Seberapa besar ikhtiar kita.. 

Karya mas Mohammad Windy, alumni Kelas Enlightening Parentinf dan Transforming Behavior Skill

Serial Ibu Bekerja

Ini adalah kumpulan dari serial mbak Dini Swastiana di Instagram.

Mbak Dini adalah salah satu penulis di buku The Secret of Enlightening Parenting yang juga ibu bekerja

Seri Ibu Bekerja. Part 1. Saat dulu adithya usia 1,5 bulan, Seseorang bilang ke saya begini “Mba, ngga pengen resign? Ngga sayang Mba waktunya kebuang ngga nungguin setiap moment nya Adithya?”. Saya cuma senyum & ngga merespon. Rule #1 utk Ibu Bekerja menurut saya (silahkan ber beda pendapat & disimpan aja ya, ngga usah ditulis di komen 😀): komen itu gratis, ngga usah dimasukkin hati sepanjang yang ngasih omongan ngga tau persis apa yang dia omongin (ini silahkan terjemahkan sendiri). Penting banget utk menjaga kewarasan dengan memilih2 mana yang kita pertimbangkan utk ditimbang2 dipikirkan. Karena background orang berbeda-beda; alasannya berbeda-beda;we will not know for sure until we become that person. Jadi konsekuensi logis Dari rule#1 nya saya adalah memilih lingkungan yang memberdayakan (lingkungan yg terdiri Dari real people atau pun dunia maya). Ini memang slippery slope Kalo kita sendiri galau dengan reasoning kita Bekerja. Jadi pre requisite rule#1 adalah yakini bahwa reasoning kita utk Bekerja adalah ekologis, tidak bertentangan dengan belief system Dan value yang kita percayai. Supaya kita banyak dapat komen yang memberdayakan, kita mulai dengan berupaya memberi komen yang memberdayakan orang lain, mulai duluan. Dengan membersihkan filter kaca mata kita, sehingga jernih memandang nya, Dan bisa train our mind to see the positive angles of every situations. Dan selalu Ingat, bahwa sewangi apapun parfum yang dipakai, kalau kelakuan Dan kata2 yang keluar Dari mulut kita itu ngga harum untuk orang lain, ngga Akan bernilai apa2 juga. Jadi mulai dengan berdamai dengan diri sendiri atas pilihan nya, Dan pilih lingkungan yang memberdayakan, dengan memulai Dari diri sendiri yang berupaya terbaik utk memberdayakan sekelilingnya 💝
Seri Ibu Bekerja, Part 2. Dari pilihan sebagai Ibu Bekerja, Ada konsekuensi2 yang harus dijabanin. Seberapa kita mau mengerjakan hal2 yang berkaitan dengan anak kita selama kita memilih profesi Ibu Bekerja? Karena Bekerja di kantor terikat jam kerja, sehingga mau ngga mau kita harus menyiasati kegiatan kita saat kita bisa. Contoh sederhana saat Anak masih dibawah 2 tahun, Seberapa kita mau ngorbanin makan siang sama temen Demi kita mompa asi utk stock asip? Jam berapa kita mau bangun pagi utk masak mpasi Anak kita? Bagaimana kita belajar utk bisa mompa asi dengan cepet Supaya ngga ribet dicariin sama bos Karena pumping kelamaan? Jam tidur berkurang? Pasti. Makan siang diluar? Hampir ngga pernah. Semua konsekuensi2 itu Ada harganya Dan Ada reward nya Insya Allah. Itu semua bisa berjalan dengan damai Kalo kita sadar apa yang mau kita capai. Dan kita dibantu sama pasangan. Dulu saya pumping cuma 15 menit, diajarin pumping pakai tangan sama temen setelah bleeding pakai alat. Kalo saya nyerah, ngga nanya sana sini and ngga mau nyoba, ya kelar asi nya. Kalo nurutin cape badan, ya cape banget pasti jam 3 pagi bangun pumping Trus makan lagi Supaya pagi2 masih bisa nyusuin. Repot masak mpasi jam 4 pagi? Banget-banget. Tapi worth it Karena anaknya Jadi ngga picky eater Karena kita kerja kan semua seperti ‘text book’ bilang. Every kemalasan saya, Ada bayarannya. Karena saya ngga mau bayar mahal atas kemalasan saya, Jadi saya jabanin konsekuensi2 Dari pilihan saya itu. Dan Alhamdulillah semakin ke sini semakin dimudahkan juga .. Dan Insya Allah, Anak juga menghargai berpeluh-peluhnya kita, jungkir baliknya kita mengupayakan yang kita bisa utk tetep comply sama best practice yang sesuai dengan Anak kita Dan keluarga kita .. Dimulai dengan kesepakatan dengan pasangan, meng-equip diri dengan knowledge yang memadai, gigih ngerjain yang bisa dilakukan semampu nya, Dan berdoa, memasrahkan hasilnya kepada Allah SWT
Seri Ibu Bekerja, part 3. Banyak yang nanya, gmana sih ngatur diri Supaya waktu nya masih kesisa utk ngurusin Anak? Kalo saya : Ya dengan memilih kegiatan yang mendukung utk masih bisa ngurusin Anak. Makan siang dengan temen saya batasin banget biasanya cuma 1x seminggu, biar pas istriahat siang saya bisa mikirin and ngerjain apa yang berkaitan dengan Adithya : browsing Buku Anak, baca Buku parenting, baca artikel agama Dan parenting, cari ide kegiatan & ngobrol sama adithya, dll. Pulang Kantor ketemuan sama temen? Ngga pernah Kecuali special occasion, karena Mba asisten punya Anak juga sehingga saya ngga tega kalo dia pulang nya kemaleman nungguin saya pulang. Pergi Dan pulang Kantor Karena saya seringnya nyupir sendiri, ya me time nya saya disitu, dengan ndengerin lectures di podcast. Apakah saya merasa saya kehilangan diri saya dengan melakukan begitu? Ya enggak Kalo menurut saya. Dan Karena saya ya cerita apa yang saya lakukan, adithya Jadi lebih menghargai juga ke apa yang saya lakukan. Tapi ini semua bisa ber langsung dengan ‘damai’ Karena support system saya yang Alhamdulillah diberkahi kemudahan. Suami yang sudah sepaham Dan Hands on ke Adithya, Mba asisten yang Alhamdulillah reliable, sahabat2 yang sama2 bantu-membantu, driver yang reliable Dan yang paling utama : Kekuatan DOA. Key words nya : pilih-pilih kegiatan – lurus kan prioritas; kerja sama pasangan & dukungan support system, Dan selalu berdoa mohon pertolongan Dan kemudahan Dari Allah SWT
Seri Ibu Bekerja, Part 4. Bagaimana caranya Supaya kekesalan di Kantor ngga kebawa ke rumah? *aduh pengen banget nulis curcol sebenernya Tapi ngga guna ya 😂, Jadi tips nya ala EP aja yang ditulis :

1. Punya pembeda antara Kantor Dan rumah. Misalnya,

a. Jangan ke Kantor pakai baju yang sama dengan type atau jenis baju yang kita pakai Kalo bersama keluarga. Ini menbantu sekali visualisasi untuk mindset kita.

b. Berlatih affirmasi saat keluar rumah Dan pulang ke rumah, utk menjalani peran yang berbeda

2. Kalo capek pulang Kantor, petakan apa yang Jadi penyebab capek nya, kemudian dipikirkan remedy atau solusi nya, bisa utk menghilangkan atau mengurangi capek nya

3. Gmana Cara membikin hati damai ngadepin orang2 yg menurut kita ngeselin di Kantor? Apa lagi Kalo orangnya lebih Dari 1 😀

a. Berlatih tekhnik dissosiasi yaitu memisahkan kita menjadi pihak ke 3 Supaya ngga terhijack response kita Karena emosi yang tinggi (googling Aja ttg dissosiasi ini ya atau baca di Buku self improvement nya Mba Okina)

b. Paksain senyum for no reason, karena gerakan otot pas senyum itu nyetrum ke hati. Nah Tapi kadang kita bandel ngga mau upaya maksa senyum sehingga ya kesel terus

4. Bagaimana mempertahankan kewarasan utk bisa work life balance? Ya punya kegiatan atau hidup selain pekerjaan kita. Punya komunitas yang menjadi passion kita, punya lingkungan non Kantor yang kita bahagia bersama nya 😋; atau punya temen2 yang Kalo pas Makan siang di Kantor topik pembicaraannya yang nyambung sama yang kita senengin Dan Bukan Tentang kerja an Kantor.

5. Gmana Supaya Kalo dirumah bisa fokus ke keluarga ?

a. Pasang airplane mode di HP

b. Matiin TV Dan radio Dan kompie

c. Diinget2 Kalo waktu bersama keluarga itu priceless Supaya mindset nya fokus pada tujuan
End of seri Ibu Bekerja 😋😋 #ibubekerja #enlightenempower

Videonya ada disini

Part 1

https://www.youtube.com/watch?v=uTU0LfS_eN0&t=31s

Part 2

https://www.youtube.com/watch?v=EcE4lgBe5UY&t=24s

Part 3

https://www.youtube.com/watch?v=9CXa3xB7d0Q

 

Ketika Anak “Tidak Membeli” Nilai-Nilai Yang Ditanamkan Orang Tua

Ilustration Video by Mohammad Windy

Ketika anak tidak “MEMBELI”

Sebetulnya tidak ada anak yang “ngeyel/membangkang”, yang ada anak tidak “membeli atay buy-in” terhadap ide, usulan, anjuran, pelajaran, nilai-nilai kehidupan, perintah yang disampaikan oleh orang tuanya.

Orang tua sesungguhnya berfungsi sebagai PENJUAL.
Menjual Values, Menjual Belief, Menjual Saran dll
Barang/Jasa yang dijual parents bagus atau tidak?

Sebagian besar bagus doong, kan asal dagangannya dari Yang Maha Sempurna, Misalnya ibadah, nilai kebersyukuran, rajin belajar dll. Sebagian lain terutama yang ide-idenya sendiri ya kadang memang kurang bagus 🙂

Sayangnyaaa… strategi penjualannya tidak direncanakan dengan sungguh-sungguh, product knowledge-nya juga pas-pas-an. Sehingga tidak dibeli oleh anak-anak.

Lucunya.. jika anda menjual barang/jasa kepada orang lain, lalu calon pembeli tidak mau membeli, yang muncul rasa penasaran ditambah sedikit minder, lalu segera belajar, melakukan evaluasi diri, menyusun strategi penjualan baru.
Sebaliknya ketika orang tua jualannya ditolak anak, karena merasa berkuasa, malah ngamuk. Calon pembelinya dimarahin, dipaksa, bahkan dipukul 😀 (beeeuuh… untung aja itu calon pembeli ngga balas memaki, paling cuma berani ngeyel). Meskipun tidak balas memaki, calon pembeli ini akan menutup diri secara kognitif dan afektif, membuat dinding yang akan menghalangi menerima produk-produk anda berikutnya.

Lebih parahnya lagi, si penjual yang mengaku sudah menggunakan produk itu, ternyata tidak mencerminkan hasil dari produk itu (misalnya, mengaku rajin ibadah tapi lisannya masih suka ngomel dan labelling), Duh.. ibarat menjual produk perawatan kulit tetapi kulitnya malah rusak. Siapa coba yang mau beli?

Padahal ada cara untuk menjadi penjual yang menarik, yang masuk secara luwes dan menumbuhkan keinginan membeli dan menggunakan (silahkan refer pada kisah-kisah sahabat-sahabat saya di buku The Secret of Self Improvement dan The Secret of Enlightening Parenting)

Selain strategi yang baik tentu ketika mau jualan, anda juga minta bantuan pada yang menggenggam hati manusia bukan? Semoga kalaupun strateginya kurang-kurang dikiit, ditutup oleh yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Dan Yang Maha Memiliki hati tentu juga ingin anda terus belajar bukan? Supaya meningkat dan bermanfaat.

Jadi, masih mau ngamuk kalau produk jualannya ngga laku? Lalu apa yang seharusnya dilakukan?

5.475 Cara Agar Anak Cinta Beribadah

video was made by Mohammad Windy and narated by Wahyuni Harahap

Menjaga dan Mengoptimalkan Potensi Baik Anak

Masih ingatkah kita bahwa anak yang baru mulai belajar makan akan segera menutup mulut jika lambungnya sudah terisi dalam ukuran cukup sesuai ukurannya yang mungil. Karena alarm tubuhnya mengatakan “Cukup. Ini sudah cukup untukku “. Tetapi orang tuanyalah yang sibuk memaksa menghabiskan terus dan terus hanya demi anak terlihat lucu atau sekedar memuaskan komentar orang lain, bukan kreatif mengenalkan gizi seimbang
Fitrahnya untuk hidup sehat, makan untuk hidup bukan hidup untuk makan dan mensyukuri rasa cukup dirusak.

Masih ingatkah kita bahwa bayi suka sekali bangun menjelang subuh? Karena memang manusia didesain untuk memulai hari menghaturkan bakti kepada Illahi dan memulai aktifitas produktif. Tetapi apa yang dilakukan orang tua? Sibuk menidurkannya lagi karena merasa kegiatan paginya terganggu atau marah-marah karena tidurnya terganggu. Lalu kemudian mengeluh “Kenapaa sih kamu susah bangun pagi”

Masih ingatkah kita bahwa bayi kita akan menangis saat bajunya basah, risih saat popoknya penuh, dan tidak suka dengan diaper saat mulai bisa berjalan? Tetapi orang tua malas melatih toilet training (tentang toilet training bisa dibaca di website saya) hingga kemudian terbiasa tidak risih dan membiarkan sesuatu yang berantakan dan kotor.

Masih ingatkah kita bahwa batita kita dulu suka memanjat dan berlarian kesana kemari? Inilah pola hidup sehat, aktif dinamis dan baik untuk kesehatan jantung. Tapi orang tua menyuruhnya duduk diam bahkan diberi gadget hingga kecanduan

Masih ingatkah kita saat anak kita jatuh bangun belajar berjalan dan mengulang kata-kata yang sama, permainan yang sama hingga mahir? Lalu siapakah yang mengatakan “Aah bosan ah pertanyaanmu itu-itu saja. Awas lho jatuh, nah kan ayah/ibu bilang juga apaa.. kamu tu ngga bisa!” Lalu kini ada anak yang malas belajar dan cepat putus asa?

Masih ingatkah dulu anak kita suka ikut ketika kita beribadah? Mengikuti gerakan kita? Segera menggeret peralatan ibadah kita saat datang panggilan adzan? Lalu siapakah yang menghardiknya di usia 5 tahun saat lari di rakaat pertama, mengatainya lemot saat harus mengulang-ulang ayat yang dihapalkannya, mengancam neraka tanpa menumbuhkan cinta, dan tak memahamkan apa yang diucapkannya? Lalu kini ada remaja yang susaah sekali diminta beribadah karena tiada rasa cinta kepadaNya.

Masih ingatkah dulu anak kita sangat teguh kemauannya, ngotot ketika menginginkan sesuatu karena tahu apa yang diinginkannya? Lalu siapakah yang kemudian mencacinya tidak sopan, ngeyelan, membentaknya agar diam, menghukumnya di pojokan? Lalu kini ada anak remaja yang sudah hampir selesai SMA tidak tahu ingin kuliah dimana, tidak tahu mau jadi apa, bahkan tidak tahu subjek apa yang disukainya?

Masih ingatkah ketika pertama kali anak memecahkan barang? Dengan jujur akan bercerita sambil berusaha membenahi. Namun amarah yang membahana menjadikan mereka berpikir, ternyata jujur itu berbahaya dan tanggungjawab tak dihargai. Hingga kemudian mereka memilih berbohong dan menyalahkan keadaan atau orang lain karena lebih menyelamatkan hati.

Masih ingatkah ketika dulu kita lelah atau sedih, tangan kecilnya menghampiri, memberi elusan cinta dan kasih sayang? Lalu siapakah yang melabel tangisnya dengan kata cengeng dan mengecilkan kesedihannya. Hingga kemudian ia tumbuh menjadi sosok yang tidak peduli kesulitan orang lain dan apatis

Anak-anak terlahir dengan modal potensi baik, tugas orang tua menjadi teladan agar potensi mewujud menjadi perilaku yang diperintahkan, menjaga agar yang sudah baik ini menjadi tetap baik bahkan lebih baik.
Namun sebagian orang tua justru merusaknya.

Tiada kata terlambat untuk memperbaiki diri, karena kelak kita akan ditanya.
Sudahkah kau genapkan ikhtiarmu wahai insan yang diamanahi?

Optimalkan Masa Perkembangan 6-12 tahun

Video Explainer courtesy of Mohammad Windy

 

 

 

Hadir Di Jogja,The Secret of Enlightening Parenting Training

Flyer Training_TSOEP_Yogya

Akhirnya kini ada sekolah jadi orang tua…

Mau tahu cara menyuruh anak tanpa anak merasa disuruh?
Mau tahu trik pagi hari Anda terasa tenang dan damai tanpa muncul tanduk di kepala?
Yakinkah Anda bahwa selama ini telah benar mengasuh anak dan tidak ada yang keliru?
Tahukah Anda perasaan anak saat dibully?
Mampukah Anda menghilangkan trauma yang membekas pada anak secara efektif?

Apakah anda sudah memahami cara kerja otak dan mengoptimalkannya?

Inginkah anda mengetahui rahasia memiliki anak yang cinta beribadah?
Tahukah Anda bahwa anak pandai membuat keputusan dan memotivasi diri?
Dan masih banyak lagi problem yg muncul dalam mengasuh dan mendidik anak.
Belum lagi permasalahan narkoba, game addictive dan pornografi, aliran-aliran sesat dan lainnya yang merupakan tantangan di jaman sekarang.

Nah, mari temukan jawaban semua pertanyaan di atas secara efektif dan pahami cara menangkal berbagai tantangan jaman.

“The Secret of Enlightening Parenting”
Hotel Jogjakarta Plaza
Yogyakarta, 26-27 Maret 2016

Untuk pendaftaran, hubungi:
Ibu Rina Mulyati
Telp./WA No. +628112570039

Sdri. Dini Swastiana
Telp./WA No. +62811910273

Form online:

E-mail: enlighten_empower@yahoo.com

Salah satu Testimoni peserta training sebelumnya

Dodi Kusmajadi

Alhamdulilah……

Perasaan tenang dan lebih percaya diri itu ternyata masih tetap mengendap di dada ini. Padahal, pelatihan parenting yang digelar Mbak Okina Fitriani dkk di Jakarta Sabtu dan Minggu kemarin, telah terpisah dua hari. Perasaan yang membuncah di dada ini membuat saya yakin bahwa persoalan-persoalan mendidik dan berkomunikasi kepada anak maupun istri bisa ditangani lebih baik daripada sebelumnya.

Pelatihan parenting ini memang sangat bermanfaat bagi saya. Dampak atau hasilnya tidak hanya terasa pada tataran pengetahuan atau pemikiran, tetapi juga terasa “jleb” di dada ini.
Mengapa demikian? Sebab, percaya atau tidak, ilmu serta pemahaman baru tentang parenting dan pengendalian emosi tersebut ditanamkan ke alam bawah sadar saya. Alhasil, ajaib, emosi saya pun bisa lebih terkontrol dan berpikir lebih jernih ketika berhadapan langsung dengan persoalan di rumah.

Bayangkan, secara otomatis, tips dan trik yang dipelajari saat pelatihan dapat dipraktikkan dengan hasil di luar dugaan. Saya sudah membuktikannya Senin kemarin ketika anak saya berkeluh kesah tentang van sekolah dan kawan-kawannya. Dengan teknik reorienting dan pengakuan, emosi anak tersalurkan, ayahnya juga bisa menyimak keluhan anak dengan lebih sabar. Bahkan anak saya bisa menemukan solusinya sendiri. Alhamdulilah. Sebelumnya? Yaa….gitu deh.

Saya bersyukur dengan perubahan ini. Saya pun berharap dan berdoa, kondisi ini bisa dipertahankan selamanya. Amin.

 

Best Seller : The Secret of Enlightening Parenting

Mengasuh Pribadi Tanggung

Menjelang Generasi Gemilang

Alhamdulilah, Praise to Allah..  Terimakasih kepada para pembaca, reviewer dan seluruh penulis, hingga buku ini dicetak ulang dan menjadi National Best Seller..

Di dalam buku ini Anda akan menemukan dua bagian utama dan epilog. Bagian Pertama menyajikan konsep dasar yang memberikan gambaran menyeluruh mengenai prinsip-prinsip pengasuhan, metode beserta teknik. Sementara itu, Bagian Kedua berisi kumpulan kisah inspiratif yang berupa penga- laman praktik para penulis beserta hasilnya. Para pemilik kisah inspiratif ini adalah ayah dan ibu tangguh yang tersebar di tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Australia. Jika pada buku-buku parenting lainnya Anda disuguhi teori-teori ideal

Mengasuh Pribadi Tangguh, Menjelang Generasi Gemilang xiii

yang membuat Anda terpuruk dalam rasa bersalah, buku ini tidak demikian. Buku ini tidak berhenti pada teori saja tetapi juga menawarkan solusi yang gamblang dan mudah ditiru.

Buku ini lahir dari kepedulian para peserta training Enlightened & Empowered Parents terhadap permasalahan pengasuhan anak. Para penulis kisah inspiratif yang merupa- kan jantung buku ini membagikan pengalaman mereka serta menjadi saksi bahwa berubah itu mudah, dan mereka telah menuai hasil dari perubahan itu. Tuhan tidak menyia-nyiakan usaha hamba-Nya.

Dasar utama penulisan buku ini adalah Al-Qur’an, hadits, dan surah, dengan memadukan Psikologi Perkembangan dan teknik-teknik Neuro Linguistic Programming (NLP) sebagai tools. NLP adalah ilmu yang mempelajari kerja pikiran sadar dan bawah sadar, serta mempelajari bagaimana linguistik me- mengaruhi kerja syaraf untuk membentuk program-program bawah sadar yang menghasilkan perilaku. Jika selama ini NLP menjadi bidang kajian eksklusif dan mahal di bidang leader­ ships, yang hanya dimiliki selebritas dunia, pemimpin negara dan perusahaan, olahragawan kelas dunia, psikolog dan pakar- pakar komunikasi, maka dalam buku ini, NLP disajikan dalam bahasa yang sederhana dan aplikatif dalam ruang lingkup parenting.

AGAR ANAK TIDAK BERBOHONG

Kebiasaan berbohong  sangat berbahaya dan menjadi pintu masuk bagi berbagai keburukan dan perilaku kejahatan. Demikian pula kerusakan moral beberapa pemimpin saat ini yang tidak malu terlibat korupsi juga bermula dari ketidakjujuran. Hal ini juga diungkapkan dalam hadist Rasulullah SAW berikut ini :

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa kepada kejelekan, dan kejelekan itu menghantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa bohong hingga Allah mencatatnya sebagai seorang pembohong.” (HR. Bukhari Muslim)

Anak adalah peniru ulang, perilaku berbohong adalah sesuatu yang dipelajari, kemudian diyakini memberi manfaat bagi dirinya. Tidak ada anak yang dilahirkan menjadi pembohong karena anak lahir fitrah dengan potensi baik.  Maka mari kita evaluasi diri dan cara pengasuhan kita, yang telah menjadikan anak mengembangkan kebiasaan berbohong.

 Ada beberapa penyebab perilaku berbohong, tiap penyebab ini bisa jadi berinteraksi satu dengan yang lainnya :

  1.  Mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya

 Anak meniru segala hal yang dilakukan oleh orang tua atau orang-orang dewasa di sekitarnya, termasuk berbohong. Disadari atau tidak, orang tua seringkali memberikan contoh perilaku bohong dalam kehidupan sehari-hari seperti contoh-contoh berikut ini :

  •  Bercanda dengan cara berbohong. Menggoda anak dengan kata-kata, “Nak.. nak itu lihat ada cicak di atas!” hanya sekedar untuk mengalihkan perhatiannya, padahal tidak ada. Hal-hal seperti ini diperingatkan dengan keras oleh Rasulullah SAW sebagai berikut. “Celakalah orang yang berbicara, padahal ia berbohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Banyak orang tua yang tidak menyadari ini.
  • Menyuruh anak mengatakan ayah/ibu tidak ada di rumah kepada tamu atau ketika ada yang menelpon padahal ada.
  • Mengatakan bahwa ayah pergi ke dokter supaya anak tidak mau ikut, padahal ayah pergi ke tempat lain
  • Berjanji tetapi tidak ditepati. Berjanji mengajak anak ke suatu tempat tetapi kemudian tidak ditepati dengan alasan sibuk atau megatakan bahwa anda tidak akan pergi karena takut anak menangis ketika anda tinggal pergi, tetapi kemudian ketika ia asyik bermain, anda diam-diam pergi. Lebih baik anak menangis melihat anda pergi dan belajar mengatasi rasa sedih daripada dibohongi.
  • Mengancam tetapi tidak dilakukan. Ini perilaku yang sangat berbahaya, karena selain mengajarkan kebohongan juga mengajarkan bahwa aturan boleh seenaknya dilanggar. Misalnya karena anak sering bermain gadget lalu anda mengatakan “Awas ya kalau main lagi, nanti ayah buang gadget itu, tetapi ketika ia memainkannya lagi, anda tidak membuangnya.” Maka pikirkan sungguh-sungguh sebelum anda mengucapkan sesuatu.
  • Mengancam dengan menggunakan nama Allah. “Awas ya nanti kamu masuk neraka! Allah marah sama kamu!” Anak mempersepsi Allah menyeramkan seperti orang tuanya yang suka marah-marah dan menghukum. Padahal tidak ada anak kecil yang masuk neraka karena belum dihitung dosanya.

Jika ada salah satu atau bahkan beberapa hal yang anda lakukan seperti di atas maka jangan heran jika anak juga berbohong.

  1. Pernah Dihukum ketika ia mengakui kesalahannya

Anak-anak suka bermain dan belum mengerti resiko karena kemampuan berpikir abstraknya belum berkembang. Barangkali dia pernah berlari-lari di rumah dan memecahkan barang di rumah anda dan ketika ia datang menceritakannya. “Ayah/Ibu aku tadi mecahin vas bunga ibu.” Anda marah dan menghukumnya. Maka sejak itulah anak meyakini bahwa jujur itu berbahaya bagi dirinya.

  1. Menghindari sesuatu yang tidak disukainya

Barangkali anak pernah anak tidak menyukai sesuatu, misalnya tidak menyukai sekolahnya, maka biasanya akan timbul ketegangan yang menyebabkan perutnya merasa tidak nyaman. Lalu ketika ia mengatakan “Ayah/Ibu, aku sakit perut”, maka anda berhenti mencari tahu masalah sakit perutnya dan memperbolehkannya tidak sekolah. Maka anak belajar bahwa mengaku sakit bisa menghindarkannya dari hal yang tidak disukainya. Adalah sangat penting untuk memahami rasa sakit yang muncul dengan tiba-tiba karena masalah psikologis. Biasakan anak menghadapi dan mengatasi ketakutannya secara aman karena dia yakin akan ada ayahibu tang bijak yang membantunya dan ada Allah yang memberi tuntunan. Hal ini nanti bisa dibahas di kesempatan lain karena cukup panjang bahasannya.

  1. Anak terlalu sering dikritik dan dibanding-bandingkan

Anak yang dinilai dari hasil akhir dan bukan usahanya akan cenderung berbohong soal pencapaian, bahkan tidak segan untuk mencontek.

“Ah masa begini aja ngga bisa. Lihat tuh si A, nilainya bagus-bagus”

“Duh kamu ini udah mahal-mahal les kok hasilnya masih seperti ini”

 Anak-anak yang terlalu sering mendapatkan kritikan dari orang tuanya, akhirnya menjadi haus pujian. Mereka akan melakukan segala cara untuk membuat orang tuanya mau memujinya. Salah satunya adalah berbohong. Dengan berbohong, mereka beranggapan bahwa mereka bisa menyelamatkan diri dari “omelan ” dan akan mendapatkan “pujian”.

  1. Ingin diterima oleh lingkungan dan teman-temannya

 Anak-anak yang jarang dipuji di rumah akan mencari pujian dari tempat lain terutama teman-temannya. Ia ingin dianggap hebat. Pada umumnya mereka berbohong soal prestasi, kekayaan atau status sosialnya.

  1. Perhatikan tontonan dan bacaan anak.

Tontonan dan bacaan kisah monster, hantu, dan hal-hal yang tidak ada dalam kehidupan nyata menjadikan kemampuan anak membedakan hal yang nyata dan imaginatif menjadi semakin lambat untuk matang. Perlu dipahami oleh orang tua bahwa hal gaib seperti jin tidak sama dengan hantu atau monster. Lebih baik anak-anak berinteraksi dengan manusia, bermain dengan kegiatan fisik daripada menghabiskan waktunya menonton film-film kartun.

Lalu bagaimana mendidik anak agar jujur?

Tentu yang paling utama adalah menghilangkan penyebapenyebab yang telah disebutkan di atas tadi. Lalu kemudian secara konsisten dan kongruen melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Jadilah teladan dalam hal kejujuran. Anak mungkin salah mendengar nasehat anda tetapi anak tidak pernah salah dalam meniru. Ubahlah diri sendiri sebelum menuntut perubahan pada perilaku anak. Selama anada masih melakukan kebohongan-kebohongan yang ditiru anak, maka perilaku berbohong itu akan terus terjadi.
  2. Hargai dan apresiasi anak ketika jujur mengakui kesalahan. Misalnya ketika ia berlari dan memecahkan vas mahal anda, katakan. “Ayah menghargai kejujuran kamu, terimakasih sudah jujur. Nah menurutmu bagaimana caranya agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi?” Anak akan menasehati dirinya sendiri misalnya dengan mengatakan “Aku besok lebih hati-hati kalau lari”. Puji idenya lalu berikan ide-ide lain misalnya, dimana tempat yang lebih aman untuk berlari, atau pindahkan barang-barang berharga anda, karena kemampuan anak mengendalikan diri belum matang seperti pada orang dewasa.
  3. Biasakan membahas apa yang disukai dan tidak disukai anak. Jangan sepelekan ketakutannya. Lakukan parental coaching agar anak mampu menghadapi hal-hal yang tidak disukainya. Karena kelak kecerdasan emosi dalam mengendalikan dan menghadapi hal-hal yang tidak disukai sangat penting ketika dewasa. Bukankah banyak perintah, larangan dan peristiwa dalam hidup yang mungkin tidak disukainya kelak? Kemampuan pengasuhan seperti ini harus dilakukan dan dilatih, jauh lebih efektif jika dilakukan di dalam kelas pelatihan daripada sekedar membaca buku. Bapak bisa menghubungi redaksi untuk mendapatkan jadwal pelatihan kami.
  4. Jangan membanding-bandingkan anak. Setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda dan kecepatan belajar yang berbeda pula. Maka lebih baik mendorong anak untuk melakukan lebih baik dari apa yang pernah dia lakukan sebelumnya, sehingga ukurannya adalah kemampuan dirinya sendiri.
  5. Puji perilaku baik anak. Pujilah perilakunya bukan orangnya. Memuji dengan mengatakan “Kamu pintar” “Wah hebat deh kamu” adalah cara yang salah. Katakan dengan tepat perilakunya “Wah, hari ini kamu menata meja belajarmu, alhamdulillah, terimakasih ya nak”. Pujian yang tepat akan mendorong perilaku yang sama untuk diulang kembali. Anak yang mendapatkan apresiasi di rumah tidak haus pujian dan tidak merasa perlu berbohong untuk sekedar diterima oleh teman-temannya.

 Sebagaimana orang dewasa, anak-anak sekali waktu, mungkin melakukan kesalahan. Maka bantulah mereka untuk memperbaiki kesalahan tersebut dan percayakan bahwa mereka belajar dari kesalahan tersebut.

Anak-anak yang mendapatkan kepercayaan dan merasa dipercaya, pada akhirnya akan belajar untuk menjaga kepercayaan tersebut dan mau belajar untuk senantiasa jujur dalam perbuatan dan perkataan.

 Mencerdaskan intelegensi anak dan menjaga kesehatan fisik anak, jauh lebih mudah daripada mencerdaskan moral dan menjaga kesehatan mental anak. Menjadi orang tua bukanlah kemampuan otomatis, tetapi harus dengan sungguh-sungguh dipelajari. Jangankan mendidik anak. Menyetrika baju saja ada ilmunya. Oleh karena itu, ayah dan ibu perlu terus belajar karena tantangan jaman semakin hari semakin berkembang.