Omong Omong tentang Iming Iming

Sudah lama sebenarnya saya ingin mencari cara mengajarkan basic compensation dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Alasannya juga sederhana saja, setelah 5 tahun berkutat dalam pasukan khusus remunerasi di sebuah oil company dan  mengajar mata kuliah Industrial & Organizational Psychology, saya sering mendapat pertanyaan mengenai remunerasi atau umumnya disebut Compensation and Benefit dengan berbagai kepentingan. Mulai dari yang bertanya karena mendapatkan offering letter dari suatu perusahaan, ingin melakukan negosiasi dengan perusahaan, ingin membenahi sistem kompensasi di kumpeninya, bahkan tidak kurang para istri-istri yang ingin tahu suaminya mestinya dapat apa aja dari perusahaan tempat suaminya bekerja (ealah.. bapak-bapak ini kok ya masih aja ada yang suka umpet2an…). Meskipun tulisan ini saya buat beberapa tahun lalu, tetapi sedikit saya sesuaikan di sana-sini dengan maksud membuatnya menjadi lebih ringaaan dan mudah dipahami.

Kopi anda sudah siap? Yuk kita mulai omong-omong kita…

Sepanjang sejarah hubungan kerja, mulai dari jaman rikiplik sampai sekarang (from the simplest barter systems to the current complex incentive formula), premis organisasi tidak pernah berubah. Teuteu…p provide productivity and achieve goals (dengan segala istilah kerennya). Nah.. untuk mencapai semua itu, organisasi wajib mempunyai employee yang handal, so they must provide its employee with something of value in return. Tantangannya ya tentu harus attracting, retaining and motivating potential employees yang dikehendaki.

Lalu? Apa sih yang membuat orang ingin bergabung, kerasan dan termotivasi di suatu perusahaan? Faktor iming-iming tentu menjadi faktor yang penting..

Eit.. eit.. jangan salah…! Iming-iming tidak semata-mata soal uang dan angka-angka lho tetapi meliputi faktor yang lebih luas baik intrinsic maupun extrinsic. Istilah kerennya Total Remuneration. (Psstt… ternyata orang sering salah menyebut remuneration menjadi renumeration. Mungkin karena kata numeric lebih familiar di telinga kita… numeric=angka, angka=uang.. weleh.. matre kalii). Sebenarnya remuneration artinya nggak jauh-jauh dari reward tapi karena kata reward sering bersanding dengan kata punishment, maka kesannya jadi rada-rada transaksional gitu deh (jaman sekarang kan gengsi banget kalau dibilang transaksional, betuuul?? he3x….). Secara umum mungkin orang lebih familiar dengan istilah compensation and benefit, tetapi istilah ini sebenarnya hanya mewakili faktor extrinsic saja, jadi tidak sesuai kalau kita membicarakan faktor iming-iming secara lebih luas. (Ahh kelamaan deh kalau harus sibuk membahas soal istilah. Yang penting anda semua paham maksud saya…).

Kalau kita baca di literature-literature tentang iming-iming, secara garis besar Total Remuneration meliputi hal-hal seperti dalam gambar ini :

 

Saat ini silahkan anda fokus dulu pada bagian yang dilingkari dalam gambar itu .. yaitu bagian yang berbau financial  (hmm… I smell moneyyy….). Bagian ini adalah bagian dari extrinsic reward yang diwujudkan dalam bentuk uang, barang atau fasilitas yang kategorisasinya berdasarkan cash value.

 

DIRECT FINANCIAL REWARD

Financial reward ini terbagi menjadi direct and indirect. Direct artinya langsung diterima dalam bentuk cash seperti gaji, tunjangan, bonus dan teman-temannya. Komposisinya sangat bervariasi tergantung jenis usaha dan perilaku seperti apa yang dikehendaki muncul. Jika jenis pekerjaannya berfokus pada pencapaian target-target jangka pendek misalnya company yang bergerak di bidang asuransi, penjualan (jual mobil, jual ember..dsb.. dsb..) maka komponen variable pay diberi porsi yang lebih besar  daripada komponen tetap (fixed). Dengan maksud supaya employees terus lari mengejar bonus dan secara bersamaan profit perusahaan makin meningkat . Employees yang lelet and lembet ya silahkan makan gaji kecil aja, malah kadang nggak ada gaji tetap. Kalau di Indonesia komposisi fixed and variabel pay untuk permanent employees (istilahnya Pekerja Waktu Tidak Tertentu) ada aturannya. Kalau ada yang ingin mengetahui lebih detail mengenai aturan main di Indonesia, bisa ngintip di UU  Ketenagakerjaan. Sebaliknya untuk jenis pekerjaan yang mempunyai target jangka panjang. Misalnya pekerjaan yang melibatkan studi, penemuan, produksi dll.. dll…, komposisi komponen tetap sebaiknya lebih besar. Variabel pay diperlukan sebagai perangsang. Variable pay dalam jenis pekerjaan seperti ini harus didesain sedemikian rupa agar tidak terlalu murah, sehingga employees sekadar mengejar target jangka pendek, tetapi juga tidak terlalu susah, sehingga menimbulkan frustrasi (inget cerita keledai yang di depan mulutnya digantung wortel pada tongkat, untuk mewakili teori Motivasi Toward? Biarpun sampai melet, wortel itu tidak akan teraih.  Lama-lama mungkin justru juragannya ditendang oleh sang Keledai)

Hal yang sama terjadi juga pada pekerja. Bila perusahaan menentukan  target atau membuat aturan yang tidak doable or reachable sudah hampir pasti lama-lama kepingin nendang perusahaannya juga dan cari juragan lain, kecuali bagi mereka yang ‘merasa’ nggak punya pilihan alias memang keledai betulan. Kalau dibahas, kondisi ‘merasa’ nggak punya pilihan ini bisa jadi bahan obrolan yang panjang. Next time kita bahas ya..

Kembali ke variable pay. Apa saja sih bentuk variable pay yang mungkin diberikan oleh suatu perusahaan? Variable pay bisa diberikan dalam bentuk uang tunai, share, maupun barang. Variable pay yang diberikan dalam bentuk share tidak selalu berupa keseluruhan nilai saham tersebut, kadang-kadang hanya nilai apresiasinya saja (selisih/kenaikan dari nilai saat ini dengan nilai saat diberikan). Sekarang ini istilah-istilah yang dipakai juga beraneka rupa dan warna.  Jadi kalau danda apat tawaran atau membaca peraturan perusahaan yang mencantumkan bermacam-macam jenis variable pay, harus rajin-rajin baca definisi dan syarat2nya ya.. biar tidak kecewa di kemudian hari.

INDIRECT (FINANCIAL) REWARD

OK…. kita pindah ke sisi sebelah kiri yaitu indirect reward. Kenapa sih disebut indirect? Karena bentuk reward ini umumnya tidak dirasakan secara langsung (ora kethok duite kalau kata orang jawa mah ). Indirect reward lebih popular disebut sebagai benefit. Semakin hari, bentuk benefit semakin berkembang dan bervariasi. Keberbagaian bentuk benefit ini dipengaruhi oleh beberapa hal  yaitu:

  • Faktor Kompetisi. Benefit mempunyai peran penting untuk attracting and retaining karena benefit biasanya menunjukkan ‘kemewahan dan gengsi’ suatu perusahaan. (Kira-kira kalau dipakai dalam obrolan bunyinya akan begini :Di company gw, untuk posisi kayak gini dapat mobil dinas BMW X6 lho.. tempat lu apa? O.. tempat gw dapat K2. Apaan tuh K2? Kutu Kupret alias angkot… wekekekekeh… )
  • Inisiatif Perusahaan. Biasanya diberikan dengan alasan untuk melindung ‘standard of living’ pekerjanya. (Kerja dimana sih dia kok nginepnya selalu di Ritz Carlton? Cieee…)
  • Permintaan dari pekerja. Biasanya diwakili oleh serikat pekerja.
  • Keterlibatan pemerintah. Di beberapa negara, pemerintah masih menjadi ‘main provider of employee benefit program’ asuransi kesehatan yang dikelola pemerintah contohnya.) sedangkan di beberapa negara yang lain, pemerintah mewajibkan perusahaan memberikan benefit tertentu tetapi pengelolaannya diserahkan pada perusahaan atau pengelola independent yang lain (swasta). Soal lebih baik mana dikelola pemerintah or dikelola swasta mah tergantung cara kerja masing-masing pihak. Kalau pemerintahnya jujur dan amanah, dikelola pemerintah mungkin lebih aman tapi kalau sebaliknya ya gigitjari.com-lah judulnya.
  • Perbedaan demografi. Beda tempat beda keperluan. Benefit di perusahaan yang ada di negara 4 musim berbeda dengan negara 2 musim. Benefit perusahaan yang bergerak di bidang security service berbeda dengan cleaning service dsb dsb (pokoknya lain lubuk lain ikannya deh… ups kayaknya nggak pas deh perumpamaannya.. ah nggak penting banget sih…)
  • Affordability atau kemampuan perusahaan. Ini sudah pasti dan tidak perlu dibahas  (belum pernah tahu ada perusahaan mencari donasi demi memberi fasilitas kepada pekerja kan? Memangnya panti asuhan..)
  • Persepsi terhadap benefit. Kalau rata-rata pekerjanya lebih menghargai uang daripada fasilitas, biasanya perusahaan tidak mau repot-repot menambah indirect reward (Kalau ente mata duitan, nih aku kasih mentahnya aja.. gitu deh kira-kira)
  • Kecanggihan sistem. Semakin canggih sistem pendataan suatu perusahaan, semakin memungkinkan memberikan pilihan yang luas dan flexible. Bahkan employee boleh pilih mana yang mau diambil dan mana yang tidak (cafeteria benefit)

Di lain pihak banyak juga perusahaan yang ‘menyederhanakan’ hampir seluruh remunerasinya dengan cara mengubah benefit yang diberikan dalam sebuah angka dan diberikan secara cash (mau dipakai untuk apapun sebodo teuing-lah). Apalagi jika persepsi terhadap benefit tidak begitu penting di mata pekerjanya.

Secara umum, benefit dikelompokkan menjadi 3 yaitu :

  • Protection Programs alias program perlindungan. Program perlindungan ini ada yang diwajibkan oleh pemerintah (mandatory) ada yang voluntary (ide bisa datang dari employer maupun employee, tapi yang jelas employernya mau). Dana untuk program perlindungan ini bisa seluruhnya datang dari employer on top of gaji (defined benefit plan) atau ‘urunan’ employer dengan employee (defined contribution plan). Program-program ini biasanya memberikan perlindungan dalam hal:
    • Kesehatan : baik untuk pekerja maupun keluarganya
    • Retirement, Termination and Dissability : dimaksudkan untuk memberikan keberlangsungan pendapatan maupun ‘sangu’ untuk modal hidup selanjutnya.
    • Survivor : biasanya berbentuk asuransi jiwa. Tujuannya untuk dependents yang ditinggalkan.
  • Pay for Time not Worked. Benefit ini adalah benefit yang paling sering tidak dihargai (lha gimana wong ndak terasa he3x..). Sebetulnya permanent employee dan long time contract itu dibayar baik sedang dalam kondisi bekerja maupun tidak bekerja. Misalnya saat lagi ngopi, makan siang, beribadah, cuti, sakit, melahirkan dll dll. (Pantes-pantes aja dong ya.. wong employee juga mikirin dan ngerjain kerjaan nggak cuma pas duduk di kantor doang, kadang sampai ada yang ngempit laptop kemana-mana. Jadi ya impaslah..)
  • Perquisite alias fasilitas. Benefit ini ada yang diberikan kepada seluruh employee ada juga yang diberikan untuk level or kelompok tertentu. Fasilitas yang bisa dinikmati oleh siapa saja biasanya berbentuk fasilitasi olahraga, area makan dan istirahat, klinik kesehatan, kepemilikan rumah, kepemilikan kendaraan dan lain lain. Untuk level atau kelompok tertentu bisa berupa, rumah dinas, mobil dinas, liburan mewah, club membership  dan sebagainya. (psst.. barusan saya dapat kiriman fasilitas umum yang diberikan oleh Google ke employee-nya wuiihh.. suit suit deh… seru, funky and sesuatu bangett).

Untuk sementara kita akhiri dulu obrolan ringan kita mengenai mengenai Financial Extrinsic Reward. Masing-masing perusahaan dan negara seringkali memiliki istilah  yang berbeda,  tetapi sebenarnya isinya ya lebih kurang itu-itu saja. Jika menerima tawaran dan menemukan iming-iming yang agak asing di telinga, jangan ragu-ragu untuk menanyakan definisi dan syarat-syaratnya. Jangan lupa pelajari pula mengenai aturan pajaknya. Apakah menjadi objek pajak atau tidak, berapa besarnya dan dibayar oleh siapa.

Kira-kira demikian secara garis besar mengenai Financial Extrinsic Reward. Jika anda seorang dosen di bidang PIO, artikel ini bisa anda pakai untuk mendongeng di awal-awal kuliah.  InsyaAllah  omong-omong kita akan kita teruskan dengan Non Financial Extrinsic Reward, Intrinsic Reward dan bagaimana mendesain remuneration program yang sesuai (dengan catatan, kalau anda mendo’akan saya agar terus rajin menulis).

Hand Puppet, an Amazing Way to Change Children’s Belief

SONY DSCSuatu ketika beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti status seorang teman di Facebook yang sedang berjuang keras mengantarkan anaknya ke sekolah. Mulai harus ditunggui di dalam kelas, di jendela, di halaman sekolah, hingga akhirnya berhasil survive di sekolah tanpa airmata.

Jika peristiwa ini terjadi di Indonesia, barangkali tidak terlalu menegangkan, karena ada extended family, bibik, embak, baby sitter, yang bisa dimintai tolong untuk menemani selama di sekolah atau mengerjakan pekerjaan rumah yang ditinggalkan.a akhirnya berhasil survive di sekolah tanpa airmata dengan total proses memakan waktu lebih dari 14 hari. (semoga Tuhan melimpahi teman saya ini dengan pahala atas kesabarannya dan dedikasinya sebagai ibu)

Agak lain ceritanya jika anda tinggal di luar negeri, dimana segala bala bantuan ini tidak mudah diperoleh, dan seorang ibu mempunyai banyak tugas selain menjadi permaisuri, yaitu sebagai iyem, merangkap supir, merangkap baby sitter plus tukang kebun.  Dalam situasi seperti ini, tertahan di sekolah selama 4-5 jam membuat seorang ibu harus pontang-panting membuat penyesuaian jadwal dan bertoleransi dengan tumpukan pekerjaan rumah yang melambai-lambai di rumah…

Penyebab kasus seperti ini secara umum disimpulkan sebagai “rasa tidak aman untuk berpisah dari subjek lekat”. Rasa tidak aman berpisah dari subjek lekat yang kadung melekat pada diri anak bisa dikategorikan sebagai limiting belief yaitu suatu kepercayaan yang menghambat atau membatasi atau membelenggu (silahkan dipilih istilah mana yang lebih anda sukai..). Beberapa tulisan yang saya baca mengenai kasus seperti ini, cenderung menganalisa cara mendidik yang dianggap keliru..  bahwa seharusnya begini, seharusnya begitu.. tanpa diberi solusi kecuali bersabar menerima proses panjangnya.

Ngomong-ngomong soal extended family dan bala bantuan dalam pengasuhan anak, seringkali terjadi juga “ketidak sengajaan” penanaman keyakinan yang tidak sehat secara mental. Ada kebiasaan kuno dalam pola asuh anak  dengan cara menakut-nakuti… seperti “Awas jangan kesitu ada hantu/jurit/wewe” (hahaha… wewe itu seperti apa ya bentuknya)… “Awas, nanti kamu diculik, ngga bisa ketemu mamamu lagi!”, “Nanti dipanggilin dokter biar disuntik” dan sebagainya.

Ternyataaa oh ternyata… tidak hanya extended family dan para pengasuh yang melakukan dosa-dosa seperti contoh diatas,  orang tua modern yang saya pikir sudah meninggalkan metode pengasuhan kuno ini juga ada yg masih melakukannya dengan versi yang berbeda.. misalnya “Awas jangan panjat itu, nanti kamu jatuh berdarah, sakit lho..”, “Ayo belajar.. matematika itu sulit lho, nanti nilaimu jelek (pada anak usia sekolah), “Kamu memang selalu merepotkan” dan lain sebagainya…. Semoga semua orang tua yang pernah melakukan “dosa lidah” ini ramai-ramai melakukan tobat nasuha…  (Nasuha?… jadi ingat final AFF yang menjadi pertandingan bola yang saya tonton seutuhnya sepanjang hidup saya.. semoga bidang olahraga di negeriku semakin maju..).

Akibatnya? anak menjadi takut di tempat tertentu, takut ke dokter, merasa matematika sulit, takut mencoba hal baru, merasa diri tidak berharga dan lain-lain.

Menyalahkan “sang sebab” tidaklah cukup. Menghentikan penyebab yang kendalinya di tangan anda, adalah tindakan yang WAJIB hukumnya. Namun mungkin saja anda sudah tidak bisa lagi mengenali sebabnya, karena suatu keyakinan bisa muncul sebagai hasil kesimpulan anak dari berbagai peristiwa yang dialaminya atau bahkan hanya sekedar dilihatnya sambil lalu.. (…toh anda tidak mungkin membesarkan anak dalam rumah kaca yang dapat anda kendalikan semua peristiwa yang boleh diterimanya bukan?…). Maka kewajiban berikutnya yang juga sama pentingnya adalah MEMPERBAIKI kondisi yang sudah terlanjur terbentuk.

Apa perlu dibawa ke Psychologist? Therapist? Pake hypnosis? Memang kasus-kasus seperti ini tergolong mudah bagi para profesional, seperti saya tulis juga di artikel-artikel lain. Apalagi jika terjadi pada orang dewasa, remaja atau setidaknya anak-anak usia 7 tahun ke atas yang telah memiliki kematangan berkomunikasi. Sedikit agak menantang jika yang dihadapi anak usia 3-5 tahun. Meskipun demikian, anda bisa melakukannya sendiri. Diperlukan kreatifitas tersendiri plus situasi yang menarik untuk membuat anak-anak pada usia ini mau dan dapat berkomunikasi sesuai arahan anda dalam rentang waktu tertentu. Jika anda atau cara anda dianggap tidak menarik oleh mereka, bukan tidak mungkin mereka akan kabur meninggalkan kita dalam kondisi speechless…

Berikut ini saya ajak anda mempraktekkan salah satu teknik dalam Neuro Linguistic Programming (NLP) yang telah dimodifikasi sehingga sangat user friendly..

Hand puppet (boneka tangan) dapat menjadi media untuk berkomunikasi dan mengaplikasikan teknik-teknik NLP secara mudah dan menarik. Teknik ini telah saya uji beberapa kali dan apa yang saya tuliskan disini adalah salah satu contoh yang dapat diaplikasikan untuk kasus-kasus lain sesuai dengan kebutuhan anda.

Saya sarankan anda menggunakan karakter binatang agar anak tidak serta merta mengasosiasikan karakter boneka dengan dirinya. Karakter orang kadang terlihat scary.

 META MODEL

Bukanlah pekerjaan yang mudah bagi anak untuk mendiskripsikan dengan jelas perasaannya (jangankan anak-anak…. Andapun sesekali mengalaminya bukan?)

Untuk mengetahui secara spesifik persoalan apa yang dihadapi anak, anda perlu mengetahui secara detail gambaran apa yang ada dalam pemikirannya bukan sekedar pernyataan di permukaan atau lebih parah lagi hanya berdasarkan pendapat orang tuanya. Me-meta-model-i anak-anak tentu tidak sama dengan dengan orang dewasa, proses ini kadang membuat anda menjadi subjek yang menjengkelkan karena terlalu banyak bertanya

Proses ini tidak wajib dijalankan jika memang anda sudah tahu pasti berdasarkan pengamatan anda, apalagi jika anda adalah ayah dan ibunya yang sudah menjalankan proses pengumpulan data, atau lebih parah lagi yaitu… anda adalah “biang keladi”  masalahnya hehehehe….

Untuk kasus “saya tidak suka sekolah”, kadangkala anda memerlukan informasi lebih detail mengenai, “apa/siapa/kejadian apa yang tidak dia sukai dari sekolah”, “sejak kapan tidak suka” atau hal-hal lain yang menurut anda penting (bagi saya… hal-hal yang saya sebutkan tadi sudah cukup)

Baiklah…

Mari kita mulai proses spesifikasi masalah melalui cerita, saya sarankan anda membagi cerita menjadi 3 bagian :

The Beginning :

Bagian ini untuk mengeksplor indera anak tentang suatu kejadian. Ceritakan secara diskriptif baju yang dipakai oleh karakter yang anda pilih, sebutlah si Teddy dan si Froggie yang sedang diajak orang tuanya untuk melihat-lihat sekolah.  Ajaklah anak membayangkan wanginya bunga yang dilalui ketika mereka berjalan, bunyi kicauan burung, rasa gembira, manisnya kue yang dibeli dalam perjalanan, dll. Selain agar anak merasa nyaman, his/her mind’s side door will swing wide open to accept your main process. Saya suka menyebutnya dengan istilah tahap persiapan inderawi untuk membuka jendela pemikiran anak.

The Middle :

Disinilah bagian dimana anda akan mendapatkan informasi yang anda perlukan. Buatlah percakapan antara Teddy dan Froggie tentang perasaan si Froggie ketika mereka sampai di sekolah. Ada beberapa alternative cara bertanya untuk memancing jawaban anak:

  1. Lakukan jeda setiap kali Teddy bertanya kepada Frogie, untuk memberi kesempatan anak menjawab.
  2. Buatlah gerakan seolah Froggie menggaruk-garuk kepala dan bertanya pada anak, apa jawaban pertanyaan Teddy
  3. Teddy bertanya langsung kepada anak setelah Froggie menjawab

Chunking down informasi yang sifatnya umum ke spesifik karena anak suka menggunakan kata-kata generalisasi sepeti “pokoknya ngga suka aja”, “semua jelek”, dsb. Perhatikan rentang konsentrasi anak.  Jangan berlama-lama karena rentang konsentrasi anak-anak lebih pendek dari rentang konsentrasi orang dewasa (yang bisa asyik berjam-jam mendengar kisah tentang “si pencari suara 2014 yang banyak dosanya pada rakyat tapi tidak punya malu mencalonkan diri” di kedai kopi.. ;p). Anda hanya perlu sedikit sensitif untuk bisa mengenali tanda-tanda penurunan konsentrasi pada anak misalnya ia mulai mengalihkan pandangan ke berbagai arah, gelisah, menguap.. dsb..dsb.. (thanks to hand puppet yang bisa dimanfaatkan untuk membuat gerakan-gerakan lucu)

Bisa saja anda terkejut dengan hasil penemuan anda, karena kesimpulan akhirnya bisa beragam seperti :

“Aku tidak suka sekolah sendiri karena aku takut ibu terlambat menjemputku, nanti aku harus menunggu sendirian, kalau nanti ada orang asing datang, aku diculik orang asing dan tidak bisa bertemu ibu lagi” (disini anda menemukan rasa takut kuadrat)

“Aku tidak suka Pak guru karena tidak keren seperti ayahku, pasti dia tidak sebaik ayah” (suit… suit… para ayah boleh numpang GR sebentar… :p)

“Teman sebelahku mencubitku” (hati-hati.., jawaban ini membutuhkan penyelesaian lain karena tidak ada hubungannya dengan belief !)

Salah satu contoh jawaban yang saya temukan adalah : “sekolah itu tidak menyenangkan, karena teman-teman sebaya nggak fun. Lebih menyenangkan bermain dengan teman-teman kakak, permainan teman-teman kakak lebih asyik. Teman-teman sebaya membosankan….mereka itu masih baby

Hhmmm… rupanya masalah sedikit bergeser dari “tidak suka sekolah” menjadi “teman sebaya ngga fun/membosankan”

The Happy Ending :

Tutup cerita dengan akhir yang bahagia. Pelukan, ciuman, kata-kata yang berulang dan nyanyian biasanya menjadi pembungkus favorit bagi anak-anak.

Test jawaban anak dalam kondisi riil, misalnya dengan meminta ortu-nya untuk mengajak anak ke sekolah kakaknya. Apakah dia terlihat excited? Atau dengan mengajak anak bermain dengan teman sebayanya di lokasi bukan sekolah. Apakah dia memang tidak berminat?

Jika BENAR, mari kita melangkah ke tahap berikutnya.., jika salah? hehehe… silahkan mundur 3 langkah.. ;p

 

CHANGING BELIEF

Tahap ini adalah tahap dimana anda akan menggugurkan limiting belief anak dengan mengganti gambaran mental anak terhadap situasi yang tidak menyenangkan dengan situasi yang menyenangkan atau menggelikan. Mengganti perasaan inferiority-nya terhadap situasi yang tidak disukainya menjadi berdaya.

Saya sarankan anda tetap membagi cerita menjadi 3 bagian, mengaplikasikan teknik changing belief system di tengah cerita.

Saya memilih menggunakan cerita ini :“Sampailah Teddy dan Froggie ke sekolah.. di depan kelas Froggie melihat teman-temannya..” (jeda)… biarkan anak menyambar cerita dengan menggambarkan perasaannya melihat teman-teman sebaya. Jika tidak ada reaksi, pancing dengan pertanyaan dari Teddy kepada Froggie dan selanjutnya dari Froggie kepada anak. Buatlah anak mengobservasi kehilangan minat yang dialaminya melalui tokoh Froggie … ikuti gerakan matanya dan letakkan Froggie di tempat matanya memandang ketika dia berhasil menemukan lokasi belief-nya. BREAK.. Lepaskan Froggie dari tangan anda.

Alihkan beberapa detik pada hal lain, misalnya dengan berpura-pura haus dan mengajaknya minum bersama anda.

Alihkan focus cerita. Kisah Teddy yang bertemu karakter lain yaitu si Goofie menjadi pilihan saya.  Teddy dan Goofie bermain ayunan, Teddy mendorong Goofie hingga Goofie berayun tinggi… tinggiiiii di udara…, stimulasi ingatan anak kepada pengalamannya bermain ayunan (tentunya anda harus tahu dulu kegiatan yang ia sukai.. jika bermain ayunan justru menakutkan, artinya anda meng-elicit emosi yang salah 🙂).. Untuk menguatkan rasa exciting yang dialaminya, saya melakukan gerakan-gerakan jenaka dengan karakter Goofie, menutup salah satu matanya sambil sedikit mengintip, jeritan-jeritan kecil, berpura-pura salah memegang mulut menjadi telinga..  terusss.. sampai anak berada dalam titik senang, geli, exciting mendekati optimal (…jangan kuatir.. membuat anak kecil terpingkal-pingkal jauh lebih mudah dari membuat atasan anda tersenyum J)

Dengan gerakan tangkas ganti munculkan karakter  Froggie di tempat dimana tadi ia anda hilangkan yang mewakili submodality “anak-anak membosankan” (jika ada reaksi diam 1-2 detik.. Bagus.. artinya dia sedang menarik informasi lama yang sudah terbentuk .. Jika tidak ada reaksi, pancing selintas dengan mengatakan “ngga fun”). Serta merta pindahkan posisi Froggie ke belakang Goofie hingga karakter Froggie tertutup oleh Goofie dan lanjutkan gerakan-gerakan jenakanya hingga si anak kembali tertawa terkekeh-kekeh sambil mendekatkan karakter Goofie ke arah anak…. teruss.. teruss.. dan stop. Selesai sudah…

Lepaskan kedua karakter dari tangan anda dan lanjutkan akhir cerita secara naratif. Libatkan anak untuk membuat akhir cerita yang disukainya. Lakukan recheck apakah keyakinan lamanya telah tergugurkan berdasarkan akhir cerita yang dibuatnya.

Ingatkan orang tua untuk tidak perlu membahas “masalah” ini sampai saatnya anda mengalami pengalaman yang sebenarnya.

Singkat cerita, saya mendapatkan informasi bahwa si anak telah melenggang dengan ceria ke kelasnya keesokan harinya.

Tentunya proses tidak berhenti sampai disini, tetapi terus dilanjutkan dengan proses menikmati situasi-situasi menyenangkan dan proses memaafkan situasi-situasi tidak menyenangkan yang secara riil ditemukan pada hari-hari selanjutnya, agar anak menjadi fleksible dan resilience ketika menghadapi berbagai fakta.

Akhirnya…

Kasus ini hanyalah sebuah contoh yang bisa anda modifikasi sesuai dengan kondisi yang anda hadapi baik bagi anak-anak anda maupun anak-anak yang anda bantu. Bantu juga diri anda dan para orang tua untuk ikut berubah karena seringkali apa yang diyakini anak adalah hasil ‘memodel’ apa yang diyakini orang tuanya.

Teruslah membuat perbaikan, karena anak-anak adalah tamu istimewa, yang kita undang untuk masuk dalam kehidupan kita atas ijin dan kuasaNya.. maka sudah sepantasnya, mereka mendapatkan perlakuan istimewa selayaknya “tamu istimewa”.

DEALING WITH PEOPLE YOU CAN’T STAND

Apa yang anda rasakan, jika anda menghadapi seseorang yang judes, dingin, bahkan menganggap anda tidak ada ketika anda berbicara dengannya?

Mungkin hanya dengan membayangkannya saja, sudah muncul perasaaan kesal, marah atau sensasi-sensasi negative lainnya dalam hati anda.

Jika anda berdarah preman mungkin anda akan menggebrak meja dihadapan orang tersebut.

Jika anda bermental baja, mungkin anda tetap cuek nyerocos dan berharap satu dua informasi nyangkut di kepalanya.

Atau… anda memilih meninggalkannya dan berkata dalam hati “Emang siapa lu!”

Maka anda akan membuat kesimpulan bahwa dia adalah “ORANG SULIT”

 Jika orang tersebut tidak penting dalam pencapaian tujuan anda, anda bisa memilih berbuat apa saja, tetapi seringkali “si nyebelin” itu adalah orang yang cukup penting dalam pencapaian tujuan anda.”

Kawan saya, seorang agen asuransi, mengeluh sering “dikacangin” alias dicuekin oleh calon nasabahnya. Meskipun darah mendidih, apa boleh buat kenyataan-kenyataan seperti itu menjadi hidangan yang mau-tidak mau harus dihadapinya terutama jika calon nasabah itu memang potensial. Pengalaman pernah gagal akan menjadi bumbu yang menambah siksaan yang menekan di dalam dirinya.

Malam itu, melalui telepon, kawan saya curhat bahwa besok siang dia harus menemui seorang calon nasabah, sebut saja Mr. RX yang tergolong “sulit” atas permintaan istri Mr. RX. Sang istri ingin suaminya mengambil suatu program asuransi yang dibutuhkan oleh keluarga tetapi tidak sanggup membujuk suaminya. Kawan saya sudah pernah menemui Mr. RX ini dua kali. Hasilnya? Memandangpun dia tak mau.. (halah.. kejam nian..)

Tidak tanggung-tanggung, kali ini, kawan saya harus menemui Mr. RX di Jakarta, sedangkan kawan saya tinggal di Yogyakarta. Anda dengan mudah dapat membayangkan effort berupa tenaga dan biaya yang akan dikeluarkan oleh kawan saya ini untuk menemui Mr. RX. Apalagi usaha itu belum tentu mendatangkan hasil. Dia minta saya menolongnya mengatsi masalah ini dan ingin bertemu dengan saya sebelum berjumpa dengan Mr. RX

Singkat cerita…

Pagi-pagi sekali directly dari statiun Gambir, kawan saya sudah bertandang ke rumah kakak saya dimana saya menginap selama di Jakarta. Bayangkan.. directly… tanpa mandi, tanpa sarapan dengan wajah diselimuti kekhawatiran. Setelah mandi dan minum teh, kami mulai berbincang. Saya menanyakan apa yang dia harapkan dari pertemuannya kali ini dengan Mr. RX.

“Setidaknya dia mau dengar penjelasan saya dulu deh…” katanya

“Cuma itu” tanya saya

“Yaaa… kalau bisa langsung sign, ya Alhamdulillah”.. sambungnya

“Kira-kira anda mengerti tidak apa yang dia harapkan dari anda dan produk anda ini” lanjut saya

“Ya yang pasti perlindunganlah.. keuntungan barangkali, mungkin sekedar nyeneng-nyenengin istrinya. Dia itu sudah beberapa kali kecewa dengan agen asuransi, mungkin dia mau nge-test apakah aku ini cukup bisa dipercaya”… (apa yang muncul dalam pikiran anda mendengar jawaban seperti ini?… Yaaa BETULL… dia belum mengenali dengan pasti harapan Mr. RX)

 

PERCEPTUAL POSITION

Sebagai pembukaan, saya akan mengajak kawan saya ini untuk berkenalan dengan Mr.RX lebih dekat melalui perceptual position.

Sebelum memulai saya minta kawan saya menentukan siapakah the neutral subject yang kira-kira dapat memberi masukan kepadanya mengenai Mr. RX. Karena saat itu kami berbincang di ruang tamu, maka mudah bagi saya untuk menjalankan teknik ini. Saya tulis tiga nama, kawan saya, Mr. RX dan si netral yang saya tempatkan di tiga posisi yang berbeda membentuk segitiga. Saya minta dia seolah-olah berdialog as herself, Mr. RX dan the neutral subject. Setiap kali dia berpindah posisi saya tanyakan “siapa anda” untuk memastikan bahwa dia sudah associate dengan peran yang dijalankannya. Saya memperhatikan perubahan ekspresi wajahnya.

Bagus sekaliii..  saya mengamati perubahan ekspresi menjadi reluctant ketika dia mengubah posisinya menjadi Mr. RX. Ketika selesai dengan proses perceptual position saya melihatnya manggut-manggut. Aha… !! She got it…. pikir saya.

Sesuai dugaan saya, tanpa saya tanyakan, dia sudah langsung menceritakan temuan yang ia dapatkan dari proses ini. Temuan yang membuatnya lebih memahami kebutuhan dan kemauan Mr. RX. Temuan itu tentunya tidak dapat saya bagikan kepada anda, tetapi saya yakin anda sudah mendapatkan poin penting dari cerita saya. Sebetulnya tidak ada “orang sulit”, yang ada adalah “kita tidak mengerti kebutuhannya.”

Mengingat effort yang telah dilakukan kawan saya, tentu kami tidak ingin berhenti hanya sampai memahami dan diterima oleh Mr. RX saja… Kami lanjutkan proses ini ke titik yang lebih tinggi yaitu persetujuan Mr. RX untuk mengambil program asuransi yang menurut istrinya memang sangat dibutuhkan oleh keluarganya.

WELL-FORMED OUTCOMES

Dalam proses ini saya meminta kawan saya membayangkan sedetail mungkin apa tujuannya bertemu dengan Mr. RX. Tujuan ini haruslah dilandasi dengan tujuan positif sesuai dengan value-nya (kawan saya ini religius dan santun tiada tara) agar tidak ada pertentangan di area subconscious ketika tujuan tersebut tercapai. Sambil menentukan tujuan saya beri masukan-masukan agar tujuannya menjadi lebih nyata dan lengkap dengan mengajukan pertanyaan “Kapan terjadinya?”, “Berapa nilainya?”, “Dimana dia tandatangani?” dan pertanyaan-pertanyaan sejenis.

Dan luar biasa sodara-sodara….!!!

Saya bisa mengenali bahwa visualisasinya terhadap tujuan itu begituu riil. Lengkap dengan tanggal yang spesifik, detail dan diwarnai Auditory Digital yang kuat.  Sementara anda membayangkan seberapa jelas gambaran kawan saya ini mengenai tujuannya, saya juga mengingatkan anda bahwa kadang-kadang klien kita memerlukan bantuan kita untuk dapat membangun tujuan yang kuat. Dengan demikian proses terapi kita akan memberikan manfaat yang maksimal bagi kepentingan klien sekaligus masukan untuk proses pembelajaran kita.

Proses ini saya mulai dengan mengajaknya menemukan garis timeline-nya sendiri kemudian membentangkannya menjadi sebuah jalan menuju her desired goal. Saya minta ia menentukan resources apa yang ia butuhkan dan tahapan apa yang akan ia jalani untuk sampai pada tujuan tersebut. Sebelum ia memulai, saya ajak dia berdo’a agar tujuannya di hijabahi oleh Yang Maha Agung, Penguasa alam semesta

Perlahan saya bimbing dia melangkah menuju desired goal-nya dan mengumpulkan semua resources yang ia dibutuhkan. Dan ketika ia menempati titik tujuannya…..

wajahnya sumringah..

senyum mengembang…..

puji syukur secara otomatis dia gumamkan…

Alhamdulillah… 

Saya minta dia melangkah sekali lagi ke hari berikutnya, hari dimana tujuannya telah tercapai dan telah dilaluinya. Kemudian ia membalikkan badan mengumpulkan sumber daya yang mungkin masih tersisa hingga kembali ke saat ini, memandang kepada tujuan yang telah ia nikmati sensasi pencapaiannya.

Ketika saya tanyakan apa yang dia rasakan.

“Wah.. rasanya seperti saya sudah benar-benar mendapatkannya ya… InsyaAllah berhasil, malah tadi muncul gambaran saya mengajak ibu saya berlibur dari hasil saya bulan ini.. Alhamdulillah…”

Mantabbsss …..

“Tapi mbak….. “katanya tiba-tiba

Hmmm…. apalagi nih kok pakai tapi.

“Saya tu sering bertemu orang-orang seperti Pak. RX itu. Meskipun saya sekarang sudah mengerti kemauannya dan yakin akan berhasil, tapi saya khawatir… Saya takut jika nanti saat pertama kali saya melihat wajahnya hatiku ciut… terbayang kegagalan yang dulu pernah kualami”..

Oalahhh……

OK deh..  rupanya kawan ini perlu sedikit suntikan semangat. Karena waktu sangat sempit, jadwal untuk bertemu dengan Mr. RX sudah semakin dekat. Tidak sempatlah kiranya kalau saya harus memberi patatah petitih pembakar semangat.

SUNTIKAN KILAT PEMBAKAR SEMANGAT

Supaya tidak terlalu lama membuang waktu, saya lakukan proses hypnosis dengan rapid induction.  Setelah deepening sebentar dan menemukan dia dalam kondisi relax, saya minta dalam setiap tarikan nafasnya dia menarik energy positif yang di sediakan Allah di alam semesta berupa semangat, keyakinan dan kekuatan. Dan pada setiap hembusan nafasnya, dia membuang rasa takutnya. Ketakutan akan kegagalan dan ketakutan pada penolakan. Ketika saya bangunkan dia tersenyum lebar.

“Wahhh buuu… josss tenan ini…  rasanya diriku dipenuhi energy positif”

Alhamdulillah.. dan dengan penuh keyakinan meluncurlah ia menghadapi tantangannya

Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar bahwa hasil pertemuannya SUKSES. Mr. RX setuju mengambil program asuransi yang jumlahnya puluhan juta per tahun sehingga jumlah totalnya pertanggungannya mencapai ratusan juta. Wow…

Dan dua minggu kemudian dia menulis di laman FB saya, bahwa kini dia lupa rasanya gagal dan selalu penuh semangat menghadapi setiap calon nasabah.

Subhanallah… DASYAATTT….

YOU ARE the BEST MOM in the WORLD

Hati ibu mana yang tidak berbunga-bunga ketika buah hatinya memeluknya dan membisikkan kalimat itu di telingannya?

Meskipun ini bukan kali pertama my beloved hero “Raka” mengatakannya, tetapi tidak sekalipun kalimat ini turun maknanya di hatiku.

Kali ini hadiah indah itu kudapatkan untuk sebuah usaha sederhana yang nyaris tanpa tenaga, hanya kemauan mendengarkan dan mengerti akan kebutuhannya yang juga sederhana.

Hari minggu yang lalu ketika Raka sedang latihan karate, saya sempat menyaksikan sesi fighting exercise. Secara teknik Raka sudah semakin baik, sedikit keraguan masih mewarnai gerakannya. Beberapa kali ia terkena pukulan telak krn keraguannya itu. Dalam perjalanan pulang Raka menekuk wajahnya, saya pura-pura tidak melihat. Sampai di rumah saya sediakan makan malam untuknya karena saat buka puasa tadi dia hanya sempat minum teh, sepotong roti dan susu.

Selesai makan Raka menghampiriku. Mom, you always have an answer of my question, I just wanna be good at Karate. Can you help me?

Jika anda yang menerima pertanyaan seperti ini, kira-kira apa jawaban anda?

Don’t worry, you will…, cuma masih perlu banyak latihan… ?

Ah…  you did very well sayang…?

Atau mungkin kalimat-kalimat menghibur lainnya?

Pernahkan kita mencoba berada dalam posisi mereka, dalam kondisi seperti ini ternyata anak-anak tidak memerlukan “penghiburan”, mereka memerlukan jawaban ya berikut caranya. Haaa??? Membuat anak kita menjadi expert, padahal karate saja kita tidak bisa? Apa bisa?

Jawabannya BISA. Bagaimana?… Melalui imaginasinya.

Sebenarnya children are constantly in and out of “trance” state all the time. Apa itu “trance“? trance adalah kondisi dimana pikiran sangat fokus ttp tubuh sangat rileks. Seberapa sering anda memperhatikan bahwa anak-anak anda berimaginasi dengan sedemikian nyata tanpa perlu berpikir keras.

Perhatikan saat anak anda bermain mobil-mobilan. Brrmmm…brrmmm… ngeeeengggg.. ngeng… cciiiiit bunyinya sambil menggerakkan badannya mengikuti gerakan mobil. Saat-saat seperti ini mempunyai kekuatan yang dasyat, saat-saat dimana seluruh inderanya bersatu dalam dunia yang secara nyata belum pernah dia lakukan (ya iyalah.. nyetir aja belum boleh :)). Jika mengemudikan mobil yang belum pernah dia lakukan saja bisa membuatnya “serasa”  menjadi pembalap nomor 1 dunia, tentu akan lebih mudah baginya membayangkan sesuatu yang memang telah dilakukannya.

Lalu apa solusi saya untuk pertanyaan Raka tadi?

Saya jawab dengan yakin.. Sure…  I can help you, but you are the one who will make yourself good at it..

Raka makin penasaran, when Mom? .. “Now..” jawab saya mantap.

Saya kemudian mengajaknya ke game room, ruangan di rumah kami yang difungsikan sebagai ruang bermain.

“Raka pernah melihat orang yang hebat karatenya?”

“Pernah”

“Siapa?”

“Itu yang di Karate Kid”

“Do you remember his movement?”

“Yes”

Lalu saya minta dia mengingat gerakan Jaden dalam film itu, merasakannya apa yang sedang dirasakan Jaden, dan perlahan-lahan membayangkan menjelma menjadi tokoh itu… dan kemudian saya memintanya berimaginasi melakukan fighting exercise. Saya melihat perubahan dalam gerakannya, lebih mantap, lebih balance, lebih bertenaga.

Selesai membayangkan saya bertanya “How do you feel Raka“… he said “Wow… I feel different mommy, do you think I can do that next Tuesday?” Saya tersenyum, mengangkat bahu “Let’s see

Hari selasa yang lalu sebelum berangkat latihan, Raka mempraktekkan gerakan-gerakannya di depan ayahnya setelah sebelumnya diam beberapa detik (mungkin mengumpulkan getaran perasaan yang dirasakannya 2 hari yang lalu ketika berimaginasi). Pujian meluncur dari bibir ayahnya sambil melirikku.

Ketika saya menjemputnya latihan karate malam itu, Raka mencium saya di mobil dan berkata “I made it Mom.. thank you..”  Saya tidak perlu bertanya lagi karena saya bisa membayangkan apa yang terjadi tadi di ruang latihan.

“Dengan terus berlatih sungguh-sungguh, semua yang Raka imaginasikan itu akan otomatis muncul sayang, it won’t be Jarden in you, but it’s YOU

Malam itu sebelum tidur, Raka menggenggam tanganku erat-erat dan berkata, “Mom, you are the best mom in the world and this is the best family in the world….”

“Mimpi indah anakku sayang…”

note: Bagi teman-teman yang belajar NLP mungkin akan bertanya, mengapa tidak dibuat anchor saja (apa itu anchor? silahlah baca tulisan saya mengenai toilet training). Saya memilih tidak melakukannya karena saya tidak ingin Raka menganggap ini sebagai sebuah tool. Dalam usia dan perjalanannya, saya optimis dia akan menemukan sendiri getaran keyakinan yang akan dia yakini berasal dari dirinya, bukan diperoleh dengan cara tertentu. Pada titik ini saya hanya ingin ia mengalami bahwa tidak ada yang sulit jika kita melakukan segala sesuatu sepenuh hati, mengajak seluruh inderanya bekerja sama “melakukan sesuatu”, bukan sekedar gerakan otot dan sekumpulan teknik-teknik.

Toilet Training

Tulisan ini kudedikasikan pada orang tua muda yang kesulitan mencari tips and tricks melakukan toilet training sejak dini yang lengkap dan terstruktur.

Sumber-sumber dari barat mengatakan toilet training hanya akan berhasil jika dilakukan jika anak sudah “siap” dengan tanda-tanda bla bla bla… tapi kenyataannya di belahan dunia lain termasuk di Indonesia banyak yang berhasil melakukannya sebelum 2 tahun dengan lancar jaya.
Berhubung di Indonesia ini urusan ganti mengganti diaper di tempat umum bukanlah hal yang nyaman kecuali di mall-mall besar, maka urusan yang satu ini menjadi penting buat kami demi alasan kesehatan dan kenyamanan (mungkin karena itu juga Raka berhasil toilet training lebih dini dari adiknya secara masa bayinya di Indonesia terus…atau tepatnya di Riau).

Ada 4 kunci pokok keberhasilan toilet training yang harus dimiliki ortu dan pengasuhnya yaitu

  1. Sabar
  2. Jangan malas
  3. Sabar
  4. Jangan malas

Perjuangan di mulai sejak bayi. Rajin2lah mengingat waktu-waktu anak BAB. Kalau perlu catat. toilet training sebaiknya dimulai dari BAB dulu karena waktunya lebih teratur. Pada usia 2 bulan mulailah langkah pertama yang dinamakan “menciptakan anchor”. Prosesnya yaitu dengan memancing anak BAB sesuai dengan jadwal alaminya yang telah kita catat tadi.

Caranya: :
Beberapa menit sebelum waktu BAB, persiapkan anak untuk BAB pada posisi tidur. Angkat kedua kaki bayi dan teteskan air hangat pada anusnya sambil membuat bunyi-bunyi  atau suara khusus. Lakukan penantian dengan sabar sampai p**t, pr*t, pr*t… Mr BAB nongol dengan suksesnya. Bunyi-bunyi atau suara khusus ini yang kelak menjadi anchor alias tombol Pembangkit Keinginan BAB atau disingkat menjadi PKB… :). Lakukan terus secara teratur sampai bayi kita bisa duduk tegak,

Ketika bayi sudah mampu duduk tegak lakukan langkah kedua. Siapkan potty sambungan yang bisa langsung diletakkan di toilet. Tetaplah konsisten dengan waktu2 yang sudah anda hapalkan

Tahap ketiga. Latihan BAK. Yang ini mah gampanggg asal memenuhi 4 kunci pokok tadi. Latihan BAK sebaiknya dimulai ketika anak sudah bisa berdiri tegak. Tiap 1-2 jam biasakan mengajak anak BAK.
Insya Allah urusan toilet training lancar…

Lebih jelasnya bisa dibaca di buku Enlightening Parenting untuk 6 tahun periode penting.

JSemua resep di atas telah dicoba di toilet the Gunartos.. hasilnya Alhamdulillah.. ibunya Raka dan Rangga nggak perlu repot2 lagi berurusan dengan diaper yang belepotan di tempat umum sebelum anak2 umur 1.5 tahun kecuali kecelakaan2 kecil or dalam kondisi tidak wajar alias lagi m*****t…

Selamat mencoba….

Belajar Membaca Dengan Metode Glenn Doman Yang Dimodifikasi

Berkomunikasi dengan anak secara lisan memang sudah cukup, tetapi… menambahkan komunikasi tulisan di dalamnya, akan memberi warna baru area komunikasi kita sehingga lebih variatif dan menyenangkan.

Keinginan untuk terus berkomunikasi dengan anak inilah yang 8 tahun lalu menggerakkan saya untuk mencoba metode belajar membaca ala Glenn Doman. Saya mulai mencoba metode ini saat Raka berusia 3 tahun dan alhamdulillah dalam waktu kurang lebih 6 bulan Raka lancar membaca dalam bahasa Indonesia. Sejak dia bisa membaca saya sering meninggalkan pesan-pesan untuknya di lemari es, di kamar mandi, di tempat-tempat dimana dia biasa berada ketika saya di kantor. Aktifitas dongeng sebelum tidurpun menjadi lebih menarik karena diselingi dengan membahas kata-kata baru yang kami temukan di buku.

Setahun kemudian kami pindah ke Kuala Lumpur dan Raka harus sekolah di international school dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Sungguh menakjubkan memampuannya mengenali perbedaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dari bentuk kata dan bunyinya. Dalam waktu singkat Raka menguasai bahasa Inggris dengan lancar dan selalu mendapat nilai 10 dalam spelling challenge di sekolah yang dilakukan setiap hari jum’at (ternyata membaca di usia pra sekolah dasar juga dilakukan di British Curriculum lho… So, ngga perlu merasa salah membiasakan anak membaca sejak dini)

Bertolak dari keberhasilan Mas Raka, saya ingin menerapkannya juga kepada adik Rangga. Kalau dulu saya masih “kerja kantoran” saja bisa punya waktu apalagi sekarang saya tidak bekerja formal kantoran. Alhamdulillah meskipun prosesnya masih berjalan tetapi kelihatannya kemajuannya cukup signifikan .

Siapa sih Oom Glenn Doman itu? Beliau adalah founder dari Institute for the achievement of human potential yang banyak merancang terapi untuk anak-anak cedera otak. Hasil penelitian Glenn menunjukkan ternyata anak yang cedera otak-pun dapat membaca dengan baik pada usia tiga tahun atau lebih muda lagi apalagi anak yang sehat tentunya. Bagi otak tidak ada bedanya apakah dia ‘melihat’ atau ‘mendengar’ sesuatu. Otak dapat mengerti keduanya dengan baik. Yang dibutuhkan adalah suara itu cukup kuat dan cukup jelas untuk didengar telinga, dan perkataan itu cukup besar dan cukup jelas untuk dilihat mata sehingga otak dapat menafsirkanJika ingin tahu banyak mengenai Pak Glenn ini silahkan googling aja deh ya… banyak kok cerita tentang beliau hehehe..

Menyimak dari ciri-cirinya, metode ini agak mirip denga photoreading, merekam informasi dengan cara flashing tanpa analisa. Metode Glenn Doman ini tidak memakan waktu lama. Cukup 3 x sehari, maksimal 2 menit tiap sessionnya. Metode yang saya gunakan saya sebut modifikasi dari metode Glenn Doman karena ada sedikit penyimpangan (nanti saya jelaskan kemudian).

Sebelum memulai aktifitas ini anda tidak hanya memerlukan persiapan alat, tetapi lebih penting lagi persiapan mental.

Pertama, tentukan niat anda. Jika niat anda mengajari anak membaca agar anak terlihat lebih hebat dibandingkan dengan anak-anak sebayanya maka bersiaplah untuk mudah merasa frustrasi dan marah jika hasilnya tidak sesuai dengan “target” anda. Jika anda frustrasi dan marah, anak akan merasakan energi negatif anda. Anda akan melakukan pemaksaan dan tidak menikmati prosesnya.

Metode ini memerlukan fleksibilitas waktu dan energi karena anda sedang dealing dengan anak-anak yang secara emosional masih labil dan “moody”.
Meskipun harus dilakukan dengan relaks dan fleksibel tetapi metode ini memerlukan konsistensi dan disiplin yang tinggi. Siapa yang harus konsisten dan disiplin? Ya PENGAJARnya tentu saja. Dengan demikian metode ini tidak bisa diterapkan jika anda melakukannya pada “sisa waktu” anda tetapi anda harus “menyediakan waktu” untuk itu. Jika anda bekerja, maka anda harus pandai bekerjasama dengan pasangan dan pengasuh. Dulu ketika metode ini saya terapkan pada Raka maka saya berperan pada jadwal pagi dan malam sedangkan suami mengambil jadwal malam. Jika pada jadwal itu mood anak tidak sesuai harapan maka kami titipkan jadwal pagi atau jadwal siang kepada pengasuhnya (tentu setelah pengasuhnya diberi training yang memadai dong..).

Kedua, setiap anak itu UNIK. Waktu yang tepat bagi setiap anak berbeda. Pilihlah waktu ketika anak segar dan mau bekerjasama paling tidak dalam waktu 1 menit saja. Sekedar sharing waktu yang tepat bagi Raka adalah setelah mandi dan sebelum tidur. Rangga sedikit berbeda, waktu yang tepat untuknya adalah saat BAB (hihihi… tahan aja tu bau waktu berhadapan saat belio BAB) dan sebelum tidur. Kemajuan dan hasil yang dicapai tiap anak berbeda. Jangan sibuk membanding-bandingkan dengan anak tetangga hehehe….

Ketiga, sabar dan syukur. Bersabar dengan prosesnya dan mensyukuri apapun hasilnya. Jalani prosesnya dengan rileks dan gembira.

Kapan bisa dimulai? Glenn percaya metode ini bisa dimulai saat anak berusia 6-10 bulan. Tetapi saya pribadi tidak menganjurkan. Bagi orang tua tipe tertentu, melakukan sesuatu tanpa melihat hasil nyata stlh berbulan-bulan lebih mudah memicu perasaan kecewa dan frustrasi. Saya pribadi menganjurkan metode ini dimulai ketika anak sudah mampu mengucapkan kata-kata sederhana. Karena setiap kali dia menunjukkan kemajuan anda akan melompat gembira dibuatnya.

Alat Bantu :

Kartu  Baca

Kartu baca ini merupakan modifikasi dari standard Glenn Doman,

  • Ukuran kartu baca tidak berubah. Saya menggunakan kartu tahap ketiga yaitu 7.5 x 30 cm (repot kalau harus ganti-ganti ukuran)
  • Setelah tahap ketika saya menggunting kartu-kartu tersebut menjadi suku kata kemudian saya rangkai menjadi kata-kata baru)
  • Misalnya : bu – ku – ka –ki saya rangkai menjadi buka, kaku dll )

Saya tidak mengelompokkan kata-katanya menjadi kata-kata yg dikenal, kata-kata diri, dan kata-kata rumah. Saya hanya memilih 45 kata yang sering kami gunakan sehari-hari)

Jangan lupa melakukan penguatan. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memberikan penguatan,

  • Membuat certificate of appreciation yang anda dan pasangan anda tanda tangani dan dipasang di dinding kamarnya ketika dia berhasil menunjukkan kemajuan. Cara ini efektif untuk anak di atas 2.5 tahun. Bagi anak yang lebih mudah, cara ini tidak terlalu terasa.
  • Gossiping. Ceritakan tahap kemajuannya dengan gaya berlebihan kepada anggota keluarga yang lain atau orang-orang terdekat dan usahakan dia mendengarnya. Cara ini sangat efektif baik untuk anak-anak yang dibawah 2th maupun yang sudah lebih besar. Hati-hati memilih saudara/teman untuk bercerita. Jangan-jangan anda dianggap sok pamer hehehe.. Lebih baik anda lakukan introduction dulu tentang tujuan anda bercerita kepada yang diajak bercerita supaya lawan bicara andapun menanggapi dengan semangat.
  • Ketika anda membacakan buku dan menemukan kata-kata yang sudah dikuasainya katakan “Wah.. yang ini mas/adik/kakak, udah tau bacaannya kannnn….” sambil menunjukkan kata tersebut.

Anak adalah peniru ulung, karena itu mulailah membaca lebih banyak jika anda ingin anak anda suka membaca. Jangan mengharapkan anak anda suku membaca kalau sepanjang hari anda lebih suka menghabiskan waktu di depan televisi. Ketika anak anda sudah mulai bisa membaca mulailah berkomunikasi dengan bahasa tulisan sebagai selingan. Meninggalkan pesan dan membuat surat cinta sederhana bagi anak anda akan menambah kegembiraannya kepada buku dan ilmu.

Yang paling penting jangan lupa berdoa agar Tuhan memudahkan semua usaha yang didasari niatan mulia dan kasih sayang anda.

Salam hangat dari negeri yang hangat…

Mengapa Ada Orang Senang Melihat Orang Susah?

“Seminggu terakhir ini milis IndoKL diwarnai berita seputar perlakuan oknum depnaker dan imigrasi yang bertugas di bandara terutama Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Ungkapan kemarahan dari teman-teman yang melihat dan mendengar perlakuan tidak manusiawi oknum-oknum itu kepada bangsa sendiri – para TKI yang baru pulang dari luar negeri – mengingatkan saya pada apa yang dialami oleh suamiku ketika mengantar asisten kami pulang kampung. Seperti biasa petugas depnaker yang mejeng di sekitar counter imigrasi berusaha ‘menciduk’ dan memisahkan asisten kami ke jalur khusus TKI. Untungnya suami dulu bekas preman kampung rambutan (he..he..he.. jangan ngambeg ya boss), so diceramahilah petugas tadi sampai dibacain tu tulisan yang ada di kaos mereka “membantu TKI tanpa memungut biaya”. Udah jelas asisten kami pulang ama pemberi kerjanya (kan ada nama suami di visa kerjanya) kok ya masih dipisah-pisahin. Slogan “pahlawan devisa” cuma isapan jempol.

Kemarin peristiwa kecil juga terjadi di bandara Adi Sucipto ketika saya mengantar asisten kembali ke Malaysia (kebetulan dia berangkat sendiri). Dengan baik-baik saya bertanya dimana beli tiket masuk ke counter check in karena saya mau membantu asisten saya ini mengurus bebas fiskal (dia baru pertama kali pergi sendiri). Dengan ketus si penjaga pintu bertanya “Anda agen atau apa?” masih sabar saya jawab, “Saya pemberikerjanya.” “O… majikan?” Duh.. kalau denger istilah majikan kok kupingku gatal ya. Kesannya perbudakan gitu. “Pengantar cuma sampai disini!” jawabnya tanpa menatap wajahku. Kata2 itu diulangnya beberapa kali. Nah..kesempatan nih.. bahasa tubuh orang yang lagi krisis kepercayaan diri, langsung aku samber “Pak, dia ini baru pertama kali pergi sendiri tanpa saya, kalau nanti di dalam dipermainkan orang bagaimana? Apa bapak senang kalau melihat orang yang sudah susah-susah cari rejeki begini dapat kesusahan?”  Suara sengaja disetel seramah mungkin. Yup.. kayaknya sisi moralnya kena. “Ya sudah kalau gitu bilang sama orang yang di pintu keberangkatan international bahwa saya Pak M*****O” sudah memberi ijin ibu masuk. Karena tanpa ijin saya ibu tidak boleh masuk. Itu ruang steril.” ujarnya dengan dagu dinaikkan beberapa senti. Wah.. wah.. wah… baru punya kuasa di pintu masuk aja sombongnya dah begini, gimana kalau bapak ini jadi bupati atau presiden ya? OK deh.. mari kita gosok nafsu kuasanya. “Iya deh pak, nanti saya sebut nama bapak.” meskipun hatiku menahan tawa tapi suara kubuat semantap mungkin. Di dalam semua urusan lancar sampai akhirnya di depan gerbang imigrasi. Si petugas mulai cari gara-gara lagi. “Kenapa ini paspornya 48 lembar! Ini pelanggaran!” bentaknya galak. Sebelumnya cara memanggilnyapun sangat tidak sopan. “Memangnya kenapa? Ada masalah?” nadaku mulai tinggi. Lalu dia bla.. bla… bla.. tentang paspor TKI yang 24 halaman dan konsekuensi pelanggarannya tetapi nadanya ragu-ragu. Selesai bla.. bla..bla.. gantian saya bla.. bla..bla tentang bedanya TKI yang diurus agen dengan yang tidak. Mukanya yang tadinya ketus mengendor. O.. jadi ibu sekarang tinggal dimana? Suaranya sudah berubah 180 derajat. Masya Allah.. kok ya mesti begini. Apa nggak bisa nanya baik-baik dan sopan?

Herannya kenapa mereka hanya berani sama yang lemah, sama TKI di sektor informal or orang-orang yang meraka yakin pengetahuannya kurang dari mereka. Kenapa kalau kita hadapi dengan tegas mereka langsung mengkeret? Mengapa mereka tidak berselera berbuat reseh pada TKI kantoran? Fenomena apa ini?  Apakah fenomena “rendah diri”? atau pengecut? Hanya berani kepada yang lemah. Pernah liat ada antrian warna negara sendiri lebih lambat dari warga asing di bandara? Datang saja ke Adi Soemarmo, warga sendiri ditanyain sampai ke hal-hal yang tidak bermutu seperti “kenapa pasportmu baru?” sedangkan dengan warga asing mereka merundu-runduk menebar senyuman. Apa karena tidak bisa berbahasa asing jadi tidak berani tanya-tanya? Fenomena mental terjajah! Kalau mau ditulis semua apa yang saya dengar dan saya lihat, bisa-bisa berlembar-lebar kertas dihabiskan. Sebenarnya fakta-fakta seperti ini sudah banyak diungkap melalui media masa.

Lalu bagaimana dengan oknum-oknum yang suka memeras TKI kita di bandara Soekarno Hatta? Fenomena apa lagikah ini? Inikah fenomena rakus harta dan dengki? Tidak suka bila orang lain mendapatkan rejeki yang sudah susah payah mereka perjuangkan? Merasa harus mendapat bagian dari apa yang sama sekali tidak mereka usahakan. Inilah gambaran orang dengki menurut Al Quran, “Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya.” (QS. Ali Imran: 120). Acchh… sedih hatiku melihat orang-orang seperti ini. Orang-orang yang tega menyusahkan bangsanya sendiri. Lebih-lebih bila mereka melakukannya di hadapan warga asing yang baru tiba di Indonesia. Pantas saja banyak bangsaku yang tidak dihargai di Negara lain. Ibarat anak, bila bapak kandungnya saja tidak menyayangi dan menghargai anaknya, bagaimana tetangga akan sayang dan menghargainya?

Lalu harus bagaimana? Sudah banyak media yang membahas fenomena ini tetapi tak juga membuat jera. Saya yakin sudah banyak teman-teman yang telah menegur mereka tetapi tak juga membuat mereka malu. Apakah harus jadi anggota legistlatif atau jadi pejabat dulu untuk memperbaiki keadaan ini? (Kalau saya mencalonkan ada yang mendukung ndak ya he..he…he…)

Renungan :

“Melepaskan dua ekor srigala lapar di kandang kambing tidak lebih besar bahayanya di bandingkan dengan seorang muslim yang rakus terhadap harta dan dengki. Sesungguhnya dengki itu memakan habis kebaikan, seperti api melalap habis kayu”. (HR. At-Tarmidzi)