The Secret of Self Improvement – Detoks Hati dan Pikiran

The Secret of Self Improvment_C-1+4

Untuk pertama kalinya di Indonesia, buku pemberdayaan diri didesain dan disajikan dalam konsep terapan yang jujur dan simpel agar mudah dimodel, dimodifikasi dan dilakukan ulang para pembaca. Lengkap dengan contoh-contoh masalah, mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks yang mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui buku ini para penulis telah membuktikan bahwa membuat perubahan itu mudah, proses parenting bisa dilakukan tanpa pening dan memperbaiki diri itu tidak perlu menunggu ahli. Bahkan, para penulis sudah membuktikan bahwa berproses secara lentur namun drastis, justru membuat hidup menjadi lebih nyaman dan membahagiakan. Maka, berhati-hatilah, buku ini bisa jadi akan membuat Anda penasaran dan ketagihan untuk segera mempraktikkannya serta menemukan betapa menakjubkannya rahasia-rahasia Self Improvement yang sesungguhnya telah disediakan Tuhan untuk anda

Pusing Menghadapi Tantrum, Whining & Fussing? Disini ada Solusi Penting

Pertanyaan mengenai bagaimana cara mengatasi anak mengamuk, ngambeg, ngesot-ngesot di pusat perbelanjaan,  menjadi pertanyaan sepanjang masa para mommies and daddies baik di kelas training saya maupun di sela-sela pertemuan informal. Secara terminologi seringkali disebut dengan istilah tantrum, whining dan fussing menurut derajat kehebohannya dari yang paling heboh hingga paling ringan, tetapi dalam artikel ini saya menggunakan istilah tantrum untuk mewakili baik the real tantrum ataupun sebatas whining dan fussing sekaligus sekedar agar artikel ini tidak menjadi terlalu panjang. Jika di kelas maupun dalam pertemuan informal karena waktu yang sempit saya tidak sempat menjelaskan secara runut dan gamblang. Mudah-mudahan dari artikel ini memberi gambaran yang lebih jelas dan memudahkan pembaca untuk memahami dan mencegah terjadinya tantrum.

Kemampuan dan kejelian anda MENCEGAH terjadinya tantrum jauuuh lebih penting daripada mengatasi tantrum. Mengapa mencegah sangat penting? Karena jika respon anda terhadap first tantrum tidak tepat, anda akan terjebak pada periode-periode tantrum yang lain. Mengapa demikian? Karena pada saat tantrum, anak berada dalam kondisi emosi yang kuat (peak emotion) dan peak emotion merupakan gerbang tertanamnya keyakinan (belief) ke bawah sadar alias gerbang terbentuknya anchor bawah sadar.

Cara mencegah dan mengatasi tantrum secara lebih detail saya tuliskan di buku ini, disini saya tuliskan poin2nya saja

Secara umum, ada 4 jenis kelompok besar penyebab tantrum :

1. FRUSTRASI

    • Pertahanan fisik (Physical Endurance) yang melemah.
    • Pertahanan Psikologis (Psycholoical Endurance) yang melemah
    • Tidak siap menghadapi stimulus dan penolakan

2. UNTUK MENDAPATKAN PERHATIAN SEGERA

3. KARENA CARA INI SELALU BERHASIL

4. GANGGUAN PERKEMBANGAN ATAU GANGGUAN PSIKOTIK

Seperti yang sudah saya tekankan di awal artikel ini bahwa MENCEGAH jauh lebih penting dan lebih baik daripada menangani tantrum. Berikut ini adalah prinsip-prinsip dasar agar anda tidak perlu berurusan dengan tantrum sepanjang karir parenting anda.

1. PAHAMI DUNIA ANAK (Rapport)

Orang tua seharusnya adalah orang yang paling tahu mengenai segala sesuatu mengenai anaknya, meliputi kebiasaan, jadwal, karakter, hal-hal yang disukai maupun yang tidak disukainya. Anak yang merasa dipahami akan lebih terbuka untuk mendengarkan dan melakukan apa yang anda katakan. Memahami dunia anak sama artinya dengan membangun kepercayaan (trust) pada diri anak bahwa anda mengerti dia. Mari kita fahami dulu bahwa anak-anak mempunyai peta mental yang sederhana, respon yang dia berikan atas suatu keadaan adalah respon yang paling efektif menurut kondisi dan sumberdaya internal yang dimilikinya pada saat itu.

2. FOKUS PADA TUJUAN

Hiduplah dengan perencanaan, setiap kegiatan harus mempunyai tujuan. Atur waktu sedemikian dan buatlah persiapan dengan tidak tergesa-gesa sehingga mood anda dan anak sama-sama dalam keadaan rileks. Sepakati do and don’t sebelum berangkat dan persiapkan kondisi mental anak jika harus bertemu dengan kondisi-kondisi yang mungkin tidak disukainya dengan briefing dan role playing. Saya suka menggunakan istilah ini : Hiduplah dengan tuma’ninah, karena hidup itu sejatinya rangkaian ibadah demi ibadah.

3. ASAH KETAJAMAN DAN SENSITIFITAS INDERA (sensory acuity)

Ketika anda sudah memahami prinsip pertama yaitu memahami dunia anak, tentu anda mengerti tanda-tanda kelelahan, mengantuk, lapar, bosan dan perasaan tidak nyaman yang lain. Kecepatan anda menanggapi tanda-tanda ini akan menyelamatkan anda dari kerepotan yang panjang untuk menyelesaikan tantrum. Jadi ortu jangan selfie or enjoy sendiri, dan meminta seorang balita untuk memahami kerepotan anda. Jika anak sudah tampak bosan melihat anda ngobrol berkepanjangan dengan teman anda, berhentilah dan beri perhatian padanya. Anak yang dibesarkan oleh ayah dan ibu yang cepat tanggap terhadap tanda-tanda ketidaknyamanan akan tumbuh menjadi anak yang juga tanggap terhadap ketidaknyamanan anda. Jadilah teladan dan bersiaplah meleleh ketika nanti anak anda dengan manis berkata “Mama kok kelihatan lelah, sini aku pijitin.. atau Papa haus ya? Aku ambilin minum ya?” Sebaliknya jika anda terbiasa abai, maka anak juga akan menjadi selfish dan semakin sering menuntut perhatian.

4. FLEKSIBEL DALAM BERTINDAK (behavior flexibility)

Fleksibel dalam bertindak bukan berarti inconsistent atau boleh mengabaikan keselamatan, tetapi biasakan berpikir kreatif mencari alternatiif dan lentur menyesuaikan situasi.

Laluu… bagaimana kalau sudah terlanjur kejadian?

Tegur dulu diri sendiri 🙂 Supaya objek kekesalan anda berpindah dari anak menjadi penyesalan diri. Baru kemudian ubah pola asuh anda mengikuti empat cara diatas.

Bagaimana jika pengalaman pertama tiba-tiba anak tantrum? Segera ambil posisi tubuh sama dengan posisi anak, lalu ulangi kata yang dia ucapkan berkali-kali dengan cepat tetapi tidak dengan nada membentak atau kasar, dalam 1 menit anak akan langsung tenang. Metode cavemen ini diajarkan oleh Dr. Harvey Karp, dalam bukunya The Happiest Toddler on The Block. “Ah… udah tau cara ajaib, biar ajalah tidak usah dicegah”. Karena mengalami periode tantrum itu melelahkan dan sering mengalami lonjakan emosi akan menyebabkan anak tumbuh mudah depresi dan cemas.

Parenting Quotes

parenting quotes

Beberapa kali saya dianjurkan untuk mengkoleksi status-status  saya di facebook mengenai parenting. Meskipun belum semuanya, berikut ini beberapa koleksi yang sempat saya jejaki..

—————

Jika anda menyuruh anak tidak berteriak-teriak dengan suara menjerit, anda sedang mengajarkan apa?

Jika anda meminta anak bersabar dengan nada gertakan “sabar dong ahhh”, anda sedang mencontohkan apa?

Jika anda menasehati anak untuk pantang mengeluh sambil berkata “sampai capek mama/papa menasehati kamu”, anda sedang mengajarkan apa?

Jika anda menginginkan anak untuk patuh sedang saran dari pasangan anda bantah melulu, anda sedang membentuk anak jadi seperti apa?

Banyak orang tua ingin anaknya sempurna, sementara dirinya lupa berkaca…

—————

Orang tua kadang mengira bahwa anak-anaknya numpang hidup pada mereka..,

“Ayah sudah pontang-panting cari uang untuk menyekolahkanmu..”

“Kamu sudah diberi fasilitas yang bagus, kok belajarnya cuma begitu-begitu saja..”

Yakinkah kita bahwa rizki yang dititipkan pada kita memang ditujukan pada diri kita dan hasil kerja keras kita? Jangan-jangan rizki itu dititipkanNya karena anak-anak itu lahir di rumah kita.

Jangan-jangan kitalah yang “numpang hidup” dari rizki anak-anak kita…

—————

Dalam kelas parenting saya sering ditanya cara cespleng, manjur dan instant agar anak disiplin, patuh, rajin belajar, rajin ibadah dll..

Kadang kita mengira manusia seperti gadget yang ada tombol on – off untuk dinyalakan dan dihentikan.

Apakah jika anda sudah mengajarkan dengan benar, berkomunikasi dengan konsisten ala hypnotic language pattern yang super keren dan menjadi contoh yang dapat dimodel pasti hasilnya seperti yang anda inginkan? Tidak juga.

Waduuuh…

Seringkali kita lupa bahwa jiwa-jiwa mereka ada dalam genggamanNya.Wah kalau begitu saya cukup berdo’a saja ya.

Belum tentu juga..

Waduuuh…

Karena kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diamanahkan pada kita dan apa yang kita pimpin.

Susah ya? Masa siih…

Bukankah tugas kita adalah ikhlas menyempurnakan ikhtiar dan memohon ridho dan pertolonganNya?

Lalu perlu tidak belajar parenting? Itu pertanyaannya sama dengan, perlu tidak belajar untuk sukses? Perlu tidak ke dokter saat sakit? Perlu tidak bekerja untuk mendapatkan rizki?

(semoga saya tidak dimarahi para trainer yang menjanjikan teknik cespleng, dan tidak juga dimarahi golongan yang sebaliknya… punteen)

—————

Ilmu leadership dan ilmu parenting itu prinsipnya sama, bedanya hanya usia orang yang anda hadapi dan tingkat kekerenan istilah-istilahnya.

Mana yang lebih challenging? Parenting.

Mengapa?

Karena yang satu anak sendiri yang satu lagi anak orang lain, yang efek kerusakan atas kesalahan anda memimpin tidak anda hadapi seumur hidup

—————

Allah tidak pernah menciptakan produk gagal. Jika suatu fungsi dikurangkan, maka akan dilebihkan fungsi yang lain. Tinggal apakah manusia mau berusaha memaksimalkan fungsi-fungsinya.

Beberapa waktu belakangan ini saya mendapat laporan teman-teman yang berhasil terlepas dari berbagai phobia, kebencian, ketergantungan dan pola hidup yang tidak bermanfaat dengan mengoptimalkan fungsi pikiran dan tubuh.

MasyaAllah… Alhamdulillah.

—————

Manusia lahir itu naturally sudah kreatif dan bersemangat juang, perhatikan bagaimana bayi dan batita lahir, belajar berjalan, mengeksplore diri dan mainannya, serta ngotot untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Kecuali ada kelemahan fisik bawaan misalnya pada jantung dan fungsi muscular. Ketika semakin besar kreatifitas dan semangat juang itu memudar, itu karena orang-orang yang mengasuh dan mendidiknya “membunuh” kreatifitas dan semangatnya. Maka bukan kursus untuk melatih kreatifitas yang diperlukan anak tapi kursus para ortu dan pendidik untuk berhenti menjadi “pembunuh”

—————

Dulu dan sekarang, dikombinasikan secara matang….

Anak-anak jaman dahulu kebanyakan diajarkan untuk mendahulukan orang tua (biasanya ayah) terutama saat makan atau mengambil lauk.

Kebiasaan ini kemudian dituding menjadi penyebab anak-anak menjadi rendah diri, tidak berani berpendapat dll

Orang tua jaman sekarang dengan alasan bahwa anak memerlukan gizi lebih baik maka membiarkan anak mengambil lauk apa saja di meja dan orang tuanya berperan menjadi truk sampahnya.

Kebiasaan ini kemudian juga disinyalir membuat anak-anak menjadi nranyak dan sulit mendengar nasehat.

Nah lo… Trus bagaimana…?

Coba kalau dikombinasikan begini :

Anak-anak diajarkan untuk mendahulukan yang tua, “Silahkan ayah – ibu duluan”, kemudian yang tua menyayangi yang muda “Terimakasih sudah menawari ayah-ibu terlebih dahulu, kalau kakak suka yang mana?” Saat anak mengatakan suka yang “ini”, maka ayah-ibunya atas nama cinta memilih yang “itu”. “Ayah/Ibu ambil yang itu ya, kakak yang ini”

Cantik kaaan…..

Barangsiapa tidak menyayangi yang kecil dan tidak mengenali hak yang tua maka ia bukan termasuk golongan kami…

—————

Saya sering ditanya soal mengajarkan membaca atau berhitung pada balita.

Apa betul berbahaya? Apa betul menyebabkan kelelahan otak?

Hmm..

Kalau begitu jangan lagi mengajarkan lagu balonku ada lima atau satu-satu aku sayang ibu, itu kan mengajarkan berhitung..

Jika anak bertanya tanda “STOP” di jalan itu bacaannya apa, jawab saja begini “Hush.. Jangan tanya itu dulu, otakmu belum siap nak”

Anak belajar membaca atau berhitung boleh-boleh saja asal caranya FUN, menyenangkan.

Ini bukan soal Apa yang diajarkan tetapi Bagaimana mengajarkannya..

Tidak perlu HARUS bisa, tidak perlu pula ANTIPATI

Sebaik-baik urusan adalah yang dipertengahannya…

—————

Mengeluh itu Menular…

Ayah mengeluh : “Duh pekerjaan numpuk di kantor”, “Ayah ini sudah capek kerja buat kalian”, “Dasar pemimpin nggak becus”

Ibu mengeluh :”Duh setrikaan numpuk”, “Ibu ini capek, sudah kerja masih juga ngurusin PR kalian”, “Ihhh… si itu tu memang biasa tuu kayak gitu”

Maka jangan heran jika anak juga begini :

“Duh, PR kok banyak amat, susah”, “Males ah bu, capek nih”, “Gurunya ngga menyenangkan, temanku nyebelin”

Dan percakapan di rumah itu kira-kira akan menjadi Pengeluh menasehati Pengeluh untuk tidak mengeluh:

Anak : “Males ah sekolah, gurunya galak, temannya menyebalkan”

Ayah/Ibu : “Kamu ini gimana sih, ayah/ibu kan udah capek kerja untuk kamu, masa gitu aja ngeluh, guru galak itu dimana-mana ada”

Untung saja anaknya tidak menjawab begini :

“Kalau begitu, capek kerja itu juga biasalah.. kerja itu dimana-mana juga capek”..

Dan pengeluh mengeluhkan pengeluh yang lain ..

—————

Bullying, trauma anak atau trauma ortu..

Pada banyak kasus “trauma” bullying yang mampir di tempat saya, orang tua sering mengira anaknya “trauma” akibat masalah bullying yang dialaminya. Mengapa saya menulis trauma dengan tanda “..”?

Karena ternyata dalam perjalanan penanganannya, anak justru lebih trauma terhadap sikap emosional orang tuanya yang berlebihan dibandingkan kejadian “bullying” yang dialaminya.

Semua perilaku anak yang kurang ceria setelah itu dikaitkan oleh orangtuanya dengan kasus bullying yang dihadapinya. Sehingga anak melihat masalah itu menjadi sedemikian besaar, menakutkan dan membahayakan dirinya.

Orang tua sebaiknya jangan terlalu reaktif terhadap cerita anak. Seringkali ketika kesal terjadi generalisasi pada pikiran anak, sehingga muncul kata “selalu”, “semua” pada kisah yang diceritakannya.

Tanggapi dengan tenang, lakukan chunk down hingga terlihat fakta-fakta yang terlewatkan.

—————

Masih soal bullying…

Kadang ortu di rumah suka memberi panggilan-panggilan yang dikiranya lucu pada anak-anaknya, nDut alias endut, si lelet, mBul aliat gembul.. eee… begitu anak dipanggil demikian oleh kawannya di sekolah, ortu langsung emosi tiada tara.. Anak diajarkan untuk melawan dan dilabel kasus bullying. “Wah bullying ini namanya nak, kamu dibully..”

Anak menjadi bingung atas sikap tidak congruent ortunya, mengapa jika ortu yang memanggil demikian dia harus ikut tertawa sedangkan jika kawannya yang memanggil demikian dia harus tidak terima dan melawan? Anak mengalami kerancuan bereaksi hingga justru menimbulkan rasa “tidak mampu” mengelola emosinya sendiri.

Snakes and Ladders. Gratefulness, Empathy, and Hope on a Piece of Board

Siapa yang tak kenal permainan ular tangga. Sebuah permainan yang menurut Om Wiki berasal dari India dengan nama asli Moksa Patam yang bermakna tangga menuju moksa. Arti moksa sangat beragam ada yang mengartikannya sebagai keselamatan, kebahagiaan yang kekal, jenjang tertinggi dalam kehidupan dan lain-lain. Apapun artinya, saya tidak bermaksud membahas filosofi permainan ular tangga menurut niat para penciptanya tetapi bagaimana memanfaatkan permainan yang tampaknya sederhana ini untuk menanamkan nilai-nilai kebersyukuran, empati, sikap optimis, dan kesabaran pada anak-anak.

Pada umumnya permainan ular tangga dilakukan dengan cara melempar dadu, dan siapa yang mencapai  persegi/bujur sangkar dengan angka 100 terlebih dahulu adalah pemenangnya. Dalam perjalanan mencapai angka 100 ini kadang akan ditemui tangga yang membuat pemainnya bisa mencapai posisi yang lebih tinggi atau bertemu dengan ular yang membawa pemainnya merosooot ke persegi yang jauh di bawahnya. Supaya terjadi interaksi antar pemain, boleh juga ditambahkan aturan baru yaitu, apabila salah seorang pemain mendarat di persegi yang sama dengan pemain sebelumnya, maka pemain yang sudah menempati persegi itu harus kembali ke titik start (istilahnya “dibacok”, ceuk suami yang orang sunda mah… *duuh sadis kalipuuun).

Permainan ini lebih asyik jika dilakukan oleh seluruh keluarga, dan diam-diam tentukan apakah suami atau istri yang akan menjadi tokoh “jahat”. Tokoh jahat ini akan memberi contoh-contoh perilaku buruk. (kalau saya sih selalu suami yang jadi tokoh jahat, karena bukankah anak harus berbakti pada ibu 3 kali baru kemudian ayah? :D… hihihi… kasihaanlah suamiku. Terimakasih ya cinta…). Beruntung saya memiliki anak-anak yang usianya sudah mewakili dua kelompok umur yang berbeda, menjelang remaja dan kanak-kanak, sehingga saya bisa mengatakan bahwa permainan ini tidak hanya menarik untuk kanak-kanak tetapi juga untuk remaja, tinggal bagaimana kita membuatnya menarik.  Lalu… Bagaimana memanfaatkan permainan ini untuk menanamkan nilai-nilai positif? Ini dia caranya :

The Ladders of Salvation

Tangga yang membawa pemain melejit ke atas mewakili pencapaian yang baik, rejeki, kesenangan atau apapun yang dipersepsikan secara umum sebagai perolehan baik. Kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk memahami makna bersyukur, ikut bahagia ketika orang lain mendapatkan kebahagiaan, mengapresiasi, kerendahan hati dan sikap tetap waspada. Agar dinamikanya menarik, komentar bisa dipicu dari akting tokoh jahat. Tokoh jahat akan berteriak-teriak kegirangan meledek kesana kemari saat mendapat kesempatan naik tangga. Jadikan contoh perilaku ini untuk dibahas secara natural, misalnya dimulai teguran ringan dari ibu “Kok ngga kedengeran nih bilang alhamdulillah dapat rejeki”, lalu biarkan anak-anak mengungkapkan perasaannya dan lemparkan pertanyaan-pertanyaan seperti “Sebaiknya bersikap bagaimana ya?” atau “Bagaimana perasaanmu melihat orang seperti itu?” dan “Apa yang harus kita katakan kalau orang lain memperoleh kebaikan?”

The Snakes of Destiny

Saat salah satu pemain merosot karena bertemu dengan sang ular, perhatikan dinamika yang terjadi. Apakah pemain yang lain menghibur, memberi semangat atau justru menari-nari di atas penderitaan pemain lain :D..? Beri pujian pada yang menghibur dan menyemangati. Kesempatan ini juga dapat dimanfaatkan untuk memberi contoh bagaimana bersikap sabar namun tetap optimis saat menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan dan bahwa selalu ada harapan karena masih banyak lagi tangga menunggu di depan.

The “Bacoker”

Membacok seperti yang sudah dijelaskan di awal adalah membuat salah satu pemain kembali ke titik awal (start). Menyakitkan memang, namun bukan bersifat sengaja karena jumlah langkah yang ada di dadulah yang “mengharuskan”-nya.  Fenomena ini paling penarik karena adanya interaksi “mengambil posisi dan terlukai”. Bagaimana tata krama si pengambil posisi dari tindakan dan ucapannya. Bagaimana yang terlukai merelakan posisinya dan berjuang lagi dari awal. Bagaimana pemain yang lain berempati. Kadang-kadang situasi ini mengharukan saat si pengambil posisi mengatakan “Maaf ya dek, mas kasihan sebetulnya liat adek harus balik lagi ke awal..” dan jawaban yang terambil posisinya “It’s OK.. I hope I get a ladder very soon”… Duuh… Tapiiiii…… biar seruu…., tokoh jahat harus berakting yang fenomenal dooong.., misalnya ketika mendarat di bidang yang sama, token pemain sebelumnya ditendaang oleh sang tokoh jahat. “I’m knocking you out! hahahaha….” Tapi hati-hati jika ditegur pemain lain, sang tokoh jahat jangan lama-lama untuk kembali insyaf yaa… jangan terus “ngeyel”, ngga mau kalah dan makin vicious :D…

Kekurangan permainan ini adalah langkah semata-mata tergantung dadu, mungkin hanya sedikit orang yang mampu berstrategi dalam melempar dadu untuk mendapatkan angka yang diinginkannya. Namanya juga permainan, kalau mau yang sungguh-sungguh mewakili kehidupan yang sesungguhnya, tentu lebih realistik membahas situasi nyata. Hanya saja, agak jarang  dalam kehidupan nyata, terjadi dinamika the ladders of salvation, the snakes of destiny and the bacoker sekaligus dalam satu jam :D…

Ups.. satu hal yang perlu diingat, yaitu pemulihan nama baik sang tokoh jahat ya.. aciiiann doong kalau tertanam di pikiran anak-anak hahaha… (Daddy, your sacrifice is highly appreciated . :*)

MidLife Crisis, Lalui Dengan Elegan

Beberapa bulan belakangan ini, trend kasus yang mampir ke ruang konsultasi saya bergeser dari masalah anak-anak dan remaja menjadi masalah pemetaan diri dan pernikahan. Semoga tulisan ini dapat membantu anda, pasangan anda dan orang-orang disekitar anda untuk melalui sebuah tantangan dalam hidup.

Midlife atau Middle adulthood adalah istilah populer untuk sebuah tahapan antara usia kurang lebih 40-60 tahun. Midlife crisis tidak melulu soal jatuh cinta lagi. Berdasarkan penelitian Elliot Jaques, midlife crisis ditandai dengan keinginan untuk membuat perubahan yang signifikan terhadap satu , beberapa, atau seluruh aspek kehidupana misalnya karir, kondisi keluarga, hubungan dengan pasangan, pengalaman hidup, peran sosial dan penampilan fisik. Di Indonesia, kondisi ini sering disebut sebagai “Puber Kedua’ karena katanyaaa.. kelakuannya mirip-mirip anak remaja alias remaja koloot.. :D.. :D.. Para ahli masih memperdebatkan apakah midlife crisis berhubungan dengan perubahan hormonal/fisiologis, semata-mata persoalan psikologis, atau sebuah simfoni dari keduanya.

Apa saja sih krisis yang mungkin terjadi?

  1. Career Crisis : Muncul rasa bosan pada pekerjaannya, merasa sudah mentok (mentok yang berarti buntu ya, bukan temannya bebek), kecewa karena merasa “seharusnya” sudah sampai di level tertentu tetapi masih saja jadi kroco mumet. Biasanya ditandai dengan mulai memperlambat waktu datang, memperpanjang waktu istirahat siang atau mempersingkat waktu pulang alias ngga mau telat dua kali – udah telat datang, jangan pula telat pulang .. :p. Banyak ngedumel jika tipe talkative tapi murung jika tipe pendiam
  2. Family Role Crisis : Merasa lelah dengan suasana di rumah. Pada midlife crisis tahap awal biasanya usia  anak-anak bervariasi  antara remaja dan balita. Anak-anak mulai pandai berargumen namun masih perlu rawatan fisik, sehingga muncul kelelahan kognitif maupun fisik, perasaan gagal mendidik dan tidak dihargai. Krisis ini ditandai dengan suka mencari alasan untuk lebih banyak mempunyai kegiatan di luar rumah, tenggelam dengan hobi atau justru memperpanjang kerja di kantor (atau di cafe dekat kantor … :D). Pada midlife crisis tahap akhir (di atas 50 tahun), ditandai dengan perasaan kesepian karena anak-anak meninggalkannya untuk menikah.
  3. Romantic Relationship Crisis: Menginginkan perubahan pada hubungan dengan pasangan. Di usia 40-60 tahun, biasanya usia pernikahan sudah memasuki tahun ke 10 atau lebih. Mulai ada kejenuhan, kehilangan suasana romantis, hubungan mendingin (AC kaliiii….), kehilangan sopan-santun bertutur dan masalah hubungan seksual
  4. Social Role Crisis : Merasa gamang dengan peran social di luar pekerjaan dan keluarga karena sebagian besar waktu dihabiskan untuk keluarga dan atau pekerjaan
  5. Self Image Crisis : Ditandai dengan pertanyaan pada diri sendiri “Apakah aku ini menarik?” baik secara fisik maupun secara citra diri. Perubahan bentuk tubuh, tekstur kulit, warna rambut, pakaian dan keseluruhan penampilan menjadi perhatian. Tidak hanya yang melekat di tubuh tetapi yang digunakan sehari-hari seperti kendaraan pribadi.

Midlife crisis dapat dialami baik pria maupun wanita namun mempunyai penekanan yang berbeda. Menurut penelitian para ahli yang disarikan oleh Hoffman, Hall dan Paris dalam bukunya Developmental Psychology Today, pria lebih sering mengalami krisis no 1,3 dan 5, sedangkan wanita lebih sering mengalami krisis no 2,4, dan 5. Tentu saja ini cuma studi, yang dialami masing-masing orang pada kenyataannnya bisa berbeda. Self image crisis pada pria dan wanita juga muncul dalam bentuk yang berbeda, jika di eropa pria yang mengalami self image crisis kemudiam membeli sport car warna gonjreng, di Negara berkembang mungkin berhenti di soal pakaian dan penampilan. Ya iyalah.. mau ngebut dimana dengan sport car kalau jalannya aja imut-imut plus harga mobil dan pajaknya yang aduhai bajaaii…. Pada wanita, perilaku yang tampak adalah galau terhadap bentuk tubuhnya yang mungkin tak lagi selangsing dulu, sibuk menghitung jumlah kerutan dan noda-noda di wajah… kalau perlu pake kaca pembesar :D…

Midlife crisis wajar-wajar saja terjadi, akan menjadi tidak wajar jika kondisi itu kemudian mengganggu kebahagiaan anda, luapan emosi yang berlebihan dan perseteruan dengan orang-orang di sekitar anda utamanya pasangan dan rekan kerja. Midlife crisis tidak perlu disembunyikan dari pasangan anda, karena justru bersamanyalah anda akan dapat melaluinya dengan elegan, pun demikian, bukan berarti perlu anda umumkan di status FB :D… Jadi apa yang harus dilakukan? Berikut ini tips menghadapi midlife crisis :

  1. Kerjasama dengan pasangan : apakah anda pria maupun wanita, kerjasama dan dukungan dari suami/istri sangat diperlukan. Kerjasama seperti apa kiranya?
    • Keterbukaan komunikasi : buatlah kesepakatan dengan pasangan anda untuk dapat menceritakan apa saja kegalauan anda, bahkan ketika anda tertarik dengan orang lain. Whhaaaattttt??? Salah tulis kaleee… Tidak, ini tidak salah tulis. Kesepakatan seperti ini akan memudahkan pasangan anda “mengembalikan” perhatian anda kepadanya. Tidak mudah? Memang. Perlu kesabaran ekstra. Namun bukankah lebih mudah bagi anda jika pasangan anda memberitahu anda dengan pasti apa yang membuat dia tertarik pada orang lain? Sehingga mudah bersepakat, hal-hal apa yang perlu diperbaiki dan disesuaikan. Kesepakatan-kesepakatan kecil yang cukup membantu diantaranya adalah menyepakati waktu tertentu dimana salah satu pihak boleh uring-uringan ngga jelas, sedangkan pihak lain sekedar menjadi telinga. Tanpa menanggapi apalagi menyimpannya dalam hati. Bonus waktu boleh uring-uringan ini tentu hanya anda berdua saja yang mendengar, tidak perlu dilihat anak-anak, apalagi membangunkan tetangga :D…  Berapa lama durasinya dan seberapa sering idealnya? Silahkan pada kesepakatan anda dan ketahanan telinga anda… :D. Contoh kesepakatan lain adalah mensepakati cara menegur apabila salah satu pihak melakukan hal yang tidak disukai pihak lain. Hindari teguran yang seperti kicauan burung kukuk dari jam dinding anda, 24x sehari sepanjang hari. Silahkan tambahkan sendiri kesepakatan-kesepakatan lain. Tuliskan kesepakatan yang sudah dibuat , agar anda bisa mengingat dengan mudah, hal-hal yang sudah disepakati. Keterbukaan komunikasi tidak berarti meninggalkan sopan-santun bertutur. Pelajari pola dan teknik berbahasa yang memberdayakan. Banyak orang yang mau repot-repot belajar teknik komunikasi untuk kepentingan bisnis, politik, menghadapi massa,  tetapi lupa mengaplikasikannya di rumah. Seringkali seseorang sedemikian santun di luar rumah tetapi enggan mengusahakannya di rumah. Lalu apakah itu namanya cinta jika anda tak takut melukai hatinya?
    • Kemauan untuk berubah : Banyak orang keliru berpegang pada kata-kata bijak “menerima apa adanya”. Benarkah “apa adanya” anda di usia 20 tahun sama dengan “apa adanya” anda di usia 40 tahun. Jangan-jangan sudah berubah menjadi “apa-apa ada ” atau “tidak ada apa-apanya”.. :D…  Adalah mustahil manusia tidak berubah sama sekali sejak awal kehidupan hingga akhirnya. Manusia terus berubah waktu demi waktu, tidak hanya fisik, tetapi juga kebiasaan bahkan karakter. Daripada berubah tak tentu arah, bukankah lebih baik meniatkan diri berubah ke arah yang lebih baik? Ketimbang anda berpegang pada ungkapan “cinta itu menerima apa adanya” bukankah lebih baik diubah menjadi “cinta itu bertumbuh menjadi lebih baik bersama-sama”. Lebih baik dalam memahami, mengimbangi, melayani, komunikasi, ketaatan kepada Yang Maha Mengatur kehidupan, dan lebih baik-lebih baik lainnya. Sepakati perubahan seperti apa yang anda ingin lakukan bersama-sama seiring dengan perubahan usia, kebutuhan, pengalaman dan peran anda. Melakukan perubahan memang bukan perkara mudah, tetapi juga bukan hal yang susah. Dengan memahami kerja pikiran (mind),  dan bagaimana pikiran mempengaruhi perilaku begitu juga sebaliknya, perubahan menjadi jauuh lebih mudah. Jika perlu minta bantuan professional untuk memudahkan anda. “Tapi, kalau pasangan saya tidak mau berubah bagaimana dong… Apa perlu diganti? hehehehe hush…. 🙂 Bukankah mengubah dengan teladan paling berkesan?
    • Sentuhan :  Penelitian Allan N. Schore (2001) dan Kathleen C. Light (2004) menunjukkan bahwa pelukan dan sentuhan kasih sayang meningkatkan produksi hormon Oxytocin. Hormon ini memberikan perasaan tenang, kelekatan secara personal, menyeimbangkan tekanan darah, mempengaruhi kemampuan orgasme, menurunkan kecemasan dan memunculkan perasaan bahagia. Hormon ini sering disebut juga sebagai love hormone. Tidak seperti hubungan seksual yang memerlukan privasi, sentuhan dapat dilakukan kapan saja dimana saja… Bukankah jika suami-istri bergenggaman tangan, akan berguguran dosanya dari sela-sela jarinya? Kapan lagi bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus, menggugurkan dosa sekaligus bonus meningkatkan hormone Oxytocin?
  2. Kenali diri : Midlife crisis bukanlah hal memalukan yang perlu anda tolak atau tekan dalam-dalam dari kesadaran. Bagaikan alarm, midlife crisis merupakan pesan yang dikirim bawah sadar anda untuk membuat perubahan. Semakin ditolak, justru alarm itu semakin kuat menunjukkan eksistensinya. Berdamailah dengan diri . Sadari perubahan dan kelola perubahan itu. Buatlah rencana dan lakukan secara nyata. Sibuk bergalau ria dan berandai-andai menjadikan anda jalan di tempat. Jika anda menginginkan perubahan dalam karir, segera ubah strategi anda, perbaiki performance anda, atau wujudkan karir baru yang lebih sesuai dengan anda sekarang. Jika anda mengalami kegalauan peran dalam keluarga, segera susun langkah baru, pendelegasian tugas, memperbaiki strategi komunikasi, belajar lagi ilmu parenting, dan lain-lain.
  3. Kenali Tuhan : Pahami kembali makna kebersyukuran dan tafakuri setiap masalah yang dihadapi, bukankah itu salah satu cara Allah untuk menjadikan hambanya lebih baik?

Midlife crisis hanyalah sebuah proses,  yang untuk melaluinya terdapat dua pilihan, penuh friksi yang berakhir pada frustrasi atau elegan menjemput berbagai perbaikan…

Kekuatan Linguistik Laksana Sihir

Nabi Muhammad SAW menggambarkan kekuatan linguistik sebagai berikut
إن من البيان لسحرا
“Sesungguhnya di antara susunan kata itu terdapat kekuatan sihir.”(HR. Bukhori dan Muslim)

Al-Bayan dalam bahasa arab berarti penjelasan, tutur kata, menyatakan atau kefasihan menjelaskan. Barangkali judul diatas menjadi sedikit menyeramkan, apalagi jika berpijak pada pengertian sihir secara awam yang berbau negatif. Sihir sendiri dalam bahasa Arab berakar kata “sahar” yaitu akhir waktu malam dan awal terbitnya fajar, karena itu bercampur antara gelap dan terang. Arti lain dari sihir adalah segala sesuatu yang halus, lembut serta tersembunyi. Oleh karena sifat-sifat itulah maka sihir dapat mempengaruhi, menarik hati atau mempesona para pendengarnya.

Agama-agama tauhid diajarkan secara lisan, karena itu para Rasul diberikan kemampuan berbahasa yang luar biasa. Bahkan meski Rasulullah SAW tidak bisa membaca dan menulis (Al-Ankabuut :48), namun beliau sangat disegani oleh semua kalangan karena kekuatan bahasa beliau, tentu kekuatan tersebut tidak lahir dari jiwa yang hampa, kedalaman berpikir, kekuatan hati, kejernihan dan perasaan yang mendalam itu tertuangkankan melalui lisan beliau sehingga membuat orang terkesima, tertegun, bahkan hanyut oleh kata-kata beliau yang “menyihir”, yang hingga kini masih lestari dan terbingkai dalam hadist-hadist yang terjaga.

Kekuatan bahasa dalam Al-Qur’an juga terdesain dengan sangat sempurna oleh Yang Maha Mendesain hingga orang-orang Arab Quraisy dahulu melarang keluarga dan anak-anaknya mendekati rumah Nabi Muhammad, karena mereka khawatir terpengaruh oleh kesempurnaan ajaran al Qur’an. Uniknya tokoh-tokoh besarnya sering mengendap-endap di malam hari untuk menikmati alunan bacaan al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah SAW. Bukankah Umar bin Khattab yang dulunya seberingas Abu Jahal tersentuh oleh isi dari surat Thahaa yang dibaca oleh Fatimah bint. Khattab?

Kalimat-kalimat dalam Al-Qur’an banyak mengandung pertanyaan-pertanyaan yang menyebabkan pembaca atau pendengarnya melakukan Trans-derivational Search. Mari mengkaji Surah Ar Rahman ayat 17-23 ini :

    • Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya
    • Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
    • Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,
    • antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
    • Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
    • Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
    • Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Silahkan dicermati, pola bahasa ini apa padanannya dalam Milton Model..

Kembali pada pembahasan mengenai nikmat Tuhan, bukankah Yang Maha Memberi Nikmat juga telah meberikan alat yang sedemikian canggih untuk dapat mensyukuri nikmatnya

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar (kamu )bersyukur.” (An Nahl: 78)
Katakanlah (wahai Muhammad): “Allah yang menciptakan kamu (dari tiada kepada ada), dan mengadakan bagi kamu pendengaran dan penglihatan serta hati (untuk kamu bersyukur, tetapi) amatlah sedikit kamu bersyukur”. (Al Mulk :23)
Maka demikianlah Allah menciptakan indera untuk Maksimalkan penggunaannya demi satu tujuan, yaitu bersyukur.

Lebih jauh lagi, silahkan resapi bagaimana The Greatest Motivator of all memotivasi hambanya dengan memaksimalkan unsur Visual, Auditif dan Kinestetik :

Bandingan orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan (ingatlah) Allah akan melipat gandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya. ( Al Baqarah :261)
Secara visual anda mengenal cabang dan buah, dengan mudah anda bisa Bayangkan, bagaimana pohon bertumbuh dan berbuah. Secara kinestetik anda bisa Rasaka efek semakin banyak dari cabang-cabang yang tumbuh dan biji-biji yang bermunculan sebagai hasil dari membelanjakan harta di jalan Allah.

Bagaimana dengan yang ini?
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Surah at-Tahrim,: 6)

Apa yang anda lihat, dengar dan rasakan dari ayat ini?

Jika dulu Richard Bandler memodel Virginia Satir, Milton Erickson and Fritz Perls untuk membangun struktur linguistik yang memberi efek terapiutik. Bukankah kini dengan “tool’ yang sama, ada sedemikian luas kesempatan untuk memodel pola linguistik Qur’ani ini untuk memberi efek pencerahan dan pemberdayaan umat menuju ketaat’an pada perintah sebenar-benarnya Pemilik Manusia? Bahkan Allah sudah menyediakan contoh, sosok nyata yang akhlaknya adalah Al-Qur’an.
Tentu anda bisa mulai Bayangkan, sebuah generasi yang sungguh-sungguh menjadi rahmat bagi semesta alam, jika pola linguistik yang didasari dengan akhlak ini bisa dimodel oleh para orang tua, pendidik, pemimpin bahkan setiap orang yang berkontribusi dalam pembentukan sikap mental dan perilaku bangsa.

note :
Saya bukanlah pakar kajian Al-Qur’an, saya hanyalah seorang pembelajar yang ingin terus mempelajari cara terbaik untuk membangun generasi yang semakin baik.
Terimakasih saya kepada Ustad Muntaha, seorang kandidat doktor yang ilmu fiqih-nya luar biasa. Sebagian kalimat pada alinea 2 dan 3 adalah penggalan email beliau kepada saya
.

My Husband’s Poem on Our 13th Anniversary

Thirteen years are passing by like days,
The first time in commissary never goes away
Beautiful face stood out the crowd My heart vibrated,
Is she the girl that I will vow

I don’t know what it is that you saw in me
I saw in you the utmost happiness that can ever be,
Even more so on the day when you and I became “We”
Hearts were united on twenty five March two thousand
There’d never been a doubt even for one second

A rose for every year,
Many smiles for every tear
Way more of the first than ever of the later
What’s deep in our hearts is all that really matters
We’ve learned a lot, yet still a lot to learn
For that smile in your eyes my heart still yearns

Keep giving me a chance to show you my love
We’ve always found a way to enhance above

Two little angels came into our live
Twelve years as parent we have arrived
You are an amazing wife and an outstanding mother
There is no place in the world that man can have another
We know what we have and we have made it this far
We often say to each other just how lucky we are
To have what we have when we look in our eyes
We both know that Allah has given us the precious prize

Happy Anniversary my beloved wife Okina Fitriani

#Thank you for the beautiful poem, Habibi…

Pendidik Anak di Rumah : Super Mom or Supir Mom?


Seringkali saya ditanya baik dalam kelas maupun di luar kelas oleh para ibu yang ingin meninggalkan pekerjaan formalnya dan beralih profesi menjadi pendidik anak di rumah. Berikut ini saya rangkaikan tips persiapan untuk alih profesi. Supaya keren, saya akan berikan Job Title khusus untuk profesi Pendidik Anak di Rumah yaitu Posterity Educationalist alias “PE” (ehem… ehem…. 🙂).

1. Niat
Jika dari awal tujuan anda berhenti adalah untuk mendidik anak di rumah, maka susun baik-baik niat anda ini. Sungguh-sungguh periksa hati anda dengan jujur. Jangan mengatakan anda berganti profesi demi berdedikasi menjalani peran sebagai madrasah pertama bagi anak seperti yang dianjurkan agama, tetapi sesungguhnya ada sudah tidak tahan lagi dengan lengkingan suara atasan anda di kantor, lelah menghadapi macet, tidak laku lagi bekerja atau alasan-alasan lain yang dibungkus dengan kalimat pembenaran. Niat anda hanya anda dan Tuhan yang tahu. Meski tiada seorangpun dapat menghujat dan menghakimi, namun janganlah membohongi Yang Maha Tahu, karena kelak kesungguhan dan pahala anda bermula serta dihitung dari sini.
Pssst… lalu bagaimana kalau saya belum yakin dengan kelurusan niat saya karena masih berupa campuran dari berbagai alasan? Bantu diri anda dengan melakukan assesment berikut ini..
  • Mengapa saya ingin menjadi PE?
  • Kemampuan apa yang sudah saya miliki untuk menjalani profesi ini? Jika masih kurang, di/darimana/ siapa saya harus belajar?
  • Apa yang akan saya dapatkan jika saya menjalani profesi ini? Apa yang tidak akan saya dapatkan jika saya menjalani profesi ini?
  • Apa yang akan saya dapatkan jika saya TIDAK menjalani profesi ini? Apa yang TIDAK akan saya dapatkan jika saya TIDAK menjalani profesi ini?
  • Mengapa jawaban item ke 2 dan ke 3 di atas penting untuk saya dapatkan?
  • Apa pengaruh pilihan saya ini pada kehidupan keluarga inti saya, keluarga besar saya, pertemanan saya dan pandangan saya terhadap diri saya sendiri?
  • Identitas apa yang saya inginkan untuk diri saya dan UNTUK APA dan UNTUK SIAPA saya persembahkan hidup saya.

InsyaaAllah keputusan anda menjadi lebih mantap dan positif dengan langkah-langkah di atas.

Tetapi bagaimana jika assesment itu masih juga menghasilkan pertempuran dalam diri anda, maka anda punya 3 pilihan sikap

  • Tunda : daripada anda membuat stress anak-anak dan pasangan anda dengan keluhan yang tiada habisnya, wajah manyun atau justru berhentinya anda tidak memberi manfaat untuk anak dan pasangan karena anda akan menggantinya dengan sederet arisan-arisan, shopping sana-sini, atau menghabiskan waktu berjam-jam untuk hobi anda yang lain
  • Jalani dengan jujur dengan waktu tertentu : Akui  sejujurnya alasan anda yang sebenarnya dan sebutkan target berapa lama anda akan berhenti. Lalu rencanakan apa yang anda akan lakukan dalam waktu jeda itu agar tidak sia-sia. Insyaa Allah niatnya tetap mulia yaitu tidak membuang waktu dengan sia-sia.
  • Luruskan PAKSA.. (duh sadis amat main paksa…)  Jika hal positif tidak mampu memotivasi anda maka takut-takuti diri anda sendiri dengan membayangkan kemungkinan TERBURUK jika anda tidak melakukannya. Waduh.. emangnya bagus memotivasi diri dengan cara menakut-nakuti? SECARA PRIBADI, SAYA TIDAK SUKA cara ini,  karena seperti do’a mengharapkan keburukan. Namun memang anda orang-orang yang hanya bisa lari jika cambuk mengancam punggungnya.

Lalu bagaimana jika awalnya terpaksa atau kebetulan? Misalnya anda di PHK dan tidak bisa mencari pekerjaan lain, atau harus mengikuti suami ke tempat lain yang tidak memungkinkan anda bekerja lagi. Ya mudah saja, tinggal perbarui niat anda seperti step-step diatas.

Pastikan niat ini menjadi NIAT BERSAMA, antara anda dan suami dan mintalah dukungan dari orang tua anda. Beri mereka pengertian sebagai pihak yang telah membiayai pendidikan anda dan sampaikan terimakasih anda bahwa dengan bekal pendidikan yang mereka biayailah anda akan mendidik cucu-cucu tercinta mereka… (jangan lupa buat tekanan yang kuat saat mengatakan urusan cucu ini, karena biasanya hati para kakek-nenek akan meleleh dengan kunci ajaib ini.. :D). Bisa jadi ortu keberatan karena pekerjaan anda ibarat trophy dari “keberhasilannya mendidik anak”, itu lho anakku Menejeeer. Tidak apa-apa, pahami perasaan beliau namun tetap berikan pengertian atas keputusan anda. Obat mujarab dari kekecewaan beliau adalah melihat anda bahagia menjalani peran, melihat improvement perilaku anak-anak anda karena program pendidikan adabnya lebih terstruktur dan anda lebih punya waktu melayani beliau dengan penuh perhatian. Tapiiii.. jika anda sudahlah berhenti kerja, di rumah ngamuk-ngamuk ya keterlaluan.

2. Buat rencana 2 tahun pertama.

Buatlah rencana anda seperti anda membuat Performance Appraisal Form saat anda bekerja. Bermula dari tujuan, apa ukurannya, metodenya, perlu belajar apa, siapa yang akan menilai.. Ajak suami anda menyusun program ini bersama-sama dan sepakati bagaimana metode reward dan apresiasinya. Pujian suami adalah reward penting dalam tiap langkah pencapaian. Memberi hadiah juga tidak salah, namun… wajah bahagia anak-anak yang tumbuh dalam pelukan dan bimbingan kasih sayang anda ditambah derasnya tabungan pahala yang langsung datang dari Yang Maha Memberi,…  tiada tanding, tiada banding nilainya dari sekedar pujian ataupun hadiah.

Mengapa 2 tahun? Biasanya 2 tahun juga angka yang dipakai sebagai ukuran bagi beberapa instansi jika anda mengajukan cuti tanpa gaji (leave without pay). Maka periode ini bisa saja anda lakukan tanpa sungguh-sungguh berhenti bekerja tetapi mengambil periode cuti tanpa gaji. Kalau anda tidak suka 2 tahun, anda bebas menggantinya menjadi angka 1, 3, 4 juga boleeeh…

Rencana ini tentunya membutuhkan peran anda langsung dalam pencapaiannya sehingga ada layak memegang Job Title “PE”. Misalnya dengan meletakkan program preschool home schooling di dalam “to do list” anda. Jika anda sudah memutuskan menjadi PE tapi masih juga mengirim batita anda ke sekolah atau sekedar membuat daftar panjang les, kursus yang akan diikuti anak anda,  dan rencana anda hanyalah menjadi pengantar anak kesana-kemari, maka Job Title anda harus berubah menjadi Supir Mom alias “SM” . Bukan berarti tidak boleh ya… Anda boleh saja memutuskan untuk menjadi SM terutama jika alasan anda berhenti bekerja hanyalah mengisi waktu jeda agar tidak sia-sia atau untuk mengurangi pengeluaran keluarga membayar gaji supir atau biaya transportasi. Tentunya anda tidak boleh mengaku PE jika pekerjaan anda SM. Prinsipnya, jujurlah menilai diri, toh anda tidak perlu mengumumkan jabatan baru ini.

3. Bersungguh-sungguhlah dalam menjalankan tugas ini lebih dari bersungguh-sungguhnya anda dengan karir anda sebelumnya
Jika anda sedemikian keras bekerja demi sebuah tugas yang diberikan oleh penguasa perusahaan apapun jabatan atasan anda,…. lalu harus sekeras apa usaha untuk menyempurnakan tugas yang langsung diberikan oleh Penguasa alam semesta? Jika sedemikian hebatnya keinginan anda untuk mendapat pujian dan reward dari penguasa perusahaan tempat anda bekerja,… lalu harus sehebat apakah keinginan anda untuk mendapat reward dari Penguasa langit dan bumi serta pujian dari suami yang ridho-nya menjadi jalan menuju surga?
Delegasikan hal-hal yang tidak terlalu penting dan secara keuangan mampu anda delegasikan. Kalau anda sanggup punya asisten rumah tangga, percayakan lantai anda untuk mereka belai untuk memberi kesempatan anda membelai orang-orang tercinta. Jika tidak memungkinkan memiliki asisten tetap, cari jalan untuk outsourcing.  Misalnya setrika… Jika di sekitar anda ada usaha laundry murmer, lempar saja tumpukan setrikaan anda ke sana. Bagi-bagi tugas sederhana adengan suami dan anak-anak. Bukankah time management dan empowering adalah salah satu kunci sukses apapun profesi anda?
4.  Bernegosiasi dengan diri sendiri mengenai “pendapatan yang hilang”
Tentu wajar jika anda yang terbiasa mempunyai penghasilan sendiri merasa tidak nyaman saat tiba-tiba harus kehilangan penghasilan. Rasanya semacam tiba-tiba “miskin” secara pribadi. Kadang kesediaan suami untuk mencukupi apa yang dulu anda cukupi dari penghasilan anda tidak banyak membantu menyelesaikan emosi ini. Perasaan “diberi” atau “meminta” mungkin mengganggu ego anda. Utamanya, selesaikan dulu konflik batin anda, bandingkan makna penghasilan dan makna awal dari niat anda yang sudah kita bahas di atas.
5. Diskusikan tentang “pendapatan keluarga yang hilang”
Jika selama ini gaji anda juga digunakan untuk mendukung pendapatan keluarga.  Diskusikan pendapatan yang hilang ini dengan seluruh keluarga. Hal-hal apa yang perlu dikurangi, dihilangkan, diganti atau suami perlu usaha lebih untuk menggantikan pendapatan yang hilang itu.
Sebaiknya tunda dulu keinginan untuk mendapatkan penghasilan saat sudah berhenti bekerja di tahun pertama. . Namun, jika dalam perjalanannya, anda dapat menjalani program ini dengan mulus sekaligus ada peluang untuk mendapatkan penghasilan dari rumah….. tentu tidak ada salahnya, apalagi jika kegiatan itu sekaligus mendukung peran anda. Syukuri kesempatan langka itu.
6. Sepakati hari cuti setidaknya 1 hari dalam sebulan untuk “me time”
Sebagaimana pekerjaan yang lain, tentu anda perlu waktu “istirahat”… Maka sepakati setidaknya 1 hari dalam 1 bulan anda untuk melakukan kegiatan yang anda sukai. Meskipun kadang tidak bisa berlangsung selama 24 jam terus menerus, setidaknya 8 jam cuti cukuplah. Demikian pula sebaliknya, pasangan anda juga berhak cuti untuk tidak membantu anda dalam urusan rumah tangga jika anda sama sekali tidak punya asisten yang membantu anda sehari-hari.
7. Komunikasi yang baik dengan suami adalah contoh terbaik bagi anak. Anak adalah peniru ulung
Jagalah sopan santun anda dalam berkomunikasi dengan suami. Jangan menjadikan suami sasaran ketegangan anda, sebaliknya suami belajar memahami ketegangan istri, terutama di bulan-bulan pertama perubahan profesi anda. Belajar teknik komunikasi acknowledging and reorienting, positive feedback, bahasa kasih sayang, bahasa hipnotik, dan banyak lagi teknik lainnya yang jika saya bahas akan setara dengan 1 hari Enlighten & Empower Communication workshop.
Seringkali kita sangat bersopan santun dengan orang lain, tetapi justru enggan melakukannya untuk orang-orang yang anda cintai. Lalu apakah itu namanya cinta kalau anda tidak takut lagi menyakiti hatinya?
8.  Pelihara  ilmu anda
Bantu teman atau buatlah sebuah karya pribadi yang berhubungan dengan profesi anda sebelumnya setidaknya 1x dalam 2bulan, meski tidak mendatangkan penghasilan. Suatu saat nanti entah karena alasan apa, mungkin anda perlu kembali bekerja.  Bisa juga anda menambah ilmu lain, namun tidak menyita waktu anda untuk memenuhi program kerja 2 tahun anda. Kegiatan menambah ilmu 2x seminggu masing-masing 2 jam bisa dijadikan pilihan.

9. Bersyukur dan bertafakur

Syukuri setiap pencapaian yang anda lakukan sesuai dengan rencana anda. Jangan mengakuisisi pencapaian yang merupakan hasil kontribusi pihak lain misalnya sekolah, supaya anda tetap menjadi ibu yang jujur, bisa mengapresiasi pihak lain dan mau belajar lagi.
Renungi kejadian-kejadian yang menjauhi pencapaian dengan pertanyaan, “Manfaat apa yang kuperoleh dari kejadian ini untuk memperbaiki diri?” Jadikan sebagai umpan balik.
Waspadai adanya kemunduran, misalnya anak tiba-tiba ngompol lagi, menjadi tegang, emosional, lebih suka berlama-lama di sekolah. lebih suka keluar rumah dll… Kemungkinan keberadaan anda menimbulkan rasa tidak nyaman. Teruslah membuat perbaikan.
10.   BERDO’A mohon pertolongan Yang Maha Kuat
Manusia pada dasarnya lemah dan dho’if.  Maka berpeganglah pada kekuatan Yang Maha Kuat di setiap do’a, di setiap langkah.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya teringat pada satu  pertanyaan krusial. Kapan waktu yang tepat bagi anda untuk berhenti bekerja? Saat terbaik adalah saat anak anda lahir dan tetap di rumah sampai usia sekolah dasar. Setelah anak-anak menjalani sebagian harinya di sekolah, silahkan anda juga menjalankan hari anda untuk bekerja. Namun ingat… ENERGI anda harus tetap BARU ketika sampai di rumah seperti yang anda harapkan juga dari suami anda, serta   masih memiliki waktu sekurang-kurangnya 3 jam untuk berinteraksi dengan anak dalam keadaan sama-sama segar (bukan sama-sama tidur) untuk menemaninya meninjau ulang hari-hari yang dilaluinya di sekolah.
Siap punya profesi keren? Posterity Educationalist…..

Pembela Pembenaran atau Pejuang Perbaikan, itu Pilihan..

imagesHari ini  dalam sebuah kelas, seorang peserta bertanya pada saya tentang bagaimana membingkai musibah dalam sebuah makna, yang memberdayakan tentunya… Dan sayapun teringat pada sebuah peristiwa.

Peristiwa ini terjadi 9 tahun lalu, saat pembarep saya mengalami phobia, setelah kami menerapkan anjuran seorang kenalan psikolog yang saat itu saya anggap lebih ahli dalam bidang psikologi perkembangan, yang mungkin sekaligus juga penganut teori-teori Nanny 911..                         .

Rasanya saya tidak perlu menjelaskan seperti apa tepatnya anjurannya itu, yang jelas phobia sudah terbentuk.  Phobia? … Anak seorang psikolog mengalami phobia? Hmmm…. bisa jadi wajar saja, toh anak dokter juga bisa kena demam berdarah, anak insinyur tak pandai matematika, ahli komunikasi yang bertengkar melulu dengan anaknya karena mis-komunikasi. Tetapi peristiwa ini menjadi menyedihkan saat psikolog ini bahkan tak tahu cara menolong anaknya untuk sembuh dari phobia, bukankah ini terdengar mirip  dengan dokter yang tidak tahu cara menanggulangi deman berdarah atau insinyur yang tidak bisa menjelaskan matematika tingkat SD dan ahli komunikasi yang tak tahu dimana letak simpul masalah komunikasi dalam keluarga? Menyedihkan memang. Meskipun menyedihkan, faktanya memang ada.

Saat itu karir saya sedang bersinar terang dan sejak masih saya lebih tertarik bidang Industri dan Organisasi. Hati saya tergelitik untuk melindungi ego saya dalam Blaming and Justifying Game alias mencari Black Embek dan membuat pembenaran-pembenaran. Tinggal tunjuk hidung si psikolog aliran Nanny 911 dan mengatakan “Kami korban psikolog ngawur” untuk versi Blaming. Sedangkan untuk versi Justifying saya tinggal membuat pengumuman di jejaring sosial ”Heiii…. saya ini ahli Psikologi Industri !. Lihat dong prestasiku yang cemerlang… Wajarlah kalau saya tidak berminat soal psikologi perkembangan anak, semua itu kan ada spesialisasinya… dokter jantung juga belum tentu ngerti soal ginjal.. Lalu saya menceburkan diri dalam komunitas anomali alias spesial case. Gampang kan… Gampang memang, namun apakah akan menyelesaikan persoalan?

MAKNAI DAN TENTUKAN TUJUAN

Tujuan memberi arah dan makna terbaik semestinya menggerakkan. Maka berhentilah sejenak, mungkin melalui sujud, mungkin dengan berlutut, mungkin dengan jari-jari tertangkup. Iqra’ (Bacalah).. apa pesan yang ingin disampaikanNya dalam sebuah peristiwa? Tafakuri makna apa yang terkandung di dalamnya Bukankah Tuhan tak pernah dzalim, bukankah Tuhan hanya menginginkan kebaikan dari hambaNya? Tanyai diri sendiri, kuliti dan hakimi sebelum kelak menghadap Hakim yang sesungguhnya. Bukankah peristawa dariNya selalu memiliki intensi positif untuk menunjukkan jalan menuju surga?

Jika saya memilih sujud karena saya meyakini dalam sujud terlepaslah kesombongan menuhankan nafsu dan berkuncilah keinginan menudingkan jari. Bagaimana hendak  sombong jika kepala tertunduk serapat bumi, bagaimana hendak menuding jika  tangan bekerja menopang diri. Pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan pada diri untuk menemukan pesan.  Bukankah selama ini saya selalu diberi predikat fast learner? Mungkinkah ini cara Tuhan mengingatkan saya untuk belajar lagi? Apakah saya lebih mementingkan image orang lain daripada tugas saya untuk menyempurnakan ikhtiar sebagai ibu yang diberi tugas bersamaan dengan cinta yang dititipkanNya? Bukankah istigfar dan maaf saja tidak cukup tanpa adanya perbaikan? Maka malam itu saya saya tentukan tujuan baru, bukan sekedar menyembuhkanb phobia anak saya tapi sekaligus belajar bidang ilmu yang sesungguhnya sudah saya ketahui dasarnya yang akan menopang tugas baru saya sebagai ibu. Ilmu menjadi orang tua.

Masih jelas dalam ingatan saya, mulai malam itu dan hari-hari seterusnya saya terus membaca dan belajar lebih dalam tentang pengasuhan anak. Saya memburu buku, membeli CD Dr. Harvey Karp, mengejar kelas Dan Siegel, Melahap buku pengasuhan islam Abdullah N. Ulwan, belajar tentang pikiran manusia, komunikasi di level subconscious, buku-buku terapi, neuro linguistic programming, buku-buku Virginia Satir, mengikuti berbagai seminar, mendapatkan berbagai sertifikasi, membantu klien-klien saya, mengajarkan di kelas-kelas, menerapkan, membaiki dan terus belajar hingga hari ini.

Lalu phobianya? Ups hampirr lupa.  Singkatnya saya diberi kemudahan untuk menyelesaikannya dengan membuat remote control imaginative yang mampu mengubah gambar dan suara dalam imaginasinya. Sebuah teknik hasil rekaan berdasarkan buku-buku yang saya baca, sebelum akhirnya saya mempelajarinya secara formal di kelas beberapa tahun kemudian. Bukan terapi phobia-nya yang ingin saya tekankan, namun  perjalanan mencari makna dan menentukan tujuan.

Alih-alih menyalahkan, syukuri setiap peristiwa. Sibuk mengeluh, mengumpat dan mencari-cari bukti-bukti pembenaran atas “kekurangan” ibarat jalan ditempat di atas lumpur penghisap.  Sudahlah tak sanggup menolong menyelesaikan masalah, terhisap hingga tenggelam tanpa perbaikan.  Rugi kuadrat ! Maka salahpun jangan sampai sia-sia.

Proses perbaikan memang bisa kita lakukan sendiri, tetapi….terbayang bukan…. nikmatnya jika anda dan pasangan anda sama-sama mempunyai kemauan yang untuk terus merenovasi diri dengan proses tafakur bersama? Seperti beberapa email dari pasangan yang mengikuti kelas parenting saya menceritakan betapa indahnya proses menemukan area-area yang perlu diperbaiki bersama, menyusun langkahnya dan menikmati hasilnya. Hubungan yang penuh warna dan anak-anak yang bertumbuh menjadi lebih baik bersama-sama. Subhanallah… seringkali saya ikut terhanyut membacanya.

Karena hidup adalah pilihan dan “Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Qs. Ar-Ra‘d [13]: 19).

Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Anak

Saya yakin bahwa banyak diantara pembaca tulisan ini adalah orang tua yang mampu berlisan dalam berbagai bahasa demikian pula dengan putra-putrinya, namun tidak sedikit juga yang masih mengeluh tidak bisa menemukan kata-kata yag tepat, sulit dimengerti dan berbagai hambatan lainnya saat harus berkomunikasi dengan anak.

Memang belum pernah ada Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Anak dimana anda bisa belajar menemukan kata-kata yang tepat, metafora yang pas ataupun susunan berbahasa yang ciamik saat berkomunikasi dengan anak. Apaagi jika anda hanya berkomunikasi dengan mereka saat kesal, marah, ngomel beserta kerabat-kerabatnya.

Beberapa contoh keluhan yang sering saya dengar dari orang tua adalah :

Kenapa ya bu, anak saya itu kalau sholat maunya cepet-cepet aja, padahal kan sudah berkali-kali saya jelaskan, sholat itu berkomunikasi dengan Allah…

Mbak, saya sering menceritakan pada anak saya hadist-hadist, bagus kan itu.. tapi kok kayaknya ngga ada yang nyantol…

Capek deh bu ngomong sama anak saya, biarpun udah berkali-kali dijelaskan, ngga ngerti-ngerti juga…

Anak saya itu lho bunda, pelit sekali sama temannya, padahal di rumah kami sering diskusi soal pentingnya berbagi…

Biasanya jawaban saya kemudian begini :

Coba beritahu saya bagaimana anda menjelaskan /mengatakan /menceritakan ataupun mendiskusikannya kata demi kata. Tidak sedikit para orang tua yang mengernyitkan kening dengan jawaban saya. Sebagian besar menjawab, “wah ya macam-macam caranya, dari ngomong baik-baik sampai saya omelin” dan menjadi agak kesal atau mengaku lupa ketika saya meminta untuk mengulanginya kata demi kata. 🙂

Jika anda menggunakan pilihan kata yang sama meskipun dengan berbagai varian intonasi dari yang paling rendah hingga paling nyaring, bukankah itu artinya anda terus mengulangi “minum obat diare” untuk “mengobati bisul” hanya saja anda memilih air putih, teh dan sirup sebagai penghantarnya… 🙂

Anak bukanlah manusia dewasa dalam ukuran mini. Pemilihan kata-kata terutama yang sifatnya abstrak belum tentu mampu dia pahami sesuai dengan pemahaman anda. Dalam tulisan ini saya akan memberikan contoh beberapa naskah terjemahan dari bahasa orang dewasa menjadi bahasa anak, dan saya akan sangat senang jika anda mau berbagi dengan semua pembaca tulisan ini dengan menambahkan contoh-contoh lain di kolom komen.

Event 1:

Raka (saat 10th) sangat terganggu dengan kebiasaan saling meledek di sekolahnya.  Suatu ketika dia bertanya kepada saya : “Mama, aku sering LIHAT teman-teman saling ngatain, bahkan mereka juga suka ngatain aku “Fat”, “Slow”… Aku SEBEL dan SAKIT HATI, kadang aku katain balik tapi jadinya ngga selesai-selesai”

Karena saya seorang muslim tentu saya ingin menanamkan nilai-nilai sesuai ajaran yang saya anut. Salah satunya adalah “orang yang dihina sebenarnya memungut pahala gratis tanpa perlu bersusah payah, karena kebaikan orang yang menghina akan berpindah kepada yang dihina/didzalimi”.  Tentu jika saya mengutip begitu saja kalimat tersebut akan sulit diterima anak berusia 10 tahun. Maka saya mengemasnya dalam bentuk VISUAL dan KINESTETIK sesuai dengan kecenderungan pilihan katanya saat menceritakan kejadian itu (perhatikan kata “LIHAT”, “SEBEL”, “SAKIT HATI” yang saya tulis dengan huruf besar di paragraf sebelumnya) …

M : Nak, sudah pernah tahu belum kalau sebetulnya orang yang diledek itu untung besar lho sayang…

R : Ahhh… untung gimana.. ya ngga untung dong kan diledek…. (manyun)

M : Rasulullah SAW pernah mengajarkan kalau orang yang meledek itu kebaikannya akan pindah kepada yang diledek. Bayangkan saja Raka jadi celengan yang ada lubangnya untuk memasukkan uang itu lho? Udah kebayang seperti apa bentuknya?

R : Udah.. (sambil menerawang)

M : Nah… jadi kalau ada teman yang meledek, kebayang kaaan kebaikan dia pindah dan masuk ke lubang celengan yang ada di badan Raka.. cring cring.. plung-plung… nah tambah penuh kan dada Raka dengan kabaikan.. makin penuh tu nak…

R : (tarik nafas dan dadanya lebih membusung ke depan, senyum-senyum …)

M: Jadi menurut Raka gimana kalau ada yang ngeledek Raka…

R: Biarin aja deeeh…. biar dia aja rugi sendiri (cium pipi mama, baca do’a sebelum tidur, peluk guling), Mah… tolong lampu yang itu saja yang dihidupkan, aku mau bobok..

Saya cium kepalanya sambil membisikkan do’a rahasia kami berdua dan tersenyum keluar kamar. Selesai….

Sejak hari itu saya tidak pernah lagi mendengar keluhan mengenai ledek meledek itu….

Masih ada banyak event lain yang bisa saya bagikan.. seperti juga saya ingin mendengar kisah anda….