngerti sendiri, namanya juga anak-anak.”

Bagi anak-anak, pergi ke masjid, pergi ke supermarket, pergi ke arisan keluarga atau ke tempat manapun dimana dia diharapkan berperilaku tertentu, sama menegangkannya seperti anda mau tampil di depan Gubernur.

Jika anda akan tampil paduan suara di depan Gubernur, kira-kira perlu berapa kali latihan? Ada gladi kotor? Gladi bersih?
Anak-anak bukan orang dewasa yang dikecilkan, maka ia perlu berlatih menghadapi situasi baru.

Bagaimana caranya? Mari optimalkan ikhtiar di pihak kita, bukan mengharapkan semua orang berubah sesuai maunya kita.
1. Lakukan briefing : Apa yang harus dilakukan di masjid, berapa lama waktunya (bawa timer digital jika sudah mulai mengenalkan tentang waktu), apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang boleh ia bawa jika ternyata sholat belum selesai dan ia lelah
2. Lakukan role playing di rumah : lakukan beberapa skenario, suasana ketika sedang sholat, suasana jika ada khutbah, anda berperan sebagai ortu, sebagai jamaah lain (jamaah ramah, jamaah galak, dll)
3. Mulailah dari waktu sholat yang pendek. misalnya sholat subuh atau maghrib (jangan tiba-tiba diajak tarawih yang waktunya panjang). Evaluasi hasilnya, mana yang perlu diperbaiki dan dilatih lagi
4. Ingat bahwa rentang perhatian anak masih terbatas, bagi anak balita mampu bertahan dalam kegiatan yang sama 20 menit itu sudah prestasi gemilang. mendekati 7 tahun hingga 10 tahun, maksimal 40 menit itu sudah luar biasaaa.. apalagi jika kegiatan itu dianggap kurang menarik
5. Tempatkan anak di posisi dekat dinding sebelah anda agar jika ia meninggalkan shaf tidak membuat shaf anda terputus
6. Secara sopan minta ijin dan minta maaf terlebih dahulu kepada jamaah di sekeliling anda jika nanti ada kondisi yang mungkin tidak mereka sukai (ini sekaligus menjadi contoh bagi anak tentang sopan santun dengan menghormati hak orang lain).
Semua persiapan ini sangat penting bukan sekedar agar orang lain tidak terganggu, tetapi juga mencegah anak mengalami perlakukan tidak menyenangkan di tempat yang seharusnya kelak ia cintai ini. Karena pengalama traumatis di usia dini, membekas cukup panjang dan dalam. Mungkin anak tidak ingat peristiwanya tetapi bisa jadi masjid menjadi anchor perasaan tidak nyaman bagi anak,
Usia berapa sebaiknya dimulai? Sejak anak sudah bisa memahami briefing dan role playing sederhana. Setiap anak berbeda-beda, ada anak salah satu alumni kelas kami yang usianya baru 1.5 tahun sudah faham, ada yang 4 tahun, ada yang 7 tahun, tergantung pola komunikasi dan kebiasaan di rumah anda. Anak yang memiliki kedekatan yang baik dan biasa diperlakukan respectful insyaaAllah memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik.
Jika dirasa bermanfaat silahkan dibagikan

 

Manusia, Ibarat Wadah Prasmanan

Ih.. aku ngga suka lho sama si itu…

Ah.. aku sudah kehilangan cinta padanya…

Dasar si fulan ya memang gitu orangnya..

Kamu memang ngga pernaaah ndengerin aku…

Kamu selaluuu begitu padaku..

Memang kamu anak sulit

Aku ini orangnya pemarah…

Aku memang begini, susah berubah, terima aja..

Emang udah dari keturunannya sial ya sial aja..

Familiar dan akrab dengan kalimat-kalimat di atas? Entah dilakukan oleh diri sendiri atau mendengar dalam kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya, Manusia, ibarat wadah prasmanan. Di dalam masing-masing wadah itu kadang tersaji emosi, perilaku, pengetahuan, persepsi, dan lain-lain. Meskipun sebagai wadah, namun manusia adalah wadah yang memiliki ruh dan diberi kemampuan akal oleh Tuhan untuk memilih sendiri isinya. Jika ada yang isinya tidak enak, bisa diganti sajian lain yang lebih enak. Jika ada yang basi, bisa dibuang lalu diisi lagi sajian yang baru.  Jika emosi yang sedang tersaji dalam wadah ternyata tidak memberdayakan, segera ganti. Jika pengetahuan dalam sajian kurang, segera ditambah. Jika persepsi tidak mencerahkan, bisa ditukar. Ada ilmunya, ada caranya, ada sendok takaran yang tepat, ada sumber yang akurat.

Isi sajian bisa berupa hidangan pokok plus sajian penunjang sesuai dengan kebutuhan dan peran yang dijalankan. Ketika berperan sebagai orang tua, pasangan dan sahabat, wadah yang paling depan bisa diisi dengan hidangan kasih sayang dan keinginan melihat hal-hal baik. Namun jika peran yang sedang dijalankan adalah Auditor tentu sajian yang diputar ke bagian depan adalah professional skepticism alias kepekaan melihat kesalahan. Apalagi kalau fungsi yang dijalankan adalah mata-mata perang, wadah yang paling depan tentu peluang untuk menyerang dan mencari kesalahan. Nah.. kepekaan dalam menentukan isi sajian ini begitu penting. Coba kalau terbalik, menyajikan wadah skepticism saat berkomunikasi dengan pasangan, beeuh perang melulu deh.. :D.. 😀

Sungguh sayang jika  wadah yang diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan ini yang hanya pasif saja, saat di luar ada lalat pembawa bakteri tidak segera menutup wadah, akhirnya sajian di dalamnya ikut terkontaminasi. Saat di luar ada taburan vitamin bergizi yang justru akan membuat rasa dan aroma sajian kita semakin sedap dan indah tidak mau membuka diri. Atau malah membiarkan wadah-wadah lain yang sudah basi menumpahkan makanan basinya ke wadah milik sendiri.

Saat manusia berinteraksi dengan manusia lain, pandang, dengar dan pikirkan ia sebagai wadah. Saat suami memandang istri, saat sahabat mendengar sahabat, saat orang tua merasakan anak, saat penonton melihat tokoh, saat penjual menghadapi pembeli, saat dalam meja perundingan, saat dalam manajemen meeting, saat membaca short message dari anak buah  dan berbagai kesempatan interaksi apapun. Yang tersaji saat itu mungkin hanya satu atau beberapa sisi wadah yang sedang menghadap ke kita.

Khusus untuk orang-orang yang kita sayangi, pasangan, orang tua, saudara, anak, sahabat, jika tersalah mereka menyajikan salah satu hidangan yang tidak anda sukai, ingatlah bahwa hanya sebagian hidangan itu saja yang perlu diperbaiki bukan keseluruhan wadah prasmanan itu menjadi buruk. Kemudian membuat generalisasi “Dasar memang anak ini nakal”, “Kamu memang suami yang tidak mengerti aku sama sekali” dan ungkapan-ungkapan lain, apakah yang terkatakan maupun yang hanya tersimpan di dalam self-talk, karena ucapan baik yang terkatakan maupun tidak, akan mempengaruhi pilihan sikap dan tindakan seseorang. Tetap sayangi dan cintai wadahnya.

Jika ingin membuat perbaikan, nyatakan dengan spesifik, hidangan mana yang perlu diperbaiki. Sebaliknya yang menerima juga perlu mengisolasi permasalahan hanya pada hidangan tertentu itu saja sehingga tidak mengeneralisasi sebuah niat baik untuk membuat perbaikan sebagai kebencian menyeluruh.

Apakah itu hanya khusus bagi yang kita sayangi? Tentu saja tidak.

Idealnya… begitulah cara kita mensikapi SEMUA manusia. Kecuali… jika memang anda punya tujuan lain misalnya mencari musuh, membuat strategi penghancuran karakter, meninggalkan cinta terlarang, terlibat dalam pertempuran politik atau hal-hal semacam itu. Generalisasi sajian menjadi keburukan seluruh wadah bisa dilakukan dengan sengaja, bahkan hidangan yang lezat bisa diplintir eh didistrorsi menjadi memuakkan. Jika itu dilakukan dalam koridor profesi maka akan dengan mudah mengembalikan ke persepsi awal, tetapi malangnya yang saat ini terjadi, manusia melakukan generalisasi dan distorsi tanpa sadar entah karena kurangnya ilmu atau terseret arus media

Tentukan dan desainlah peran dan tujuan hidup kita di dunia, laksana mendesain sebuah tema jamuan, maka akan dengan mudah kita tentukan, sajian apa saja yang perlu kita hidangkan dan bersama wadah yang berisi sajian apakah kita akan berkumpul. Agar kelak saat tugas kita sebagai wadah telah berakhir, akal telah tak difungsikan, ruh telah memantaskan diri untuk dikembalikanNya ke tempat yang indah.

 

MidLife Crisis, Lalui Dengan Elegan

Beberapa bulan belakangan ini, trend kasus yang mampir ke ruang konsultasi saya bergeser dari masalah anak-anak dan remaja menjadi masalah pemetaan diri dan pernikahan. Semoga tulisan ini dapat membantu anda, pasangan anda dan orang-orang disekitar anda untuk melalui sebuah tantangan dalam hidup.

Midlife atau Middle adulthood adalah istilah populer untuk sebuah tahapan antara usia kurang lebih 40-60 tahun. Midlife crisis tidak melulu soal jatuh cinta lagi. Berdasarkan penelitian Elliot Jaques, midlife crisis ditandai dengan keinginan untuk membuat perubahan yang signifikan terhadap satu , beberapa, atau seluruh aspek kehidupana misalnya karir, kondisi keluarga, hubungan dengan pasangan, pengalaman hidup, peran sosial dan penampilan fisik. Di Indonesia, kondisi ini sering disebut sebagai “Puber Kedua’ karena katanyaaa.. kelakuannya mirip-mirip anak remaja alias remaja koloot.. :D.. :D.. Para ahli masih memperdebatkan apakah midlife crisis berhubungan dengan perubahan hormonal/fisiologis, semata-mata persoalan psikologis, atau sebuah simfoni dari keduanya.

Apa saja sih krisis yang mungkin terjadi?

  1. Career Crisis : Muncul rasa bosan pada pekerjaannya, merasa sudah mentok (mentok yang berarti buntu ya, bukan temannya bebek), kecewa karena merasa “seharusnya” sudah sampai di level tertentu tetapi masih saja jadi kroco mumet. Biasanya ditandai dengan mulai memperlambat waktu datang, memperpanjang waktu istirahat siang atau mempersingkat waktu pulang alias ngga mau telat dua kali – udah telat datang, jangan pula telat pulang .. :p. Banyak ngedumel jika tipe talkative tapi murung jika tipe pendiam
  2. Family Role Crisis : Merasa lelah dengan suasana di rumah. Pada midlife crisis tahap awal biasanya usia  anak-anak bervariasi  antara remaja dan balita. Anak-anak mulai pandai berargumen namun masih perlu rawatan fisik, sehingga muncul kelelahan kognitif maupun fisik, perasaan gagal mendidik dan tidak dihargai. Krisis ini ditandai dengan suka mencari alasan untuk lebih banyak mempunyai kegiatan di luar rumah, tenggelam dengan hobi atau justru memperpanjang kerja di kantor (atau di cafe dekat kantor … :D). Pada midlife crisis tahap akhir (di atas 50 tahun), ditandai dengan perasaan kesepian karena anak-anak meninggalkannya untuk menikah.
  3. Romantic Relationship Crisis: Menginginkan perubahan pada hubungan dengan pasangan. Di usia 40-60 tahun, biasanya usia pernikahan sudah memasuki tahun ke 10 atau lebih. Mulai ada kejenuhan, kehilangan suasana romantis, hubungan mendingin (AC kaliiii….), kehilangan sopan-santun bertutur dan masalah hubungan seksual
  4. Social Role Crisis : Merasa gamang dengan peran social di luar pekerjaan dan keluarga karena sebagian besar waktu dihabiskan untuk keluarga dan atau pekerjaan
  5. Self Image Crisis : Ditandai dengan pertanyaan pada diri sendiri “Apakah aku ini menarik?” baik secara fisik maupun secara citra diri. Perubahan bentuk tubuh, tekstur kulit, warna rambut, pakaian dan keseluruhan penampilan menjadi perhatian. Tidak hanya yang melekat di tubuh tetapi yang digunakan sehari-hari seperti kendaraan pribadi.

Midlife crisis dapat dialami baik pria maupun wanita namun mempunyai penekanan yang berbeda. Menurut penelitian para ahli yang disarikan oleh Hoffman, Hall dan Paris dalam bukunya Developmental Psychology Today, pria lebih sering mengalami krisis no 1,3 dan 5, sedangkan wanita lebih sering mengalami krisis no 2,4, dan 5. Tentu saja ini cuma studi, yang dialami masing-masing orang pada kenyataannnya bisa berbeda. Self image crisis pada pria dan wanita juga muncul dalam bentuk yang berbeda, jika di eropa pria yang mengalami self image crisis kemudiam membeli sport car warna gonjreng, di Negara berkembang mungkin berhenti di soal pakaian dan penampilan. Ya iyalah.. mau ngebut dimana dengan sport car kalau jalannya aja imut-imut plus harga mobil dan pajaknya yang aduhai bajaaii…. Pada wanita, perilaku yang tampak adalah galau terhadap bentuk tubuhnya yang mungkin tak lagi selangsing dulu, sibuk menghitung jumlah kerutan dan noda-noda di wajah… kalau perlu pake kaca pembesar :D…

Midlife crisis wajar-wajar saja terjadi, akan menjadi tidak wajar jika kondisi itu kemudian mengganggu kebahagiaan anda, luapan emosi yang berlebihan dan perseteruan dengan orang-orang di sekitar anda utamanya pasangan dan rekan kerja. Midlife crisis tidak perlu disembunyikan dari pasangan anda, karena justru bersamanyalah anda akan dapat melaluinya dengan elegan, pun demikian, bukan berarti perlu anda umumkan di status FB :D… Jadi apa yang harus dilakukan? Berikut ini tips menghadapi midlife crisis :

  1. Kerjasama dengan pasangan : apakah anda pria maupun wanita, kerjasama dan dukungan dari suami/istri sangat diperlukan. Kerjasama seperti apa kiranya?
    • Keterbukaan komunikasi : buatlah kesepakatan dengan pasangan anda untuk dapat menceritakan apa saja kegalauan anda, bahkan ketika anda tertarik dengan orang lain. Whhaaaattttt??? Salah tulis kaleee… Tidak, ini tidak salah tulis. Kesepakatan seperti ini akan memudahkan pasangan anda “mengembalikan” perhatian anda kepadanya. Tidak mudah? Memang. Perlu kesabaran ekstra. Namun bukankah lebih mudah bagi anda jika pasangan anda memberitahu anda dengan pasti apa yang membuat dia tertarik pada orang lain? Sehingga mudah bersepakat, hal-hal apa yang perlu diperbaiki dan disesuaikan. Kesepakatan-kesepakatan kecil yang cukup membantu diantaranya adalah menyepakati waktu tertentu dimana salah satu pihak boleh uring-uringan ngga jelas, sedangkan pihak lain sekedar menjadi telinga. Tanpa menanggapi apalagi menyimpannya dalam hati. Bonus waktu boleh uring-uringan ini tentu hanya anda berdua saja yang mendengar, tidak perlu dilihat anak-anak, apalagi membangunkan tetangga :D…  Berapa lama durasinya dan seberapa sering idealnya? Silahkan pada kesepakatan anda dan ketahanan telinga anda… :D. Contoh kesepakatan lain adalah mensepakati cara menegur apabila salah satu pihak melakukan hal yang tidak disukai pihak lain. Hindari teguran yang seperti kicauan burung kukuk dari jam dinding anda, 24x sehari sepanjang hari. Silahkan tambahkan sendiri kesepakatan-kesepakatan lain. Tuliskan kesepakatan yang sudah dibuat , agar anda bisa mengingat dengan mudah, hal-hal yang sudah disepakati. Keterbukaan komunikasi tidak berarti meninggalkan sopan-santun bertutur. Pelajari pola dan teknik berbahasa yang memberdayakan. Banyak orang yang mau repot-repot belajar teknik komunikasi untuk kepentingan bisnis, politik, menghadapi massa,  tetapi lupa mengaplikasikannya di rumah. Seringkali seseorang sedemikian santun di luar rumah tetapi enggan mengusahakannya di rumah. Lalu apakah itu namanya cinta jika anda tak takut melukai hatinya?
    • Kemauan untuk berubah : Banyak orang keliru berpegang pada kata-kata bijak “menerima apa adanya”. Benarkah “apa adanya” anda di usia 20 tahun sama dengan “apa adanya” anda di usia 40 tahun. Jangan-jangan sudah berubah menjadi “apa-apa ada ” atau “tidak ada apa-apanya”.. :D…  Adalah mustahil manusia tidak berubah sama sekali sejak awal kehidupan hingga akhirnya. Manusia terus berubah waktu demi waktu, tidak hanya fisik, tetapi juga kebiasaan bahkan karakter. Daripada berubah tak tentu arah, bukankah lebih baik meniatkan diri berubah ke arah yang lebih baik? Ketimbang anda berpegang pada ungkapan “cinta itu menerima apa adanya” bukankah lebih baik diubah menjadi “cinta itu bertumbuh menjadi lebih baik bersama-sama”. Lebih baik dalam memahami, mengimbangi, melayani, komunikasi, ketaatan kepada Yang Maha Mengatur kehidupan, dan lebih baik-lebih baik lainnya. Sepakati perubahan seperti apa yang anda ingin lakukan bersama-sama seiring dengan perubahan usia, kebutuhan, pengalaman dan peran anda. Melakukan perubahan memang bukan perkara mudah, tetapi juga bukan hal yang susah. Dengan memahami kerja pikiran (mind),  dan bagaimana pikiran mempengaruhi perilaku begitu juga sebaliknya, perubahan menjadi jauuh lebih mudah. Jika perlu minta bantuan professional untuk memudahkan anda. “Tapi, kalau pasangan saya tidak mau berubah bagaimana dong… Apa perlu diganti? hehehehe hush…. 🙂 Bukankah mengubah dengan teladan paling berkesan?
    • Sentuhan :  Penelitian Allan N. Schore (2001) dan Kathleen C. Light (2004) menunjukkan bahwa pelukan dan sentuhan kasih sayang meningkatkan produksi hormon Oxytocin. Hormon ini memberikan perasaan tenang, kelekatan secara personal, menyeimbangkan tekanan darah, mempengaruhi kemampuan orgasme, menurunkan kecemasan dan memunculkan perasaan bahagia. Hormon ini sering disebut juga sebagai love hormone. Tidak seperti hubungan seksual yang memerlukan privasi, sentuhan dapat dilakukan kapan saja dimana saja… Bukankah jika suami-istri bergenggaman tangan, akan berguguran dosanya dari sela-sela jarinya? Kapan lagi bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus, menggugurkan dosa sekaligus bonus meningkatkan hormone Oxytocin?
  2. Kenali diri : Midlife crisis bukanlah hal memalukan yang perlu anda tolak atau tekan dalam-dalam dari kesadaran. Bagaikan alarm, midlife crisis merupakan pesan yang dikirim bawah sadar anda untuk membuat perubahan. Semakin ditolak, justru alarm itu semakin kuat menunjukkan eksistensinya. Berdamailah dengan diri . Sadari perubahan dan kelola perubahan itu. Buatlah rencana dan lakukan secara nyata. Sibuk bergalau ria dan berandai-andai menjadikan anda jalan di tempat. Jika anda menginginkan perubahan dalam karir, segera ubah strategi anda, perbaiki performance anda, atau wujudkan karir baru yang lebih sesuai dengan anda sekarang. Jika anda mengalami kegalauan peran dalam keluarga, segera susun langkah baru, pendelegasian tugas, memperbaiki strategi komunikasi, belajar lagi ilmu parenting, dan lain-lain.
  3. Kenali Tuhan : Pahami kembali makna kebersyukuran dan tafakuri setiap masalah yang dihadapi, bukankah itu salah satu cara Allah untuk menjadikan hambanya lebih baik?

Midlife crisis hanyalah sebuah proses,  yang untuk melaluinya terdapat dua pilihan, penuh friksi yang berakhir pada frustrasi atau elegan menjemput berbagai perbaikan…