Anak Peniru Ulung

Mbak Eka Mardila adalah salah satu alumni Enlightening Parenting yang sekarang ini menjadi salah satu tim sharing.
Beliau berkisah tentang perubahan pengasuhannya dari yang dulunya bentak-bentak, kadang melakukan tindakan fisik yang akhirnya ditiru oleh putrinya. Saat ini mbak Eka yang account instagram nya bernama @ekalucu banyak menginspirasi parents lain.

Edisi Revisi : The Secret of Enlightening Parenting

Print

 

Alhamdulillah, setelah cetakan sebelumnya sold out dan menjadi national best seller, kini hadir edisi revisi dari buku kami.

Apa saja perubahannya?

  • Materi dan teorinya bertambah 30%
  • Kisah-kisah inspiratifnya bertambah 6 kisah
  • Keterlibatan para ayah sebagai penulis semakin meningkat
  • Semakin mudah diaplikasikan dan terbukti efektif membuat perubahan yang lebih baik
  • Harga lebih terjangkau
  • Telah dilengkapi dengan buku Suplemen : A Parent’s Diary, Anakku Tamu Istimewa

MEMPERSIAPKAN ANAK KE MASJID

Ramadhan segera tiba, mungkin akan muncul lagi diskusi soal masjid ramah anak dan bagaimana membawa anak ke masjid, si anak yang harus tertib atau seluruh jamaah yang harus maklum.
Mengakrabkan anak terutama anak lelaki dengan masjid memang sangat penting, tetapi tentu ada caranya, ada adabnya, bukan sekedar modal..

” Ah.. nanti juga ngerti sendiri, namanya juga anak-anak.”

Bagi anak-anak, pergi ke masjid, pergi ke supermarket, pergi ke arisan keluarga atau ke tempat manapun dimana dia diharapkan berperilaku tertentu, sama menegangkannya seperti anda mau tampil di depan Gubernur.

Jika anda akan tampil paduan suara di depan Gubernur, kira-kira perlu berapa kali latihan? Ada gladi kotor? Gladi bersih?
Anak-anak bukan orang dewasa yang dikecilkan, maka ia perlu berlatih menghadapi situasi baru.

Bagaimana caranya? Mari optimalkan ikhtiar di pihak kita, bukan mengharapkan semua orang berubah sesuai maunya kita.
1. Lakukan briefing : Apa yang harus dilakukan di masjid, berapa lama waktunya (bawa timer digital jika sudah mulai mengenalkan tentang waktu), apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang boleh ia bawa jika ternyata sholat belum selesai dan ia lelah
2. Lakukan role playing di rumah : lakukan beberapa skenario, suasana ketika sedang sholat, suasana jika ada khutbah, anda berperan sebagai ortu, sebagai jamaah lain (jamaah ramah, jamaah galak, dll)
3. Mulailah dari waktu sholat yang pendek. misalnya sholat subuh atau maghrib (jangan tiba-tiba diajak tarawih yang waktunya panjang). Evaluasi hasilnya, mana yang perlu diperbaiki dan dilatih lagi
4. Ingat bahwa rentang perhatian anak masih terbatas, bagi anak balita mampu bertahan dalam kegiatan yang sama 20 menit itu sudah prestasi gemilang. mendekati 7 tahun hingga 10 tahun, maksimal 40 menit itu sudah luar biasaaa.. apalagi jika kegiatan itu dianggap kurang menarik
5. Tempatkan anak di posisi dekat dinding sebelah anda agar jika ia meninggalkan shaf tidak membuat shaf anda terputus
6. Secara sopan minta ijin dan minta maaf terlebih dahulu kepada jamaah di sekeliling anda jika nanti ada kondisi yang mungkin tidak mereka sukai (ini sekaligus menjadi contoh bagi anak tentang sopan santun dengan menghormati hak orang lain).
Semua persiapan ini sangat penting bukan sekedar agar orang lain tidak terganggu, tetapi juga mencegah anak mengalami perlakukan tidak menyenangkan di tempat yang seharusnya kelak ia cintai ini. Karena pengalama traumatis di usia dini, membekas cukup panjang dan dalam. Mungkin anak tidak ingat peristiwanya tetapi bisa jadi masjid menjadi anchor perasaan tidak nyaman bagi anak,
Usia berapa sebaiknya dimulai? Sejak anak sudah bisa memahami briefing dan role playing sederhana. Setiap anak berbeda-beda, ada anak salah satu alumni kelas kami yang usianya baru 1.5 tahun sudah faham, ada yang 4 tahun, ada yang 7 tahun, tergantung pola komunikasi dan kebiasaan di rumah anda. Anak yang memiliki kedekatan yang baik dan biasa diperlakukan respectful insyaaAllah memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik.
Jika dirasa bermanfaat silahkan dibagikan

 

Hadir Di Jogja,The Secret of Enlightening Parenting Training

Flyer Training_TSOEP_Yogya

Akhirnya kini ada sekolah jadi orang tua…

Mau tahu cara menyuruh anak tanpa anak merasa disuruh?
Mau tahu trik pagi hari Anda terasa tenang dan damai tanpa muncul tanduk di kepala?
Yakinkah Anda bahwa selama ini telah benar mengasuh anak dan tidak ada yang keliru?
Tahukah Anda perasaan anak saat dibully?
Mampukah Anda menghilangkan trauma yang membekas pada anak secara efektif?

Apakah anda sudah memahami cara kerja otak dan mengoptimalkannya?

Inginkah anda mengetahui rahasia memiliki anak yang cinta beribadah?
Tahukah Anda bahwa anak pandai membuat keputusan dan memotivasi diri?
Dan masih banyak lagi problem yg muncul dalam mengasuh dan mendidik anak.
Belum lagi permasalahan narkoba, game addictive dan pornografi, aliran-aliran sesat dan lainnya yang merupakan tantangan di jaman sekarang.

Nah, mari temukan jawaban semua pertanyaan di atas secara efektif dan pahami cara menangkal berbagai tantangan jaman.

“The Secret of Enlightening Parenting”
Hotel Jogjakarta Plaza
Yogyakarta, 26-27 Maret 2016

Untuk pendaftaran, hubungi:
Ibu Rina Mulyati
Telp./WA No. +628112570039

Sdri. Dini Swastiana
Telp./WA No. +62811910273

Form online:
https://enlightening.typeform.com/to/N3Hzhe

E-mail: enlighten_empower@yahoo.com

Salah satu Testimoni peserta training sebelumnya

Dodi Kusmajadi

Alhamdulilah……

Perasaan tenang dan lebih percaya diri itu ternyata masih tetap mengendap di dada ini. Padahal, pelatihan parenting yang digelar Mbak Okina Fitriani dkk di Jakarta Sabtu dan Minggu kemarin, telah terpisah dua hari. Perasaan yang membuncah di dada ini membuat saya yakin bahwa persoalan-persoalan mendidik dan berkomunikasi kepada anak maupun istri bisa ditangani lebih baik daripada sebelumnya.

Pelatihan parenting ini memang sangat bermanfaat bagi saya. Dampak atau hasilnya tidak hanya terasa pada tataran pengetahuan atau pemikiran, tetapi juga terasa “jleb” di dada ini.
Mengapa demikian? Sebab, percaya atau tidak, ilmu serta pemahaman baru tentang parenting dan pengendalian emosi tersebut ditanamkan ke alam bawah sadar saya. Alhasil, ajaib, emosi saya pun bisa lebih terkontrol dan berpikir lebih jernih ketika berhadapan langsung dengan persoalan di rumah.

Bayangkan, secara otomatis, tips dan trik yang dipelajari saat pelatihan dapat dipraktikkan dengan hasil di luar dugaan. Saya sudah membuktikannya Senin kemarin ketika anak saya berkeluh kesah tentang van sekolah dan kawan-kawannya. Dengan teknik reorienting dan pengakuan, emosi anak tersalurkan, ayahnya juga bisa menyimak keluhan anak dengan lebih sabar. Bahkan anak saya bisa menemukan solusinya sendiri. Alhamdulilah. Sebelumnya? Yaa….gitu deh.

Saya bersyukur dengan perubahan ini. Saya pun berharap dan berdoa, kondisi ini bisa dipertahankan selamanya. Amin.

 

Best Seller : The Secret of Enlightening Parenting

Mengasuh Pribadi Tanggung

Menjelang Generasi Gemilang

Alhamdulilah, Praise to Allah..  Terimakasih kepada para pembaca, reviewer dan seluruh penulis, hingga buku ini dicetak ulang dan menjadi National Best Seller..

Di dalam buku ini Anda akan menemukan dua bagian utama dan epilog. Bagian Pertama menyajikan konsep dasar yang memberikan gambaran menyeluruh mengenai prinsip-prinsip pengasuhan, metode beserta teknik. Sementara itu, Bagian Kedua berisi kumpulan kisah inspiratif yang berupa penga- laman praktik para penulis beserta hasilnya. Para pemilik kisah inspiratif ini adalah ayah dan ibu tangguh yang tersebar di tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Australia. Jika pada buku-buku parenting lainnya Anda disuguhi teori-teori ideal

Mengasuh Pribadi Tangguh, Menjelang Generasi Gemilang xiii

yang membuat Anda terpuruk dalam rasa bersalah, buku ini tidak demikian. Buku ini tidak berhenti pada teori saja tetapi juga menawarkan solusi yang gamblang dan mudah ditiru.

Buku ini lahir dari kepedulian para peserta training Enlightened & Empowered Parents terhadap permasalahan pengasuhan anak. Para penulis kisah inspiratif yang merupa- kan jantung buku ini membagikan pengalaman mereka serta menjadi saksi bahwa berubah itu mudah, dan mereka telah menuai hasil dari perubahan itu. Tuhan tidak menyia-nyiakan usaha hamba-Nya.

Dasar utama penulisan buku ini adalah Al-Qur’an, hadits, dan surah, dengan memadukan Psikologi Perkembangan dan teknik-teknik Neuro Linguistic Programming (NLP) sebagai tools. NLP adalah ilmu yang mempelajari kerja pikiran sadar dan bawah sadar, serta mempelajari bagaimana linguistik me- mengaruhi kerja syaraf untuk membentuk program-program bawah sadar yang menghasilkan perilaku. Jika selama ini NLP menjadi bidang kajian eksklusif dan mahal di bidang leader­ ships, yang hanya dimiliki selebritas dunia, pemimpin negara dan perusahaan, olahragawan kelas dunia, psikolog dan pakar- pakar komunikasi, maka dalam buku ini, NLP disajikan dalam bahasa yang sederhana dan aplikatif dalam ruang lingkup parenting.

Enlighten & Empower Parenting

Seringkali tiba-tiba orang tua terkejut, anaknya selalu punya masalah di sekolah, entah dibully, tidak konsentrasi belajar, bahkan ketika SMA tidak tahu mau kuliah dimana, akhirnya ikut-ikutan teman kemana temannya kuliah, lalu di tengah jalan menyerah, pindah kuliah, berapa biaya sudah terbuang?
Tidak sedikit pula anak-anak yang hobi ngambeg, tidak fleksibel ketika diajak beraktifitas bersama orang lain, merangkak di kolong meja restoran, menganggu pengunjung lain.
Belum lagi anak/remaja yang sulit sekali diajak beraktifitas positif, belajar agama, membaca buku, mempelajari kitab suci tapi sanggup berjam-jam bermain console game bahkan melayari situs-situs tak pantas
Adapula yang terkejut bahwa sikap anaknya membangkang dan kasar di rumah tetapi rendah diri jika harus tampil dan beraktifitas di luar rumah..

Ah.. Paling juga isinya cuma ditakut-takuti, hanya berhenti dibuat merasa bersalah dan teori.. InsyaaAllah para alumni yang telah secara konsisten mempraktekkannya telah menuliskan hasilnya dalam sebuah buku yang royaltinya 100% diserahkan untuk membantu pendidikan di bumi pertiwi..

Berapa banyak waktu yang terbuang dan emosi yang terkuras untuk memikirkan itu semua?
 

The Secret of Self Improvement – Detoks Hati dan Pikiran

The Secret of Self Improvment_C-1+4

Untuk pertama kalinya di Indonesia, buku pemberdayaan diri didesain dan disajikan dalam konsep terapan yang jujur dan simpel agar mudah dimodel, dimodifikasi dan dilakukan ulang para pembaca. Lengkap dengan contoh-contoh masalah, mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks yang mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui buku ini para penulis telah membuktikan bahwa membuat perubahan itu mudah, proses parenting bisa dilakukan tanpa pening dan memperbaiki diri itu tidak perlu menunggu ahli. Bahkan, para penulis sudah membuktikan bahwa berproses secara lentur namun drastis, justru membuat hidup menjadi lebih nyaman dan membahagiakan. Maka, berhati-hatilah, buku ini bisa jadi akan membuat Anda penasaran dan ketagihan untuk segera mempraktikkannya serta menemukan betapa menakjubkannya rahasia-rahasia Self Improvement yang sesungguhnya telah disediakan Tuhan untuk anda

Parenting Quotes

parenting quotes

Beberapa kali saya dianjurkan untuk mengkoleksi status-status  saya di facebook mengenai parenting. Meskipun belum semuanya, berikut ini beberapa koleksi yang sempat saya jejaki..

—————

Jika anda menyuruh anak tidak berteriak-teriak dengan suara menjerit, anda sedang mengajarkan apa?

Jika anda meminta anak bersabar dengan nada gertakan “sabar dong ahhh”, anda sedang mencontohkan apa?

Jika anda menasehati anak untuk pantang mengeluh sambil berkata “sampai capek mama/papa menasehati kamu”, anda sedang mengajarkan apa?

Jika anda menginginkan anak untuk patuh sedang saran dari pasangan anda bantah melulu, anda sedang membentuk anak jadi seperti apa?

Banyak orang tua ingin anaknya sempurna, sementara dirinya lupa berkaca…

—————

Orang tua kadang mengira bahwa anak-anaknya numpang hidup pada mereka..,

“Ayah sudah pontang-panting cari uang untuk menyekolahkanmu..”

“Kamu sudah diberi fasilitas yang bagus, kok belajarnya cuma begitu-begitu saja..”

Yakinkah kita bahwa rizki yang dititipkan pada kita memang ditujukan pada diri kita dan hasil kerja keras kita? Jangan-jangan rizki itu dititipkanNya karena anak-anak itu lahir di rumah kita.

Jangan-jangan kitalah yang “numpang hidup” dari rizki anak-anak kita…

—————

Dalam kelas parenting saya sering ditanya cara cespleng, manjur dan instant agar anak disiplin, patuh, rajin belajar, rajin ibadah dll..

Kadang kita mengira manusia seperti gadget yang ada tombol on – off untuk dinyalakan dan dihentikan.

Apakah jika anda sudah mengajarkan dengan benar, berkomunikasi dengan konsisten ala hypnotic language pattern yang super keren dan menjadi contoh yang dapat dimodel pasti hasilnya seperti yang anda inginkan? Tidak juga.

Waduuuh…

Seringkali kita lupa bahwa jiwa-jiwa mereka ada dalam genggamanNya.Wah kalau begitu saya cukup berdo’a saja ya.

Belum tentu juga..

Waduuuh…

Karena kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diamanahkan pada kita dan apa yang kita pimpin.

Susah ya? Masa siih…

Bukankah tugas kita adalah ikhlas menyempurnakan ikhtiar dan memohon ridho dan pertolonganNya?

Lalu perlu tidak belajar parenting? Itu pertanyaannya sama dengan, perlu tidak belajar untuk sukses? Perlu tidak ke dokter saat sakit? Perlu tidak bekerja untuk mendapatkan rizki?

(semoga saya tidak dimarahi para trainer yang menjanjikan teknik cespleng, dan tidak juga dimarahi golongan yang sebaliknya… punteen)

—————

Ilmu leadership dan ilmu parenting itu prinsipnya sama, bedanya hanya usia orang yang anda hadapi dan tingkat kekerenan istilah-istilahnya.

Mana yang lebih challenging? Parenting.

Mengapa?

Karena yang satu anak sendiri yang satu lagi anak orang lain, yang efek kerusakan atas kesalahan anda memimpin tidak anda hadapi seumur hidup

—————

Allah tidak pernah menciptakan produk gagal. Jika suatu fungsi dikurangkan, maka akan dilebihkan fungsi yang lain. Tinggal apakah manusia mau berusaha memaksimalkan fungsi-fungsinya.

Beberapa waktu belakangan ini saya mendapat laporan teman-teman yang berhasil terlepas dari berbagai phobia, kebencian, ketergantungan dan pola hidup yang tidak bermanfaat dengan mengoptimalkan fungsi pikiran dan tubuh.

MasyaAllah… Alhamdulillah.

—————

Manusia lahir itu naturally sudah kreatif dan bersemangat juang, perhatikan bagaimana bayi dan batita lahir, belajar berjalan, mengeksplore diri dan mainannya, serta ngotot untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Kecuali ada kelemahan fisik bawaan misalnya pada jantung dan fungsi muscular. Ketika semakin besar kreatifitas dan semangat juang itu memudar, itu karena orang-orang yang mengasuh dan mendidiknya “membunuh” kreatifitas dan semangatnya. Maka bukan kursus untuk melatih kreatifitas yang diperlukan anak tapi kursus para ortu dan pendidik untuk berhenti menjadi “pembunuh”

—————

Dulu dan sekarang, dikombinasikan secara matang….

Anak-anak jaman dahulu kebanyakan diajarkan untuk mendahulukan orang tua (biasanya ayah) terutama saat makan atau mengambil lauk.

Kebiasaan ini kemudian dituding menjadi penyebab anak-anak menjadi rendah diri, tidak berani berpendapat dll

Orang tua jaman sekarang dengan alasan bahwa anak memerlukan gizi lebih baik maka membiarkan anak mengambil lauk apa saja di meja dan orang tuanya berperan menjadi truk sampahnya.

Kebiasaan ini kemudian juga disinyalir membuat anak-anak menjadi nranyak dan sulit mendengar nasehat.

Nah lo… Trus bagaimana…?

Coba kalau dikombinasikan begini :

Anak-anak diajarkan untuk mendahulukan yang tua, “Silahkan ayah – ibu duluan”, kemudian yang tua menyayangi yang muda “Terimakasih sudah menawari ayah-ibu terlebih dahulu, kalau kakak suka yang mana?” Saat anak mengatakan suka yang “ini”, maka ayah-ibunya atas nama cinta memilih yang “itu”. “Ayah/Ibu ambil yang itu ya, kakak yang ini”

Cantik kaaan…..

Barangsiapa tidak menyayangi yang kecil dan tidak mengenali hak yang tua maka ia bukan termasuk golongan kami…

—————

Saya sering ditanya soal mengajarkan membaca atau berhitung pada balita.

Apa betul berbahaya? Apa betul menyebabkan kelelahan otak?

Hmm..

Kalau begitu jangan lagi mengajarkan lagu balonku ada lima atau satu-satu aku sayang ibu, itu kan mengajarkan berhitung..

Jika anak bertanya tanda “STOP” di jalan itu bacaannya apa, jawab saja begini “Hush.. Jangan tanya itu dulu, otakmu belum siap nak”

Anak belajar membaca atau berhitung boleh-boleh saja asal caranya FUN, menyenangkan.

Ini bukan soal Apa yang diajarkan tetapi Bagaimana mengajarkannya..

Tidak perlu HARUS bisa, tidak perlu pula ANTIPATI

Sebaik-baik urusan adalah yang dipertengahannya…

—————

Mengeluh itu Menular…

Ayah mengeluh : “Duh pekerjaan numpuk di kantor”, “Ayah ini sudah capek kerja buat kalian”, “Dasar pemimpin nggak becus”

Ibu mengeluh :”Duh setrikaan numpuk”, “Ibu ini capek, sudah kerja masih juga ngurusin PR kalian”, “Ihhh… si itu tu memang biasa tuu kayak gitu”

Maka jangan heran jika anak juga begini :

“Duh, PR kok banyak amat, susah”, “Males ah bu, capek nih”, “Gurunya ngga menyenangkan, temanku nyebelin”

Dan percakapan di rumah itu kira-kira akan menjadi Pengeluh menasehati Pengeluh untuk tidak mengeluh:

Anak : “Males ah sekolah, gurunya galak, temannya menyebalkan”

Ayah/Ibu : “Kamu ini gimana sih, ayah/ibu kan udah capek kerja untuk kamu, masa gitu aja ngeluh, guru galak itu dimana-mana ada”

Untung saja anaknya tidak menjawab begini :

“Kalau begitu, capek kerja itu juga biasalah.. kerja itu dimana-mana juga capek”..

Dan pengeluh mengeluhkan pengeluh yang lain ..

—————

Bullying, trauma anak atau trauma ortu..

Pada banyak kasus “trauma” bullying yang mampir di tempat saya, orang tua sering mengira anaknya “trauma” akibat masalah bullying yang dialaminya. Mengapa saya menulis trauma dengan tanda “..”?

Karena ternyata dalam perjalanan penanganannya, anak justru lebih trauma terhadap sikap emosional orang tuanya yang berlebihan dibandingkan kejadian “bullying” yang dialaminya.

Semua perilaku anak yang kurang ceria setelah itu dikaitkan oleh orangtuanya dengan kasus bullying yang dihadapinya. Sehingga anak melihat masalah itu menjadi sedemikian besaar, menakutkan dan membahayakan dirinya.

Orang tua sebaiknya jangan terlalu reaktif terhadap cerita anak. Seringkali ketika kesal terjadi generalisasi pada pikiran anak, sehingga muncul kata “selalu”, “semua” pada kisah yang diceritakannya.

Tanggapi dengan tenang, lakukan chunk down hingga terlihat fakta-fakta yang terlewatkan.

—————

Masih soal bullying…

Kadang ortu di rumah suka memberi panggilan-panggilan yang dikiranya lucu pada anak-anaknya, nDut alias endut, si lelet, mBul aliat gembul.. eee… begitu anak dipanggil demikian oleh kawannya di sekolah, ortu langsung emosi tiada tara.. Anak diajarkan untuk melawan dan dilabel kasus bullying. “Wah bullying ini namanya nak, kamu dibully..”

Anak menjadi bingung atas sikap tidak congruent ortunya, mengapa jika ortu yang memanggil demikian dia harus ikut tertawa sedangkan jika kawannya yang memanggil demikian dia harus tidak terima dan melawan? Anak mengalami kerancuan bereaksi hingga justru menimbulkan rasa “tidak mampu” mengelola emosinya sendiri.

Pendidik Anak di Rumah : Super Mom or Supir Mom?


Seringkali saya ditanya baik dalam kelas maupun di luar kelas oleh para ibu yang ingin meninggalkan pekerjaan formalnya dan beralih profesi menjadi pendidik anak di rumah. Berikut ini saya rangkaikan tips persiapan untuk alih profesi. Supaya keren, saya akan berikan Job Title khusus untuk profesi Pendidik Anak di Rumah yaitu Posterity Educationalist alias “PE” (ehem… ehem…. 🙂).

1. Niat
Jika dari awal tujuan anda berhenti adalah untuk mendidik anak di rumah, maka susun baik-baik niat anda ini. Sungguh-sungguh periksa hati anda dengan jujur. Jangan mengatakan anda berganti profesi demi berdedikasi menjalani peran sebagai madrasah pertama bagi anak seperti yang dianjurkan agama, tetapi sesungguhnya ada sudah tidak tahan lagi dengan lengkingan suara atasan anda di kantor, lelah menghadapi macet, tidak laku lagi bekerja atau alasan-alasan lain yang dibungkus dengan kalimat pembenaran. Niat anda hanya anda dan Tuhan yang tahu. Meski tiada seorangpun dapat menghujat dan menghakimi, namun janganlah membohongi Yang Maha Tahu, karena kelak kesungguhan dan pahala anda bermula serta dihitung dari sini.
Pssst… lalu bagaimana kalau saya belum yakin dengan kelurusan niat saya karena masih berupa campuran dari berbagai alasan? Bantu diri anda dengan melakukan assesment berikut ini..
  • Mengapa saya ingin menjadi PE?
  • Kemampuan apa yang sudah saya miliki untuk menjalani profesi ini? Jika masih kurang, di/darimana/ siapa saya harus belajar?
  • Apa yang akan saya dapatkan jika saya menjalani profesi ini? Apa yang tidak akan saya dapatkan jika saya menjalani profesi ini?
  • Apa yang akan saya dapatkan jika saya TIDAK menjalani profesi ini? Apa yang TIDAK akan saya dapatkan jika saya TIDAK menjalani profesi ini?
  • Mengapa jawaban item ke 2 dan ke 3 di atas penting untuk saya dapatkan?
  • Apa pengaruh pilihan saya ini pada kehidupan keluarga inti saya, keluarga besar saya, pertemanan saya dan pandangan saya terhadap diri saya sendiri?
  • Identitas apa yang saya inginkan untuk diri saya dan UNTUK APA dan UNTUK SIAPA saya persembahkan hidup saya.

InsyaaAllah keputusan anda menjadi lebih mantap dan positif dengan langkah-langkah di atas.

Tetapi bagaimana jika assesment itu masih juga menghasilkan pertempuran dalam diri anda, maka anda punya 3 pilihan sikap

  • Tunda : daripada anda membuat stress anak-anak dan pasangan anda dengan keluhan yang tiada habisnya, wajah manyun atau justru berhentinya anda tidak memberi manfaat untuk anak dan pasangan karena anda akan menggantinya dengan sederet arisan-arisan, shopping sana-sini, atau menghabiskan waktu berjam-jam untuk hobi anda yang lain
  • Jalani dengan jujur dengan waktu tertentu : Akui  sejujurnya alasan anda yang sebenarnya dan sebutkan target berapa lama anda akan berhenti. Lalu rencanakan apa yang anda akan lakukan dalam waktu jeda itu agar tidak sia-sia. Insyaa Allah niatnya tetap mulia yaitu tidak membuang waktu dengan sia-sia.
  • Luruskan PAKSA.. (duh sadis amat main paksa…)  Jika hal positif tidak mampu memotivasi anda maka takut-takuti diri anda sendiri dengan membayangkan kemungkinan TERBURUK jika anda tidak melakukannya. Waduh.. emangnya bagus memotivasi diri dengan cara menakut-nakuti? SECARA PRIBADI, SAYA TIDAK SUKA cara ini,  karena seperti do’a mengharapkan keburukan. Namun memang anda orang-orang yang hanya bisa lari jika cambuk mengancam punggungnya.

Lalu bagaimana jika awalnya terpaksa atau kebetulan? Misalnya anda di PHK dan tidak bisa mencari pekerjaan lain, atau harus mengikuti suami ke tempat lain yang tidak memungkinkan anda bekerja lagi. Ya mudah saja, tinggal perbarui niat anda seperti step-step diatas.

Pastikan niat ini menjadi NIAT BERSAMA, antara anda dan suami dan mintalah dukungan dari orang tua anda. Beri mereka pengertian sebagai pihak yang telah membiayai pendidikan anda dan sampaikan terimakasih anda bahwa dengan bekal pendidikan yang mereka biayailah anda akan mendidik cucu-cucu tercinta mereka… (jangan lupa buat tekanan yang kuat saat mengatakan urusan cucu ini, karena biasanya hati para kakek-nenek akan meleleh dengan kunci ajaib ini.. :D)

2. Buat rencana 2 tahun pertama.

Buatlah rencana anda seperti anda membuat Performance Appraisal Form saat anda bekerja. Bermula dari tujuan, apa ukurannya, metodenya, perlu belajar apa, siapa yang akan menilai.. Ajak suami anda menyusun program ini bersama-sama dan sepakati bagaimana metode reward dan apresiasinya. Pujian suami adalah reward penting dalam tiap langkah pencapaian. Memberi hadiah juga tidak salah, namun… wajah bahagia anak-anak yang tumbuh dalam pelukan dan bimbingan kasih sayang anda ditambah derasnya tabungan pahala yang langsung datang dari Yang Maha Memberi,…  tiada tanding, tiada banding nilainya dari sekedar pujian ataupun hadiah.

Mengapa 2 tahun? Biasanya 2 tahun juga angka yang dipakai sebagai ukuran bagi beberapa instansi jika anda mengajukan cuti tanpa gaji (leave without pay). Maka periode ini bisa saja anda lakukan tanpa sungguh-sungguh berhenti bekerja tetapi mengambil periode cuti tanpa gaji. Kalau anda tidak suka 2 tahun, anda bebas menggantinya menjadi angka 1, 3, 4 juga boleeeh…

Rencana ini tentunya membutuhkan peran anda langsung dalam pencapaiannya sehingga ada layak memegang Job Title “PE”. Misalnya dengan meletakkan program preschool home schooling di dalam “to do list” anda. Jika anda sudah memutuskan menjadi PE tapi masih juga mengirim batita anda ke sekolah atau sekedar membuat daftar panjang les, kursus yang akan diikuti anak anda,  dan rencana anda hanyalah menjadi pengantar anak kesana-kemari, maka Job Title anda harus berubah menjadi Supir Mom alias “SM” . Bukan berarti tidak boleh ya… Anda boleh saja memutuskan untuk menjadi SM terutama jika alasan anda berhenti bekerja hanyalah mengisi waktu jeda agar tidak sia-sia atau untuk mengurangi pengeluaran keluarga membayar gaji supir atau biaya transportasi. Tentunya anda tidak boleh mengaku PE jika pekerjaan anda SM. Prinsipnya, jujurlah menilai diri, toh anda tidak perlu mengumumkan jabatan baru ini.

3. Bersungguh-sungguhlah dalam menjalankan tugas ini lebih dari bersungguh-sungguhnya anda dengan karir anda sebelumnya
Jika anda sedemikian keras bekerja demi sebuah tugas yang diberikan oleh penguasa perusahaan apapun jabatan atasan anda,…. lalu harus sekeras apa usaha untuk menyempurnakan tugas yang langsung diberikan oleh Penguasa alam semesta? Jika sedemikian hebatnya keinginan anda untuk mendapat pujian dan reward dari penguasa perusahaan tempat anda bekerja,… lalu harus sehebat apakah keinginan anda untuk mendapat reward dari Penguasa langit dan bumi serta pujian dari suami yang ridho-nya menjadi jalan menuju surga?
Delegasikan hal-hal yang tidak terlalu penting dan secara keuangan mampu anda delegasikan. Kalau anda sanggup punya asisten rumah tangga, percayakan lantai anda untuk mereka belai untuk memberi kesempatan anda membelai orang-orang tercinta. Jika tidak memungkinkan memiliki asisten tetap, cari jalan untuk outsourcing.  Misalnya setrika… Jika di sekitar anda ada usaha laundry murmer, lempar saja tumpukan setrikaan anda ke sana. Bagi-bagi tugas sederhana adengan suami dan anak-anak. Bukankah time management dan empowering adalah salah satu kunci sukses apapun profesi anda?
4.  Bernegosiasi dengan diri sendiri mengenai “pendapatan yang hilang”
Tentu wajar jika anda yang terbiasa mempunyai penghasilan sendiri merasa tidak nyaman saat tiba-tiba harus kehilangan penghasilan. Rasanya semacam tiba-tiba “miskin” secara pribadi. Kadang kesediaan suami untuk mencukupi apa yang dulu anda cukupi dari penghasilan anda tidak banyak membantu menyelesaikan emosi ini. Perasaan “diberi” atau “meminta” mungkin mengganggu ego anda. Utamanya, selesaikan dulu konflik batin anda, bandingkan makna penghasilan dan makna awal dari niat anda yang sudah kita bahas di atas.
5. Diskusikan tentang “pendapatan keluarga yang hilang”
Jika selama ini gaji anda juga digunakan untuk mendukung pendapatan keluarga.  Diskusikan pendapatan yang hilang ini dengan seluruh keluarga. Hal-hal apa yang perlu dikurangi, dihilangkan, diganti atau suami perlu usaha lebih untuk menggantikan pendapatan yang hilang itu.
Sebaiknya tunda dulu keinginan untuk mendapatkan penghasilan saat sudah berhenti bekerja di tahun pertama. . Namun, jika dalam perjalanannya, anda dapat menjalani program ini dengan mulus sekaligus ada peluang untuk mendapatkan penghasilan dari rumah….. tentu tidak ada salahnya, apalagi jika kegiatan itu sekaligus mendukung peran anda. Syukuri kesempatan langka itu.
6. Sepakati hari cuti setidaknya 1 hari dalam sebulan untuk “me time”
Sebagaimana pekerjaan yang lain, tentu anda perlu waktu “istirahat”… Maka sepakati setidaknya 1 hari dalam 1 bulan anda untuk melakukan kegiatan yang anda sukai. Meskipun kadang tidak bisa berlangsung selama 24 jam terus menerus, setidaknya 8 jam cuti cukuplah. Demikian pula sebaliknya, pasangan anda juga berhak cuti untuk tidak membantu anda dalam urusan rumah tangga jika anda sama sekali tidak punya asisten yang membantu anda sehari-hari.
7. Komunikasi yang baik dengan suami adalah contoh terbaik bagi anak. Anak adalah peniru ulung
Jagalah sopan santun anda dalam berkomunikasi dengan suami. Jangan menjadikan suami sasaran ketegangan anda, sebaliknya suami belajar memahami ketegangan istri, terutama di bulan-bulan pertama perubahan profesi anda. Belajar teknik komunikasi acknowledging and reorienting, positive feedback, bahasa kasih sayang, bahasa hipnotik, dan banyak lagi teknik lainnya yang jika saya bahas akan setara dengan 1 hari Enlighten & Empower Communication workshop.
Seringkali kita sangat bersopan santun dengan orang lain, tetapi justru enggan melakukannya untuk orang-orang yang anda cintai. Lalu apakah itu namanya cinta kalau anda tidak takut lagi menyakiti hatinya?
8.  Pelihara  ilmu anda
Bantu teman atau buatlah sebuah karya pribadi yang berhubungan dengan profesi anda sebelumnya setidaknya 1x dalam 2bulan, meski tidak mendatangkan penghasilan. Suatu saat nanti entah karena alasan apa, mungkin anda perlu kembali bekerja.  Bisa juga anda menambah ilmu lain, namun tidak menyita waktu anda untuk memenuhi program kerja 2 tahun anda. Kegiatan menambah ilmu 2x seminggu masing-masing 2 jam bisa dijadikan pilihan.

9. Bersyukur dan bertafakur

Syukuri setiap pencapaian yang anda lakukan sesuai dengan rencana anda. Jangan mengakuisisi pencapaian yang merupakan hasil kontribusi pihak lain misalnya sekolah, supaya anda tetap menjadi ibu yang jujur, bisa mengapresiasi pihak lain dan mau belajar lagi.
Renungi kejadian-kejadian yang menjauhi pencapaian dengan pertanyaan, “Manfaat apa yang kuperoleh dari kejadian ini untuk memperbaiki diri?” Jadikan sebagai umpan balik.
Waspadai adanya kemunduran, misalnya anak tiba-tiba ngompol lagi, menjadi tegang, emosional, lebih suka berlama-lama di sekolah. lebih suka keluar rumah dll… Kemungkinan keberadaan anda menimbulkan rasa tidak nyaman. Teruslah membuat perbaikan.
10.   BERDO’A mohon pertolongan Yang Maha Kuat
Manusia pada dasarnya lemah dan dho’if.  Maka berpeganglah pada kekuatan Yang Maha Kuat di setiap do’a, di setiap langkah.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya teringat pada satu  pertanyaan krusial. Kapan waktu yang tepat bagi anda untuk berhenti bekerja? Saat terbaik adalah saat anak anda lahir dan tetap di rumah sampai usia sekolah dasar. Setelah anak-anak menjalani sebagian harinya di sekolah, silahkan anda juga menjalankan hari anda untuk bekerja. Namun ingat… ENERGI anda harus tetap BARU ketika sampai di rumah seperti yang anda harapkan juga dari suami anda, serta   masih memiliki waktu sekurang-kurangnya 3 jam untuk berinteraksi dengan anak dalam keadaan sama-sama segar (bukan sama-sama tidur) untuk menemaninya meninjau ulang hari-hari yang dilaluinya di sekolah.
Siap punya profesi keren? Posterity Educationalist…..