Persiapan Menghadapi Pubertas (Aqil Baligh)

Balance Maturity

Pada rentang usia 12-15 tahun, pada umumnya, baik anak laki-laki maupun perempuan sudah memasuki masa puber atau Aqil baligh. Seharusnya pada masa ini terjadi keseimbangan antara kematangan fisik dengan kematangan psikologis. Oleh karena itu, pada tahap ini, konsep pohon ketaatan yaitu Taat, Syukur, Meningkat, Bermanfaat (silahkan baca buku Enlightening Parenting mengenai penjabaran konsep TSMB) semakin mengakar, anak juga sudah harus dilatih untuk

  • memimpin baik diri sendiri maupun orang lain;
  • kemampuan bertahan hidup mandiri (basic life skills) dengan mengurus seluruh keperluan dasarnya seperti menyiapkan makanan, pakaian, mampu bepergian dengan aman, dan lain-lain;
  • mencari nafkah dan merawat makhluk hidup. Meskipun baik laki-laki maupun perempuan perlu dilatih untuk mempelajari kedua hal ini, tetapi penitikberatan latihan mencari nafkah pada laki-laki dan merawat makhluk hidup pada perempuan;
  • mampu fokus pada solusi, bukan hanya fokus pada masalah

Bagaimana cara melatih hal-hal diatas?

Tentu dengan tugas-tugas yang diberikan bertahap. Misalnya untuk melatih kemampuan memimpin, mulai dari memimpin projek-projek keluarga. Misalnya projek membantu perbaikan rumah duafa, pengadaan air bersih, pengumpulan barang pantas pakai untuk disumbangkan, berjualan makanan di bazar kota dan sebagainya. Projek tidak selalu harus dilakukan sendirian tetapi bisa juga bekerjasama dengan keluarga lain. Tidak perlu menunggu program dari sekolah. Lakukan sendiri dan evaluasi. Demikian pula dengan 3 tugas perkembangan lainnya.

Ayah dan Ibu tentu juga harus mempersiapkan anak untuk menghadapi perubahan dirinya secara fisik.


Pada anak perempuan dijelaskan mengenai

  • Menstruasi. Mengapa terjadi, apa yang harus dipersiapkan, bagaimana membersihkan diri dan hukum (fiqh, bagi yang beragama islam) yang berkaitan dengan menstruasi.
  • Tanggungjawab yang mengikuti
  • Perubahan bentuk tubuh, pakaian yang cocok, termasuk fiqh berpakaian.
  • Adab pergaulan dan resiko kehamilan
  • Kriteria memilih pasangan sesuai dengan values yang anda pegang (bagi yang beragama islam ajarkan tentang 4 kriteria memilih pasangan). Pahamkan mengenai ini sebelum anak mulai jatuh cinta, agar tidak menuai keribetan yang tidak perlu di kemudian hari 🙂
  • Mulai mengajarkan tentang tugas istri dan ibu secara bertahap

Pada anak laki-laki dijelaskan mengenai

  • Tanda-tanda pubertas secara fisik termasuk terproduksinya sperma dan kemungkinan terjadinya ejakulasi di saat tidur dan cara membersihkan diri. Keluarnya sperma tidak selalu menjadi satu-satunya penanda matang seksual. Karena ada yang keluar dalam jumlah yang sangat sedikit atau biasa tidur berkeringat sehingga samar. Tumbuhnya rambut sekunder dan perubahan suara juga sudah bisa menjadi tanda pubertas.
  • Tanggungjawab yang mengikuti
  • Perubahan fisik, cara merawat diri, berpakaian dan kebersihan
  • Adab pergaulan
  • Kriteria memilih pasangan
  • Mulai mengajarkan tugas sebagai suami dan ayah secara bertahap

Siapa yang mengajarkan? Ayah mengajarkan anak lelaki, ibu mengajarkan kepada anak perempuan. Bagaimana kalau single parent? Minta tolong pada kerabat terdekat. Bagaimana jika tidak ada kerabat yang dipercaya? Minta tolong guru. Bagaimana kalau gurunya ngga ada yang akhlaqnya baik? Minta tolong sahabat. Sahabatku kelakuannya jelek semua? Astagfirullah mungkin perlu evaluasi diri, jangan-jangan jendelanya yang kotor sehingga semua nampak buruk :p. Anda memang begitu kondisinya ya Bismillah lakukan sendiri. (Adakah mbak yang seribet ini kondisinya? Ngakunya sih ada, tapi saya belum visit betul-betul keadaannya)

Hati-hati ketika menjelaskan tanggungjawab yang mengikuti, jelaskan dengan bahagia. Jangan menakut-nakuti untuk keuntungan pribadi misalnya :

“Nah, sekarang semua dosa dan pahala sudah kamu tanggungsendiri, awas lhoo beda dengan waktu kamu kecil, sekarang kalau kamu melawan papa, masuk neraka..” hedeeuh.. numpang untung ini namanya.

Gunakan kalimat yang santun : “Sayang, karena pikiranmu sekarang sudah siap, maka kelak setiap perbuatanmu ada nilainya, ketika baik jadi pahala dan ketika buruk menjadi dosa. Tapi Allah sudah menyediakan alat terhebat untuk memutuskan baik dan buruk melalui akal dan dituntun melalui Al Qur’an. Jika nanti dalam pikiranmu muncul perbedaan pendapat, misalnya mau makan di restoran, yang ini enaak tapi ada resiko tidak halal, yang itu kurang pas dengan selera tapi insyaaAllah halal. Nah akal kita akan mempertimbangkan, lebih baik mengikuti selera tapi mendapat dosa atau menahan selera tetapi dapat pahala. Apakah kita mau kesenangan dunia sesaat atau kesenangan akhirat yang kekal. Itulah tugas khalifah di muka bumi ini, tidap keputusan kita harus berdasarkan kebaikan di dunia dan akhirat. Dan kamu kini sudah dewasa, sudah pantas diberi tanggungjawab sebagai khalifah, masyaaAllah”

Buatlah suasana komunikasi yang menarik. Saya attach disini presentasi yang dilakukan suami kepada anak saya saat usianya 10 tahun sebagai contoh untuk anak laki-laki. Silahkan disesuaikan untuk anak perempuan dengan berpandu pada buku-buku tentang pubertas dan fiqh. Ini hanya contoh, silahkan dibuat sendiri di rumah, agar tidak terbiasa disuapi solusi. Mohon jangan didownload karena ada foto-foto pribadi anak saya.


Ini adalah persiapan awal, selanjutnya tugas orang tua menjadi contoh manusia dewasa yang unggul agar bisa menjadi model terbaik bagi anak-anaknya. Inilah projek terbesar anda, berupaya membentuk pribadi-pribadi yang Taat, Syukur, Meningkat dan Bermanfaat.

Anak Peniru Ulung

Mbak Eka Mardila adalah salah satu alumni Enlightening Parenting yang sekarang ini menjadi salah satu tim sharing.
Beliau berkisah tentang perubahan pengasuhannya dari yang dulunya bentak-bentak, kadang melakukan tindakan fisik yang akhirnya ditiru oleh putrinya. Saat ini mbak Eka yang account instagram nya bernama @ekalucu banyak menginspirasi parents lain.

Menyimpan atau Menghilangkan Trauma itu Pilihan

Masih ingat kisah mbak Mira Soneta di buku The Secret of Self Improvement?
Beliau mengisahkan bagaimana melepaskan diri dari trauma lebih dari 20 tahun secara langsung disini

4 SIKAP YANG MENGHANCURKAN PERNIKAHAN

Setiap orang tentu menginginkan pernikahan yang bahagia, less conflict, jika ada masalah mudah terselesaikan, bukankah begitu?

Menurut John Gottman PhD, yang selama 40 tahun melakukan studi tentang relationship, ada 4 sikap yang menghancurkan sebuah hubungan, dan ternyata… ada kemiripan dengan beberapa kesalahan pengasuhan yang ada di buku Enlightening Parenting (EP)
Hmmm.. artinya kebiasaan melakukan kesalahan pengasuhan pada anak juga bisa menyebabkan kesalahan dalam memperlakukan pasangan. Demikian pula sebaliknya, komunikasi yang tidak harmonis antara suami istri akan berimbas pada pengasuhan anak.
Hayoo.. siapa yang kalau kesal pada pasangan tapi takut konflik lalu anak jadi sasaran? … tunjuk jari…. 🙂
Maka, menyembuhkan diri dari kebiasaab melakukan kesalahan pengasuhan, insyaaAllah juga memperbaiki kualitas hubungan dengan pasangan. 
4 Sikap tersebut adalah :
1. Criticism : suka mengkritik (fokus pada kekurangan) 
2. Contempt : menghina, baik secara verbal, fisik atau menunjukkan ekspresi merendahkan (ada unsur labelling, yang meskipun dalam hati akan tampak dalam ekpresi) 
3. Defensiveness : defensif (tidak mengambil tanggung jawab)
4. Stonewalling : mengabaikan 

Bagi yang sudah kenal EP insyaaAllah mudah menemukan ramuan antidot nya. Contohnya seperti di bawah ini

1. Menjadi detektif kebaikan.

Kalau ingin menyatakan keberatan bukan dimulai dengan “kamu itu. …”. Tetapi dengan kalimat “Aku merasa…”
Contoh pasangan terlambat pulang, instead of mengatakan
“kamu ini selalu pulang terlambat.. kamu ngga peduli perasaanku.. kemana aja. sama siapa… bla.. bla.. bla…” 
Menjadi 
“Aku kuatir kl kamu belum pulang jam sekian, lain kali telpon ya..”

2. Again detektif kebaikan, stop labelling, apalagi pakai kata-kata yang merendahkan

“Dasar kamu ini.. turunan ya dari..” “Gitu aja kok ngga ngerti sih..” “Duh ini kan tanggungjawabmu….”

Tapi apresiasi kebaikannya,

“Aku suka lho kalau kamu melakukan… seperti waktu….” (jika no 1 dan 2 digabung, mirip menegur efektif dalam EP kan)

3. Mudah dinasehati , empati dan mudah minta maaf lalu perbaiki

4. Kalau ngga ngerti mau ngomong apa atau takut konflik ya peluk aja dulu, minta maaf, pegang tangannya, “Beri waktu aku berpikir ya, aku bingung mau ngomong apa”. 
Sebaliknya kalau pasangan udah bingung mau ngomong apa, berhenti dulu deh ngomongnya, menegur itu yang efektif cukup 1 menit saja ala EP. Kalau kepanjangan udah kalimat-kalimat yang selebihnya sudah terhapus atau diblokir oleh pikiran pendengarnya 😂

Dengan mengetahui 4 sikap yang merusak sebuah hubungan, masing-masing dari kita bisa melakukan assessment atau penilaian diri, apa yang selama ini sudah kita lakukan dan bagaimana memperbaikinya. Fokuslah memperbaiki diri bukan menyodorkan artikel ini ke pasangan untuk menyuruh pasangan memperbaiki diri. InsyaaAllah, tidak ada orang yang imun pada kebaikan. Bukankah tidak akan disayangi orang yang tidak menyayangi?

Di dalam surah Al Baqarah 187 disebutkan “hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna”, Libas dalam Al Qur’an meliputi beberapa makna yaitu pakaian (yang berfungsi sebagai penutup dan perhiasan), ketenangan, percampuran, kesenangan dan perbuatan baik.
Berfungsi menjadi pakaian yang menutupi aib dan melengkapi kelemahannya, menjadi perhiasan yang memperindah dirinya dan pribadinya, memberikan ketenangan (ngga bikin sumpek), bergaul dengan indah dan menggelorakan, being happy and fun together dan perlakukan dengan santun dan mulia.

Bukankan tuntunannya berimbang antara keduanya? Di dalam islam, para istri diperintahkan mengutamakan suami dan para suamipun dimotivasi oleh Rasulullah SAW dengan sabda beliau bahwa sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik kepada istrinya. Sehingga tumbuh rasa saling empati.

Lalu bagaimana kalau hubungan sudah mendingin, ada cara untuk mempebaikinya? Tentu. Hentikan melakukan 4 sikap di atas, bangun kembali kedekatan seperti yang dilakukan sahabat saya mbak Juliana Dewi di artikelnya yang ini http://www.julianadewi.com/2017/01/cara-membangun-kemesraan-suami-istri-dengan-5-pilar-nlp.html

Indahnya kehidupan pernikahan tidak hanya membahagiakan di dunia dan insyaaAllah tuaian baiknya menunggu di akhirat.


Handling Bullies

Banyak sekali pertanyaan mengenai cara menangani perilaku bullying yang muncul baik di kelas-kelas kami maupun di forum-forum parenting yang kami kelola. Demikian pula simpang siung anjuran tentang penanganan semakin membuat orangtua bingung. Mana yang harus diikuti.
Mari dimulai dengan memahami dulu tentang bully. Bully dalam bahasa Indonesia disebut perundungan, tetapi dalam artikel ini saya gunakan kata buli saja agar singkat.
Buli dilakusecara umum terbagi menjadi 3 kategori

  • Verbal : yaitu ucapan yang menyerang karakter, meledek, memanggil dengan julukan, menghina, mengancam. Contoh : Anak bodoh, Kamu hitam, Sana pergi, kamu menjijikkan, Kasih aku makanan kamu, kalau tidak aku pukul, kalau mau berteman denganku tiap hari kamu harus traktir aku.
  • Mental : Mengabaikan dengan pandangan menghina, mengucilkan, menyebarkan berita yang membuat seseorang dimusuhi, dll
  • Fisik : Memukul, menendang, mencubit, dll.

Bully dilakukan secara SADAR. Artinya jika tindakan mendorong itu dilakukan oleh anak usia 2 tahun yang masih dalam tahap latihan sensori atau dilakukan oleh ABK yang belum paham kekuatan menyentuh dan mendorong, maka jangan dengan mudah kita mengatakan kepada yang mendorong maupun yang didorong “Ih.. kamu dibuli lhoo” “Ih ini anak kecil-kecil sudah jadi pembuli” . Dalam hal ini justru si pembuli sesungguhnya adalah yang komentar itu.

Di banyak keluarga justru pembuli pertama anak-anak adalah orang tuanya sendiri, kadang verbal dengan labelling atau menghardik, kadang Mental dengan mengabaikan, sering juga fisik, bahkan ada yang paket lengkap 3 kategori sekaligus. Tentu orangtua sebagai sosok dewasa sudah pasti SADAR ketika melakukannya. Anak yang sudah dibuli terlebih dahulu di rumah sangat besar kecenderungannya untuk jadi pelaku maupun korban bullies di sekolah. Penelitian Renae D. Duncan (1999) dari Murray State University menyimpulkan 69% anak yang dibuli di sekolah, adalah anak yang mendapatkan kekerasan di rumah. Tidak mengherankan memang, karena anak-anak yang sering dilabel, dikritisi, dihardik atau disakiti di rumah akan datang ke sekolah dengan penampakan 2 jenis, yaitu tidak percaya diri atau wajah tambeng dan penuh dendam. Inilah yang kemudian berkembang menjadi korban maupun pelaku buli. Pembuli mengenali sasaran yang bisa dibuli. Pembuli pilih-pilih dan melakukan coba-coba dulu. Anak yang berjalan dengan tegak dan pandangan yang penuh percaya tetapi tidak sombong, jarang dijadikan sasaran pembuli.

Anehnya, orangtua yang membuli anak di rumah sangat tidak terima ketika anak diperlakukan sama di sekolah bukan? Seolah lupa bahwa sumbernya berasal dari rumah.

Maka, LANGKAH PERTAMA untuk mencegah dan mengatasi buli adalah, Perlakukan anak-anak kita dengan respectful di rumah. Dengan memperlakukan mereka dengan respectful sesungguhnya juga sekaligus sedang mendapat contoh akhlaq yang baik dan akan tumbuh menjadi anak yang santun dan percaya diri. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW

“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (riwayat Ibnu Majah).

LANGKAH KEDUA, pelajari aturan di lingkungan tempat anak berinteraksi. Untuk memperjelas, kita umpamakan saja sekolah. Pilihlah sekolah yang memiliki aturan yang jelas tentang handling bullies . Jika tidak punya, sampaikan kepada sekolah apakah keberatan jika anda membuat standar penanganan buli, untuk dimasukkan dalam aturan sekolah. Lebih bermanfaat daripada sekedar kesal karena sekolah tidak punya aturan penanganan buli bukan? Jika sekolah tidak bersedia, jangan masuk ke sekolah itu.

Contoh Aturan Handling Bullies di Sekolah

Perilaku mem-bully harus dilaporkan dengan saksi atau rekaman cctv dan terjadi di lingkungan sekolah.

Verbal dan Mental : 1x mendapat teguran lisan, 2x mendapat teguran tertulis untuk disampaikan ke ortu, 3x ortu dipanggil ke sekolah untuk mendapatkan peringatan keras, 4x skorsing, 5x dikeluarkan.

Fisik yang tidak menimbulkan cedera : 1x mendapat teguran tertulis tertulis untuk disampaikan ke ortu, 2x ortu dipanggil ke sekolah untuk mendapatkan peringatan keras,3x skorsing dan pemeriksaan psikologis (untuk mendapatkan informasi jika ternyata ada gangguan psikologi/perkembangan), 4x dikeluarkan.

Fisik yang menimbulkan cedera ringan sampai berat: Diadakan rapat komite sekolah untuk menentukan konsekuensi mulai dari peringatan keras, skorsing, dikeluarkan hingga laporan kepada polisi.

LANGKAH KETIGA, Briefing dan Role Playing. . Latih anak menghadapi berbagai buli secara role playing di rumah, karena sikap dan kebiasaan tidak terbentuk melalui nasehat tetapi melalui latihan. Beri anak penjelasan mengenai hal-hal berikut ini:


1. Definisi perilaku buli seperti yang sudah disebutkan di atas, supaya anak juga tidak epes me’er, ditowel dikit buli, disenggol dikit buli, dipanggil dengan nada tinggi dikit buli. Orangtua juga tidak perlu reaktif supaya anak juga tidak baperan.

2. Jangan menekan anak dengan sering bertanya, apakah kamu sudah punya teman? Berapa banyak temanmu? Apakah temanmu mau bermain denganmu? Mempunyai banyak teman bukan prestasi. Ajarkan anak-anak kita adab yang baik dan seleksi alam akan terjadi. Orang yang adabnya baik akan menarik anak lain yang adabnya juga baik.

3. Jika di sekolah tidak ada CCTV ajarkan anak untuk tidak bermain di tempat yang sepi dan tidak hanya bermain berdua saja di saat jam istirahat sekolah di 6 bulan pertama sekolah barunya. Ini untuk menghindari anak menjadi sasaran buli tanpa saksi


3. Beritahu tahap-tahap menyikapi buli (saya attach video Rangga saat diminta menceritakan kembali materi briefing dan alhamdulillah tidak pernah dibuli oleh siapapun) :

Tahap Abaikan (Ignore) :

Jika masih tahap coba-coba dan tidak menyerang karakter, biasanya berbentuk verbal seperti kata “Ciee.. ciee…” , “memasang-masangkankan dengan si fulan”, ledekan ringan dan sejenisnya, ajarkan anak untuk mengabaikan dengan wajah tetap percaya diri dan tersenyum. Pembuli suka dengan reaksi berlebihan, wajah merengut, mata berkaca-kaca dan tangisan. Wajah tidak peduli dan tetap bahagia akan mengecewakan pembuli.

Tahap Tegur dengan Tegas (Stand Up) :

Verbal  dan Mental: Ajarkan anak bersikap asertif. Menghentikan secara verbal seperti mengatakan “STOP/Berhenti” dengan tatapan mata yang tegas dan percaya diri. Bisa juga dengan klarifikasi saat diancam, misalnya diancam : “Kamu harus traktir kami kalau mau berteman dengan kami”. Ajarkan anak menjawab dengan tegas “Aku tidak perlu berteman dengan orang yang memeras.”

Fisik: Ajarkan anak menepis, menangkap tangannya  dan menekan ke bawah atau menekan ke dinding (bukan membalas pukul) sambil menegur dengan tegas. Mengapa demikian? Karena pesan yang disampaikan ke pem-bully bukanlah saling membalas atau balas dendam, bukan pula main hakim sendiri. Tetapi, “You are powerless”, kamu nggak akan menang dengan berbuat buruk. Balas membalas hanya akan membuat pihak yang salah menjadi terkaburkan dan persoalan bullying di negara ini semakin menjadi-jadi semacam hukum rimba. Kita ini manusia yang diberi Allah PreFrontal-Cortex, latih anak kita untuk menggunakannya.

•Pada tahap dua ini ditutup dengan  Tahap Laporkan kepada Guru dan Ortu agar aturan diterapkan.

Tahap Laporkan kepada Guru. Ajarkan anak untuk mencatat setiap laporan, tanggal berapa dan nama guru yang dilapori. Amati dulu bagaimana pihak sekolah melaksanakan tugasnya sesuai aturan atau tidak (ingat sekali lagi ya, jika sekolah tidak punya aturan tentang buli dan tidak mau dibuatkan aturan, maka jangan dipilih untuk menyekolahkan anak). Sekolah perlu memiliki tingkatan tindakan pada pelaku bullying.

Tahap Orangtua menemui pihak sekolah. Jika setelah dilaporkan masih berulang dan sekolah tidak menerapkan aturan yang sudah dibuat, maka temui pihak sekolah untuk difasilitasi berdiskusi bersama orangtua pembuli. Jika pembuli juga melakukan hal yang sama kepada anak lain, upayakan laporan bersama agar sekolah dan orangtua pembuli melakukan tindakan kuratif nyata.

Tahap Melaporan kepada lembaga pengawas sekolah/polisi. Apabila sekolah tidak mengambil tindakan nyata pada perilaku buli yang berulang kali dan sudah melalui tahap diskusi dengan pihak sekolah. Artinya peraturan tidak dilaksanakan sehingga perlu ada tindakan kepada pihak sekolah. Apabila sudah masuk ke area kriminal seperti pengeroyokan, laporkan ke polisi

LANGKAH KEEMPAT. Sebarkan kasih sayang. Pada umumnya pelaku buli ini kering kasih sayang. Pola pengasuhan di rumahnyapun tidak sehat. Jika terlihat ada tanda-tanda ada anak yang menunjukkan perilaku bullying, dekati. Tunjukkan kasih sayang, sesekali ajak ke rumah anda lalu ajak dia bicara dari hati ke hati. Ajarkan anak-anak kita untuk memberi contoh perilaku menghargai orang lain. Tidak ada orang yang imun pada kasih sayang, karena kasih sayang itu fitrah. Jika dihidupkan dan disirami, maka mekarlah ia.

“Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu”.

Bullies adalah masalah serius yang memerlukan kesadaran semua pihak, keluarga, sekolah, pemerintah dan penegak hukum.


Ketika my youngest son diminta menyimpulkan materi Briefing & Role Playing tentang Handling Bullies

Mencegah dan Mengatasi Kecanduan Gadget Pada Anak-anak

Bingung bagaimana mencegah dan Mengatasu Kecanduan Gadget? 

Disini ada solusi penting

Surabaya – Transforming Behavior Skill Training

Apa sih yang dipelajari di kelas ini?

  • Bagaimana menggerakkan perubahan
  • Bagaimana menjadi influencer yang mumpuni
  • Bagaimana mengelola emosi agar tak goyah dalam badai tekanan yang menerpa
  • Bagaimana menyusun goal yang menggerakkan terkeksekusi
  • Bagaimana memiliki energi yang terus menyala untuk menjadi self motivated person

Mengelola Emosi

Emosi itu bermanfaat, sekaligus juga berbahaya jika tidak dikelola. Maka, ikuti serial Mengelola Emosi  disini..

Artikel ini terpilih untuk dimasukkan ke dalam kampanye Tips Mengelola Emosi dari Para Ahli dan Psikolog Terbaik di Indonesia dari penerbit bahan ajar pendidikan Twinkl.

Memilih Sekolah Dasar

Sekolah dasar, seperti namanya, akan menjadi kancah yang memberikan  contoh dasar bagi perilaku di luar rumah bagi anak. Anak akan tinggal di sekolah paling tidak 5 jam setiap hari.  Di kancah ini anak akan melihat interaksi antar anak sebaya, interaksi antara orang dewasa dan anak-anak, juga interaksi antar orang dewasa. Lima jam bukan waktu yang sebentar, sedangkan kita semua tahu bahwa manusia belajar dengan cara meniru dan anak-anak adalah peniru ulung. Sekolah menjadi tempat bagi anak-anak untuk membentuk pola perilaku, mewujudkan potensi menjadi kompetensi, mengintenalisasi nilai-nilai, identitas diri, bahkan mungkin juga spiritual yang paling besar pengaruhnya setelah keluarga.

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih sekolah terutama Sekolah Dasar.

1. Perhatikan perilaku (akhlaq) guru-gurunya.

2. Perhatikan ekspresi dan para murid

3. Perhatikan karya-karya yang ditempel di sana-sini

4. Pelajari peraturan sekolah dengan seksama.

6. Cari sekolah yang satu Visi dengan anda.

Detail lengkapnya bisa dibaca di buku ini 

Bismillah.. Selamat memilih sekolah….

Melatih Anak Tidur Sendiri Tanpa Frustrasi

Banyak orangtua kesulitan melatih anak tidur sendiri karena sejak awal sudah keliru dalam membiasakan tidur. Pada saat masa menyusui bayi memang amat sangat disarankan untuk tidur sekamar dengan orangtuanya. Baik itu setempat tidur atau di tempat tidur terpisah. Namun jika setempat tidur pastikan jarak cukup aman, atau bisa menggunakan keranjang kain agar terhindar dari  resiko SID (suddent infant death) syndrom karena tertimpa, terjepit tangan, hidung tertutup bantal dan lain-lain.

Mengapa sangat dianjurkan sekamar? Agar kebutuhan ASI terpenuhi dengan optimal, ibu dan ayah bisa bergantian mengambil dan mengembalikan bayi ke tempat tidurnya dengan mudah tanpa harus jauh-jauh ke kamar lain dan ketika anak terbangun untuk minum ASI segera terdengar oleh orangtuanya. Jarak yang dekat, rasa aman dan kebutuhan yang segera dicukupi juga tidak memicu terproduksinya hormon stress yaitu kortisol (JJ. McKenna, 2005 & M. Sunderland, 2016). Sebetulnya anak yang tenang dan nyaman akan bisa terlelap lagi sendiri saat bangun ringan bukan karena haus atau basah tetapi orang tua punya kecenderungan menepuk-nepuk agar cepat lelap kembali. Tepukan ini akhirnya menjadi syarat untuk tidur (disebut conditional kalau menggunakan bahasa Pak Pavlov atau anchor kalau kata om Bandler), padahal sebetulnya tidak harus demikian. Dr Harvey Karp justru menganjurkan dibedong atau swaddled (silahkan buka video tutorialnya) untuk membantu anak mendapatkan rasa nyaman.

Setelah anak tidak lagi disusui (2 tahun), biasakan untuk tidak menunggui anak sampai jatuh tertidur meskipun lokasi tidur masih sekamar dan usahakan sudah beda tempat tidur. Orang tua boleh saja membacakan cerita sebelum tidur, membiasakan cuci otak-cuci hati yaitu mensyukuri semua yang terjadi hari ini dan memaafkan semua yang dianggap tidak menyenangkan, memijat atau bersenandung lembut bersama dan lain-lain, tetapi anak bisa menjalani proses terlelap sendiri. Biasanya proses ini tidak akan mengalami kesulitan berarti jika proses awal tadi sudah benar.

Melatih anak tidur sendiri itu yang utama adalah kemampuan anak terlelap sendiri dan mampu kembali tidur saat terbangun di malam hari.

Ah tapi kan malaas mbak, mesti bangun lagi setelah tidur-tiduran sama anak, enakan kan langsung aja ikut tidur, toh masih sekamar ini.  Maka jika merujuk kembali ke buku Enlightening Parenting, salah satu kesalahan terbesar dalam pengasuhan bagian h, yang saya sebutkan sampai 5 kali adalah M-A-L-A-S.

Setelah anak terbiasa tidak menyusu dan bisa terlelap sendiri, baru kemudian persiapkan kamar lain bersama-sama dengan penuh kegembiraan dan rayakan kepindahan ke kamarnya sendiri sebagai sebuah prestasi gilang gemilang. Pindah kamar ini bisa dilakukan di usia 3 tahun ke atas tetapi selambat-lambatnya 7 tahun.

Jika anak belum mampu terlelap sendiri, lalu proses melatih tidur sendiri dimulai  dengan langsung ujug-ujug pindah lokasi ke kamar sendiri, dikelonin sampai tidur lalu ditinggal. Maka, saudara-saudaraa… yang  terjadi adalah…. anak tiap malam ngungsi ke kamar orang tuanya saat terbangun . Kalau dilarang ngungsi, karena kondisi bangun setengah sadar, maka anak nangis kejeer. Ortu ngamuk, malam rungsing, pagi bangun seperti zombie. Siapa yang mengalami, angkat tangaan ☝😁

Tapiii.. tapiii kalau udah terlanjur sering ditemani sampai tidur di tempat tidur yang sama pula, bagaimana dooong, kan waktu tidak bisa diputar kembalii… hedeeuh, ada aja ya pertanyaannya 😀

Kalau sudah terlanjur, saat melatih anak tidur sendiri lakukan urutan seperti berikut

  1. SEPAKATI. Buatlah kesepakatan bahwa ayah/ibu akan  melakukan ritual kegiatan bersama anak sebelum tidur dan anak juga melatih diri terlelap sendiri sehingga kemampuan anak  untuk menenangkan dirinya sendiri semakin baik. Lakukan latihan, pura-pura jam tidur lalu anak ditemani sebentar dan latihan terlelap sendiri, latihan pura-pura bangun malam lalu bisa menenangkan diri sendiri dan lelap lagi. Lalukan latihan dg gembira seolah memang latihan spt ini kereen sekalee.
  2. TEMPAT TIDUR SENDIRI. Pisahkan tempat tidur meski di kamar yang sama. Ngga cukup? Ya ganti pakai 2 kasur yang lebih kecil.
  3. KONSISTEN. Tidak ada cheating day sampai menjadi kebiasaan. Meskipun ayah-ibu yang kadang kangen dan cari gara-gara :D. Ini akan merusak kesepakatan. Dan setiap anak pindah tempat tidur, kembalikan lagi sesuai kesepakatan. Anak fitrahnya tidak suka melanggar kesepakatan kecuali ortunya tukang melanggar.
  4. PERSIAPKAN KAMAR SENDIRI BERSAMA. “Sayang sekarang kamu sudah bisa terlelap sendiri dan bisa manage your self untuk tidur lagi saat bangun artinya kamu sudah layak mendapat bintang eh.. maksudnya mendapat kamar sendiri”…  Lalukan framing, tidur di kamar sendiri itu kereennya luar biasaah. Ritual berkegiatan yang menenangkan sebelum tidur masih bisa dilakukan,  tapi ingat jangan ikut ketiduran di kamar anak 😂. Manfaatkan waktu ini utk memberi nasehat dg cara yg asik, memasukkan value, mengambil hikmah dan cuci otak cuci hati

Bagi yang beragama islam mulai berlakukan adab mengetuk pintu kamar ayah-ibu di 3 waktu yang diperintahkan dalam Surat An-Nur ayat 58 dan 59 ya. Waktu-waktu apa sajakah itu? Silahkan dicari sendiri ya, agar saya tidak melakukan kesalahan pengasuhan menyuapi solusi 😀  😀

Selamat melatih kemandirian anak dengan bahagia..

Enlightening Parenting