Edisi Revisi : The Secret of Enlightening Parenting

Print

 

Alhamdulillah, setelah cetakan sebelumnya sold out dan menjadi national best seller, kini hadir edisi revisi dari buku kami.

Apa saja perubahannya?

  • Materi dan teorinya bertambah 30%
  • Kisah-kisah inspiratifnya bertambah 6 kisah
  • Keterlibatan para ayah sebagai penulis semakin meningkat
  • Semakin mudah diaplikasikan dan terbukti efektif membuat perubahan yang lebih baik
  • Harga lebih terjangkau
  • Telah dilengkapi dengan buku Suplemen : A Parent’s Diary, Anakku Tamu Istimewa

Menasehati Pasangan

Tidak pernah habis pertanyaan tentang bagaimana cara menasehati pasangan sehingga bisa diterima dengan baik dan tidak membuat tersinggung. Untuk menjawab ini saya perlu merenung dalam-dalam, apa sih yang kami lakukan dulu sehingga urusan nasehat menasehati selancar ini. Pernah ngga sih kami dulu berkonflik soal menasehati? (Sampai sudah lupa)

Ini saya bahas berdua dengan my lovely Dedhot Ronny Gunarto untuk memformulasikan, lalu saya bahas lagi dengan mbak Dini Swastiana dan neng Melati M. Puteri yang mengamati situasi kami dari luar (observer biasanya punya sudut pandang yang justru tidak bisa kami lihat). Terimakasih sudah menjadi partner diskusi yang keren

Dari olahan itu kesimpulannya begini:

Bismillah..

1. Memilih pasangan yang memang punya tujuan hidup untuk taat dan cinta pada Tuhan itu sangat penting karena pasangan seperti ini sebetulnya tidak perlu dinasehati, tinggal diingatkan saja apakah perilakunya sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak.

2. Kalau sudah terlanjur dulu-dulunya salah pilih gimana dong? Yang disini sudah duluan insyaf yang disana belum misalnya 😀. Memulai lagi membangun visi bersama, jualan dulu dong, supaya visi kita dibeli. Susun strategi dan cara jualan yang cantik. Hitung-hitung menebus dosa masa lalu yang juga membuat kita dulu salah memilih

3. Menasehati itu bermula dari niat untuk bersama-sama menuju ketaatan dan ridho Alllah, bukan semata-mata nafsu ingin dituruti. Jika karena nafsu untuk dituruti, penolakan dari pasangan membuat kita marah, padahal seharusnya kita sedih karena pasangan sedang tidak berada di jalur yang benar. Rasa sedih membuat kita tetap semangat untuk menolong supaya nanti bisa bersama-sama di tempat terindah di hari akhir.

4. Menjadi contoh perilaku yang kita nasehatkan itu. Dan bersedia juga dinasehati. Walk the talk. Finally toh kita akan mempertanggungjawabkan masing-masing perbuatan kita

5. Respect. Lakukan dengan rasa hormat dan kesantunan. Jika Nabi Musa AS saja diperintahkan untuk menasehati Firaun dengan cara yang baik, masa sih pasangan kita tidak lebih baik dari Fir’aun.

6. Jika sampai no 5 belum ada perubahan dan perilakunya termasuk perilaku yang perlu dihukum. Maka ikuti tingkatan cara menegur istri yang diajarkan dalam An Nisa 34. Jika pihak yang perlu mendapat teguran keras adalah suami, sampaikan secara khidmat kepada pihak yang berhak menegur suami dengan tegas seperti ayah ibu atau walinya. Jika bentuknya perilaku kriminal laporkan kepada yang berwajib.

6. Hasil bukan milik kita. Hasil itu milik Tuhan, tugas manusia menggenapkan berikhtiar semaksimal mungkin, maka doa adalah bagian dari ikhtiar yang harus berjalan seiring. Do’a bukan cuma senjata pamungkas tetapi do’a adalah basic dari keseluruhan upaya.
Jadi jika konsep EP mendidik anak kita untuk Taat, minimal kita tidak membuat menantu kita kewalahan untuk memberi nasehat kelak bukan? 😊

Begitulah kira-kira jawaban untuk semua pertanyaan baik yang PM, IG maupun menanggapi status-status saya yang lalu tentang komunikasi dengan pasangan.

Semoga bermanfaat

Dealing With Sibling Rivalry

Bertengkar dengan saudara itu biasaaa…
Ah nanti kalau gede juga akur sendiri…..
Duh pussiiiing deh anakku berantem melulu…

Dikasih adek lagi saja, kalau jumlahnya ganjil kan jadi akur…

Anakku sekarang ngompol lagi sejak punya adek..

Si kakak itu kok aneh ya, adeknya ngga ngapa-ngapain dipukul..

Duh anakku yang tengah suka caper kalau ada tamu, ada saja kelakuanya…

Anakku yang kecil semena-mena pada kakaknya suka banting barang kakaknya

Begitulah kurang lebih keluhan dan komentar sebagian besar orang terhadap permasalahan pengasuhan akibat dari Sibling Rivalry.

Perdebatan dan pertengkaran antar saudara memang bisa menjadi salah satu cara belajar. Pertengkaran antar saudara yang bersifat permukaan, misalnya, beda pendapat atau selera atas sesuatu hal adalah pertengkaran yang normal. Pertengkaran yang bisa dijadikan ajang belajar menyelesaikan konflik dan perbedaan. Pertengkaran seperti ini biasanya ringan, berlangsung cepat, jarang terjadi dan mudah reda, hampir tidak ada saudara yang tidak pernah sekalipun bertengkar seumur hidup. Biasanya muncul sebagai akibat dari kondisi insidental.

Perdebatan dan pertengkaran antar saudara yang  berlangsung terus menerus, dengan berbagai sebab, sebagai akibat dari rasa cemburu atau merasa diperlakukan tidak adil, adalah permasalahan pengasuhan yang perlu diselesaikan. Dari berbagai penelitian yang dilakukan sejak tahun 1994 hingga 2014 di US,  banyak kasus sibling rivalry yang berubah bentuk menjadi sibling abuse baik secara fisik, psikis maupun seksual. Berawal dari sibling rivalry juga muncul berbagai gangguan psikologis seperti trauma, depresi, gangguan kecemasan, rasa rendah diri, rasa superior dalam pergaulan, suka mengambil milik orang, kebiasaan mengumpat dan lain-lain.

Sebagian kasus sibling rivalry tidak mewujud dalam bentuk pertengkaran, terutama pada type pengasuhan otoriter, tetapi mengakar menjadi persaingan internal, love-hate relationship yang tidak terselesaikan atau kasus-kasus kemunduran perkembangan, seperti kembali ngompol, menghisap jempol, cadel dan perilaku-perilaku lain dengan intensi menarik perhatian.

Rasa cemburu yang menghasilkan persaingan baik tampak maupun tidak,  ada yang bermula sejak sebelum kelahiran anak berikutnya, ada yang merupakan efek dari pengasuhan dan sikap orang tua yang dianggap tidak adil selama proses tumbuh kembang anak. Kecemburuan tidak selalu terjadi pada sang kakak tetapi juga pada adik,

“Ah… aneh dong, sama saudara kok cemburu, harusnya kan sayang, gimana sihh…” kurang lebih kalimat itu barangkali yang muncul di pikiran orang dewasa.

Waduh, begini deh… anak-anak belum paham konsep bersaudara, mereka bukan orang dewasa yang dikecilkan, konsep bersaudara meteka fahami dari proses belajar. Bayangkan saja,  jika anda sedang cinta-cintanya dengan seseorang, sedang menikmati proses interaksi yang membahagiakan, menjadi the one and only yang mendapat curahan perhatian, tiba-tiba pasangan anda itu tanpa permisi menikah lagi dan membawa ‘pesaing’ anda itu ke rumah anda dengan pelukan mesra, ..

How do you feel? Sad? So, why you didn’t try to understand their feeling?  (bagi yang pernah menonton video anak saya menjelaskan tentang handling bullies, membacanya dengan nada seperti itu ya.. :D)

So.. yuk, serius dalam menangani kondisi sibling rivalry…

Berikut ini adalah hal-hal  yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mencegah terjadinya Harmful Sibling Rivalry :

  1. Persiapkan anak menerima anggota baru dalam keluarga. Idealnya saat merencanakan kehamilan berikutnya, kalaupun sudah terlanjur ya lakukan saat kehamilan.
    • Ceritakan situasi interaksi yang mungkin terjadi. Jangan PHP dengan mengatakan punya adik pasti menyenangkan, bisa selalu bermain, saling menyayangi pokoknya asyik. Ceritakan secara terbuka dan seimbang keasyikan dan tantangannya bahwa bayi berbeda dengan toddler,  seperti misalnya : bayi perlu menyusu dan jika menyusu tentu perlu dipegangi bunda, apa peran dia nanti saat adik menyusu. Memegang adik bukan berarti tidak sayang pada kakak dan kakak bisa juga minta dipeluk setelah selesai menyusui. Anak usia 1-2 tahun mungkin suka menarik barang karena ingin tahu, pengaturan jadwal tidur dengan kakak jika kakak masih tidur dengan ortu dll. Lakukan role playing, kakak menjadi adik atau ayah-ibu menjadi adik. Anda punya waktu 7-9 bulan untuk bermain peran, bayangkan berapa banyak scene peran yang bisa dimainkan bukan? Mainkan dengan ceria.
    • Libatkan kakak dalam persiapan kelahiran adik seperti memilih barang, bahkan memilih nama.
    • Ceritakan proses tumbuh kembangnya, seperti menunjukkan hasil USG
    • Tidak bersikap berlebihan, tidak perlu excited berlebihan untuk menyambut adik dan tidak perlu menumpahkan kasih sayang berlebihan ke kakak karena takut nanti tidak bisa bersikap adil. Biasakan memiliki sikap tenang, tranquil, sakinah.
  2. Siapkan waktu “Aku hanya untukmu” setelah kelahiran adik
    • Melahirkan memang proses yang melelahkan apalagi memiliki bayi, tetapi meluangkan waktu minimal 30 menit untuk ayah dan ibu menjadi milik kakak sepenuhnya, bergantian minimal 1 x sehari setiap hari sangat penting. Dalam 30 menit itu jadilah milik kakak sepenuhnya, tidak sambil melakukan hal lain misalnya sambil mengemudi, sambil pegang hp, sambil menyusui dan sambil-sambil lainnya. 30 menit yang insyaaAllah akan menjadikan anak-anak anda terjaga fitrah baiknya hingga dewasa.
    • Bagaimana kalau kakaknya 4? Lakukan bergantian minimal 2 hari sekali. 1 jam sehari istimewa untuk tiap 2 anak tidak banyak kan? Jika 1 jam pun tidak mampu, jangan-jangan kita tidak sungguh-sungguh menjalankan assignment Allah dengan amanah. Kerjasama suami istri sangat penting,  terutama peran ayah. Bukankah kelak anak-anak ini akan dipanggil bersama dengan nama ayahnya? Wah.. suami saya tidak mau, hmm… mungkin perlu sering-sering membaca pentingnya peran ayah di kitab suci masing-masing. Di Al Qur’an paling tidak ada 14 ayat yang menunjukkan pentingnya peran ayah. Atau mendengarkan sessi peran Ayah dari Pak Sutedja  dan Pak Krisnawan di kelas Enlightening Parenting 🙂
  3. Ajarkan cara menyentuh dengan benar, terutama jika si kakak masih balita, bisa jadi sensori-motoriknya belum matang sehingga belum tahu kekuatan tangannya saat menyentuh dan memeluk. Kadang-kadang ortu berprasangka kakak menyakiti adik padahal memang belum mampu meregulasi sensori-motoriknya. Apresiasi saat melakukan dengan benar dan latih lagi ketika salah.
  4. Tidak membebani kakak dengan tugas menjaga adik melebihi kemampuannya. Rentang perhatian anak dibawah 2 tahun hanya 5-10 menit dan dibawah 7 tahun hanyalah 20-30 menit, dan semakin meningkat hingga sekitar 45 menit di usia baligh. Meminta anak dibawa 7 tahun menjaga adik sementara anda menyelesaikan tumpukan setrikaan hanya akan menghasilkan rasa frustrasi pada anak.
  5. Menjadi detektif kebaikan. Seringlah memuji interaksi kakak dan adek meskipun hanya sekedar saling tersenyum atau duduk bersama dengan pujian efektif yaitu memuji perilakunya, bukan orangnya.
  6. Tidak membanding-bandingkan. DON’T COMPARE. Sampai saya tulis dengan huruf besar artinya ini pentiiing sekali
    • “Wah adek sudah bisa begini ya, kakak dulu belum bisa lho..  Coba deh kayak adek.. ” atau sebaliknya “Adek kok ngga seperti kakak, dulu kakak itu…”
    • Jika terdapat perbedaan pencapaian antara adik dan kakak, evaluasi diri sendiri, apa yang kita lakukan berbeda sebagai orang tua dan kondisi bawaan yang berbeda pada anak seperti kondisi mata, kekuatan otot, perkembangan syaraf dan lain-lain
    • Tidak ada orang tua yang membesarkan anak dengan cara yang persis sama. Kondisi ekonomi, kematangan emosi, interaksi kejadian-kejadian dalam kehidupan yang berbeda sejak kehamilan dan saat anak bertumbuh memberikan stimulus yang berbeda meskipun orang tuanya sama.
    • Kembangkan budaya kolaborasi dalam keluarga, bukan budaya kompetisi
    • Edukasi juga orang-orang di sekitar anda agar mempunyai pemahaman yang sama
  7. Jadilah mediator bukan wasit. Ketika terjadi pertengkaran, tugas anda bukan menentukan siapa yang benar siapa yang salah. Tetapi apa yang perlu diperbaiki dari masing-masing pihak. Mungkin cara adik meminta perlu dilatih lagi begitu juga cara kakak merespon ketika adik meminta dengan cara yang tidak menyenangkan. Sepakati aturan dan latih dengan briefing dan role playing. Bagaimana melakukan briefing dan role playing yang benar bisa dibaca di buku Enlightening Parenting. Tidak boleh menyuruh salah satu pihak “mengalah” . Siapapun yang melanggar kesepakatan harus disebutkan. Kakak melanggar kesepakatan yang A, adik melanggar yang B. Pertengkaran hampir tidak mungkin hanya karena pelanggaran dari salah 1 pihak saja.
  8. Jangan memaksa anak untuk berbagi maupun minta maaf. Jika sebuah benda ketika anda berikan kepada salah satu anak dan akadnya adalah miliknya, maka dia berhak untuk tidak berbagi. Sampaikan kepada anak yang lain ini milik si A dan minta ijin untuk menggunakannya. si A berhak menentukan kapan dia akan berbagi atau tidak. Jika ada anak yang usianya masih dibawah 3 tahun, buat aturan, jika barang itu penting, maka A harus menyimpannya di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh adiknya yang berusia dibawah 3 th. Jika dia sembarangan meletakkan dan terambil oleh adiknya, maka adalah kesalahannya sendiri. Bagaimana jika semua dibawah 3 tahun? Maka tidak ada kepemilikan, siapa yang duluan pegang yang berikutnya ingin harus minta ijin. Jika terlihat tanda-tanda salah satu anak akan melakukan serangan segera ambil dan alihkan perhatian. Repot? Ya jelas… Oleh karena itulah mengatur jarak kelahiran itu penting. Jangan memaksa anak minta maaf saat masih ada sisa emosi. Tenangkan dulu. Review. Jeda waktu baru minta maaf
  9. Perhatikan cara anda berkomunikasi dengan pasangan. Jika komunikasi anda dengan pasangan sering bernada tinggi, nyolot, berdebat, saling meledek atau mengkritik, anak akan melakukan hal yang kurang lebih sama kepada saudaranya. Anak adalah peniru ulung. Komunikasi yang santun dan saling menghormati dengan pasangan juga akan ditiru anak sehingga menjadi pola dalam keluarga.
  10. Selalu do’akan kebaikan untuk mereka dengan penuh rasa cinta

Lalu bagaimana jika sudah terlanjur? Pertengkaran, kemunduran perkembangan dan tanda-tanda lain sudah terjadi.

Yang pertama dan utama adalah, mengakui kesalahan dan kekurangan diri lalu meminta maaf kepada anak atas kekeliruan anda selama ini. Meminta maaf tanpa tapi. Meminta maaf dengan segenap ketulusan hati. Termasuk meminta ampunan dari Pemilik Diri dan buah hati. Lalu segera lakukan poin 2 sampai 7 di atas secara konsisten dan kongruen. Lalu perhatikan hasilnya dalam 2-3 bulan, InsyaaAllah anda akan terkejut, betapa luar biasanya fitrah anak-anak kita.

Sibling without Rivalry is Sibling with Harmony..

Homoseksual Dalam Tiga Entitas: Manusia, Perilaku dan Gerakan

Homoseksualitas atau yang sekarang ini marak disebut sebagai LGBT (IQ), Lesbian Gay Bisexual Transgender (Intersex Questioning) adalah sebuah fenomena yang perlu dicermati sebagai bangsa.

Istilah LGBT menjadi populer, lengkap dengan ikon warna pelanginya untuk menunjukkan keanekaragaman. Dalam tulisan ini saya menggunakan istilah homoseksual baik yang dilakukan oleh sesama pria maupun sesama wanita agar tidak berdansa mengikuti irama pihak-pihak yang berusaha mempopulerkan perilaku homoseksual. Istilah homoseksual juga istilah resmi yang digunakan dalam jalur profesi keilmuan bidang psikologi.

Homoseksual perlu dicermati dalam tiga entitas yaitu : Manusia, Perilaku dan Gerakan

1. Sebagai Entitas Manusia

Mengapa saya menggunakan istilah manusia dan bukan Pelaku? Karena manusia dengan kecenderungan homoseksual terbagi dalam beberapa kondisi

a. Menampakkan tanda-tanda kecenderungan berperilaku seperti lawan jenis, tetapi belum bisa dipastikan dan belum menyadari

b. Sudah menyadari dan merasa dirinya berbeda tetapi belum secara kasat mata mau dan berani mengekspresikan kecenderungannya. Sebagai pribadi ia menyimpan hasrat, merasa tertarik kepada sejenus tetapi masih menahan diri.

c. Sudah menyadari dan mengekspresikan kecenderungannya dengan berbagai bentuk seperti menjadi penikmat pornografi, menjalin hubungan sesama jenis baik dari level menyentuh hingga melakukan hubungan seksual

d. Interseks atau Ambigua Genitalia sesungguhnya bukanlah bagian dari homoseksual karena ini adalah kelainan fisik dan hormonal yang menyebabkan bayi lahir dengan kelamin ambigu atau sulit dipastikan pria atau wanita. Biasanya memiliki tanda-tanda kemunculan penis tetapi tidak sempurna. Interseks tidak akan kita bahas dalam artikel ini karena interseks murni dapat ditangani dengan tindakan medis.

Apa yang perlu dilakukan sebagai entitas manusia?

Pada kelompok a, orang tua sebaiknya segera mengubah pola asuh dan mendapatkan pendampingan untuk melakukan asesmen pola pikir dan pola asuh mana yang perlu diubah, diperbaiki.

Pada kelompok b, selain orang tua melakukan hal yang sama seperti pada kelompok a, individu itu sendiri juga segera mencari pertolongan yang bertujuan menyembuhkan bukan mencari komunitas yang menerima atau mendukung yang justru malah memfasilitasi kecenderungan ini

Saat ini banyak diperdebatkan tentang pengaruh biologis meskipun banyak penelitian yang telah mematahkan pendapat ini diantaranya penelitian Prof George Rice dari Ontario   dan Alan Sanders dari Chicago. Bahkan secara terang-terangan disebut mitos oleh Ruth Hubbart.

Andaikan masih ada pihak yang keukeuh sumekeuh menganggap faktor gen, bukankah jika orang tua mendapati anaknya menunjukkan gejala autism dan asthmatic yang bahkan sudah lebih besar kemungkinan karena pengaruh gen selain masalah pola asuh dan lingkungan juga segera dicarikan pertolongan?

Padahal resiko tertinggi autism dan asthmatic baru keselamatan di dunia dan nyawa, sedangkan resiko jika kelak menjadi perilaku homoseksual adalah neraka. Lebih berat mana?

Bagaimana sikap masyarakat?

Jelas sikap kita sebagai masyarakat, tidak boleh menghina, mendiskriminasi, membully, meledek, menghakimi bahkan jangan mempertontonkan sebagai bagian dari komedi dan hiburan, karena itu sama saja mengedukasi masyarakat untuk menjadikan mereka objek tertawaan.

Tetapi apakah masyarakat mau mendekati atau menjauhi itu tentu hak dan pilihan masing-masing pribadi selama tidak menunjukkan sikap bermusuhan. Bukankan tiap manusia mempunya hak untuk menjaga lingkungan pergaulannya masing-masing?

Tentu saja jika mampu mengajak , mendampingi, membantu membuka peluang bagi mereka untuk mendapatkan bantuan akan sangat lebih baik, apalagi jika sama-sama mendanai kegiatan rehabilitasi dan edukasi.

 

2. Sebagai Entitas Perilaku

Perilaku homoseksual bisa dilakukan oleh siapa saja, dari yang hetero tetapi iseng coba-coba, pencari sensasi, pemerkosa hingga memang suka sama suka dengan kesadaran penuh diantara para pelaku. Maka istilah manusia disini berubah menjadi Pelaku.

Tidak ada satu agamapun yang memperbolehkan pernikahan sesama jenis. Pernyataan Romo Benny Susetyo, menegaskan bahwa gereja katolik amat tegas menolak perilaku homoseksual. Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham juga menyatakan hal yang sama dalam pandangan agama Kristen. Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja juga menyatakan hal yang sama dalm pandangan agama Budha, senada dengan pernyataan Ketua Umum Parisada Hindu Darma Indonesia Sang Nyoman Suwisma. Dalam agama islam perilaku homoseksual sudah jelas diharamkan. Seluruh dasar larangan perilaku ini dapat anda temukan di lembaran Fatwa MUI no 57 tahun 2014. Diantaranya adalah

Mengapa kamu menggauli sesama lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Asy-Syu’ara’: 165-166)

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (amat keji) yang belum pernah terjadi oleh seorang pun dari umat-umat semesta alam. Sesungguhnya kamu menggauli lelaki untuk memenuhi syahwat, bukan isteri. Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan”. (QS. Al-A’raf: 80-81)

Maka seluruh perilaku berkaitan dengan seksual di LUAR PERNIKAHAN yang sah, apapun batasannya dikategorikan perilaku ZINA atau mendekati Zina baik itu sejenis maupun berlawanan jenis. Dan semua perbuatan zina dan mendekati Zina DILARANG oleh agama manapun. Pandangan mengenai mendekati zina dilarang dalam agama katolik dapat ditemukan di website katolisitas dalam agama kristen dapat dibaca di christiananswer. Silahkan membuka semua rujukan-rujukan di atas dengan mudah.

Apa yang perlu dilakukan oleh Pelaku?

Pelaku homoseksual punya pilihan untuk bertaubat atau terus bermaksiat. Bertaubat tentu pilihan terbaik menurut agama manapun. Apakah bisa? Bisa, banyak contoh para pelaku yang kemudian bertaubat dan sembuh. Bantuan professional sangat diperlukan baik yang bersifat medis maupun psikologis. Tapi bagaimana kalau hasrat-nya masih ada? Bukankah kemampuan menahan diri dari perilaku yang dilarang Tuhan itu ada pahala besar di dalamnya?

Jika tidak mau bertaubat? Tentu itu urusan dia dengan Tuhan dan hukum. Yang sudah ada perangkat hukumnya seperti perzinahan, pelecehan, perkosaan dan perbuatan asusila lainnya dibawa ke ranah hukum. Yang mendekati zina dan yang belum ada perangkat hukumnnya sementara menjadi urusan dengan Tuhan sambil menunggu perangkat hukum yang dibuat manusia.

Bagaimana sikap masyarakat?

Di masyarakat yang berKetuhanan Yang Maha Esa, tentu setiap warga negara Indonesia percaya kepada aturan Tuhan. Jika agama sepakat bahwa perzinahan apalagi berbentuk hubungan sesama jenis adalah dilarang, tentu perilaku ini tertolak dengan sendirinya. Dengan adanya larangan pernikahan sesama jenis dari semua agama, maka legalitas perilaku ini dalam lembaga pernikahan juga tertolak. Maka tidak ada peluang bahwa perilaku ini bisa diterima oleh masyarakat.

 

3. Sebagai Entitas Gerakan

Apa saja yang disebut Gerakan? Gerakan adalah upaya untuk mengubah satu keadaan ke keadaan lain.

Bagaimana mungkin sebuah gerakan yang mengandung perilaku yang mengubah ke keadaan yang dilarang oleh berbagai agama bisa didukung di negara berKetuhanan? Tindakan mensosialisasikan, mengajak baik langsung maupun tidak langsung, tindakan mempromosikan baik secara pribadi maupun masal dan tindakan propaganda dalam bentuk apapun yang mengarah kepada PENERIMAAN PERILAKU dan legalisasi LGBT. Jelas HARUS DITOLAK.

Mengajak pada kemaksiatan bukan saja pelanggaran agama, tetapi juga pelanggaran tata nilai kenegaraan dan sosial. Oleh karena itu masyarakat perlu mendorong adanya perangkat hukum yang jelas mengatur mengenai ini.

Gerakan apa yang diperlukan oleh negara berKetuhanan Yang Maha Esa? Yaitu Gerakan untuk memfasilitasi ke arah yang dicintai Tuhan. Gerakan pendampingan untuk mengatasi dorongan perilaku homoseksual penyediaan rehabilitasi, bantuan hukum bagi yang merasa terancam jika akan keluar dari komunitas tersebut dan bantuan ekonomi bagi yang kehilangan sumber ekonomi akibat meninggalkan komunitas LGBT.

Meskipun tidak semuanya terdata dengan bukti-bukti yang lengkap, kisah tentang ancaman keselamatan bagi para pelaku yang ingin keluar dari komunitas LGBT banyak terdengar. Belum lagi sektor-sektor ekonomi tertentu yang memberi fasilitas khusus. Jangan-jangan, di sektor-sektor tertentu justru komunitas hetero yang mulai terdiskriminasi. Ini juga perlu mendapatkan perhatian khusus.

Semoga ulasan singkat dari 3 entitas ini bermanfaat

Jika air ini tidak bisa memadamkan api, setidaknya Malaikat mencatat di sisi mana kita berdiri

Wallahua’lam

Management – Keuangan Keluarga

Persoalan keuangan keluarga adalah salah satu alasan terbesar dalam kemelut rumah tangga selain persoalan seputar kamar tidur, komunikasi, perselisihan dengan keluarga besar dan perselingkuhan. Sebetulnya permasalah-permasalahan tersebut saling terkait.

Oleh karena itu dalam sessi konsultasi masalah keluarga, persoalan Management Keuangan Keluarga (MKK) ini sering dijadikan salah satu bagian dari perubahan yang saya anjurkan.  Berikut ini adalah salah satu desain MKK yang sering saya anjurkan yang sifatnya umum dan simpel. Saya gunakan bahasa sederhana agar mudah dicerna dan diaplikasikan

PRINSIP DASAR 

  • Diskusikan MKK SEBELUM Menikah, ingat ya sebelum. Jangan karena mabuk asmara lupa diskusi MKK. Nanti waktu bangun dari mabuk terlihat sumber masalah baru 😄
  • Bagi keuangan keluarga menjadi 3 pos utama
  1. Uang Keluarga (di keluarga saya disebut uang company. Our company name is The Guna***s 😄) .
  2. Uang pribadi istri
  3. Uang pribadi suami

Sebaiknya masing-masing pos berada dalam rekening yang berbeda

UANG KELUARGA (UK)

Uang keluarga ini bisa dibagi lagi menjadi 2 jenis

  • Current : digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dalam satu bulan. Meliputi pengeluaran rutin, belanja, SPP anak, bantuan untuk orang tua (extended family), sumber uang pribadi istri dan suami. Buatlah daftar kebutuhan rutin bulanan untuk menentukan jumlahnya.
  • Saving : digunakan sebagai simpanan dan penggunaan konsumsi jangka panjang spt rumah, mobil, uang masuk sekolah, dll.

Siapa yang bertanggungjawab mengisi UK ini? Jelas bread winner dalam keluarga. Idealnya ayah. Jika ibu bekerja dan bersedia berkontribusi memasukkan dana di Uang Keluarga ini tentu boleh-boleh saja. InsyaaAllah dihitung sebagai sedekah kan meski tidak wajib?  Perubahan bisa dilakukan sesuai dengan kondisi saat itu.

(di keluarga kami seluruh pendapatan suami masuk ke sini dulu sebelum nanti ditransfer untuk masuk ke pos-pos lain, alhamdulillah)

Naaah khususon sandaaang nih…. karena tergantung selera dan kebiasaan, perlu disepakati secara berkala tentang jumlah wajar pertahun yang di keluarkan. Lalu bagaimana dong kalau salah satu pihak suka yang fancy-fancy… ya silahkan nabung dari Uang Pribadi Istri/Suami (tergantung siapa yang suka fancy items)

Uang Pribadi Istri

Uang pribadi istri adalah pendapatan istri (jika istri ikhlas berkontribusi di uang keluarga maka ini sisanya) ditambah uang “gaji istri” dari Organisasi/Company yang bernama Keluarga alias UK jenis Current. Gaji istri bisa berupa persentase atau nominal tertentu. Tentu tidak akan ada nilai yang pantas untuk menggaji istri. Tetapi ini adalah uang yang tidak perlu “ditanyakan” penggunaannya. Nilainya pun tergantung kemampuan. Apa saja yang dicover dengan uang ini juga sangat tergantung kondisi ekonomi keluarga. Mau meng-cover uang ke salon, untuk menabung membeli branded items silahkan tergantung kesepakatan masing-masing. Jika tadi disebutkan bahwa bantuan untuk ayah ibu kandung dan mertua diambil dari UK dalam jumlah yang sudah ditentukan, maka jika ada hal-hal di luar itu boleh juga istri menambahkan bantuan dari uang ini.

(Saya pribadi menggunakan uang ini sebagian untuk membeli kado-kado kejutan untuk suami karena saya alhamdulillah mempunyai penghasilan cukup.. 😄. Jadi gaji dari beliau sebagian ya kembali ke beliau dalam bentuk yang lebih romantis 😁)

Uang Pribadi Suami

Intinya sama dengan Uang Pribadi Istri. Jika suami menyerahkan 100% pendapatannya ke UK, maka Uang pribadi suami sumber dananya ditransfer dari UK yang berhak dipergunakan suami tanpa dipertanyakan. Tetapi jika suami tidak menyerahkan 100% pendapatannya ke UK, berarti bagian yang tidak diserahkan itu. Lagi-lagi tergantung kesepakatan. Jika sudah disetujui seperti ini sejak awal, maka tidak boleh dipermasalahkan di kemudian hari. Alangkah baiknya jika besarannya diketahui kedua belah pihak. Mau dipakai untuk apa? BEBAS.

Masing-masing pihak tentu kelak akan mempertanggungjawabkan jalan yang digunakan ketika menggunakan uang tersebut kepada Allah kan? So , percayakan saja.

Lebih besar mana dengan “gaji istri”?  Lagi-lagi silahkan disepakati.

(Kami pribadi memberikan porsi yang lebih besar kepada suami karena kegiatannya lebih banyak dan suami sudah menyerahkan seluruh pendapatannya ke UK sehingga tidak punya uang lain selain porsi yang diberikan sebagai Uang Pribadi Suami, sedangkan saya mempunya penghasilan lain. Jadi kasihan kan, uang pribadinya ya hanya segitu-gitunya itu.. :D)

Bagaimana kalau uangnya sedikit sehingga jika dibagi ke beberapa rekening tidak memenuhi persyaratan minimal?  Dipisahkaan pakai amplop saja.
Jaman duluu sekali saya juga pernah melewati masa-masa pakai amplop juga kok meski hanya sebentar.

Dengan pembagian dan kesepakatan yang jelas seperti ini, insyaaAllah hidup lebih damai dan tenang. Masing-masing memiliki kontrol dan harus merencanakan pengeluaran pribadinya.
Kuncinya, Jujur, Syukur, Ikhlas, Terbuka dan Amanah

Materi yang lebih lengkap pernah kami sampaikan di kelas online, summary-nya ada di
https://www.nuriaprilia.com/2020/04/manajemen-keuangan-keluarga.html

MEMPERSIAPKAN ANAK KE MASJID

Ramadhan segera tiba, mungkin akan muncul lagi diskusi soal masjid ramah anak dan bagaimana membawa anak ke masjid, si anak yang harus tertib atau seluruh jamaah yang harus maklum.
Mengakrabkan anak terutama anak lelaki dengan masjid memang sangat penting, tetapi tentu ada caranya, ada adabnya, bukan sekedar modal..

” Ah.. nanti juga ngerti sendiri, namanya juga anak-anak.”

Bagi anak-anak, pergi ke masjid, pergi ke supermarket, pergi ke arisan keluarga atau ke tempat manapun dimana dia diharapkan berperilaku tertentu, sama menegangkannya seperti anda mau tampil di depan Gubernur.

Jika anda akan tampil paduan suara di depan Gubernur, kira-kira perlu berapa kali latihan? Ada gladi kotor? Gladi bersih?
Anak-anak bukan orang dewasa yang dikecilkan, maka ia perlu berlatih menghadapi situasi baru.

Bagaimana caranya? Mari optimalkan ikhtiar di pihak kita, bukan mengharapkan semua orang berubah sesuai maunya kita.
1. Lakukan briefing : Apa yang harus dilakukan di masjid, berapa lama waktunya (bawa timer digital jika sudah mulai mengenalkan tentang waktu), apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang boleh ia bawa jika ternyata sholat belum selesai dan ia lelah
2. Lakukan role playing di rumah : lakukan beberapa skenario, suasana ketika sedang sholat, suasana jika ada khutbah, anda berperan sebagai ortu, sebagai jamaah lain (jamaah ramah, jamaah galak, dll)
3. Mulailah dari waktu sholat yang pendek. misalnya sholat subuh atau maghrib (jangan tiba-tiba diajak tarawih yang waktunya panjang). Evaluasi hasilnya, mana yang perlu diperbaiki dan dilatih lagi
4. Ingat bahwa rentang perhatian anak masih terbatas, bagi anak balita mampu bertahan dalam kegiatan yang sama 20 menit itu sudah prestasi gemilang. mendekati 7 tahun hingga 10 tahun, maksimal 40 menit itu sudah luar biasaaa.. apalagi jika kegiatan itu dianggap kurang menarik
5. Tempatkan anak di posisi dekat dinding sebelah anda agar jika ia meninggalkan shaf tidak membuat shaf anda terputus
6. Secara sopan minta ijin dan minta maaf terlebih dahulu kepada jamaah di sekeliling anda jika nanti ada kondisi yang mungkin tidak mereka sukai (ini sekaligus menjadi contoh bagi anak tentang sopan santun dengan menghormati hak orang lain).
Semua persiapan ini sangat penting bukan sekedar agar orang lain tidak terganggu, tetapi juga mencegah anak mengalami perlakukan tidak menyenangkan di tempat yang seharusnya kelak ia cintai ini. Karena pengalama traumatis di usia dini, membekas cukup panjang dan dalam. Mungkin anak tidak ingat peristiwanya tetapi bisa jadi masjid menjadi anchor perasaan tidak nyaman bagi anak,
Usia berapa sebaiknya dimulai? Sejak anak sudah bisa memahami briefing dan role playing sederhana. Setiap anak berbeda-beda, ada anak salah satu alumni kelas kami yang usianya baru 1.5 tahun sudah faham, ada yang 4 tahun, ada yang 7 tahun, tergantung pola komunikasi dan kebiasaan di rumah anda. Pada umumnya waktu terbaik adalah mendekati 7 tahun. Anak yang memiliki kedekatan yang baik dan biasa diperlakukan respectful insyaaAllah memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik.
Jika dirasa bermanfaat silahkan dibagikan

 

Seberapa besar ikhtiar kita.. 

Karya mas Mohammad Windy, alumni Kelas Enlightening Parentinf dan Transforming Behavior Skill

Serial Ibu Bekerja

Ini adalah kumpulan dari serial mbak Dini Swastiana di Instagram.

Mbak Dini adalah salah satu penulis di buku The Secret of Enlightening Parenting yang juga ibu bekerja

Seri Ibu Bekerja. Part 1. Saat dulu adithya usia 1,5 bulan, Seseorang bilang ke saya begini “Mba, ngga pengen resign? Ngga sayang Mba waktunya kebuang ngga nungguin setiap moment nya Adithya?”. Saya cuma senyum & ngga merespon. Rule #1 utk Ibu Bekerja menurut saya (silahkan ber beda pendapat & disimpan aja ya, ngga usah ditulis di komen 😀): komen itu gratis, ngga usah dimasukkin hati sepanjang yang ngasih omongan ngga tau persis apa yang dia omongin (ini silahkan terjemahkan sendiri). Penting banget utk menjaga kewarasan dengan memilih2 mana yang kita pertimbangkan utk ditimbang2 dipikirkan. Karena background orang berbeda-beda; alasannya berbeda-beda;we will not know for sure until we become that person. Jadi konsekuensi logis Dari rule#1 nya saya adalah memilih lingkungan yang memberdayakan (lingkungan yg terdiri Dari real people atau pun dunia maya). Ini memang slippery slope Kalo kita sendiri galau dengan reasoning kita Bekerja. Jadi pre requisite rule#1 adalah yakini bahwa reasoning kita utk Bekerja adalah ekologis, tidak bertentangan dengan belief system Dan value yang kita percayai. Supaya kita banyak dapat komen yang memberdayakan, kita mulai dengan berupaya memberi komen yang memberdayakan orang lain, mulai duluan. Dengan membersihkan filter kaca mata kita, sehingga jernih memandang nya, Dan bisa train our mind to see the positive angles of every situations. Dan selalu Ingat, bahwa sewangi apapun parfum yang dipakai, kalau kelakuan Dan kata2 yang keluar Dari mulut kita itu ngga harum untuk orang lain, ngga Akan bernilai apa2 juga. Jadi mulai dengan berdamai dengan diri sendiri atas pilihan nya, Dan pilih lingkungan yang memberdayakan, dengan memulai Dari diri sendiri yang berupaya terbaik utk memberdayakan sekelilingnya 💝
Seri Ibu Bekerja, Part 2. Dari pilihan sebagai Ibu Bekerja, Ada konsekuensi2 yang harus dijabanin. Seberapa kita mau mengerjakan hal2 yang berkaitan dengan anak kita selama kita memilih profesi Ibu Bekerja? Karena Bekerja di kantor terikat jam kerja, sehingga mau ngga mau kita harus menyiasati kegiatan kita saat kita bisa. Contoh sederhana saat Anak masih dibawah 2 tahun, Seberapa kita mau ngorbanin makan siang sama temen Demi kita mompa asi utk stock asip? Jam berapa kita mau bangun pagi utk masak mpasi Anak kita? Bagaimana kita belajar utk bisa mompa asi dengan cepet Supaya ngga ribet dicariin sama bos Karena pumping kelamaan? Jam tidur berkurang? Pasti. Makan siang diluar? Hampir ngga pernah. Semua konsekuensi2 itu Ada harganya Dan Ada reward nya Insya Allah. Itu semua bisa berjalan dengan damai Kalo kita sadar apa yang mau kita capai. Dan kita dibantu sama pasangan. Dulu saya pumping cuma 15 menit, diajarin pumping pakai tangan sama temen setelah bleeding pakai alat. Kalo saya nyerah, ngga nanya sana sini and ngga mau nyoba, ya kelar asi nya. Kalo nurutin cape badan, ya cape banget pasti jam 3 pagi bangun pumping Trus makan lagi Supaya pagi2 masih bisa nyusuin. Repot masak mpasi jam 4 pagi? Banget-banget. Tapi worth it Karena anaknya Jadi ngga picky eater Karena kita kerja kan semua seperti ‘text book’ bilang. Every kemalasan saya, Ada bayarannya. Karena saya ngga mau bayar mahal atas kemalasan saya, Jadi saya jabanin konsekuensi2 Dari pilihan saya itu. Dan Alhamdulillah semakin ke sini semakin dimudahkan juga .. Dan Insya Allah, Anak juga menghargai berpeluh-peluhnya kita, jungkir baliknya kita mengupayakan yang kita bisa utk tetep comply sama best practice yang sesuai dengan Anak kita Dan keluarga kita .. Dimulai dengan kesepakatan dengan pasangan, meng-equip diri dengan knowledge yang memadai, gigih ngerjain yang bisa dilakukan semampu nya, Dan berdoa, memasrahkan hasilnya kepada Allah SWT
Seri Ibu Bekerja, part 3. Banyak yang nanya, gmana sih ngatur diri Supaya waktu nya masih kesisa utk ngurusin Anak? Kalo saya : Ya dengan memilih kegiatan yang mendukung utk masih bisa ngurusin Anak. Makan siang dengan temen saya batasin banget biasanya cuma 1x seminggu, biar pas istriahat siang saya bisa mikirin and ngerjain apa yang berkaitan dengan Adithya : browsing Buku Anak, baca Buku parenting, baca artikel agama Dan parenting, cari ide kegiatan & ngobrol sama adithya, dll. Pulang Kantor ketemuan sama temen? Ngga pernah Kecuali special occasion, karena Mba asisten punya Anak juga sehingga saya ngga tega kalo dia pulang nya kemaleman nungguin saya pulang. Pergi Dan pulang Kantor Karena saya seringnya nyupir sendiri, ya me time nya saya disitu, dengan ndengerin lectures di podcast. Apakah saya merasa saya kehilangan diri saya dengan melakukan begitu? Ya enggak Kalo menurut saya. Dan Karena saya ya cerita apa yang saya lakukan, adithya Jadi lebih menghargai juga ke apa yang saya lakukan. Tapi ini semua bisa ber langsung dengan ‘damai’ Karena support system saya yang Alhamdulillah diberkahi kemudahan. Suami yang sudah sepaham Dan Hands on ke Adithya, Mba asisten yang Alhamdulillah reliable, sahabat2 yang sama2 bantu-membantu, driver yang reliable Dan yang paling utama : Kekuatan DOA. Key words nya : pilih-pilih kegiatan – lurus kan prioritas; kerja sama pasangan & dukungan support system, Dan selalu berdoa mohon pertolongan Dan kemudahan Dari Allah SWT
Seri Ibu Bekerja, Part 4. Bagaimana caranya Supaya kekesalan di Kantor ngga kebawa ke rumah? *aduh pengen banget nulis curcol sebenernya Tapi ngga guna ya 😂, Jadi tips nya ala EP aja yang ditulis :

1. Punya pembeda antara Kantor Dan rumah. Misalnya,

a. Jangan ke Kantor pakai baju yang sama dengan type atau jenis baju yang kita pakai Kalo bersama keluarga. Ini menbantu sekali visualisasi untuk mindset kita.

b. Berlatih affirmasi saat keluar rumah Dan pulang ke rumah, utk menjalani peran yang berbeda

2. Kalo capek pulang Kantor, petakan apa yang Jadi penyebab capek nya, kemudian dipikirkan remedy atau solusi nya, bisa utk menghilangkan atau mengurangi capek nya

3. Gmana Cara membikin hati damai ngadepin orang2 yg menurut kita ngeselin di Kantor? Apa lagi Kalo orangnya lebih Dari 1 😀

a. Berlatih tekhnik dissosiasi yaitu memisahkan kita menjadi pihak ke 3 Supaya ngga terhijack response kita Karena emosi yang tinggi (googling Aja ttg dissosiasi ini ya atau baca di Buku self improvement nya Mba Okina)

b. Paksain senyum for no reason, karena gerakan otot pas senyum itu nyetrum ke hati. Nah Tapi kadang kita bandel ngga mau upaya maksa senyum sehingga ya kesel terus

4. Bagaimana mempertahankan kewarasan utk bisa work life balance? Ya punya kegiatan atau hidup selain pekerjaan kita. Punya komunitas yang menjadi passion kita, punya lingkungan non Kantor yang kita bahagia bersama nya 😋; atau punya temen2 yang Kalo pas Makan siang di Kantor topik pembicaraannya yang nyambung sama yang kita senengin Dan Bukan Tentang kerja an Kantor.

5. Gmana Supaya Kalo dirumah bisa fokus ke keluarga ?

a. Pasang airplane mode di HP

b. Matiin TV Dan radio Dan kompie

c. Diinget2 Kalo waktu bersama keluarga itu priceless Supaya mindset nya fokus pada tujuan
End of seri Ibu Bekerja 😋😋 #ibubekerja #enlightenempower

Videonya ada disini

Part 1

https://www.youtube.com/watch?v=uTU0LfS_eN0&t=31s

Part 2

https://www.youtube.com/watch?v=EcE4lgBe5UY&t=24s

Part 3

https://www.youtube.com/watch?v=9CXa3xB7d0Q

 

Ketika Anak “Tidak Membeli” Nilai-Nilai Yang Ditanamkan Orang Tua

Ilustration Video by Mohammad Windy

Ketika anak tidak “MEMBELI”

Sebetulnya tidak ada anak yang “ngeyel/membangkang”, yang ada anak tidak “membeli atay buy-in” terhadap ide, usulan, anjuran, pelajaran, nilai-nilai kehidupan, perintah yang disampaikan oleh orang tuanya.

Orang tua sesungguhnya berfungsi sebagai PENJUAL.
Menjual Values, Menjual Belief, Menjual Saran dll
Barang/Jasa yang dijual parents bagus atau tidak?

Sebagian besar bagus doong, kan asal dagangannya dari Yang Maha Sempurna, Misalnya ibadah, nilai kebersyukuran, rajin belajar dll. Sebagian lain terutama yang ide-idenya sendiri ya kadang memang kurang bagus 🙂

Sayangnyaaa… strategi penjualannya tidak direncanakan dengan sungguh-sungguh, product knowledge-nya juga pas-pas-an. Sehingga tidak dibeli oleh anak-anak.

Lucunya.. jika anda menjual barang/jasa kepada orang lain, lalu calon pembeli tidak mau membeli, yang muncul rasa penasaran ditambah sedikit minder, lalu segera belajar, melakukan evaluasi diri, menyusun strategi penjualan baru.
Sebaliknya ketika orang tua jualannya ditolak anak, karena merasa berkuasa, malah ngamuk. Calon pembelinya dimarahin, dipaksa, bahkan dipukul 😀 (beeeuuh… untung aja itu calon pembeli ngga balas memaki, paling cuma berani ngeyel). Meskipun tidak balas memaki, calon pembeli ini akan menutup diri secara kognitif dan afektif, membuat dinding yang akan menghalangi menerima produk-produk anda berikutnya.

Lebih parahnya lagi, si penjual yang mengaku sudah menggunakan produk itu, ternyata tidak mencerminkan hasil dari produk itu (misalnya, mengaku rajin ibadah tapi lisannya masih suka ngomel dan labelling), Duh.. ibarat menjual produk perawatan kulit tetapi kulitnya malah rusak. Siapa coba yang mau beli?

Padahal ada cara untuk menjadi penjual yang menarik, yang masuk secara luwes dan menumbuhkan keinginan membeli dan menggunakan (silahkan refer pada kisah-kisah sahabat-sahabat saya di buku The Secret of Self Improvement dan The Secret of Enlightening Parenting)

Selain strategi yang baik tentu ketika mau jualan, anda juga minta bantuan pada yang menggenggam hati manusia bukan? Semoga kalaupun strateginya kurang-kurang dikiit, ditutup oleh yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Dan Yang Maha Memiliki hati tentu juga ingin anda terus belajar bukan? Supaya meningkat dan bermanfaat.

Jadi, masih mau ngamuk kalau produk jualannya ngga laku? Lalu apa yang seharusnya dilakukan?

5.475 Cara Agar Anak Cinta Beribadah

video was made by Mohammad Windy and narated by Wahyuni Harahap