Ortu dan Guru Terjaga Adab, Anak Tumbuh Bertanggungjawab

Menjalin kerjasama dengan sekolah itu tidak sama dengan meminta guru standby 24 jam melayani WhatsApp/messages dari Ortu.

Sudah sering sekali saya mendengar ortu jaman now malam-malam mengirim pesan kepada guru menanyakan PR anaknya, bahkan ada yang di jam sekolah minta tolong dicarikan pinjaman topi karena topi anaknya ketinggalan.

Dan pagi ini saya terhenyak mendapat kabar ORTU yang mengirim pesan kepada DOSEN anaknya untuk minta tolong diberi fasilitas tertentu. Dosen lho ini, artinya anaknya sudah mahasiswa kan ya.. 😣

Fenomena apa ini? Apakah karena kebiasaan sejak SD atau sekarang Universitas juga memberi peluang komunikasi tanpa panduan yang jelas?

Kalau mahasiswa dan dosen yang makin terbuka, sudah sering saya dengar, dengan kalimat yang kurang sopan. Kalau kasus antara mahasiswa dan dosen insyaaAllah mudah, tinggal disepakati saja tatakrama komunikasi yang dikehendaki masing-masing dosen.

Tetapi, komunikasi antara Orangtua dan Guru perlu aturan dan tata laksana yang perlu dikomunikasikan sejak awal.

Mari para pemilik, pengurus, kepala sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan. Persoalan ini harus dibenahi. Sungguh ini kebiasaan yang sangat TIDAK MENDIDIK

Lembaga pendidikan perlu mempunyai aturan yang TEGAS dan JELAS mengenai ini.

Pernah suatu ketika saya mendengar ada ortu yang mengatakan, “Kami kan bayar mahal, berhak dong kami dapat pelayanan terbaik”

Duh.. sekolah kan bukan travel agent, yang kalau peserta tour sakit perut jam 12 malam minta disediakan oralit. Guru bukan nanny, yang boleh diperintah-perintah sesuka hati.

Sebagai benchmark, saya contohkan aturan yang berlaku di sebuah sekolah International di kota tempat tinggal saya, yang SPP nya puluhan juta, (kurang merasa berhak bagaimana ortu yang sudah membayar hampir 100 jt setahun) tetapi aturan komunikasi dipatuhi oleh wali murid.

Apa sajakah itu?

  • Orang tua hanya boleh berkomunikasi dengan guru melalui email guru dan hanya akan dijawab di hari kerja dan jam kerja (guru itu pekerjaan profesional bukan harus standby 24 jam) atau melalui buku komunikasi yang dimiliki masing-masing anak.
  • Jika anak sakit atau ada kejadian emergency dimana sekolah perlu memberitahu orangtua, maka dilakukan melalui nomer telpon administrasi sekolah
  • Reminder dari sekolah dilakukan melalui one way sms broadcast
  • Group WA ortu gunanya untuk berdiskusi antar ortu. Guru tidak menjadi member didalamnya, salah satu wali murid akan menjadi perwakilan jika ada hal yang perlu disampaikan kepada guru setelah disepakati bersama di dalam group. Nomer telepon pribadi guru tidak diberikan kepada wali murid tanpa ijin dari guru.

Lalu bagaimana kalau anak lupa PR, lupa topi, lupa buku, lupa tanggal penyerahan tugas?

  • Anak memeriksa kembali di buku komunikasi atau informasi di google classroom jika sudah menggunakan fasilitas tersebut
  • Guru memastikan semua anak menulis info di buku komunikasi dengan memeriksanya di akhir waktu belajar biasanya dengan diberi paraf

Kalau buku komunikasinya hilang? Ya tanggung sendiri konsekuensinya sekaligus rentetan-rentetan konsekuensi berikutnya termasuk penilaian. Demikian pula jika lalai mengerjakan.

Sesungguhnya fitrah manusia itu memiliki potensi bertanggungjawab, tetapi kebiasaan yang salah membunuh potensi itu! 😖

Mengapa saya lebih fokus kepada guru sekolah, karena untuk dosen lebih mudah. Dosen dianggap mempunyai jenjang pendidikan yang tinggi sehingga setelah aturan dikomunikasikan di awal, dosen juga bisa langsung menjawab secara asertif kepada orangtua yang melakukan intervensi berlebihan.

Tetapi seringkali guru dengan siswa anak pejabat misalnya, memerlukan dukungan yang kuat dari lembaga dan pimpinan tempatnya mengajar, baik itu  berbentuk aturan standar yang disetujui secara formal dan dukungan dari pimpinan ketika melakukan hal yang benar.

Jika orang tua tidak memberi contoh adab kepada guru bagaimana anak akan punya adab belajar

Jika lembaga pendidikan tidak menegakkan aturan yang menghargai profesionalitas guru, bagaimana lembaga pendidikan bisa menjadi kawah candradimuka dalam penegakan ethic

Semoga menjadi kesadaran bersama baik bagi lembaga pendidikan maupun orangtua.

Dealing With Sibling Rivalry

Bertengkar dengan saudara itu biasaaa…
Ah nanti kalau gede juga akur sendiri…..
Duh pussiiiing deh anakku berantem melulu…

Dikasih adek lagi saja, kalau jumlahnya ganjil kan jadi akur…

Anakku sekarang ngompol lagi sejak punya adek..

Si kakak itu kok aneh ya, adeknya ngga ngapa-ngapain dipukul..

Duh anakku yang tengah suka caper kalau ada tamu, ada saja kelakuanya…

Anakku yang kecil semena-mena pada kakaknya suka banting barang kakaknya

Begitulah kurang lebih keluhan dan komentar sebagian besar orang terhadap permasalahan pengasuhan akibat dari Sibling Rivalry.

Perdebatan dan pertengkaran antar saudara memang bisa menjadi salah satu cara belajar. Pertengkaran antar saudara yang bersifat permukaan, misalnya, beda pendapat atau selera atas sesuatu hal adalah pertengkaran yang normal. Pertengkaran yang bisa dijadikan ajang belajar menyelesaikan konflik dan perbedaan. Pertengkaran seperti ini biasanya ringan, berlangsung cepat, jarang terjadi dan mudah reda, hampir tidak ada saudara yang tidak pernah sekalipun bertengkar seumur hidup. Biasanya muncul sebagai akibat dari kondisi insidental.

Perdebatan dan pertengkaran antar saudara yang  berlangsung terus menerus, dengan berbagai sebab, sebagai akibat dari rasa cemburu atau merasa diperlakukan tidak adil, adalah permasalahan pengasuhan yang perlu diselesaikan. Dari berbagai penelitian yang dilakukan sejak tahun 1994 hingga 2014 di US,  banyak kasus sibling rivalry yang berubah bentuk menjadi sibling abuse baik secara fisik, psikis maupun seksual. Berawal dari sibling rivalry juga muncul berbagai gangguan psikologis seperti trauma, depresi, gangguan kecemasan, rasa rendah diri, rasa superior dalam pergaulan, suka mengambil milik orang, kebiasaan mengumpat dan lain-lain.

Sebagian kasus sibling rivalry tidak mewujud dalam bentuk pertengkaran, terutama pada type pengasuhan otoriter, tetapi mengakar menjadi persaingan internal, love-hate relationship yang tidak terselesaikan atau kasus-kasus kemunduran perkembangan, seperti kembali ngompol, menghisap jempol, cadel dan perilaku-perilaku lain dengan intensi menarik perhatian.

Rasa cemburu yang menghasilkan persaingan baik tampak maupun tidak,  ada yang bermula sejak sebelum kelahiran anak berikutnya, ada yang merupakan efek dari pengasuhan dan sikap orang tua yang dianggap tidak adil selama proses tumbuh kembang anak. Kecemburuan tidak selalu terjadi pada sang kakak tetapi juga pada adik,

“Ah… aneh dong, sama saudara kok cemburu, harusnya kan sayang, gimana sihh…” kurang lebih kalimat itu barangkali yang muncul di pikiran orang dewasa.

Waduh, begini deh… anak-anak belum paham konsep bersaudara, mereka bukan orang dewasa yang dikecilkan, konsep bersaudara meteka fahami dari proses belajar. Bayangkan saja,  jika anda sedang cinta-cintanya dengan seseorang, sedang menikmati proses interaksi yang membahagiakan, menjadi the one and only yang mendapat curahan perhatian, tiba-tiba pasangan anda itu tanpa permisi menikah lagi dan membawa ‘pesaing’ anda itu ke rumah anda dengan pelukan mesra, ..

How do you feel? Sad? So, why you didn’t try to understand their feeling?  (bagi yang pernah menonton video anak saya menjelaskan tentang handling bullies, membacanya dengan nada seperti itu ya.. :D)

So.. yuk, serius dalam menangani kondisi sibling rivalry…

Berikut ini adalah hal-hal  yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mencegah terjadinya Harmful Sibling Rivalry :

  1. Persiapkan anak menerima anggota baru dalam keluarga. Idealnya saat merencanakan kehamilan berikutnya, kalaupun sudah terlanjur ya lakukan saat kehamilan.
    • Ceritakan situasi interaksi yang mungkin terjadi. Jangan PHP dengan mengatakan punya adik pasti menyenangkan, bisa selalu bermain, saling menyayangi pokoknya asyik. Ceritakan secara terbuka dan seimbang keasyikan dan tantangannya bahwa bayi berbeda dengan toddler,  seperti misalnya : bayi perlu menyusu dan jika menyusu tentu perlu dipegangi bunda, apa peran dia nanti saat adik menyusu. Memegang adik bukan berarti tidak sayang pada kakak dan kakak bisa juga minta dipeluk setelah selesai menyusui. Anak usia 1-2 tahun mungkin suka menarik barang karena ingin tahu, pengaturan jadwal tidur dengan kakak jika kakak masih tidur dengan ortu dll. Lakukan role playing, kakak menjadi adik atau ayah-ibu menjadi adik. Anda punya waktu 7-9 bulan untuk bermain peran, bayangkan berapa banyak scene peran yang bisa dimainkan bukan? Mainkan dengan ceria.
    • Libatkan kakak dalam persiapan kelahiran adik seperti memilih barang, bahkan memilih nama.
    • Ceritakan proses tumbuh kembangnya, seperti menunjukkan hasil USG
    • Tidak bersikap berlebihan, tidak perlu excited berlebihan untuk menyambut adik dan tidak perlu menumpahkan kasih sayang berlebihan ke kakak karena takut nanti tidak bisa bersikap adil. Biasakan memiliki sikap tenang, tranquil, sakinah.
  2. Siapkan waktu “Aku hanya untukmu” setelah kelahiran adik
    • Melahirkan memang proses yang melelahkan apalagi memiliki bayi, tetapi meluangkan waktu minimal 30 menit untuk ayah dan ibu menjadi milik kakak sepenuhnya, bergantian minimal 1 x sehari setiap hari sangat penting. Dalam 30 menit itu jadilah milik kakak sepenuhnya, tidak sambil melakukan hal lain misalnya sambil mengemudi, sambil pegang hp, sambil menyusui dan sambil-sambil lainnya. 30 menit yang insyaaAllah akan menjadikan anak-anak anda terjaga fitrah baiknya hingga dewasa.
    • Bagaimana kalau kakaknya 4? Lakukan bergantian minimal 2 hari sekali. 1 jam sehari istimewa untuk tiap 2 anak tidak banyak kan? Jika 1 jam pun tidak mampu, jangan-jangan kita tidak sungguh-sungguh menjalankan assignment Allah dengan amanah. Kerjasama suami istri sangat penting,  terutama peran ayah. Bukankah kelak anak-anak ini akan dipanggil bersama dengan nama ayahnya? Wah.. suami saya tidak mau, hmm… mungkin perlu sering-sering membaca pentingnya peran ayah di kitab suci masing-masing. Di Al Qur’an paling tidak ada 14 ayat yang menunjukkan pentingnya peran ayah. Atau mendengarkan sessi peran Ayah dari Pak Sutedja  dan Pak Krisnawan di kelas Enlightening Parenting 🙂
  3. Tidak membebani kakak dengan tugas menjaga adik melebihi kemampuannya. Rentang perhatian anak dibawah 2 tahun hanya 5-10 menit dan dibawah 7 tahun hanyalah 20-30 menit, dan semakin meningkat hingga sekitar 45 menit di usia baligh. Meminta anak dibawa 7 tahun menjaga adik sementara anda menyelesaikan tumpukan setrikaan hanya akan menghasilkan rasa frustrasi pada anak.
  4. Menjadi detektif kebaikan. Seringlah memuji interaksi kakak dan adek meskipun hanya sekedar saling tersenyum atau duduk bersama dengan pujian efektif yaitu memuji perilakunya, bukan orangnya.
  5. Tidak membanding-bandingkan. DON’T COMPARE. Sampai saya tulis dengan huruf besar artinya ini pentiiing sekali
    • “Wah adek sudah bisa begini ya, kakak dulu belum bisa lho..  Coba deh kayak adek.. ” atau sebaliknya “Adek kok ngga seperti kakak, dulu kakak itu…”
    • Jika terdapat perbedaan pencapaian antara adik dan kakak, evaluasi diri sendiri, apa yang kita lakukan berbeda sebagai orang tua dan kondisi bawaan yang berbeda pada anak seperti kondisi mata, kekuatan otot, perkembangan syaraf dan lain-lain
    • Tidak ada orang tua yang membesarkan anak dengan cara yang persis sama. Kondisi ekonomi, kematangan emosi, interaksi kejadian-kejadian dalam kehidupan yang berbeda sejak kehamilan dan saat anak bertumbuh memberikan stimulus yang berbeda meskipun orang tuanya sama.
    • Kembangkan budaya kolaborasi dalam keluarga, bukan budaya kompetisi
    • Edukasi juga orang-orang di sekitar anda agar mempunyai pemahaman yang sama
  6. Jadilah mediator bukan wasit. Ketika terjadi pertengkaran, tugas anda bukan menentukan siapa yang benar siapa yang salah. Tetapi apa yang perlu diperbaiki dari masing-masing pihak. Mungkin cara adik meminta perlu dilatih lagi begitu juga cara kakak merespon ketika adik meminta dengan cara yang tidak menyenangkan. Sepakati aturan dan latih dengan briefing dan role playing. Bagaimana melakukan briefing dan role playing yang benar bisa dibaca di buku Enlightening Parenting. Tidak boleh menyuruh salah satu pihak “mengalah” . Siapapun yang melanggar kesepakatan harus disebutkan. Kakak melanggar kesepakatan yang A, adik melanggar yang B. Pertengkaran hampir tidak mungkin hanya karena pelanggaran dari salah 1 pihak saja.
  7. Jangan memaksa anak untuk berbagi maupun minta maaf. Jika sebuah benda ketika anda berikan kepada salah satu anak dan akadnya adalah miliknya, maka dia berhak untuk tidak berbagi. Sampaikan kepada anak yang lain ini milik si A dan minta ijin untuk menggunakannya. si A berhak menentukan kapan dia akan berbagi atau tidak. Jika ada anak yang usianya masih dibawah 3 tahun, buat aturan, jika barang itu penting, maka A harus menyimpannya di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh adiknya yang berusia dibawah 3 th. Jika dia sembarangan meletakkan dan terambil oleh adiknya, maka adalah kesalahannya sendiri. Bagaimana jika semua dibawah 3 tahun? Maka tidak ada kepemilikan, siapa yang duluan pegang yang berikutnya ingin harus minta ijin. Jika terlihat tanda-tanda salah satu anak akan melakukan serangan segera ambil dan alihkan perhatian. Repot? Ya jelas… Oleh karena itulah mengatur jarak kelahiran itu penting. Jangan memaksa anak minta maaf saat masih ada sisa emosi. Tenangkan dulu. Review. Jeda waktu baru minta maaf
  8. Perhatikan cara anda berkomunikasi dengan pasangan. Jika komunikasi anda dengan pasangan sering bernada tinggi, nyolot, berdebat, saling meledek atau mengkritik, anak akan melakukan hal yang kurang lebih sama kepada saudaranya. Anak adalah peniru ulung. Komunikasi yang santun dan saling menghormati dengan pasangan juga akan ditiru anak sehingga menjadi pola dalam keluarga.
  9. Selalu do’akan kebaikan untuk mereka dengan penuh rasa cinta

Lalu bagaimana jika sudah terlanjur? Pertengkaran, kemunduran perkembangan dan tanda-tanda lain sudah terjadi.

Yang pertama dan utama adalah, mengakui kesalahan dan kekurangan diri lalu meminta maaf kepada anak atas kekeliruan anda selama ini. Meminta maaf tanpa tapi. Meminta maaf dengan segenap ketulusan hati. Termasuk meminta ampunan dari Pemilik Diri dan buah hati. Lalu segera lakukan poin 2 sampai 7 di atas secara konsisten dan kongruen. Lalu perhatikan hasilnya dalam 2-3 bulan, InsyaaAllah anda akan terkejut, betapa luar biasanya fitrah anak-anak kita.

Sibling without Rivalry is Sibling with Harmony..

MEMPERSIAPKAN ANAK KE MASJID

Ramadhan segera tiba, mungkin akan muncul lagi diskusi soal masjid ramah anak dan bagaimana membawa anak ke masjid, si anak yang harus tertib atau seluruh jamaah yang harus maklum.
Mengakrabkan anak terutama anak lelaki dengan masjid memang sangat penting, tetapi tentu ada caranya, ada adabnya, bukan sekedar modal..

” Ah.. nanti juga ngerti sendiri, namanya juga anak-anak.”

Bagi anak-anak, pergi ke masjid, pergi ke supermarket, pergi ke arisan keluarga atau ke tempat manapun dimana dia diharapkan berperilaku tertentu, sama menegangkannya seperti anda mau tampil di depan Gubernur.

Jika anda akan tampil paduan suara di depan Gubernur, kira-kira perlu berapa kali latihan? Ada gladi kotor? Gladi bersih?
Anak-anak bukan orang dewasa yang dikecilkan, maka ia perlu berlatih menghadapi situasi baru.

Bagaimana caranya? Mari optimalkan ikhtiar di pihak kita, bukan mengharapkan semua orang berubah sesuai maunya kita.
1. Lakukan briefing : Apa yang harus dilakukan di masjid, berapa lama waktunya (bawa timer digital jika sudah mulai mengenalkan tentang waktu), apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang boleh ia bawa jika ternyata sholat belum selesai dan ia lelah
2. Lakukan role playing di rumah : lakukan beberapa skenario, suasana ketika sedang sholat, suasana jika ada khutbah, anda berperan sebagai ortu, sebagai jamaah lain (jamaah ramah, jamaah galak, dll)
3. Mulailah dari waktu sholat yang pendek. misalnya sholat subuh atau maghrib (jangan tiba-tiba diajak tarawih yang waktunya panjang). Evaluasi hasilnya, mana yang perlu diperbaiki dan dilatih lagi
4. Ingat bahwa rentang perhatian anak masih terbatas, bagi anak balita mampu bertahan dalam kegiatan yang sama 20 menit itu sudah prestasi gemilang. mendekati 7 tahun hingga 10 tahun, maksimal 40 menit itu sudah luar biasaaa.. apalagi jika kegiatan itu dianggap kurang menarik
5. Tempatkan anak di posisi dekat dinding sebelah anda agar jika ia meninggalkan shaf tidak membuat shaf anda terputus
6. Secara sopan minta ijin dan minta maaf terlebih dahulu kepada jamaah di sekeliling anda jika nanti ada kondisi yang mungkin tidak mereka sukai (ini sekaligus menjadi contoh bagi anak tentang sopan santun dengan menghormati hak orang lain).
Semua persiapan ini sangat penting bukan sekedar agar orang lain tidak terganggu, tetapi juga mencegah anak mengalami perlakukan tidak menyenangkan di tempat yang seharusnya kelak ia cintai ini. Karena pengalama traumatis di usia dini, membekas cukup panjang dan dalam. Mungkin anak tidak ingat peristiwanya tetapi bisa jadi masjid menjadi anchor perasaan tidak nyaman bagi anak,
Usia berapa sebaiknya dimulai? Sejak anak sudah bisa memahami briefing dan role playing sederhana. Setiap anak berbeda-beda, ada anak salah satu alumni kelas kami yang usianya baru 1.5 tahun sudah faham, ada yang 4 tahun, ada yang 7 tahun, tergantung pola komunikasi dan kebiasaan di rumah anda. Anak yang memiliki kedekatan yang baik dan biasa diperlakukan respectful insyaaAllah memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik.
Jika dirasa bermanfaat silahkan dibagikan

 

Hadir Di Jogja,The Secret of Enlightening Parenting Training

Flyer Training_TSOEP_Yogya

Akhirnya kini ada sekolah jadi orang tua…

Mau tahu cara menyuruh anak tanpa anak merasa disuruh?
Mau tahu trik pagi hari Anda terasa tenang dan damai tanpa muncul tanduk di kepala?
Yakinkah Anda bahwa selama ini telah benar mengasuh anak dan tidak ada yang keliru?
Tahukah Anda perasaan anak saat dibully?
Mampukah Anda menghilangkan trauma yang membekas pada anak secara efektif?

Apakah anda sudah memahami cara kerja otak dan mengoptimalkannya?

Inginkah anda mengetahui rahasia memiliki anak yang cinta beribadah?
Tahukah Anda bahwa anak pandai membuat keputusan dan memotivasi diri?
Dan masih banyak lagi problem yg muncul dalam mengasuh dan mendidik anak.
Belum lagi permasalahan narkoba, game addictive dan pornografi, aliran-aliran sesat dan lainnya yang merupakan tantangan di jaman sekarang.

Nah, mari temukan jawaban semua pertanyaan di atas secara efektif dan pahami cara menangkal berbagai tantangan jaman.

“The Secret of Enlightening Parenting”
Hotel Jogjakarta Plaza
Yogyakarta, 26-27 Maret 2016

Untuk pendaftaran, hubungi:
Ibu Rina Mulyati
Telp./WA No. +628112570039

Sdri. Dini Swastiana
Telp./WA No. +62811910273

Form online:
https://enlightening.typeform.com/to/N3Hzhe

E-mail: enlighten_empower@yahoo.com

Salah satu Testimoni peserta training sebelumnya

Dodi Kusmajadi

Alhamdulilah……

Perasaan tenang dan lebih percaya diri itu ternyata masih tetap mengendap di dada ini. Padahal, pelatihan parenting yang digelar Mbak Okina Fitriani dkk di Jakarta Sabtu dan Minggu kemarin, telah terpisah dua hari. Perasaan yang membuncah di dada ini membuat saya yakin bahwa persoalan-persoalan mendidik dan berkomunikasi kepada anak maupun istri bisa ditangani lebih baik daripada sebelumnya.

Pelatihan parenting ini memang sangat bermanfaat bagi saya. Dampak atau hasilnya tidak hanya terasa pada tataran pengetahuan atau pemikiran, tetapi juga terasa “jleb” di dada ini.
Mengapa demikian? Sebab, percaya atau tidak, ilmu serta pemahaman baru tentang parenting dan pengendalian emosi tersebut ditanamkan ke alam bawah sadar saya. Alhasil, ajaib, emosi saya pun bisa lebih terkontrol dan berpikir lebih jernih ketika berhadapan langsung dengan persoalan di rumah.

Bayangkan, secara otomatis, tips dan trik yang dipelajari saat pelatihan dapat dipraktikkan dengan hasil di luar dugaan. Saya sudah membuktikannya Senin kemarin ketika anak saya berkeluh kesah tentang van sekolah dan kawan-kawannya. Dengan teknik reorienting dan pengakuan, emosi anak tersalurkan, ayahnya juga bisa menyimak keluhan anak dengan lebih sabar. Bahkan anak saya bisa menemukan solusinya sendiri. Alhamdulilah. Sebelumnya? Yaa….gitu deh.

Saya bersyukur dengan perubahan ini. Saya pun berharap dan berdoa, kondisi ini bisa dipertahankan selamanya. Amin.

 

Best Seller : The Secret of Enlightening Parenting

Mengasuh Pribadi Tanggung

Menjelang Generasi Gemilang

Alhamdulilah, Praise to Allah..  Terimakasih kepada para pembaca, reviewer dan seluruh penulis, hingga buku ini dicetak ulang dan menjadi National Best Seller..

Di dalam buku ini Anda akan menemukan dua bagian utama dan epilog. Bagian Pertama menyajikan konsep dasar yang memberikan gambaran menyeluruh mengenai prinsip-prinsip pengasuhan, metode beserta teknik. Sementara itu, Bagian Kedua berisi kumpulan kisah inspiratif yang berupa penga- laman praktik para penulis beserta hasilnya. Para pemilik kisah inspiratif ini adalah ayah dan ibu tangguh yang tersebar di tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Australia. Jika pada buku-buku parenting lainnya Anda disuguhi teori-teori ideal

Mengasuh Pribadi Tangguh, Menjelang Generasi Gemilang xiii

yang membuat Anda terpuruk dalam rasa bersalah, buku ini tidak demikian. Buku ini tidak berhenti pada teori saja tetapi juga menawarkan solusi yang gamblang dan mudah ditiru.

Buku ini lahir dari kepedulian para peserta training Enlightened & Empowered Parents terhadap permasalahan pengasuhan anak. Para penulis kisah inspiratif yang merupa- kan jantung buku ini membagikan pengalaman mereka serta menjadi saksi bahwa berubah itu mudah, dan mereka telah menuai hasil dari perubahan itu. Tuhan tidak menyia-nyiakan usaha hamba-Nya.

Dasar utama penulisan buku ini adalah Al-Qur’an, hadits, dan surah, dengan memadukan Psikologi Perkembangan dan teknik-teknik Neuro Linguistic Programming (NLP) sebagai tools. NLP adalah ilmu yang mempelajari kerja pikiran sadar dan bawah sadar, serta mempelajari bagaimana linguistik me- mengaruhi kerja syaraf untuk membentuk program-program bawah sadar yang menghasilkan perilaku. Jika selama ini NLP menjadi bidang kajian eksklusif dan mahal di bidang leader­ ships, yang hanya dimiliki selebritas dunia, pemimpin negara dan perusahaan, olahragawan kelas dunia, psikolog dan pakar- pakar komunikasi, maka dalam buku ini, NLP disajikan dalam bahasa yang sederhana dan aplikatif dalam ruang lingkup parenting.

AGAR ANAK TIDAK BERBOHONG

Kebiasaan berbohong  sangat berbahaya dan menjadi pintu masuk bagi berbagai keburukan dan perilaku kejahatan. Demikian pula kerusakan moral beberapa pemimpin saat ini yang tidak malu terlibat korupsi juga bermula dari ketidakjujuran. Hal ini juga diungkapkan dalam hadist Rasulullah SAW berikut ini :

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa kepada kejelekan, dan kejelekan itu menghantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa bohong hingga Allah mencatatnya sebagai seorang pembohong.” (HR. Bukhari Muslim)

Anak adalah peniru ulang, perilaku berbohong adalah sesuatu yang dipelajari, kemudian diyakini memberi manfaat bagi dirinya. Tidak ada anak yang dilahirkan menjadi pembohong karena anak lahir fitrah dengan potensi baik.  Maka mari kita evaluasi diri dan cara pengasuhan kita, yang telah menjadikan anak mengembangkan kebiasaan berbohong.

 Ada beberapa penyebab perilaku berbohong, tiap penyebab ini bisa jadi berinteraksi satu dengan yang lainnya :

  1.  Mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya

 Anak meniru segala hal yang dilakukan oleh orang tua atau orang-orang dewasa di sekitarnya, termasuk berbohong. Disadari atau tidak, orang tua seringkali memberikan contoh perilaku bohong dalam kehidupan sehari-hari seperti contoh-contoh berikut ini :

  •  Bercanda dengan cara berbohong. Menggoda anak dengan kata-kata, “Nak.. nak itu lihat ada cicak di atas!” hanya sekedar untuk mengalihkan perhatiannya, padahal tidak ada. Hal-hal seperti ini diperingatkan dengan keras oleh Rasulullah SAW sebagai berikut. “Celakalah orang yang berbicara, padahal ia berbohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Banyak orang tua yang tidak menyadari ini.
  • Menyuruh anak mengatakan ayah/ibu tidak ada di rumah kepada tamu atau ketika ada yang menelpon padahal ada.
  • Mengatakan bahwa ayah pergi ke dokter supaya anak tidak mau ikut, padahal ayah pergi ke tempat lain
  • Berjanji tetapi tidak ditepati. Berjanji mengajak anak ke suatu tempat tetapi kemudian tidak ditepati dengan alasan sibuk atau megatakan bahwa anda tidak akan pergi karena takut anak menangis ketika anda tinggal pergi, tetapi kemudian ketika ia asyik bermain, anda diam-diam pergi. Lebih baik anak menangis melihat anda pergi dan belajar mengatasi rasa sedih daripada dibohongi.
  • Mengancam tetapi tidak dilakukan. Ini perilaku yang sangat berbahaya, karena selain mengajarkan kebohongan juga mengajarkan bahwa aturan boleh seenaknya dilanggar. Misalnya karena anak sering bermain gadget lalu anda mengatakan “Awas ya kalau main lagi, nanti ayah buang gadget itu, tetapi ketika ia memainkannya lagi, anda tidak membuangnya.” Maka pikirkan sungguh-sungguh sebelum anda mengucapkan sesuatu.
  • Mengancam dengan menggunakan nama Allah. “Awas ya nanti kamu masuk neraka! Allah marah sama kamu!” Anak mempersepsi Allah menyeramkan seperti orang tuanya yang suka marah-marah dan menghukum. Padahal tidak ada anak kecil yang masuk neraka karena belum dihitung dosanya.

Jika ada salah satu atau bahkan beberapa hal yang anda lakukan seperti di atas maka jangan heran jika anak juga berbohong.

  1. Pernah Dihukum ketika ia mengakui kesalahannya

Anak-anak suka bermain dan belum mengerti resiko karena kemampuan berpikir abstraknya belum berkembang. Barangkali dia pernah berlari-lari di rumah dan memecahkan barang di rumah anda dan ketika ia datang menceritakannya. “Ayah/Ibu aku tadi mecahin vas bunga ibu.” Anda marah dan menghukumnya. Maka sejak itulah anak meyakini bahwa jujur itu berbahaya bagi dirinya.

  1. Menghindari sesuatu yang tidak disukainya

Barangkali anak pernah anak tidak menyukai sesuatu, misalnya tidak menyukai sekolahnya, maka biasanya akan timbul ketegangan yang menyebabkan perutnya merasa tidak nyaman. Lalu ketika ia mengatakan “Ayah/Ibu, aku sakit perut”, maka anda berhenti mencari tahu masalah sakit perutnya dan memperbolehkannya tidak sekolah. Maka anak belajar bahwa mengaku sakit bisa menghindarkannya dari hal yang tidak disukainya. Adalah sangat penting untuk memahami rasa sakit yang muncul dengan tiba-tiba karena masalah psikologis. Biasakan anak menghadapi dan mengatasi ketakutannya secara aman karena dia yakin akan ada ayahibu tang bijak yang membantunya dan ada Allah yang memberi tuntunan. Hal ini nanti bisa dibahas di kesempatan lain karena cukup panjang bahasannya.

  1. Anak terlalu sering dikritik dan dibanding-bandingkan

Anak yang dinilai dari hasil akhir dan bukan usahanya akan cenderung berbohong soal pencapaian, bahkan tidak segan untuk mencontek.

“Ah masa begini aja ngga bisa. Lihat tuh si A, nilainya bagus-bagus”

“Duh kamu ini udah mahal-mahal les kok hasilnya masih seperti ini”

 Anak-anak yang terlalu sering mendapatkan kritikan dari orang tuanya, akhirnya menjadi haus pujian. Mereka akan melakukan segala cara untuk membuat orang tuanya mau memujinya. Salah satunya adalah berbohong. Dengan berbohong, mereka beranggapan bahwa mereka bisa menyelamatkan diri dari “omelan ” dan akan mendapatkan “pujian”.

  1. Ingin diterima oleh lingkungan dan teman-temannya

 Anak-anak yang jarang dipuji di rumah akan mencari pujian dari tempat lain terutama teman-temannya. Ia ingin dianggap hebat. Pada umumnya mereka berbohong soal prestasi, kekayaan atau status sosialnya.

  1. Perhatikan tontonan dan bacaan anak.

Tontonan dan bacaan kisah monster, hantu, dan hal-hal yang tidak ada dalam kehidupan nyata menjadikan kemampuan anak membedakan hal yang nyata dan imaginatif menjadi semakin lambat untuk matang. Perlu dipahami oleh orang tua bahwa hal gaib seperti jin tidak sama dengan hantu atau monster. Lebih baik anak-anak berinteraksi dengan manusia, bermain dengan kegiatan fisik daripada menghabiskan waktunya menonton film-film kartun.

Lalu bagaimana mendidik anak agar jujur?

Tentu yang paling utama adalah menghilangkan penyebapenyebab yang telah disebutkan di atas tadi. Lalu kemudian secara konsisten dan kongruen melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Jadilah teladan dalam hal kejujuran. Anak mungkin salah mendengar nasehat anda tetapi anak tidak pernah salah dalam meniru. Ubahlah diri sendiri sebelum menuntut perubahan pada perilaku anak. Selama anada masih melakukan kebohongan-kebohongan yang ditiru anak, maka perilaku berbohong itu akan terus terjadi.
  2. Hargai dan apresiasi anak ketika jujur mengakui kesalahan. Misalnya ketika ia berlari dan memecahkan vas mahal anda, katakan. “Ayah menghargai kejujuran kamu, terimakasih sudah jujur. Nah menurutmu bagaimana caranya agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi?” Anak akan menasehati dirinya sendiri misalnya dengan mengatakan “Aku besok lebih hati-hati kalau lari”. Puji idenya lalu berikan ide-ide lain misalnya, dimana tempat yang lebih aman untuk berlari, atau pindahkan barang-barang berharga anda, karena kemampuan anak mengendalikan diri belum matang seperti pada orang dewasa.
  3. Biasakan membahas apa yang disukai dan tidak disukai anak. Jangan sepelekan ketakutannya. Lakukan parental coaching agar anak mampu menghadapi hal-hal yang tidak disukainya. Karena kelak kecerdasan emosi dalam mengendalikan dan menghadapi hal-hal yang tidak disukai sangat penting ketika dewasa. Bukankah banyak perintah, larangan dan peristiwa dalam hidup yang mungkin tidak disukainya kelak? Kemampuan pengasuhan seperti ini harus dilakukan dan dilatih, jauh lebih efektif jika dilakukan di dalam kelas pelatihan daripada sekedar membaca buku. Bapak bisa menghubungi redaksi untuk mendapatkan jadwal pelatihan kami.
  4. Jangan membanding-bandingkan anak. Setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda dan kecepatan belajar yang berbeda pula. Maka lebih baik mendorong anak untuk melakukan lebih baik dari apa yang pernah dia lakukan sebelumnya, sehingga ukurannya adalah kemampuan dirinya sendiri.
  5. Puji perilaku baik anak. Pujilah perilakunya bukan orangnya. Memuji dengan mengatakan “Kamu pintar” “Wah hebat deh kamu” adalah cara yang salah. Katakan dengan tepat perilakunya “Wah, hari ini kamu menata meja belajarmu, alhamdulillah, terimakasih ya nak”. Pujian yang tepat akan mendorong perilaku yang sama untuk diulang kembali. Anak yang mendapatkan apresiasi di rumah tidak haus pujian dan tidak merasa perlu berbohong untuk sekedar diterima oleh teman-temannya.

 Sebagaimana orang dewasa, anak-anak sekali waktu, mungkin melakukan kesalahan. Maka bantulah mereka untuk memperbaiki kesalahan tersebut dan percayakan bahwa mereka belajar dari kesalahan tersebut.

Anak-anak yang mendapatkan kepercayaan dan merasa dipercaya, pada akhirnya akan belajar untuk menjaga kepercayaan tersebut dan mau belajar untuk senantiasa jujur dalam perbuatan dan perkataan.

 Mencerdaskan intelegensi anak dan menjaga kesehatan fisik anak, jauh lebih mudah daripada mencerdaskan moral dan menjaga kesehatan mental anak. Menjadi orang tua bukanlah kemampuan otomatis, tetapi harus dengan sungguh-sungguh dipelajari. Jangankan mendidik anak. Menyetrika baju saja ada ilmunya. Oleh karena itu, ayah dan ibu perlu terus belajar karena tantangan jaman semakin hari semakin berkembang.

Enlighten & Empower Parenting

Seringkali tiba-tiba orang tua terkejut, anaknya selalu punya masalah di sekolah, entah dibully, tidak konsentrasi belajar, bahkan ketika SMA tidak tahu mau kuliah dimana, akhirnya ikut-ikutan teman kemana temannya kuliah, lalu di tengah jalan menyerah, pindah kuliah, berapa biaya sudah terbuang?
Tidak sedikit pula anak-anak yang hobi ngambeg, tidak fleksibel ketika diajak beraktifitas bersama orang lain, merangkak di kolong meja restoran, menganggu pengunjung lain.
Belum lagi anak/remaja yang sulit sekali diajak beraktifitas positif, belajar agama, membaca buku, mempelajari kitab suci tapi sanggup berjam-jam bermain console game bahkan melayari situs-situs tak pantas
Adapula yang terkejut bahwa sikap anaknya membangkang dan kasar di rumah tetapi rendah diri jika harus tampil dan beraktifitas di luar rumah..

Ah.. Paling juga isinya cuma ditakut-takuti, hanya berhenti dibuat merasa bersalah dan teori.. InsyaaAllah para alumni yang telah secara konsisten mempraktekkannya telah menuliskan hasilnya dalam sebuah buku yang royaltinya 100% diserahkan untuk membantu pendidikan di bumi pertiwi..

Berapa banyak waktu yang terbuang dan emosi yang terkuras untuk memikirkan itu semua?