Hadir Di Jogja,The Secret of Enlightening Parenting Training

Flyer Training_TSOEP_Yogya

Akhirnya kini ada sekolah jadi orang tua…

Mau tahu cara menyuruh anak tanpa anak merasa disuruh?
Mau tahu trik pagi hari Anda terasa tenang dan damai tanpa muncul tanduk di kepala?
Yakinkah Anda bahwa selama ini telah benar mengasuh anak dan tidak ada yang keliru?
Tahukah Anda perasaan anak saat dibully?
Mampukah Anda menghilangkan trauma yang membekas pada anak secara efektif?

Apakah anda sudah memahami cara kerja otak dan mengoptimalkannya?

Inginkah anda mengetahui rahasia memiliki anak yang cinta beribadah?
Tahukah Anda bahwa anak pandai membuat keputusan dan memotivasi diri?
Dan masih banyak lagi problem yg muncul dalam mengasuh dan mendidik anak.
Belum lagi permasalahan narkoba, game addictive dan pornografi, aliran-aliran sesat dan lainnya yang merupakan tantangan di jaman sekarang.

Nah, mari temukan jawaban semua pertanyaan di atas secara efektif dan pahami cara menangkal berbagai tantangan jaman.

“The Secret of Enlightening Parenting”
Hotel Jogjakarta Plaza
Yogyakarta, 26-27 Maret 2016

Untuk pendaftaran, hubungi:
Ibu Rina Mulyati
Telp./WA No. +628112570039

Sdri. Dini Swastiana
Telp./WA No. +62811910273

Form online:
https://enlightening.typeform.com/to/N3Hzhe

E-mail: enlighten_empower@yahoo.com

Salah satu Testimoni peserta training sebelumnya

Dodi Kusmajadi

Alhamdulilah……

Perasaan tenang dan lebih percaya diri itu ternyata masih tetap mengendap di dada ini. Padahal, pelatihan parenting yang digelar Mbak Okina Fitriani dkk di Jakarta Sabtu dan Minggu kemarin, telah terpisah dua hari. Perasaan yang membuncah di dada ini membuat saya yakin bahwa persoalan-persoalan mendidik dan berkomunikasi kepada anak maupun istri bisa ditangani lebih baik daripada sebelumnya.

Pelatihan parenting ini memang sangat bermanfaat bagi saya. Dampak atau hasilnya tidak hanya terasa pada tataran pengetahuan atau pemikiran, tetapi juga terasa “jleb” di dada ini.
Mengapa demikian? Sebab, percaya atau tidak, ilmu serta pemahaman baru tentang parenting dan pengendalian emosi tersebut ditanamkan ke alam bawah sadar saya. Alhasil, ajaib, emosi saya pun bisa lebih terkontrol dan berpikir lebih jernih ketika berhadapan langsung dengan persoalan di rumah.

Bayangkan, secara otomatis, tips dan trik yang dipelajari saat pelatihan dapat dipraktikkan dengan hasil di luar dugaan. Saya sudah membuktikannya Senin kemarin ketika anak saya berkeluh kesah tentang van sekolah dan kawan-kawannya. Dengan teknik reorienting dan pengakuan, emosi anak tersalurkan, ayahnya juga bisa menyimak keluhan anak dengan lebih sabar. Bahkan anak saya bisa menemukan solusinya sendiri. Alhamdulilah. Sebelumnya? Yaa….gitu deh.

Saya bersyukur dengan perubahan ini. Saya pun berharap dan berdoa, kondisi ini bisa dipertahankan selamanya. Amin.

 

AGAR ANAK TIDAK BERBOHONG

Kebiasaan berbohong  sangat berbahaya dan menjadi pintu masuk bagi berbagai keburukan dan perilaku kejahatan. Demikian pula kerusakan moral beberapa pemimpin saat ini yang tidak malu terlibat korupsi juga bermula dari ketidakjujuran. Hal ini juga diungkapkan dalam hadist Rasulullah SAW berikut ini :

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa kepada kejelekan, dan kejelekan itu menghantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa bohong hingga Allah mencatatnya sebagai seorang pembohong.” (HR. Bukhari Muslim)

Anak adalah peniru ulang, perilaku berbohong adalah sesuatu yang dipelajari, kemudian diyakini memberi manfaat bagi dirinya. Tidak ada anak yang dilahirkan menjadi pembohong karena anak lahir fitrah dengan potensi baik.  Maka mari kita evaluasi diri dan cara pengasuhan kita, yang telah menjadikan anak mengembangkan kebiasaan berbohong.

 Ada beberapa penyebab perilaku berbohong, tiap penyebab ini bisa jadi berinteraksi satu dengan yang lainnya :

  1.  Mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya

 Anak meniru segala hal yang dilakukan oleh orang tua atau orang-orang dewasa di sekitarnya, termasuk berbohong. Disadari atau tidak, orang tua seringkali memberikan contoh perilaku bohong dalam kehidupan sehari-hari seperti contoh-contoh berikut ini :

  •  Bercanda dengan cara berbohong. Menggoda anak dengan kata-kata, “Nak.. nak itu lihat ada cicak di atas!” hanya sekedar untuk mengalihkan perhatiannya, padahal tidak ada. Hal-hal seperti ini diperingatkan dengan keras oleh Rasulullah SAW sebagai berikut. “Celakalah orang yang berbicara, padahal ia berbohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Banyak orang tua yang tidak menyadari ini.
  • Menyuruh anak mengatakan ayah/ibu tidak ada di rumah kepada tamu atau ketika ada yang menelpon padahal ada.
  • Mengatakan bahwa ayah pergi ke dokter supaya anak tidak mau ikut, padahal ayah pergi ke tempat lain
  • Berjanji tetapi tidak ditepati. Berjanji mengajak anak ke suatu tempat tetapi kemudian tidak ditepati dengan alasan sibuk atau megatakan bahwa anda tidak akan pergi karena takut anak menangis ketika anda tinggal pergi, tetapi kemudian ketika ia asyik bermain, anda diam-diam pergi. Lebih baik anak menangis melihat anda pergi dan belajar mengatasi rasa sedih daripada dibohongi.
  • Mengancam tetapi tidak dilakukan. Ini perilaku yang sangat berbahaya, karena selain mengajarkan kebohongan juga mengajarkan bahwa aturan boleh seenaknya dilanggar. Misalnya karena anak sering bermain gadget lalu anda mengatakan “Awas ya kalau main lagi, nanti ayah buang gadget itu, tetapi ketika ia memainkannya lagi, anda tidak membuangnya.” Maka pikirkan sungguh-sungguh sebelum anda mengucapkan sesuatu.
  • Mengancam dengan menggunakan nama Allah. “Awas ya nanti kamu masuk neraka! Allah marah sama kamu!” Anak mempersepsi Allah menyeramkan seperti orang tuanya yang suka marah-marah dan menghukum. Padahal tidak ada anak kecil yang masuk neraka karena belum dihitung dosanya.

Jika ada salah satu atau bahkan beberapa hal yang anda lakukan seperti di atas maka jangan heran jika anak juga berbohong.

  1. Pernah Dihukum ketika ia mengakui kesalahannya

Anak-anak suka bermain dan belum mengerti resiko karena kemampuan berpikir abstraknya belum berkembang. Barangkali dia pernah berlari-lari di rumah dan memecahkan barang di rumah anda dan ketika ia datang menceritakannya. “Ayah/Ibu aku tadi mecahin vas bunga ibu.” Anda marah dan menghukumnya. Maka sejak itulah anak meyakini bahwa jujur itu berbahaya bagi dirinya.

  1. Menghindari sesuatu yang tidak disukainya

Barangkali anak pernah anak tidak menyukai sesuatu, misalnya tidak menyukai sekolahnya, maka biasanya akan timbul ketegangan yang menyebabkan perutnya merasa tidak nyaman. Lalu ketika ia mengatakan “Ayah/Ibu, aku sakit perut”, maka anda berhenti mencari tahu masalah sakit perutnya dan memperbolehkannya tidak sekolah. Maka anak belajar bahwa mengaku sakit bisa menghindarkannya dari hal yang tidak disukainya. Adalah sangat penting untuk memahami rasa sakit yang muncul dengan tiba-tiba karena masalah psikologis. Biasakan anak menghadapi dan mengatasi ketakutannya secara aman karena dia yakin akan ada ayahibu tang bijak yang membantunya dan ada Allah yang memberi tuntunan. Hal ini nanti bisa dibahas di kesempatan lain karena cukup panjang bahasannya.

  1. Anak terlalu sering dikritik dan dibanding-bandingkan

Anak yang dinilai dari hasil akhir dan bukan usahanya akan cenderung berbohong soal pencapaian, bahkan tidak segan untuk mencontek.

“Ah masa begini aja ngga bisa. Lihat tuh si A, nilainya bagus-bagus”

“Duh kamu ini udah mahal-mahal les kok hasilnya masih seperti ini”

 Anak-anak yang terlalu sering mendapatkan kritikan dari orang tuanya, akhirnya menjadi haus pujian. Mereka akan melakukan segala cara untuk membuat orang tuanya mau memujinya. Salah satunya adalah berbohong. Dengan berbohong, mereka beranggapan bahwa mereka bisa menyelamatkan diri dari “omelan ” dan akan mendapatkan “pujian”.

  1. Ingin diterima oleh lingkungan dan teman-temannya

 Anak-anak yang jarang dipuji di rumah akan mencari pujian dari tempat lain terutama teman-temannya. Ia ingin dianggap hebat. Pada umumnya mereka berbohong soal prestasi, kekayaan atau status sosialnya.

  1. Perhatikan tontonan dan bacaan anak.

Tontonan dan bacaan kisah monster, hantu, dan hal-hal yang tidak ada dalam kehidupan nyata menjadikan kemampuan anak membedakan hal yang nyata dan imaginatif menjadi semakin lambat untuk matang. Perlu dipahami oleh orang tua bahwa hal gaib seperti jin tidak sama dengan hantu atau monster. Lebih baik anak-anak berinteraksi dengan manusia, bermain dengan kegiatan fisik daripada menghabiskan waktunya menonton film-film kartun.

Lalu bagaimana mendidik anak agar jujur?

Tentu yang paling utama adalah menghilangkan penyebapenyebab yang telah disebutkan di atas tadi. Lalu kemudian secara konsisten dan kongruen melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Jadilah teladan dalam hal kejujuran. Anak mungkin salah mendengar nasehat anda tetapi anak tidak pernah salah dalam meniru. Ubahlah diri sendiri sebelum menuntut perubahan pada perilaku anak. Selama anada masih melakukan kebohongan-kebohongan yang ditiru anak, maka perilaku berbohong itu akan terus terjadi.
  2. Hargai dan apresiasi anak ketika jujur mengakui kesalahan. Misalnya ketika ia berlari dan memecahkan vas mahal anda, katakan. “Ayah menghargai kejujuran kamu, terimakasih sudah jujur. Nah menurutmu bagaimana caranya agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi?” Anak akan menasehati dirinya sendiri misalnya dengan mengatakan “Aku besok lebih hati-hati kalau lari”. Puji idenya lalu berikan ide-ide lain misalnya, dimana tempat yang lebih aman untuk berlari, atau pindahkan barang-barang berharga anda, karena kemampuan anak mengendalikan diri belum matang seperti pada orang dewasa.
  3. Biasakan membahas apa yang disukai dan tidak disukai anak. Jangan sepelekan ketakutannya. Lakukan parental coaching agar anak mampu menghadapi hal-hal yang tidak disukainya. Karena kelak kecerdasan emosi dalam mengendalikan dan menghadapi hal-hal yang tidak disukai sangat penting ketika dewasa. Bukankah banyak perintah, larangan dan peristiwa dalam hidup yang mungkin tidak disukainya kelak? Kemampuan pengasuhan seperti ini harus dilakukan dan dilatih, jauh lebih efektif jika dilakukan di dalam kelas pelatihan daripada sekedar membaca buku. Bapak bisa menghubungi redaksi untuk mendapatkan jadwal pelatihan kami.
  4. Jangan membanding-bandingkan anak. Setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda dan kecepatan belajar yang berbeda pula. Maka lebih baik mendorong anak untuk melakukan lebih baik dari apa yang pernah dia lakukan sebelumnya, sehingga ukurannya adalah kemampuan dirinya sendiri.
  5. Puji perilaku baik anak. Pujilah perilakunya bukan orangnya. Memuji dengan mengatakan “Kamu pintar” “Wah hebat deh kamu” adalah cara yang salah. Katakan dengan tepat perilakunya “Wah, hari ini kamu menata meja belajarmu, alhamdulillah, terimakasih ya nak”. Pujian yang tepat akan mendorong perilaku yang sama untuk diulang kembali. Anak yang mendapatkan apresiasi di rumah tidak haus pujian dan tidak merasa perlu berbohong untuk sekedar diterima oleh teman-temannya.

 Sebagaimana orang dewasa, anak-anak sekali waktu, mungkin melakukan kesalahan. Maka bantulah mereka untuk memperbaiki kesalahan tersebut dan percayakan bahwa mereka belajar dari kesalahan tersebut.

Anak-anak yang mendapatkan kepercayaan dan merasa dipercaya, pada akhirnya akan belajar untuk menjaga kepercayaan tersebut dan mau belajar untuk senantiasa jujur dalam perbuatan dan perkataan.

 Mencerdaskan intelegensi anak dan menjaga kesehatan fisik anak, jauh lebih mudah daripada mencerdaskan moral dan menjaga kesehatan mental anak. Menjadi orang tua bukanlah kemampuan otomatis, tetapi harus dengan sungguh-sungguh dipelajari. Jangankan mendidik anak. Menyetrika baju saja ada ilmunya. Oleh karena itu, ayah dan ibu perlu terus belajar karena tantangan jaman semakin hari semakin berkembang.

Pembela Pembenaran atau Pejuang Perbaikan, itu Pilihan..

imagesHari ini  dalam sebuah kelas, seorang peserta bertanya pada saya tentang bagaimana membingkai musibah dalam sebuah makna, yang memberdayakan tentunya… Dan sayapun teringat pada sebuah peristiwa.

Peristiwa ini terjadi 9 tahun lalu, saat pembarep saya mengalami phobia, setelah kami menerapkan anjuran seorang kenalan psikolog yang saat itu saya anggap lebih ahli dalam bidang psikologi perkembangan, yang mungkin sekaligus juga penganut teori-teori Nanny 911..                         .

Rasanya saya tidak perlu menjelaskan seperti apa tepatnya anjurannya itu, yang jelas phobia sudah terbentuk.  Phobia? … Anak seorang psikolog mengalami phobia? Hmmm…. bisa jadi wajar saja, toh anak dokter juga bisa kena demam berdarah, anak insinyur tak pandai matematika, ahli komunikasi yang bertengkar melulu dengan anaknya karena mis-komunikasi. Tetapi peristiwa ini menjadi menyedihkan saat psikolog ini bahkan tak tahu cara menolong anaknya untuk sembuh dari phobia, bukankah ini terdengar mirip  dengan dokter yang tidak tahu cara menanggulangi deman berdarah atau insinyur yang tidak bisa menjelaskan matematika tingkat SD dan ahli komunikasi yang tak tahu dimana letak simpul masalah komunikasi dalam keluarga? Menyedihkan memang. Meskipun menyedihkan, faktanya memang ada.

Saat itu karir saya sedang bersinar terang dan sejak masih saya lebih tertarik bidang Industri dan Organisasi. Hati saya tergelitik untuk melindungi ego saya dalam Blaming and Justifying Game alias mencari Black Embek dan membuat pembenaran-pembenaran. Tinggal tunjuk hidung si psikolog aliran Nanny 911 dan mengatakan “Kami korban psikolog ngawur” untuk versi Blaming. Sedangkan untuk versi Justifying saya tinggal membuat pengumuman di jejaring sosial ”Heiii…. saya ini ahli Psikologi Industri !. Lihat dong prestasiku yang cemerlang… Wajarlah kalau saya tidak berminat soal psikologi perkembangan anak, semua itu kan ada spesialisasinya… dokter jantung juga belum tentu ngerti soal ginjal.. Lalu saya menceburkan diri dalam komunitas anomali alias spesial case. Gampang kan… Gampang memang, namun apakah akan menyelesaikan persoalan?

MAKNAI DAN TENTUKAN TUJUAN

Tujuan memberi arah dan makna terbaik semestinya menggerakkan. Maka berhentilah sejenak, mungkin melalui sujud, mungkin dengan berlutut, mungkin dengan jari-jari tertangkup. Iqra’ (Bacalah).. apa pesan yang ingin disampaikanNya dalam sebuah peristiwa? Tafakuri makna apa yang terkandung di dalamnya Bukankah Tuhan tak pernah dzalim, bukankah Tuhan hanya menginginkan kebaikan dari hambaNya? Tanyai diri sendiri, kuliti dan hakimi sebelum kelak menghadap Hakim yang sesungguhnya. Bukankah peristawa dariNya selalu memiliki intensi positif untuk menunjukkan jalan menuju surga?

Jika saya memilih sujud karena saya meyakini dalam sujud terlepaslah kesombongan menuhankan nafsu dan berkuncilah keinginan menudingkan jari. Bagaimana hendak  sombong jika kepala tertunduk serapat bumi, bagaimana hendak menuding jika  tangan bekerja menopang diri. Pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan pada diri untuk menemukan pesan.  Bukankah selama ini saya selalu diberi predikat fast learner? Mungkinkah ini cara Tuhan mengingatkan saya untuk belajar lagi? Apakah saya lebih mementingkan image orang lain daripada tugas saya untuk menyempurnakan ikhtiar sebagai ibu yang diberi tugas bersamaan dengan cinta yang dititipkanNya? Bukankah istigfar dan maaf saja tidak cukup tanpa adanya perbaikan? Maka malam itu saya saya tentukan tujuan baru, bukan sekedar menyembuhkanb phobia anak saya tapi sekaligus belajar bidang ilmu yang sesungguhnya sudah saya ketahui dasarnya yang akan menopang tugas baru saya sebagai ibu. Ilmu menjadi orang tua.

Masih jelas dalam ingatan saya, mulai malam itu dan hari-hari seterusnya saya terus membaca dan belajar lebih dalam tentang pikiran manusia, komunikasi di level subconscious, buku-buku terapi, neuro linguistic programming, buku-buku Virginia Satir, mengikuti berbagai seminar, mendapatkan berbagai sertifikasi, membantu klien-klien saya, mengajarkan di kelas-kelas, menerapkan, membaiki dan terus belajar hingga hari ini.

Lalu phobianya? Ups hampirr lupa.  Singkatnya saya diberi kemudahan untuk menyelesaikannya dengan membuat remote control imaginative yang mampu mengubah gambar dan suara dalam imaginasinya. Sebuah teknik hasil rekaan berdasarkan buku-buku yang saya baca, sebelum akhirnya saya mempelajarinya secara formal di kelas Neuro Linguistic Programming beberapa tahun kemudian. Bukan terapi phobia-nya yang ingin saya tekankan, namun  perjalanan mencari makna dan menentukan tujuan.

Alih-alih menyalahkan, syukuri setiap peristiwa. Sibuk mengeluh, mengumpat dan mencari-cari bukti-bukti pembenaran atas “kekurangan” ibarat jalan ditempat di atas lumpur penghisap.  Sudahlah tak sanggup menolong menyelesaikan masalah, terhisap hingga tenggelam tanpa perbaikan.  Rugi kuadrat ! Maka salahpun jangan sampai sia-sia.

Proses perbaikan memang bisa kita lakukan sendiri, tetapi….terbayang bukan…. nikmatnya jika anda dan pasangan anda sama-sama mempunyai kemauan yang untuk terus merenovasi diri dengan proses tafakur bersama? Seperti beberapa email dari pasangan yang mengikuti kelas parenting saya menceritakan betapa indahnya proses menemukan area-area yang perlu diperbaiki bersama, menyusun langkahnya dan menikmati hasilnya. Hubungan yang penuh warna dan anak-anak yang bertumbuh menjadi lebih baik bersama-sama. Subhanallah… seringkali saya ikut terhanyut membacanya.

Karena hidup adalah pilihan dan “Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Qs. Ar-Ra‘d [13]: 19).