AGAR ANAK TIDAK BERBOHONG

Kebiasaan berbohong  sangat berbahaya dan menjadi pintu masuk bagi berbagai keburukan dan perilaku kejahatan. Demikian pula kerusakan moral beberapa pemimpin saat ini yang tidak malu terlibat korupsi juga bermula dari ketidakjujuran. Hal ini juga diungkapkan dalam hadist Rasulullah SAW berikut ini :

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa kepada kejelekan, dan kejelekan itu menghantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa bohong hingga Allah mencatatnya sebagai seorang pembohong.” (HR. Bukhari Muslim)

Anak adalah peniru ulang, perilaku berbohong adalah sesuatu yang dipelajari, kemudian diyakini memberi manfaat bagi dirinya. Tidak ada anak yang dilahirkan menjadi pembohong karena anak lahir fitrah dengan potensi baik.  Maka mari kita evaluasi diri dan cara pengasuhan kita, yang telah menjadikan anak mengembangkan kebiasaan berbohong.

 Ada beberapa penyebab perilaku berbohong, tiap penyebab ini bisa jadi berinteraksi satu dengan yang lainnya :

  1.  Mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya

 Anak meniru segala hal yang dilakukan oleh orang tua atau orang-orang dewasa di sekitarnya, termasuk berbohong. Disadari atau tidak, orang tua seringkali memberikan contoh perilaku bohong dalam kehidupan sehari-hari seperti contoh-contoh berikut ini :

  •  Bercanda dengan cara berbohong. Menggoda anak dengan kata-kata, “Nak.. nak itu lihat ada cicak di atas!” hanya sekedar untuk mengalihkan perhatiannya, padahal tidak ada. Hal-hal seperti ini diperingatkan dengan keras oleh Rasulullah SAW sebagai berikut. “Celakalah orang yang berbicara, padahal ia berbohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Banyak orang tua yang tidak menyadari ini.
  • Menyuruh anak mengatakan ayah/ibu tidak ada di rumah kepada tamu atau ketika ada yang menelpon padahal ada.
  • Mengatakan bahwa ayah pergi ke dokter supaya anak tidak mau ikut, padahal ayah pergi ke tempat lain
  • Berjanji tetapi tidak ditepati. Berjanji mengajak anak ke suatu tempat tetapi kemudian tidak ditepati dengan alasan sibuk atau megatakan bahwa anda tidak akan pergi karena takut anak menangis ketika anda tinggal pergi, tetapi kemudian ketika ia asyik bermain, anda diam-diam pergi. Lebih baik anak menangis melihat anda pergi dan belajar mengatasi rasa sedih daripada dibohongi.
  • Mengancam tetapi tidak dilakukan. Ini perilaku yang sangat berbahaya, karena selain mengajarkan kebohongan juga mengajarkan bahwa aturan boleh seenaknya dilanggar. Misalnya karena anak sering bermain gadget lalu anda mengatakan “Awas ya kalau main lagi, nanti ayah buang gadget itu, tetapi ketika ia memainkannya lagi, anda tidak membuangnya.” Maka pikirkan sungguh-sungguh sebelum anda mengucapkan sesuatu.
  • Mengancam dengan menggunakan nama Allah. “Awas ya nanti kamu masuk neraka! Allah marah sama kamu!” Anak mempersepsi Allah menyeramkan seperti orang tuanya yang suka marah-marah dan menghukum. Padahal tidak ada anak kecil yang masuk neraka karena belum dihitung dosanya.

Jika ada salah satu atau bahkan beberapa hal yang anda lakukan seperti di atas maka jangan heran jika anak juga berbohong.

  1. Pernah Dihukum ketika ia mengakui kesalahannya

Anak-anak suka bermain dan belum mengerti resiko karena kemampuan berpikir abstraknya belum berkembang. Barangkali dia pernah berlari-lari di rumah dan memecahkan barang di rumah anda dan ketika ia datang menceritakannya. “Ayah/Ibu aku tadi mecahin vas bunga ibu.” Anda marah dan menghukumnya. Maka sejak itulah anak meyakini bahwa jujur itu berbahaya bagi dirinya.

  1. Menghindari sesuatu yang tidak disukainya

Barangkali anak pernah anak tidak menyukai sesuatu, misalnya tidak menyukai sekolahnya, maka biasanya akan timbul ketegangan yang menyebabkan perutnya merasa tidak nyaman. Lalu ketika ia mengatakan “Ayah/Ibu, aku sakit perut”, maka anda berhenti mencari tahu masalah sakit perutnya dan memperbolehkannya tidak sekolah. Maka anak belajar bahwa mengaku sakit bisa menghindarkannya dari hal yang tidak disukainya. Adalah sangat penting untuk memahami rasa sakit yang muncul dengan tiba-tiba karena masalah psikologis. Biasakan anak menghadapi dan mengatasi ketakutannya secara aman karena dia yakin akan ada ayahibu tang bijak yang membantunya dan ada Allah yang memberi tuntunan. Hal ini nanti bisa dibahas di kesempatan lain karena cukup panjang bahasannya.

  1. Anak terlalu sering dikritik dan dibanding-bandingkan

Anak yang dinilai dari hasil akhir dan bukan usahanya akan cenderung berbohong soal pencapaian, bahkan tidak segan untuk mencontek.

“Ah masa begini aja ngga bisa. Lihat tuh si A, nilainya bagus-bagus”

“Duh kamu ini udah mahal-mahal les kok hasilnya masih seperti ini”

 Anak-anak yang terlalu sering mendapatkan kritikan dari orang tuanya, akhirnya menjadi haus pujian. Mereka akan melakukan segala cara untuk membuat orang tuanya mau memujinya. Salah satunya adalah berbohong. Dengan berbohong, mereka beranggapan bahwa mereka bisa menyelamatkan diri dari “omelan ” dan akan mendapatkan “pujian”.

  1. Ingin diterima oleh lingkungan dan teman-temannya

 Anak-anak yang jarang dipuji di rumah akan mencari pujian dari tempat lain terutama teman-temannya. Ia ingin dianggap hebat. Pada umumnya mereka berbohong soal prestasi, kekayaan atau status sosialnya.

  1. Perhatikan tontonan dan bacaan anak.

Tontonan dan bacaan kisah monster, hantu, dan hal-hal yang tidak ada dalam kehidupan nyata menjadikan kemampuan anak membedakan hal yang nyata dan imaginatif menjadi semakin lambat untuk matang. Perlu dipahami oleh orang tua bahwa hal gaib seperti jin tidak sama dengan hantu atau monster. Lebih baik anak-anak berinteraksi dengan manusia, bermain dengan kegiatan fisik daripada menghabiskan waktunya menonton film-film kartun.

Lalu bagaimana mendidik anak agar jujur?

Tentu yang paling utama adalah menghilangkan penyebapenyebab yang telah disebutkan di atas tadi. Lalu kemudian secara konsisten dan kongruen melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Jadilah teladan dalam hal kejujuran. Anak mungkin salah mendengar nasehat anda tetapi anak tidak pernah salah dalam meniru. Ubahlah diri sendiri sebelum menuntut perubahan pada perilaku anak. Selama anada masih melakukan kebohongan-kebohongan yang ditiru anak, maka perilaku berbohong itu akan terus terjadi.
  2. Hargai dan apresiasi anak ketika jujur mengakui kesalahan. Misalnya ketika ia berlari dan memecahkan vas mahal anda, katakan. “Ayah menghargai kejujuran kamu, terimakasih sudah jujur. Nah menurutmu bagaimana caranya agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi?” Anak akan menasehati dirinya sendiri misalnya dengan mengatakan “Aku besok lebih hati-hati kalau lari”. Puji idenya lalu berikan ide-ide lain misalnya, dimana tempat yang lebih aman untuk berlari, atau pindahkan barang-barang berharga anda, karena kemampuan anak mengendalikan diri belum matang seperti pada orang dewasa.
  3. Biasakan membahas apa yang disukai dan tidak disukai anak. Jangan sepelekan ketakutannya. Lakukan parental coaching agar anak mampu menghadapi hal-hal yang tidak disukainya. Karena kelak kecerdasan emosi dalam mengendalikan dan menghadapi hal-hal yang tidak disukai sangat penting ketika dewasa. Bukankah banyak perintah, larangan dan peristiwa dalam hidup yang mungkin tidak disukainya kelak? Kemampuan pengasuhan seperti ini harus dilakukan dan dilatih, jauh lebih efektif jika dilakukan di dalam kelas pelatihan daripada sekedar membaca buku. Bapak bisa menghubungi redaksi untuk mendapatkan jadwal pelatihan kami.
  4. Jangan membanding-bandingkan anak. Setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda dan kecepatan belajar yang berbeda pula. Maka lebih baik mendorong anak untuk melakukan lebih baik dari apa yang pernah dia lakukan sebelumnya, sehingga ukurannya adalah kemampuan dirinya sendiri.
  5. Puji perilaku baik anak. Pujilah perilakunya bukan orangnya. Memuji dengan mengatakan “Kamu pintar” “Wah hebat deh kamu” adalah cara yang salah. Katakan dengan tepat perilakunya “Wah, hari ini kamu menata meja belajarmu, alhamdulillah, terimakasih ya nak”. Pujian yang tepat akan mendorong perilaku yang sama untuk diulang kembali. Anak yang mendapatkan apresiasi di rumah tidak haus pujian dan tidak merasa perlu berbohong untuk sekedar diterima oleh teman-temannya.

 Sebagaimana orang dewasa, anak-anak sekali waktu, mungkin melakukan kesalahan. Maka bantulah mereka untuk memperbaiki kesalahan tersebut dan percayakan bahwa mereka belajar dari kesalahan tersebut.

Anak-anak yang mendapatkan kepercayaan dan merasa dipercaya, pada akhirnya akan belajar untuk menjaga kepercayaan tersebut dan mau belajar untuk senantiasa jujur dalam perbuatan dan perkataan.

 Mencerdaskan intelegensi anak dan menjaga kesehatan fisik anak, jauh lebih mudah daripada mencerdaskan moral dan menjaga kesehatan mental anak. Menjadi orang tua bukanlah kemampuan otomatis, tetapi harus dengan sungguh-sungguh dipelajari. Jangankan mendidik anak. Menyetrika baju saja ada ilmunya. Oleh karena itu, ayah dan ibu perlu terus belajar karena tantangan jaman semakin hari semakin berkembang.

One thought on “AGAR ANAK TIDAK BERBOHONG

  1. Pembelajaran yang penting sekali nih untuk para orang tua, jadi memberikan pendidikan kepada anak tidak semata-mata mendidik, tapi ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh para orang tua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s