MidLife Crisis, Lalui Dengan Elegan

Beberapa bulan belakangan ini, trend kasus yang mampir ke ruang konsultasi saya bergeser dari masalah anak-anak dan remaja menjadi masalah pemetaan diri dan pernikahan. Semoga tulisan ini dapat membantu anda, pasangan anda dan orang-orang disekitar anda untuk melalui sebuah tantangan dalam hidup.

Midlife atau Middle adulthood adalah istilah populer untuk sebuah tahapan antara usia kurang lebih 40-60 tahun. Midlife crisis tidak melulu soal jatuh cinta lagi. Berdasarkan penelitian Elliot Jaques, midlife crisis ditandai dengan keinginan untuk membuat perubahan yang signifikan terhadap satu , beberapa, atau seluruh aspek kehidupana misalnya karir, kondisi keluarga, hubungan dengan pasangan, pengalaman hidup, peran sosial dan penampilan fisik. Di Indonesia, kondisi ini sering disebut sebagai “Puber Kedua’ karena katanyaaa.. kelakuannya mirip-mirip anak remaja alias remaja koloot.. :D.. :D.. Para ahli masih memperdebatkan apakah midlife crisis berhubungan dengan perubahan hormonal/fisiologis, semata-mata persoalan psikologis, atau sebuah simfoni dari keduanya.

Apa saja sih krisis yang mungkin terjadi?

  1. Career Crisis : Muncul rasa bosan pada pekerjaannya, merasa sudah mentok (mentok yang berarti buntu ya, bukan temannya bebek), kecewa karena merasa “seharusnya” sudah sampai di level tertentu tetapi masih saja jadi kroco mumet. Biasanya ditandai dengan mulai memperlambat waktu datang, memperpanjang waktu istirahat siang atau mempersingkat waktu pulang alias ngga mau telat dua kali – udah telat datang, jangan pula telat pulang .. :p. Banyak ngedumel jika tipe talkative tapi murung jika tipe pendiam
  2. Family Role Crisis : Merasa lelah dengan suasana di rumah. Pada midlife crisis tahap awal biasanya usia  anak-anak bervariasi  antara remaja dan balita. Anak-anak mulai pandai berargumen namun masih perlu rawatan fisik, sehingga muncul kelelahan kognitif maupun fisik, perasaan gagal mendidik dan tidak dihargai. Krisis ini ditandai dengan suka mencari alasan untuk lebih banyak mempunyai kegiatan di luar rumah, tenggelam dengan hobi atau justru memperpanjang kerja di kantor (atau di cafe dekat kantor … :D). Pada midlife crisis tahap akhir (di atas 50 tahun), ditandai dengan perasaan kesepian karena anak-anak meninggalkannya untuk menikah.
  3. Romantic Relationship Crisis: Menginginkan perubahan pada hubungan dengan pasangan. Di usia 40-60 tahun, biasanya usia pernikahan sudah memasuki tahun ke 10 atau lebih. Mulai ada kejenuhan, kehilangan suasana romantis, hubungan mendingin (AC kaliiii….), kehilangan sopan-santun bertutur dan masalah hubungan seksual
  4. Social Role Crisis : Merasa gamang dengan peran social di luar pekerjaan dan keluarga karena sebagian besar waktu dihabiskan untuk keluarga dan atau pekerjaan
  5. Self Image Crisis : Ditandai dengan pertanyaan pada diri sendiri “Apakah aku ini menarik?” baik secara fisik maupun secara citra diri. Perubahan bentuk tubuh, tekstur kulit, warna rambut, pakaian dan keseluruhan penampilan menjadi perhatian. Tidak hanya yang melekat di tubuh tetapi yang digunakan sehari-hari seperti kendaraan pribadi.

Midlife crisis dapat dialami baik pria maupun wanita namun mempunyai penekanan yang berbeda. Menurut penelitian para ahli yang disarikan oleh Hoffman, Hall dan Paris dalam bukunya Developmental Psychology Today, pria lebih sering mengalami krisis no 1,3 dan 5, sedangkan wanita lebih sering mengalami krisis no 2,4, dan 5. Tentu saja ini cuma studi, yang dialami masing-masing orang pada kenyataannnya bisa berbeda. Self image crisis pada pria dan wanita juga muncul dalam bentuk yang berbeda, jika di eropa pria yang mengalami self image crisis kemudiam membeli sport car warna gonjreng, di Negara berkembang mungkin berhenti di soal pakaian dan penampilan. Ya iyalah.. mau ngebut dimana dengan sport car kalau jalannya aja imut-imut plus harga mobil dan pajaknya yang aduhai bajaaii…. Pada wanita, perilaku yang tampak adalah galau terhadap bentuk tubuhnya yang mungkin tak lagi selangsing dulu, sibuk menghitung jumlah kerutan dan noda-noda di wajah… kalau perlu pake kaca pembesar :D…

Midlife crisis wajar-wajar saja terjadi, akan menjadi tidak wajar jika kondisi itu kemudian mengganggu kebahagiaan anda, luapan emosi yang berlebihan dan perseteruan dengan orang-orang di sekitar anda utamanya pasangan dan rekan kerja. Midlife crisis tidak perlu disembunyikan dari pasangan anda, karena justru bersamanyalah anda akan dapat melaluinya dengan elegan, pun demikian, bukan berarti perlu anda umumkan di status FB :D… Jadi apa yang harus dilakukan? Berikut ini tips menghadapi midlife crisis :

  1. Kerjasama dengan pasangan : apakah anda pria maupun wanita, kerjasama dan dukungan dari suami/istri sangat diperlukan. Kerjasama seperti apa kiranya?
    • Keterbukaan komunikasi : buatlah kesepakatan dengan pasangan anda untuk dapat menceritakan apa saja kegalauan anda, bahkan ketika anda tertarik dengan orang lain. Whhaaaattttt??? Salah tulis kaleee… Tidak, ini tidak salah tulis. Kesepakatan seperti ini akan memudahkan pasangan anda “mengembalikan” perhatian anda kepadanya. Tidak mudah? Memang. Perlu kesabaran ekstra. Namun bukankah lebih mudah bagi anda jika pasangan anda memberitahu anda dengan pasti apa yang membuat dia tertarik pada orang lain? Sehingga mudah bersepakat, hal-hal apa yang perlu diperbaiki dan disesuaikan. Kesepakatan-kesepakatan kecil yang cukup membantu diantaranya adalah menyepakati waktu tertentu dimana salah satu pihak boleh uring-uringan ngga jelas, sedangkan pihak lain sekedar menjadi telinga. Tanpa menanggapi apalagi menyimpannya dalam hati. Bonus waktu boleh uring-uringan ini tentu hanya anda berdua saja yang mendengar, tidak perlu dilihat anak-anak, apalagi membangunkan tetangga :D…  Berapa lama durasinya dan seberapa sering idealnya? Silahkan pada kesepakatan anda dan ketahanan telinga anda… :D. Contoh kesepakatan lain adalah mensepakati cara menegur apabila salah satu pihak melakukan hal yang tidak disukai pihak lain. Hindari teguran yang seperti kicauan burung kukuk dari jam dinding anda, 24x sehari sepanjang hari. Silahkan tambahkan sendiri kesepakatan-kesepakatan lain. Tuliskan kesepakatan yang sudah dibuat , agar anda bisa mengingat dengan mudah, hal-hal yang sudah disepakati. Keterbukaan komunikasi tidak berarti meninggalkan sopan-santun bertutur. Pelajari pola dan teknik berbahasa yang memberdayakan. Banyak orang yang mau repot-repot belajar teknik komunikasi untuk kepentingan bisnis, politik, menghadapi massa,  tetapi lupa mengaplikasikannya di rumah. Seringkali seseorang sedemikian santun di luar rumah tetapi enggan mengusahakannya di rumah. Lalu apakah itu namanya cinta jika anda tak takut melukai hatinya?
    • Kemauan untuk berubah : Banyak orang keliru berpegang pada kata-kata bijak “menerima apa adanya”. Benarkah “apa adanya” anda di usia 20 tahun sama dengan “apa adanya” anda di usia 40 tahun. Jangan-jangan sudah berubah menjadi “apa-apa ada ” atau “tidak ada apa-apanya”.. :D…  Adalah mustahil manusia tidak berubah sama sekali sejak awal kehidupan hingga akhirnya. Manusia terus berubah waktu demi waktu, tidak hanya fisik, tetapi juga kebiasaan bahkan karakter. Daripada berubah tak tentu arah, bukankah lebih baik meniatkan diri berubah ke arah yang lebih baik? Ketimbang anda berpegang pada ungkapan “cinta itu menerima apa adanya” bukankah lebih baik diubah menjadi “cinta itu bertumbuh menjadi lebih baik bersama-sama”. Lebih baik dalam memahami, mengimbangi, melayani, komunikasi, ketaatan kepada Yang Maha Mengatur kehidupan, dan lebih baik-lebih baik lainnya. Sepakati perubahan seperti apa yang anda ingin lakukan bersama-sama seiring dengan perubahan usia, kebutuhan, pengalaman dan peran anda. Melakukan perubahan memang bukan perkara mudah, tetapi juga bukan hal yang susah. Dengan memahami kerja pikiran (mind),  dan bagaimana pikiran mempengaruhi perilaku begitu juga sebaliknya, perubahan menjadi jauuh lebih mudah. Jika perlu minta bantuan professional untuk memudahkan anda. “Tapi, kalau pasangan saya tidak mau berubah bagaimana dong… Apa perlu diganti? hehehehe hush…. 🙂 Bukankah mengubah dengan teladan paling berkesan?
    • Sentuhan :  Penelitian Allan N. Schore (2001) dan Kathleen C. Light (2004) menunjukkan bahwa pelukan dan sentuhan kasih sayang meningkatkan produksi hormon Oxytocin. Hormon ini memberikan perasaan tenang, kelekatan secara personal, menyeimbangkan tekanan darah, mempengaruhi kemampuan orgasme, menurunkan kecemasan dan memunculkan perasaan bahagia. Hormon ini sering disebut juga sebagai love hormone. Tidak seperti hubungan seksual yang memerlukan privasi, sentuhan dapat dilakukan kapan saja dimana saja… Bukankah jika suami-istri bergenggaman tangan, akan berguguran dosanya dari sela-sela jarinya? Kapan lagi bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus, menggugurkan dosa sekaligus bonus meningkatkan hormone Oxytocin?
  2. Kenali diri : Midlife crisis bukanlah hal memalukan yang perlu anda tolak atau tekan dalam-dalam dari kesadaran. Bagaikan alarm, midlife crisis merupakan pesan yang dikirim bawah sadar anda untuk membuat perubahan. Semakin ditolak, justru alarm itu semakin kuat menunjukkan eksistensinya. Berdamailah dengan diri . Sadari perubahan dan kelola perubahan itu. Buatlah rencana dan lakukan secara nyata. Sibuk bergalau ria dan berandai-andai menjadikan anda jalan di tempat. Jika anda menginginkan perubahan dalam karir, segera ubah strategi anda, perbaiki performance anda, atau wujudkan karir baru yang lebih sesuai dengan anda sekarang. Jika anda mengalami kegalauan peran dalam keluarga, segera susun langkah baru, pendelegasian tugas, memperbaiki strategi komunikasi, belajar lagi ilmu parenting, dan lain-lain.
  3. Kenali Tuhan : Pahami kembali makna kebersyukuran dan tafakuri setiap masalah yang dihadapi, bukankah itu salah satu cara Allah untuk menjadikan hambanya lebih baik?

Midlife crisis hanyalah sebuah proses,  yang untuk melaluinya terdapat dua pilihan, penuh friksi yang berakhir pada frustrasi atau elegan menjemput berbagai perbaikan…

One thought on “MidLife Crisis, Lalui Dengan Elegan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s