The Secret of Enlightening Parenting Training

Mengasuh anak di zaman sekarang, dapat dipastikan, jauh lebih berat ketimbang orang tua 10-20 tahun lalu.Tantangannya sangat banyak, mulai dari tontonan televisi, berita di media massa, gajet, pornografi, hingga ancaman narkoba yang siap menerkam
Maraknya kasus bullying dan kekerasan pada anakmenimbulkan trauma baik dari tingkat ringan maupunberat
Lebih-lebih berita-berita di media sosial yang sekarang ini sudah banyak terlepas dari rambu-rambu kebenaran, penuh prasangka dan mengedepankan perselisihan memberikan nilai-nilai negatif yang tidak hanya mempengaruhi remaja tetapi juga orang dewasa.
Kondisi ini membuat seluruh orang tua di zaman sekarangharus memiliki berbagai kemampuan baru diantaranya
1. menanamkan nilai-nilai yang menjadi filter dan melekat hingga ke bawah sadar anak.

2. penguasaan teknik-teknik mengatasi trauma. Kemampuan yang praktikal untuk pertolongan pertama ketika anak mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, sebelum mencari bantuan professional.

3. kemampuan mencabut keyakinan dan nilai-nilai negatif yang terlanjur masuk dalam pikiran anak.

“Jika dulu banyak orang lebih peduli pada kesehatan fisik, maka kini sudah saatnya kita lebih peduli kepada kesehatan mental, yang efeknya tidak hanya di level dunia, tetapi juga menjaga fitrah mereka ketika kembali kepada pemilikNya

 

Akhirnya… Kini sudah ada sekolah jadi orang tua..

Ciptakan suasana rumah laksana surga.
Miliki kemampuan menanamkan nilai-nilai positif langsung ke bawah sadar agar dapat diingat seumur hidup. Menkoreksi dan mencabut hal-hal negatif akibat dari pengaruh kesalahan pengasuhan dimasa lalu, berkomunikasi efektif, memberi pertolongan pertama pada kasus trauma, bullying dan perasaan negatif yang dialami orang-orang yang anda cintai serta mempelajari lebih dalam apa yang tertulis dalam buku kami :

:: The Secret of ENLIGHTENING PARENTING ::

📆 16-17 Januari 2016
🏨 Hotel Harris, Kelapa Gading – Kelapa Gading Mall, Jakarta

Daftar sekarang selagi masih ada diskon :
WA : +62 811 910273
Telpon : +62 812 7841889
Email : enlightening.parenting@gmail.com

Silahkan mengisi form di bawah ini
https://enlightening.typeform.com/to/kaEv5r

Investasi
2.500.000
Pasangan suami istri : 4.500.000

EB Diskon 10% hingga 15 Desember 2015

Transfer ke Hardini Swastiana
BCA : 0281899359
Mandiri : 1030005417619

 

Parenting

Enlighten & Empower Parenting

Seringkali tiba-tiba orang tua terkejut, anaknya selalu punya masalah di sekolah, entah dibully, tidak konsentrasi belajar, bahkan ketika SMA tidak tahu mau kuliah dimana, akhirnya ikut-ikutan teman kemana temannya kuliah, lalu di tengah jalan menyerah, pindah kuliah, berapa biaya sudah terbuang?
Tidak sedikit pula anak-anak yang hobi ngambeg, tidak fleksibel ketika diajak beraktifitas bersama orang lain, merangkak di kolong meja restoran, menganggu pengunjung lain.
Belum lagi anak/remaja yang sulit sekali diajak beraktifitas positif, belajar agama, membaca buku, mempelajari kitab suci tapi sanggup berjam-jam bermain console game bahkan melayari situs-situs tak pantas
Adapula yang terkejut bahwa sikap anaknya membangkang dan kasar di rumah tetapi rendah diri jika harus tampil dan beraktifitas di luar rumah..

Ah.. Paling juga isinya cuma ditakut-takuti, hanya berhenti dibuat merasa bersalah dan teori.. InsyaaAllah para alumni yang telah secara konsisten mempraktekkannya telah menuliskan hasilnya dalam sebuah buku yang royaltinya 100% diserahkan untuk membantu pendidikan di bumi pertiwi..

Berapa banyak waktu yang terbuang dan emosi yang terkuras untuk memikirkan itu semua?
 

Pusing Menghadapi Tantrum, Whining & Fussing? Disini ada Solusi Penting

Pertanyaan mengenai bagaimana cara mengatasi anak mengamuk, ngambeg, ngesot-ngesot di pusat perbelanjaan,  menjadi pertanyaan sepanjang masa para mommies and daddies baik di kelas training saya maupun di sela-sela pertemuan informal. Secara terminologi seringkali disebut dengan istilah tantrum, whining dan fussing menurut derajat kehebohannya dari yang paling heboh hingga paling ringan, tetapi dalam artikel ini saya menggunakan istilah tantrum untuk mewakili baik the real tantrum ataupun sebatas whining dan fussing sekaligus sekedar agar artikel ini tidak menjadi terlalu panjang. Jika di kelas maupun dalam pertemuan informal karena waktu yang sempit saya tidak sempat menjelaskan secara runut dan gamblang. Mudah-mudahan dari artikel ini memberi gambaran yang lebih jelas dan memudahkan pembaca untuk memahami dan mencegah terjadinya tantrum.

Kemampuan dan kejelian anda MENCEGAH terjadinya tantrum jauuuh lebih penting daripada mengatasi tantrum. Mengapa mencegah sangat penting? Karena jika respon anda terhadap first tantrum tidak tepat, anda akan terjebak pada periode-periode tantrum yang lain. Mengapa demikian? Karena pada saat tantrum, anak berada dalam kondisi emosi yang kuat (peak emotion) dan peak emotion merupakan gerbang tertanamnya keyakinan (belief) ke bawah sadar alias gerbang terbentuknya anchor bawah sadar.

Cara mencegah dan mengatasi tantrum secara lebih detail saya tuliskan di buku ini, disini saya tuliskan poin2nya saja

Secara umum, ada 4 jenis kelompok besar penyebab tantrum :

1. FRUSTRASI

    • Pertahanan fisik (Physical Endurance) yang melemah.
    • Pertahanan Psikologis (Psycholoical Endurance) yang melemah
    • Tidak siap menghadapi stimulus dan penolakan

2. UNTUK MENDAPATKAN PERHATIAN SEGERA

3. KARENA CARA INI SELALU BERHASIL

4. GANGGUAN PERKEMBANGAN ATAU GANGGUAN PSIKOTIK

Seperti yang sudah saya tekankan di awal artikel ini bahwa MENCEGAH jauh lebih penting dan lebih baik daripada menangani tantrum. Berikut ini adalah prinsip-prinsip dasar agar anda tidak perlu berurusan dengan tantrum sepanjang karir parenting anda.

1. PAHAMI DUNIA ANAK (Rapport)

Orang tua seharusnya adalah orang yang paling tahu mengenai segala sesuatu mengenai anaknya, meliputi kebiasaan, jadwal, karakter, hal-hal yang disukai maupun yang tidak disukainya. Anak yang merasa dipahami akan lebih terbuka untuk mendengarkan dan melakukan apa yang anda katakan. Memahami dunia anak sama artinya dengan membangun kepercayaan (trust) pada diri anak bahwa anda mengerti dia. Mari kita fahami dulu bahwa anak-anak mempunyai peta mental yang sederhana, respon yang dia berikan atas suatu keadaan adalah respon yang paling efektif menurut kondisi dan sumberdaya internal yang dimilikinya pada saat itu.

2. FOKUS PADA TUJUAN

Hiduplah dengan perencanaan, setiap kegiatan harus mempunyai tujuan. Atur waktu sedemikian dan buatlah persiapan dengan tidak tergesa-gesa sehingga mood anda dan anak sama-sama dalam keadaan rileks. Sepakati do and don’t sebelum berangkat dan persiapkan kondisi mental anak jika harus bertemu dengan kondisi-kondisi yang mungkin tidak disukainya dengan briefing dan role playing. Saya suka menggunakan istilah ini : Hiduplah dengan tuma’ninah, karena hidup itu sejatinya rangkaian ibadah demi ibadah.

3. ASAH KETAJAMAN DAN SENSITIFITAS INDERA (sensory acuity)

Ketika anda sudah memahami prinsip pertama yaitu memahami dunia anak, tentu anda mengerti tanda-tanda kelelahan, mengantuk, lapar, bosan dan perasaan tidak nyaman yang lain. Kecepatan anda menanggapi tanda-tanda ini akan menyelamatkan anda dari kerepotan yang panjang untuk menyelesaikan tantrum. Jadi ortu jangan selfie or enjoy sendiri, dan meminta seorang balita untuk memahami kerepotan anda. Jika anak sudah tampak bosan melihat anda ngobrol berkepanjangan dengan teman anda, berhentilah dan beri perhatian padanya. Anak yang dibesarkan oleh ayah dan ibu yang cepat tanggap terhadap tanda-tanda ketidaknyamanan akan tumbuh menjadi anak yang juga tanggap terhadap ketidaknyamanan anda. Jadilah teladan dan bersiaplah meleleh ketika nanti anak anda dengan manis berkata “Mama kok kelihatan lelah, sini aku pijitin.. atau Papa haus ya? Aku ambilin minum ya?” Sebaliknya jika anda terbiasa abai, maka anak juga akan menjadi selfish dan semakin sering menuntut perhatian.

4. FLEKSIBEL DALAM BERTINDAK (behavior flexibility)

Fleksibel dalam bertindak bukan berarti inconsistent atau boleh mengabaikan keselamatan, tetapi biasakan berpikir kreatif mencari alternatiif dan lentur menyesuaikan situasi.

Laluu… bagaimana kalau sudah terlanjur kejadian?

Tegur dulu diri sendiri 🙂 Supaya objek kekesalan anda berpindah dari anak menjadi penyesalan diri. Baru kemudian ubah pola asuh anda mengikuti empat cara diatas.

Bagaimana jika pengalaman pertama tiba-tiba anak tantrum? Segera ambil posisi tubuh sama dengan posisi anak, lalu ulangi kata yang dia ucapkan berkali-kali dengan cepat tetapi tidak dengan nada membentak atau kasar, dalam 1 menit anak akan langsung tenang. Metode cavemen ini diajarkan oleh Dr. Harvey Karp, dalam bukunya The Happiest Toddler on The Block. “Ah… udah tau cara ajaib, biar ajalah tidak usah dicegah”. Karena mengalami periode tantrum itu melelahkan dan sering mengalami lonjakan emosi akan menyebabkan anak tumbuh mudah depresi dan cemas.

Parenting Quotes

parenting quotes

Beberapa kali saya dianjurkan untuk mengkoleksi status-status  saya di facebook mengenai parenting. Meskipun belum semuanya, berikut ini beberapa koleksi yang sempat saya jejaki..

—————

Jika anda menyuruh anak tidak berteriak-teriak dengan suara menjerit, anda sedang mengajarkan apa?

Jika anda meminta anak bersabar dengan nada gertakan “sabar dong ahhh”, anda sedang mencontohkan apa?

Jika anda menasehati anak untuk pantang mengeluh sambil berkata “sampai capek mama/papa menasehati kamu”, anda sedang mengajarkan apa?

Jika anda menginginkan anak untuk patuh sedang saran dari pasangan anda bantah melulu, anda sedang membentuk anak jadi seperti apa?

Banyak orang tua ingin anaknya sempurna, sementara dirinya lupa berkaca…

—————

Orang tua kadang mengira bahwa anak-anaknya numpang hidup pada mereka..,

“Ayah sudah pontang-panting cari uang untuk menyekolahkanmu..”

“Kamu sudah diberi fasilitas yang bagus, kok belajarnya cuma begitu-begitu saja..”

Yakinkah kita bahwa rizki yang dititipkan pada kita memang ditujukan pada diri kita dan hasil kerja keras kita? Jangan-jangan rizki itu dititipkanNya karena anak-anak itu lahir di rumah kita.

Jangan-jangan kitalah yang “numpang hidup” dari rizki anak-anak kita…

—————

Dalam kelas parenting saya sering ditanya cara cespleng, manjur dan instant agar anak disiplin, patuh, rajin belajar, rajin ibadah dll..

Kadang kita mengira manusia seperti gadget yang ada tombol on – off untuk dinyalakan dan dihentikan.

Apakah jika anda sudah mengajarkan dengan benar, berkomunikasi dengan konsisten ala hypnotic language pattern yang super keren dan menjadi contoh yang dapat dimodel pasti hasilnya seperti yang anda inginkan? Tidak juga.

Waduuuh…

Seringkali kita lupa bahwa jiwa-jiwa mereka ada dalam genggamanNya.Wah kalau begitu saya cukup berdo’a saja ya.

Belum tentu juga..

Waduuuh…

Karena kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diamanahkan pada kita dan apa yang kita pimpin.

Susah ya? Masa siih…

Bukankah tugas kita adalah ikhlas menyempurnakan ikhtiar dan memohon ridho dan pertolonganNya?

Lalu perlu tidak belajar parenting? Itu pertanyaannya sama dengan, perlu tidak belajar untuk sukses? Perlu tidak ke dokter saat sakit? Perlu tidak bekerja untuk mendapatkan rizki?

(semoga saya tidak dimarahi para trainer yang menjanjikan teknik cespleng, dan tidak juga dimarahi golongan yang sebaliknya… punteen)

—————

Ilmu leadership dan ilmu parenting itu prinsipnya sama, bedanya hanya usia orang yang anda hadapi dan tingkat kekerenan istilah-istilahnya.

Mana yang lebih challenging? Parenting.

Mengapa?

Karena yang satu anak sendiri yang satu lagi anak orang lain, yang efek kerusakan atas kesalahan anda memimpin tidak anda hadapi seumur hidup

—————

Allah tidak pernah menciptakan produk gagal. Jika suatu fungsi dikurangkan, maka akan dilebihkan fungsi yang lain. Tinggal apakah manusia mau berusaha memaksimalkan fungsi-fungsinya.

Beberapa waktu belakangan ini saya mendapat laporan teman-teman yang berhasil terlepas dari berbagai phobia, kebencian, ketergantungan dan pola hidup yang tidak bermanfaat dengan mengoptimalkan fungsi pikiran dan tubuh.

MasyaAllah… Alhamdulillah.

—————

Manusia lahir itu naturally sudah kreatif dan bersemangat juang, perhatikan bagaimana bayi dan batita lahir, belajar berjalan, mengeksplore diri dan mainannya, serta ngotot untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Kecuali ada kelemahan fisik bawaan misalnya pada jantung dan fungsi muscular. Ketika semakin besar kreatifitas dan semangat juang itu memudar, itu karena orang-orang yang mengasuh dan mendidiknya “membunuh” kreatifitas dan semangatnya. Maka bukan kursus untuk melatih kreatifitas yang diperlukan anak tapi kursus para ortu dan pendidik untuk berhenti menjadi “pembunuh”

—————

Dulu dan sekarang, dikombinasikan secara matang….

Anak-anak jaman dahulu kebanyakan diajarkan untuk mendahulukan orang tua (biasanya ayah) terutama saat makan atau mengambil lauk.

Kebiasaan ini kemudian dituding menjadi penyebab anak-anak menjadi rendah diri, tidak berani berpendapat dll

Orang tua jaman sekarang dengan alasan bahwa anak memerlukan gizi lebih baik maka membiarkan anak mengambil lauk apa saja di meja dan orang tuanya berperan menjadi truk sampahnya.

Kebiasaan ini kemudian juga disinyalir membuat anak-anak menjadi nranyak dan sulit mendengar nasehat.

Nah lo… Trus bagaimana…?

Coba kalau dikombinasikan begini :

Anak-anak diajarkan untuk mendahulukan yang tua, “Silahkan ayah – ibu duluan”, kemudian yang tua menyayangi yang muda “Terimakasih sudah menawari ayah-ibu terlebih dahulu, kalau kakak suka yang mana?” Saat anak mengatakan suka yang “ini”, maka ayah-ibunya atas nama cinta memilih yang “itu”. “Ayah/Ibu ambil yang itu ya, kakak yang ini”

Cantik kaaan…..

Barangsiapa tidak menyayangi yang kecil dan tidak mengenali hak yang tua maka ia bukan termasuk golongan kami…

—————

Saya sering ditanya soal mengajarkan membaca atau berhitung pada balita.

Apa betul berbahaya? Apa betul menyebabkan kelelahan otak?

Hmm..

Kalau begitu jangan lagi mengajarkan lagu balonku ada lima atau satu-satu aku sayang ibu, itu kan mengajarkan berhitung..

Jika anak bertanya tanda “STOP” di jalan itu bacaannya apa, jawab saja begini “Hush.. Jangan tanya itu dulu, otakmu belum siap nak”

Anak belajar membaca atau berhitung boleh-boleh saja asal caranya FUN, menyenangkan.

Ini bukan soal Apa yang diajarkan tetapi Bagaimana mengajarkannya..

Tidak perlu HARUS bisa, tidak perlu pula ANTIPATI

Sebaik-baik urusan adalah yang dipertengahannya…

—————

Mengeluh itu Menular…

Ayah mengeluh : “Duh pekerjaan numpuk di kantor”, “Ayah ini sudah capek kerja buat kalian”, “Dasar pemimpin nggak becus”

Ibu mengeluh :”Duh setrikaan numpuk”, “Ibu ini capek, sudah kerja masih juga ngurusin PR kalian”, “Ihhh… si itu tu memang biasa tuu kayak gitu”

Maka jangan heran jika anak juga begini :

“Duh, PR kok banyak amat, susah”, “Males ah bu, capek nih”, “Gurunya ngga menyenangkan, temanku nyebelin”

Dan percakapan di rumah itu kira-kira akan menjadi Pengeluh menasehati Pengeluh untuk tidak mengeluh:

Anak : “Males ah sekolah, gurunya galak, temannya menyebalkan”

Ayah/Ibu : “Kamu ini gimana sih, ayah/ibu kan udah capek kerja untuk kamu, masa gitu aja ngeluh, guru galak itu dimana-mana ada”

Untung saja anaknya tidak menjawab begini :

“Kalau begitu, capek kerja itu juga biasalah.. kerja itu dimana-mana juga capek”..

Dan pengeluh mengeluhkan pengeluh yang lain ..

—————

Bullying, trauma anak atau trauma ortu..

Pada banyak kasus “trauma” bullying yang mampir di tempat saya, orang tua sering mengira anaknya “trauma” akibat masalah bullying yang dialaminya. Mengapa saya menulis trauma dengan tanda “..”?

Karena ternyata dalam perjalanan penanganannya, anak justru lebih trauma terhadap sikap emosional orang tuanya yang berlebihan dibandingkan kejadian “bullying” yang dialaminya.

Semua perilaku anak yang kurang ceria setelah itu dikaitkan oleh orangtuanya dengan kasus bullying yang dihadapinya. Sehingga anak melihat masalah itu menjadi sedemikian besaar, menakutkan dan membahayakan dirinya.

Orang tua sebaiknya jangan terlalu reaktif terhadap cerita anak. Seringkali ketika kesal terjadi generalisasi pada pikiran anak, sehingga muncul kata “selalu”, “semua” pada kisah yang diceritakannya.

Tanggapi dengan tenang, lakukan chunk down hingga terlihat fakta-fakta yang terlewatkan.

—————

Masih soal bullying…

Kadang ortu di rumah suka memberi panggilan-panggilan yang dikiranya lucu pada anak-anaknya, nDut alias endut, si lelet, mBul aliat gembul.. eee… begitu anak dipanggil demikian oleh kawannya di sekolah, ortu langsung emosi tiada tara.. Anak diajarkan untuk melawan dan dilabel kasus bullying. “Wah bullying ini namanya nak, kamu dibully..”

Anak menjadi bingung atas sikap tidak congruent ortunya, mengapa jika ortu yang memanggil demikian dia harus ikut tertawa sedangkan jika kawannya yang memanggil demikian dia harus tidak terima dan melawan? Anak mengalami kerancuan bereaksi hingga justru menimbulkan rasa “tidak mampu” mengelola emosinya sendiri.

Snakes and Ladders. Gratefulness, Empathy, and Hope on a Piece of Board

Siapa yang tak kenal permainan ular tangga. Sebuah permainan yang menurut Om Wiki berasal dari India dengan nama asli Moksa Patam yang bermakna tangga menuju moksa. Arti moksa sangat beragam ada yang mengartikannya sebagai keselamatan, kebahagiaan yang kekal, jenjang tertinggi dalam kehidupan dan lain-lain. Apapun artinya, saya tidak bermaksud membahas filosofi permainan ular tangga menurut niat para penciptanya tetapi bagaimana memanfaatkan permainan yang tampaknya sederhana ini untuk menanamkan nilai-nilai kebersyukuran, empati, sikap optimis, dan kesabaran pada anak-anak.

Pada umumnya permainan ular tangga dilakukan dengan cara melempar dadu, dan siapa yang mencapai  persegi/bujur sangkar dengan angka 100 terlebih dahulu adalah pemenangnya. Dalam perjalanan mencapai angka 100 ini kadang akan ditemui tangga yang membuat pemainnya bisa mencapai posisi yang lebih tinggi atau bertemu dengan ular yang membawa pemainnya merosooot ke persegi yang jauh di bawahnya. Supaya terjadi interaksi antar pemain, boleh juga ditambahkan aturan baru yaitu, apabila salah seorang pemain mendarat di persegi yang sama dengan pemain sebelumnya, maka pemain yang sudah menempati persegi itu harus kembali ke titik start (istilahnya “dibacok”, ceuk suami yang orang sunda mah… *duuh sadis kalipuuun).

Permainan ini lebih asyik jika dilakukan oleh seluruh keluarga, dan diam-diam tentukan apakah suami atau istri yang akan menjadi tokoh “jahat”. Tokoh jahat ini akan memberi contoh-contoh perilaku buruk. (kalau saya sih selalu suami yang jadi tokoh jahat, karena bukankah anak harus berbakti pada ibu 3 kali baru kemudian ayah? :D… hihihi… kasihaanlah suamiku. Terimakasih ya cinta…). Beruntung saya memiliki anak-anak yang usianya sudah mewakili dua kelompok umur yang berbeda, menjelang remaja dan kanak-kanak, sehingga saya bisa mengatakan bahwa permainan ini tidak hanya menarik untuk kanak-kanak tetapi juga untuk remaja, tinggal bagaimana kita membuatnya menarik.  Lalu… Bagaimana memanfaatkan permainan ini untuk menanamkan nilai-nilai positif? Ini dia caranya :

The Ladders of Salvation

Tangga yang membawa pemain melejit ke atas mewakili pencapaian yang baik, rejeki, kesenangan atau apapun yang dipersepsikan secara umum sebagai perolehan baik. Kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk memahami makna bersyukur, ikut bahagia ketika orang lain mendapatkan kebahagiaan, mengapresiasi, kerendahan hati dan sikap tetap waspada. Agar dinamikanya menarik, komentar bisa dipicu dari akting tokoh jahat. Tokoh jahat akan berteriak-teriak kegirangan meledek kesana kemari saat mendapat kesempatan naik tangga. Jadikan contoh perilaku ini untuk dibahas secara natural, misalnya dimulai teguran ringan dari ibu “Kok ngga kedengeran nih bilang alhamdulillah dapat rejeki”, lalu biarkan anak-anak mengungkapkan perasaannya dan lemparkan pertanyaan-pertanyaan seperti “Sebaiknya bersikap bagaimana ya?” atau “Bagaimana perasaanmu melihat orang seperti itu?” dan “Apa yang harus kita katakan kalau orang lain memperoleh kebaikan?”

The Snakes of Destiny

Saat salah satu pemain merosot karena bertemu dengan sang ular, perhatikan dinamika yang terjadi. Apakah pemain yang lain menghibur, memberi semangat atau justru menari-nari di atas penderitaan pemain lain :D..? Beri pujian pada yang menghibur dan menyemangati. Kesempatan ini juga dapat dimanfaatkan untuk memberi contoh bagaimana bersikap sabar namun tetap optimis saat menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan dan bahwa selalu ada harapan karena masih banyak lagi tangga menunggu di depan.

The “Bacoker”

Membacok seperti yang sudah dijelaskan di awal adalah membuat salah satu pemain kembali ke titik awal (start). Menyakitkan memang, namun bukan bersifat sengaja karena jumlah langkah yang ada di dadulah yang “mengharuskan”-nya.  Fenomena ini paling penarik karena adanya interaksi “mengambil posisi dan terlukai”. Bagaimana tata krama si pengambil posisi dari tindakan dan ucapannya. Bagaimana yang terlukai merelakan posisinya dan berjuang lagi dari awal. Bagaimana pemain yang lain berempati. Kadang-kadang situasi ini mengharukan saat si pengambil posisi mengatakan “Maaf ya dek, mas kasihan sebetulnya liat adek harus balik lagi ke awal..” dan jawaban yang terambil posisinya “It’s OK.. I hope I get a ladder very soon”… Duuh… Tapiiiii…… biar seruu…., tokoh jahat harus berakting yang fenomenal dooong.., misalnya ketika mendarat di bidang yang sama, token pemain sebelumnya ditendaang oleh sang tokoh jahat. “I’m knocking you out! hahahaha….” Tapi hati-hati jika ditegur pemain lain, sang tokoh jahat jangan lama-lama untuk kembali insyaf yaa… jangan terus “ngeyel”, ngga mau kalah dan makin vicious :D…

Kekurangan permainan ini adalah langkah semata-mata tergantung dadu, mungkin hanya sedikit orang yang mampu berstrategi dalam melempar dadu untuk mendapatkan angka yang diinginkannya. Namanya juga permainan, kalau mau yang sungguh-sungguh mewakili kehidupan yang sesungguhnya, tentu lebih realistik membahas situasi nyata. Hanya saja, agak jarang  dalam kehidupan nyata, terjadi dinamika the ladders of salvation, the snakes of destiny and the bacoker sekaligus dalam satu jam :D…

Ups.. satu hal yang perlu diingat, yaitu pemulihan nama baik sang tokoh jahat ya.. aciiiann doong kalau tertanam di pikiran anak-anak hahaha… (Daddy, your sacrifice is highly appreciated . :*)

Pendidik Anak di Rumah : Super Mom or Supir Mom?


Seringkali saya ditanya baik dalam kelas maupun di luar kelas oleh para ibu yang ingin meninggalkan pekerjaan formalnya dan beralih profesi menjadi pendidik anak di rumah. Berikut ini saya rangkaikan tips persiapan untuk alih profesi. Supaya keren, saya akan berikan Job Title khusus untuk profesi Pendidik Anak di Rumah yaitu Posterity Educationalist alias “PE” (ehem… ehem…. 🙂).

1. Niat
Jika dari awal tujuan anda berhenti adalah untuk mendidik anak di rumah, maka susun baik-baik niat anda ini. Sungguh-sungguh periksa hati anda dengan jujur. Jangan mengatakan anda berganti profesi demi berdedikasi menjalani peran sebagai madrasah pertama bagi anak seperti yang dianjurkan agama, tetapi sesungguhnya ada sudah tidak tahan lagi dengan lengkingan suara atasan anda di kantor, lelah menghadapi macet, tidak laku lagi bekerja atau alasan-alasan lain yang dibungkus dengan kalimat pembenaran. Niat anda hanya anda dan Tuhan yang tahu. Meski tiada seorangpun dapat menghujat dan menghakimi, namun janganlah membohongi Yang Maha Tahu, karena kelak kesungguhan dan pahala anda bermula serta dihitung dari sini.
Pssst… lalu bagaimana kalau saya belum yakin dengan kelurusan niat saya karena masih berupa campuran dari berbagai alasan? Bantu diri anda dengan melakukan assesment berikut ini..
  • Mengapa saya ingin menjadi PE?
  • Kemampuan apa yang sudah saya miliki untuk menjalani profesi ini? Jika masih kurang, di/darimana/ siapa saya harus belajar?
  • Apa yang akan saya dapatkan jika saya menjalani profesi ini? Apa yang tidak akan saya dapatkan jika saya menjalani profesi ini?
  • Apa yang akan saya dapatkan jika saya TIDAK menjalani profesi ini? Apa yang TIDAK akan saya dapatkan jika saya TIDAK menjalani profesi ini?
  • Mengapa jawaban item ke 2 dan ke 3 di atas penting untuk saya dapatkan?
  • Apa pengaruh pilihan saya ini pada kehidupan keluarga inti saya, keluarga besar saya, pertemanan saya dan pandangan saya terhadap diri saya sendiri?
  • Identitas apa yang saya inginkan untuk diri saya dan UNTUK APA dan UNTUK SIAPA saya persembahkan hidup saya.

InsyaaAllah keputusan anda menjadi lebih mantap dan positif dengan langkah-langkah di atas.

Tetapi bagaimana jika assesment itu masih juga menghasilkan pertempuran dalam diri anda, maka anda punya 3 pilihan sikap

  • Tunda : daripada anda membuat stress anak-anak dan pasangan anda dengan keluhan yang tiada habisnya, wajah manyun atau justru berhentinya anda tidak memberi manfaat untuk anak dan pasangan karena anda akan menggantinya dengan sederet arisan-arisan, shopping sana-sini, atau menghabiskan waktu berjam-jam untuk hobi anda yang lain
  • Jalani dengan jujur dengan waktu tertentu : Akui  sejujurnya alasan anda yang sebenarnya dan sebutkan target berapa lama anda akan berhenti. Lalu rencanakan apa yang anda akan lakukan dalam waktu jeda itu agar tidak sia-sia. Insyaa Allah niatnya tetap mulia yaitu tidak membuang waktu dengan sia-sia.
  • Luruskan PAKSA.. (duh sadis amat main paksa…)  Jika hal positif tidak mampu memotivasi anda maka takut-takuti diri anda sendiri dengan membayangkan kemungkinan TERBURUK jika anda tidak melakukannya. Waduh.. emangnya bagus memotivasi diri dengan cara menakut-nakuti? SECARA PRIBADI, SAYA TIDAK SUKA cara ini,  karena seperti do’a mengharapkan keburukan. Namun memang anda orang-orang yang hanya bisa lari jika cambuk mengancam punggungnya.

Lalu bagaimana jika awalnya terpaksa atau kebetulan? Misalnya anda di PHK dan tidak bisa mencari pekerjaan lain, atau harus mengikuti suami ke tempat lain yang tidak memungkinkan anda bekerja lagi. Ya mudah saja, tinggal perbarui niat anda seperti step-step diatas.

Pastikan niat ini menjadi NIAT BERSAMA, antara anda dan suami dan mintalah dukungan dari orang tua anda. Beri mereka pengertian sebagai pihak yang telah membiayai pendidikan anda dan sampaikan terimakasih anda bahwa dengan bekal pendidikan yang mereka biayailah anda akan mendidik cucu-cucu tercinta mereka… (jangan lupa buat tekanan yang kuat saat mengatakan urusan cucu ini, karena biasanya hati para kakek-nenek akan meleleh dengan kunci ajaib ini.. :D). Bisa jadi ortu keberatan karena pekerjaan anda ibarat trophy dari “keberhasilannya mendidik anak”, itu lho anakku Menejeeer. Tidak apa-apa, pahami perasaan beliau namun tetap berikan pengertian atas keputusan anda. Obat mujarab dari kekecewaan beliau adalah melihat anda bahagia menjalani peran, melihat improvement perilaku anak-anak anda karena program pendidikan adabnya lebih terstruktur dan anda lebih punya waktu melayani beliau dengan penuh perhatian. Tapiiii.. jika anda sudahlah berhenti kerja, di rumah ngamuk-ngamuk ya keterlaluan.

2. Buat rencana 2 tahun pertama.

Buatlah rencana anda seperti anda membuat Performance Appraisal Form saat anda bekerja. Bermula dari tujuan, apa ukurannya, metodenya, perlu belajar apa, siapa yang akan menilai.. Ajak suami anda menyusun program ini bersama-sama dan sepakati bagaimana metode reward dan apresiasinya. Pujian suami adalah reward penting dalam tiap langkah pencapaian. Memberi hadiah juga tidak salah, namun… wajah bahagia anak-anak yang tumbuh dalam pelukan dan bimbingan kasih sayang anda ditambah derasnya tabungan pahala yang langsung datang dari Yang Maha Memberi,…  tiada tanding, tiada banding nilainya dari sekedar pujian ataupun hadiah.

Mengapa 2 tahun? Biasanya 2 tahun juga angka yang dipakai sebagai ukuran bagi beberapa instansi jika anda mengajukan cuti tanpa gaji (leave without pay). Maka periode ini bisa saja anda lakukan tanpa sungguh-sungguh berhenti bekerja tetapi mengambil periode cuti tanpa gaji. Kalau anda tidak suka 2 tahun, anda bebas menggantinya menjadi angka 1, 3, 4 juga boleeeh…

Rencana ini tentunya membutuhkan peran anda langsung dalam pencapaiannya sehingga ada layak memegang Job Title “PE”. Misalnya dengan meletakkan program preschool home schooling di dalam “to do list” anda. Jika anda sudah memutuskan menjadi PE tapi masih juga mengirim batita anda ke sekolah atau sekedar membuat daftar panjang les, kursus yang akan diikuti anak anda,  dan rencana anda hanyalah menjadi pengantar anak kesana-kemari, maka Job Title anda harus berubah menjadi Supir Mom alias “SM” . Bukan berarti tidak boleh ya… Anda boleh saja memutuskan untuk menjadi SM terutama jika alasan anda berhenti bekerja hanyalah mengisi waktu jeda agar tidak sia-sia atau untuk mengurangi pengeluaran keluarga membayar gaji supir atau biaya transportasi. Tentunya anda tidak boleh mengaku PE jika pekerjaan anda SM. Prinsipnya, jujurlah menilai diri, toh anda tidak perlu mengumumkan jabatan baru ini.

3. Bersungguh-sungguhlah dalam menjalankan tugas ini lebih dari bersungguh-sungguhnya anda dengan karir anda sebelumnya
Jika anda sedemikian keras bekerja demi sebuah tugas yang diberikan oleh penguasa perusahaan apapun jabatan atasan anda,…. lalu harus sekeras apa usaha untuk menyempurnakan tugas yang langsung diberikan oleh Penguasa alam semesta? Jika sedemikian hebatnya keinginan anda untuk mendapat pujian dan reward dari penguasa perusahaan tempat anda bekerja,… lalu harus sehebat apakah keinginan anda untuk mendapat reward dari Penguasa langit dan bumi serta pujian dari suami yang ridho-nya menjadi jalan menuju surga?
Delegasikan hal-hal yang tidak terlalu penting dan secara keuangan mampu anda delegasikan. Kalau anda sanggup punya asisten rumah tangga, percayakan lantai anda untuk mereka belai untuk memberi kesempatan anda membelai orang-orang tercinta. Jika tidak memungkinkan memiliki asisten tetap, cari jalan untuk outsourcing.  Misalnya setrika… Jika di sekitar anda ada usaha laundry murmer, lempar saja tumpukan setrikaan anda ke sana. Bagi-bagi tugas sederhana adengan suami dan anak-anak. Bukankah time management dan empowering adalah salah satu kunci sukses apapun profesi anda?
4.  Bernegosiasi dengan diri sendiri mengenai “pendapatan yang hilang”
Tentu wajar jika anda yang terbiasa mempunyai penghasilan sendiri merasa tidak nyaman saat tiba-tiba harus kehilangan penghasilan. Rasanya semacam tiba-tiba “miskin” secara pribadi. Kadang kesediaan suami untuk mencukupi apa yang dulu anda cukupi dari penghasilan anda tidak banyak membantu menyelesaikan emosi ini. Perasaan “diberi” atau “meminta” mungkin mengganggu ego anda. Utamanya, selesaikan dulu konflik batin anda, bandingkan makna penghasilan dan makna awal dari niat anda yang sudah kita bahas di atas.
5. Diskusikan tentang “pendapatan keluarga yang hilang”
Jika selama ini gaji anda juga digunakan untuk mendukung pendapatan keluarga.  Diskusikan pendapatan yang hilang ini dengan seluruh keluarga. Hal-hal apa yang perlu dikurangi, dihilangkan, diganti atau suami perlu usaha lebih untuk menggantikan pendapatan yang hilang itu.
Sebaiknya tunda dulu keinginan untuk mendapatkan penghasilan saat sudah berhenti bekerja di tahun pertama. . Namun, jika dalam perjalanannya, anda dapat menjalani program ini dengan mulus sekaligus ada peluang untuk mendapatkan penghasilan dari rumah….. tentu tidak ada salahnya, apalagi jika kegiatan itu sekaligus mendukung peran anda. Syukuri kesempatan langka itu.
6. Sepakati hari cuti setidaknya 1 hari dalam sebulan untuk “me time”
Sebagaimana pekerjaan yang lain, tentu anda perlu waktu “istirahat”… Maka sepakati setidaknya 1 hari dalam 1 bulan anda untuk melakukan kegiatan yang anda sukai. Meskipun kadang tidak bisa berlangsung selama 24 jam terus menerus, setidaknya 8 jam cuti cukuplah. Demikian pula sebaliknya, pasangan anda juga berhak cuti untuk tidak membantu anda dalam urusan rumah tangga jika anda sama sekali tidak punya asisten yang membantu anda sehari-hari.
7. Komunikasi yang baik dengan suami adalah contoh terbaik bagi anak. Anak adalah peniru ulung
Jagalah sopan santun anda dalam berkomunikasi dengan suami. Jangan menjadikan suami sasaran ketegangan anda, sebaliknya suami belajar memahami ketegangan istri, terutama di bulan-bulan pertama perubahan profesi anda. Belajar teknik komunikasi acknowledging and reorienting, positive feedback, bahasa kasih sayang, bahasa hipnotik, dan banyak lagi teknik lainnya yang jika saya bahas akan setara dengan 1 hari Enlighten & Empower Communication workshop.
Seringkali kita sangat bersopan santun dengan orang lain, tetapi justru enggan melakukannya untuk orang-orang yang anda cintai. Lalu apakah itu namanya cinta kalau anda tidak takut lagi menyakiti hatinya?
8.  Pelihara  ilmu anda
Bantu teman atau buatlah sebuah karya pribadi yang berhubungan dengan profesi anda sebelumnya setidaknya 1x dalam 2bulan, meski tidak mendatangkan penghasilan. Suatu saat nanti entah karena alasan apa, mungkin anda perlu kembali bekerja.  Bisa juga anda menambah ilmu lain, namun tidak menyita waktu anda untuk memenuhi program kerja 2 tahun anda. Kegiatan menambah ilmu 2x seminggu masing-masing 2 jam bisa dijadikan pilihan.

9. Bersyukur dan bertafakur

Syukuri setiap pencapaian yang anda lakukan sesuai dengan rencana anda. Jangan mengakuisisi pencapaian yang merupakan hasil kontribusi pihak lain misalnya sekolah, supaya anda tetap menjadi ibu yang jujur, bisa mengapresiasi pihak lain dan mau belajar lagi.
Renungi kejadian-kejadian yang menjauhi pencapaian dengan pertanyaan, “Manfaat apa yang kuperoleh dari kejadian ini untuk memperbaiki diri?” Jadikan sebagai umpan balik.
Waspadai adanya kemunduran, misalnya anak tiba-tiba ngompol lagi, menjadi tegang, emosional, lebih suka berlama-lama di sekolah. lebih suka keluar rumah dll… Kemungkinan keberadaan anda menimbulkan rasa tidak nyaman. Teruslah membuat perbaikan.
10.   BERDO’A mohon pertolongan Yang Maha Kuat
Manusia pada dasarnya lemah dan dho’if.  Maka berpeganglah pada kekuatan Yang Maha Kuat di setiap do’a, di setiap langkah.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya teringat pada satu  pertanyaan krusial. Kapan waktu yang tepat bagi anda untuk berhenti bekerja? Saat terbaik adalah saat anak anda lahir dan tetap di rumah sampai usia sekolah dasar. Setelah anak-anak menjalani sebagian harinya di sekolah, silahkan anda juga menjalankan hari anda untuk bekerja. Namun ingat… ENERGI anda harus tetap BARU ketika sampai di rumah seperti yang anda harapkan juga dari suami anda, serta   masih memiliki waktu sekurang-kurangnya 3 jam untuk berinteraksi dengan anak dalam keadaan sama-sama segar (bukan sama-sama tidur) untuk menemaninya meninjau ulang hari-hari yang dilaluinya di sekolah.
Siap punya profesi keren? Posterity Educationalist…..

Pembela Pembenaran atau Pejuang Perbaikan, itu Pilihan..

imagesHari ini  dalam sebuah kelas, seorang peserta bertanya pada saya tentang bagaimana membingkai musibah dalam sebuah makna, yang memberdayakan tentunya… Dan sayapun teringat pada sebuah peristiwa.

Peristiwa ini terjadi 9 tahun lalu, saat pembarep saya mengalami phobia, setelah kami menerapkan anjuran seorang kenalan psikolog yang saat itu saya anggap lebih ahli dalam bidang psikologi perkembangan, yang mungkin sekaligus juga penganut teori-teori Nanny 911..                         .

Rasanya saya tidak perlu menjelaskan seperti apa tepatnya anjurannya itu, yang jelas phobia sudah terbentuk.  Phobia? … Anak seorang psikolog mengalami phobia? Hmmm…. bisa jadi wajar saja, toh anak dokter juga bisa kena demam berdarah, anak insinyur tak pandai matematika, ahli komunikasi yang bertengkar melulu dengan anaknya karena mis-komunikasi. Tetapi peristiwa ini menjadi menyedihkan saat psikolog ini bahkan tak tahu cara menolong anaknya untuk sembuh dari phobia, bukankah ini terdengar mirip  dengan dokter yang tidak tahu cara menanggulangi deman berdarah atau insinyur yang tidak bisa menjelaskan matematika tingkat SD dan ahli komunikasi yang tak tahu dimana letak simpul masalah komunikasi dalam keluarga? Menyedihkan memang. Meskipun menyedihkan, faktanya memang ada.

Saat itu karir saya sedang bersinar terang dan sejak masih saya lebih tertarik bidang Industri dan Organisasi. Hati saya tergelitik untuk melindungi ego saya dalam Blaming and Justifying Game alias mencari Black Embek dan membuat pembenaran-pembenaran. Tinggal tunjuk hidung si psikolog aliran Nanny 911 dan mengatakan “Kami korban psikolog ngawur” untuk versi Blaming. Sedangkan untuk versi Justifying saya tinggal membuat pengumuman di jejaring sosial ”Heiii…. saya ini ahli Psikologi Industri !. Lihat dong prestasiku yang cemerlang… Wajarlah kalau saya tidak berminat soal psikologi perkembangan anak, semua itu kan ada spesialisasinya… dokter jantung juga belum tentu ngerti soal ginjal.. Lalu saya menceburkan diri dalam komunitas anomali alias spesial case. Gampang kan… Gampang memang, namun apakah akan menyelesaikan persoalan?

MAKNAI DAN TENTUKAN TUJUAN

Tujuan memberi arah dan makna terbaik semestinya menggerakkan. Maka berhentilah sejenak, mungkin melalui sujud, mungkin dengan berlutut, mungkin dengan jari-jari tertangkup. Iqra’ (Bacalah).. apa pesan yang ingin disampaikanNya dalam sebuah peristiwa? Tafakuri makna apa yang terkandung di dalamnya Bukankah Tuhan tak pernah dzalim, bukankah Tuhan hanya menginginkan kebaikan dari hambaNya? Tanyai diri sendiri, kuliti dan hakimi sebelum kelak menghadap Hakim yang sesungguhnya. Bukankah peristawa dariNya selalu memiliki intensi positif untuk menunjukkan jalan menuju surga?

Jika saya memilih sujud karena saya meyakini dalam sujud terlepaslah kesombongan menuhankan nafsu dan berkuncilah keinginan menudingkan jari. Bagaimana hendak  sombong jika kepala tertunduk serapat bumi, bagaimana hendak menuding jika  tangan bekerja menopang diri. Pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan pada diri untuk menemukan pesan.  Bukankah selama ini saya selalu diberi predikat fast learner? Mungkinkah ini cara Tuhan mengingatkan saya untuk belajar lagi? Apakah saya lebih mementingkan image orang lain daripada tugas saya untuk menyempurnakan ikhtiar sebagai ibu yang diberi tugas bersamaan dengan cinta yang dititipkanNya? Bukankah istigfar dan maaf saja tidak cukup tanpa adanya perbaikan? Maka malam itu saya saya tentukan tujuan baru, bukan sekedar menyembuhkanb phobia anak saya tapi sekaligus belajar bidang ilmu yang sesungguhnya sudah saya ketahui dasarnya yang akan menopang tugas baru saya sebagai ibu. Ilmu menjadi orang tua.

Masih jelas dalam ingatan saya, mulai malam itu dan hari-hari seterusnya saya terus membaca dan belajar lebih dalam tentang pengasuhan anak. Saya memburu buku, membeli CD Dr. Harvey Karp, mengejar kelas Dan Siegel, Melahap buku pengasuhan islam Abdullah N. Ulwan, belajar tentang pikiran manusia, komunikasi di level subconscious, buku-buku terapi, neuro linguistic programming, buku-buku Virginia Satir, mengikuti berbagai seminar, mendapatkan berbagai sertifikasi, membantu klien-klien saya, mengajarkan di kelas-kelas, menerapkan, membaiki dan terus belajar hingga hari ini.

Lalu phobianya? Ups hampirr lupa.  Singkatnya saya diberi kemudahan untuk menyelesaikannya dengan membuat remote control imaginative yang mampu mengubah gambar dan suara dalam imaginasinya. Sebuah teknik hasil rekaan berdasarkan buku-buku yang saya baca, sebelum akhirnya saya mempelajarinya secara formal di kelas beberapa tahun kemudian. Bukan terapi phobia-nya yang ingin saya tekankan, namun  perjalanan mencari makna dan menentukan tujuan.

Alih-alih menyalahkan, syukuri setiap peristiwa. Sibuk mengeluh, mengumpat dan mencari-cari bukti-bukti pembenaran atas “kekurangan” ibarat jalan ditempat di atas lumpur penghisap.  Sudahlah tak sanggup menolong menyelesaikan masalah, terhisap hingga tenggelam tanpa perbaikan.  Rugi kuadrat ! Maka salahpun jangan sampai sia-sia.

Proses perbaikan memang bisa kita lakukan sendiri, tetapi….terbayang bukan…. nikmatnya jika anda dan pasangan anda sama-sama mempunyai kemauan yang untuk terus merenovasi diri dengan proses tafakur bersama? Seperti beberapa email dari pasangan yang mengikuti kelas parenting saya menceritakan betapa indahnya proses menemukan area-area yang perlu diperbaiki bersama, menyusun langkahnya dan menikmati hasilnya. Hubungan yang penuh warna dan anak-anak yang bertumbuh menjadi lebih baik bersama-sama. Subhanallah… seringkali saya ikut terhanyut membacanya.

Karena hidup adalah pilihan dan “Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Qs. Ar-Ra‘d [13]: 19).

Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Anak

Saya yakin bahwa banyak diantara pembaca tulisan ini adalah orang tua yang mampu berlisan dalam berbagai bahasa demikian pula dengan putra-putrinya, namun tidak sedikit juga yang masih mengeluh tidak bisa menemukan kata-kata yag tepat, sulit dimengerti dan berbagai hambatan lainnya saat harus berkomunikasi dengan anak.

Memang belum pernah ada Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Anak dimana anda bisa belajar menemukan kata-kata yang tepat, metafora yang pas ataupun susunan berbahasa yang ciamik saat berkomunikasi dengan anak. Apaagi jika anda hanya berkomunikasi dengan mereka saat kesal, marah, ngomel beserta kerabat-kerabatnya.

Beberapa contoh keluhan yang sering saya dengar dari orang tua adalah :

Kenapa ya bu, anak saya itu kalau sholat maunya cepet-cepet aja, padahal kan sudah berkali-kali saya jelaskan, sholat itu berkomunikasi dengan Allah…

Mbak, saya sering menceritakan pada anak saya hadist-hadist, bagus kan itu.. tapi kok kayaknya ngga ada yang nyantol…

Capek deh bu ngomong sama anak saya, biarpun udah berkali-kali dijelaskan, ngga ngerti-ngerti juga…

Anak saya itu lho bunda, pelit sekali sama temannya, padahal di rumah kami sering diskusi soal pentingnya berbagi…

Biasanya jawaban saya kemudian begini :

Coba beritahu saya bagaimana anda menjelaskan /mengatakan /menceritakan ataupun mendiskusikannya kata demi kata. Tidak sedikit para orang tua yang mengernyitkan kening dengan jawaban saya. Sebagian besar menjawab, “wah ya macam-macam caranya, dari ngomong baik-baik sampai saya omelin” dan menjadi agak kesal atau mengaku lupa ketika saya meminta untuk mengulanginya kata demi kata. 🙂

Jika anda menggunakan pilihan kata yang sama meskipun dengan berbagai varian intonasi dari yang paling rendah hingga paling nyaring, bukankah itu artinya anda terus mengulangi “minum obat diare” untuk “mengobati bisul” hanya saja anda memilih air putih, teh dan sirup sebagai penghantarnya… 🙂

Anak bukanlah manusia dewasa dalam ukuran mini. Pemilihan kata-kata terutama yang sifatnya abstrak belum tentu mampu dia pahami sesuai dengan pemahaman anda. Dalam tulisan ini saya akan memberikan contoh beberapa naskah terjemahan dari bahasa orang dewasa menjadi bahasa anak, dan saya akan sangat senang jika anda mau berbagi dengan semua pembaca tulisan ini dengan menambahkan contoh-contoh lain di kolom komen.

Event 1:

Raka (saat 10th) sangat terganggu dengan kebiasaan saling meledek di sekolahnya.  Suatu ketika dia bertanya kepada saya : “Mama, aku sering LIHAT teman-teman saling ngatain, bahkan mereka juga suka ngatain aku “Fat”, “Slow”… Aku SEBEL dan SAKIT HATI, kadang aku katain balik tapi jadinya ngga selesai-selesai”

Karena saya seorang muslim tentu saya ingin menanamkan nilai-nilai sesuai ajaran yang saya anut. Salah satunya adalah “orang yang dihina sebenarnya memungut pahala gratis tanpa perlu bersusah payah, karena kebaikan orang yang menghina akan berpindah kepada yang dihina/didzalimi”.  Tentu jika saya mengutip begitu saja kalimat tersebut akan sulit diterima anak berusia 10 tahun. Maka saya mengemasnya dalam bentuk VISUAL dan KINESTETIK sesuai dengan kecenderungan pilihan katanya saat menceritakan kejadian itu (perhatikan kata “LIHAT”, “SEBEL”, “SAKIT HATI” yang saya tulis dengan huruf besar di paragraf sebelumnya) …

M : Nak, sudah pernah tahu belum kalau sebetulnya orang yang diledek itu untung besar lho sayang…

R : Ahhh… untung gimana.. ya ngga untung dong kan diledek…. (manyun)

M : Rasulullah SAW pernah mengajarkan kalau orang yang meledek itu kebaikannya akan pindah kepada yang diledek. Bayangkan saja Raka jadi celengan yang ada lubangnya untuk memasukkan uang itu lho? Udah kebayang seperti apa bentuknya?

R : Udah.. (sambil menerawang)

M : Nah… jadi kalau ada teman yang meledek, kebayang kaaan kebaikan dia pindah dan masuk ke lubang celengan yang ada di badan Raka.. cring cring.. plung-plung… nah tambah penuh kan dada Raka dengan kabaikan.. makin penuh tu nak…

R : (tarik nafas dan dadanya lebih membusung ke depan, senyum-senyum …)

M: Jadi menurut Raka gimana kalau ada yang ngeledek Raka…

R: Biarin aja deeeh…. biar dia aja rugi sendiri (cium pipi mama, baca do’a sebelum tidur, peluk guling), Mah… tolong lampu yang itu saja yang dihidupkan, aku mau bobok..

Saya cium kepalanya sambil membisikkan do’a rahasia kami berdua dan tersenyum keluar kamar. Selesai….

Sejak hari itu saya tidak pernah lagi mendengar keluhan mengenai ledek meledek itu….

Masih ada banyak event lain yang bisa saya bagikan.. seperti juga saya ingin mendengar kisah anda….

Catatan Rindu Untuk Bapak

Saat aku rindu Bapak, ingatanku melayang di masa-masa kecilku.

Bapakku adalah seorang pegawai negeri, pengajar di perguruan tinggi negeri di kota kami. Sebagaimana umumnya kehidupan keluarga dosen yang tidak mempunyai profesi lain selain mengajar, kami tidak hidup miskin namun juga tidak hidup mewah. “Pantas” mungkin menjadi istilah yang cocok untuk mewakili kondisi finansial kami. Dan selayaknya kehidupan keluarga akademisi, pendidikan yang baik menjadi obsesi yang beliau  tanamkan kepada anak-anaknya. Mengejar sekolah-sekolah negeri terbaik menjadi fokus kehidupan kami, karena sekolah-sekolah negeri biayanya murah dan membanggakan di jaman itu. Alhamdulillah sejak SD hingga perguruan tinggi, saya lalui di sekolah-sekolah negeri terbaik di kota kami. Pemikiran-pemikiran beliau mengalir melalui ujung-ujung syaraf kognitif saya. Ucapan-ucapan beliau menjadi penggerak langkah-langkah saya.

Meskipun beliau bukanlah seorang ayah yang memanjakan anak-anaknya, tetapi saya ingat betul bagaimana dulu kain sarung beliau menjadi ayunan bagi Okina kecil yang sesekali mengantarkanku ke pintu kamar mandi. Dan ketika Okina kecil mulai besar kadang terdengar bunyi jahitan yang robek saat saya berayun di sarung-sarung kesayangan beliau.  Kegiatan mencabut uban dan membersihkan kulit kepala beliau yang kadang diwarnai dengan adu argumentasi ala “pokrol bambu” alias debat kusir, ledekan beliau dan teriakan beliau “Atho.. atho..(khas dengan logat Pati), karena saya sengaja mencabut dengan keras jika kalah argumentasi (Maafkan kebandelanku waktu itu ya bapakku sayang…) menjadi kenangan indah di waktu-waktu luang kami.  Bapak saya boleh dibilang tipe ayah tradisional, namun, pelukan dan ciuman di saat istimewa bukanlah sesuatu yang tabu, meski juga bukan makanan sehari-hari. Perhatian beliau jarang bersifat fisik apalagi hadiah.  Tergambar jelas dalam file-file ingatan terbaik saya, ucapan  dan kilatan bangga dari mata beliau  setiap saya berhasil melangkah ke jenjang sekolah favorit berikutnya .

“Lha NEM ki yo kudune koyo ngene ini, dadi tinggal milih wae SMA sing tok senengi…” komentar beliau berhiaskan senyuman saat saya memberitahukan nilai ebtanas SMP saya.

“Koyone gaweanmu ki mung dolan, ning jebul kowe ki yo pinter yo Nduk..!” itulah kalimat yang beliau ucapkan saat saya mendapatkan pilihan pertama saya melalui jalur UMPTN… (teringat betapa hari-hari saya memang jarang saya lalui di meja belajar namun beliaupun jarang menegur karenanya kecuali jika saya melanggar jam yang ditetapkan)

“Mbok kowe dadi dosen, njuk dadi profesor, koyone kowe ki bakat mulang lho Yang..” begitulah keinginan beliau bernada merayu yang beliau ucapkan saat saya berlatih di hadapan beliau mempersiapkan ujian pendadaran saya.. (yang akhirnya saya justru bergabung di perusahaan multi nasional di seberang pulau meskipun akhirnya sambil mengajar pula di ujung minggu).

“Timbangane tok jak mlaku-mlaku, aku luwih seneng teko wisuda, opo meneh wisudamu apik, megah, seneng aku..” demikian pujian beliau ketika saya menyelesaikan studi S2 saya di perguruan tinggi (yang juga milik negara)  di negara tetangga, (dan serta-merta menjadi motivasi baru bagi saya untuk menjalani jenjang berikutnya suatu saat kelak)

Sengaja saya tidak menterjemahkan ucapan-ucapan beliau ke dalam bahasa Indonesia, karena memang dalam bahasa jawa ngoko beginilah saya menyimpannya dalam memori saya.  Bagi anda yang tidak mengerti bahasa jawa, mohon maaf  sebesar-besarnya 🙂

Kata-kata beliau tidak selalu berupa pujian, meski beliau amat sangat jarang mencerca, kritik beliau terasa menghujam di hati dengan kalimat bernada “ngenyek” alias meledek.

“Biji ki ojo mung B, nek IP mung pas-pas-an ki yo akeh tunggale..” inilah salah satu ledekan beliau jika IP saya pada suatu semester tidak menembus melebihi angka 3.

“Golek duit ki yo apik, ning nek njuk ora ndang KKN, sing mbayar SPP-mu ki yo isih bapakmu lho…” begitulah sindiran beliau saat saya malas berangkat Kuliah Kerja Nyata, karena artinya saya harus melupakan sejenak keasyikan saya menikmati hasil mengajar di sekolah kepribadian dan beberapa proyek training kecil-kecilan yang saya lakukan saat kuliah. Sindiran beliau inilah yang membuat saya sambil geli-geli meringis segera mendaftar KKN.

Pada dasarnya saya memang bukan tipe yang tekun belajar, hahahihi di kantin, berkegiatan kesana-kemari, berkumpul dengan teman-teman yang asyik adalah warna kehidupan saya, namun menyelesaikan kuliah secepat-cepatnya dengan nilai sebaik-baiknya tetap menjadi fokus saya karena bapak sering mengingatkan kami bahwa bagi seorang dosen tidaklah murah membiayai 5 anak, dan bapak harus bekerja extra menjadi dosen tamu di beberapa kota (meskipun akhirnya kami tahu bahwa bapak menikmati juga pekerjaan extranya itu :D).

Bapak adalah pribadi yang keras terutama pada dirinya sendiri, mungkin karena beliau dibesarkan dalam kondisi serba kekurangan. Dulu saya sering kesal dan malu jika beliau membanggakan apa yang telah beliau raih dan membandingkannya dengan kami meski dengan nada bercanda, namun kini saya mengerti, bagi seorang anak yang dulu menggembala kambing dan berjualan pisang rebus di pasar, menjadi Guru Besar di perguruan tinggi negeri tentu jauh melebihi impian masa kecil beliau.

Sebagai anak terkecil, saya menikmati posisi “anak-anak” di mata beliau hingga saat ini. Sampai waktu-waktu terakhir beliau sehat, saya masih suka saling meledek dengan beliau, kadang menjulurkan lidah saat menang berargumentasi yang dijawab dengan kata-kata khas beliau “Ke-ku, engsil (“Kowe kui, ngensil” / “Kamu itu ngeyelan”).  Saat beliau sakit , saya suka menggoda beliau melalui telepon dengan kata-kata “Atit manja ya….” dan beliau terkekeh-kekeh mendengarnya.

Ahhh…betapa aku rindu padamu Bapak…

Ampuni dan maafkan segala kesalahan dan kekuranganku…

Banyaknya air mata yang mengalir saat aku mengingatmu, belum mampu mewakili betapa aku mencintaimu…

Duhai Yang Maha Menggenggam Jiwa, mudahkanlah hari-hari yang harus dilalui ayahku…

Hand Puppet, an Amazing Way to Change Children’s Belief

SONY DSCSuatu ketika beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti status seorang teman di Facebook yang sedang berjuang keras mengantarkan anaknya ke sekolah. Mulai harus ditunggui di dalam kelas, di jendela, di halaman sekolah, hingga akhirnya berhasil survive di sekolah tanpa airmata.

Jika peristiwa ini terjadi di Indonesia, barangkali tidak terlalu menegangkan, karena ada extended family, bibik, embak, baby sitter, yang bisa dimintai tolong untuk menemani selama di sekolah atau mengerjakan pekerjaan rumah yang ditinggalkan.a akhirnya berhasil survive di sekolah tanpa airmata dengan total proses memakan waktu lebih dari 14 hari. (semoga Tuhan melimpahi teman saya ini dengan pahala atas kesabarannya dan dedikasinya sebagai ibu)

Agak lain ceritanya jika anda tinggal di luar negeri, dimana segala bala bantuan ini tidak mudah diperoleh, dan seorang ibu mempunyai banyak tugas selain menjadi permaisuri, yaitu sebagai iyem, merangkap supir, merangkap baby sitter plus tukang kebun.  Dalam situasi seperti ini, tertahan di sekolah selama 4-5 jam membuat seorang ibu harus pontang-panting membuat penyesuaian jadwal dan bertoleransi dengan tumpukan pekerjaan rumah yang melambai-lambai di rumah…

Penyebab kasus seperti ini secara umum disimpulkan sebagai “rasa tidak aman untuk berpisah dari subjek lekat”. Rasa tidak aman berpisah dari subjek lekat yang kadung melekat pada diri anak bisa dikategorikan sebagai limiting belief yaitu suatu kepercayaan yang menghambat atau membatasi atau membelenggu (silahkan dipilih istilah mana yang lebih anda sukai..). Beberapa tulisan yang saya baca mengenai kasus seperti ini, cenderung menganalisa cara mendidik yang dianggap keliru..  bahwa seharusnya begini, seharusnya begitu.. tanpa diberi solusi kecuali bersabar menerima proses panjangnya.

Ngomong-ngomong soal extended family dan bala bantuan dalam pengasuhan anak, seringkali terjadi juga “ketidak sengajaan” penanaman keyakinan yang tidak sehat secara mental. Ada kebiasaan kuno dalam pola asuh anak  dengan cara menakut-nakuti… seperti “Awas jangan kesitu ada hantu/jurit/wewe” (hahaha… wewe itu seperti apa ya bentuknya)… “Awas, nanti kamu diculik, ngga bisa ketemu mamamu lagi!”, “Nanti dipanggilin dokter biar disuntik” dan sebagainya.

Ternyataaa oh ternyata… tidak hanya extended family dan para pengasuh yang melakukan dosa-dosa seperti contoh diatas,  orang tua modern yang saya pikir sudah meninggalkan metode pengasuhan kuno ini juga ada yg masih melakukannya dengan versi yang berbeda.. misalnya “Awas jangan panjat itu, nanti kamu jatuh berdarah, sakit lho..”, “Ayo belajar.. matematika itu sulit lho, nanti nilaimu jelek (pada anak usia sekolah), “Kamu memang selalu merepotkan” dan lain sebagainya…. Semoga semua orang tua yang pernah melakukan “dosa lidah” ini ramai-ramai melakukan tobat nasuha…  (Nasuha?… jadi ingat final AFF yang menjadi pertandingan bola yang saya tonton seutuhnya sepanjang hidup saya.. semoga bidang olahraga di negeriku semakin maju..).

Akibatnya? anak menjadi takut di tempat tertentu, takut ke dokter, merasa matematika sulit, takut mencoba hal baru, merasa diri tidak berharga dan lain-lain.

Menyalahkan “sang sebab” tidaklah cukup. Menghentikan penyebab yang kendalinya di tangan anda, adalah tindakan yang WAJIB hukumnya. Namun mungkin saja anda sudah tidak bisa lagi mengenali sebabnya, karena suatu keyakinan bisa muncul sebagai hasil kesimpulan anak dari berbagai peristiwa yang dialaminya atau bahkan hanya sekedar dilihatnya sambil lalu.. (…toh anda tidak mungkin membesarkan anak dalam rumah kaca yang dapat anda kendalikan semua peristiwa yang boleh diterimanya bukan?…). Maka kewajiban berikutnya yang juga sama pentingnya adalah MEMPERBAIKI kondisi yang sudah terlanjur terbentuk.

Apa perlu dibawa ke Psychologist? Therapist? Pake hypnosis? Memang kasus-kasus seperti ini tergolong mudah bagi para profesional, seperti saya tulis juga di artikel-artikel lain. Apalagi jika terjadi pada orang dewasa, remaja atau setidaknya anak-anak usia 7 tahun ke atas yang telah memiliki kematangan berkomunikasi. Sedikit agak menantang jika yang dihadapi anak usia 3-5 tahun. Meskipun demikian, anda bisa melakukannya sendiri. Diperlukan kreatifitas tersendiri plus situasi yang menarik untuk membuat anak-anak pada usia ini mau dan dapat berkomunikasi sesuai arahan anda dalam rentang waktu tertentu. Jika anda atau cara anda dianggap tidak menarik oleh mereka, bukan tidak mungkin mereka akan kabur meninggalkan kita dalam kondisi speechless…

Berikut ini saya ajak anda mempraktekkan salah satu teknik dalam Neuro Linguistic Programming (NLP) yang telah dimodifikasi sehingga sangat user friendly..

Hand puppet (boneka tangan) dapat menjadi media untuk berkomunikasi dan mengaplikasikan teknik-teknik NLP secara mudah dan menarik. Teknik ini telah saya uji beberapa kali dan apa yang saya tuliskan disini adalah salah satu contoh yang dapat diaplikasikan untuk kasus-kasus lain sesuai dengan kebutuhan anda.

Saya sarankan anda menggunakan karakter binatang agar anak tidak serta merta mengasosiasikan karakter boneka dengan dirinya. Karakter orang kadang terlihat scary.

 META MODEL

Bukanlah pekerjaan yang mudah bagi anak untuk mendiskripsikan dengan jelas perasaannya (jangankan anak-anak…. Andapun sesekali mengalaminya bukan?)

Untuk mengetahui secara spesifik persoalan apa yang dihadapi anak, anda perlu mengetahui secara detail gambaran apa yang ada dalam pemikirannya bukan sekedar pernyataan di permukaan atau lebih parah lagi hanya berdasarkan pendapat orang tuanya. Me-meta-model-i anak-anak tentu tidak sama dengan dengan orang dewasa, proses ini kadang membuat anda menjadi subjek yang menjengkelkan karena terlalu banyak bertanya

Proses ini tidak wajib dijalankan jika memang anda sudah tahu pasti berdasarkan pengamatan anda, apalagi jika anda adalah ayah dan ibunya yang sudah menjalankan proses pengumpulan data, atau lebih parah lagi yaitu… anda adalah “biang keladi”  masalahnya hehehehe….

Untuk kasus “saya tidak suka sekolah”, kadangkala anda memerlukan informasi lebih detail mengenai, “apa/siapa/kejadian apa yang tidak dia sukai dari sekolah”, “sejak kapan tidak suka” atau hal-hal lain yang menurut anda penting (bagi saya… hal-hal yang saya sebutkan tadi sudah cukup)

Baiklah…

Mari kita mulai proses spesifikasi masalah melalui cerita, saya sarankan anda membagi cerita menjadi 3 bagian :

The Beginning :

Bagian ini untuk mengeksplor indera anak tentang suatu kejadian. Ceritakan secara diskriptif baju yang dipakai oleh karakter yang anda pilih, sebutlah si Teddy dan si Froggie yang sedang diajak orang tuanya untuk melihat-lihat sekolah.  Ajaklah anak membayangkan wanginya bunga yang dilalui ketika mereka berjalan, bunyi kicauan burung, rasa gembira, manisnya kue yang dibeli dalam perjalanan, dll. Selain agar anak merasa nyaman, his/her mind’s side door will swing wide open to accept your main process. Saya suka menyebutnya dengan istilah tahap persiapan inderawi untuk membuka jendela pemikiran anak.

The Middle :

Disinilah bagian dimana anda akan mendapatkan informasi yang anda perlukan. Buatlah percakapan antara Teddy dan Froggie tentang perasaan si Froggie ketika mereka sampai di sekolah. Ada beberapa alternative cara bertanya untuk memancing jawaban anak:

  1. Lakukan jeda setiap kali Teddy bertanya kepada Frogie, untuk memberi kesempatan anak menjawab.
  2. Buatlah gerakan seolah Froggie menggaruk-garuk kepala dan bertanya pada anak, apa jawaban pertanyaan Teddy
  3. Teddy bertanya langsung kepada anak setelah Froggie menjawab

Chunking down informasi yang sifatnya umum ke spesifik karena anak suka menggunakan kata-kata generalisasi sepeti “pokoknya ngga suka aja”, “semua jelek”, dsb. Perhatikan rentang konsentrasi anak.  Jangan berlama-lama karena rentang konsentrasi anak-anak lebih pendek dari rentang konsentrasi orang dewasa (yang bisa asyik berjam-jam mendengar kisah tentang “si pencari suara 2014 yang banyak dosanya pada rakyat tapi tidak punya malu mencalonkan diri” di kedai kopi.. ;p). Anda hanya perlu sedikit sensitif untuk bisa mengenali tanda-tanda penurunan konsentrasi pada anak misalnya ia mulai mengalihkan pandangan ke berbagai arah, gelisah, menguap.. dsb..dsb.. (thanks to hand puppet yang bisa dimanfaatkan untuk membuat gerakan-gerakan lucu)

Bisa saja anda terkejut dengan hasil penemuan anda, karena kesimpulan akhirnya bisa beragam seperti :

“Aku tidak suka sekolah sendiri karena aku takut ibu terlambat menjemputku, nanti aku harus menunggu sendirian, kalau nanti ada orang asing datang, aku diculik orang asing dan tidak bisa bertemu ibu lagi” (disini anda menemukan rasa takut kuadrat)

“Aku tidak suka Pak guru karena tidak keren seperti ayahku, pasti dia tidak sebaik ayah” (suit… suit… para ayah boleh numpang GR sebentar… :p)

“Teman sebelahku mencubitku” (hati-hati.., jawaban ini membutuhkan penyelesaian lain karena tidak ada hubungannya dengan belief !)

Salah satu contoh jawaban yang saya temukan adalah : “sekolah itu tidak menyenangkan, karena teman-teman sebaya nggak fun. Lebih menyenangkan bermain dengan teman-teman kakak, permainan teman-teman kakak lebih asyik. Teman-teman sebaya membosankan….mereka itu masih baby

Hhmmm… rupanya masalah sedikit bergeser dari “tidak suka sekolah” menjadi “teman sebaya ngga fun/membosankan”

The Happy Ending :

Tutup cerita dengan akhir yang bahagia. Pelukan, ciuman, kata-kata yang berulang dan nyanyian biasanya menjadi pembungkus favorit bagi anak-anak.

Test jawaban anak dalam kondisi riil, misalnya dengan meminta ortu-nya untuk mengajak anak ke sekolah kakaknya. Apakah dia terlihat excited? Atau dengan mengajak anak bermain dengan teman sebayanya di lokasi bukan sekolah. Apakah dia memang tidak berminat?

Jika BENAR, mari kita melangkah ke tahap berikutnya.., jika salah? hehehe… silahkan mundur 3 langkah.. ;p

 

CHANGING BELIEF

Tahap ini adalah tahap dimana anda akan menggugurkan limiting belief anak dengan mengganti gambaran mental anak terhadap situasi yang tidak menyenangkan dengan situasi yang menyenangkan atau menggelikan. Mengganti perasaan inferiority-nya terhadap situasi yang tidak disukainya menjadi berdaya.

Saya sarankan anda tetap membagi cerita menjadi 3 bagian, mengaplikasikan teknik changing belief system di tengah cerita.

Saya memilih menggunakan cerita ini :“Sampailah Teddy dan Froggie ke sekolah.. di depan kelas Froggie melihat teman-temannya..” (jeda)… biarkan anak menyambar cerita dengan menggambarkan perasaannya melihat teman-teman sebaya. Jika tidak ada reaksi, pancing dengan pertanyaan dari Teddy kepada Froggie dan selanjutnya dari Froggie kepada anak. Buatlah anak mengobservasi kehilangan minat yang dialaminya melalui tokoh Froggie … ikuti gerakan matanya dan letakkan Froggie di tempat matanya memandang ketika dia berhasil menemukan lokasi belief-nya. BREAK.. Lepaskan Froggie dari tangan anda.

Alihkan beberapa detik pada hal lain, misalnya dengan berpura-pura haus dan mengajaknya minum bersama anda.

Alihkan focus cerita. Kisah Teddy yang bertemu karakter lain yaitu si Goofie menjadi pilihan saya.  Teddy dan Goofie bermain ayunan, Teddy mendorong Goofie hingga Goofie berayun tinggi… tinggiiiii di udara…, stimulasi ingatan anak kepada pengalamannya bermain ayunan (tentunya anda harus tahu dulu kegiatan yang ia sukai.. jika bermain ayunan justru menakutkan, artinya anda meng-elicit emosi yang salah 🙂).. Untuk menguatkan rasa exciting yang dialaminya, saya melakukan gerakan-gerakan jenaka dengan karakter Goofie, menutup salah satu matanya sambil sedikit mengintip, jeritan-jeritan kecil, berpura-pura salah memegang mulut menjadi telinga..  terusss.. sampai anak berada dalam titik senang, geli, exciting mendekati optimal (…jangan kuatir.. membuat anak kecil terpingkal-pingkal jauh lebih mudah dari membuat atasan anda tersenyum J)

Dengan gerakan tangkas ganti munculkan karakter  Froggie di tempat dimana tadi ia anda hilangkan yang mewakili submodality “anak-anak membosankan” (jika ada reaksi diam 1-2 detik.. Bagus.. artinya dia sedang menarik informasi lama yang sudah terbentuk .. Jika tidak ada reaksi, pancing selintas dengan mengatakan “ngga fun”). Serta merta pindahkan posisi Froggie ke belakang Goofie hingga karakter Froggie tertutup oleh Goofie dan lanjutkan gerakan-gerakan jenakanya hingga si anak kembali tertawa terkekeh-kekeh sambil mendekatkan karakter Goofie ke arah anak…. teruss.. teruss.. dan stop. Selesai sudah…

Lepaskan kedua karakter dari tangan anda dan lanjutkan akhir cerita secara naratif. Libatkan anak untuk membuat akhir cerita yang disukainya. Lakukan recheck apakah keyakinan lamanya telah tergugurkan berdasarkan akhir cerita yang dibuatnya.

Ingatkan orang tua untuk tidak perlu membahas “masalah” ini sampai saatnya anda mengalami pengalaman yang sebenarnya.

Singkat cerita, saya mendapatkan informasi bahwa si anak telah melenggang dengan ceria ke kelasnya keesokan harinya.

Tentunya proses tidak berhenti sampai disini, tetapi terus dilanjutkan dengan proses menikmati situasi-situasi menyenangkan dan proses memaafkan situasi-situasi tidak menyenangkan yang secara riil ditemukan pada hari-hari selanjutnya, agar anak menjadi fleksible dan resilience ketika menghadapi berbagai fakta.

Akhirnya…

Kasus ini hanyalah sebuah contoh yang bisa anda modifikasi sesuai dengan kondisi yang anda hadapi baik bagi anak-anak anda maupun anak-anak yang anda bantu. Bantu juga diri anda dan para orang tua untuk ikut berubah karena seringkali apa yang diyakini anak adalah hasil ‘memodel’ apa yang diyakini orang tuanya.

Teruslah membuat perbaikan, karena anak-anak adalah tamu istimewa, yang kita undang untuk masuk dalam kehidupan kita atas ijin dan kuasaNya.. maka sudah sepantasnya, mereka mendapatkan perlakuan istimewa selayaknya “tamu istimewa”.