Menjaga dan Mengoptimalkan Potensi Baik Anak

Masih ingatkah kita bahwa anak yang baru mulai belajar makan akan segera menutup mulut jika lambungnya sudah terisi dalam ukuran cukup sesuai ukurannya yang mungil. Karena alarm tubuhnya mengatakan “Cukup. Ini sudah cukup untukku “. Tetapi orang tuanyalah yang sibuk memaksa menghabiskan terus dan terus hanya demi anak terlihat lucu atau sekedar memuaskan komentar orang lain, bukan kreatif mengenalkan gizi seimbang
Fitrahnya untuk hidup sehat, makan untuk hidup bukan hidup untuk makan dan mensyukuri rasa cukup dirusak.

Masih ingatkah kita bahwa bayi suka sekali bangun menjelang subuh? Karena memang manusia didesain untuk memulai hari menghaturkan bakti kepada Illahi dan memulai aktifitas produktif. Tetapi apa yang dilakukan orang tua? Sibuk menidurkannya lagi karena merasa kegiatan paginya terganggu atau marah-marah karena tidurnya terganggu. Lalu kemudian mengeluh “Kenapaa sih kamu susah bangun pagi”

Masih ingatkah kita bahwa bayi kita akan menangis saat bajunya basah, risih saat popoknya penuh, dan tidak suka dengan diaper saat mulai bisa berjalan? Tetapi orang tua malas melatih toilet training (tentang toilet training bisa dibaca di website saya) hingga kemudian terbiasa tidak risih dan membiarkan sesuatu yang berantakan dan kotor.

Masih ingatkah kita bahwa batita kita dulu suka memanjat dan berlarian kesana kemari? Inilah pola hidup sehat, aktif dinamis dan baik untuk kesehatan jantung. Tapi orang tua menyuruhnya duduk diam bahkan diberi gadget hingga kecanduan

Masih ingatkah kita saat anak kita jatuh bangun belajar berjalan dan mengulang kata-kata yang sama, permainan yang sama hingga mahir? Lalu siapakah yang mengatakan “Aah bosan ah pertanyaanmu itu-itu saja. Awas lho jatuh, nah kan ayah/ibu bilang juga apaa.. kamu tu ngga bisa!” Lalu kini ada anak yang malas belajar dan cepat putus asa?

Masih ingatkah dulu anak kita suka ikut ketika kita beribadah? Mengikuti gerakan kita? Segera menggeret peralatan ibadah kita saat datang panggilan adzan? Lalu siapakah yang menghardiknya di usia 5 tahun saat lari di rakaat pertama, mengatainya lemot saat harus mengulang-ulang ayat yang dihapalkannya, mengancam neraka tanpa menumbuhkan cinta, dan tak memahamkan apa yang diucapkannya? Lalu kini ada remaja yang susaah sekali diminta beribadah karena tiada rasa cinta kepadaNya.

Masih ingatkah dulu anak kita sangat teguh kemauannya, ngotot ketika menginginkan sesuatu karena tahu apa yang diinginkannya? Lalu siapakah yang kemudian mencacinya tidak sopan, ngeyelan, membentaknya agar diam, menghukumnya di pojokan? Lalu kini ada anak remaja yang sudah hampir selesai SMA tidak tahu ingin kuliah dimana, tidak tahu mau jadi apa, bahkan tidak tahu subjek apa yang disukainya?

Masih ingatkah ketika pertama kali anak memecahkan barang? Dengan jujur akan bercerita sambil berusaha membenahi. Namun amarah yang membahana menjadikan mereka berpikir, ternyata jujur itu berbahaya dan tanggungjawab tak dihargai. Hingga kemudian mereka memilih berbohong dan menyalahkan keadaan atau orang lain karena lebih menyelamatkan hati.

Masih ingatkah ketika dulu kita lelah atau sedih, tangan kecilnya menghampiri, memberi elusan cinta dan kasih sayang? Lalu siapakah yang melabel tangisnya dengan kata cengeng dan mengecilkan kesedihannya. Hingga kemudian ia tumbuh menjadi sosok yang tidak peduli kesulitan orang lain dan apatis

Anak-anak terlahir dengan modal potensi baik, tugas orang tua menjadi teladan agar potensi mewujud menjadi perilaku yang diperintahkan, menjaga agar yang sudah baik ini menjadi tetap baik bahkan lebih baik.
Namun sebagian orang tua justru merusaknya.

Tiada kata terlambat untuk memperbaiki diri, karena kelak kita akan ditanya.
Sudahkah kau genapkan ikhtiarmu wahai insan yang diamanahi?

Manusia, Ibarat Wadah Prasmanan

Ih.. aku ngga suka lho sama si itu…

Ah.. aku sudah kehilangan cinta padanya…

Dasar si fulan ya memang gitu orangnya..

Kamu memang ngga pernaaah ndengerin aku…

Kamu selaluuu begitu padaku..

Memang kamu anak sulit

Aku ini orangnya pemarah…

Aku memang begini, susah berubah, terima aja..

Emang udah dari keturunannya sial ya sial aja..

Familiar dan akrab dengan kalimat-kalimat di atas? Entah dilakukan oleh diri sendiri atau mendengar dalam kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya, Manusia, ibarat wadah prasmanan. Di dalam masing-masing wadah itu kadang tersaji emosi, perilaku, pengetahuan, persepsi, dan lain-lain. Meskipun sebagai wadah, namun manusia adalah wadah yang memiliki ruh dan diberi kemampuan akal oleh Tuhan untuk memilih sendiri isinya. Jika ada yang isinya tidak enak, bisa diganti sajian lain yang lebih enak. Jika ada yang basi, bisa dibuang lalu diisi lagi sajian yang baru.  Jika emosi yang sedang tersaji dalam wadah ternyata tidak memberdayakan, segera ganti. Jika pengetahuan dalam sajian kurang, segera ditambah. Jika persepsi tidak mencerahkan, bisa ditukar. Ada ilmunya, ada caranya, ada sendok takaran yang tepat, ada sumber yang akurat.

Isi sajian bisa berupa hidangan pokok plus sajian penunjang sesuai dengan kebutuhan dan peran yang dijalankan. Ketika berperan sebagai orang tua, pasangan dan sahabat, wadah yang paling depan bisa diisi dengan hidangan kasih sayang dan keinginan melihat hal-hal baik. Namun jika peran yang sedang dijalankan adalah Auditor tentu sajian yang diputar ke bagian depan adalah professional skepticism alias kepekaan melihat kesalahan. Apalagi kalau fungsi yang dijalankan adalah mata-mata perang, wadah yang paling depan tentu peluang untuk menyerang dan mencari kesalahan. Nah.. kepekaan dalam menentukan isi sajian ini begitu penting. Coba kalau terbalik, menyajikan wadah skepticism saat berkomunikasi dengan pasangan, beeuh perang melulu deh.. :D.. 😀

Sungguh sayang jika  wadah yang diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan ini yang hanya pasif saja, saat di luar ada lalat pembawa bakteri tidak segera menutup wadah, akhirnya sajian di dalamnya ikut terkontaminasi. Saat di luar ada taburan vitamin bergizi yang justru akan membuat rasa dan aroma sajian kita semakin sedap dan indah tidak mau membuka diri. Atau malah membiarkan wadah-wadah lain yang sudah basi menumpahkan makanan basinya ke wadah milik sendiri.

Saat manusia berinteraksi dengan manusia lain, pandang, dengar dan pikirkan ia sebagai wadah. Saat suami memandang istri, saat sahabat mendengar sahabat, saat orang tua merasakan anak, saat penonton melihat tokoh, saat penjual menghadapi pembeli, saat dalam meja perundingan, saat dalam manajemen meeting, saat membaca short message dari anak buah  dan berbagai kesempatan interaksi apapun. Yang tersaji saat itu mungkin hanya satu atau beberapa sisi wadah yang sedang menghadap ke kita.

Khusus untuk orang-orang yang kita sayangi, pasangan, orang tua, saudara, anak, sahabat, jika tersalah mereka menyajikan salah satu hidangan yang tidak anda sukai, ingatlah bahwa hanya sebagian hidangan itu saja yang perlu diperbaiki bukan keseluruhan wadah prasmanan itu menjadi buruk. Kemudian membuat generalisasi “Dasar memang anak ini nakal”, “Kamu memang suami yang tidak mengerti aku sama sekali” dan ungkapan-ungkapan lain, apakah yang terkatakan maupun yang hanya tersimpan di dalam self-talk, karena ucapan baik yang terkatakan maupun tidak, akan mempengaruhi pilihan sikap dan tindakan seseorang. Tetap sayangi dan cintai wadahnya.

Jika ingin membuat perbaikan, nyatakan dengan spesifik, hidangan mana yang perlu diperbaiki. Sebaliknya yang menerima juga perlu mengisolasi permasalahan hanya pada hidangan tertentu itu saja sehingga tidak mengeneralisasi sebuah niat baik untuk membuat perbaikan sebagai kebencian menyeluruh.

Apakah itu hanya khusus bagi yang kita sayangi? Tentu saja tidak.

Idealnya… begitulah cara kita mensikapi SEMUA manusia. Kecuali… jika memang anda punya tujuan lain misalnya mencari musuh, membuat strategi penghancuran karakter, meninggalkan cinta terlarang, terlibat dalam pertempuran politik atau hal-hal semacam itu. Generalisasi sajian menjadi keburukan seluruh wadah bisa dilakukan dengan sengaja, bahkan hidangan yang lezat bisa diplintir eh didistrorsi menjadi memuakkan. Jika itu dilakukan dalam koridor profesi maka akan dengan mudah mengembalikan ke persepsi awal, tetapi malangnya yang saat ini terjadi, manusia melakukan generalisasi dan distorsi tanpa sadar entah karena kurangnya ilmu atau terseret arus media

Tentukan dan desainlah peran dan tujuan hidup kita di dunia, laksana mendesain sebuah tema jamuan, maka akan dengan mudah kita tentukan, sajian apa saja yang perlu kita hidangkan dan bersama wadah yang berisi sajian apakah kita akan berkumpul. Agar kelak saat tugas kita sebagai wadah telah berakhir, akal telah tak difungsikan, ruh telah memantaskan diri untuk dikembalikanNya ke tempat yang indah.

 

Optimalkan Masa Perkembangan 6-12 tahun

Video Explainer courtesy of Mohammad Windy

 

 

 

Hadir Di Jogja,The Secret of Enlightening Parenting Training

Flyer Training_TSOEP_Yogya

Akhirnya kini ada sekolah jadi orang tua…

Mau tahu cara menyuruh anak tanpa anak merasa disuruh?
Mau tahu trik pagi hari Anda terasa tenang dan damai tanpa muncul tanduk di kepala?
Yakinkah Anda bahwa selama ini telah benar mengasuh anak dan tidak ada yang keliru?
Tahukah Anda perasaan anak saat dibully?
Mampukah Anda menghilangkan trauma yang membekas pada anak secara efektif?

Apakah anda sudah memahami cara kerja otak dan mengoptimalkannya?

Inginkah anda mengetahui rahasia memiliki anak yang cinta beribadah?
Tahukah Anda bahwa anak pandai membuat keputusan dan memotivasi diri?
Dan masih banyak lagi problem yg muncul dalam mengasuh dan mendidik anak.
Belum lagi permasalahan narkoba, game addictive dan pornografi, aliran-aliran sesat dan lainnya yang merupakan tantangan di jaman sekarang.

Nah, mari temukan jawaban semua pertanyaan di atas secara efektif dan pahami cara menangkal berbagai tantangan jaman.

“The Secret of Enlightening Parenting”
Hotel Jogjakarta Plaza
Yogyakarta, 26-27 Maret 2016

Untuk pendaftaran, hubungi:
Ibu Rina Mulyati
Telp./WA No. +628112570039

Sdri. Dini Swastiana
Telp./WA No. +62811910273

Form online:

E-mail: enlighten_empower@yahoo.com

Salah satu Testimoni peserta training sebelumnya

Dodi Kusmajadi

Alhamdulilah……

Perasaan tenang dan lebih percaya diri itu ternyata masih tetap mengendap di dada ini. Padahal, pelatihan parenting yang digelar Mbak Okina Fitriani dkk di Jakarta Sabtu dan Minggu kemarin, telah terpisah dua hari. Perasaan yang membuncah di dada ini membuat saya yakin bahwa persoalan-persoalan mendidik dan berkomunikasi kepada anak maupun istri bisa ditangani lebih baik daripada sebelumnya.

Pelatihan parenting ini memang sangat bermanfaat bagi saya. Dampak atau hasilnya tidak hanya terasa pada tataran pengetahuan atau pemikiran, tetapi juga terasa “jleb” di dada ini.
Mengapa demikian? Sebab, percaya atau tidak, ilmu serta pemahaman baru tentang parenting dan pengendalian emosi tersebut ditanamkan ke alam bawah sadar saya. Alhasil, ajaib, emosi saya pun bisa lebih terkontrol dan berpikir lebih jernih ketika berhadapan langsung dengan persoalan di rumah.

Bayangkan, secara otomatis, tips dan trik yang dipelajari saat pelatihan dapat dipraktikkan dengan hasil di luar dugaan. Saya sudah membuktikannya Senin kemarin ketika anak saya berkeluh kesah tentang van sekolah dan kawan-kawannya. Dengan teknik reorienting dan pengakuan, emosi anak tersalurkan, ayahnya juga bisa menyimak keluhan anak dengan lebih sabar. Bahkan anak saya bisa menemukan solusinya sendiri. Alhamdulilah. Sebelumnya? Yaa….gitu deh.

Saya bersyukur dengan perubahan ini. Saya pun berharap dan berdoa, kondisi ini bisa dipertahankan selamanya. Amin.

 

Best Seller : The Secret of Enlightening Parenting

Mengasuh Pribadi Tanggung

Menjelang Generasi Gemilang

Alhamdulilah, Praise to Allah..  Terimakasih kepada para pembaca, reviewer dan seluruh penulis, hingga buku ini dicetak ulang dan menjadi National Best Seller..

Di dalam buku ini Anda akan menemukan dua bagian utama dan epilog. Bagian Pertama menyajikan konsep dasar yang memberikan gambaran menyeluruh mengenai prinsip-prinsip pengasuhan, metode beserta teknik. Sementara itu, Bagian Kedua berisi kumpulan kisah inspiratif yang berupa penga- laman praktik para penulis beserta hasilnya. Para pemilik kisah inspiratif ini adalah ayah dan ibu tangguh yang tersebar di tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Australia. Jika pada buku-buku parenting lainnya Anda disuguhi teori-teori ideal

Mengasuh Pribadi Tangguh, Menjelang Generasi Gemilang xiii

yang membuat Anda terpuruk dalam rasa bersalah, buku ini tidak demikian. Buku ini tidak berhenti pada teori saja tetapi juga menawarkan solusi yang gamblang dan mudah ditiru.

Buku ini lahir dari kepedulian para peserta training Enlightened & Empowered Parents terhadap permasalahan pengasuhan anak. Para penulis kisah inspiratif yang merupa- kan jantung buku ini membagikan pengalaman mereka serta menjadi saksi bahwa berubah itu mudah, dan mereka telah menuai hasil dari perubahan itu. Tuhan tidak menyia-nyiakan usaha hamba-Nya.

Dasar utama penulisan buku ini adalah Al-Qur’an, hadits, dan surah, dengan memadukan Psikologi Perkembangan dan teknik-teknik Neuro Linguistic Programming (NLP) sebagai tools. NLP adalah ilmu yang mempelajari kerja pikiran sadar dan bawah sadar, serta mempelajari bagaimana linguistik me- mengaruhi kerja syaraf untuk membentuk program-program bawah sadar yang menghasilkan perilaku. Jika selama ini NLP menjadi bidang kajian eksklusif dan mahal di bidang leader­ ships, yang hanya dimiliki selebritas dunia, pemimpin negara dan perusahaan, olahragawan kelas dunia, psikolog dan pakar- pakar komunikasi, maka dalam buku ini, NLP disajikan dalam bahasa yang sederhana dan aplikatif dalam ruang lingkup parenting.

AGAR ANAK TIDAK BERBOHONG

Kebiasaan berbohong  sangat berbahaya dan menjadi pintu masuk bagi berbagai keburukan dan perilaku kejahatan. Demikian pula kerusakan moral beberapa pemimpin saat ini yang tidak malu terlibat korupsi juga bermula dari ketidakjujuran. Hal ini juga diungkapkan dalam hadist Rasulullah SAW berikut ini :

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa kepada kejelekan, dan kejelekan itu menghantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa bohong hingga Allah mencatatnya sebagai seorang pembohong.” (HR. Bukhari Muslim)

Anak adalah peniru ulang, perilaku berbohong adalah sesuatu yang dipelajari, kemudian diyakini memberi manfaat bagi dirinya. Tidak ada anak yang dilahirkan menjadi pembohong karena anak lahir fitrah dengan potensi baik.  Maka mari kita evaluasi diri dan cara pengasuhan kita, yang telah menjadikan anak mengembangkan kebiasaan berbohong.

 Ada beberapa penyebab perilaku berbohong, tiap penyebab ini bisa jadi berinteraksi satu dengan yang lainnya :

  1.  Mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya

 Anak meniru segala hal yang dilakukan oleh orang tua atau orang-orang dewasa di sekitarnya, termasuk berbohong. Disadari atau tidak, orang tua seringkali memberikan contoh perilaku bohong dalam kehidupan sehari-hari seperti contoh-contoh berikut ini :

  •  Bercanda dengan cara berbohong. Menggoda anak dengan kata-kata, “Nak.. nak itu lihat ada cicak di atas!” hanya sekedar untuk mengalihkan perhatiannya, padahal tidak ada. Hal-hal seperti ini diperingatkan dengan keras oleh Rasulullah SAW sebagai berikut. “Celakalah orang yang berbicara, padahal ia berbohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Banyak orang tua yang tidak menyadari ini.
  • Menyuruh anak mengatakan ayah/ibu tidak ada di rumah kepada tamu atau ketika ada yang menelpon padahal ada.
  • Mengatakan bahwa ayah pergi ke dokter supaya anak tidak mau ikut, padahal ayah pergi ke tempat lain
  • Berjanji tetapi tidak ditepati. Berjanji mengajak anak ke suatu tempat tetapi kemudian tidak ditepati dengan alasan sibuk atau megatakan bahwa anda tidak akan pergi karena takut anak menangis ketika anda tinggal pergi, tetapi kemudian ketika ia asyik bermain, anda diam-diam pergi. Lebih baik anak menangis melihat anda pergi dan belajar mengatasi rasa sedih daripada dibohongi.
  • Mengancam tetapi tidak dilakukan. Ini perilaku yang sangat berbahaya, karena selain mengajarkan kebohongan juga mengajarkan bahwa aturan boleh seenaknya dilanggar. Misalnya karena anak sering bermain gadget lalu anda mengatakan “Awas ya kalau main lagi, nanti ayah buang gadget itu, tetapi ketika ia memainkannya lagi, anda tidak membuangnya.” Maka pikirkan sungguh-sungguh sebelum anda mengucapkan sesuatu.
  • Mengancam dengan menggunakan nama Allah. “Awas ya nanti kamu masuk neraka! Allah marah sama kamu!” Anak mempersepsi Allah menyeramkan seperti orang tuanya yang suka marah-marah dan menghukum. Padahal tidak ada anak kecil yang masuk neraka karena belum dihitung dosanya.

Jika ada salah satu atau bahkan beberapa hal yang anda lakukan seperti di atas maka jangan heran jika anak juga berbohong.

  1. Pernah Dihukum ketika ia mengakui kesalahannya

Anak-anak suka bermain dan belum mengerti resiko karena kemampuan berpikir abstraknya belum berkembang. Barangkali dia pernah berlari-lari di rumah dan memecahkan barang di rumah anda dan ketika ia datang menceritakannya. “Ayah/Ibu aku tadi mecahin vas bunga ibu.” Anda marah dan menghukumnya. Maka sejak itulah anak meyakini bahwa jujur itu berbahaya bagi dirinya.

  1. Menghindari sesuatu yang tidak disukainya

Barangkali anak pernah anak tidak menyukai sesuatu, misalnya tidak menyukai sekolahnya, maka biasanya akan timbul ketegangan yang menyebabkan perutnya merasa tidak nyaman. Lalu ketika ia mengatakan “Ayah/Ibu, aku sakit perut”, maka anda berhenti mencari tahu masalah sakit perutnya dan memperbolehkannya tidak sekolah. Maka anak belajar bahwa mengaku sakit bisa menghindarkannya dari hal yang tidak disukainya. Adalah sangat penting untuk memahami rasa sakit yang muncul dengan tiba-tiba karena masalah psikologis. Biasakan anak menghadapi dan mengatasi ketakutannya secara aman karena dia yakin akan ada ayahibu tang bijak yang membantunya dan ada Allah yang memberi tuntunan. Hal ini nanti bisa dibahas di kesempatan lain karena cukup panjang bahasannya.

  1. Anak terlalu sering dikritik dan dibanding-bandingkan

Anak yang dinilai dari hasil akhir dan bukan usahanya akan cenderung berbohong soal pencapaian, bahkan tidak segan untuk mencontek.

“Ah masa begini aja ngga bisa. Lihat tuh si A, nilainya bagus-bagus”

“Duh kamu ini udah mahal-mahal les kok hasilnya masih seperti ini”

 Anak-anak yang terlalu sering mendapatkan kritikan dari orang tuanya, akhirnya menjadi haus pujian. Mereka akan melakukan segala cara untuk membuat orang tuanya mau memujinya. Salah satunya adalah berbohong. Dengan berbohong, mereka beranggapan bahwa mereka bisa menyelamatkan diri dari “omelan ” dan akan mendapatkan “pujian”.

  1. Ingin diterima oleh lingkungan dan teman-temannya

 Anak-anak yang jarang dipuji di rumah akan mencari pujian dari tempat lain terutama teman-temannya. Ia ingin dianggap hebat. Pada umumnya mereka berbohong soal prestasi, kekayaan atau status sosialnya.

  1. Perhatikan tontonan dan bacaan anak.

Tontonan dan bacaan kisah monster, hantu, dan hal-hal yang tidak ada dalam kehidupan nyata menjadikan kemampuan anak membedakan hal yang nyata dan imaginatif menjadi semakin lambat untuk matang. Perlu dipahami oleh orang tua bahwa hal gaib seperti jin tidak sama dengan hantu atau monster. Lebih baik anak-anak berinteraksi dengan manusia, bermain dengan kegiatan fisik daripada menghabiskan waktunya menonton film-film kartun.

Lalu bagaimana mendidik anak agar jujur?

Tentu yang paling utama adalah menghilangkan penyebapenyebab yang telah disebutkan di atas tadi. Lalu kemudian secara konsisten dan kongruen melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Jadilah teladan dalam hal kejujuran. Anak mungkin salah mendengar nasehat anda tetapi anak tidak pernah salah dalam meniru. Ubahlah diri sendiri sebelum menuntut perubahan pada perilaku anak. Selama anada masih melakukan kebohongan-kebohongan yang ditiru anak, maka perilaku berbohong itu akan terus terjadi.
  2. Hargai dan apresiasi anak ketika jujur mengakui kesalahan. Misalnya ketika ia berlari dan memecahkan vas mahal anda, katakan. “Ayah menghargai kejujuran kamu, terimakasih sudah jujur. Nah menurutmu bagaimana caranya agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi?” Anak akan menasehati dirinya sendiri misalnya dengan mengatakan “Aku besok lebih hati-hati kalau lari”. Puji idenya lalu berikan ide-ide lain misalnya, dimana tempat yang lebih aman untuk berlari, atau pindahkan barang-barang berharga anda, karena kemampuan anak mengendalikan diri belum matang seperti pada orang dewasa.
  3. Biasakan membahas apa yang disukai dan tidak disukai anak. Jangan sepelekan ketakutannya. Lakukan parental coaching agar anak mampu menghadapi hal-hal yang tidak disukainya. Karena kelak kecerdasan emosi dalam mengendalikan dan menghadapi hal-hal yang tidak disukai sangat penting ketika dewasa. Bukankah banyak perintah, larangan dan peristiwa dalam hidup yang mungkin tidak disukainya kelak? Kemampuan pengasuhan seperti ini harus dilakukan dan dilatih, jauh lebih efektif jika dilakukan di dalam kelas pelatihan daripada sekedar membaca buku. Bapak bisa menghubungi redaksi untuk mendapatkan jadwal pelatihan kami.
  4. Jangan membanding-bandingkan anak. Setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda dan kecepatan belajar yang berbeda pula. Maka lebih baik mendorong anak untuk melakukan lebih baik dari apa yang pernah dia lakukan sebelumnya, sehingga ukurannya adalah kemampuan dirinya sendiri.
  5. Puji perilaku baik anak. Pujilah perilakunya bukan orangnya. Memuji dengan mengatakan “Kamu pintar” “Wah hebat deh kamu” adalah cara yang salah. Katakan dengan tepat perilakunya “Wah, hari ini kamu menata meja belajarmu, alhamdulillah, terimakasih ya nak”. Pujian yang tepat akan mendorong perilaku yang sama untuk diulang kembali. Anak yang mendapatkan apresiasi di rumah tidak haus pujian dan tidak merasa perlu berbohong untuk sekedar diterima oleh teman-temannya.

 Sebagaimana orang dewasa, anak-anak sekali waktu, mungkin melakukan kesalahan. Maka bantulah mereka untuk memperbaiki kesalahan tersebut dan percayakan bahwa mereka belajar dari kesalahan tersebut.

Anak-anak yang mendapatkan kepercayaan dan merasa dipercaya, pada akhirnya akan belajar untuk menjaga kepercayaan tersebut dan mau belajar untuk senantiasa jujur dalam perbuatan dan perkataan.

 Mencerdaskan intelegensi anak dan menjaga kesehatan fisik anak, jauh lebih mudah daripada mencerdaskan moral dan menjaga kesehatan mental anak. Menjadi orang tua bukanlah kemampuan otomatis, tetapi harus dengan sungguh-sungguh dipelajari. Jangankan mendidik anak. Menyetrika baju saja ada ilmunya. Oleh karena itu, ayah dan ibu perlu terus belajar karena tantangan jaman semakin hari semakin berkembang.

The Secret of Enlightening Parenting Training

Mengasuh anak di zaman sekarang, dapat dipastikan, jauh lebih berat ketimbang orang tua 10-20 tahun lalu.Tantangannya sangat banyak, mulai dari tontonan televisi, berita di media massa, gajet, pornografi, hingga ancaman narkoba yang siap menerkam
Maraknya kasus bullying dan kekerasan pada anakmenimbulkan trauma baik dari tingkat ringan maupunberat
Lebih-lebih berita-berita di media sosial yang sekarang ini sudah banyak terlepas dari rambu-rambu kebenaran, penuh prasangka dan mengedepankan perselisihan memberikan nilai-nilai negatif yang tidak hanya mempengaruhi remaja tetapi juga orang dewasa.
Kondisi ini membuat seluruh orang tua di zaman sekarangharus memiliki berbagai kemampuan baru diantaranya
1. menanamkan nilai-nilai yang menjadi filter dan melekat hingga ke bawah sadar anak.

2. penguasaan teknik-teknik mengatasi trauma. Kemampuan yang praktikal untuk pertolongan pertama ketika anak mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, sebelum mencari bantuan professional.

3. kemampuan mencabut keyakinan dan nilai-nilai negatif yang terlanjur masuk dalam pikiran anak.

“Jika dulu banyak orang lebih peduli pada kesehatan fisik, maka kini sudah saatnya kita lebih peduli kepada kesehatan mental, yang efeknya tidak hanya di level dunia, tetapi juga menjaga fitrah mereka ketika kembali kepada pemilikNya

 

Akhirnya… Kini sudah ada sekolah jadi orang tua..

Ciptakan suasana rumah laksana surga.
Miliki kemampuan menanamkan nilai-nilai positif langsung ke bawah sadar agar dapat diingat seumur hidup. Menkoreksi dan mencabut hal-hal negatif akibat dari pengaruh kesalahan pengasuhan dimasa lalu, berkomunikasi efektif, memberi pertolongan pertama pada kasus trauma, bullying dan perasaan negatif yang dialami orang-orang yang anda cintai serta mempelajari lebih dalam apa yang tertulis dalam buku kami :

:: The Secret of ENLIGHTENING PARENTING ::

📆 16-17 Januari 2016
🏨 Hotel Harris, Kelapa Gading – Kelapa Gading Mall, Jakarta

Daftar sekarang selagi masih ada diskon :
WA : +62 811 910273
Telpon : +62 812 7841889
Email : enlightening.parenting@gmail.com

Silahkan mengisi form di bawah ini
https://enlightening.typeform.com/to/kaEv5r

Investasi
2.500.000
Pasangan suami istri : 4.500.000

EB Diskon 10% hingga 15 Desember 2015

Transfer ke Hardini Swastiana
BCA : 0281899359
Mandiri : 1030005417619

 

Parenting

Enlighten & Empower Parenting

Seringkali tiba-tiba orang tua terkejut, anaknya selalu punya masalah di sekolah, entah dibully, tidak konsentrasi belajar, bahkan ketika SMA tidak tahu mau kuliah dimana, akhirnya ikut-ikutan teman kemana temannya kuliah, lalu di tengah jalan menyerah, pindah kuliah, berapa biaya sudah terbuang?
Tidak sedikit pula anak-anak yang hobi ngambeg, tidak fleksibel ketika diajak beraktifitas bersama orang lain, merangkak di kolong meja restoran, menganggu pengunjung lain.
Belum lagi anak/remaja yang sulit sekali diajak beraktifitas positif, belajar agama, membaca buku, mempelajari kitab suci tapi sanggup berjam-jam bermain console game bahkan melayari situs-situs tak pantas
Adapula yang terkejut bahwa sikap anaknya membangkang dan kasar di rumah tetapi rendah diri jika harus tampil dan beraktifitas di luar rumah..

Ah.. Paling juga isinya cuma ditakut-takuti, hanya berhenti dibuat merasa bersalah dan teori.. InsyaaAllah para alumni yang telah secara konsisten mempraktekkannya telah menuliskan hasilnya dalam sebuah buku yang royaltinya 100% diserahkan untuk membantu pendidikan di bumi pertiwi..

Berapa banyak waktu yang terbuang dan emosi yang terkuras untuk memikirkan itu semua?