Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Anak

Saya yakin bahwa banyak diantara pembaca tulisan ini adalah orang tua yang mampu berlisan dalam berbagai bahasa demikian pula dengan putra-putrinya, namun tidak sedikit juga yang masih mengeluh tidak bisa menemukan kata-kata yag tepat, sulit dimengerti dan berbagai hambatan lainnya saat harus berkomunikasi dengan anak.

Memang belum pernah ada Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Anak dimana anda bisa belajar menemukan kata-kata yang tepat, metafora yang pas ataupun susunan berbahasa yang ciamik saat berkomunikasi dengan anak. Apaagi jika anda hanya berkomunikasi dengan mereka saat kesal, marah, ngomel beserta kerabat-kerabatnya.

Beberapa contoh keluhan yang sering saya dengar dari orang tua adalah :

Kenapa ya bu, anak saya itu kalau sholat maunya cepet-cepet aja, padahal kan sudah berkali-kali saya jelaskan, sholat itu berkomunikasi dengan Allah…

Mbak, saya sering menceritakan pada anak saya hadist-hadist, bagus kan itu.. tapi kok kayaknya ngga ada yang nyantol…

Capek deh bu ngomong sama anak saya, biarpun udah berkali-kali dijelaskan, ngga ngerti-ngerti juga…

Anak saya itu lho bunda, pelit sekali sama temannya, padahal di rumah kami sering diskusi soal pentingnya berbagi…

Biasanya jawaban saya kemudian begini :

Coba beritahu saya bagaimana anda menjelaskan /mengatakan /menceritakan ataupun mendiskusikannya kata demi kata. Tidak sedikit para orang tua yang mengernyitkan kening dengan jawaban saya. Sebagian besar menjawab, “wah ya macam-macam caranya, dari ngomong baik-baik sampai saya omelin” dan menjadi agak kesal atau mengaku lupa ketika saya meminta untuk mengulanginya kata demi kata. 🙂

Jika anda menggunakan pilihan kata yang sama meskipun dengan berbagai varian intonasi dari yang paling rendah hingga paling nyaring, bukankah itu artinya anda terus mengulangi “minum obat diare” untuk “mengobati bisul” hanya saja anda memilih air putih, teh dan sirup sebagai penghantarnya… 🙂

Anak bukanlah manusia dewasa dalam ukuran mini. Pemilihan kata-kata terutama yang sifatnya abstrak belum tentu mampu dia pahami sesuai dengan pemahaman anda. Dalam tulisan ini saya akan memberikan contoh beberapa naskah terjemahan dari bahasa orang dewasa menjadi bahasa anak, dan saya akan sangat senang jika anda mau berbagi dengan semua pembaca tulisan ini dengan menambahkan contoh-contoh lain di kolom komen.

Event 1:

Raka (saat 10th) sangat terganggu dengan kebiasaan saling meledek di sekolahnya.  Suatu ketika dia bertanya kepada saya : “Mama, aku sering LIHAT teman-teman saling ngatain, bahkan mereka juga suka ngatain aku “Fat”, “Slow”… Aku SEBEL dan SAKIT HATI, kadang aku katain balik tapi jadinya ngga selesai-selesai”

Karena saya seorang muslim tentu saya ingin menanamkan nilai-nilai sesuai ajaran yang saya anut. Salah satunya adalah “orang yang dihina sebenarnya memungut pahala gratis tanpa perlu bersusah payah, karena kebaikan orang yang menghina akan berpindah kepada yang dihina/didzalimi”.  Tentu jika saya mengutip begitu saja kalimat tersebut akan sulit diterima anak berusia 10 tahun. Maka saya mengemasnya dalam bentuk VISUAL dan KINESTETIK sesuai dengan kecenderungan pilihan katanya saat menceritakan kejadian itu (perhatikan kata “LIHAT”, “SEBEL”, “SAKIT HATI” yang saya tulis dengan huruf besar di paragraf sebelumnya) …

M : Nak, sudah pernah tahu belum kalau sebetulnya orang yang diledek itu untung besar lho sayang…

R : Ahhh… untung gimana.. ya ngga untung dong kan diledek…. (manyun)

M : Rasulullah SAW pernah mengajarkan kalau orang yang meledek itu kebaikannya akan pindah kepada yang diledek. Bayangkan saja Raka jadi celengan yang ada lubangnya untuk memasukkan uang itu lho? Udah kebayang seperti apa bentuknya?

R : Udah.. (sambil menerawang)

M : Nah… jadi kalau ada teman yang meledek, kebayang kaaan kebaikan dia pindah dan masuk ke lubang celengan yang ada di badan Raka.. cring cring.. plung-plung… nah tambah penuh kan dada Raka dengan kabaikan.. makin penuh tu nak…

R : (tarik nafas dan dadanya lebih membusung ke depan, senyum-senyum …)

M: Jadi menurut Raka gimana kalau ada yang ngeledek Raka…

R: Biarain aja deeeh…. biar dia aja rugi sendiri (cium pipi mama, baca do’a sebelum tidur, peluk guling), Mah… tolong lampu yang itu saja yang dihidupkan, aku mau bobok..

Saya cium kepalanya sambil membisikkan do’a rahasia kami berdua dan tersenyum keluar kamar. Selesai….

Sejak hari itu saya tidak pernah lagi mendengar keluhan mengenai ledek meledek itu….

Masih ada banyak event lain yang bisa saya bagikan.. seperti juga saya ingin mendengar kisah anda….

One thought on “Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Anak

  1. bener bu…
    bahkan yang sering terjadi, justru anaklah yang menjadi guru kita!
    hanya karena merasa sudah lahir duluan, kaya pengalaman, dan merasa paling benar, menjadikan orang tua merasa amat malas untuk berguru kepada anaknya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s