MERENTAS BATAS 6 NEGARA

Catatan perjalanan ini saya dedikasikan untuk keluarga-keluarga muda  dengan anak yang masih kecil-kecil (dibawah 12 tahun) yang ingin melakukan perjalanan lintas negara dengan nyaman, fun, sehat dan efisien.  Dalam catatan ini akan anda temukan rekomendasi, tips, cara mengatasi masalah dan keasyikan mengikuti detak emosi perjalanan kami. Siap melintasi 6 negara bersama kami? Yuukkk…. Buckle up your seat belt and behave… 😀 😀

Persiapan Perjalanan

Melakukan perjalanan melintasi beberapa negara dengan anak-anak tentu tak semudah melakukan perjalanan bulan madu, namun juga tidak sulit asal kita persiapkan dengan matang.

Mau tiket murah? Gampang… Rencanakan perjalanan beberapa bulan sebelumnya sehingga ada punya cukup waktu untuk membandingkan harga-harga tiket yang dengan mudah dapat kita lakukan secara online, begitu juga dengan urusan visa dan asuransi (salah satu persyaratan visa). Banyak website yang secara otomatis membuat komparasi harga tiket dengan rute yang anda inginkan. Alhamdulillah kami menggunakan Emirates Airline.. highly recommended-lah. Kursinya cukup luas, inflight entertainment-nya OK punya, makanannya insyaAllah halal (meskipun wine tetap ditawarkan utk penumpang berambut pirang) dan rasanya cukup lumayan untuk ukuran makanan pesawat.

Untuk urusan booking hotel-hotel di negara tujuan, usahakan dekat dengan fasilitas transportasi umum, grocery stores dan self service laundry. Booking.com adalah site andalan kami. Jika anda travelling dengan anak-anak, apartment or family room yang dilengkapi dengan kitchenette adalah pilihan tepat. Apalagi kami sangat concern dengan kehalalan makanan dan kurang menyukai makanan berselera eropa, memasak sendiri makanan keluarga menjadi andalan. Refoott? Ah.. ngga juga.., cukup berbekal mini rice cooker, sedikit bumbu instant dan 2 buah microwaveable bowls, insyaAllah perut keluarga anda terjamin kemaslahatannya.. :D. Di eropa, wisata kuliner tentu bukan tujuan kami. Bagaimana tidak, bread saja perlu kehati-hatian memilih additional ingredient-nya mengingat banyak komponen yang subhat. O iya.. Ingat juga untuk membawa obat2an pribadi secukupnya.

Rencanakan perjalanan dan kegiatan harian secara detail, viamichellin.com akan membantu anda menghitung waktu tempuh secara nyaris sempurna (thanks to Riana Julianti yg merekomendasikan site ini). Pastikan hari pertama di tiap negara mempunyai jadwal yang longgar sehingga anak-anak dan tentunya Pak Supir alias suami punya waktu istirahat yang cukup. Tidak perlu terlalu ambisius mengunjungi semuanya karena jika salah satu anggota keluarga sakit justru jadwal anda menjadi runyam.

Sewa mobil adalah alternative yang paling masuk akal, karena travelling dengan anak-anak identik dengan koper-koper besar yang pasti akan merepotkan jika anda bawa turun naik kendaraan umum misalnya kereta. Anggaplah mobil sebagai trolley barang anda melintas negara. Di sepanjang perjalanan, anda akan menemukan rest areas yang bersih sehingga tidak perlu kuatir dengan kelelahan dan urusan unload isi perut dan kandung kemih. Jika anak anda laki-laki, sediakan 2 botol kosong dan tisu basah untuk kondisi darurat  :p. Harga sewa mobil berkisar antara 50-100 Euro tergantung jenis kendaraan. Alhamdulillah kami dapat Opel Zafira seharga 1000 euro untuk perjalanan 18 hari. Kondisinya benar-benar baru, baru berjalan 500km. Kapasitas bagasi longgar dan seating area cukup comfy. Kami menggunakan jasa persewaan SIXT  karena dengan company ini kami tidak perlu mengembalikan mobil ke negara asal (Holland), cukup diserahkan kembali di negara tujuan akhir (Germany). Tidak banyak jasa persewaan mobil yang memberi kemudahan seperti ini.

Siapkan semua dokumen dalam binder tipis.

OK.. kini anda siap terbangg bersama saya.

HOLLAND

Mendarat di Schiphol Amsterdam, kesan saya terhadap the airport is sangat biasa… mungkin karena bukan di ibukota negara. Kami langsung menuju counter car rental. Cukup mengejutkan kami mendapat mobil dengan nomor 12-RGT-5. Pas banget dengan initial suami dan tanggal lahir Rangga. Kebetulan? Ntahlah…

Dari Schiphol menuju hotel hanya 15 menit perjalanan. Apato Hotel yang kami pilih bernama  Htel Service Apartment. Alhamdulillah… dengan tariff 140€, kami mendapatkan apartment 2 kamar dengan tatanan yang sangat modern, agak aneh memang kl melihat bangunan di sekitarnya yang terkesan uzur. Fasilitas kitchenette, cutlery, dan home appliances luar biasa lengkap.  Sepanjang perjalanan kami melintasi berbagai negara, apartment ini yang paling bagus. Sebetulnya kami memesan apartment 1 kamar plus sofa bed tetapi ternyata kami mendapat upgrade gratis menjadi 2 kamar. Rupanya negara yang dulu menjajah negriku ini sangat gembira menyambut kami, mungkin karena ingin menebus dosa-dosa nenek moyangnya dulu terhadap bangsaku… 😀

Hari pertama, kami isi dengan sightseeing di seputar Amsterdam. Ternyata budaya bersepeda sangat marak disini. Meskipun dengan jas dan pakaian kerja yang keren, mereka asyik saja bersepeda. Gayanyapun bermacam-macam, dari sepeda biasa sampai sepeda yang dikayuh dengan posisi tiduran. Dari penuh konsentrasi sampai yang bersepeda sambil asyik bertelepon ria.. nah.. yang ini nih yang suka pindah jalur sembarangan hehehe… Jalan di Amsterdam kecil-kecil dan harus berbagi antara mobil dan trem. Tapi kok ya cukup aja, ngga pake macet dan ngga ada bunyi klakson ya? Pengendara mobil sabar menunggu jika jalurnya terpotong rel trem atau jalur sepeda. Mobil besar bukanlah pilihan disini, karena fasilitas parkir yang sempit. Biaya parkir juga mahal, 3€ per hour. Bangunan-bangunan dan situasi kota ini mengingatkan anda pada situasi Jl. Dago bandung atau Bukit Tinggi. Sebuah kawasan ayem tentrem, bersih, hijau berseri dengan bunga bermekaran disana-sini. Di Amsterdam jarang sekali bangunan modern tinggi menjulang, kecuali di beberapa titik di luar kota. Arsitektur tua tahun 1800an dan awal 1900an mendominasi. Di sepanjang jalan banyak kami temui restoran Indonesia, tetapi bukan berarti resto halal lho ya… Jadi tetap waspada. Kami sempat melongok kawasan canal cruise tetapi tidak tertarik untuk mengarunginya. Meskipun sungainya tidak bening tetapi tiada sampah. Kusam tapi bersih.

Hari kedua, kami mengunjungi Madame Tussaud wax museum, yang sesungguhnya hanya memanfaatkan bangunan sempit 4 lantai (semacam ruko) di sudut jalan yang ditata sedemikian rupa sehingga efisien. Saya kira Indonesia bisalah kalau mau membuat yang lebih bagus dan luas hehehe… Antrian pengunjung sudah mengular (gile ya.. dengan kondisi bangunan yang minim gini aja laku banget..), untung kami sudah membeli tiket secara online. O iya, membeli tiket online untuk beberapa lokasi yang ingin anda kunjungi sangat dianjurkan, karena akan menghemat waktu dan tenaga untuk antri. Sebuah tujuan wisata yang cukup mengasyikan dan fun. Tepat di di seberang museum terdapat Royal Palace yang juga merupakan old townhall of Amsterdam. Disinilah banyak orang ngamen dengan kostum aneka rupa dari yang serem sampai yang lucu untuk mendapatkan sekedar uang tip saat difoto. Mengingatkan saya pada kawasan Pier 39 di San Fransisco.

Dari Madam Tussaud kami meluncur ke kawasan kincir angin dan rumah-rumah traditional Belanda di Zaanse Schans,  karena si bungsu tidur pulas di mobil, kawasan Zaanse Schan tidak terlalu banyak diexplore. Saat menuju Zaanse Schans kami melintasi kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Angin modern dengan turbines raksasa, sehingga Raka (9 th) dapat membandingkan windmill jaman tahun rikiplik  dan modern. Sebagai sumber energy yang terbarukan dan alternatif dari fossil fuel, rasanya energy generator ini pantas untuk makin dikembangkan di Indonesia. Sumber daya angin pasti mudah ditemukan di negeri kita (asal jangan produk masuk angin saja.. :p)

Hari ketiga kami habiskan ke Keukenhof  dan Madurodam, cerita tentang kawasan ini pasti sudah banyak diketahui dari internet. Sungguh beruntung kami masih kebagian hari terakhir dari jadwal buka Keukenhof karena hari berikutnya Keukenhof akan tutup sementara. Mungkin jadwal mengganti bunga-bunga. Kami masih kebagian melihat bunga Tulip meskipun sudah tidak banyak. Sepanjang menikmati keindahan Keukenhof, pikiran saya terus melayang ke ibunda tercinta. Beliau adalah pecinta bunga tiada tara. Sementara saya hanya setengah pecinta bunga terutama Rose. Ros…  yang juga nama kecil ibuku. I love you Mom, insyaAllah ada rejeki waktu, ingin sekali diriku mengajak beliau ke sini. Dari Keukenhof terjadi insiden menggelikan, dengan semangat 45 suami berburu restoran Indonesia khas Bandung yang konon halal, berbekal info dari internet. Hampir 1 jam kami mengaduk-aduk kawasan Leiden University. Parkir mobil cukup jauh dan berjalan kaki kian kemari. Hasilnya? Resto si Anak Bandung sudah tak ada lagi batang pintunya alias tutuik, jadilah kami anak beranak kelaparan di tengah kawasan tak dikenal hahahaha….. Untung saja tak jauh dari daerah itu tersedia resto Kebab. Fyiuuuh selamat deh…. Lesson learned… lain kali bawa homemade sandwich untuk ganjal perut jika menempuh perjalanan cukup jauh. Lanjuutt…. Kali ini Madurodam sasaran berikutnya. Sesampai disana eng.. ing.. eng… mak bedundug ternyata oh ternyata area-nya kecil saja. Dari pintu masuk yang dibangun cukup tinggi kami bisa melihat ujung area Madurodam. Saya dan suami berpandang-pandangan dan terbahak bersama… OK next vacation kita ke Taman Mini Indonesia Indah ya Nak…. Madurodam adalah miniature Netherland. Semua kawasan dan bangunan terkenal di seantero Low Land ini (Netherland berarti tanah rendah yang lebih rendah dari sea level) dibuat miniature-nya disini. Konsepnya kreatif  dengan memanfaatkan lahan yang terbatas. Bagian yang paling menarik dari Madurodam adalah laser show yang menceritakan sejarah negeri ini. Ternyata pada tahun 1953 pernah terjadi banjir besar akibat dari heavy storm di North Sea. Sejak itulah mereka mulai membangun proteksi dalam bentuk barrier yang disebut Delta Works. Barrier ini terus diperbarui dan dimodernisasi dari masa ke masa hingga tahun 2007 lalu. Puas di Madurodam kami sempatkan mampir sejenak ke rumah sahabat lama yang tidak jauh dari situ. Alex Sulaksana dan Ria Rizki. Senang sekali kami dijamu dengan masakan Indonesia yang sedap sambil bernostalgia Rumbai Mania….

Hari keempat giliran Volendam dijelajahi. Sebuah desa nelayan yang disulap menjadi kawasan wisata. Disinilah biasanya para wisatawan membuat foto sejuta umat. Tentu anda sering melihat foto keluarga Belande di rumah teman-teman anda bukan? Nah.. disini ini tempat bikinnya. Dan kamipun memilih studio foto yang pernah dikunjungi dari Gusdur, Megawati, Rima Melati sampai Ruth Sahanaya… Masa kalah ama bu Mega…. Heheheheh….  Nah.. berhubung ini kota nelayan maka hidangan-hidangan yang ditawarkan mostly dari hasil laut. Horeee…. Untung anak-anak penggemar hasil laut, so.. fish and chips, crabs, and shrimps dipesan semua. Alhamdulillah…

Minggir sedikit dari Volendam terdapat daerah pengusaha kelom alias terompah belanda plus pabrik keju. Di sini kami dijelaskan cara membuat kelom dan keju. Kebanyakan keju dipasaran tidak lagi menggunakan rennet hewani untuk mengentalkan susu, tetapi menggunakan vegetarian rennet karena alasan harga bahan baku yang lebih murah, makin banyaknya konsumen vegetarian, sadar kosher, dan sadar halal. Pabrik keju yang kami kunjungi ini telah lama meninggalkan rennet hewani. Meskipun demikian ada jenis-jenis keju tertentu yang dicampur potongan daging babi asap, dan masih ada yang penganut setia rennet hewani (dibuat dari perut babi) di pasaran. Kami dipersilahkan mencicipi jenis-jenis keju, dari yang muda hingga yang sangat matang berbau busyuk. Akhirnya kami memilih edam cheese versi kecil sebagai oleh-oleh, yaitu jenis keju muda. Keju matang alias tua ngga janji deh… bagi kami rasanya ampyuuun. Malamnya kami diajak ke resto pancake oleh keluarga Alex, olala… pancake aneka rasa dengan ukuran raksasa dihidangkan disini. Puass deh… Terimakasih ya Alex, Ria, Via dan Icha. Anak-anak langsung kompak dan main bareng.

Berakhir sudah jadwal kami mengunjungi Holland… malam ini mesti tidur cukup untuk stamina menempuh perjalanan panjang esok hari menuju Paris via Brussels.

Bagaimana? Sudah tidur nyenyak tadi malam? Siap melanjutkan perjalanan menuju Paris via Brussels? … Yuuukkksss…..

Di sepanjang perjalanan kamu disuguhi jamuan indahnya pemandangan lahan-lahan pertanian yang tertata rapi. Beberapa traktor mini ala film the Cars dan sapi gemuk-gemuk yang asyik mengunyah rumput. Sapi-sapi berwana coklat putih persis seperti gambar bungkus coklat yang ketika kecil dulu saya peroleh sebagai oleh-oleh dari ayahanda tercinta yang studi singkat di Belanda. Bungkus coklat itu sempat saya simpan lama dan menghayal melihatnya langsung suatu saat kelak. Beberapa desa yang kami lalui meski sederhana tapi fasilitas jalannya, subhanallah…. baguss dan mulus. Andaikan desa-desa di negaraku seperti ini. Salah satu perbincangan saya dan suami saat itu, andaikan ada desa seperti ini di Indonesia, kita tinggal di desa saja, kerja menjadi konsultan dan hanya sesekali meeting ke kota. Duh.. ngiriii…

BRUSSELS

Perjalanan Amsterdam – Paris memerlukan waktu tempuh 5-6 jam. Dan kita akan berhenti beberapa jam di Brussels untuk mengintip Mini Europe, Atomium dan kalau sempat mengunjungi Tintin di Comic Strip. Dengan teknologi GPS, mengemudi antar kota antar propinsi en antar negara menjadi mudah, tetapi hati-hati, di beberapa negara banyak tunnel yang panjangnya bagai ular naga. Jika terjadi poor satellite reception di persimpangan highway, bisa-bisa om pilot ngomel-ngomel. Nah… pada saat genting begini, co-pilot harus bisa diandalkan instingnya.. :D.. Jadi sebaiknya anda pelajari dan catat juga sebelum memulai perjalanan untuk meminalisir kepanikan yang tidak perlu.

Mini Europe di Brussels konsepnya mirip dengan Madurodam, bedanya Mini Europe mengusung keragaman icon-icon popular di Eropa. Dari Eiffel Tower sampai Menara Pisa. Dari Berlin Wall sampai Guning Vesuvius. Ditambah dengan tombol-tombol untuk mengaktivasi music dan gerakan di tiap icon, plus beberapa permainan indoor multimedia, tempat ini jadi menarik terutama untuk anak-anak.  Lumayan juga untuk melihat secara tiga dimensi icon-icon yang mungkin belum sempat anda kunjungi di Eropa. Mau berfoto dengan Om Kura-kura (ntah siapa namanya saya lupa), untuk dicetak, dijadikan gantungan kunci atau mug? Cukup 3-7€ saja.  Dari Mini Europe kami meloncat ke Atomium. Letaknya masih di BruParck juga.  Bangunannya memang unik, berbentuk susunan atom besi (Fe) yang diperbesar sekian milyar kali. Antriannya wuiih panjang benerrr… Ternyata itu adalah antrian untuk memasuki lift menuju puncak tertinggi. Jika anda sudah pernah ke Kuwait Tower, Menara KL, Monas, dan sejenisnya. Tidak perlu membuang waktu untuk mengantri ke puncak tertinggi atomium, langsung saja mengunjungi bagian-bagian exhibition-nya. Sebetulnya banyak hal bisa dilihat di kawasan BruParck ini tetapi karena sudah terlau sore kami memutuskan untuk tidak mengeksplor lebih lanjut dan membatalkan kunjungan ke Comic strip. So.. Pariiiss.. Kami datangg…

PARIS

Sampai di Paris kami langsung menuju apartment untuk istirahat, Citea Charenton namanya. Apartment yang satu ini kurang direkomendasikan. Fotonya tak sesuai dengan warna aslinya :D… Meskipun kelengkapannya lumayan, area parkir memadai dan dekat dg grocery store, tapi tergolong uzur.

Pagi pertama di Paris kami manfaatkan untuk sightseeing dengan Batobus. Bus air yang dengan konsep hop on hop off melalui 8 famous places di Paris. Eiffel, Musse d’Orsay, St-Germain-des-Prés, Notre-Dame, Jardin des Plantes, Hôtel de Ville,  dan The Louvre. Hhmmm…..Serasa memutar ulang film Da Vinci Code.

Cerita dibalik keterkenalan tempat-tempat tadi dengan mudah dapat anda layari di laman-laman web. Bagi yang hobi fotografi dijamin puas mengabadikan bangunan dan keunikan Paris dengan modal murmer ala Batobus ini. Anda perlu sedikit kesabaran karena bagi anak-anak kegiatan tuk wak gak ini cukup melelahkan. Juga jangan kaget kalau kota yang katanya pusat mode ini disana-sini agak berbau pesing. Ntah berasal dari banyaknya anjing-anjing yang digiring kesana-kemari oleh tuan-tuannya atau dari spesies tuannya. Kesan yang sama dengan kesan kami dulu terhadap sebuah kota di Perancis yang pernah kami kunjungi 6 tahun yang lalu.  Di Paris ini beberapa pedagang asongan dan petugas Batobus menyapa kami dalam bahasa Indonesia, mungkin saking banyaknya wisatawan Indonesia datang ke sini. Di beberapa tempat lain saya juga disapa dalam bahasa Arab. Saya jawab saja dengan Syukron.. (hehehe.. Amaaan… )

Yang sedikit mengherankan, kami menemukan banyak orang melakukan sun bathing di pinggir Seine River ini dengan mengenakan beberapa helai benang saja… waksss…. Gubrak…

Hari berikutnya sebetulnya saya ingin ke Versaille palace, tapi ada suara protes yang bunyinya kira-kira seperti ini “C’mon sayang… another old building again?” hahahaha…. Memang Paris penuh dengan historic building (it’s not just old sayang..) dengan ornament megah, yang bagi bukan penggemar sejarah, terasa seperti kue tart, mempesona di awal tapi agak eneg jika porsinya kebanyakan. OK deh.. lalu enaknya ngapain hari ini? Shopping dooong.. Ke Paris ngga shopping bagaikan sayur tanpa garam. Apalagi suami tipe betah shopping. Mawree… Urusan shopping rasanya tidak perlu diceritakanlah.. too personal hehehe… Maka jadilah hari itu hari belanja nasional dan mengunjungi beberapa tempat bersejarah di dalam kota Paris yang masih meninggalkan rasa penasaran. Di Paris sangat mudah menemukan bahan makanan halal. Berbagai supermarket menyediakan rak khusus bahan makanan halal, baik mentah maupun instant. Jadi meskipun aktifitas padat, asupan gizi terjaga dengan baik terutama pembarep-ku yang menjelang remaja ini, terserang gejala lapar tak kenal waktu.. 😀

Hari ketiga adalah hari yang paling ditunggu anak-anak, kami berkemas meninggalkan Citea menuju Disneyland… horeee…. Memang Disneyland adalah tujuan utama kami ke Paris. Sebuah janji kepada anak-anak yang ingin kami tunaikan. Adagio Aparthotel menjadi pilihan kami. Meskipun tak sekeren apartment tempat kami menginap di Amsterdam, tapi saya jatuh cinta dengan konsep aparthotel ini. Mungil, terdiri dari 2 lantai, minimalis namun lengkap. Hhmmm… andaikan punya 4 units saja untuk difungsikan sebagai revenue generator… mantabs tuuh. Harganya cukup murah, hanya 99€ perhari.  Lempar saja koper-koper ke kamar lalu melesaaat ke Disneyland. Dua hari kami habiskan di Disneyland. Ternyata ngga cuma anak-anak yang happy di sini, bapak dan ibunya juga happy…(Berhubung saya kolektor film-film cartoon produksi Disneyland, mengunjungi tempat ini membuat hati saya bernyanyi..) Suhu udara di hari pertama dan kedua sangat berbeda. Hari pertama panass hingga mendekati 30°C dan matahari menari-nari di atas kepala. Hari kedua sejuk berangin dengan suhu 15°C. Untung kami memilih tinggal di area Disneyland sehingga tidak kuatir salah kostum.  Di lokasi parkir banyak dijumpai mobil caravan, hoho.. cerdik juga ya, dengan biaya parkir 15€ per hari mereka menghemat biaya hotel. Dari caravan sederhana sampai canggih bisa ditemukan di sana. Dua hari terasa kurang, bukan hanya anak-anak yg merasa kurang, bapaknya anak-anak juga masih ingin tinggal lebih lama… hehehe..  Apa daya, jadwal berikutnya sudah menunggu. Tenangg.. masih ada Legoland di Munich nanti anak-anak…  Sekarang bobok manis dulu ya.. besok kita menikmati pesona alam lukisan Yang Kuasa…

Oaheemm…. Bangun tidur lumayan pegal-pegal setelah 2 hari mengitari Disneyland bak acara baris-berbaris pleton inti SMP. Sebelum memulai perjalanan ke Geneva kami sempatkan mampir ke La Vallee Village outlets, branded outlets yang menawarkan diskon heboh dengan konsep perkampungan. Jika anda hobi belanja, tempat ini saya rekomendasikan tetapi saya pribadi lebih tertarik untuk segera membuktikan keindahan alam Switzerland. Maklum…. sudah 2 tahun hidup di padang pasir…  😀

Sepanjang perjalanan dari Paris ke Geneva kembali kami dijamu nuansa alam yang menyejukkan mata. Kali ini tak hanya lahan pertanian,  tetapi juga indahnya pegunungan dan rumah-rumah khas pegunungan dengan tumpukan kayu-kayu bakar di samping rumah. Jika anda pernah membaca novel kisah Heidi yang tersohor itu, anda akan merasa seolah dibawa kembali ke setting cerita Heidi di pegunungan Alpen.  Highway di sepanjang Paris-Geneva banyak melalui tunnels yang menembus perbukitan, untungnya tidak banyak cabang di mulut tunnel, kalau tidak, tentu indera keenam harus difungsikan karena GPS menyerah pasrah kehilangan signal

GENEVA

Memasuki Switzerland kita diwajibkan membeli vignette (road tax) seharga 40€ berbentuk stiker yang ditempelkan di kaca mobil anda. Vignette dapat dibeli di loket khusus di perbatasan. Di tempat ini pula tersedia money changer. Switzerland masih menggunakan Swiss Franc sebagai alat pembayaran meskipun di beberapa tempat mata uang Euro bisa diterima. Di negara ini saja kami merasakan ada perbatasan seperti layaknya memasuki negara lain. Di negara-negara sebelumnya, batas negara sangat tidak kentara. Lalu bagaimana kita tahu bahwa kita sudah memasuki negara lain? Perhatikan saja perubahan bahasa pada rambu jalan… hahahha.. Luar biasa, benar-benar sebuah perwujudan impian Napoleon Bonaparte di masa itu.

Geneva adalah kota kecil yang luasnya tak lebih dari 16km2. Meskipun demikian, populasinya berada di urutan kedua terpadat setelah Zurich. Nah.. di kota ini, parkir saja mobil anda sementara di hotel, karena mencari area parkir di dalam kota hanya akan membuang-buang waktu saja apalagi kelihatannya seluruh kostumer hotel di Geneva mendapatkan fasilitas kartu gratis untuk menggunakan bus dan tram. Switzerland memang terkenal sebagai negara dengan biaya hidup lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, sebagai gambaran rata-rata harga makanan per porsi di resto kelas menengah adalah 30 £  (+/ 300 rb rupiah). Di kota ini ada restaurant Indonesia-Malaysia yang lumayan enak. Silahkan mampir di resto Tanah Merah jika anda rindu masakan Indonesia.

Di kota ini, ada beberapa kawasan terkenal untuk dikunjungi seperti kompleks United Nation, Place Neuve, Flower clock, Brunswick monument dan Jet d’eau. Cukup sehari saja anda bisa mengunjungi semuanya sekaligus. Naik turun bus dan tram yang nyaman menjadi pengalaman baru bagi anak-anak, harap maklum saudara-saudara, di Saudi tidak ada mass transportation.

Acara keliling Geneva ini menjadi semakin menyenangkan karena kami ditemani sahabat kami Puyi dan Hilda yang bergabung bersama kami. Luar biasa perjuangannya menemui kami dari Neuchâtel (jarak tempuh kurang lebih 70 menit), apalagi ditambah dengan oleh-oleh istimewa nasi goreng pete pedas dan arem-arem. Walaupun malamnya sudah makan nasi goreng di resto Indonesia, tetapi skor rasanya kalah jauh dibandingkan buatan Mrs. Zaugg ini.  Bersama Puyi tidak perlu kuatir nyasar, meskipun bukan penduduk Geneva tetapi kemampuan berbahasa perancis beliau sangat kami andalkan (Makasih ya Yi.. we miss u so much).

Kesan saya terhadap  kota Geneva sih biasa saja, kurang lebih seperti itulah kota-kota di Eropa. Wisata di Switzerland memang paling asyik menikmati alam dan pedesaan, bukan menikmati kota. Flower clock yang termasyur itu ternyata tak lebih dari petak bunga yang tidak begitu besar ukurannya. Mudah saja kalau mau dibuat replikanya di Bogor atau Kaliurang … :D.. Acara yang paling mengesankan bagi anak-anak adalah piknik di rumput sambil menunggu saat muncratnya si Jet d’eau yang termasyur itu (Rangga sampai ketagihan ingin makan di atas rumput lagi di hari-hari berikutnya). Jet d’eau adalah air danau yang dipompakan ke udara dengan kapasitas 500 liter per detik melaui dua pompa berkekuatan 500KW hingga menjulang ke udara. Dari titik-titik air yang menyebar di udara terbentuklah pelangi. Memang mengasyikkan dipandang sambil menikmati udara sore.  Mau di rumput atau sambil menghirup kopi di café-café trendy di seputar danau yang dijaga kebersihan dan keteraturannya, silahkan pilih mana yang lebih sesuai selera. Kami sempat berkhayal seandainya kawasan Danau Maninjau ditata sedemikian rupa, dijaga kerapian resto-resto disekitarnya dengan desain khas Sumatra barat yang dimodifikasi, dilengkapi kios-kios souvenir yang rapi atau kalau perlu pompakan airnya hingga menjulang terlihat dari kelok 44-nya. Ondeee… Rancak banaa… Saya yakin para wisatawan akan me-reroute tiketnya dari Geneva ke Padang. Uhuy…

Chamonix Mont Blanc adalah target hari berikutnya. Chamonix terletak di pegunungan Alpen yang merupakan bagian dari negara Perancis namun berbatasan dengan Switzerland dan Italy. Perancis berbagi puncak Mont Blanc  dengan negara tetangganya Italy. Di musim dingin, daerah ini menjadi pusat winter sport, sedangkan di musim semi menjelang panas seperti sekarang, paragliding, cycling dan rock climbing menjadi pilihan. Dari pusat desa Chamonix tersedia kereta yang dioperasikan sejak tahu 1908 untuk menyusuri Aiguilles de Chamonix menuju ketinggian 1913 m. Di station perhentian pada ketinggian 1913 m ini kami disambut indahnya pemandangan 3 puncak gunung yang mempesona dengan salju yang masih menyelimuti ujung-ujungnya. Subhanallah… Kereen banget deh pokoknya, kali ini tidak ada komentar “cuma begini doang” yang kadang sering mampir dalam pikiran saya.  Di area ini terdapat museum kecil yang menunjukkan bagaimana batu-batu mulia ditambang dari perut gunung. Musem tersebut berupa gua berbentuk U bermula dari satu dinding ke dinding yang lain. Dari stasiun ini pula disediakan cable car menuju Mer de Glace glacier. Jika pada umumnya cable car menempuh lintasan mendatar, kali ini lintasannya sangat curam menukik ke bawah. Lumayan juga untuk test jantung .. 😀

Dalam perjalanan menuju Munich di hari berikutnya kami sempatkan mampir memenuhi undangan makan siang sahabat kami di Neuchâtel. Danau Neuchâtel adalah danau terbesar di Swiss  (begitu menurut juru kunci danau Neuchâtel alias Mrs. Puji Zaugg). Ketenangan suasana tepi danau dipadu dengan keindahan sulur-sulur dan rumpun-rumpun mawar aneka warna yang tersebar di seantero desa menciptakan suasana romantic yang menenangkan. Apalagi di sepanjang jalan setapak yang kami lalui saat melangkah menuju danau tersebar kelopak mawar yang berjatuhan, aduhaiii… indahnya. Tak henti-henti saya memuji indahnya lukisan alam dari Yang Maha Indah. Rasanya ingin berlama-lama disini, sayangnya jadwal menuju Munich telah menanti.

MUNICH and SALZBURG  

Munich menjadi kota perhentian kami yang terakhir. Selama 6 hari di Munich kami berencana melawat Salzburg Austria yang hanya 1 jam perjalanan dari Munich. Beberapa tempat menarik bisa anda kunjungi di Munchen ini adalah Deutsches Museum, BMW Museum, Legoland, Munich Zoo, Konigsee Lake, Dataran Marienplatz dan Englischer Garten (English Garden).

Deutsches Museum adalah museum science dan teknologi terbesar di dunia (kata Wikipedia). Koleksi model transportasi darat, maritime dan dirgantara yang dipamerkan di sana lengkap luar biasa (pantas saja Pak Habibie “kesayanganku” betah tinggal di sini).

BMW museum menjadi tempat favorite suami. Kali ini bukan Pak Habibie yang betah, tapi pria ganteng di sebelahku ini. Jika beliau sibuk mengamati koleksi mobil, saya lebih tertarik mengamati koleksi motor. Sori jek… darah muda… :p

Sesuai dengan niat awal membuat perjalanan menarik bagi anak-anak, tentu Legoland wajib dikunjungi. Apalagi Rangga si bungsi penggemar berat Star Wars. Sungguh beruntung tepat saat kami berkunjung, di Legoland ini dibuka area pameran baru bertema Star Wars. Benar-benar surga buat anak-anak.  Legoland terletak di Gunzburg kurang lebih 1 jam 15 menit dari Munich. Meskipun pada hari itu suhu udara tiba-tiba drop ke 10°C dan hujan rintik-rintik. Tanpa mengeluh anak-anak menembus udara dingin dan rinai hujan dengan bermodalkan jaket dan disposable rain coat. Di Legoland juga dapat anda jumpai miniature bangunan-banguna eropa yang disusun  dari Lego. Termasuk stadium Allianz Arena, markas Bayern Munchen yang ternama itu (buat pecinta bola sih.. saya mah cuma pernah dengar-dengar saja.. :D).  Apakah semuanya sungguh-sungguh disusun dari Lego atau  hanya ditempelkan di sisi luarnya saja saya tidak tau pasti. Jika benar disusun semuanya dari Lego, berapa lama ya kira-kira bangunan-bangunan mini ini dibuat?

Mengenai tempat-tempat lain yang saya sebutkan di atas, silahkan browsing sendiri ya..

Yang pasti, di Munich ini budaya minum bir sangat kental. Di tiap sudut jalan ada saja bier garten alias warung bernuansa taman yang dipenuhi pengunjung yang asyik menikmati bir dalam gelas segede-gede ember…  Bahkan di Munich Airport disediakan sebuah tempat khusus untuk menikmati bir. Dindingnya dilukis pemandangan alam dan disediakan kursi-kursi taman agar benar-benar bernuansa BIER GARTEN… hohoho…

Tidak disangka-sangka penduduk Munich ramah-ramah dan helpful. Kalau mengingat sejarah Jerman yang keras, rasanya tidak percaya. Meskipun kami berbicara dalam bahasa yang berbeda tetapi mereka berusaha keras membuat kami faham jika kami bertanya, ntah dengan isyarat atau dengan bahasa yang dicampur sedemikian rupa. Percayakan saja pada unconscious anda, pasti anda faham.

Salah satu kejadian lucu adalah ketika kami ingin membeli pie di sebuah bakery di Legoland. Ketika saya memilih pie yang tampaknya plain saja dari luar, pramuniaga mengatakan No.. No..No…, tentu saya bertanya mengapa, dia memberi isyarat dengan menempelkan tangannya ke hidung membentuk moncong dan menguik..nguik. Oo..o… Pecahlah tawa saya dan saya mengangguk faham. Saya berterimakasih padanya dan dia kelihatan senang sekali dapat mendeliver sebuah pesan meski kami menggunakan dua bahasa yang berbeda. Luar biasa cara manusia berkomukasi. Kuncinya hanyalah ketulusan hati untuk menyampaikan pesan.

Dalam one day visit di Salzburg Autria, kembali kami dimanjakan oleh keindahan dan kedamaian suasana pedesaan namun modern. Untuk memasuki Austria anda juga diwajibkan membeli road tax (Vignette) yang dengan mudah bias diperoleh di pom bensin terdekat dengan perbatasan. Di Austria, aroma Bavarian culture dengan pakaian khasnya memberi nuansa yang berbeda.  Ingatkah anda dengan pakaian yang dikenakan the Von Trapp children dalam film The Sound of Music? Ah.. tiba-tiba lagu-lagu dalam soundtrack film ini bernyanyi dalam kepala saya saat melihat busana yang dikenakan penduduk bahkan pengunjung kota ini. Hellbrunn palace dan Salzburg castle pantas untuk anda kunjungi. Meskipun di Salzburg Castle kami tidak mendaki sampai ke atas, tetapi anak-anak sangat puas dengan acara lomba berguling-guling di rumput dari bukit kecil di kaki Salzburg castle (ibunya juga kepingin sih sebetulnya… kesadaran akan umur sedikit menahan saya).  Inilah salah satu tips membuat anak-anak tetap happy meskipun anda ajak mengunjungi tempat-tempat yang bukan selera mereka. Selipkan aktifitas fisik yang penuh tawa… Nah.. kunjungan bersantai di Konigsee Lake dijadwalkan bersamaan saja dengan jadwal ke Salzburg karena lokasinya yang berbatasan.

Tidak terasa 18 hari lamanya kami merentas batas 6 negara. Berpetualang bersama anak-anak. Mensyukuri dan mencermati keindahan ciptaanNya. Mengenali dan menghargai perbedaan budaya. Mengambil manfaat dan merencanakan pengubahbaikan. Menyemai nilai-nilai dan menguatkan kebaikan.

Sesuai dengan tujuan penulisannya, semoga catatan perjalanan ini dapat membantu keluarga-keluarga muda yang ingin berpetualang melakukan perjalanan lintas negara dengan nyaman, fun, sehat, dan efisien. Selamat jalan-jalan…..

One thought on “MERENTAS BATAS 6 NEGARA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s