Management – Keuangan Keluarga

Persoalan keuangan keluarga adalah salah satu alasan terbesar dalam kemelut rumah tangga selain persoalan seputar kamar tidur, komunikasi, perselisihan dengan keluarga besar dan perselingkuhan. Sebetulnya permasalah-permasalahan tersebut saling terkait.

Oleh karena itu dalam sessi konsultasi masalah keluarga, persoalan Management Keuangan Keluarga (MKK) ini sering dijadikan salah satu bagian dari perubahan yang saya anjurkan.  Berikut ini adalah salah satu desain MKK yang sering saya anjurkan yang sifatnya umum dan simpel. Saya gunakan bahasa sederhana agar mudah dicerna dan diaplikasikan

PRINSIP DASAR 

  • Diskusikan MKK SEBELUM Menikah, ingat ya sebelum. Jangan karena mabuk asmara lupa diskusi MKK. Nanti waktu bangun dari mabuk terlihat sumber masalah baru 😄
  • Bagi keuangan keluarga menjadi 3 pos utama
  1. Uang Keluarga (di keluarga saya disebut uang company. Our company name is The Guna***s 😄) .
  2. Uang pribadi istri
  3. Uang pribadi suami

Sebaiknya masing-masing pos berada dalam rekening yang berbeda

UANG KELUARGA (UK)

Uang keluarga ini bisa dibagi lagi menjadi 2 jenis

  • Current : digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dalam satu bulan. Meliputi pengeluaran rutin, belanja, SPP anak, bantuan untuk orang tua (extended family), sumber uang pribadi istri dan suami. Buatlah daftar kebutuhan rutin bulanan untuk menentukan jumlahnya.
  • Saving : digunakan sebagai simpanan dan penggunaan konsumsi jangka panjang spt rumah, mobil, uang masuk sekolah, dll.

Siapa yang bertanggungjawab mengisi UK ini? Jelas bread winner dalam keluarga. Idealnya ayah. Jika ibu bekerja dan bersedia berkontribusi memasukkan dana di Uang Keluarga ini tentu boleh-boleh saja. InsyaaAllah dihitung sebagai sedekah kan meski tidak wajib?  Perubahan bisa dilakukan sesuai dengan kondisi saat itu.

(di keluarga kami seluruh pendapatan suami masuk ke sini dulu sebelum nanti ditransfer untuk masuk ke pos-pos lain, alhamdulillah)

Naaah khususon sandaaang nih…. karena tergantung selera dan kebiasaan, perlu disepakati secara berkala tentang jumlah wajar pertahun yang di keluarkan. Lalu bagaimana dong kalau salah satu pihak suka yang fancy-fancy… ya silahkan nabung dari Uang Pribadi Istri/Suami (tergantung siapa yang suka fancy items)

Uang Pribadi Istri

Uang pribadi istri adalah pendapatan istri (jika istri ikhlas berkontribusi di uang keluarga maka ini sisanya) ditambah uang “gaji istri” dari Organisasi/Company yang bernama Keluarga alias UK jenis Current. Gaji istri bisa berupa persentase atau nominal tertentu. Tentu tidak akan ada nilai yang pantas untuk menggaji istri. Tetapi ini adalah uang yang tidak perlu “ditanyakan” penggunaannya. Nilainya pun tergantung kemampuan. Apa saja yang dicover dengan uang ini juga sangat tergantung kondisi ekonomi keluarga. Mau meng-cover uang ke salon, untuk menabung membeli branded items silahkan tergantung kesepakatan masing-masing. Jika tadi disebutkan bahwa bantuan untuk ayah ibu kandung dan mertua diambil dari UK dalam jumlah yang sudah ditentukan, maka jika ada hal-hal di luar itu boleh juga istri menambahkan bantuan dari uang ini.

(Saya pribadi menggunakan uang ini sebagian untuk membeli kado-kado kejutan untuk suami karena saya alhamdulillah mempunyai penghasilan cukup.. 😄. Jadi gaji dari beliau sebagian ya kembali ke beliau dalam bentuk yang lebih romantis 😁)

Uang Pribadi Suami

Intinya sama dengan Uang Pribadi Istri. Jika suami menyerahkan 100% pendapatannya ke UK, maka Uang pribadi suami sumber dananya ditransfer dari UK yang berhak dipergunakan suami tanpa dipertanyakan. Tetapi jika suami tidak menyerahkan 100% pendapatannya ke UK, berarti bagian yang tidak diserahkan itu. Lagi-lagi tergantung kesepakatan. Jika sudah disetujui seperti ini sejak awal, maka tidak boleh dipermasalahkan di kemudian hari. Alangkah baiknya jika besarannya diketahui kedua belah pihak. Mau dipakai untuk apa? BEBAS.

Masing-masing pihak tentu kelak akan mempertanggungjawabkan jalan yang digunakan ketika menggunakan uang tersebut kepada Allah kan? So , percayakan saja.

Lebih besar mana dengan “gaji istri”?  Lagi-lagi silahkan disepakati.

(Kami pribadi memberikan porsi yang lebih besar kepada suami karena kegiatannya lebih banyak dan suami sudah menyerahkan seluruh pendapatannya ke UK sehingga tidak punya uang lain selain porsi yang diberikan sebagai Uang Pribadi Suami, sedangkan saya mempunya penghasilan lain. Jadi kasihan kan, uang pribadinya ya hanya segitu-gitunya itu.. :D)

Bagaimana kalau uangnya sedikit sehingga jika dibagi ke beberapa rekening tidak memenuhi persyaratan minimal?  Dipisahkaan pakai amplop saja.
Jaman duluu sekali saya juga pernah melewati masa-masa pakai amplop juga kok meski hanya sebentar.

Dengan pembagian dan kesepakatan yang jelas seperti ini, insyaaAllah hidup lebih damai dan tenang. Masing-masing memiliki kontrol dan harus merencanakan pengeluaran pribadinya.
Kuncinya, Jujur, Syukur, Ikhlas, Terbuka dan Amanah

Materi yang lebih lengkap pernah kami sampaikan di kelas online, summary-nya ada di
https://www.nuriaprilia.com/2020/04/manajemen-keuangan-keluarga.html

Manusia, Ibarat Wadah Prasmanan

Ih.. aku ngga suka lho sama si itu…

Ah.. aku sudah kehilangan cinta padanya…

Dasar si fulan ya memang gitu orangnya..

Kamu memang ngga pernaaah ndengerin aku…

Kamu selaluuu begitu padaku..

Memang kamu anak sulit

Aku ini orangnya pemarah…

Aku memang begini, susah berubah, terima aja..

Emang udah dari keturunannya sial ya sial aja..

Familiar dan akrab dengan kalimat-kalimat di atas? Entah dilakukan oleh diri sendiri atau mendengar dalam kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya, Manusia, ibarat wadah prasmanan. Di dalam masing-masing wadah itu kadang tersaji emosi, perilaku, pengetahuan, persepsi, dan lain-lain. Meskipun sebagai wadah, namun manusia adalah wadah yang memiliki ruh dan diberi kemampuan akal oleh Tuhan untuk memilih sendiri isinya. Jika ada yang isinya tidak enak, bisa diganti sajian lain yang lebih enak. Jika ada yang basi, bisa dibuang lalu diisi lagi sajian yang baru.  Jika emosi yang sedang tersaji dalam wadah ternyata tidak memberdayakan, segera ganti. Jika pengetahuan dalam sajian kurang, segera ditambah. Jika persepsi tidak mencerahkan, bisa ditukar. Ada ilmunya, ada caranya, ada sendok takaran yang tepat, ada sumber yang akurat.

Isi sajian bisa berupa hidangan pokok plus sajian penunjang sesuai dengan kebutuhan dan peran yang dijalankan. Ketika berperan sebagai orang tua, pasangan dan sahabat, wadah yang paling depan bisa diisi dengan hidangan kasih sayang dan keinginan melihat hal-hal baik. Namun jika peran yang sedang dijalankan adalah Auditor tentu sajian yang diputar ke bagian depan adalah professional skepticism alias kepekaan melihat kesalahan. Apalagi kalau fungsi yang dijalankan adalah mata-mata perang, wadah yang paling depan tentu peluang untuk menyerang dan mencari kesalahan. Nah.. kepekaan dalam menentukan isi sajian ini begitu penting. Coba kalau terbalik, menyajikan wadah skepticism saat berkomunikasi dengan pasangan, beeuh perang melulu deh.. :D.. 😀

Sungguh sayang jika  wadah yang diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan ini yang hanya pasif saja, saat di luar ada lalat pembawa bakteri tidak segera menutup wadah, akhirnya sajian di dalamnya ikut terkontaminasi. Saat di luar ada taburan vitamin bergizi yang justru akan membuat rasa dan aroma sajian kita semakin sedap dan indah tidak mau membuka diri. Atau malah membiarkan wadah-wadah lain yang sudah basi menumpahkan makanan basinya ke wadah milik sendiri.

Saat manusia berinteraksi dengan manusia lain, pandang, dengar dan pikirkan ia sebagai wadah. Saat suami memandang istri, saat sahabat mendengar sahabat, saat orang tua merasakan anak, saat penonton melihat tokoh, saat penjual menghadapi pembeli, saat dalam meja perundingan, saat dalam manajemen meeting, saat membaca short message dari anak buah  dan berbagai kesempatan interaksi apapun. Yang tersaji saat itu mungkin hanya satu atau beberapa sisi wadah yang sedang menghadap ke kita.

Khusus untuk orang-orang yang kita sayangi, pasangan, orang tua, saudara, anak, sahabat, jika tersalah mereka menyajikan salah satu hidangan yang tidak anda sukai, ingatlah bahwa hanya sebagian hidangan itu saja yang perlu diperbaiki bukan keseluruhan wadah prasmanan itu menjadi buruk. Kemudian membuat generalisasi “Dasar memang anak ini nakal”, “Kamu memang suami yang tidak mengerti aku sama sekali” dan ungkapan-ungkapan lain, apakah yang terkatakan maupun yang hanya tersimpan di dalam self-talk, karena ucapan baik yang terkatakan maupun tidak, akan mempengaruhi pilihan sikap dan tindakan seseorang. Tetap sayangi dan cintai wadahnya.

Jika ingin membuat perbaikan, nyatakan dengan spesifik, hidangan mana yang perlu diperbaiki. Sebaliknya yang menerima juga perlu mengisolasi permasalahan hanya pada hidangan tertentu itu saja sehingga tidak mengeneralisasi sebuah niat baik untuk membuat perbaikan sebagai kebencian menyeluruh.

Apakah itu hanya khusus bagi yang kita sayangi? Tentu saja tidak.

Idealnya… begitulah cara kita mensikapi SEMUA manusia. Kecuali… jika memang anda punya tujuan lain misalnya mencari musuh, membuat strategi penghancuran karakter, meninggalkan cinta terlarang, terlibat dalam pertempuran politik atau hal-hal semacam itu. Generalisasi sajian menjadi keburukan seluruh wadah bisa dilakukan dengan sengaja, bahkan hidangan yang lezat bisa diplintir eh didistrorsi menjadi memuakkan. Jika itu dilakukan dalam koridor profesi maka akan dengan mudah mengembalikan ke persepsi awal, tetapi malangnya yang saat ini terjadi, manusia melakukan generalisasi dan distorsi tanpa sadar entah karena kurangnya ilmu atau terseret arus media

Tentukan dan desainlah peran dan tujuan hidup kita di dunia, laksana mendesain sebuah tema jamuan, maka akan dengan mudah kita tentukan, sajian apa saja yang perlu kita hidangkan dan bersama wadah yang berisi sajian apakah kita akan berkumpul. Agar kelak saat tugas kita sebagai wadah telah berakhir, akal telah tak difungsikan, ruh telah memantaskan diri untuk dikembalikanNya ke tempat yang indah.

 

The Secret of Enlightening Parenting Training

Mengasuh anak di zaman sekarang, dapat dipastikan, jauh lebih berat ketimbang orang tua 10-20 tahun lalu.Tantangannya sangat banyak, mulai dari tontonan televisi, berita di media massa, gajet, pornografi, hingga ancaman narkoba yang siap menerkam
Maraknya kasus bullying dan kekerasan pada anakmenimbulkan trauma baik dari tingkat ringan maupunberat
Lebih-lebih berita-berita di media sosial yang sekarang ini sudah banyak terlepas dari rambu-rambu kebenaran, penuh prasangka dan mengedepankan perselisihan memberikan nilai-nilai negatif yang tidak hanya mempengaruhi remaja tetapi juga orang dewasa.
Kondisi ini membuat seluruh orang tua di zaman sekarangharus memiliki berbagai kemampuan baru diantaranya
1. menanamkan nilai-nilai yang menjadi filter dan melekat hingga ke bawah sadar anak.

2. penguasaan teknik-teknik mengatasi trauma. Kemampuan yang praktikal untuk pertolongan pertama ketika anak mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, sebelum mencari bantuan professional.

3. kemampuan mencabut keyakinan dan nilai-nilai negatif yang terlanjur masuk dalam pikiran anak.

“Jika dulu banyak orang lebih peduli pada kesehatan fisik, maka kini sudah saatnya kita lebih peduli kepada kesehatan mental, yang efeknya tidak hanya di level dunia, tetapi juga menjaga fitrah mereka ketika kembali kepada pemilikNya

 

Akhirnya… Kini sudah ada sekolah jadi orang tua..

Ciptakan suasana rumah laksana surga.
Miliki kemampuan menanamkan nilai-nilai positif langsung ke bawah sadar agar dapat diingat seumur hidup. Menkoreksi dan mencabut hal-hal negatif akibat dari pengaruh kesalahan pengasuhan dimasa lalu, berkomunikasi efektif, memberi pertolongan pertama pada kasus trauma, bullying dan perasaan negatif yang dialami orang-orang yang anda cintai serta mempelajari lebih dalam apa yang tertulis dalam buku kami :

:: The Secret of ENLIGHTENING PARENTING ::

📆 16-17 Januari 2016
🏨 Hotel Harris, Kelapa Gading – Kelapa Gading Mall, Jakarta

Daftar sekarang selagi masih ada diskon :
WA : +62 811 910273
Telpon : +62 812 7841889
Email : enlightening.parenting@gmail.com

Silahkan mengisi form di bawah ini
https://enlightening.typeform.com/to/kaEv5r

Investasi
2.500.000
Pasangan suami istri : 4.500.000

EB Diskon 10% hingga 15 Desember 2015

Transfer ke Hardini Swastiana
BCA : 0281899359
Mandiri : 1030005417619

 

Parenting

The Secret of Self Improvement – Detoks Hati dan Pikiran

The Secret of Self Improvment_C-1+4

Untuk pertama kalinya di Indonesia, buku pemberdayaan diri didesain dan disajikan dalam konsep terapan yang jujur dan simpel agar mudah dimodel, dimodifikasi dan dilakukan ulang para pembaca. Lengkap dengan contoh-contoh masalah, mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks yang mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui buku ini para penulis telah membuktikan bahwa membuat perubahan itu mudah, proses parenting bisa dilakukan tanpa pening dan memperbaiki diri itu tidak perlu menunggu ahli. Bahkan, para penulis sudah membuktikan bahwa berproses secara lentur namun drastis, justru membuat hidup menjadi lebih nyaman dan membahagiakan. Maka, berhati-hatilah, buku ini bisa jadi akan membuat Anda penasaran dan ketagihan untuk segera mempraktikkannya serta menemukan betapa menakjubkannya rahasia-rahasia Self Improvement yang sesungguhnya telah disediakan Tuhan untuk anda

MidLife Crisis, Lalui Dengan Elegan

Beberapa bulan belakangan ini, trend kasus yang mampir ke ruang konsultasi saya bergeser dari masalah anak-anak dan remaja menjadi masalah pemetaan diri dan pernikahan. Semoga tulisan ini dapat membantu anda, pasangan anda dan orang-orang disekitar anda untuk melalui sebuah tantangan dalam hidup.

Midlife atau Middle adulthood adalah istilah populer untuk sebuah tahapan antara usia kurang lebih 40-60 tahun. Midlife crisis tidak melulu soal jatuh cinta lagi. Berdasarkan penelitian Elliot Jaques, midlife crisis ditandai dengan keinginan untuk membuat perubahan yang signifikan terhadap satu , beberapa, atau seluruh aspek kehidupana misalnya karir, kondisi keluarga, hubungan dengan pasangan, pengalaman hidup, peran sosial dan penampilan fisik. Di Indonesia, kondisi ini sering disebut sebagai “Puber Kedua’ karena katanyaaa.. kelakuannya mirip-mirip anak remaja alias remaja koloot.. :D.. :D.. Para ahli masih memperdebatkan apakah midlife crisis berhubungan dengan perubahan hormonal/fisiologis, semata-mata persoalan psikologis, atau sebuah simfoni dari keduanya.

Apa saja sih krisis yang mungkin terjadi?

  1. Career Crisis : Muncul rasa bosan pada pekerjaannya, merasa sudah mentok (mentok yang berarti buntu ya, bukan temannya bebek), kecewa karena merasa “seharusnya” sudah sampai di level tertentu tetapi masih saja jadi kroco mumet. Biasanya ditandai dengan mulai memperlambat waktu datang, memperpanjang waktu istirahat siang atau mempersingkat waktu pulang alias ngga mau telat dua kali – udah telat datang, jangan pula telat pulang .. :p. Banyak ngedumel jika tipe talkative tapi murung jika tipe pendiam
  2. Family Role Crisis : Merasa lelah dengan suasana di rumah. Pada midlife crisis tahap awal biasanya usia  anak-anak bervariasi  antara remaja dan balita. Anak-anak mulai pandai berargumen namun masih perlu rawatan fisik, sehingga muncul kelelahan kognitif maupun fisik, perasaan gagal mendidik dan tidak dihargai. Krisis ini ditandai dengan suka mencari alasan untuk lebih banyak mempunyai kegiatan di luar rumah, tenggelam dengan hobi atau justru memperpanjang kerja di kantor (atau di cafe dekat kantor … :D). Pada midlife crisis tahap akhir (di atas 50 tahun), ditandai dengan perasaan kesepian karena anak-anak meninggalkannya untuk menikah.
  3. Romantic Relationship Crisis: Menginginkan perubahan pada hubungan dengan pasangan. Di usia 40-60 tahun, biasanya usia pernikahan sudah memasuki tahun ke 10 atau lebih. Mulai ada kejenuhan, kehilangan suasana romantis, hubungan mendingin (AC kaliiii….), kehilangan sopan-santun bertutur dan masalah hubungan seksual
  4. Social Role Crisis : Merasa gamang dengan peran social di luar pekerjaan dan keluarga karena sebagian besar waktu dihabiskan untuk keluarga dan atau pekerjaan
  5. Self Image Crisis : Ditandai dengan pertanyaan pada diri sendiri “Apakah aku ini menarik?” baik secara fisik maupun secara citra diri. Perubahan bentuk tubuh, tekstur kulit, warna rambut, pakaian dan keseluruhan penampilan menjadi perhatian. Tidak hanya yang melekat di tubuh tetapi yang digunakan sehari-hari seperti kendaraan pribadi.

Midlife crisis dapat dialami baik pria maupun wanita namun mempunyai penekanan yang berbeda. Menurut penelitian para ahli yang disarikan oleh Hoffman, Hall dan Paris dalam bukunya Developmental Psychology Today, pria lebih sering mengalami krisis no 1,3 dan 5, sedangkan wanita lebih sering mengalami krisis no 2,4, dan 5. Tentu saja ini cuma studi, yang dialami masing-masing orang pada kenyataannnya bisa berbeda. Self image crisis pada pria dan wanita juga muncul dalam bentuk yang berbeda, jika di eropa pria yang mengalami self image crisis kemudiam membeli sport car warna gonjreng, di Negara berkembang mungkin berhenti di soal pakaian dan penampilan. Ya iyalah.. mau ngebut dimana dengan sport car kalau jalannya aja imut-imut plus harga mobil dan pajaknya yang aduhai bajaaii…. Pada wanita, perilaku yang tampak adalah galau terhadap bentuk tubuhnya yang mungkin tak lagi selangsing dulu, sibuk menghitung jumlah kerutan dan noda-noda di wajah… kalau perlu pake kaca pembesar :D…

Midlife crisis wajar-wajar saja terjadi, akan menjadi tidak wajar jika kondisi itu kemudian mengganggu kebahagiaan anda, luapan emosi yang berlebihan dan perseteruan dengan orang-orang di sekitar anda utamanya pasangan dan rekan kerja. Midlife crisis tidak perlu disembunyikan dari pasangan anda, karena justru bersamanyalah anda akan dapat melaluinya dengan elegan, pun demikian, bukan berarti perlu anda umumkan di status FB :D… Jadi apa yang harus dilakukan? Berikut ini tips menghadapi midlife crisis :

  1. Kerjasama dengan pasangan : apakah anda pria maupun wanita, kerjasama dan dukungan dari suami/istri sangat diperlukan. Kerjasama seperti apa kiranya?
    • Keterbukaan komunikasi : buatlah kesepakatan dengan pasangan anda untuk dapat menceritakan apa saja kegalauan anda, bahkan ketika anda tertarik dengan orang lain. Whhaaaattttt??? Salah tulis kaleee… Tidak, ini tidak salah tulis. Kesepakatan seperti ini akan memudahkan pasangan anda “mengembalikan” perhatian anda kepadanya. Tidak mudah? Memang. Perlu kesabaran ekstra. Namun bukankah lebih mudah bagi anda jika pasangan anda memberitahu anda dengan pasti apa yang membuat dia tertarik pada orang lain? Sehingga mudah bersepakat, hal-hal apa yang perlu diperbaiki dan disesuaikan. Kesepakatan-kesepakatan kecil yang cukup membantu diantaranya adalah menyepakati waktu tertentu dimana salah satu pihak boleh uring-uringan ngga jelas, sedangkan pihak lain sekedar menjadi telinga. Tanpa menanggapi apalagi menyimpannya dalam hati. Bonus waktu boleh uring-uringan ini tentu hanya anda berdua saja yang mendengar, tidak perlu dilihat anak-anak, apalagi membangunkan tetangga :D…  Berapa lama durasinya dan seberapa sering idealnya? Silahkan pada kesepakatan anda dan ketahanan telinga anda… :D. Contoh kesepakatan lain adalah mensepakati cara menegur apabila salah satu pihak melakukan hal yang tidak disukai pihak lain. Hindari teguran yang seperti kicauan burung kukuk dari jam dinding anda, 24x sehari sepanjang hari. Silahkan tambahkan sendiri kesepakatan-kesepakatan lain. Tuliskan kesepakatan yang sudah dibuat , agar anda bisa mengingat dengan mudah, hal-hal yang sudah disepakati. Keterbukaan komunikasi tidak berarti meninggalkan sopan-santun bertutur. Pelajari pola dan teknik berbahasa yang memberdayakan. Banyak orang yang mau repot-repot belajar teknik komunikasi untuk kepentingan bisnis, politik, menghadapi massa,  tetapi lupa mengaplikasikannya di rumah. Seringkali seseorang sedemikian santun di luar rumah tetapi enggan mengusahakannya di rumah. Lalu apakah itu namanya cinta jika anda tak takut melukai hatinya?
    • Kemauan untuk berubah : Banyak orang keliru berpegang pada kata-kata bijak “menerima apa adanya”. Benarkah “apa adanya” anda di usia 20 tahun sama dengan “apa adanya” anda di usia 40 tahun. Jangan-jangan sudah berubah menjadi “apa-apa ada ” atau “tidak ada apa-apanya”.. :D…  Adalah mustahil manusia tidak berubah sama sekali sejak awal kehidupan hingga akhirnya. Manusia terus berubah waktu demi waktu, tidak hanya fisik, tetapi juga kebiasaan bahkan karakter. Daripada berubah tak tentu arah, bukankah lebih baik meniatkan diri berubah ke arah yang lebih baik? Ketimbang anda berpegang pada ungkapan “cinta itu menerima apa adanya” bukankah lebih baik diubah menjadi “cinta itu bertumbuh menjadi lebih baik bersama-sama”. Lebih baik dalam memahami, mengimbangi, melayani, komunikasi, ketaatan kepada Yang Maha Mengatur kehidupan, dan lebih baik-lebih baik lainnya. Sepakati perubahan seperti apa yang anda ingin lakukan bersama-sama seiring dengan perubahan usia, kebutuhan, pengalaman dan peran anda. Melakukan perubahan memang bukan perkara mudah, tetapi juga bukan hal yang susah. Dengan memahami kerja pikiran (mind),  dan bagaimana pikiran mempengaruhi perilaku begitu juga sebaliknya, perubahan menjadi jauuh lebih mudah. Jika perlu minta bantuan professional untuk memudahkan anda. “Tapi, kalau pasangan saya tidak mau berubah bagaimana dong… Apa perlu diganti? hehehehe hush…. 🙂 Bukankah mengubah dengan teladan paling berkesan?
    • Sentuhan :  Penelitian Allan N. Schore (2001) dan Kathleen C. Light (2004) menunjukkan bahwa pelukan dan sentuhan kasih sayang meningkatkan produksi hormon Oxytocin. Hormon ini memberikan perasaan tenang, kelekatan secara personal, menyeimbangkan tekanan darah, mempengaruhi kemampuan orgasme, menurunkan kecemasan dan memunculkan perasaan bahagia. Hormon ini sering disebut juga sebagai love hormone. Tidak seperti hubungan seksual yang memerlukan privasi, sentuhan dapat dilakukan kapan saja dimana saja… Bukankah jika suami-istri bergenggaman tangan, akan berguguran dosanya dari sela-sela jarinya? Kapan lagi bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus, menggugurkan dosa sekaligus bonus meningkatkan hormone Oxytocin?
  2. Kenali diri : Midlife crisis bukanlah hal memalukan yang perlu anda tolak atau tekan dalam-dalam dari kesadaran. Bagaikan alarm, midlife crisis merupakan pesan yang dikirim bawah sadar anda untuk membuat perubahan. Semakin ditolak, justru alarm itu semakin kuat menunjukkan eksistensinya. Berdamailah dengan diri . Sadari perubahan dan kelola perubahan itu. Buatlah rencana dan lakukan secara nyata. Sibuk bergalau ria dan berandai-andai menjadikan anda jalan di tempat. Jika anda menginginkan perubahan dalam karir, segera ubah strategi anda, perbaiki performance anda, atau wujudkan karir baru yang lebih sesuai dengan anda sekarang. Jika anda mengalami kegalauan peran dalam keluarga, segera susun langkah baru, pendelegasian tugas, memperbaiki strategi komunikasi, belajar lagi ilmu parenting, dan lain-lain.
  3. Kenali Tuhan : Pahami kembali makna kebersyukuran dan tafakuri setiap masalah yang dihadapi, bukankah itu salah satu cara Allah untuk menjadikan hambanya lebih baik?

Midlife crisis hanyalah sebuah proses,  yang untuk melaluinya terdapat dua pilihan, penuh friksi yang berakhir pada frustrasi atau elegan menjemput berbagai perbaikan…

Pendidik Anak di Rumah : Super Mom or Supir Mom?


Seringkali saya ditanya baik dalam kelas maupun di luar kelas oleh para ibu yang ingin meninggalkan pekerjaan formalnya dan beralih profesi menjadi pendidik anak di rumah. Berikut ini saya rangkaikan tips persiapan untuk alih profesi. Supaya keren, saya akan berikan Job Title khusus untuk profesi Pendidik Anak di Rumah yaitu Posterity Educationalist alias “PE” (ehem… ehem…. 🙂).

1. Niat
Jika dari awal tujuan anda berhenti adalah untuk mendidik anak di rumah, maka susun baik-baik niat anda ini. Sungguh-sungguh periksa hati anda dengan jujur. Jangan mengatakan anda berganti profesi demi berdedikasi menjalani peran sebagai madrasah pertama bagi anak seperti yang dianjurkan agama, tetapi sesungguhnya ada sudah tidak tahan lagi dengan lengkingan suara atasan anda di kantor, lelah menghadapi macet, tidak laku lagi bekerja atau alasan-alasan lain yang dibungkus dengan kalimat pembenaran. Niat anda hanya anda dan Tuhan yang tahu. Meski tiada seorangpun dapat menghujat dan menghakimi, namun janganlah membohongi Yang Maha Tahu, karena kelak kesungguhan dan pahala anda bermula serta dihitung dari sini.
Pssst… lalu bagaimana kalau saya belum yakin dengan kelurusan niat saya karena masih berupa campuran dari berbagai alasan? Bantu diri anda dengan melakukan assesment berikut ini..
  • Mengapa saya ingin menjadi PE?
  • Kemampuan apa yang sudah saya miliki untuk menjalani profesi ini? Jika masih kurang, di/darimana/ siapa saya harus belajar?
  • Apa yang akan saya dapatkan jika saya menjalani profesi ini? Apa yang tidak akan saya dapatkan jika saya menjalani profesi ini?
  • Apa yang akan saya dapatkan jika saya TIDAK menjalani profesi ini? Apa yang TIDAK akan saya dapatkan jika saya TIDAK menjalani profesi ini?
  • Mengapa jawaban item ke 2 dan ke 3 di atas penting untuk saya dapatkan?
  • Apa pengaruh pilihan saya ini pada kehidupan keluarga inti saya, keluarga besar saya, pertemanan saya dan pandangan saya terhadap diri saya sendiri?
  • Identitas apa yang saya inginkan untuk diri saya dan UNTUK APA dan UNTUK SIAPA saya persembahkan hidup saya.

InsyaaAllah keputusan anda menjadi lebih mantap dan positif dengan langkah-langkah di atas.

Tetapi bagaimana jika assesment itu masih juga menghasilkan pertempuran dalam diri anda, maka anda punya 3 pilihan sikap

  • Tunda : daripada anda membuat stress anak-anak dan pasangan anda dengan keluhan yang tiada habisnya, wajah manyun atau justru berhentinya anda tidak memberi manfaat untuk anak dan pasangan karena anda akan menggantinya dengan sederet arisan-arisan, shopping sana-sini, atau menghabiskan waktu berjam-jam untuk hobi anda yang lain
  • Jalani dengan jujur dengan waktu tertentu : Akui  sejujurnya alasan anda yang sebenarnya dan sebutkan target berapa lama anda akan berhenti. Lalu rencanakan apa yang anda akan lakukan dalam waktu jeda itu agar tidak sia-sia. Insyaa Allah niatnya tetap mulia yaitu tidak membuang waktu dengan sia-sia.
  • Luruskan PAKSA.. (duh sadis amat main paksa…)  Jika hal positif tidak mampu memotivasi anda maka takut-takuti diri anda sendiri dengan membayangkan kemungkinan TERBURUK jika anda tidak melakukannya. Waduh.. emangnya bagus memotivasi diri dengan cara menakut-nakuti? SECARA PRIBADI, SAYA TIDAK SUKA cara ini,  karena seperti do’a mengharapkan keburukan. Namun memang anda orang-orang yang hanya bisa lari jika cambuk mengancam punggungnya.

Lalu bagaimana jika awalnya terpaksa atau kebetulan? Misalnya anda di PHK dan tidak bisa mencari pekerjaan lain, atau harus mengikuti suami ke tempat lain yang tidak memungkinkan anda bekerja lagi. Ya mudah saja, tinggal perbarui niat anda seperti step-step diatas.

Pastikan niat ini menjadi NIAT BERSAMA, antara anda dan suami dan mintalah dukungan dari orang tua anda. Beri mereka pengertian sebagai pihak yang telah membiayai pendidikan anda dan sampaikan terimakasih anda bahwa dengan bekal pendidikan yang mereka biayailah anda akan mendidik cucu-cucu tercinta mereka… (jangan lupa buat tekanan yang kuat saat mengatakan urusan cucu ini, karena biasanya hati para kakek-nenek akan meleleh dengan kunci ajaib ini.. :D). Bisa jadi ortu keberatan karena pekerjaan anda ibarat trophy dari “keberhasilannya mendidik anak”, itu lho anakku Menejeeer. Tidak apa-apa, pahami perasaan beliau namun tetap berikan pengertian atas keputusan anda. Obat mujarab dari kekecewaan beliau adalah melihat anda bahagia menjalani peran, melihat improvement perilaku anak-anak anda karena program pendidikan adabnya lebih terstruktur dan anda lebih punya waktu melayani beliau dengan penuh perhatian. Tapiiii.. jika anda sudahlah berhenti kerja, di rumah ngamuk-ngamuk ya keterlaluan.

2. Buat rencana 2 tahun pertama.

Buatlah rencana anda seperti anda membuat Performance Appraisal Form saat anda bekerja. Bermula dari tujuan, apa ukurannya, metodenya, perlu belajar apa, siapa yang akan menilai.. Ajak suami anda menyusun program ini bersama-sama dan sepakati bagaimana metode reward dan apresiasinya. Pujian suami adalah reward penting dalam tiap langkah pencapaian. Memberi hadiah juga tidak salah, namun… wajah bahagia anak-anak yang tumbuh dalam pelukan dan bimbingan kasih sayang anda ditambah derasnya tabungan pahala yang langsung datang dari Yang Maha Memberi,…  tiada tanding, tiada banding nilainya dari sekedar pujian ataupun hadiah.

Mengapa 2 tahun? Biasanya 2 tahun juga angka yang dipakai sebagai ukuran bagi beberapa instansi jika anda mengajukan cuti tanpa gaji (leave without pay). Maka periode ini bisa saja anda lakukan tanpa sungguh-sungguh berhenti bekerja tetapi mengambil periode cuti tanpa gaji. Kalau anda tidak suka 2 tahun, anda bebas menggantinya menjadi angka 1, 3, 4 juga boleeeh…

Rencana ini tentunya membutuhkan peran anda langsung dalam pencapaiannya sehingga ada layak memegang Job Title “PE”. Misalnya dengan meletakkan program preschool home schooling di dalam “to do list” anda. Jika anda sudah memutuskan menjadi PE tapi masih juga mengirim batita anda ke sekolah atau sekedar membuat daftar panjang les, kursus yang akan diikuti anak anda,  dan rencana anda hanyalah menjadi pengantar anak kesana-kemari, maka Job Title anda harus berubah menjadi Supir Mom alias “SM” . Bukan berarti tidak boleh ya… Anda boleh saja memutuskan untuk menjadi SM terutama jika alasan anda berhenti bekerja hanyalah mengisi waktu jeda agar tidak sia-sia atau untuk mengurangi pengeluaran keluarga membayar gaji supir atau biaya transportasi. Tentunya anda tidak boleh mengaku PE jika pekerjaan anda SM. Prinsipnya, jujurlah menilai diri, toh anda tidak perlu mengumumkan jabatan baru ini.

3. Bersungguh-sungguhlah dalam menjalankan tugas ini lebih dari bersungguh-sungguhnya anda dengan karir anda sebelumnya
Jika anda sedemikian keras bekerja demi sebuah tugas yang diberikan oleh penguasa perusahaan apapun jabatan atasan anda,…. lalu harus sekeras apa usaha untuk menyempurnakan tugas yang langsung diberikan oleh Penguasa alam semesta? Jika sedemikian hebatnya keinginan anda untuk mendapat pujian dan reward dari penguasa perusahaan tempat anda bekerja,… lalu harus sehebat apakah keinginan anda untuk mendapat reward dari Penguasa langit dan bumi serta pujian dari suami yang ridho-nya menjadi jalan menuju surga?
Delegasikan hal-hal yang tidak terlalu penting dan secara keuangan mampu anda delegasikan. Kalau anda sanggup punya asisten rumah tangga, percayakan lantai anda untuk mereka belai untuk memberi kesempatan anda membelai orang-orang tercinta. Jika tidak memungkinkan memiliki asisten tetap, cari jalan untuk outsourcing.  Misalnya setrika… Jika di sekitar anda ada usaha laundry murmer, lempar saja tumpukan setrikaan anda ke sana. Bagi-bagi tugas sederhana adengan suami dan anak-anak. Bukankah time management dan empowering adalah salah satu kunci sukses apapun profesi anda?
4.  Bernegosiasi dengan diri sendiri mengenai “pendapatan yang hilang”
Tentu wajar jika anda yang terbiasa mempunyai penghasilan sendiri merasa tidak nyaman saat tiba-tiba harus kehilangan penghasilan. Rasanya semacam tiba-tiba “miskin” secara pribadi. Kadang kesediaan suami untuk mencukupi apa yang dulu anda cukupi dari penghasilan anda tidak banyak membantu menyelesaikan emosi ini. Perasaan “diberi” atau “meminta” mungkin mengganggu ego anda. Utamanya, selesaikan dulu konflik batin anda, bandingkan makna penghasilan dan makna awal dari niat anda yang sudah kita bahas di atas.
5. Diskusikan tentang “pendapatan keluarga yang hilang”
Jika selama ini gaji anda juga digunakan untuk mendukung pendapatan keluarga.  Diskusikan pendapatan yang hilang ini dengan seluruh keluarga. Hal-hal apa yang perlu dikurangi, dihilangkan, diganti atau suami perlu usaha lebih untuk menggantikan pendapatan yang hilang itu.
Sebaiknya tunda dulu keinginan untuk mendapatkan penghasilan saat sudah berhenti bekerja di tahun pertama. . Namun, jika dalam perjalanannya, anda dapat menjalani program ini dengan mulus sekaligus ada peluang untuk mendapatkan penghasilan dari rumah….. tentu tidak ada salahnya, apalagi jika kegiatan itu sekaligus mendukung peran anda. Syukuri kesempatan langka itu.
6. Sepakati hari cuti setidaknya 1 hari dalam sebulan untuk “me time”
Sebagaimana pekerjaan yang lain, tentu anda perlu waktu “istirahat”… Maka sepakati setidaknya 1 hari dalam 1 bulan anda untuk melakukan kegiatan yang anda sukai. Meskipun kadang tidak bisa berlangsung selama 24 jam terus menerus, setidaknya 8 jam cuti cukuplah. Demikian pula sebaliknya, pasangan anda juga berhak cuti untuk tidak membantu anda dalam urusan rumah tangga jika anda sama sekali tidak punya asisten yang membantu anda sehari-hari.
7. Komunikasi yang baik dengan suami adalah contoh terbaik bagi anak. Anak adalah peniru ulung
Jagalah sopan santun anda dalam berkomunikasi dengan suami. Jangan menjadikan suami sasaran ketegangan anda, sebaliknya suami belajar memahami ketegangan istri, terutama di bulan-bulan pertama perubahan profesi anda. Belajar teknik komunikasi acknowledging and reorienting, positive feedback, bahasa kasih sayang, bahasa hipnotik, dan banyak lagi teknik lainnya yang jika saya bahas akan setara dengan 1 hari Enlighten & Empower Communication workshop.
Seringkali kita sangat bersopan santun dengan orang lain, tetapi justru enggan melakukannya untuk orang-orang yang anda cintai. Lalu apakah itu namanya cinta kalau anda tidak takut lagi menyakiti hatinya?
8.  Pelihara  ilmu anda
Bantu teman atau buatlah sebuah karya pribadi yang berhubungan dengan profesi anda sebelumnya setidaknya 1x dalam 2bulan, meski tidak mendatangkan penghasilan. Suatu saat nanti entah karena alasan apa, mungkin anda perlu kembali bekerja.  Bisa juga anda menambah ilmu lain, namun tidak menyita waktu anda untuk memenuhi program kerja 2 tahun anda. Kegiatan menambah ilmu 2x seminggu masing-masing 2 jam bisa dijadikan pilihan.

9. Bersyukur dan bertafakur

Syukuri setiap pencapaian yang anda lakukan sesuai dengan rencana anda. Jangan mengakuisisi pencapaian yang merupakan hasil kontribusi pihak lain misalnya sekolah, supaya anda tetap menjadi ibu yang jujur, bisa mengapresiasi pihak lain dan mau belajar lagi.
Renungi kejadian-kejadian yang menjauhi pencapaian dengan pertanyaan, “Manfaat apa yang kuperoleh dari kejadian ini untuk memperbaiki diri?” Jadikan sebagai umpan balik.
Waspadai adanya kemunduran, misalnya anak tiba-tiba ngompol lagi, menjadi tegang, emosional, lebih suka berlama-lama di sekolah. lebih suka keluar rumah dll… Kemungkinan keberadaan anda menimbulkan rasa tidak nyaman. Teruslah membuat perbaikan.
10.   BERDO’A mohon pertolongan Yang Maha Kuat
Manusia pada dasarnya lemah dan dho’if.  Maka berpeganglah pada kekuatan Yang Maha Kuat di setiap do’a, di setiap langkah.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya teringat pada satu  pertanyaan krusial. Kapan waktu yang tepat bagi anda untuk berhenti bekerja? Saat terbaik adalah saat anak anda lahir dan tetap di rumah sampai usia sekolah dasar. Setelah anak-anak menjalani sebagian harinya di sekolah, silahkan anda juga menjalankan hari anda untuk bekerja. Namun ingat… ENERGI anda harus tetap BARU ketika sampai di rumah seperti yang anda harapkan juga dari suami anda, serta   masih memiliki waktu sekurang-kurangnya 3 jam untuk berinteraksi dengan anak dalam keadaan sama-sama segar (bukan sama-sama tidur) untuk menemaninya meninjau ulang hari-hari yang dilaluinya di sekolah.
Siap punya profesi keren? Posterity Educationalist…..

Pembela Pembenaran atau Pejuang Perbaikan, itu Pilihan..

imagesHari ini  dalam sebuah kelas, seorang peserta bertanya pada saya tentang bagaimana membingkai musibah dalam sebuah makna, yang memberdayakan tentunya… Dan sayapun teringat pada sebuah peristiwa.

Peristiwa ini terjadi 9 tahun lalu, saat pembarep saya mengalami phobia, setelah kami menerapkan anjuran seorang kenalan psikolog yang saat itu saya anggap lebih ahli dalam bidang psikologi perkembangan, yang mungkin sekaligus juga penganut teori-teori Nanny 911..                         .

Rasanya saya tidak perlu menjelaskan seperti apa tepatnya anjurannya itu, yang jelas phobia sudah terbentuk.  Phobia? … Anak seorang psikolog mengalami phobia? Hmmm…. bisa jadi wajar saja, toh anak dokter juga bisa kena demam berdarah, anak insinyur tak pandai matematika, ahli komunikasi yang bertengkar melulu dengan anaknya karena mis-komunikasi. Tetapi peristiwa ini menjadi menyedihkan saat psikolog ini bahkan tak tahu cara menolong anaknya untuk sembuh dari phobia, bukankah ini terdengar mirip  dengan dokter yang tidak tahu cara menanggulangi deman berdarah atau insinyur yang tidak bisa menjelaskan matematika tingkat SD dan ahli komunikasi yang tak tahu dimana letak simpul masalah komunikasi dalam keluarga? Menyedihkan memang. Meskipun menyedihkan, faktanya memang ada.

Saat itu karir saya sedang bersinar terang dan sejak masih saya lebih tertarik bidang Industri dan Organisasi. Hati saya tergelitik untuk melindungi ego saya dalam Blaming and Justifying Game alias mencari Black Embek dan membuat pembenaran-pembenaran. Tinggal tunjuk hidung si psikolog aliran Nanny 911 dan mengatakan “Kami korban psikolog ngawur” untuk versi Blaming. Sedangkan untuk versi Justifying saya tinggal membuat pengumuman di jejaring sosial ”Heiii…. saya ini ahli Psikologi Industri !. Lihat dong prestasiku yang cemerlang… Wajarlah kalau saya tidak berminat soal psikologi perkembangan anak, semua itu kan ada spesialisasinya… dokter jantung juga belum tentu ngerti soal ginjal.. Lalu saya menceburkan diri dalam komunitas anomali alias spesial case. Gampang kan… Gampang memang, namun apakah akan menyelesaikan persoalan?

MAKNAI DAN TENTUKAN TUJUAN

Tujuan memberi arah dan makna terbaik semestinya menggerakkan. Maka berhentilah sejenak, mungkin melalui sujud, mungkin dengan berlutut, mungkin dengan jari-jari tertangkup. Iqra’ (Bacalah).. apa pesan yang ingin disampaikanNya dalam sebuah peristiwa? Tafakuri makna apa yang terkandung di dalamnya Bukankah Tuhan tak pernah dzalim, bukankah Tuhan hanya menginginkan kebaikan dari hambaNya? Tanyai diri sendiri, kuliti dan hakimi sebelum kelak menghadap Hakim yang sesungguhnya. Bukankah peristawa dariNya selalu memiliki intensi positif untuk menunjukkan jalan menuju surga?

Jika saya memilih sujud karena saya meyakini dalam sujud terlepaslah kesombongan menuhankan nafsu dan berkuncilah keinginan menudingkan jari. Bagaimana hendak  sombong jika kepala tertunduk serapat bumi, bagaimana hendak menuding jika  tangan bekerja menopang diri. Pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan pada diri untuk menemukan pesan.  Bukankah selama ini saya selalu diberi predikat fast learner? Mungkinkah ini cara Tuhan mengingatkan saya untuk belajar lagi? Apakah saya lebih mementingkan image orang lain daripada tugas saya untuk menyempurnakan ikhtiar sebagai ibu yang diberi tugas bersamaan dengan cinta yang dititipkanNya? Bukankah istigfar dan maaf saja tidak cukup tanpa adanya perbaikan? Maka malam itu saya saya tentukan tujuan baru, bukan sekedar menyembuhkanb phobia anak saya tapi sekaligus belajar bidang ilmu yang sesungguhnya sudah saya ketahui dasarnya yang akan menopang tugas baru saya sebagai ibu. Ilmu menjadi orang tua.

Masih jelas dalam ingatan saya, mulai malam itu dan hari-hari seterusnya saya terus membaca dan belajar lebih dalam tentang pengasuhan anak. Saya memburu buku, membeli CD Dr. Harvey Karp, mengejar kelas Dan Siegel, Melahap buku pengasuhan islam Abdullah N. Ulwan, belajar tentang pikiran manusia, komunikasi di level subconscious, buku-buku terapi, neuro linguistic programming, buku-buku Virginia Satir, mengikuti berbagai seminar, mendapatkan berbagai sertifikasi, membantu klien-klien saya, mengajarkan di kelas-kelas, menerapkan, membaiki dan terus belajar hingga hari ini.

Lalu phobianya? Ups hampirr lupa.  Singkatnya saya diberi kemudahan untuk menyelesaikannya dengan membuat remote control imaginative yang mampu mengubah gambar dan suara dalam imaginasinya. Sebuah teknik hasil rekaan berdasarkan buku-buku yang saya baca, sebelum akhirnya saya mempelajarinya secara formal di kelas beberapa tahun kemudian. Bukan terapi phobia-nya yang ingin saya tekankan, namun  perjalanan mencari makna dan menentukan tujuan.

Alih-alih menyalahkan, syukuri setiap peristiwa. Sibuk mengeluh, mengumpat dan mencari-cari bukti-bukti pembenaran atas “kekurangan” ibarat jalan ditempat di atas lumpur penghisap.  Sudahlah tak sanggup menolong menyelesaikan masalah, terhisap hingga tenggelam tanpa perbaikan.  Rugi kuadrat ! Maka salahpun jangan sampai sia-sia.

Proses perbaikan memang bisa kita lakukan sendiri, tetapi….terbayang bukan…. nikmatnya jika anda dan pasangan anda sama-sama mempunyai kemauan yang untuk terus merenovasi diri dengan proses tafakur bersama? Seperti beberapa email dari pasangan yang mengikuti kelas parenting saya menceritakan betapa indahnya proses menemukan area-area yang perlu diperbaiki bersama, menyusun langkahnya dan menikmati hasilnya. Hubungan yang penuh warna dan anak-anak yang bertumbuh menjadi lebih baik bersama-sama. Subhanallah… seringkali saya ikut terhanyut membacanya.

Karena hidup adalah pilihan dan “Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Qs. Ar-Ra‘d [13]: 19).

DEALING WITH PEOPLE YOU CAN’T STAND

Apa yang anda rasakan, jika anda menghadapi seseorang yang judes, dingin, bahkan menganggap anda tidak ada ketika anda berbicara dengannya?

Mungkin hanya dengan membayangkannya saja, sudah muncul perasaaan kesal, marah atau sensasi-sensasi negative lainnya dalam hati anda.

Jika anda berdarah preman mungkin anda akan menggebrak meja dihadapan orang tersebut.

Jika anda bermental baja, mungkin anda tetap cuek nyerocos dan berharap satu dua informasi nyangkut di kepalanya.

Atau… anda memilih meninggalkannya dan berkata dalam hati “Emang siapa lu!”

Maka anda akan membuat kesimpulan bahwa dia adalah “ORANG SULIT”

 Jika orang tersebut tidak penting dalam pencapaian tujuan anda, anda bisa memilih berbuat apa saja, tetapi seringkali “si nyebelin” itu adalah orang yang cukup penting dalam pencapaian tujuan anda.”

Kawan saya, seorang agen asuransi, mengeluh sering “dikacangin” alias dicuekin oleh calon nasabahnya. Meskipun darah mendidih, apa boleh buat kenyataan-kenyataan seperti itu menjadi hidangan yang mau-tidak mau harus dihadapinya terutama jika calon nasabah itu memang potensial. Pengalaman pernah gagal akan menjadi bumbu yang menambah siksaan yang menekan di dalam dirinya.

Malam itu, melalui telepon, kawan saya curhat bahwa besok siang dia harus menemui seorang calon nasabah, sebut saja Mr. RX yang tergolong “sulit” atas permintaan istri Mr. RX. Sang istri ingin suaminya mengambil suatu program asuransi yang dibutuhkan oleh keluarga tetapi tidak sanggup membujuk suaminya. Kawan saya sudah pernah menemui Mr. RX ini dua kali. Hasilnya? Memandangpun dia tak mau.. (halah.. kejam nian..)

Tidak tanggung-tanggung, kali ini, kawan saya harus menemui Mr. RX di Jakarta, sedangkan kawan saya tinggal di Yogyakarta. Anda dengan mudah dapat membayangkan effort berupa tenaga dan biaya yang akan dikeluarkan oleh kawan saya ini untuk menemui Mr. RX. Apalagi usaha itu belum tentu mendatangkan hasil. Dia minta saya menolongnya mengatsi masalah ini dan ingin bertemu dengan saya sebelum berjumpa dengan Mr. RX

Singkat cerita…

Pagi-pagi sekali directly dari statiun Gambir, kawan saya sudah bertandang ke rumah kakak saya dimana saya menginap selama di Jakarta. Bayangkan.. directly… tanpa mandi, tanpa sarapan dengan wajah diselimuti kekhawatiran. Setelah mandi dan minum teh, kami mulai berbincang. Saya menanyakan apa yang dia harapkan dari pertemuannya kali ini dengan Mr. RX.

“Setidaknya dia mau dengar penjelasan saya dulu deh…” katanya

“Cuma itu” tanya saya

“Yaaa… kalau bisa langsung sign, ya Alhamdulillah”.. sambungnya

“Kira-kira anda mengerti tidak apa yang dia harapkan dari anda dan produk anda ini” lanjut saya

“Ya yang pasti perlindunganlah.. keuntungan barangkali, mungkin sekedar nyeneng-nyenengin istrinya. Dia itu sudah beberapa kali kecewa dengan agen asuransi, mungkin dia mau nge-test apakah aku ini cukup bisa dipercaya”… (apa yang muncul dalam pikiran anda mendengar jawaban seperti ini?… Yaaa BETULL… dia belum mengenali dengan pasti harapan Mr. RX)

 

PERCEPTUAL POSITION

Sebagai pembukaan, saya akan mengajak kawan saya ini untuk berkenalan dengan Mr.RX lebih dekat melalui perceptual position.

Sebelum memulai saya minta kawan saya menentukan siapakah the neutral subject yang kira-kira dapat memberi masukan kepadanya mengenai Mr. RX. Karena saat itu kami berbincang di ruang tamu, maka mudah bagi saya untuk menjalankan teknik ini. Saya tulis tiga nama, kawan saya, Mr. RX dan si netral yang saya tempatkan di tiga posisi yang berbeda membentuk segitiga. Saya minta dia seolah-olah berdialog as herself, Mr. RX dan the neutral subject. Setiap kali dia berpindah posisi saya tanyakan “siapa anda” untuk memastikan bahwa dia sudah associate dengan peran yang dijalankannya. Saya memperhatikan perubahan ekspresi wajahnya.

Bagus sekaliii..  saya mengamati perubahan ekspresi menjadi reluctant ketika dia mengubah posisinya menjadi Mr. RX. Ketika selesai dengan proses perceptual position saya melihatnya manggut-manggut. Aha… !! She got it…. pikir saya.

Sesuai dugaan saya, tanpa saya tanyakan, dia sudah langsung menceritakan temuan yang ia dapatkan dari proses ini. Temuan yang membuatnya lebih memahami kebutuhan dan kemauan Mr. RX. Temuan itu tentunya tidak dapat saya bagikan kepada anda, tetapi saya yakin anda sudah mendapatkan poin penting dari cerita saya. Sebetulnya tidak ada “orang sulit”, yang ada adalah “kita tidak mengerti kebutuhannya.”

Mengingat effort yang telah dilakukan kawan saya, tentu kami tidak ingin berhenti hanya sampai memahami dan diterima oleh Mr. RX saja… Kami lanjutkan proses ini ke titik yang lebih tinggi yaitu persetujuan Mr. RX untuk mengambil program asuransi yang menurut istrinya memang sangat dibutuhkan oleh keluarganya.

WELL-FORMED OUTCOMES

Dalam proses ini saya meminta kawan saya membayangkan sedetail mungkin apa tujuannya bertemu dengan Mr. RX. Tujuan ini haruslah dilandasi dengan tujuan positif sesuai dengan value-nya (kawan saya ini religius dan santun tiada tara) agar tidak ada pertentangan di area subconscious ketika tujuan tersebut tercapai. Sambil menentukan tujuan saya beri masukan-masukan agar tujuannya menjadi lebih nyata dan lengkap dengan mengajukan pertanyaan “Kapan terjadinya?”, “Berapa nilainya?”, “Dimana dia tandatangani?” dan pertanyaan-pertanyaan sejenis.

Dan luar biasa sodara-sodara….!!!

Saya bisa mengenali bahwa visualisasinya terhadap tujuan itu begituu riil. Lengkap dengan tanggal yang spesifik, detail dan diwarnai Auditory Digital yang kuat.  Sementara anda membayangkan seberapa jelas gambaran kawan saya ini mengenai tujuannya, saya juga mengingatkan anda bahwa kadang-kadang klien kita memerlukan bantuan kita untuk dapat membangun tujuan yang kuat. Dengan demikian proses terapi kita akan memberikan manfaat yang maksimal bagi kepentingan klien sekaligus masukan untuk proses pembelajaran kita.

Proses ini saya mulai dengan mengajaknya menemukan garis timeline-nya sendiri kemudian membentangkannya menjadi sebuah jalan menuju her desired goal. Saya minta ia menentukan resources apa yang ia butuhkan dan tahapan apa yang akan ia jalani untuk sampai pada tujuan tersebut. Sebelum ia memulai, saya ajak dia berdo’a agar tujuannya di hijabahi oleh Yang Maha Agung, Penguasa alam semesta

Perlahan saya bimbing dia melangkah menuju desired goal-nya dan mengumpulkan semua resources yang ia dibutuhkan. Dan ketika ia menempati titik tujuannya…..

wajahnya sumringah..

senyum mengembang…..

puji syukur secara otomatis dia gumamkan…

Alhamdulillah… 

Saya minta dia melangkah sekali lagi ke hari berikutnya, hari dimana tujuannya telah tercapai dan telah dilaluinya. Kemudian ia membalikkan badan mengumpulkan sumber daya yang mungkin masih tersisa hingga kembali ke saat ini, memandang kepada tujuan yang telah ia nikmati sensasi pencapaiannya.

Ketika saya tanyakan apa yang dia rasakan.

“Wah.. rasanya seperti saya sudah benar-benar mendapatkannya ya… InsyaAllah berhasil, malah tadi muncul gambaran saya mengajak ibu saya berlibur dari hasil saya bulan ini.. Alhamdulillah…”

Mantabbsss …..

“Tapi mbak….. “katanya tiba-tiba

Hmmm…. apalagi nih kok pakai tapi.

“Saya tu sering bertemu orang-orang seperti Pak. RX itu. Meskipun saya sekarang sudah mengerti kemauannya dan yakin akan berhasil, tapi saya khawatir… Saya takut jika nanti saat pertama kali saya melihat wajahnya hatiku ciut… terbayang kegagalan yang dulu pernah kualami”..

Oalahhh……

OK deh..  rupanya kawan ini perlu sedikit suntikan semangat. Karena waktu sangat sempit, jadwal untuk bertemu dengan Mr. RX sudah semakin dekat. Tidak sempatlah kiranya kalau saya harus memberi patatah petitih pembakar semangat.

SUNTIKAN KILAT PEMBAKAR SEMANGAT

Supaya tidak terlalu lama membuang waktu, saya lakukan proses hypnosis dengan rapid induction.  Setelah deepening sebentar dan menemukan dia dalam kondisi relax, saya minta dalam setiap tarikan nafasnya dia menarik energy positif yang di sediakan Allah di alam semesta berupa semangat, keyakinan dan kekuatan. Dan pada setiap hembusan nafasnya, dia membuang rasa takutnya. Ketakutan akan kegagalan dan ketakutan pada penolakan. Ketika saya bangunkan dia tersenyum lebar.

“Wahhh buuu… josss tenan ini…  rasanya diriku dipenuhi energy positif”

Alhamdulillah.. dan dengan penuh keyakinan meluncurlah ia menghadapi tantangannya

Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar bahwa hasil pertemuannya SUKSES. Mr. RX setuju mengambil program asuransi yang jumlahnya puluhan juta per tahun sehingga jumlah totalnya pertanggungannya mencapai ratusan juta. Wow…

Dan dua minggu kemudian dia menulis di laman FB saya, bahwa kini dia lupa rasanya gagal dan selalu penuh semangat menghadapi setiap calon nasabah.

Subhanallah… DASYAATTT….