Parenting Quotes

parenting quotes

Beberapa kali saya dianjurkan untuk mengkoleksi status-status  saya di facebook mengenai parenting. Meskipun belum semuanya, berikut ini beberapa koleksi yang sempat saya jejaki..

—————

Jika anda menyuruh anak tidak berteriak-teriak dengan suara menjerit, anda sedang mengajarkan apa?

Jika anda meminta anak bersabar dengan nada gertakan “sabar dong ahhh”, anda sedang mencontohkan apa?

Jika anda menasehati anak untuk pantang mengeluh sambil berkata “sampai capek mama/papa menasehati kamu”, anda sedang mengajarkan apa?

Jika anda menginginkan anak untuk patuh sedang saran dari pasangan anda bantah melulu, anda sedang membentuk anak jadi seperti apa?

Banyak orang tua ingin anaknya sempurna, sementara dirinya lupa berkaca…

—————

Orang tua kadang mengira bahwa anak-anaknya numpang hidup pada mereka..,

“Ayah sudah pontang-panting cari uang untuk menyekolahkanmu..”

“Kamu sudah diberi fasilitas yang bagus, kok belajarnya cuma begitu-begitu saja..”

Yakinkah kita bahwa rizki yang dititipkan pada kita memang ditujukan pada diri kita dan hasil kerja keras kita? Jangan-jangan rizki itu dititipkanNya karena anak-anak itu lahir di rumah kita.

Jangan-jangan kitalah yang “numpang hidup” dari rizki anak-anak kita…

—————

Dalam kelas parenting saya sering ditanya cara cespleng, manjur dan instant agar anak disiplin, patuh, rajin belajar, rajin ibadah dll..

Kadang kita mengira manusia seperti gadget yang ada tombol on – off untuk dinyalakan dan dihentikan.

Apakah jika anda sudah mengajarkan dengan benar, berkomunikasi dengan konsisten ala hypnotic language pattern yang super keren dan menjadi contoh yang dapat dimodel pasti hasilnya seperti yang anda inginkan? Tidak juga.

Waduuuh…

Seringkali kita lupa bahwa jiwa-jiwa mereka ada dalam genggamanNya.Wah kalau begitu saya cukup berdo’a saja ya.

Belum tentu juga..

Waduuuh…

Karena kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diamanahkan pada kita dan apa yang kita pimpin.

Susah ya? Masa siih…

Bukankah tugas kita adalah ikhlas menyempurnakan ikhtiar dan memohon ridho dan pertolonganNya?

Lalu perlu tidak belajar parenting? Itu pertanyaannya sama dengan, perlu tidak belajar untuk sukses? Perlu tidak ke dokter saat sakit? Perlu tidak bekerja untuk mendapatkan rizki?

(semoga saya tidak dimarahi para trainer yang menjanjikan teknik cespleng, dan tidak juga dimarahi golongan yang sebaliknya… punteen)

—————

Ilmu leadership dan ilmu parenting itu prinsipnya sama, bedanya hanya usia orang yang anda hadapi dan tingkat kekerenan istilah-istilahnya.

Mana yang lebih challenging? Parenting.

Mengapa?

Karena yang satu anak sendiri yang satu lagi anak orang lain, yang efek kerusakan atas kesalahan anda memimpin tidak anda hadapi seumur hidup

—————

Allah tidak pernah menciptakan produk gagal. Jika suatu fungsi dikurangkan, maka akan dilebihkan fungsi yang lain. Tinggal apakah manusia mau berusaha memaksimalkan fungsi-fungsinya.

Beberapa waktu belakangan ini saya mendapat laporan teman-teman yang berhasil terlepas dari berbagai phobia, kebencian, ketergantungan dan pola hidup yang tidak bermanfaat dengan mengoptimalkan fungsi pikiran dan tubuh.

MasyaAllah… Alhamdulillah.

—————

Manusia lahir itu naturally sudah kreatif dan bersemangat juang, perhatikan bagaimana bayi dan batita lahir, belajar berjalan, mengeksplore diri dan mainannya, serta ngotot untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Kecuali ada kelemahan fisik bawaan misalnya pada jantung dan fungsi muscular. Ketika semakin besar kreatifitas dan semangat juang itu memudar, itu karena orang-orang yang mengasuh dan mendidiknya “membunuh” kreatifitas dan semangatnya. Maka bukan kursus untuk melatih kreatifitas yang diperlukan anak tapi kursus para ortu dan pendidik untuk berhenti menjadi “pembunuh”

—————

Dulu dan sekarang, dikombinasikan secara matang….

Anak-anak jaman dahulu kebanyakan diajarkan untuk mendahulukan orang tua (biasanya ayah) terutama saat makan atau mengambil lauk.

Kebiasaan ini kemudian dituding menjadi penyebab anak-anak menjadi rendah diri, tidak berani berpendapat dll

Orang tua jaman sekarang dengan alasan bahwa anak memerlukan gizi lebih baik maka membiarkan anak mengambil lauk apa saja di meja dan orang tuanya berperan menjadi truk sampahnya.

Kebiasaan ini kemudian juga disinyalir membuat anak-anak menjadi nranyak dan sulit mendengar nasehat.

Nah lo… Trus bagaimana…?

Coba kalau dikombinasikan begini :

Anak-anak diajarkan untuk mendahulukan yang tua, “Silahkan ayah – ibu duluan”, kemudian yang tua menyayangi yang muda “Terimakasih sudah menawari ayah-ibu terlebih dahulu, kalau kakak suka yang mana?” Saat anak mengatakan suka yang “ini”, maka ayah-ibunya atas nama cinta memilih yang “itu”. “Ayah/Ibu ambil yang itu ya, kakak yang ini”

Cantik kaaan…..

Barangsiapa tidak menyayangi yang kecil dan tidak mengenali hak yang tua maka ia bukan termasuk golongan kami…

—————

Saya sering ditanya soal mengajarkan membaca atau berhitung pada balita.

Apa betul berbahaya? Apa betul menyebabkan kelelahan otak?

Hmm..

Kalau begitu jangan lagi mengajarkan lagu balonku ada lima atau satu-satu aku sayang ibu, itu kan mengajarkan berhitung..

Jika anak bertanya tanda “STOP” di jalan itu bacaannya apa, jawab saja begini “Hush.. Jangan tanya itu dulu, otakmu belum siap nak”

Anak belajar membaca atau berhitung boleh-boleh saja asal caranya FUN, menyenangkan.

Ini bukan soal Apa yang diajarkan tetapi Bagaimana mengajarkannya..

Tidak perlu HARUS bisa, tidak perlu pula ANTIPATI

Sebaik-baik urusan adalah yang dipertengahannya…

—————

Mengeluh itu Menular…

Ayah mengeluh : “Duh pekerjaan numpuk di kantor”, “Ayah ini sudah capek kerja buat kalian”, “Dasar pemimpin nggak becus”

Ibu mengeluh :”Duh setrikaan numpuk”, “Ibu ini capek, sudah kerja masih juga ngurusin PR kalian”, “Ihhh… si itu tu memang biasa tuu kayak gitu”

Maka jangan heran jika anak juga begini :

“Duh, PR kok banyak amat, susah”, “Males ah bu, capek nih”, “Gurunya ngga menyenangkan, temanku nyebelin”

Dan percakapan di rumah itu kira-kira akan menjadi Pengeluh menasehati Pengeluh untuk tidak mengeluh:

Anak : “Males ah sekolah, gurunya galak, temannya menyebalkan”

Ayah/Ibu : “Kamu ini gimana sih, ayah/ibu kan udah capek kerja untuk kamu, masa gitu aja ngeluh, guru galak itu dimana-mana ada”

Untung saja anaknya tidak menjawab begini :

“Kalau begitu, capek kerja itu juga biasalah.. kerja itu dimana-mana juga capek”..

Dan pengeluh mengeluhkan pengeluh yang lain ..

—————

Bullying, trauma anak atau trauma ortu..

Pada banyak kasus “trauma” bullying yang mampir di tempat saya, orang tua sering mengira anaknya “trauma” akibat masalah bullying yang dialaminya. Mengapa saya menulis trauma dengan tanda “..”?

Karena ternyata dalam perjalanan penanganannya, anak justru lebih trauma terhadap sikap emosional orang tuanya yang berlebihan dibandingkan kejadian “bullying” yang dialaminya.

Semua perilaku anak yang kurang ceria setelah itu dikaitkan oleh orangtuanya dengan kasus bullying yang dihadapinya. Sehingga anak melihat masalah itu menjadi sedemikian besaar, menakutkan dan membahayakan dirinya.

Orang tua sebaiknya jangan terlalu reaktif terhadap cerita anak. Seringkali ketika kesal terjadi generalisasi pada pikiran anak, sehingga muncul kata “selalu”, “semua” pada kisah yang diceritakannya.

Tanggapi dengan tenang, lakukan chunk down hingga terlihat fakta-fakta yang terlewatkan.

—————

Masih soal bullying…

Kadang ortu di rumah suka memberi panggilan-panggilan yang dikiranya lucu pada anak-anaknya, nDut alias endut, si lelet, mBul aliat gembul.. eee… begitu anak dipanggil demikian oleh kawannya di sekolah, ortu langsung emosi tiada tara.. Anak diajarkan untuk melawan dan dilabel kasus bullying. “Wah bullying ini namanya nak, kamu dibully..”

Anak menjadi bingung atas sikap tidak congruent ortunya, mengapa jika ortu yang memanggil demikian dia harus ikut tertawa sedangkan jika kawannya yang memanggil demikian dia harus tidak terima dan melawan? Anak mengalami kerancuan bereaksi hingga justru menimbulkan rasa “tidak mampu” mengelola emosinya sendiri.

Snakes and Ladders. Gratefulness, Empathy, and Hope on a Piece of Board

Siapa yang tak kenal permainan ular tangga. Sebuah permainan yang menurut Om Wiki berasal dari India dengan nama asli Moksa Patam yang bermakna tangga menuju moksa. Arti moksa sangat beragam ada yang mengartikannya sebagai keselamatan, kebahagiaan yang kekal, jenjang tertinggi dalam kehidupan dan lain-lain. Apapun artinya, saya tidak bermaksud membahas filosofi permainan ular tangga menurut niat para penciptanya tetapi bagaimana memanfaatkan permainan yang tampaknya sederhana ini untuk menanamkan nilai-nilai kebersyukuran, empati, sikap optimis, dan kesabaran pada anak-anak.

Pada umumnya permainan ular tangga dilakukan dengan cara melempar dadu, dan siapa yang mencapai  persegi/bujur sangkar dengan angka 100 terlebih dahulu adalah pemenangnya. Dalam perjalanan mencapai angka 100 ini kadang akan ditemui tangga yang membuat pemainnya bisa mencapai posisi yang lebih tinggi atau bertemu dengan ular yang membawa pemainnya merosooot ke persegi yang jauh di bawahnya. Supaya terjadi interaksi antar pemain, boleh juga ditambahkan aturan baru yaitu, apabila salah seorang pemain mendarat di persegi yang sama dengan pemain sebelumnya, maka pemain yang sudah menempati persegi itu harus kembali ke titik start (istilahnya “dibacok”, ceuk suami yang orang sunda mah… *duuh sadis kalipuuun).

Permainan ini lebih asyik jika dilakukan oleh seluruh keluarga, dan diam-diam tentukan apakah suami atau istri yang akan menjadi tokoh “jahat”. Tokoh jahat ini akan memberi contoh-contoh perilaku buruk. (kalau saya sih selalu suami yang jadi tokoh jahat, karena bukankah anak harus berbakti pada ibu 3 kali baru kemudian ayah? :D… hihihi… kasihaanlah suamiku. Terimakasih ya cinta…). Beruntung saya memiliki anak-anak yang usianya sudah mewakili dua kelompok umur yang berbeda, menjelang remaja dan kanak-kanak, sehingga saya bisa mengatakan bahwa permainan ini tidak hanya menarik untuk kanak-kanak tetapi juga untuk remaja, tinggal bagaimana kita membuatnya menarik.  Lalu… Bagaimana memanfaatkan permainan ini untuk menanamkan nilai-nilai positif? Ini dia caranya :

The Ladders of Salvation

Tangga yang membawa pemain melejit ke atas mewakili pencapaian yang baik, rejeki, kesenangan atau apapun yang dipersepsikan secara umum sebagai perolehan baik. Kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk memahami makna bersyukur, ikut bahagia ketika orang lain mendapatkan kebahagiaan, mengapresiasi, kerendahan hati dan sikap tetap waspada. Agar dinamikanya menarik, komentar bisa dipicu dari akting tokoh jahat. Tokoh jahat akan berteriak-teriak kegirangan meledek kesana kemari saat mendapat kesempatan naik tangga. Jadikan contoh perilaku ini untuk dibahas secara natural, misalnya dimulai teguran ringan dari ibu “Kok ngga kedengeran nih bilang alhamdulillah dapat rejeki”, lalu biarkan anak-anak mengungkapkan perasaannya dan lemparkan pertanyaan-pertanyaan seperti “Sebaiknya bersikap bagaimana ya?” atau “Bagaimana perasaanmu melihat orang seperti itu?” dan “Apa yang harus kita katakan kalau orang lain memperoleh kebaikan?”

The Snakes of Destiny

Saat salah satu pemain merosot karena bertemu dengan sang ular, perhatikan dinamika yang terjadi. Apakah pemain yang lain menghibur, memberi semangat atau justru menari-nari di atas penderitaan pemain lain :D..? Beri pujian pada yang menghibur dan menyemangati. Kesempatan ini juga dapat dimanfaatkan untuk memberi contoh bagaimana bersikap sabar namun tetap optimis saat menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan dan bahwa selalu ada harapan karena masih banyak lagi tangga menunggu di depan.

The “Bacoker”

Membacok seperti yang sudah dijelaskan di awal adalah membuat salah satu pemain kembali ke titik awal (start). Menyakitkan memang, namun bukan bersifat sengaja karena jumlah langkah yang ada di dadulah yang “mengharuskan”-nya.  Fenomena ini paling penarik karena adanya interaksi “mengambil posisi dan terlukai”. Bagaimana tata krama si pengambil posisi dari tindakan dan ucapannya. Bagaimana yang terlukai merelakan posisinya dan berjuang lagi dari awal. Bagaimana pemain yang lain berempati. Kadang-kadang situasi ini mengharukan saat si pengambil posisi mengatakan “Maaf ya dek, mas kasihan sebetulnya liat adek harus balik lagi ke awal..” dan jawaban yang terambil posisinya “It’s OK.. I hope I get a ladder very soon”… Duuh… Tapiiiii…… biar seruu…., tokoh jahat harus berakting yang fenomenal dooong.., misalnya ketika mendarat di bidang yang sama, token pemain sebelumnya ditendaang oleh sang tokoh jahat. “I’m knocking you out! hahahaha….” Tapi hati-hati jika ditegur pemain lain, sang tokoh jahat jangan lama-lama untuk kembali insyaf yaa… jangan terus “ngeyel”, ngga mau kalah dan makin vicious :D…

Kekurangan permainan ini adalah langkah semata-mata tergantung dadu, mungkin hanya sedikit orang yang mampu berstrategi dalam melempar dadu untuk mendapatkan angka yang diinginkannya. Namanya juga permainan, kalau mau yang sungguh-sungguh mewakili kehidupan yang sesungguhnya, tentu lebih realistik membahas situasi nyata. Hanya saja, agak jarang  dalam kehidupan nyata, terjadi dinamika the ladders of salvation, the snakes of destiny and the bacoker sekaligus dalam satu jam :D…

Ups.. satu hal yang perlu diingat, yaitu pemulihan nama baik sang tokoh jahat ya.. aciiiann doong kalau tertanam di pikiran anak-anak hahaha… (Daddy, your sacrifice is highly appreciated . :*)

MidLife Crisis, Lalui Dengan Elegan

Beberapa bulan belakangan ini, trend kasus yang mampir ke ruang konsultasi saya bergeser dari masalah anak-anak dan remaja menjadi masalah pemetaan diri dan pernikahan. Semoga tulisan ini dapat membantu anda, pasangan anda dan orang-orang disekitar anda untuk melalui sebuah tantangan dalam hidup.

Midlife atau Middle adulthood adalah istilah populer untuk sebuah tahapan antara usia kurang lebih 40-60 tahun. Midlife crisis tidak melulu soal jatuh cinta lagi. Berdasarkan penelitian Elliot Jaques, midlife crisis ditandai dengan keinginan untuk membuat perubahan yang signifikan terhadap satu , beberapa, atau seluruh aspek kehidupana misalnya karir, kondisi keluarga, hubungan dengan pasangan, pengalaman hidup, peran sosial dan penampilan fisik. Di Indonesia, kondisi ini sering disebut sebagai “Puber Kedua’ karena katanyaaa.. kelakuannya mirip-mirip anak remaja alias remaja koloot.. :D.. :D.. Para ahli masih memperdebatkan apakah midlife crisis berhubungan dengan perubahan hormonal/fisiologis, semata-mata persoalan psikologis, atau sebuah simfoni dari keduanya.

Apa saja sih krisis yang mungkin terjadi?

  1. Career Crisis : Muncul rasa bosan pada pekerjaannya, merasa sudah mentok (mentok yang berarti buntu ya, bukan temannya bebek), kecewa karena merasa “seharusnya” sudah sampai di level tertentu tetapi masih saja jadi kroco mumet. Biasanya ditandai dengan mulai memperlambat waktu datang, memperpanjang waktu istirahat siang atau mempersingkat waktu pulang alias ngga mau telat dua kali – udah telat datang, jangan pula telat pulang .. :p. Banyak ngedumel jika tipe talkative tapi murung jika tipe pendiam
  2. Family Role Crisis : Merasa lelah dengan suasana di rumah. Pada midlife crisis tahap awal biasanya usia  anak-anak bervariasi  antara remaja dan balita. Anak-anak mulai pandai berargumen namun masih perlu rawatan fisik, sehingga muncul kelelahan kognitif maupun fisik, perasaan gagal mendidik dan tidak dihargai. Krisis ini ditandai dengan suka mencari alasan untuk lebih banyak mempunyai kegiatan di luar rumah, tenggelam dengan hobi atau justru memperpanjang kerja di kantor (atau di cafe dekat kantor … :D). Pada midlife crisis tahap akhir (di atas 50 tahun), ditandai dengan perasaan kesepian karena anak-anak meninggalkannya untuk menikah.
  3. Romantic Relationship Crisis: Menginginkan perubahan pada hubungan dengan pasangan. Di usia 40-60 tahun, biasanya usia pernikahan sudah memasuki tahun ke 10 atau lebih. Mulai ada kejenuhan, kehilangan suasana romantis, hubungan mendingin (AC kaliiii….), kehilangan sopan-santun bertutur dan masalah hubungan seksual
  4. Social Role Crisis : Merasa gamang dengan peran social di luar pekerjaan dan keluarga karena sebagian besar waktu dihabiskan untuk keluarga dan atau pekerjaan
  5. Self Image Crisis : Ditandai dengan pertanyaan pada diri sendiri “Apakah aku ini menarik?” baik secara fisik maupun secara citra diri. Perubahan bentuk tubuh, tekstur kulit, warna rambut, pakaian dan keseluruhan penampilan menjadi perhatian. Tidak hanya yang melekat di tubuh tetapi yang digunakan sehari-hari seperti kendaraan pribadi.

Midlife crisis dapat dialami baik pria maupun wanita namun mempunyai penekanan yang berbeda. Menurut penelitian para ahli yang disarikan oleh Hoffman, Hall dan Paris dalam bukunya Developmental Psychology Today, pria lebih sering mengalami krisis no 1,3 dan 5, sedangkan wanita lebih sering mengalami krisis no 2,4, dan 5. Tentu saja ini cuma studi, yang dialami masing-masing orang pada kenyataannnya bisa berbeda. Self image crisis pada pria dan wanita juga muncul dalam bentuk yang berbeda, jika di eropa pria yang mengalami self image crisis kemudiam membeli sport car warna gonjreng, di Negara berkembang mungkin berhenti di soal pakaian dan penampilan. Ya iyalah.. mau ngebut dimana dengan sport car kalau jalannya aja imut-imut plus harga mobil dan pajaknya yang aduhai bajaaii…. Pada wanita, perilaku yang tampak adalah galau terhadap bentuk tubuhnya yang mungkin tak lagi selangsing dulu, sibuk menghitung jumlah kerutan dan noda-noda di wajah… kalau perlu pake kaca pembesar :D…

Midlife crisis wajar-wajar saja terjadi, akan menjadi tidak wajar jika kondisi itu kemudian mengganggu kebahagiaan anda, luapan emosi yang berlebihan dan perseteruan dengan orang-orang di sekitar anda utamanya pasangan dan rekan kerja. Midlife crisis tidak perlu disembunyikan dari pasangan anda, karena justru bersamanyalah anda akan dapat melaluinya dengan elegan, pun demikian, bukan berarti perlu anda umumkan di status FB :D… Jadi apa yang harus dilakukan? Berikut ini tips menghadapi midlife crisis :

  1. Kerjasama dengan pasangan : apakah anda pria maupun wanita, kerjasama dan dukungan dari suami/istri sangat diperlukan. Kerjasama seperti apa kiranya?
    • Keterbukaan komunikasi : buatlah kesepakatan dengan pasangan anda untuk dapat menceritakan apa saja kegalauan anda, bahkan ketika anda tertarik dengan orang lain. Whhaaaattttt??? Salah tulis kaleee… Tidak, ini tidak salah tulis. Kesepakatan seperti ini akan memudahkan pasangan anda “mengembalikan” perhatian anda kepadanya. Tidak mudah? Memang. Perlu kesabaran ekstra. Namun bukankah lebih mudah bagi anda jika pasangan anda memberitahu anda dengan pasti apa yang membuat dia tertarik pada orang lain? Sehingga mudah bersepakat, hal-hal apa yang perlu diperbaiki dan disesuaikan. Kesepakatan-kesepakatan kecil yang cukup membantu diantaranya adalah menyepakati waktu tertentu dimana salah satu pihak boleh uring-uringan ngga jelas, sedangkan pihak lain sekedar menjadi telinga. Tanpa menanggapi apalagi menyimpannya dalam hati. Bonus waktu boleh uring-uringan ini tentu hanya anda berdua saja yang mendengar, tidak perlu dilihat anak-anak, apalagi membangunkan tetangga :D…  Berapa lama durasinya dan seberapa sering idealnya? Silahkan pada kesepakatan anda dan ketahanan telinga anda… :D. Contoh kesepakatan lain adalah mensepakati cara menegur apabila salah satu pihak melakukan hal yang tidak disukai pihak lain. Hindari teguran yang seperti kicauan burung kukuk dari jam dinding anda, 24x sehari sepanjang hari. Silahkan tambahkan sendiri kesepakatan-kesepakatan lain. Tuliskan kesepakatan yang sudah dibuat , agar anda bisa mengingat dengan mudah, hal-hal yang sudah disepakati. Keterbukaan komunikasi tidak berarti meninggalkan sopan-santun bertutur. Pelajari pola dan teknik berbahasa yang memberdayakan. Banyak orang yang mau repot-repot belajar teknik komunikasi untuk kepentingan bisnis, politik, menghadapi massa,  tetapi lupa mengaplikasikannya di rumah. Seringkali seseorang sedemikian santun di luar rumah tetapi enggan mengusahakannya di rumah. Lalu apakah itu namanya cinta jika anda tak takut melukai hatinya?
    • Kemauan untuk berubah : Banyak orang keliru berpegang pada kata-kata bijak “menerima apa adanya”. Benarkah “apa adanya” anda di usia 20 tahun sama dengan “apa adanya” anda di usia 40 tahun. Jangan-jangan sudah berubah menjadi “apa-apa ada ” atau “tidak ada apa-apanya”.. :D…  Adalah mustahil manusia tidak berubah sama sekali sejak awal kehidupan hingga akhirnya. Manusia terus berubah waktu demi waktu, tidak hanya fisik, tetapi juga kebiasaan bahkan karakter. Daripada berubah tak tentu arah, bukankah lebih baik meniatkan diri berubah ke arah yang lebih baik? Ketimbang anda berpegang pada ungkapan “cinta itu menerima apa adanya” bukankah lebih baik diubah menjadi “cinta itu bertumbuh menjadi lebih baik bersama-sama”. Lebih baik dalam memahami, mengimbangi, melayani, komunikasi, ketaatan kepada Yang Maha Mengatur kehidupan, dan lebih baik-lebih baik lainnya. Sepakati perubahan seperti apa yang anda ingin lakukan bersama-sama seiring dengan perubahan usia, kebutuhan, pengalaman dan peran anda. Melakukan perubahan memang bukan perkara mudah, tetapi juga bukan hal yang susah. Dengan memahami kerja pikiran (mind),  dan bagaimana pikiran mempengaruhi perilaku begitu juga sebaliknya, perubahan menjadi jauuh lebih mudah. Jika perlu minta bantuan professional untuk memudahkan anda. “Tapi, kalau pasangan saya tidak mau berubah bagaimana dong… Apa perlu diganti? hehehehe hush…. 🙂 Bukankah mengubah dengan teladan paling berkesan?
    • Sentuhan :  Penelitian Allan N. Schore (2001) dan Kathleen C. Light (2004) menunjukkan bahwa pelukan dan sentuhan kasih sayang meningkatkan produksi hormon Oxytocin. Hormon ini memberikan perasaan tenang, kelekatan secara personal, menyeimbangkan tekanan darah, mempengaruhi kemampuan orgasme, menurunkan kecemasan dan memunculkan perasaan bahagia. Hormon ini sering disebut juga sebagai love hormone. Tidak seperti hubungan seksual yang memerlukan privasi, sentuhan dapat dilakukan kapan saja dimana saja… Bukankah jika suami-istri bergenggaman tangan, akan berguguran dosanya dari sela-sela jarinya? Kapan lagi bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus, menggugurkan dosa sekaligus bonus meningkatkan hormone Oxytocin?
  2. Kenali diri : Midlife crisis bukanlah hal memalukan yang perlu anda tolak atau tekan dalam-dalam dari kesadaran. Bagaikan alarm, midlife crisis merupakan pesan yang dikirim bawah sadar anda untuk membuat perubahan. Semakin ditolak, justru alarm itu semakin kuat menunjukkan eksistensinya. Berdamailah dengan diri . Sadari perubahan dan kelola perubahan itu. Buatlah rencana dan lakukan secara nyata. Sibuk bergalau ria dan berandai-andai menjadikan anda jalan di tempat. Jika anda menginginkan perubahan dalam karir, segera ubah strategi anda, perbaiki performance anda, atau wujudkan karir baru yang lebih sesuai dengan anda sekarang. Jika anda mengalami kegalauan peran dalam keluarga, segera susun langkah baru, pendelegasian tugas, memperbaiki strategi komunikasi, belajar lagi ilmu parenting, dan lain-lain.
  3. Kenali Tuhan : Pahami kembali makna kebersyukuran dan tafakuri setiap masalah yang dihadapi, bukankah itu salah satu cara Allah untuk menjadikan hambanya lebih baik?

Midlife crisis hanyalah sebuah proses,  yang untuk melaluinya terdapat dua pilihan, penuh friksi yang berakhir pada frustrasi atau elegan menjemput berbagai perbaikan…

Kekuatan Linguistik Laksana Sihir

Nabi Muhammad SAW menggambarkan kekuatan linguistik sebagai berikut
إن من البيان لسحرا
“Sesungguhnya di antara susunan kata itu terdapat kekuatan sihir.”(HR. Bukhori dan Muslim)

Al-Bayan dalam bahasa arab berarti penjelasan, tutur kata, menyatakan atau kefasihan menjelaskan. Barangkali judul diatas menjadi sedikit menyeramkan, apalagi jika berpijak pada pengertian sihir secara awam yang berbau negatif. Sihir sendiri dalam bahasa Arab berakar kata “sahar” yaitu akhir waktu malam dan awal terbitnya fajar, karena itu bercampur antara gelap dan terang. Arti lain dari sihir adalah segala sesuatu yang halus, lembut serta tersembunyi. Oleh karena sifat-sifat itulah maka sihir dapat mempengaruhi, menarik hati atau mempesona para pendengarnya.

Agama-agama tauhid diajarkan secara lisan, karena itu para Rasul diberikan kemampuan berbahasa yang luar biasa. Bahkan meski Rasulullah SAW tidak bisa membaca dan menulis (Al-Ankabuut :48), namun beliau sangat disegani oleh semua kalangan karena kekuatan bahasa beliau, tentu kekuatan tersebut tidak lahir dari jiwa yang hampa, kedalaman berpikir, kekuatan hati, kejernihan dan perasaan yang mendalam itu tertuangkankan melalui lisan beliau sehingga membuat orang terkesima, tertegun, bahkan hanyut oleh kata-kata beliau yang “menyihir”, yang hingga kini masih lestari dan terbingkai dalam hadist-hadist yang terjaga.

Kekuatan bahasa dalam Al-Qur’an juga terdesain dengan sangat sempurna oleh Yang Maha Mendesain hingga orang-orang Arab Quraisy dahulu melarang keluarga dan anak-anaknya mendekati rumah Nabi Muhammad, karena mereka khawatir terpengaruh oleh kesempurnaan ajaran al Qur’an. Uniknya tokoh-tokoh besarnya sering mengendap-endap di malam hari untuk menikmati alunan bacaan al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah SAW. Bukankah Umar bin Khattab yang dulunya seberingas Abu Jahal tersentuh oleh isi dari surat Thahaa yang dibaca oleh Fatimah bint. Khattab?

Kalimat-kalimat dalam Al-Qur’an banyak mengandung pertanyaan-pertanyaan yang menyebabkan pembaca atau pendengarnya melakukan Trans-derivational Search. Mari mengkaji Surah Ar Rahman ayat 17-23 ini :

    • Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya
    • Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
    • Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,
    • antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
    • Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
    • Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
    • Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Silahkan dicermati, pola bahasa ini apa padanannya dalam Milton Model..

Kembali pada pembahasan mengenai nikmat Tuhan, bukankah Yang Maha Memberi Nikmat juga telah meberikan alat yang sedemikian canggih untuk dapat mensyukuri nikmatnya

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar (kamu )bersyukur.” (An Nahl: 78)
Katakanlah (wahai Muhammad): “Allah yang menciptakan kamu (dari tiada kepada ada), dan mengadakan bagi kamu pendengaran dan penglihatan serta hati (untuk kamu bersyukur, tetapi) amatlah sedikit kamu bersyukur”. (Al Mulk :23)
Maka demikianlah Allah menciptakan indera untuk Maksimalkan penggunaannya demi satu tujuan, yaitu bersyukur.

Lebih jauh lagi, silahkan resapi bagaimana The Greatest Motivator of all memotivasi hambanya dengan memaksimalkan unsur Visual, Auditif dan Kinestetik :

Bandingan orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan (ingatlah) Allah akan melipat gandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya. ( Al Baqarah :261)
Secara visual anda mengenal cabang dan buah, dengan mudah anda bisa Bayangkan, bagaimana pohon bertumbuh dan berbuah. Secara kinestetik anda bisa Rasaka efek semakin banyak dari cabang-cabang yang tumbuh dan biji-biji yang bermunculan sebagai hasil dari membelanjakan harta di jalan Allah.

Bagaimana dengan yang ini?
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Surah at-Tahrim,: 6)

Apa yang anda lihat, dengar dan rasakan dari ayat ini?

Jika dulu Richard Bandler memodel Virginia Satir, Milton Erickson and Fritz Perls untuk membangun struktur linguistik yang memberi efek terapiutik. Bukankah kini dengan “tool’ yang sama, ada sedemikian luas kesempatan untuk memodel pola linguistik Qur’ani ini untuk memberi efek pencerahan dan pemberdayaan umat menuju ketaat’an pada perintah sebenar-benarnya Pemilik Manusia? Bahkan Allah sudah menyediakan contoh, sosok nyata yang akhlaknya adalah Al-Qur’an.
Tentu anda bisa mulai Bayangkan, sebuah generasi yang sungguh-sungguh menjadi rahmat bagi semesta alam, jika pola linguistik yang didasari dengan akhlak ini bisa dimodel oleh para orang tua, pendidik, pemimpin bahkan setiap orang yang berkontribusi dalam pembentukan sikap mental dan perilaku bangsa.

note :
Saya bukanlah pakar kajian Al-Qur’an, saya hanyalah seorang pembelajar yang ingin terus mempelajari cara terbaik untuk membangun generasi yang semakin baik.
Terimakasih saya kepada Ustad Muntaha, seorang kandidat doktor yang ilmu fiqih-nya luar biasa. Sebagian kalimat pada alinea 2 dan 3 adalah penggalan email beliau kepada saya
.

My Husband’s Poem on Our 13th Anniversary

Thirteen years are passing by like days,
The first time in commissary never goes away
Beautiful face stood out the crowd My heart vibrated,
Is she the girl that I will vow

I don’t know what it is that you saw in me
I saw in you the utmost happiness that can ever be,
Even more so on the day when you and I became “We”
Hearts were united on twenty five March two thousand
There’d never been a doubt even for one second

A rose for every year,
Many smiles for every tear
Way more of the first than ever of the later
What’s deep in our hearts is all that really matters
We’ve learned a lot, yet still a lot to learn
For that smile in your eyes my heart still yearns

Keep giving me a chance to show you my love
We’ve always found a way to enhance above

Two little angels came into our live
Twelve years as parent we have arrived
You are an amazing wife and an outstanding mother
There is no place in the world that man can have another
We know what we have and we have made it this far
We often say to each other just how lucky we are
To have what we have when we look in our eyes
We both know that Allah has given us the precious prize

Happy Anniversary my beloved wife Okina Fitriani

#Thank you for the beautiful poem, Habibi…

Pendidik Anak di Rumah : Super Mom or Supir Mom?


Seringkali saya ditanya baik dalam kelas maupun di luar kelas oleh para ibu yang ingin meninggalkan pekerjaan formalnya dan beralih profesi menjadi pendidik anak di rumah. Berikut ini saya rangkaikan tips persiapan untuk alih profesi. Supaya keren, saya akan berikan Job Title khusus untuk profesi Pendidik Anak di Rumah yaitu Posterity Educationalist alias “PE” (ehem… ehem…. 🙂).

1. Niat
Jika dari awal tujuan anda berhenti adalah untuk mendidik anak di rumah, maka susun baik-baik niat anda ini. Sungguh-sungguh periksa hati anda dengan jujur. Jangan mengatakan anda berganti profesi demi berdedikasi menjalani peran sebagai madrasah pertama bagi anak seperti yang dianjurkan agama, tetapi sesungguhnya ada sudah tidak tahan lagi dengan lengkingan suara atasan anda di kantor, lelah menghadapi macet, tidak laku lagi bekerja atau alasan-alasan lain yang dibungkus dengan kalimat pembenaran. Niat anda hanya anda dan Tuhan yang tahu. Meski tiada seorangpun dapat menghujat dan menghakimi, namun janganlah membohongi Yang Maha Tahu, karena kelak kesungguhan dan pahala anda bermula serta dihitung dari sini.
Pssst… lalu bagaimana kalau saya belum yakin dengan kelurusan niat saya karena masih berupa campuran dari berbagai alasan? Bantu diri anda dengan melakukan assesment berikut ini..
  • Mengapa saya ingin menjadi PE?
  • Kemampuan apa yang sudah saya miliki untuk menjalani profesi ini? Jika masih kurang, di/darimana/ siapa saya harus belajar?
  • Apa yang akan saya dapatkan jika saya menjalani profesi ini? Apa yang tidak akan saya dapatkan jika saya menjalani profesi ini?
  • Apa yang akan saya dapatkan jika saya TIDAK menjalani profesi ini? Apa yang TIDAK akan saya dapatkan jika saya TIDAK menjalani profesi ini?
  • Mengapa jawaban item ke 2 dan ke 3 di atas penting untuk saya dapatkan?
  • Apa pengaruh pilihan saya ini pada kehidupan keluarga inti saya, keluarga besar saya, pertemanan saya dan pandangan saya terhadap diri saya sendiri?
  • Identitas apa yang saya inginkan untuk diri saya dan UNTUK APA dan UNTUK SIAPA saya persembahkan hidup saya.

InsyaaAllah keputusan anda menjadi lebih mantap dan positif dengan langkah-langkah di atas.

Tetapi bagaimana jika assesment itu masih juga menghasilkan pertempuran dalam diri anda, maka anda punya 3 pilihan sikap

  • Tunda : daripada anda membuat stress anak-anak dan pasangan anda dengan keluhan yang tiada habisnya, wajah manyun atau justru berhentinya anda tidak memberi manfaat untuk anak dan pasangan karena anda akan menggantinya dengan sederet arisan-arisan, shopping sana-sini, atau menghabiskan waktu berjam-jam untuk hobi anda yang lain
  • Jalani dengan jujur dengan waktu tertentu : Akui  sejujurnya alasan anda yang sebenarnya dan sebutkan target berapa lama anda akan berhenti. Lalu rencanakan apa yang anda akan lakukan dalam waktu jeda itu agar tidak sia-sia. Insyaa Allah niatnya tetap mulia yaitu tidak membuang waktu dengan sia-sia.
  • Luruskan PAKSA.. (duh sadis amat main paksa…)  Jika hal positif tidak mampu memotivasi anda maka takut-takuti diri anda sendiri dengan membayangkan kemungkinan TERBURUK jika anda tidak melakukannya. Waduh.. emangnya bagus memotivasi diri dengan cara menakut-nakuti? SECARA PRIBADI, SAYA TIDAK SUKA cara ini,  karena seperti do’a mengharapkan keburukan. Namun memang anda orang-orang yang hanya bisa lari jika cambuk mengancam punggungnya.

Lalu bagaimana jika awalnya terpaksa atau kebetulan? Misalnya anda di PHK dan tidak bisa mencari pekerjaan lain, atau harus mengikuti suami ke tempat lain yang tidak memungkinkan anda bekerja lagi. Ya mudah saja, tinggal perbarui niat anda seperti step-step diatas.

Pastikan niat ini menjadi NIAT BERSAMA, antara anda dan suami dan mintalah dukungan dari orang tua anda. Beri mereka pengertian sebagai pihak yang telah membiayai pendidikan anda dan sampaikan terimakasih anda bahwa dengan bekal pendidikan yang mereka biayailah anda akan mendidik cucu-cucu tercinta mereka… (jangan lupa buat tekanan yang kuat saat mengatakan urusan cucu ini, karena biasanya hati para kakek-nenek akan meleleh dengan kunci ajaib ini.. :D). Bisa jadi ortu keberatan karena pekerjaan anda ibarat trophy dari “keberhasilannya mendidik anak”, itu lho anakku Menejeeer. Tidak apa-apa, pahami perasaan beliau namun tetap berikan pengertian atas keputusan anda. Obat mujarab dari kekecewaan beliau adalah melihat anda bahagia menjalani peran, melihat improvement perilaku anak-anak anda karena program pendidikan adabnya lebih terstruktur dan anda lebih punya waktu melayani beliau dengan penuh perhatian. Tapiiii.. jika anda sudahlah berhenti kerja, di rumah ngamuk-ngamuk ya keterlaluan.

2. Buat rencana 2 tahun pertama.

Buatlah rencana anda seperti anda membuat Performance Appraisal Form saat anda bekerja. Bermula dari tujuan, apa ukurannya, metodenya, perlu belajar apa, siapa yang akan menilai.. Ajak suami anda menyusun program ini bersama-sama dan sepakati bagaimana metode reward dan apresiasinya. Pujian suami adalah reward penting dalam tiap langkah pencapaian. Memberi hadiah juga tidak salah, namun… wajah bahagia anak-anak yang tumbuh dalam pelukan dan bimbingan kasih sayang anda ditambah derasnya tabungan pahala yang langsung datang dari Yang Maha Memberi,…  tiada tanding, tiada banding nilainya dari sekedar pujian ataupun hadiah.

Mengapa 2 tahun? Biasanya 2 tahun juga angka yang dipakai sebagai ukuran bagi beberapa instansi jika anda mengajukan cuti tanpa gaji (leave without pay). Maka periode ini bisa saja anda lakukan tanpa sungguh-sungguh berhenti bekerja tetapi mengambil periode cuti tanpa gaji. Kalau anda tidak suka 2 tahun, anda bebas menggantinya menjadi angka 1, 3, 4 juga boleeeh…

Rencana ini tentunya membutuhkan peran anda langsung dalam pencapaiannya sehingga ada layak memegang Job Title “PE”. Misalnya dengan meletakkan program preschool home schooling di dalam “to do list” anda. Jika anda sudah memutuskan menjadi PE tapi masih juga mengirim batita anda ke sekolah atau sekedar membuat daftar panjang les, kursus yang akan diikuti anak anda,  dan rencana anda hanyalah menjadi pengantar anak kesana-kemari, maka Job Title anda harus berubah menjadi Supir Mom alias “SM” . Bukan berarti tidak boleh ya… Anda boleh saja memutuskan untuk menjadi SM terutama jika alasan anda berhenti bekerja hanyalah mengisi waktu jeda agar tidak sia-sia atau untuk mengurangi pengeluaran keluarga membayar gaji supir atau biaya transportasi. Tentunya anda tidak boleh mengaku PE jika pekerjaan anda SM. Prinsipnya, jujurlah menilai diri, toh anda tidak perlu mengumumkan jabatan baru ini.

3. Bersungguh-sungguhlah dalam menjalankan tugas ini lebih dari bersungguh-sungguhnya anda dengan karir anda sebelumnya
Jika anda sedemikian keras bekerja demi sebuah tugas yang diberikan oleh penguasa perusahaan apapun jabatan atasan anda,…. lalu harus sekeras apa usaha untuk menyempurnakan tugas yang langsung diberikan oleh Penguasa alam semesta? Jika sedemikian hebatnya keinginan anda untuk mendapat pujian dan reward dari penguasa perusahaan tempat anda bekerja,… lalu harus sehebat apakah keinginan anda untuk mendapat reward dari Penguasa langit dan bumi serta pujian dari suami yang ridho-nya menjadi jalan menuju surga?
Delegasikan hal-hal yang tidak terlalu penting dan secara keuangan mampu anda delegasikan. Kalau anda sanggup punya asisten rumah tangga, percayakan lantai anda untuk mereka belai untuk memberi kesempatan anda membelai orang-orang tercinta. Jika tidak memungkinkan memiliki asisten tetap, cari jalan untuk outsourcing.  Misalnya setrika… Jika di sekitar anda ada usaha laundry murmer, lempar saja tumpukan setrikaan anda ke sana. Bagi-bagi tugas sederhana adengan suami dan anak-anak. Bukankah time management dan empowering adalah salah satu kunci sukses apapun profesi anda?
4.  Bernegosiasi dengan diri sendiri mengenai “pendapatan yang hilang”
Tentu wajar jika anda yang terbiasa mempunyai penghasilan sendiri merasa tidak nyaman saat tiba-tiba harus kehilangan penghasilan. Rasanya semacam tiba-tiba “miskin” secara pribadi. Kadang kesediaan suami untuk mencukupi apa yang dulu anda cukupi dari penghasilan anda tidak banyak membantu menyelesaikan emosi ini. Perasaan “diberi” atau “meminta” mungkin mengganggu ego anda. Utamanya, selesaikan dulu konflik batin anda, bandingkan makna penghasilan dan makna awal dari niat anda yang sudah kita bahas di atas.
5. Diskusikan tentang “pendapatan keluarga yang hilang”
Jika selama ini gaji anda juga digunakan untuk mendukung pendapatan keluarga.  Diskusikan pendapatan yang hilang ini dengan seluruh keluarga. Hal-hal apa yang perlu dikurangi, dihilangkan, diganti atau suami perlu usaha lebih untuk menggantikan pendapatan yang hilang itu.
Sebaiknya tunda dulu keinginan untuk mendapatkan penghasilan saat sudah berhenti bekerja di tahun pertama. . Namun, jika dalam perjalanannya, anda dapat menjalani program ini dengan mulus sekaligus ada peluang untuk mendapatkan penghasilan dari rumah….. tentu tidak ada salahnya, apalagi jika kegiatan itu sekaligus mendukung peran anda. Syukuri kesempatan langka itu.
6. Sepakati hari cuti setidaknya 1 hari dalam sebulan untuk “me time”
Sebagaimana pekerjaan yang lain, tentu anda perlu waktu “istirahat”… Maka sepakati setidaknya 1 hari dalam 1 bulan anda untuk melakukan kegiatan yang anda sukai. Meskipun kadang tidak bisa berlangsung selama 24 jam terus menerus, setidaknya 8 jam cuti cukuplah. Demikian pula sebaliknya, pasangan anda juga berhak cuti untuk tidak membantu anda dalam urusan rumah tangga jika anda sama sekali tidak punya asisten yang membantu anda sehari-hari.
7. Komunikasi yang baik dengan suami adalah contoh terbaik bagi anak. Anak adalah peniru ulung
Jagalah sopan santun anda dalam berkomunikasi dengan suami. Jangan menjadikan suami sasaran ketegangan anda, sebaliknya suami belajar memahami ketegangan istri, terutama di bulan-bulan pertama perubahan profesi anda. Belajar teknik komunikasi acknowledging and reorienting, positive feedback, bahasa kasih sayang, bahasa hipnotik, dan banyak lagi teknik lainnya yang jika saya bahas akan setara dengan 1 hari Enlighten & Empower Communication workshop.
Seringkali kita sangat bersopan santun dengan orang lain, tetapi justru enggan melakukannya untuk orang-orang yang anda cintai. Lalu apakah itu namanya cinta kalau anda tidak takut lagi menyakiti hatinya?
8.  Pelihara  ilmu anda
Bantu teman atau buatlah sebuah karya pribadi yang berhubungan dengan profesi anda sebelumnya setidaknya 1x dalam 2bulan, meski tidak mendatangkan penghasilan. Suatu saat nanti entah karena alasan apa, mungkin anda perlu kembali bekerja.  Bisa juga anda menambah ilmu lain, namun tidak menyita waktu anda untuk memenuhi program kerja 2 tahun anda. Kegiatan menambah ilmu 2x seminggu masing-masing 2 jam bisa dijadikan pilihan.

9. Bersyukur dan bertafakur

Syukuri setiap pencapaian yang anda lakukan sesuai dengan rencana anda. Jangan mengakuisisi pencapaian yang merupakan hasil kontribusi pihak lain misalnya sekolah, supaya anda tetap menjadi ibu yang jujur, bisa mengapresiasi pihak lain dan mau belajar lagi.
Renungi kejadian-kejadian yang menjauhi pencapaian dengan pertanyaan, “Manfaat apa yang kuperoleh dari kejadian ini untuk memperbaiki diri?” Jadikan sebagai umpan balik.
Waspadai adanya kemunduran, misalnya anak tiba-tiba ngompol lagi, menjadi tegang, emosional, lebih suka berlama-lama di sekolah. lebih suka keluar rumah dll… Kemungkinan keberadaan anda menimbulkan rasa tidak nyaman. Teruslah membuat perbaikan.
10.   BERDO’A mohon pertolongan Yang Maha Kuat
Manusia pada dasarnya lemah dan dho’if.  Maka berpeganglah pada kekuatan Yang Maha Kuat di setiap do’a, di setiap langkah.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya teringat pada satu  pertanyaan krusial. Kapan waktu yang tepat bagi anda untuk berhenti bekerja? Saat terbaik adalah saat anak anda lahir dan tetap di rumah sampai usia sekolah dasar. Setelah anak-anak menjalani sebagian harinya di sekolah, silahkan anda juga menjalankan hari anda untuk bekerja. Namun ingat… ENERGI anda harus tetap BARU ketika sampai di rumah seperti yang anda harapkan juga dari suami anda, serta   masih memiliki waktu sekurang-kurangnya 3 jam untuk berinteraksi dengan anak dalam keadaan sama-sama segar (bukan sama-sama tidur) untuk menemaninya meninjau ulang hari-hari yang dilaluinya di sekolah.
Siap punya profesi keren? Posterity Educationalist…..

Pembela Pembenaran atau Pejuang Perbaikan, itu Pilihan..

imagesHari ini  dalam sebuah kelas, seorang peserta bertanya pada saya tentang bagaimana membingkai musibah dalam sebuah makna, yang memberdayakan tentunya… Dan sayapun teringat pada sebuah peristiwa.

Peristiwa ini terjadi 9 tahun lalu, saat pembarep saya mengalami phobia, setelah kami menerapkan anjuran seorang kenalan psikolog yang saat itu saya anggap lebih ahli dalam bidang psikologi perkembangan, yang mungkin sekaligus juga penganut teori-teori Nanny 911..                         .

Rasanya saya tidak perlu menjelaskan seperti apa tepatnya anjurannya itu, yang jelas phobia sudah terbentuk.  Phobia? … Anak seorang psikolog mengalami phobia? Hmmm…. bisa jadi wajar saja, toh anak dokter juga bisa kena demam berdarah, anak insinyur tak pandai matematika, ahli komunikasi yang bertengkar melulu dengan anaknya karena mis-komunikasi. Tetapi peristiwa ini menjadi menyedihkan saat psikolog ini bahkan tak tahu cara menolong anaknya untuk sembuh dari phobia, bukankah ini terdengar mirip  dengan dokter yang tidak tahu cara menanggulangi deman berdarah atau insinyur yang tidak bisa menjelaskan matematika tingkat SD dan ahli komunikasi yang tak tahu dimana letak simpul masalah komunikasi dalam keluarga? Menyedihkan memang. Meskipun menyedihkan, faktanya memang ada.

Saat itu karir saya sedang bersinar terang dan sejak masih saya lebih tertarik bidang Industri dan Organisasi. Hati saya tergelitik untuk melindungi ego saya dalam Blaming and Justifying Game alias mencari Black Embek dan membuat pembenaran-pembenaran. Tinggal tunjuk hidung si psikolog aliran Nanny 911 dan mengatakan “Kami korban psikolog ngawur” untuk versi Blaming. Sedangkan untuk versi Justifying saya tinggal membuat pengumuman di jejaring sosial ”Heiii…. saya ini ahli Psikologi Industri !. Lihat dong prestasiku yang cemerlang… Wajarlah kalau saya tidak berminat soal psikologi perkembangan anak, semua itu kan ada spesialisasinya… dokter jantung juga belum tentu ngerti soal ginjal.. Lalu saya menceburkan diri dalam komunitas anomali alias spesial case. Gampang kan… Gampang memang, namun apakah akan menyelesaikan persoalan?

MAKNAI DAN TENTUKAN TUJUAN

Tujuan memberi arah dan makna terbaik semestinya menggerakkan. Maka berhentilah sejenak, mungkin melalui sujud, mungkin dengan berlutut, mungkin dengan jari-jari tertangkup. Iqra’ (Bacalah).. apa pesan yang ingin disampaikanNya dalam sebuah peristiwa? Tafakuri makna apa yang terkandung di dalamnya Bukankah Tuhan tak pernah dzalim, bukankah Tuhan hanya menginginkan kebaikan dari hambaNya? Tanyai diri sendiri, kuliti dan hakimi sebelum kelak menghadap Hakim yang sesungguhnya. Bukankah peristawa dariNya selalu memiliki intensi positif untuk menunjukkan jalan menuju surga?

Jika saya memilih sujud karena saya meyakini dalam sujud terlepaslah kesombongan menuhankan nafsu dan berkuncilah keinginan menudingkan jari. Bagaimana hendak  sombong jika kepala tertunduk serapat bumi, bagaimana hendak menuding jika  tangan bekerja menopang diri. Pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan pada diri untuk menemukan pesan.  Bukankah selama ini saya selalu diberi predikat fast learner? Mungkinkah ini cara Tuhan mengingatkan saya untuk belajar lagi? Apakah saya lebih mementingkan image orang lain daripada tugas saya untuk menyempurnakan ikhtiar sebagai ibu yang diberi tugas bersamaan dengan cinta yang dititipkanNya? Bukankah istigfar dan maaf saja tidak cukup tanpa adanya perbaikan? Maka malam itu saya saya tentukan tujuan baru, bukan sekedar menyembuhkanb phobia anak saya tapi sekaligus belajar bidang ilmu yang sesungguhnya sudah saya ketahui dasarnya yang akan menopang tugas baru saya sebagai ibu. Ilmu menjadi orang tua.

Masih jelas dalam ingatan saya, mulai malam itu dan hari-hari seterusnya saya terus membaca dan belajar lebih dalam tentang pengasuhan anak. Saya memburu buku, membeli CD Dr. Harvey Karp, mengejar kelas Dan Siegel, Melahap buku pengasuhan islam Abdullah N. Ulwan, belajar tentang pikiran manusia, komunikasi di level subconscious, buku-buku terapi, neuro linguistic programming, buku-buku Virginia Satir, mengikuti berbagai seminar, mendapatkan berbagai sertifikasi, membantu klien-klien saya, mengajarkan di kelas-kelas, menerapkan, membaiki dan terus belajar hingga hari ini.

Lalu phobianya? Ups hampirr lupa.  Singkatnya saya diberi kemudahan untuk menyelesaikannya dengan membuat remote control imaginative yang mampu mengubah gambar dan suara dalam imaginasinya. Sebuah teknik hasil rekaan berdasarkan buku-buku yang saya baca, sebelum akhirnya saya mempelajarinya secara formal di kelas beberapa tahun kemudian. Bukan terapi phobia-nya yang ingin saya tekankan, namun  perjalanan mencari makna dan menentukan tujuan.

Alih-alih menyalahkan, syukuri setiap peristiwa. Sibuk mengeluh, mengumpat dan mencari-cari bukti-bukti pembenaran atas “kekurangan” ibarat jalan ditempat di atas lumpur penghisap.  Sudahlah tak sanggup menolong menyelesaikan masalah, terhisap hingga tenggelam tanpa perbaikan.  Rugi kuadrat ! Maka salahpun jangan sampai sia-sia.

Proses perbaikan memang bisa kita lakukan sendiri, tetapi….terbayang bukan…. nikmatnya jika anda dan pasangan anda sama-sama mempunyai kemauan yang untuk terus merenovasi diri dengan proses tafakur bersama? Seperti beberapa email dari pasangan yang mengikuti kelas parenting saya menceritakan betapa indahnya proses menemukan area-area yang perlu diperbaiki bersama, menyusun langkahnya dan menikmati hasilnya. Hubungan yang penuh warna dan anak-anak yang bertumbuh menjadi lebih baik bersama-sama. Subhanallah… seringkali saya ikut terhanyut membacanya.

Karena hidup adalah pilihan dan “Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Qs. Ar-Ra‘d [13]: 19).

Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Anak

Saya yakin bahwa banyak diantara pembaca tulisan ini adalah orang tua yang mampu berlisan dalam berbagai bahasa demikian pula dengan putra-putrinya, namun tidak sedikit juga yang masih mengeluh tidak bisa menemukan kata-kata yag tepat, sulit dimengerti dan berbagai hambatan lainnya saat harus berkomunikasi dengan anak.

Memang belum pernah ada Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Anak dimana anda bisa belajar menemukan kata-kata yang tepat, metafora yang pas ataupun susunan berbahasa yang ciamik saat berkomunikasi dengan anak. Apaagi jika anda hanya berkomunikasi dengan mereka saat kesal, marah, ngomel beserta kerabat-kerabatnya.

Beberapa contoh keluhan yang sering saya dengar dari orang tua adalah :

Kenapa ya bu, anak saya itu kalau sholat maunya cepet-cepet aja, padahal kan sudah berkali-kali saya jelaskan, sholat itu berkomunikasi dengan Allah…

Mbak, saya sering menceritakan pada anak saya hadist-hadist, bagus kan itu.. tapi kok kayaknya ngga ada yang nyantol…

Capek deh bu ngomong sama anak saya, biarpun udah berkali-kali dijelaskan, ngga ngerti-ngerti juga…

Anak saya itu lho bunda, pelit sekali sama temannya, padahal di rumah kami sering diskusi soal pentingnya berbagi…

Biasanya jawaban saya kemudian begini :

Coba beritahu saya bagaimana anda menjelaskan /mengatakan /menceritakan ataupun mendiskusikannya kata demi kata. Tidak sedikit para orang tua yang mengernyitkan kening dengan jawaban saya. Sebagian besar menjawab, “wah ya macam-macam caranya, dari ngomong baik-baik sampai saya omelin” dan menjadi agak kesal atau mengaku lupa ketika saya meminta untuk mengulanginya kata demi kata. 🙂

Jika anda menggunakan pilihan kata yang sama meskipun dengan berbagai varian intonasi dari yang paling rendah hingga paling nyaring, bukankah itu artinya anda terus mengulangi “minum obat diare” untuk “mengobati bisul” hanya saja anda memilih air putih, teh dan sirup sebagai penghantarnya… 🙂

Anak bukanlah manusia dewasa dalam ukuran mini. Pemilihan kata-kata terutama yang sifatnya abstrak belum tentu mampu dia pahami sesuai dengan pemahaman anda. Dalam tulisan ini saya akan memberikan contoh beberapa naskah terjemahan dari bahasa orang dewasa menjadi bahasa anak, dan saya akan sangat senang jika anda mau berbagi dengan semua pembaca tulisan ini dengan menambahkan contoh-contoh lain di kolom komen.

Event 1:

Raka (saat 10th) sangat terganggu dengan kebiasaan saling meledek di sekolahnya.  Suatu ketika dia bertanya kepada saya : “Mama, aku sering LIHAT teman-teman saling ngatain, bahkan mereka juga suka ngatain aku “Fat”, “Slow”… Aku SEBEL dan SAKIT HATI, kadang aku katain balik tapi jadinya ngga selesai-selesai”

Karena saya seorang muslim tentu saya ingin menanamkan nilai-nilai sesuai ajaran yang saya anut. Salah satunya adalah “orang yang dihina sebenarnya memungut pahala gratis tanpa perlu bersusah payah, karena kebaikan orang yang menghina akan berpindah kepada yang dihina/didzalimi”.  Tentu jika saya mengutip begitu saja kalimat tersebut akan sulit diterima anak berusia 10 tahun. Maka saya mengemasnya dalam bentuk VISUAL dan KINESTETIK sesuai dengan kecenderungan pilihan katanya saat menceritakan kejadian itu (perhatikan kata “LIHAT”, “SEBEL”, “SAKIT HATI” yang saya tulis dengan huruf besar di paragraf sebelumnya) …

M : Nak, sudah pernah tahu belum kalau sebetulnya orang yang diledek itu untung besar lho sayang…

R : Ahhh… untung gimana.. ya ngga untung dong kan diledek…. (manyun)

M : Rasulullah SAW pernah mengajarkan kalau orang yang meledek itu kebaikannya akan pindah kepada yang diledek. Bayangkan saja Raka jadi celengan yang ada lubangnya untuk memasukkan uang itu lho? Udah kebayang seperti apa bentuknya?

R : Udah.. (sambil menerawang)

M : Nah… jadi kalau ada teman yang meledek, kebayang kaaan kebaikan dia pindah dan masuk ke lubang celengan yang ada di badan Raka.. cring cring.. plung-plung… nah tambah penuh kan dada Raka dengan kabaikan.. makin penuh tu nak…

R : (tarik nafas dan dadanya lebih membusung ke depan, senyum-senyum …)

M: Jadi menurut Raka gimana kalau ada yang ngeledek Raka…

R: Biarain aja deeeh…. biar dia aja rugi sendiri (cium pipi mama, baca do’a sebelum tidur, peluk guling), Mah… tolong lampu yang itu saja yang dihidupkan, aku mau bobok..

Saya cium kepalanya sambil membisikkan do’a rahasia kami berdua dan tersenyum keluar kamar. Selesai….

Sejak hari itu saya tidak pernah lagi mendengar keluhan mengenai ledek meledek itu….

Masih ada banyak event lain yang bisa saya bagikan.. seperti juga saya ingin mendengar kisah anda….

Catatan Rindu Untuk Bapak

Saat aku rindu Bapak, ingatanku melayang di masa-masa kecilku.

Bapakku adalah seorang pegawai negeri, pengajar di perguruan tinggi negeri di kota kami. Sebagaimana umumnya kehidupan keluarga dosen yang tidak mempunyai profesi lain selain mengajar, kami tidak hidup miskin namun juga tidak hidup mewah. “Pantas” mungkin menjadi istilah yang cocok untuk mewakili kondisi finansial kami. Dan selayaknya kehidupan keluarga akademisi, pendidikan yang baik menjadi obsesi yang beliau  tanamkan kepada anak-anaknya. Mengejar sekolah-sekolah negeri terbaik menjadi fokus kehidupan kami, karena sekolah-sekolah negeri biayanya murah dan membanggakan di jaman itu. Alhamdulillah sejak SD hingga perguruan tinggi, saya lalui di sekolah-sekolah negeri terbaik di kota kami. Pemikiran-pemikiran beliau mengalir melalui ujung-ujung syaraf kognitif saya. Ucapan-ucapan beliau menjadi penggerak langkah-langkah saya.

Meskipun beliau bukanlah seorang ayah yang memanjakan anak-anaknya, tetapi saya ingat betul bagaimana dulu kain sarung beliau menjadi ayunan bagi Okina kecil yang sesekali mengantarkanku ke pintu kamar mandi. Dan ketika Okina kecil mulai besar kadang terdengar bunyi jahitan yang robek saat saya berayun di sarung-sarung kesayangan beliau.  Kegiatan mencabut uban dan membersihkan kulit kepala beliau yang kadang diwarnai dengan adu argumentasi ala “pokrol bambu” alias debat kusir, ledekan beliau dan teriakan beliau “Atho.. atho..(khas dengan logat Pati), karena saya sengaja mencabut dengan keras jika kalah argumentasi (Maafkan kebandelanku waktu itu ya bapakku sayang…) menjadi kenangan indah di waktu-waktu luang kami.  Bapak saya boleh dibilang tipe ayah tradisional, namun, pelukan dan ciuman di saat istimewa bukanlah sesuatu yang tabu, meski juga bukan makanan sehari-hari. Perhatian beliau jarang bersifat fisik apalagi hadiah.  Tergambar jelas dalam file-file ingatan terbaik saya, ucapan  dan kilatan bangga dari mata beliau  setiap saya berhasil melangkah ke jenjang sekolah favorit berikutnya .

“Lha NEM ki yo kudune koyo ngene ini, dadi tinggal milih wae SMA sing tok senengi…” komentar beliau berhiaskan senyuman saat saya memberitahukan nilai ebtanas SMP saya.

“Koyone gaweanmu ki mung dolan, ning jebul kowe ki yo pinter yo Nduk..!” itulah kalimat yang beliau ucapkan saat saya mendapatkan pilihan pertama saya melalui jalur UMPTN… (teringat betapa hari-hari saya memang jarang saya lalui di meja belajar namun beliaupun jarang menegur karenanya kecuali jika saya melanggar jam yang ditetapkan)

“Mbok kowe dadi dosen, njuk dadi profesor, koyone kowe ki bakat mulang lho Yang..” begitulah keinginan beliau bernada merayu yang beliau ucapkan saat saya berlatih di hadapan beliau mempersiapkan ujian pendadaran saya.. (yang akhirnya saya justru bergabung di perusahaan multi nasional di seberang pulau meskipun akhirnya sambil mengajar pula di ujung minggu).

“Timbangane tok jak mlaku-mlaku, aku luwih seneng teko wisuda, opo meneh wisudamu apik, megah, seneng aku..” demikian pujian beliau ketika saya menyelesaikan studi S2 saya di perguruan tinggi (yang juga milik negara)  di negara tetangga, (dan serta-merta menjadi motivasi baru bagi saya untuk menjalani jenjang berikutnya suatu saat kelak)

Sengaja saya tidak menterjemahkan ucapan-ucapan beliau ke dalam bahasa Indonesia, karena memang dalam bahasa jawa ngoko beginilah saya menyimpannya dalam memori saya.  Bagi anda yang tidak mengerti bahasa jawa, mohon maaf  sebesar-besarnya 🙂

Kata-kata beliau tidak selalu berupa pujian, meski beliau amat sangat jarang mencerca, kritik beliau terasa menghujam di hati dengan kalimat bernada “ngenyek” alias meledek.

“Biji ki ojo mung B, nek IP mung pas-pas-an ki yo akeh tunggale..” inilah salah satu ledekan beliau jika IP saya pada suatu semester tidak menembus melebihi angka 3.

“Golek duit ki yo apik, ning nek njuk ora ndang KKN, sing mbayar SPP-mu ki yo isih bapakmu lho…” begitulah sindiran beliau saat saya malas berangkat Kuliah Kerja Nyata, karena artinya saya harus melupakan sejenak keasyikan saya menikmati hasil mengajar di sekolah kepribadian dan beberapa proyek training kecil-kecilan yang saya lakukan saat kuliah. Sindiran beliau inilah yang membuat saya sambil geli-geli meringis segera mendaftar KKN.

Pada dasarnya saya memang bukan tipe yang tekun belajar, hahahihi di kantin, berkegiatan kesana-kemari, berkumpul dengan teman-teman yang asyik adalah warna kehidupan saya, namun menyelesaikan kuliah secepat-cepatnya dengan nilai sebaik-baiknya tetap menjadi fokus saya karena bapak sering mengingatkan kami bahwa bagi seorang dosen tidaklah murah membiayai 5 anak, dan bapak harus bekerja extra menjadi dosen tamu di beberapa kota (meskipun akhirnya kami tahu bahwa bapak menikmati juga pekerjaan extranya itu :D).

Bapak adalah pribadi yang keras terutama pada dirinya sendiri, mungkin karena beliau dibesarkan dalam kondisi serba kekurangan. Dulu saya sering kesal dan malu jika beliau membanggakan apa yang telah beliau raih dan membandingkannya dengan kami meski dengan nada bercanda, namun kini saya mengerti, bagi seorang anak yang dulu menggembala kambing dan berjualan pisang rebus di pasar, menjadi Guru Besar di perguruan tinggi negeri tentu jauh melebihi impian masa kecil beliau.

Sebagai anak terkecil, saya menikmati posisi “anak-anak” di mata beliau hingga saat ini. Sampai waktu-waktu terakhir beliau sehat, saya masih suka saling meledek dengan beliau, kadang menjulurkan lidah saat menang berargumentasi yang dijawab dengan kata-kata khas beliau “Ke-ku, engsil (“Kowe kui, ngensil” / “Kamu itu ngeyelan”).  Saat beliau sakit , saya suka menggoda beliau melalui telepon dengan kata-kata “Atit manja ya….” dan beliau terkekeh-kekeh mendengarnya.

Ahhh…betapa aku rindu padamu Bapak…

Ampuni dan maafkan segala kesalahan dan kekuranganku…

Banyaknya air mata yang mengalir saat aku mengingatmu, belum mampu mewakili betapa aku mencintaimu…

Duhai Yang Maha Menggenggam Jiwa, mudahkanlah hari-hari yang harus dilalui ayahku…

MERENTAS BATAS 6 NEGARA

Catatan perjalanan ini saya dedikasikan untuk keluarga-keluarga muda  dengan anak yang masih kecil-kecil (dibawah 12 tahun) yang ingin melakukan perjalanan lintas negara dengan nyaman, fun, sehat dan efisien.  Dalam catatan ini akan anda temukan rekomendasi, tips, cara mengatasi masalah dan keasyikan mengikuti detak emosi perjalanan kami. Siap melintasi 6 negara bersama kami? Yuukkk…. Buckle up your seat belt and behave… 😀 😀

Persiapan Perjalanan

Melakukan perjalanan melintasi beberapa negara dengan anak-anak tentu tak semudah melakukan perjalanan bulan madu, namun juga tidak sulit asal kita persiapkan dengan matang.

Mau tiket murah? Gampang… Rencanakan perjalanan beberapa bulan sebelumnya sehingga ada punya cukup waktu untuk membandingkan harga-harga tiket yang dengan mudah dapat kita lakukan secara online, begitu juga dengan urusan visa dan asuransi (salah satu persyaratan visa). Banyak website yang secara otomatis membuat komparasi harga tiket dengan rute yang anda inginkan. Alhamdulillah kami menggunakan Emirates Airline.. highly recommended-lah. Kursinya cukup luas, inflight entertainment-nya OK punya, makanannya insyaAllah halal (meskipun wine tetap ditawarkan utk penumpang berambut pirang) dan rasanya cukup lumayan untuk ukuran makanan pesawat.

Untuk urusan booking hotel-hotel di negara tujuan, usahakan dekat dengan fasilitas transportasi umum, grocery stores dan self service laundry. Booking.com adalah site andalan kami. Jika anda travelling dengan anak-anak, apartment or family room yang dilengkapi dengan kitchenette adalah pilihan tepat. Apalagi kami sangat concern dengan kehalalan makanan dan kurang menyukai makanan berselera eropa, memasak sendiri makanan keluarga menjadi andalan. Refoott? Ah.. ngga juga.., cukup berbekal mini rice cooker, sedikit bumbu instant dan 2 buah microwaveable bowls, insyaAllah perut keluarga anda terjamin kemaslahatannya.. :D. Di eropa, wisata kuliner tentu bukan tujuan kami. Bagaimana tidak, bread saja perlu kehati-hatian memilih additional ingredient-nya mengingat banyak komponen yang subhat. O iya.. Ingat juga untuk membawa obat2an pribadi secukupnya.

Rencanakan perjalanan dan kegiatan harian secara detail, viamichellin.com akan membantu anda menghitung waktu tempuh secara nyaris sempurna (thanks to Riana Julianti yg merekomendasikan site ini). Pastikan hari pertama di tiap negara mempunyai jadwal yang longgar sehingga anak-anak dan tentunya Pak Supir alias suami punya waktu istirahat yang cukup. Tidak perlu terlalu ambisius mengunjungi semuanya karena jika salah satu anggota keluarga sakit justru jadwal anda menjadi runyam.

Sewa mobil adalah alternative yang paling masuk akal, karena travelling dengan anak-anak identik dengan koper-koper besar yang pasti akan merepotkan jika anda bawa turun naik kendaraan umum misalnya kereta. Anggaplah mobil sebagai trolley barang anda melintas negara. Di sepanjang perjalanan, anda akan menemukan rest areas yang bersih sehingga tidak perlu kuatir dengan kelelahan dan urusan unload isi perut dan kandung kemih. Jika anak anda laki-laki, sediakan 2 botol kosong dan tisu basah untuk kondisi darurat  :p. Harga sewa mobil berkisar antara 50-100 Euro tergantung jenis kendaraan. Alhamdulillah kami dapat Opel Zafira seharga 1000 euro untuk perjalanan 18 hari. Kondisinya benar-benar baru, baru berjalan 500km. Kapasitas bagasi longgar dan seating area cukup comfy. Kami menggunakan jasa persewaan SIXT  karena dengan company ini kami tidak perlu mengembalikan mobil ke negara asal (Holland), cukup diserahkan kembali di negara tujuan akhir (Germany). Tidak banyak jasa persewaan mobil yang memberi kemudahan seperti ini.

Siapkan semua dokumen dalam binder tipis.

OK.. kini anda siap terbangg bersama saya.

HOLLAND

Mendarat di Schiphol Amsterdam, kesan saya terhadap the airport is sangat biasa… mungkin karena bukan di ibukota negara. Kami langsung menuju counter car rental. Cukup mengejutkan kami mendapat mobil dengan nomor 12-RGT-5. Pas banget dengan initial suami dan tanggal lahir Rangga. Kebetulan? Ntahlah…

Dari Schiphol menuju hotel hanya 15 menit perjalanan. Apato Hotel yang kami pilih bernama  Htel Service Apartment. Alhamdulillah… dengan tariff 140€, kami mendapatkan apartment 2 kamar dengan tatanan yang sangat modern, agak aneh memang kl melihat bangunan di sekitarnya yang terkesan uzur. Fasilitas kitchenette, cutlery, dan home appliances luar biasa lengkap.  Sepanjang perjalanan kami melintasi berbagai negara, apartment ini yang paling bagus. Sebetulnya kami memesan apartment 1 kamar plus sofa bed tetapi ternyata kami mendapat upgrade gratis menjadi 2 kamar. Rupanya negara yang dulu menjajah negriku ini sangat gembira menyambut kami, mungkin karena ingin menebus dosa-dosa nenek moyangnya dulu terhadap bangsaku… 😀

Hari pertama, kami isi dengan sightseeing di seputar Amsterdam. Ternyata budaya bersepeda sangat marak disini. Meskipun dengan jas dan pakaian kerja yang keren, mereka asyik saja bersepeda. Gayanyapun bermacam-macam, dari sepeda biasa sampai sepeda yang dikayuh dengan posisi tiduran. Dari penuh konsentrasi sampai yang bersepeda sambil asyik bertelepon ria.. nah.. yang ini nih yang suka pindah jalur sembarangan hehehe… Jalan di Amsterdam kecil-kecil dan harus berbagi antara mobil dan trem. Tapi kok ya cukup aja, ngga pake macet dan ngga ada bunyi klakson ya? Pengendara mobil sabar menunggu jika jalurnya terpotong rel trem atau jalur sepeda. Mobil besar bukanlah pilihan disini, karena fasilitas parkir yang sempit. Biaya parkir juga mahal, 3€ per hour. Bangunan-bangunan dan situasi kota ini mengingatkan anda pada situasi Jl. Dago bandung atau Bukit Tinggi. Sebuah kawasan ayem tentrem, bersih, hijau berseri dengan bunga bermekaran disana-sini. Di Amsterdam jarang sekali bangunan modern tinggi menjulang, kecuali di beberapa titik di luar kota. Arsitektur tua tahun 1800an dan awal 1900an mendominasi. Di sepanjang jalan banyak kami temui restoran Indonesia, tetapi bukan berarti resto halal lho ya… Jadi tetap waspada. Kami sempat melongok kawasan canal cruise tetapi tidak tertarik untuk mengarunginya. Meskipun sungainya tidak bening tetapi tiada sampah. Kusam tapi bersih.

Hari kedua, kami mengunjungi Madame Tussaud wax museum, yang sesungguhnya hanya memanfaatkan bangunan sempit 4 lantai (semacam ruko) di sudut jalan yang ditata sedemikian rupa sehingga efisien. Saya kira Indonesia bisalah kalau mau membuat yang lebih bagus dan luas hehehe… Antrian pengunjung sudah mengular (gile ya.. dengan kondisi bangunan yang minim gini aja laku banget..), untung kami sudah membeli tiket secara online. O iya, membeli tiket online untuk beberapa lokasi yang ingin anda kunjungi sangat dianjurkan, karena akan menghemat waktu dan tenaga untuk antri. Sebuah tujuan wisata yang cukup mengasyikan dan fun. Tepat di di seberang museum terdapat Royal Palace yang juga merupakan old townhall of Amsterdam. Disinilah banyak orang ngamen dengan kostum aneka rupa dari yang serem sampai yang lucu untuk mendapatkan sekedar uang tip saat difoto. Mengingatkan saya pada kawasan Pier 39 di San Fransisco.

Dari Madam Tussaud kami meluncur ke kawasan kincir angin dan rumah-rumah traditional Belanda di Zaanse Schans,  karena si bungsu tidur pulas di mobil, kawasan Zaanse Schan tidak terlalu banyak diexplore. Saat menuju Zaanse Schans kami melintasi kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Angin modern dengan turbines raksasa, sehingga Raka (9 th) dapat membandingkan windmill jaman tahun rikiplik  dan modern. Sebagai sumber energy yang terbarukan dan alternatif dari fossil fuel, rasanya energy generator ini pantas untuk makin dikembangkan di Indonesia. Sumber daya angin pasti mudah ditemukan di negeri kita (asal jangan produk masuk angin saja.. :p)

Hari ketiga kami habiskan ke Keukenhof  dan Madurodam, cerita tentang kawasan ini pasti sudah banyak diketahui dari internet. Sungguh beruntung kami masih kebagian hari terakhir dari jadwal buka Keukenhof karena hari berikutnya Keukenhof akan tutup sementara. Mungkin jadwal mengganti bunga-bunga. Kami masih kebagian melihat bunga Tulip meskipun sudah tidak banyak. Sepanjang menikmati keindahan Keukenhof, pikiran saya terus melayang ke ibunda tercinta. Beliau adalah pecinta bunga tiada tara. Sementara saya hanya setengah pecinta bunga terutama Rose. Ros…  yang juga nama kecil ibuku. I love you Mom, insyaAllah ada rejeki waktu, ingin sekali diriku mengajak beliau ke sini. Dari Keukenhof terjadi insiden menggelikan, dengan semangat 45 suami berburu restoran Indonesia khas Bandung yang konon halal, berbekal info dari internet. Hampir 1 jam kami mengaduk-aduk kawasan Leiden University. Parkir mobil cukup jauh dan berjalan kaki kian kemari. Hasilnya? Resto si Anak Bandung sudah tak ada lagi batang pintunya alias tutuik, jadilah kami anak beranak kelaparan di tengah kawasan tak dikenal hahahaha….. Untung saja tak jauh dari daerah itu tersedia resto Kebab. Fyiuuuh selamat deh…. Lesson learned… lain kali bawa homemade sandwich untuk ganjal perut jika menempuh perjalanan cukup jauh. Lanjuutt…. Kali ini Madurodam sasaran berikutnya. Sesampai disana eng.. ing.. eng… mak bedundug ternyata oh ternyata area-nya kecil saja. Dari pintu masuk yang dibangun cukup tinggi kami bisa melihat ujung area Madurodam. Saya dan suami berpandang-pandangan dan terbahak bersama… OK next vacation kita ke Taman Mini Indonesia Indah ya Nak…. Madurodam adalah miniature Netherland. Semua kawasan dan bangunan terkenal di seantero Low Land ini (Netherland berarti tanah rendah yang lebih rendah dari sea level) dibuat miniature-nya disini. Konsepnya kreatif  dengan memanfaatkan lahan yang terbatas. Bagian yang paling menarik dari Madurodam adalah laser show yang menceritakan sejarah negeri ini. Ternyata pada tahun 1953 pernah terjadi banjir besar akibat dari heavy storm di North Sea. Sejak itulah mereka mulai membangun proteksi dalam bentuk barrier yang disebut Delta Works. Barrier ini terus diperbarui dan dimodernisasi dari masa ke masa hingga tahun 2007 lalu. Puas di Madurodam kami sempatkan mampir sejenak ke rumah sahabat lama yang tidak jauh dari situ. Alex Sulaksana dan Ria Rizki. Senang sekali kami dijamu dengan masakan Indonesia yang sedap sambil bernostalgia Rumbai Mania….

Hari keempat giliran Volendam dijelajahi. Sebuah desa nelayan yang disulap menjadi kawasan wisata. Disinilah biasanya para wisatawan membuat foto sejuta umat. Tentu anda sering melihat foto keluarga Belande di rumah teman-teman anda bukan? Nah.. disini ini tempat bikinnya. Dan kamipun memilih studio foto yang pernah dikunjungi dari Gusdur, Megawati, Rima Melati sampai Ruth Sahanaya… Masa kalah ama bu Mega…. Heheheheh….  Nah.. berhubung ini kota nelayan maka hidangan-hidangan yang ditawarkan mostly dari hasil laut. Horeee…. Untung anak-anak penggemar hasil laut, so.. fish and chips, crabs, and shrimps dipesan semua. Alhamdulillah…

Minggir sedikit dari Volendam terdapat daerah pengusaha kelom alias terompah belanda plus pabrik keju. Di sini kami dijelaskan cara membuat kelom dan keju. Kebanyakan keju dipasaran tidak lagi menggunakan rennet hewani untuk mengentalkan susu, tetapi menggunakan vegetarian rennet karena alasan harga bahan baku yang lebih murah, makin banyaknya konsumen vegetarian, sadar kosher, dan sadar halal. Pabrik keju yang kami kunjungi ini telah lama meninggalkan rennet hewani. Meskipun demikian ada jenis-jenis keju tertentu yang dicampur potongan daging babi asap, dan masih ada yang penganut setia rennet hewani (dibuat dari perut babi) di pasaran. Kami dipersilahkan mencicipi jenis-jenis keju, dari yang muda hingga yang sangat matang berbau busyuk. Akhirnya kami memilih edam cheese versi kecil sebagai oleh-oleh, yaitu jenis keju muda. Keju matang alias tua ngga janji deh… bagi kami rasanya ampyuuun. Malamnya kami diajak ke resto pancake oleh keluarga Alex, olala… pancake aneka rasa dengan ukuran raksasa dihidangkan disini. Puass deh… Terimakasih ya Alex, Ria, Via dan Icha. Anak-anak langsung kompak dan main bareng.

Berakhir sudah jadwal kami mengunjungi Holland… malam ini mesti tidur cukup untuk stamina menempuh perjalanan panjang esok hari menuju Paris via Brussels.

Bagaimana? Sudah tidur nyenyak tadi malam? Siap melanjutkan perjalanan menuju Paris via Brussels? … Yuuukkksss…..

Di sepanjang perjalanan kamu disuguhi jamuan indahnya pemandangan lahan-lahan pertanian yang tertata rapi. Beberapa traktor mini ala film the Cars dan sapi gemuk-gemuk yang asyik mengunyah rumput. Sapi-sapi berwana coklat putih persis seperti gambar bungkus coklat yang ketika kecil dulu saya peroleh sebagai oleh-oleh dari ayahanda tercinta yang studi singkat di Belanda. Bungkus coklat itu sempat saya simpan lama dan menghayal melihatnya langsung suatu saat kelak. Beberapa desa yang kami lalui meski sederhana tapi fasilitas jalannya, subhanallah…. baguss dan mulus. Andaikan desa-desa di negaraku seperti ini. Salah satu perbincangan saya dan suami saat itu, andaikan ada desa seperti ini di Indonesia, kita tinggal di desa saja, kerja menjadi konsultan dan hanya sesekali meeting ke kota. Duh.. ngiriii…

BRUSSELS

Perjalanan Amsterdam – Paris memerlukan waktu tempuh 5-6 jam. Dan kita akan berhenti beberapa jam di Brussels untuk mengintip Mini Europe, Atomium dan kalau sempat mengunjungi Tintin di Comic Strip. Dengan teknologi GPS, mengemudi antar kota antar propinsi en antar negara menjadi mudah, tetapi hati-hati, di beberapa negara banyak tunnel yang panjangnya bagai ular naga. Jika terjadi poor satellite reception di persimpangan highway, bisa-bisa om pilot ngomel-ngomel. Nah… pada saat genting begini, co-pilot harus bisa diandalkan instingnya.. :D.. Jadi sebaiknya anda pelajari dan catat juga sebelum memulai perjalanan untuk meminalisir kepanikan yang tidak perlu.

Mini Europe di Brussels konsepnya mirip dengan Madurodam, bedanya Mini Europe mengusung keragaman icon-icon popular di Eropa. Dari Eiffel Tower sampai Menara Pisa. Dari Berlin Wall sampai Guning Vesuvius. Ditambah dengan tombol-tombol untuk mengaktivasi music dan gerakan di tiap icon, plus beberapa permainan indoor multimedia, tempat ini jadi menarik terutama untuk anak-anak.  Lumayan juga untuk melihat secara tiga dimensi icon-icon yang mungkin belum sempat anda kunjungi di Eropa. Mau berfoto dengan Om Kura-kura (ntah siapa namanya saya lupa), untuk dicetak, dijadikan gantungan kunci atau mug? Cukup 3-7€ saja.  Dari Mini Europe kami meloncat ke Atomium. Letaknya masih di BruParck juga.  Bangunannya memang unik, berbentuk susunan atom besi (Fe) yang diperbesar sekian milyar kali. Antriannya wuiih panjang benerrr… Ternyata itu adalah antrian untuk memasuki lift menuju puncak tertinggi. Jika anda sudah pernah ke Kuwait Tower, Menara KL, Monas, dan sejenisnya. Tidak perlu membuang waktu untuk mengantri ke puncak tertinggi atomium, langsung saja mengunjungi bagian-bagian exhibition-nya. Sebetulnya banyak hal bisa dilihat di kawasan BruParck ini tetapi karena sudah terlau sore kami memutuskan untuk tidak mengeksplor lebih lanjut dan membatalkan kunjungan ke Comic strip. So.. Pariiiss.. Kami datangg…

PARIS

Sampai di Paris kami langsung menuju apartment untuk istirahat, Citea Charenton namanya. Apartment yang satu ini kurang direkomendasikan. Fotonya tak sesuai dengan warna aslinya :D… Meskipun kelengkapannya lumayan, area parkir memadai dan dekat dg grocery store, tapi tergolong uzur.

Pagi pertama di Paris kami manfaatkan untuk sightseeing dengan Batobus. Bus air yang dengan konsep hop on hop off melalui 8 famous places di Paris. Eiffel, Musse d’Orsay, St-Germain-des-Prés, Notre-Dame, Jardin des Plantes, Hôtel de Ville,  dan The Louvre. Hhmmm…..Serasa memutar ulang film Da Vinci Code.

Cerita dibalik keterkenalan tempat-tempat tadi dengan mudah dapat anda layari di laman-laman web. Bagi yang hobi fotografi dijamin puas mengabadikan bangunan dan keunikan Paris dengan modal murmer ala Batobus ini. Anda perlu sedikit kesabaran karena bagi anak-anak kegiatan tuk wak gak ini cukup melelahkan. Juga jangan kaget kalau kota yang katanya pusat mode ini disana-sini agak berbau pesing. Ntah berasal dari banyaknya anjing-anjing yang digiring kesana-kemari oleh tuan-tuannya atau dari spesies tuannya. Kesan yang sama dengan kesan kami dulu terhadap sebuah kota di Perancis yang pernah kami kunjungi 6 tahun yang lalu.  Di Paris ini beberapa pedagang asongan dan petugas Batobus menyapa kami dalam bahasa Indonesia, mungkin saking banyaknya wisatawan Indonesia datang ke sini. Di beberapa tempat lain saya juga disapa dalam bahasa Arab. Saya jawab saja dengan Syukron.. (hehehe.. Amaaan… )

Yang sedikit mengherankan, kami menemukan banyak orang melakukan sun bathing di pinggir Seine River ini dengan mengenakan beberapa helai benang saja… waksss…. Gubrak…

Hari berikutnya sebetulnya saya ingin ke Versaille palace, tapi ada suara protes yang bunyinya kira-kira seperti ini “C’mon sayang… another old building again?” hahahaha…. Memang Paris penuh dengan historic building (it’s not just old sayang..) dengan ornament megah, yang bagi bukan penggemar sejarah, terasa seperti kue tart, mempesona di awal tapi agak eneg jika porsinya kebanyakan. OK deh.. lalu enaknya ngapain hari ini? Shopping dooong.. Ke Paris ngga shopping bagaikan sayur tanpa garam. Apalagi suami tipe betah shopping. Mawree… Urusan shopping rasanya tidak perlu diceritakanlah.. too personal hehehe… Maka jadilah hari itu hari belanja nasional dan mengunjungi beberapa tempat bersejarah di dalam kota Paris yang masih meninggalkan rasa penasaran. Di Paris sangat mudah menemukan bahan makanan halal. Berbagai supermarket menyediakan rak khusus bahan makanan halal, baik mentah maupun instant. Jadi meskipun aktifitas padat, asupan gizi terjaga dengan baik terutama pembarep-ku yang menjelang remaja ini, terserang gejala lapar tak kenal waktu.. 😀

Hari ketiga adalah hari yang paling ditunggu anak-anak, kami berkemas meninggalkan Citea menuju Disneyland… horeee…. Memang Disneyland adalah tujuan utama kami ke Paris. Sebuah janji kepada anak-anak yang ingin kami tunaikan. Adagio Aparthotel menjadi pilihan kami. Meskipun tak sekeren apartment tempat kami menginap di Amsterdam, tapi saya jatuh cinta dengan konsep aparthotel ini. Mungil, terdiri dari 2 lantai, minimalis namun lengkap. Hhmmm… andaikan punya 4 units saja untuk difungsikan sebagai revenue generator… mantabs tuuh. Harganya cukup murah, hanya 99€ perhari.  Lempar saja koper-koper ke kamar lalu melesaaat ke Disneyland. Dua hari kami habiskan di Disneyland. Ternyata ngga cuma anak-anak yang happy di sini, bapak dan ibunya juga happy…(Berhubung saya kolektor film-film cartoon produksi Disneyland, mengunjungi tempat ini membuat hati saya bernyanyi..) Suhu udara di hari pertama dan kedua sangat berbeda. Hari pertama panass hingga mendekati 30°C dan matahari menari-nari di atas kepala. Hari kedua sejuk berangin dengan suhu 15°C. Untung kami memilih tinggal di area Disneyland sehingga tidak kuatir salah kostum.  Di lokasi parkir banyak dijumpai mobil caravan, hoho.. cerdik juga ya, dengan biaya parkir 15€ per hari mereka menghemat biaya hotel. Dari caravan sederhana sampai canggih bisa ditemukan di sana. Dua hari terasa kurang, bukan hanya anak-anak yg merasa kurang, bapaknya anak-anak juga masih ingin tinggal lebih lama… hehehe..  Apa daya, jadwal berikutnya sudah menunggu. Tenangg.. masih ada Legoland di Munich nanti anak-anak…  Sekarang bobok manis dulu ya.. besok kita menikmati pesona alam lukisan Yang Kuasa…

Oaheemm…. Bangun tidur lumayan pegal-pegal setelah 2 hari mengitari Disneyland bak acara baris-berbaris pleton inti SMP. Sebelum memulai perjalanan ke Geneva kami sempatkan mampir ke La Vallee Village outlets, branded outlets yang menawarkan diskon heboh dengan konsep perkampungan. Jika anda hobi belanja, tempat ini saya rekomendasikan tetapi saya pribadi lebih tertarik untuk segera membuktikan keindahan alam Switzerland. Maklum…. sudah 2 tahun hidup di padang pasir…  😀

Sepanjang perjalanan dari Paris ke Geneva kembali kami dijamu nuansa alam yang menyejukkan mata. Kali ini tak hanya lahan pertanian,  tetapi juga indahnya pegunungan dan rumah-rumah khas pegunungan dengan tumpukan kayu-kayu bakar di samping rumah. Jika anda pernah membaca novel kisah Heidi yang tersohor itu, anda akan merasa seolah dibawa kembali ke setting cerita Heidi di pegunungan Alpen.  Highway di sepanjang Paris-Geneva banyak melalui tunnels yang menembus perbukitan, untungnya tidak banyak cabang di mulut tunnel, kalau tidak, tentu indera keenam harus difungsikan karena GPS menyerah pasrah kehilangan signal

GENEVA

Memasuki Switzerland kita diwajibkan membeli vignette (road tax) seharga 40€ berbentuk stiker yang ditempelkan di kaca mobil anda. Vignette dapat dibeli di loket khusus di perbatasan. Di tempat ini pula tersedia money changer. Switzerland masih menggunakan Swiss Franc sebagai alat pembayaran meskipun di beberapa tempat mata uang Euro bisa diterima. Di negara ini saja kami merasakan ada perbatasan seperti layaknya memasuki negara lain. Di negara-negara sebelumnya, batas negara sangat tidak kentara. Lalu bagaimana kita tahu bahwa kita sudah memasuki negara lain? Perhatikan saja perubahan bahasa pada rambu jalan… hahahha.. Luar biasa, benar-benar sebuah perwujudan impian Napoleon Bonaparte di masa itu.

Geneva adalah kota kecil yang luasnya tak lebih dari 16km2. Meskipun demikian, populasinya berada di urutan kedua terpadat setelah Zurich. Nah.. di kota ini, parkir saja mobil anda sementara di hotel, karena mencari area parkir di dalam kota hanya akan membuang-buang waktu saja apalagi kelihatannya seluruh kostumer hotel di Geneva mendapatkan fasilitas kartu gratis untuk menggunakan bus dan tram. Switzerland memang terkenal sebagai negara dengan biaya hidup lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, sebagai gambaran rata-rata harga makanan per porsi di resto kelas menengah adalah 30 £  (+/ 300 rb rupiah). Di kota ini ada restaurant Indonesia-Malaysia yang lumayan enak. Silahkan mampir di resto Tanah Merah jika anda rindu masakan Indonesia.

Di kota ini, ada beberapa kawasan terkenal untuk dikunjungi seperti kompleks United Nation, Place Neuve, Flower clock, Brunswick monument dan Jet d’eau. Cukup sehari saja anda bisa mengunjungi semuanya sekaligus. Naik turun bus dan tram yang nyaman menjadi pengalaman baru bagi anak-anak, harap maklum saudara-saudara, di Saudi tidak ada mass transportation.

Acara keliling Geneva ini menjadi semakin menyenangkan karena kami ditemani sahabat kami Puyi dan Hilda yang bergabung bersama kami. Luar biasa perjuangannya menemui kami dari Neuchâtel (jarak tempuh kurang lebih 70 menit), apalagi ditambah dengan oleh-oleh istimewa nasi goreng pete pedas dan arem-arem. Walaupun malamnya sudah makan nasi goreng di resto Indonesia, tetapi skor rasanya kalah jauh dibandingkan buatan Mrs. Zaugg ini.  Bersama Puyi tidak perlu kuatir nyasar, meskipun bukan penduduk Geneva tetapi kemampuan berbahasa perancis beliau sangat kami andalkan (Makasih ya Yi.. we miss u so much).

Kesan saya terhadap  kota Geneva sih biasa saja, kurang lebih seperti itulah kota-kota di Eropa. Wisata di Switzerland memang paling asyik menikmati alam dan pedesaan, bukan menikmati kota. Flower clock yang termasyur itu ternyata tak lebih dari petak bunga yang tidak begitu besar ukurannya. Mudah saja kalau mau dibuat replikanya di Bogor atau Kaliurang … :D.. Acara yang paling mengesankan bagi anak-anak adalah piknik di rumput sambil menunggu saat muncratnya si Jet d’eau yang termasyur itu (Rangga sampai ketagihan ingin makan di atas rumput lagi di hari-hari berikutnya). Jet d’eau adalah air danau yang dipompakan ke udara dengan kapasitas 500 liter per detik melaui dua pompa berkekuatan 500KW hingga menjulang ke udara. Dari titik-titik air yang menyebar di udara terbentuklah pelangi. Memang mengasyikkan dipandang sambil menikmati udara sore.  Mau di rumput atau sambil menghirup kopi di café-café trendy di seputar danau yang dijaga kebersihan dan keteraturannya, silahkan pilih mana yang lebih sesuai selera. Kami sempat berkhayal seandainya kawasan Danau Maninjau ditata sedemikian rupa, dijaga kerapian resto-resto disekitarnya dengan desain khas Sumatra barat yang dimodifikasi, dilengkapi kios-kios souvenir yang rapi atau kalau perlu pompakan airnya hingga menjulang terlihat dari kelok 44-nya. Ondeee… Rancak banaa… Saya yakin para wisatawan akan me-reroute tiketnya dari Geneva ke Padang. Uhuy…

Chamonix Mont Blanc adalah target hari berikutnya. Chamonix terletak di pegunungan Alpen yang merupakan bagian dari negara Perancis namun berbatasan dengan Switzerland dan Italy. Perancis berbagi puncak Mont Blanc  dengan negara tetangganya Italy. Di musim dingin, daerah ini menjadi pusat winter sport, sedangkan di musim semi menjelang panas seperti sekarang, paragliding, cycling dan rock climbing menjadi pilihan. Dari pusat desa Chamonix tersedia kereta yang dioperasikan sejak tahu 1908 untuk menyusuri Aiguilles de Chamonix menuju ketinggian 1913 m. Di station perhentian pada ketinggian 1913 m ini kami disambut indahnya pemandangan 3 puncak gunung yang mempesona dengan salju yang masih menyelimuti ujung-ujungnya. Subhanallah… Kereen banget deh pokoknya, kali ini tidak ada komentar “cuma begini doang” yang kadang sering mampir dalam pikiran saya.  Di area ini terdapat museum kecil yang menunjukkan bagaimana batu-batu mulia ditambang dari perut gunung. Musem tersebut berupa gua berbentuk U bermula dari satu dinding ke dinding yang lain. Dari stasiun ini pula disediakan cable car menuju Mer de Glace glacier. Jika pada umumnya cable car menempuh lintasan mendatar, kali ini lintasannya sangat curam menukik ke bawah. Lumayan juga untuk test jantung .. 😀

Dalam perjalanan menuju Munich di hari berikutnya kami sempatkan mampir memenuhi undangan makan siang sahabat kami di Neuchâtel. Danau Neuchâtel adalah danau terbesar di Swiss  (begitu menurut juru kunci danau Neuchâtel alias Mrs. Puji Zaugg). Ketenangan suasana tepi danau dipadu dengan keindahan sulur-sulur dan rumpun-rumpun mawar aneka warna yang tersebar di seantero desa menciptakan suasana romantic yang menenangkan. Apalagi di sepanjang jalan setapak yang kami lalui saat melangkah menuju danau tersebar kelopak mawar yang berjatuhan, aduhaiii… indahnya. Tak henti-henti saya memuji indahnya lukisan alam dari Yang Maha Indah. Rasanya ingin berlama-lama disini, sayangnya jadwal menuju Munich telah menanti.

MUNICH and SALZBURG  

Munich menjadi kota perhentian kami yang terakhir. Selama 6 hari di Munich kami berencana melawat Salzburg Austria yang hanya 1 jam perjalanan dari Munich. Beberapa tempat menarik bisa anda kunjungi di Munchen ini adalah Deutsches Museum, BMW Museum, Legoland, Munich Zoo, Konigsee Lake, Dataran Marienplatz dan Englischer Garten (English Garden).

Deutsches Museum adalah museum science dan teknologi terbesar di dunia (kata Wikipedia). Koleksi model transportasi darat, maritime dan dirgantara yang dipamerkan di sana lengkap luar biasa (pantas saja Pak Habibie “kesayanganku” betah tinggal di sini).

BMW museum menjadi tempat favorite suami. Kali ini bukan Pak Habibie yang betah, tapi pria ganteng di sebelahku ini. Jika beliau sibuk mengamati koleksi mobil, saya lebih tertarik mengamati koleksi motor. Sori jek… darah muda… :p

Sesuai dengan niat awal membuat perjalanan menarik bagi anak-anak, tentu Legoland wajib dikunjungi. Apalagi Rangga si bungsi penggemar berat Star Wars. Sungguh beruntung tepat saat kami berkunjung, di Legoland ini dibuka area pameran baru bertema Star Wars. Benar-benar surga buat anak-anak.  Legoland terletak di Gunzburg kurang lebih 1 jam 15 menit dari Munich. Meskipun pada hari itu suhu udara tiba-tiba drop ke 10°C dan hujan rintik-rintik. Tanpa mengeluh anak-anak menembus udara dingin dan rinai hujan dengan bermodalkan jaket dan disposable rain coat. Di Legoland juga dapat anda jumpai miniature bangunan-banguna eropa yang disusun  dari Lego. Termasuk stadium Allianz Arena, markas Bayern Munchen yang ternama itu (buat pecinta bola sih.. saya mah cuma pernah dengar-dengar saja.. :D).  Apakah semuanya sungguh-sungguh disusun dari Lego atau  hanya ditempelkan di sisi luarnya saja saya tidak tau pasti. Jika benar disusun semuanya dari Lego, berapa lama ya kira-kira bangunan-bangunan mini ini dibuat?

Mengenai tempat-tempat lain yang saya sebutkan di atas, silahkan browsing sendiri ya..

Yang pasti, di Munich ini budaya minum bir sangat kental. Di tiap sudut jalan ada saja bier garten alias warung bernuansa taman yang dipenuhi pengunjung yang asyik menikmati bir dalam gelas segede-gede ember…  Bahkan di Munich Airport disediakan sebuah tempat khusus untuk menikmati bir. Dindingnya dilukis pemandangan alam dan disediakan kursi-kursi taman agar benar-benar bernuansa BIER GARTEN… hohoho…

Tidak disangka-sangka penduduk Munich ramah-ramah dan helpful. Kalau mengingat sejarah Jerman yang keras, rasanya tidak percaya. Meskipun kami berbicara dalam bahasa yang berbeda tetapi mereka berusaha keras membuat kami faham jika kami bertanya, ntah dengan isyarat atau dengan bahasa yang dicampur sedemikian rupa. Percayakan saja pada unconscious anda, pasti anda faham.

Salah satu kejadian lucu adalah ketika kami ingin membeli pie di sebuah bakery di Legoland. Ketika saya memilih pie yang tampaknya plain saja dari luar, pramuniaga mengatakan No.. No..No…, tentu saya bertanya mengapa, dia memberi isyarat dengan menempelkan tangannya ke hidung membentuk moncong dan menguik..nguik. Oo..o… Pecahlah tawa saya dan saya mengangguk faham. Saya berterimakasih padanya dan dia kelihatan senang sekali dapat mendeliver sebuah pesan meski kami menggunakan dua bahasa yang berbeda. Luar biasa cara manusia berkomukasi. Kuncinya hanyalah ketulusan hati untuk menyampaikan pesan.

Dalam one day visit di Salzburg Autria, kembali kami dimanjakan oleh keindahan dan kedamaian suasana pedesaan namun modern. Untuk memasuki Austria anda juga diwajibkan membeli road tax (Vignette) yang dengan mudah bias diperoleh di pom bensin terdekat dengan perbatasan. Di Austria, aroma Bavarian culture dengan pakaian khasnya memberi nuansa yang berbeda.  Ingatkah anda dengan pakaian yang dikenakan the Von Trapp children dalam film The Sound of Music? Ah.. tiba-tiba lagu-lagu dalam soundtrack film ini bernyanyi dalam kepala saya saat melihat busana yang dikenakan penduduk bahkan pengunjung kota ini. Hellbrunn palace dan Salzburg castle pantas untuk anda kunjungi. Meskipun di Salzburg Castle kami tidak mendaki sampai ke atas, tetapi anak-anak sangat puas dengan acara lomba berguling-guling di rumput dari bukit kecil di kaki Salzburg castle (ibunya juga kepingin sih sebetulnya… kesadaran akan umur sedikit menahan saya).  Inilah salah satu tips membuat anak-anak tetap happy meskipun anda ajak mengunjungi tempat-tempat yang bukan selera mereka. Selipkan aktifitas fisik yang penuh tawa… Nah.. kunjungan bersantai di Konigsee Lake dijadwalkan bersamaan saja dengan jadwal ke Salzburg karena lokasinya yang berbatasan.

Tidak terasa 18 hari lamanya kami merentas batas 6 negara. Berpetualang bersama anak-anak. Mensyukuri dan mencermati keindahan ciptaanNya. Mengenali dan menghargai perbedaan budaya. Mengambil manfaat dan merencanakan pengubahbaikan. Menyemai nilai-nilai dan menguatkan kebaikan.

Sesuai dengan tujuan penulisannya, semoga catatan perjalanan ini dapat membantu keluarga-keluarga muda yang ingin berpetualang melakukan perjalanan lintas negara dengan nyaman, fun, sehat, dan efisien. Selamat jalan-jalan…..