Ketika Anak “Tidak Membeli” Nilai-Nilai Yang Ditanamkan Orang Tua

Ilustration Video by Mohammad Windy

Ketika anak tidak “MEMBELI”

Sebetulnya tidak ada anak yang “ngeyel/membangkang”, yang ada anak tidak “membeli atay buy-in” terhadap ide, usulan, anjuran, pelajaran, nilai-nilai kehidupan, perintah yang disampaikan oleh orang tuanya.

Orang tua sesungguhnya berfungsi sebagai PENJUAL.
Menjual Values, Menjual Belief, Menjual Saran dll
Barang/Jasa yang dijual parents bagus atau tidak?

Sebagian besar bagus doong, kan asal dagangannya dari Yang Maha Sempurna, Misalnya ibadah, nilai kebersyukuran, rajin belajar dll. Sebagian lain terutama yang ide-idenya sendiri ya kadang memang kurang bagus 🙂

Sayangnyaaa… strategi penjualannya tidak direncanakan dengan sungguh-sungguh, product knowledge-nya juga pas-pas-an. Sehingga tidak dibeli oleh anak-anak.

Lucunya.. jika anda menjual barang/jasa kepada orang lain, lalu calon pembeli tidak mau membeli, yang muncul rasa penasaran ditambah sedikit minder, lalu segera belajar, melakukan evaluasi diri, menyusun strategi penjualan baru.
Sebaliknya ketika orang tua jualannya ditolak anak, karena merasa berkuasa, malah ngamuk. Calon pembelinya dimarahin, dipaksa, bahkan dipukul 😀 (beeeuuh… untung aja itu calon pembeli ngga balas memaki, paling cuma berani ngeyel). Meskipun tidak balas memaki, calon pembeli ini akan menutup diri secara kognitif dan afektif, membuat dinding yang akan menghalangi menerima produk-produk anda berikutnya.

Lebih parahnya lagi, si penjual yang mengaku sudah menggunakan produk itu, ternyata tidak mencerminkan hasil dari produk itu (misalnya, mengaku rajin ibadah tapi lisannya masih suka ngomel dan labelling), Duh.. ibarat menjual produk perawatan kulit tetapi kulitnya malah rusak. Siapa coba yang mau beli?

Padahal ada cara untuk menjadi penjual yang menarik, yang masuk secara luwes dan menumbuhkan keinginan membeli dan menggunakan (silahkan refer pada kisah-kisah sahabat-sahabat saya di buku The Secret of Self Improvement dan The Secret of Enlightening Parenting)

Selain strategi yang baik tentu ketika mau jualan, anda juga minta bantuan pada yang menggenggam hati manusia bukan? Semoga kalaupun strateginya kurang-kurang dikiit, ditutup oleh yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Dan Yang Maha Memiliki hati tentu juga ingin anda terus belajar bukan? Supaya meningkat dan bermanfaat.

Jadi, masih mau ngamuk kalau produk jualannya ngga laku? Lalu apa yang seharusnya dilakukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s