Hand Puppet, an Amazing Way to Change Children’s Belief

SONY DSCSuatu ketika beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti status seorang teman di Facebook yang sedang berjuang keras mengantarkan anaknya ke sekolah. Mulai harus ditunggui di dalam kelas, di jendela, di halaman sekolah, hingga akhirnya berhasil survive di sekolah tanpa airmata.

Jika peristiwa ini terjadi di Indonesia, barangkali tidak terlalu menegangkan, karena ada extended family, bibik, embak, baby sitter, yang bisa dimintai tolong untuk menemani selama di sekolah atau mengerjakan pekerjaan rumah yang ditinggalkan.a akhirnya berhasil survive di sekolah tanpa airmata dengan total proses memakan waktu lebih dari 14 hari. (semoga Tuhan melimpahi teman saya ini dengan pahala atas kesabarannya dan dedikasinya sebagai ibu)

Agak lain ceritanya jika anda tinggal di luar negeri, dimana segala bala bantuan ini tidak mudah diperoleh, dan seorang ibu mempunyai banyak tugas selain menjadi permaisuri, yaitu sebagai iyem, merangkap supir, merangkap baby sitter plus tukang kebun.  Dalam situasi seperti ini, tertahan di sekolah selama 4-5 jam membuat seorang ibu harus pontang-panting membuat penyesuaian jadwal dan bertoleransi dengan tumpukan pekerjaan rumah yang melambai-lambai di rumah…

Penyebab kasus seperti ini secara umum disimpulkan sebagai “rasa tidak aman untuk berpisah dari subjek lekat”. Rasa tidak aman berpisah dari subjek lekat yang kadung melekat pada diri anak bisa dikategorikan sebagai limiting belief yaitu suatu kepercayaan yang menghambat atau membatasi atau membelenggu (silahkan dipilih istilah mana yang lebih anda sukai..). Beberapa tulisan yang saya baca mengenai kasus seperti ini, cenderung menganalisa cara mendidik yang dianggap keliru..  bahwa seharusnya begini, seharusnya begitu.. tanpa diberi solusi kecuali bersabar menerima proses panjangnya.

Ngomong-ngomong soal extended family dan bala bantuan dalam pengasuhan anak, seringkali terjadi juga “ketidak sengajaan” penanaman keyakinan yang tidak sehat secara mental. Ada kebiasaan kuno dalam pola asuh anak  dengan cara menakut-nakuti… seperti “Awas jangan kesitu ada hantu/jurit/wewe” (hahaha… wewe itu seperti apa ya bentuknya)… “Awas, nanti kamu diculik, ngga bisa ketemu mamamu lagi!”, “Nanti dipanggilin dokter biar disuntik” dan sebagainya.

Ternyataaa oh ternyata… tidak hanya extended family dan para pengasuh yang melakukan dosa-dosa seperti contoh diatas,  orang tua modern yang saya pikir sudah meninggalkan metode pengasuhan kuno ini juga ada yg masih melakukannya dengan versi yang berbeda.. misalnya “Awas jangan panjat itu, nanti kamu jatuh berdarah, sakit lho..”, “Ayo belajar.. matematika itu sulit lho, nanti nilaimu jelek (pada anak usia sekolah), “Kamu memang selalu merepotkan” dan lain sebagainya…. Semoga semua orang tua yang pernah melakukan “dosa lidah” ini ramai-ramai melakukan tobat nasuha…  (Nasuha?… jadi ingat final AFF yang menjadi pertandingan bola yang saya tonton seutuhnya sepanjang hidup saya.. semoga bidang olahraga di negeriku semakin maju..).

Akibatnya? anak menjadi takut di tempat tertentu, takut ke dokter, merasa matematika sulit, takut mencoba hal baru, merasa diri tidak berharga dan lain-lain.

Menyalahkan “sang sebab” tidaklah cukup. Menghentikan penyebab yang kendalinya di tangan anda, adalah tindakan yang WAJIB hukumnya. Namun mungkin saja anda sudah tidak bisa lagi mengenali sebabnya, karena suatu keyakinan bisa muncul sebagai hasil kesimpulan anak dari berbagai peristiwa yang dialaminya atau bahkan hanya sekedar dilihatnya sambil lalu.. (…toh anda tidak mungkin membesarkan anak dalam rumah kaca yang dapat anda kendalikan semua peristiwa yang boleh diterimanya bukan?…). Maka kewajiban berikutnya yang juga sama pentingnya adalah MEMPERBAIKI kondisi yang sudah terlanjur terbentuk.

Apa perlu dibawa ke Psychologist? Therapist? Pake hypnosis? Memang kasus-kasus seperti ini tergolong mudah bagi para profesional, seperti saya tulis juga di artikel-artikel lain. Apalagi jika terjadi pada orang dewasa, remaja atau setidaknya anak-anak usia 7 tahun ke atas yang telah memiliki kematangan berkomunikasi. Sedikit agak menantang jika yang dihadapi anak usia 3-5 tahun. Meskipun demikian, anda bisa melakukannya sendiri. Diperlukan kreatifitas tersendiri plus situasi yang menarik untuk membuat anak-anak pada usia ini mau dan dapat berkomunikasi sesuai arahan anda dalam rentang waktu tertentu. Jika anda atau cara anda dianggap tidak menarik oleh mereka, bukan tidak mungkin mereka akan kabur meninggalkan kita dalam kondisi speechless…

Berikut ini saya ajak anda mempraktekkan salah satu teknik dalam Neuro Linguistic Programming (NLP) yang telah dimodifikasi sehingga sangat user friendly..

Hand puppet (boneka tangan) dapat menjadi media untuk berkomunikasi dan mengaplikasikan teknik-teknik NLP secara mudah dan menarik. Teknik ini telah saya uji beberapa kali dan apa yang saya tuliskan disini adalah salah satu contoh yang dapat diaplikasikan untuk kasus-kasus lain sesuai dengan kebutuhan anda.

Saya sarankan anda menggunakan karakter binatang agar anak tidak serta merta mengasosiasikan karakter boneka dengan dirinya. Karakter orang kadang terlihat scary.

 META MODEL

Bukanlah pekerjaan yang mudah bagi anak untuk mendiskripsikan dengan jelas perasaannya (jangankan anak-anak…. Andapun sesekali mengalaminya bukan?)

Untuk mengetahui secara spesifik persoalan apa yang dihadapi anak, anda perlu mengetahui secara detail gambaran apa yang ada dalam pemikirannya bukan sekedar pernyataan di permukaan atau lebih parah lagi hanya berdasarkan pendapat orang tuanya. Me-meta-model-i anak-anak tentu tidak sama dengan dengan orang dewasa, proses ini kadang membuat anda menjadi subjek yang menjengkelkan karena terlalu banyak bertanya

Proses ini tidak wajib dijalankan jika memang anda sudah tahu pasti berdasarkan pengamatan anda, apalagi jika anda adalah ayah dan ibunya yang sudah menjalankan proses pengumpulan data, atau lebih parah lagi yaitu… anda adalah “biang keladi”  masalahnya hehehehe….

Untuk kasus “saya tidak suka sekolah”, kadangkala anda memerlukan informasi lebih detail mengenai, “apa/siapa/kejadian apa yang tidak dia sukai dari sekolah”, “sejak kapan tidak suka” atau hal-hal lain yang menurut anda penting (bagi saya… hal-hal yang saya sebutkan tadi sudah cukup)

Baiklah…

Mari kita mulai proses spesifikasi masalah melalui cerita, saya sarankan anda membagi cerita menjadi 3 bagian :

The Beginning :

Bagian ini untuk mengeksplor indera anak tentang suatu kejadian. Ceritakan secara diskriptif baju yang dipakai oleh karakter yang anda pilih, sebutlah si Teddy dan si Froggie yang sedang diajak orang tuanya untuk melihat-lihat sekolah.  Ajaklah anak membayangkan wanginya bunga yang dilalui ketika mereka berjalan, bunyi kicauan burung, rasa gembira, manisnya kue yang dibeli dalam perjalanan, dll. Selain agar anak merasa nyaman, his/her mind’s side door will swing wide open to accept your main process. Saya suka menyebutnya dengan istilah tahap persiapan inderawi untuk membuka jendela pemikiran anak.

The Middle :

Disinilah bagian dimana anda akan mendapatkan informasi yang anda perlukan. Buatlah percakapan antara Teddy dan Froggie tentang perasaan si Froggie ketika mereka sampai di sekolah. Ada beberapa alternative cara bertanya untuk memancing jawaban anak:

  1. Lakukan jeda setiap kali Teddy bertanya kepada Frogie, untuk memberi kesempatan anak menjawab.
  2. Buatlah gerakan seolah Froggie menggaruk-garuk kepala dan bertanya pada anak, apa jawaban pertanyaan Teddy
  3. Teddy bertanya langsung kepada anak setelah Froggie menjawab

Chunking down informasi yang sifatnya umum ke spesifik karena anak suka menggunakan kata-kata generalisasi sepeti “pokoknya ngga suka aja”, “semua jelek”, dsb. Perhatikan rentang konsentrasi anak.  Jangan berlama-lama karena rentang konsentrasi anak-anak lebih pendek dari rentang konsentrasi orang dewasa (yang bisa asyik berjam-jam mendengar kisah tentang “si pencari suara 2014 yang banyak dosanya pada rakyat tapi tidak punya malu mencalonkan diri” di kedai kopi.. ;p). Anda hanya perlu sedikit sensitif untuk bisa mengenali tanda-tanda penurunan konsentrasi pada anak misalnya ia mulai mengalihkan pandangan ke berbagai arah, gelisah, menguap.. dsb..dsb.. (thanks to hand puppet yang bisa dimanfaatkan untuk membuat gerakan-gerakan lucu)

Bisa saja anda terkejut dengan hasil penemuan anda, karena kesimpulan akhirnya bisa beragam seperti :

“Aku tidak suka sekolah sendiri karena aku takut ibu terlambat menjemputku, nanti aku harus menunggu sendirian, kalau nanti ada orang asing datang, aku diculik orang asing dan tidak bisa bertemu ibu lagi” (disini anda menemukan rasa takut kuadrat)

“Aku tidak suka Pak guru karena tidak keren seperti ayahku, pasti dia tidak sebaik ayah” (suit… suit… para ayah boleh numpang GR sebentar… :p)

“Teman sebelahku mencubitku” (hati-hati.., jawaban ini membutuhkan penyelesaian lain karena tidak ada hubungannya dengan belief !)

Salah satu contoh jawaban yang saya temukan adalah : “sekolah itu tidak menyenangkan, karena teman-teman sebaya nggak fun. Lebih menyenangkan bermain dengan teman-teman kakak, permainan teman-teman kakak lebih asyik. Teman-teman sebaya membosankan….mereka itu masih baby

Hhmmm… rupanya masalah sedikit bergeser dari “tidak suka sekolah” menjadi “teman sebaya ngga fun/membosankan”

The Happy Ending :

Tutup cerita dengan akhir yang bahagia. Pelukan, ciuman, kata-kata yang berulang dan nyanyian biasanya menjadi pembungkus favorit bagi anak-anak.

Test jawaban anak dalam kondisi riil, misalnya dengan meminta ortu-nya untuk mengajak anak ke sekolah kakaknya. Apakah dia terlihat excited? Atau dengan mengajak anak bermain dengan teman sebayanya di lokasi bukan sekolah. Apakah dia memang tidak berminat?

Jika BENAR, mari kita melangkah ke tahap berikutnya.., jika salah? hehehe… silahkan mundur 3 langkah.. ;p

 

CHANGING BELIEF

Tahap ini adalah tahap dimana anda akan menggugurkan limiting belief anak dengan mengganti gambaran mental anak terhadap situasi yang tidak menyenangkan dengan situasi yang menyenangkan atau menggelikan. Mengganti perasaan inferiority-nya terhadap situasi yang tidak disukainya menjadi berdaya.

Saya sarankan anda tetap membagi cerita menjadi 3 bagian, mengaplikasikan teknik changing belief system di tengah cerita.

Saya memilih menggunakan cerita ini :“Sampailah Teddy dan Froggie ke sekolah.. di depan kelas Froggie melihat teman-temannya..” (jeda)… biarkan anak menyambar cerita dengan menggambarkan perasaannya melihat teman-teman sebaya. Jika tidak ada reaksi, pancing dengan pertanyaan dari Teddy kepada Froggie dan selanjutnya dari Froggie kepada anak. Buatlah anak mengobservasi kehilangan minat yang dialaminya melalui tokoh Froggie … ikuti gerakan matanya dan letakkan Froggie di tempat matanya memandang ketika dia berhasil menemukan lokasi belief-nya. BREAK.. Lepaskan Froggie dari tangan anda.

Alihkan beberapa detik pada hal lain, misalnya dengan berpura-pura haus dan mengajaknya minum bersama anda.

Alihkan focus cerita. Kisah Teddy yang bertemu karakter lain yaitu si Goofie menjadi pilihan saya.  Teddy dan Goofie bermain ayunan, Teddy mendorong Goofie hingga Goofie berayun tinggi… tinggiiiii di udara…, stimulasi ingatan anak kepada pengalamannya bermain ayunan (tentunya anda harus tahu dulu kegiatan yang ia sukai.. jika bermain ayunan justru menakutkan, artinya anda meng-elicit emosi yang salah 🙂).. Untuk menguatkan rasa exciting yang dialaminya, saya melakukan gerakan-gerakan jenaka dengan karakter Goofie, menutup salah satu matanya sambil sedikit mengintip, jeritan-jeritan kecil, berpura-pura salah memegang mulut menjadi telinga..  terusss.. sampai anak berada dalam titik senang, geli, exciting mendekati optimal (…jangan kuatir.. membuat anak kecil terpingkal-pingkal jauh lebih mudah dari membuat atasan anda tersenyum J)

Dengan gerakan tangkas ganti munculkan karakter  Froggie di tempat dimana tadi ia anda hilangkan yang mewakili submodality “anak-anak membosankan” (jika ada reaksi diam 1-2 detik.. Bagus.. artinya dia sedang menarik informasi lama yang sudah terbentuk .. Jika tidak ada reaksi, pancing selintas dengan mengatakan “ngga fun”). Serta merta pindahkan posisi Froggie ke belakang Goofie hingga karakter Froggie tertutup oleh Goofie dan lanjutkan gerakan-gerakan jenakanya hingga si anak kembali tertawa terkekeh-kekeh sambil mendekatkan karakter Goofie ke arah anak…. teruss.. teruss.. dan stop. Selesai sudah…

Lepaskan kedua karakter dari tangan anda dan lanjutkan akhir cerita secara naratif. Libatkan anak untuk membuat akhir cerita yang disukainya. Lakukan recheck apakah keyakinan lamanya telah tergugurkan berdasarkan akhir cerita yang dibuatnya.

Ingatkan orang tua untuk tidak perlu membahas “masalah” ini sampai saatnya anda mengalami pengalaman yang sebenarnya.

Singkat cerita, saya mendapatkan informasi bahwa si anak telah melenggang dengan ceria ke kelasnya keesokan harinya.

Tentunya proses tidak berhenti sampai disini, tetapi terus dilanjutkan dengan proses menikmati situasi-situasi menyenangkan dan proses memaafkan situasi-situasi tidak menyenangkan yang secara riil ditemukan pada hari-hari selanjutnya, agar anak menjadi fleksible dan resilience ketika menghadapi berbagai fakta.

Akhirnya…

Kasus ini hanyalah sebuah contoh yang bisa anda modifikasi sesuai dengan kondisi yang anda hadapi baik bagi anak-anak anda maupun anak-anak yang anda bantu. Bantu juga diri anda dan para orang tua untuk ikut berubah karena seringkali apa yang diyakini anak adalah hasil ‘memodel’ apa yang diyakini orang tuanya.

Teruslah membuat perbaikan, karena anak-anak adalah tamu istimewa, yang kita undang untuk masuk dalam kehidupan kita atas ijin dan kuasaNya.. maka sudah sepantasnya, mereka mendapatkan perlakuan istimewa selayaknya “tamu istimewa”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s